Arsip | 16.15

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Lail

20 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Lail (Malam)
Surah Makkiyyah; Surah ke 92: 21 ayat

 

tulisan arab alquran surat al lail ayat 1-11“1. demi malam apabila menutupi (cahaya siang), 2. dan siang apabila terang benderang, 3. dan penciptaan laki-laki dan perempuan, 4. Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, 6. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), 7. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. 8. dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, 9. serta mendustakan pahala terbaik,10. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.11. dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (al-Lail: 1-11)

Allah telah bersumpah: wal laili idzaa yaghsyaa (“Demi malam apabila menutupi [cahaya siang]”) yakni apabila menutupi makhluk dengan kegelapannya. Wan naHaari idzaa tajallaa (“Dan siang apabila terang benderang”) yakni dengan cahaya dan sinarnya. Wamaa khalaqadz dzakara wal untsaa (“Dan penciptaan laki-laki dan perempuan.”) yang demikian itu  sama seperti firman Allah: wa ming kulli syai-in khalaqnaa zaujaini (“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan.”)(adz-Dzaariyaat: 49). Ketika sumpah itu menggunakan hal-hal yang saling bertentangan, maka yang disumpahkanpun  juga saling bertentangan [berlawanan]. Oleh Karena itu Dia berfirman: inna sa’yakum lasyattaa (“Sesungguhnya usahamu memang berbeda-beda.”) yakni berbagai amal perbuatan hamba-hamba-Nya yang mereka kerjakan saling bertentangan dan juga bertolak belakang, dimana ada yang berbuat kebaikan dan ada juga yang berbuat keburukan.

Firman Allah: “Fa ammaa man a’thaa wattaqaa (“Adapun orang yang memberikan [hartanya di jalan Allah] dan bertakwa). Yakni mengeluarkan apa yang diperintahkan untuk dikeluarkan  dan berakwa kepada Allah dalam segala urusannya. Wa shaddaqa bil husnaa (“Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik.”) yakni diberi balasan atas semuanya itu. Demikian yang dikemukakan oleh Qatadah. Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yaitu dengan peninggalan.” Abu ‘Abdirrahman as-Sulami dan adl-Dlahhak mengatakana: “Yaitu dengan kalimat laa ilaaHa illallaaHu (tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah). Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata, aku pernah  bertanya kepada Rasulullah saw. Mengenai  kata al husnaa, maka beliau menjawab: “Al husnaa berarti syurga.”

Firman-Nya: fasanuyassiruHuu lil yusraa (“Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni menuju kepada kebaikan.”

Wa ammaa mam bakhila was taghnaa (“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.”) ‘Ikrimah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yakni kikir terhadap hartanya dan tidak membutuhkan Rabb-nya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Wakadzdzaba bil husnaa (“Serta mendustakan pahala yang terbaik.”) yakni mendustakan pahala di alam akhirat kelak. fasanuyassiruHuu lil ‘usraa (“Maka kelak kami akan menyiapkan baginya [jalan] yang sukar.”  Yakni jalan keburukan, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala yang artinya: “dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (al-An’am: 110)

Ayat-ayat al-Qur’an yang membahas tentang pengertian ini cukup banyak yang menunjukkan bahwa Allah akan memberi balasan kepada orang yang menuju kepada kebaikan berupa taufiq untuk mengarah kepadanya. Dan barangsiapa menuju kepada keburukan, akan diberi balasan berupa kehinaan. Semuanya itu sesuai dengan takdir yang ditetapkan.

Dan hadits-hadits yang menunjukkan pengertian itu juga cukup banyak. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib, dia berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah saw. di kuburan Baqi’ al Gharqad untuk mengantar jenazah, beliau bersabda: ‘Tidak ada seorangpun di antara kalian melainkan telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempatnya di neraka.’ Para shahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, mengapa kita tidak pasrah saja?’ Beliau menjawab: ‘Beramallah kalian, karena masing-masing akan diberikan kemudahan menuju kepada apa yang diciptakan untuknya.’ Setelah itu beliau membaca ayat: “Fa ammaa man a’thaa wattaqaa Wa shaddaqa bil husnaa. fasanuyassiruHuu lil yusraa   (“Adapun orang yang memberikan [hartanya di jalan Allah] dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. –sampai pada firman-Nya: “baginya jalan yang sukar.”)

Ibnu Jarir mengatakan: “Dan disebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shidiq: “Fa ammaa man a’thaa wattaqaa Wa shaddaqa bil husnaa. fasanuyassiruHuu lil yusraa   (“Adapun orang yang memberikan [hartanya di jalan Allah] dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”)

Firman Allah: wa maa yughnii ‘anHu maa luHuu didzaa taraddaa (“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.”) Mujahid mengatakan: “Yakni jika dia mati.” Abu Shalih dan Malik berkata dari Zaid bin Aslam: “Yakni, jika telah binasa di dalam Neraka.”

tulisan arab alquran surat al lail ayat 12-21“12. Sesungguhnya kewajiban kamilah memberi petunjuk, 13. dan Sesungguhnya kepunyaan kamilah akhirat dan dunia.14. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.15. tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,16. yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).17. dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,18. yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,19. Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,20. tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.21. dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan.” (al-Lail: 12-21)

Innaa ‘alainaa lalHudaa (“Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk.”) mengenai ayat ini Qatadah mengatakan: “Yakni Kami jelaskan yang halal dan yang haram.” Sedang yang lainnya mengungkapkan: “Barangsiapa menempuh jalan petunjuk, niscaya dia akan sampai kepada Allah.”  Dan menjadikannya seperti firman Allah Ta’ala: wa ‘alallaaHi qashdus sabiil (“Dan hak bagi Allah [menerangkan] jalan yang lurus.”) (an-Nahl: 9). Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Dan firman Allah: wa inna lanaa lal aakhirata wal uulaa (“Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia.”) maksudnya, segala sesuatu adalah milik Kami dan Kami mengendalikannya. Fa andzartukum naaran taladzdzaa (“Maka Kami memperingatkanmu dengan Neraka yang menyala-nyala.” Mujahid mengatakan: “yakni berkobar-kobar.” Imam Ahmad meriwayatkan, Muhammad bin Ja’far memberitahu kami, Syu’bah memberitahuku, Abu Ishaq memberitahuku, aku pernah mendengar an-Nu’man bin Basyir berkhutbah seraya berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah orang yang pada kedua telapak kakinya diletakkan dua bara api yang keduanya membuat otaknya mendidih.” (al-Bukhari)

Firman Allah: laa yashlaaHaa illal asyqaa (“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.”) yakni tidak ada yang memasukinya dengan dikepung api dari semua penjuru melainkan orang yang paling celaka. Kemudian Allah menafsirkan ayat tersebut seraya berfirman: alladzii kadzdzaba (“Yang mendustakan.”) yakni dengan hatinya, wa tawallaa (“dan berpaling”) yakni dari amal dengan seluruh anggota tubuhnya dan rukun-rukunnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap umatku akan masuk surga pada hari kiamat kelak, kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya: “Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Barangsiapa menaatiku maka ia masuk surga dan barangsiapa bermaksiat kepadaku berarti dia telah enggan.” (HR al-Bukhari)

Firman Allah: wa sayujannabuHal atqaa (“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.”) maksudnya, akan dijauhkan dari api neraka orang yang benar-benar bertakwa dan orang yang paling menjaga diri.  Selanjutnya, Dia menafsirkannya  melalui firman-Nya: alladzii yu’tii maalaHuu yatazakkaa (“Yang menafkahkan hartanya [di jalan Allah] untuk membersihkannya.”) yakni membelanjakan hartanya dalam ketaatan kepada Rabb-nya  untuk mensucikan diri, harta dan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya berupa agama dan dunia. Wa maa li ahadin ‘indaHuu min ni’matig tujzaa (“Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya  yang harus dibalasnya.”) maksudnya, dia tidak mengeluarkan hartanya itu untuk balasan bagi orang yang telah berbuat [baik] kepadanya. Dia berikan harta itu kepadanya sebagai imbalan atasnya. Tetapi dia berikan harta itu, illabtighaa-a wajHi rabbiHil a’laa (“Karena mencari keridhaan Rabb-nya yang Mahatinggi”) yakni karena keinginan keras untuk bisa melihat-Nya di akhirat kelak, di taman-taman surga.

Allah berfirman: wa lasaufa yardlaa (“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”) maksudnya Dia akan meridlai orang yang mensifati diri dengan sifat-sifat tersebut. Lebih dari satu orang mufassir yang menyebutkan bahwa ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar bahkan ada sebagian mereka yang mengisahkan ijma’ dari para ahli tafsir mengenai hal tersebut. Dan tidak diragukan lagi bahwa beliau pasti akan masuk ke dalam ayat tersebut sekaligus sebagai ummat terbaik dari umat secara keseluruhan karena lafazhnya  adalah lafazh umum. Dan di dalam kitab ash-Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menginfakkan sepasang harta di jalan Allah, maka malaikat penjaga surga  akan memanggilnya: ‘Wahai hamba Allah, yang demikian itu sangatlah baik.’”  Kemudian Abu bakar bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa yang dipanggil darinya dalam keadaan darurat, apakah akan dipanggil seseorang darinya secara keseluruhan?” Beliau menjawab: “Ya, aku berharap engkau termasuk salah seorang di antara mereka.”

Sekian.

Tafsir Al-Qur’an Surah Adl-Dluhaa

20 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Adl-Dluhaa (Waktu Matahari Naik Sepenggalah)
Surah Makkiyaah, Surah ke 93: 11 ayat

 

tulisan arab alquran surat adh-Dhuha ayat 1-11

“1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, 4. dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan) 5. dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. 6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? 7. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. 8. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. 9. sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang. 10. dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. 11. dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.” (adl-Dluhaa: 1-11)

Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Nu’aim Sufyan member tahu kami dari al-Aswad  bin Qais, dia berkata: aku pernah mendengar Jundub berkata: “Nabi saw. Pernah bersedih hati sehingga beliau tidak bangun satu atau dua malam. Kemudian dating seorang perempuan dan berkata: ‘Wahai Muhammad, aku  tidak melihat syaitanmu melainkan dia telah meninggalkanmu.’ Kemudian Allah menurunkan ayat: wadl-dluhaa. Wallaili idzaa sajaa. Maa wadda’aka rabbuka wamaa qalaa (““1. demi waktu matahari sepenggalahan naik, 2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,”) diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i.

Yang demikian itu merupakan sumpah Allah dengan waktu dluha dan juga cahaya yang dipancarkan pada waktu itu. Wal laili idzaa sajaa (“Dan demi malam apabila telah sunyi”)  yakni telah menjadi tenang, lalu digelapkan. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, Ibnu Zaid, dan lain-lain. Dan hal itu yang menjadi dalil nyata yang menunjukkan kekuasaan Sang Khaliq.

Firman Allah: maa wadda’aka rabbuka (“Rabb-mu tidak meninggalkanmu”) yakni tidak membiarkanmu. Wa maa qalaa (“Dan tidak [pula] benci kepadamu.”) yakni membencimu. Wa lal-aakhiratu khairul laka minal uulaa (“Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.”) maksudnya, alam akhirat itu lebih baik bagimu daripada alam dunia ini. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sebagai orang paling juhud di dunia ini sekaligus paling bijaksana menyikapinya, dan itu sudah sangat dikenal di dalam sirah beliau. Dan ketika diajukan pilihan kepada beliau di akhir hayatnya,  antara tetap hidup di dunia sampai berakhir dan kemudian mendapatkan surga dengan menghadap Allah, maka beliau memilih apa  yang ada di sisi Allah daripada dunia yang hina ini. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah berbaring di atas tikar sehingga menimbulkan bekas pada lambungnya. Pada saat bangun, aku mengusap lambung beliau dan kukatakan: ‘Wahai Rasulallah, berikan perkenan kepada kami sehingga kami bentangkan sesuatu di atas tikar tersebut  untukmu.’ Maka Rasululullah saw. bersabda: ‘Aku tidak mempunyai kepentingan terhadap dunia ini. Perumpamaanku dengan dunia ini tidak lain hanyalah seperti orang yang sedang berkendaraan yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.’” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan: “Hasan shahih”.

Firman Allah: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) yakni, di alam akhirat kelak, Dia akan memberikan karunia kepada beliau sehingga Dia meridlainya untuk memberi syafaat kepada umatnya dan menerima apa yang telah disediakan untuk beliau berupa kemuliaan. Imam Abu ‘Amr al-Auza’i meriwayatkan dari ‘Ali bin ‘Abdillah bin ‘Abbas, dari ayahnya, ia berkata: “Pernah diperlihatkan kepada Rasulullah saw. sesuatu yang telah dibukakan gudang penyimpan barang berharga untuk umatnya sepeninggal beliau. Maka Rasulullah saw. sangat gembira dengan hal tersebut sehingga Allah menurunkan ayat: wa lasaufa yu’thiika rabbuka fatardlaa (“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu [hati] kamu menjadi puas.”) Maka Allah pun memberi beliau di surga satu juta istana. Di setiap istana terdapat istri-istri juga pelayan. Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalannya. Dan ini adalah sanad yang shahih kepada Ibnu ‘Abbas. Dan perumpamaan ini tidak diungkapkan melainkan sebagai penghentian. As-Suddi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, di antara bentuk kepuasan Muhammad saw. adalah tidak adanya seorang pun dari keluarganya yang masuk neraka. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Al-Hasan mengungkapkan: “Yang dimaksud dengan hal ini adalah syafaat.” Demikianlah yang dikemukakan oleh Abu ja’far al-Baqir.

Kemudian sambil menghitung nikmat-nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba sekaligus Rasul-Nya, Muhammad saw., Allah berfirman: a lam yajidka yatiimang fa aawaa (“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.”) yang demikian itu karena ayahnya telah wafat ketika beliau  masih dalam kandungan ibunya. Ada juga yang menyebutkan, setelah beliau lahir, ibunya –Aminah binti Wahb- pun wafat, ketika itu beliau  masih berusia 6 tahun. Kemudian beliau berada di bawah asuhan kakeknya, ‘Abdul Muththalib sampai kakeknya meninggal dunia ketika beliau berusian 8 tahun. Lalu beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib melindungi dan memuliakannya hingga beliau  diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, sedangkan Abu Thalib masih memeluk agama nenek moyangnya. Semua itu terjadi atas takdir Allah dan pengaturnan-Nya yang baik sampai akhirnya Abu Thalib meninggal dunia sesaat sebelum beliau berhijrah.

Kemudian orang-orang bodoh dari kaum Quraisy semakin berani sehingga Allah memilihkan hijrah untuk beliau dari tengah-tengah mereka ke negeri Anshar, dari suku Auz dan Khazraj (Madinah). Sebagaimana Allah telah memberlakukan sunnah-Nya dengan penuh kesempurnaan dan kelengkapan, maka setelah beliau sampai kepada mereka, merekpun memberikan perlindungan dan pertolongan serta pengawalan, dan menyertai berperang  bersama beliau. Semua itu merupakan bentuk penjagaan, perlindungan dan pertolongan Allah kepada beliau.

Firman Allah: wawajadaka dlaallang faHadaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberi petunjuk.”) yang demikian itu sama seperti firman-Nya yang artinya: 52. dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”)(asy-Syuura: 52)

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat itu adalah Nabi saw. pernah tersesa di jalanan gunung yang terletak di Makkah, ketika itu beliau masih kecil, kemudian beliau bisa pulang kembali. Pada saat itu beliau sedang bersama pamannya menuju ke Syam. Beliau naik unta pada malam hari, lalu iblis datang dan menyelewengkan beliau dari jalan yang sebenarnya. Selanjutnya Jibril datang, lalu menyembur dengan sekali tiupan kepada iblil  sehingga dia pergi darinya menuju Habasyah, kemudian mengarahkan binatang kendaraan itu ke suatu jalan. Demikian yang diriwayatkan oleh al-Baghawi.

Firman Allah: wawajadaka ‘aa-ilang fa-anghnaa (“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”) artinya, engkau sebagai seorang miskin yang banyak kekurangan, lalu allah memberimu kecukupan dari selain-Nya. Dengan demikian, Dia menggabungkan dua kedudukan untuk beliau, sebagai seorang miskin yang senantiasa bersabar dan seorang kaya yang senantiasa bersyukur. Dalam kitab ash-Shahihain disebutkan melalui  jalan ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Hammam bin Munabbih, dia mengatakan: “Inilah diberitahukan kepada kami oleh Abu Hurairah. Dia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Tidaklah kekayaan itu dengan banyakknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kayanya jiwa.’”

Di dalam kitab Shahih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Berbahagialah orang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup dan dijadikan puas oleh Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadanya.”

Firman Allah: fa ammal yatiima falaa taqHar (“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”) yakni sebagaimana kamu dulu  sebagai seorang anak yatim, lalu Allah memberikan perlindungan kepadamu. Oleh karena itu, janganlah engkau menghardik anak yatim. Artinya janganlah engkau menghinakan, berbuat kasar terhadapnya dan janganlah engkau menghalanginya, tetapi hendaklah bersikap baik dan berlemah lembut terhadapnya. Qatadah mengatakan: “Jadilah engkau bagi anak yatim serperti seorang anak yang penuh kasih sayang.”

Wa ammas saa-ila falaa tanHar (“Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya.”) maksudnya, sebagaimana dulu engkau pernah tersesat, lalu Allah memberi petunjuk, maka janganlah kamu menghardik orang yang meminta ilmu dan bimbingan. Selain itu, Qatadah juga mengemukakan: “Yakni, menolak orang miskin dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.”

Wa ammaa bini’mati rabbika fahaddits (“Dan terhadap nikmat Rabb-mu maka hendaklah kamu  menyebut-nyebutnya [dengan bersyukur]”) maksudnya, sebagaiman dulu engkau seorang miskin lagi kekurangan, lalu Allah membuatmu kaya, maka sebut-sebutlah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadamu. Dan di dalam kitab ash-Shahihain, dari Anas bahwa kaum Muhajirin pernah berkata: “Wahai Rasulallah, kaum Anshar telah membawa pergi semua pahala.” Maka beliau menjawab: “Tidak, selama kalian mendo’akan kebaikan untuk mereka dan pujian yang kalian berikan kepada mereka.”

Sekian.

Tentang Najis

20 Mar

Kajian Fiqih menurut Empat Mazhab

 

Khamr

Para Imam Madzab sepakat tentang najisnya khamr, kecuali sebuah riwayat dari Dawud azh-Zhahiri yang mengatakan kesuciaannya tetapi mengharamkannya. Mereka sepakat bahwa apabila khamr berubah menjadi cuka dengan sendirinya, maka hukumnya menjadi suci. Namun jika khamr berubah menjadi cuka karena dicampur dengan sesuatu, menurut Syafi-i dan Hanbali hal itu tidak suci.

Maliki: mengubah khamr menjadi cuka hukumnya adalah makruh. Namun jika khamr menjadi cuka, maka cuka itu hukumnya adalah suci dan halal. Hanafi: khamr boleh dibuat cuka, dan apabila telah menjadi cuka maka hukumnya adalah suci dan halal.

 

Anjing dan Babi

Syafi-i dan Hanbali: anjing adalah najis. Bejana yang dijilat anjing harus dibasuh tujuh kali. Hanafi: anjing adalah najis, tetapi bekas jilatannya boleh dicuci sebagaimana kita mencuci najis lainnya. Apabila diduga najisnya  sudah suci, meskipun dibasuh satu kali, maka hal itu sudah cukup. Namun jika diduga bahwa najisnya belum hilang, maka bekas jilatan itu harus dibasuh lagi hingga diyakini bersih, walaupun harus dibasuh duapuluh kali. Maliki: anjing adalah suci dan bekas jilatannya tidak najis. Namun, bejana yang dijilatnya harus dicuci semata-mata sebagai ibadah saja.

Kalau anjing memasukkan keempat kakinya ke dalam sebuah bejana maka bejana tersebut wajib dibasuh tujuh kali seperti mencuci bekas jilatannya. Namun, dalam hal ini Maliki berbeda pendapat karena ia mengkhususkan basuhan tujuh kali itu hanya pada bekas jilatan.

Babi hukumnya seperti anjing, yakni bekas najisnya dibasuh tujuh kali. Demikian menurut pendapat yang paling shahih dalam madzab Syafi-i. An-Nawawi berpendapat: “Pendapat paling kuat dari segi dalil adalah najis babi cukup dibasuh satu kali tanpa disertai tanah.” Pendapat inipun diikuti oleh kebanyakan ulama. Pendapat ini dipilih karena pada dasarnya tidak ada kewajiban hingga datang perintah.

Maliki: babi adalah suci ketika masih hidup karena tidak ada dalil yang menjelaskan kenajisannya. Hanafi: najis babi harus dibasuh seperti najis-najis lainnya.

Membasuh bejana, pakaian, dan badan dari najis selain najis anjing dan babi, menurut Hanafi, Maliki dan Syafi-i: tidak diulang-ulang –tujuh kali. Riwayat paling masyuur dari Hanbali: wajib mengulang basuhan kecuali najis tanah. Maka bejana dibasuh tujuh kali. Namun menurut riwayat lain, basuhan itu tiga kali. Ada juga riwayat  yang tidak mengaruskannya pengulangan basuhan jika najis itu bukan anjing dan babi.

 

Air Kencing Bayi

Syafi-i dan Hanafi: menyucikan air kencing bayi laki-laki yang hanya minum air susu cukup dengan dipercikkan air di atasnya. Namun, air kencing bayi perempuan harus dibasuh atau disiram. Maliki: keduanya harus dibasuh dan hukum keduanya sama. Hanbali: air kencing bayi perempuan yang masih menyusu adalah suci.

 

Bangkai

Hanafi: semua kulit binatang dapat menjadi suci dengan disamak, kecuali kulit anjing dan babi. Riwayat paling kuat dari Maliki: kulit tidak dapat menjadi suci, tetapi ia dapat dipergunakan untuk sesuatu yang basah. Syafi-i: semua kulit binatang dapat disucikan dengan disamak, kecuali kulit anjing dan babi, serta binatang hasil dari kawin silang salah satu  dari kedua binatang itu dengan binatang lain.

Dari Hanbali ada dua riwayat, tetapi yang termasyur mengatakan bahwa kulit bangkai tidak suci dan tidak dapat dipergunakan untuk apa pun sebagaimana daging bangkai. Diriwayatkan dari az-Zuhri: kulit bangkai dapat dipergunakan meskipun tidak disamak.

Syafi-I dan Hanbali: kulit binatang sembelihan tidak dapat digunakan untuk apapun jika binatang tersebut  tidak halal dimakan. Jika binatang itu disembelih maka ia menjadi bangkai.

Maliki: kulit bangkai dapat dipergunakan, kecuali kulit babi. Jika binatang buas atau anjing disembelih maka kulitnya suci, boleh diperjual belikan, dan memyimpan air wudlu, meskipun tidak disamak. Hanafi: seluruh bagiannya  adalah suci, tetapi dagingnya haram. Maliki: dagingnya makruh.

Syafi-i: Rambut dan bulu bangkai selain manusia adalah najis. Maliki: bulu termasuk bagian badan yang tidak pernah mati. Oleh karena itu, hukumnya adalah suci secara mutlak, baik ia dari binatang yang halal dagingnya, seperti kambing dan kuda, maupun dari binatang yang tidak halal dimakan, seperti keledai dan anjing. Ia pun berpendapat bahwa bulu anjing dan babi adalah suci, baik ketika masih hidup maupun setelah mati.

Pendapt paling shahih dari Hanbali: rambut dan bulu anjing dan babi adalah suci. Demikian juga menurut Hanfi seraya  menambahkan bahwa tanduk, gigi, dan tulang adalah suci sebab tidak bernyawa.

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri dan al-Awza’I bahwa rambut semua binatang adalah najis, tetapi ia dapat disucikan dengan dibasuh.

Para ulama berbeda pendapat tentang bolehnya  memanfaatkan bulu babi untuk bantal. Hanafi dan Maliki memberikan keringan, Syafi-I melarangnya, dan Hanbali memakruhkannya. Hanbali berpendapat: Bantal dari sabut lebih aku sukai.

Hanafi dan Maliki: setiap binatang yang darahnya tidak mengalir, seperti lebah, semut, kumbang, dan kalajengking jika mati pada benda basah maka benda itu tidak menjadi najis karena binatang itu sendiri adalah suci. Pendapat paling kuat dari Syafi-I dan Hambali: Benda itu tidak menjadi najis, tetapi bangkai binatang itu sendiri adalah najis.

Syafi-i: ulat yang muncul pada benda yang halal, apabila mati di dalamnya, tidak menjadikannya najis, dan benda itu boleh dimakan bersama ulatnya.

Tiga madzab: binatang yang hidup di air, seperti katak, apabila mati di dalam air yang sedikit, maka air itu menjadi najis. Hanafi: air itu tidak najis.

Menurut ijma’, bangkai belalang dan ikan adalah suci. Adapun tentang mayat manusia, menurut Maliki, Hambali dan Syafi-I –menurut pendapat paling shahih, tidak najis. Hanafi: mayat itu najis, tetapi bias disucikan dengan dimandikan.

Orang junub, wanita haid, dan orang musyrik, apabila memasukkan salah satu tangannya ke dalam bejana berisi air sedikit –kurang dari dua qullah- maka air tersebut tetap suci. Demikian menurut ijma.

 

Sisa Makanan dan Minuman Binatang

Hanafi, Syafi-I dan Hambali: sisa makanan atau minuman anjing dan babi adalah najis, tetapi sisa makan atau minum binatang lain adalah suci. Pendapat paling shahih dari Hambali: sisa makanan dan minuman binatang buas adalah najis. Maliki: sisa makanan dan minuman binatang itu adalah suci.

Tiga imam madzab sepakat bahwa sisa minum baghal dan keledai adalah suci, tetapi tidak menyucikan. Pendapat paling shahih dari Hambali: hal itu najis.

Pentingnya mengetahui masalah ini adalah apabila seseorang tidak mendapatkan air –selain air sisa minum binatang- apakah ia berwudlu dengannya atau bertayamum.

Para ulama sepakat tentang kesucian kucing dan binatang yang lebih kecil daripadanya. Hanafi: sisa –makan dan minum- kucing adalah makruh. Sementara itu, al-Awza’I, dan ats-Tsawri berpendapat bahwa sisa –makan dan minum- binatang yang tidak dimakan dagingnya adalah najis, kecuali manusia.

 

Najis yang Dimaafkan

Pendapat paling shahih dari Syafi-I mengatakan bahwa semua najis, banyak maupun sedikit, sama dalam hukum menghilangkannya. Tidak ada yang dimaafkan, kecuali yang sulit dihindari menurut kebiasaan, seperti darah jerawat, darah bisul, darah kudis, darah kutu, tahi lalat, tempat bercantuk, dan debu jalan. Maliki pun berpendapat demikian. Bahkan, ia mengatakan bahwa darah sedikit dimaafkan. Hanafi berpendapat bahwa darah kutu dan darah kepinding adalah suci. Selanjutnya Hanafi menetapkan bahwa segala  najis yang ukurannya lebih kecil daripada mata uang satu dirham dimaafkan.

 

Benda yang Keluar dari Perut

Benda lunak yang keluar dari perut melalui dubur adalah najis. Hal ini disepakati para ulama. Namun ada riwayat dari Hanafi yang mengatakan bahwa benda tersebut adalah suci.

Syafi-i: air kencing dan tahi adalah najis secara mutlak. Maliki dan Hambali: air kencing dan kotoran binatang yang dagingnya dapat dimakan adalah suci.

Hanafi: kotoran burung yang dagingnya dapat dimakan, seperti merpati dan pipit adalah suci. Syafi-i: dalam qaul qadim-nya: kotoran selain kedua burung tersebut adalah najis. Diriwayatkan dari an-Nakha’i bahwa air kencing semua binatang yang suci adalah suci.

 

Air Mani

Hanafi dan Maliki: mani manusia adalah najis. Maliki: mani harus dibasuh dengan air, baik basah maupun kering. Hanafi: Mani dibasuh jika masih basah dan dikerik jika telah kering. Pendapat paling shahih dari Syafi-i: mani adalah suci secara mutlak, kecuali mani anjing dan babi. Sementara itu, pendapat paling shahih dari Hambali: mani yang suci hanya  mani manusia.

 

Air yang Terkena Najis

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berwudlu dari sumur yang telah kejatuhan bangkai. Hanafi: apabila bangkai itu telah rusak maka shalatnya harus diulang selama tiga hari, sedangkan jika tidak rusak maka shalatnya  diulang selama sehari semalam. Syafi-i dan Hambali: jika airnya sedikit, hendaklah diulang shalat  yang menurut perkiraannya dikerjakan dengan wudlu air tersebut. Sementara itu, jika airnya banyak dan tidak berubah maka shalatnya tidak wajib diulang. Namun, jika airnya  berubah, shalatnya wajib diulang sejak air itu berubah. Maliki: jika air itu  berupa mata air dan tidak berubah sifat-sifatnya maka air itu suci dan shalatnya  tidak wajib diulang. Sedangkan jika bukan mata air, Maliki mempunyai dua riwayat. Ibn Qasim, sahabat Maliki memutlakkan kenajisannya.

 

Ragu Tentang Mana yang Suci

Kalau keadaan air tidak jelas, suci atau najis, jika ada bejana-bejana  yang sebagiannya suci dan sebagian lain terkena najis, bolehkah berijtihad atau memilih yang lebih pantas dalam hal ini?

Syafi-i: ia boleh berijtihad dan berwudlu dengan air yang dianggapnya suci. Hanafi: jika bejana  yang suci lebih banyak daripada bejana yang najis maka ia boleh memilih yang dianggapnya suci. Hambali:  jangan memilih yang dipandang suci, melainkan semuanya dituangkan atau dicampurkan, lalu bertayamum. Maliki –menurut sebuah riwayat: orang itu tidak boleh memilih yang dianggapnya suci.

Jika orang itu mempunyai dua helai kain, yang satu suci dan yang lainnya najis, tetapi tidak diketahui mana yang suci, maka ia boleh memilih yang dianggapnya suci. Maliki dan Hambali: ia harus shalat dua kali; sekali dengan kain pertama dan sekali lagi dengan kain kedua. Hanafi dan Syafi-i: ia harus memilih salah satu dari keduanya.

Sumber: Fiqih Empat Madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi