Arsip | 14.20

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Balad (2)

22 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Balad (Negeri)
Surah Makkiyyah; Surah ke 90: 20 ayat

 

tulisan arab alquran surat al balad ayat 11-20“11. tetapi Dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. 12. tahukah kamu Apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? 13. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, 14. atau memberi Makan pada hari kelaparan, 15. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, 16. atau kepada orang miskin yang sangat fakir. 17. dan Dia (tidak pula) Termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. 18. mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. 19. dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. 20. mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.” (al-Balad: 11-20)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar  mengenai firman-Nya:  falaqtahama (“Maka tidaklah sebaiknya [dengan hartanya itu]  ia menempuh.”) berarti masuk. Al’aqabah (“jalan yang mendaki lagi sukar.”) dia mengatakan: “Gunung-gunung di neraka jahanam.” Qatadah mengatakan: “Kata tersebut berarti kesulitan yang sangat berat lagi menyusahkan, lalu mereka pun menceburkan diri dalam kesulitan mentaati Allah Ta’ala.” Lebih lanjut Qatadah berkata tentang firman-Nya: wa maa adraaka mal’aqabaH (“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”) kemudian Allah Ta’ala memberitahukan mengenai kesulitan yang dihadapinya, dimana Dia berfirman: fakkuraqabatin. Aw ith’aamun (“[yaitu] melepaskan budak dari perbudakan  atau memberi makan.”) dibaca dengan menggunakan idlafah (mudlaf mudlaf ilaiHi). Dan juga dibaca sebagai kata kerja yang di dalamnya terdapat kata ganti fa’il (subyek) sedangkan ‘raqabah’ (budak) berkedudukan  sebagai maf’ul (obyek). Kedua bacaan tersebut mempunyai pengertian yang berdekatan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’id bin Mirjanah bahwasannya dia pernah mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang memerdekakan budak wanita yang beriman, maka Allah akan membebaskan dari setiap anggota tubuhnya satu anggota tubuh orang yang membebaskan dari api neraka sehingga dia dapat membebaskan tangannya dengan tangan [budak dari perbudakan], kaki dan tangan, dan kemaluan dengan kemaluan.”

Kemudian ‘Ali  bin al-Husain bertanya: “Engkau mendengar langsung hal tersebut dari Abu Hurairah?” Sa’id pun menjawab: “Ya.” Lebih lanjut  ‘Ali bin al-Husain berkata kepada salah satu puteranya  yang paling cerdas, “Panggil Mithraf.” Setelah Mithraf hadir di hadapannya, maka ‘Ali berkata,”Pergilah, engkau sekarang  bebas karena Allah.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i. Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa anak muda yang dimerdekakan oleh ‘Ali bin al-Husain adalah Zainal ‘Abidin, yang juga diberi uang 10.000 dirham.

Dan firman Allah Ta’ala: aw ith’aamung fii yaumin dzii masghabah (“Atau  memberi makan pada hari kelaparan.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni  orang yang berada dalam kelaparan.” Demikian pula yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, al-Hasan, adl-Dlahhak, dan as-Suddi, sebagaimana  yang terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Salman bin ‘Amir, dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Shadaqah kepada orang miskin itu mendapat pahala shadaqah saja. Dan shadaqah kepada  kerabat itu mendapat dua pahala  yaitu pahala shadaqah dan silaturahim.’” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa-i.

Firman Allah Ta’ala: aw miskiinan dzaa matrabaH (“atau orang miskin yang sangat fakir.”) yaitu orang-orang yang benar-benar hidup miskin yang tidur beralaskan tanah. Ibu ‘Abbas  mengatakan:  “Dzaa matrabaH” berarti orang yang terbuang di jalanan, yang tidak memiliki rumah atau  sesuatu yang menjaganya dari tanah.” Sedangkan ‘Ikrimah mengemukakan: “Yaitu orang miskin yang mempunyai hutang  dan dalam keadaan benar-benar membutuhkan.”

Firman Allah Ta’ala: tsumma kaana  minalladziina aamanuu (“Dan dia termasuk orang-orang yanng beriman.”) maksudnya dengan sifat-sifat yang terpuji lagi suci tersebut, maka dia termasuk orang yang beriman dengan hatinya  serta mengharap pahala tersebutt di sisi Allah. Sebagaimana firman Allah: “dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (al-Israa’: 19)

Firman Allah: wa tawaa shaubish shabri wa tawaa shaubil marhamaH (“Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”) yakni dia termasuk orang mukmin yang selalu mengerjakan amal shalih dan senantiasa memberi nasehat untuk bersabar atas gangguan orang lain serta berpesan untuk saling mengasihi, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits: “Orang-orang yang penuh kasih sayang akan selalu dikasihi oleh Rabb Yang Mahapemurah. Kasihilah orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya kalian akan dikasihi Rabb yang ada di langit.”

Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak menyayangi anak kecil di antara kami dan [tidak] mengetahui hak orang yang lebih tua di antara kami berarti dia bukan dari golongan kami.”

Firman Allah: ulaa-ika ash-haabul maimanah (“Mereka [orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu] adalah golongan kanan.”) yaitu orang-orang yang mensifati diri dengan sifat-sifat tersebut termasuk golongan kanan. Kemudian firman-Nya: wal ladziina kafaruu bi-aayaatinaa Hum ash-haabul masy-amah (“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka adalah golongan kiri.”) yakni orang-orang yang termasuk dalam golongan kiri. ‘alaiHim naarum mu’shadaH (“Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat.”) yakni yang tertutup rapat bagi mereka sehingga mereka tidak bisa menghindari dan tidak juga mereka bisa keluar darinya. Mujahid mengatakan: “Pintu yang tertutup, menurut bahasa kaum Quraisy, yaitu terkunci.” Adl-Dlahhak mengatakan: “Mu’shadah berarti semua berwujud  dinding dan tidak memiliki pintu.

Sekian.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Balad (1)

22 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Balad (Negeri)
Surah Makkiyyah; Surah ke 90: 20 ayat

 

tulisan arab alquran surat al balad ayat 1-10“1. aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah), 2. dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini, 3. dan demi bapak dan anaknya. 4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. 5. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya? 6. dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”. 7. Apakah Dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya? 8. Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, 9. lidah dan dua buah bibir. 10. dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (al-Balad: 1-10)

Yang demikian itu merupakan sumpah dari Allah dengan kota Makkah, Ummul Qura pada saat penghuni di sana dihalalkan, untuk mengingatkan akan keagungan dan kemuliaannya pada saat penduduknya berikhram. Dari Mujahid, Khushaif mengataka: “laa uqsimu biHaadzal baladi (“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini [Makkah].”) tidak ada penolakan atas mereka.  Aku bersumpah dengan negeri ini. Syabib bin Bisyir mengatakan dari ‘Ikrimah  dan Ibnu ‘Abbas: “laa uqsimu biHaadzal baladi (“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini [Makkah].”) yakni kota Makkah ini.” Dia berkata: “Hai Muhammad, diperbolehkan bagimu untuk berperang di dalamnya.” Demikian juga yang diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Abu Shalih, ‘Athiyah, adl-Dlahhak, Qatadah, as-Suddi, dan Ibnu Zaid.  Mujahid mengatakan: “Apa yang engkau dapatkan di dalamnya maka ia halal bagimu.” Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Allah menghalalkannya  untuk beliau sesaat di waktu  siang hari.” Dan inilah makna yang mereka katakan. Dan hal itu juga telah  disebutkan oleh hadits yang keshahihannya telah disepakati:

“Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan [disucikan] oleh Allah pada saat Dia menciptakan langit dan bumi. Dan negeri tersebut tetap dalam keadaan haram [suci] dengan keharamannya [kesuciaannya]  yang telah ditetapkan oleh Allah sampai hari kiamat kelak.  Pepohonannya tidak boleh ditebang, tanamannya yang masih hidup tidak boleh dicabut. Dan sesungguhnya pernah dihalalkan bagiku [berperang di sana] sesaat pada siang hari. Dan pada hari ini pengharamannya telah berlaku lagi, sebagaimana diharamkannya kemarin. Ketahuilah, hendaklah orang yang hadir hari ini menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”

Dalam lafazh lain disebutkan: “Jika ada seseorang yang merasa diberi keringanan karena peperangan yang pernah dilakukan Rasulullah, maka  katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah mengizinkan bagi Rasul-Nya dan tidak mengizinkan bagi kalian.’”

Firman Allah: wa waadidiw wa maa walada (“Dan demi bapak dan anaknya,”) Mujahid, Abu Shalih, Qatadah, adl-Dlahhak, Sufyan ats-Tsauri, Sa’id bin Jubair, as-Suddi, al-Hasan al-Bashri, Khushaif, Syarhabil bin Sa’ad dan lain-lainnya mengatakan: “Yang dimaksud dengan bapak di sini adalah Adam sedang anaknya adalah anak Adam.” Dan apa yang menjadi pendapat Mujahid dan para shahabatnya inilah yang paling kuat, karena Allah Ta’ala bersumpah dengan Ummul Qura, yaitu tempat-tempat yang didiami. Dia bersumpah dengan orang yang mendiaminya, yaitu Adam, bapak ummat manusia dan semua anaknya. Ibnu Jarir memilih berpendapat bahwa hal itu bersifat umum yang mencakup  setiap orang tua dan anaknya. Dan pendapat inipun mengandung kemungkinan.

Firman Allah: laqad khalaqnal ingsaana fii kabadin (“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada di dalam susah payah.”) Sa’id bin Jubair berkata tentang “fii kabad”: yakni dalam kesusahan dan pencarian kehidupan.” Ibnu Jarir memilih berpendat bahwa yang dimaksud adalah berbagai urusan yang sulit lagi payah.

Firman-Nya: a yahsabu allay yaqdira ‘alaiHi ahad (“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-sekali tidak ada seorangpun yang berkuasa atasnya?”) al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Yakni mengambil hartanya.” Mengenai firman-Nya ini Qatadah mengatakan: “Anak Adam mengira bahwa mereka tidak akan ditanya tentang harta tersebut, darimana dia memperolehnya dan kemana dia menyalurkannya.” Mengenai firmannya ini as-Suddi mengatakan: “Allah berfirman.”

Firman-Nya: yaquulu aHlaktu maalan (“Dia mengatakan: ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak.’”) artinya anak Adam mengatakan: “Aku telah membelanjakan harta yang cukup banyak.”) demikian yang dikemukakan oleh Muhahid, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi dan lain-lain. A yahsabu allam yaraHuu ahad (“Apakah dia menyangka bahwa  tidak ada seorangpun yang melihatnya.” Mujahid mengatakan: “Yakni, apakah  dia mengira Allah tidak melihatnya?” demikian juga perkataan ulama salaf lainnya.

Firman-Nya: a lam naj’al laHuu ‘ainaiin (“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.”) yakni melihat dengan keduanya. Wa lisaanan (“Dan lidah”) yakni dengannya dia bicara  sehingga ia dapat mengungkapkan apa yang ada di dalam hati kecilnya. Wa syafataiin (“Dan dua buah bibir.”) dengan kedua bibir itu dia meminta bantuan untuk dapat berbicara, memakan makanan, sekaligus untuk memperindah wajah dan mulutnya. Wa HadainaaHun najdaiin (“Dan Kami telah  menunjukkan kepadanya dua jalan”) yakni dua jalan. Sufyan ats-Tsauri  berkata dari ‘Abdullah, yakni bin Mas’ud tentang ayat ini dia mengatakan: “Kebaikan dan keburukan.” Demikian yang diriwayatkan oleh ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Abu  Wa-il, Abu Shalih, Muhammad bin Ka’ab, adl-Dlahhak, ‘Atha’ al-Khurasani. Dan perbandingan ayat ini adalah firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat.  Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insaan: 2-3)

(bersambung)

Mandi Wajib (Thaharah)

22 Mar

Kajian Fiqih Menurut Empat Imam Madzab

 

Empat imam madzab  sepakat bahwa apabila seorang laki-laki telah bersetubuh denga seorang perempuan dan bertemu kedua kelaminnya, meskipun tidak keluar mani, mereka wajib mandi. Dawud berpendapat, “Mandi tidak wajib, kecuali keluar air mani.” Demikian juga pendapat sekelompok shahabat Nabi saw.

Syafi’I, Maliki, dan Hambali: tidak ada perbedaan antara kelamin manusia dan kelamin binatang. Hanafi: tidak wajib mandi karena menyetubuhi binatang kecuali keluar mani.

Syafi’i: keluar mani menyebabkan wajib mandi, meskipun tidak disertai rasa nikmat. Hanafi dan Maliki: jika keluarnya tidak disertai rasa nikmat maka tidak wajib mandi.

Seseorang telah selesai mandi wajib, lalu keluar mani, menurut Hanafi dan Hambali: jika keluarnya mani sesudah kencing maka tidak wajib mandi. Namun jika keluarnya  sebelum kencing maka wajib mandi. Syafi’i: wajib mandi secara mutlak. Maliki: tidak wajib mandi sama sekali.

Apabila keluarnya mani dengan terpancar ataupun tidak, menurut Syafi’i: wajib mandi. Hanafi, Maliki, dan Hambali: jika keluarnya mani tidak memancar maka tidak wajib mandi.

Tiga imam madzab: tidak wajib mandi,kecuali  keluar mani dari zakar. Hambali: jika seseorang melamun atau mengkhayal, lalu ia merasakan keluar mani dari tulang punggung ke batang zakarnya, ia wajib mandi meskipun mani itu tidak keluar.

Orang kafir masuk Islam, menurut Maliki dan Hambali: ia wajib mandi sesudah masuk Islam. Hanafi dan Syafi’i: disunahkan mandi.

Menggosok badan dengan tangan ketika mandi wajib adalah sunnah bukan wajib, kecuali menurut Maliki.

Tiga imam madzab: boleh berwudlu dan mandi wajib dengan sisa air mandi orang junub dan haid. Hambali: tidak boleh laki-laki berwudlu dari sisa air wudlu perempuan jika ia tidak menyaksikan perempuan itu berwudlu. Namun, perempuan boleh berwudlu dari sisa wudlu laki-laki dan perempuan.

Menurut ijma: apabila perempuan haid dalam keadaan junub, lalu ia bersuci, cukup baginya mandi sekali untuk haid dan janabatnya. Diriwayatkan dari  kelompok azh-Zhahiriyah: perempuan itu wajib mandi dua kali.

Empat imam madzab: orang junub dilarang membaca al-Qur’an sedikit maupun banyak. Hanafi: boleh, jika membacanya sebagian saja. Maliki: boleh membaca satu atau dua ayat.

Diriwayatkan dari Dawud: orang junub boleh membaca al-Qur’an seluruhnya menurut kehendaknya.

Sumber: Fiqih empat madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Wudlu / Thaharah

22 Mar

Kajian Fiqih Menurut Empat Madzab

 

Menurut ijma: niat adalah wajib dalam thaharah, seperti dalam mandi wajib, wudlu dan tayamum. Oleh karena itu, thaharah harus dengan niat. Namun Hanafi berpendapat: mandi wajib dan wudlu tidak perlu dengan niat. Namun tayamum harus dengan niat.

Niat ada di dalam hati. Agar lebih sempurna, niat di dalam hati dibarengi dengan pelafalan dengan lisan. Akan tetapi Maliki berpendapat: melafalkan niat adalah makruh.

Para ulama sepakat bahwa niat di dalam hati sudah memadai, tetapi dengan lisan saja tidak cukup.

Tiga imam madzab: membaca basmalah ketika berwudlu adalah sunah bukan wajib. Hambali –dalam riwayat yang paling shahih: membaca basmalah ketika berwudlu adalah wajib.

Dawud berpendapat: wudlu tanpa membaca basmalah tidak sempurna, baik karena lupa ataupun sengaja.

Ishaq bin Rahawaih berpendapat: jika wudlu tanpa membaca basmalah karena lupa maka wudlunya sah tetapi jika sengaja tidak membaca basmalah maka wudlunya tidak sah.

Para ulama sepakat bahwa membasuh kedua telapak tangan sebelum berwudlu adalah sunnah bukan wajib. Hambali: hal itu adalah wajib jika wudlu sesudah bangun tidur malam, bukan tidur siang. Sebagian dari kelompok azh-Zhahiriyah mengatakan: hal itu wajib secara mutlak, bukan karena najis, tetapi semata-mata karena ibadah.

Jika seseorang memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum dibasuh, hal itu tidaklah merusak kesucian air, kecuali menurut Hasan al-Bashri.

Para imam madzab sepakat bahwa menyela-nyela janggut yang tebal ketika bewudlu adalah sunnah.

Tiga imam madzab: batas wajah adalah antara tempat tumbuhnya  rambut pada umumnya hingga dagu, dan dari telinga yang satu hingga telinga yang lain. Maliki: bagian antara janggut dan telinga tidak termasuk bagian wajah sehingga tidak wajib dibasuh ketika berwudlu.

Para ulama sepakat bahwa dua siku termasuk ke dalam bagian tangan yang harus dibasuh ketika berwudlu. Zufar berpendapat: tidak termasuk.

Syafi’i: mengusap kepala di dalam wudlu cukuplah sekedar menyapu dan tidak ditentukan bagian tangan yang disapukan. Maliki dan hambali: wajib mengusap seluruh kepala. Hanafi: cukup mengusap seperempat bagian kepala dengan tiga jari. Jika diusap dengan dua jari, meskipun terusap seluruh bagiannya maka tidak sah.

Hanafi, Maliki, dan Hambali: disunahkan menyapu kepala  dengan sekali sapu. Syafi’i: tiga kali sapuan.

Hanafi, Maliki dan Hambali: kedua telinga termasuk bagian kepala. Oleh karena itu, disunahkan mengusap keduanya  ketika mengusap kepala. Syafi’i: mengusap kedua daun telinga adalah sunnah. Mengusapnya dengan air yang baru, yaitu sesudah mengusap kepala, bukan air sisa mengusap kepala.

Az-Zuhri berpendapat: “Kedua daun telinga termasuk bagian wajah yang harus dibasuh bagian luar dan dalamnya ketika membasuh muka.”

Asy-Sya’bi dan kelompok ulama mengatakan: “Bagian yang menghadap ke depan termasuk bagian muka sehingga harus dibasuh ketika membasuh wajah. Sementara itu, bagian yang menghadap ke belakang termasuk kepala sehingga harus diusap ketika mengusap kepala.”

Menurut ijma: tidak sah mengusap kedua telinga saja tanpa mengusap kepala.

Apakah mengusap kedua telinga itu disunnahkan berulang-ulang? Hanafi, Maliki, dan Hambali: sunnah mengusapnya  sekali saja. Syafi’I: disunnahkan mengusap telinga tiga kali. Pendapat ini sesuai dengan salah satu riwayat dari Hambali.

Hanafi: mengusap leher termasuk sunnah wudlu, Maliki dan Syafi’i: tidak disunnahkan. Sebagian ulama pengikut Syafi’I dan salah satu dan salah satu pendapat Hambil: hal itu  adalah sunnah.

Para imam madzab: membasuh kedua kaki dalam wudlu bagi orang yang mampu mengerjakannya adalah wajib.

Hambali, al-Awza’I, ats-Tsawri dari Ibn Jarir: boleh mengusap kedua kaki. Boleh juga memilih antara membasuh dan mengusap seluruh kaki. Diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, “yang difardlukan atas keduanya adalah mengusap.”

Hanafi dan Maliki: Tartib di dalam wudlu tidak wajib. Syafi’I dan Hambali: wajib tartib.

Hanafi dan Syafi’i: muwalat [berturut-turut tanpa menyelingi dengan perbuatan lain] dalam wudlu adalah sunnah. Maliki dan Hambali: muwalat adalah wajib.

Empat imam madzab sepakat bahwa satu wudlu dapat dipergunakan untuk beberapa shalat. An-Nakha-i berpendapat: tidak boleh shalat lebih dari lima shalat dengan satu wudlu.

‘Ubaid bin ‘Umair berpendapat: satu wudlu adalah wajib untuk satu shalat, berdasarkan lahiriyah ayat.

Sumber: Fiqih empat madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

 

Sebab-sebab Hadats

22 Mar

Kajian Fiqih Menurut Empat Imam Madzab

Kencing, buang air besar dan keluar mani

Air kencing dan kotoran yang keluar dari dua saluran –qubul dan dubur- membatalkan wudlu, menurut ijma’. Adapun sesuatu yang jarang terjadi, seperti keluar ulat dari dubur, keluar angin dari qubul [kemaluan], batu, darah, dan lainnya juga membatalkan wudlu, kecuali menurut Maliki. Sedangkan Hanafi mengecualikan angin yang keluar dari kemaluan yang menurutnya tidak membatalkan wudlu.

Tiga imam madzab: keluar mani membatalkan wudlu. Pendapat paling shahih dari Syafi-i: tidak membatalkan wudlu, tetapi mewajibkan mandi. Hanafi: semua itu, termasuk mani, membatalkan wudlu.

Menyentuh kemaluan

Para imam madzab sepakat bahwa orang yang menyentuh kemaluannya dengan selain tangan, wudlunya tidak batal. Namun mereka berbeda pendapat tentang orang yang menyentuh kemaluan dengan tangan. Hanafi: hal itu membatalkan wudlu secara mutlak, dengan sisi tangan manapun dia menyentuh. Syafi-i: hal itu membatalkan wudlu jika sentuhannya dengan telapak tangan bagian dalam dan tidak ada penghalang, baik disertai syahwat maupun tidak. Sedangkan bila sentuhannya dengan punggung tangan, hal itu tidak membatalkan wudlu.

Pendapat termsyur dari Hambali: hal itu membatalkan wudlu, baik sentuhannya dengan telapak tangan bagian dalam maupun bagian luar. Sedangkan pendapat paling kuat dari Maliki: jika sentuhannya disertai dengan syahwat maka hal itu membatalkan wudlu, tetapi jika tidak disertai dengan syahwat maka wudlunya tidak batal.

Adapun menyentuh kemaluan orang lain, Syafi’i dan Hambali: tidak membatalkan wudlu, baik orang yang menyentuhnya maupun yang disentuh, baik anak kecil maupun orang dewasa, baik masih hidup maupun sudah mati. Maliki: hal itu tidak membatalkan wudlu jika yang menyentuh adalah anak kecil. Hanafi: hal itu tidak membatalkan wudlu siapapun yang menyentuhnya.

Apakah orang yang disentuh kemaluannya, wudlunya batal? Maliki: wudlunya batal. Hanafi, Syafi’i, dan Hambali: wudlunya tidak batal.

Emapt imam madzab sepakat bahwa menyentuh biji pelir tidak membatalkan wudlu, meskipun tidak memakai penghalang.

Hanafi dan Hambali: tidak wajib wudlu karena menyentuh amrad [anak muda belia] meskipun disertai dengan syahwat. Maliki dan Syafi’i: wajib berwudlu karenanya.

Memegang dubur, menurut Hanafi dan Maliki: tidak membatalkan wudlu. Syafi’i dan Hambali: hal itu membatalkan wudlu. Namun, menurut riwayat lain dari mereka, hal itu tidak membatalkan wudlu.

Bersentuhan Kulit Laki-laki dan Perempuan

Para imam madzab berbeda pendapat tentang hukum laki-laki yang menyentuh kulit perempuan. Syafi’i: hal itu membatalkan wudlu dalam keadaan apapun jika tidak ada penghalang, kecuali jika yang disentuh itu muhrim. Maliki dan Hambali: jika bersentuhan ditu disertai dengan syahwat maka wudlunya batal. Namun jika tidak disertai dengan syahwat maka wudlunya tidak batal. Hanafi: hal itu tidak membatalkan wudlu, kecuali jika memegang zakar, baik tegang dengan sendirinya maupun dengan kesengajaan.

Muhammad bin al-Hasan –seorang murid terkemuka Hanafi- berpendapat: wudlunya tidak batal meskipun zakarnya tegang.

‘Atha’ berpendapat: jika seseorang menyentuh perempuan asing –bukan muhrim- yang dapat dinikahi, maka wudlunya batal. Sementara itu jika perempuan yang disentuh itu halal baginya, seperti istri dan budak perempuan, maka wudlunya tidak batal.

Pendapat paling kuat dari Syafi’i dan Maliki: orang yang menyentuh dan yang disentuh sama saja, batal wudlunya. Dari Hambali: terdapat dua riwayat, yang satu membatalkan dan yang lainnya tidak membatalkan.

Tidur

Para imam madzab sepakat bahwa tidur sambil berbaring dan bersandar dapat membatalkan wudlu. Namun mereka berbeda pendapat tentang orang yang tertidur dalam shalat, misalnya ketika rukuk.

Hanafi dalam qaul jadid: jika tidurnya di tempat duduknya maka wudlunya tidak batal. Namun jika tidak maka wudlunya batal. Sedangkan dalam qaul qadim, ia berpendapat bahwa tidur dalam keadaan apapun di dalam shalat tidak membatalkan wudlu.

Hambali: jika tidurnya ketika berdir, rukuk,duduk, dan sujud itu lama maka wudlunya batal. Menurut al-Kaththabi: inilah pendapat paling shahih dari dua riwayat Hambali.

Syafi’i: tidak ada perbedaan antara tidur lama dan tidur singkat, meskipun ia bermimpi, selama pantatnya tetap melekat pada tempat duduknya. Sebab tidur itu sendir bukan hadats, melainkan dimungkinkan timbulnya hadats.

Hal Lain  yang Membatalkan Wudlu

Syafi’i dan Hambali: najis yang keluar dari badan selain dari dubur dan qubul, seperti darah dari hidung, muntah, dan darah berbekam tidak membatalkan wudlu. Hanafi: wajib berwudlu karena keluar darah yang mengalir dan muntah yang memenuhi mulut. Hambali: muntah yang banyak membatalkan wudlu, sedangkan sedikit ada dua riwayat.

Menurut ijma’: tertawa terbahak-bahak di dalam shalat membatalkan shalat. Namun apakah hal itu membatalkan wudlu? Maliki, Syafi’i dan Hambali: tidak membatalkan wudlu. Hanafi: membatalkan wudlu.

Menurut ijma’: memakan makanan yang dimasak dengan api, seperti nasi dan roti, tidak membatalkan wudlu. Namun, diriwayatkan dari sebagian sahabat, seperti Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, dan Zaid bin Tsabit, bahwa mereka mewajibkan wudlu.

Hanafi,Maliki, dan Syafi’i dalam qaul jadid: memakan daging unta tidak membatalkan wudlu. Hambali: membatalkan wudlu. Pendapat ini sesuai dengan qaul qadim Syafi’i dan yang dipilih para shahabatnya.

Tiga imam madzab: memandikan jenazah tidak membatalkan wudlu. Hambali: hal itu membatalkan wudlu.

Para imam sepakat bahwa orang yang yakin telah bersuci, lalu timbul keraguan tentang kesuciannya, maka tetap suci. Maliki: menurut lahiriah, berpendapat: ia tidak suci dan harus wudlu lagi.

Al-Hasan berpendapat: jika keraguannya muncul ketika shalat, hendaklah ia memilih apa yang diyakininya, lalu meneruskan shalatnya. Namun jika keraguannya muncul di luar shalat, hendaklah ia mengambil yang meragukan, yakni wudlu lagi.

Menyentuh Mushhaf

Menurut ijma’: tidak boleh menyentuh mushhaf [al-Qur’an] dan membawanya bagi orang yang berhadats. Ada diriwayatkan dari Dawud dan lain-lain bahwa mereka membolehkannya.

Boleh membawa mushhaf dengan cara dibungkus dan digantungkan, kecuali menurut Syafi’i: boleh membawa al-Qur’an bersama benda lain atau bersama tafsir atau dinar [uang], dan boleh juga membuka lembarannya dengan kayu.

Buang Hajat

Syafi’i, Maliki, dan Hambali dalam riwayatnya yang paling masyur: menghadap ke arah kiblat dan membelakanginya ketika buang air di tanah lapang adalah haram. Hanafi dan Hambali –dalam riwayat lain: buang air menghadap kiblat atau membelakanginya, baik di tanah lapang maupundi dalam bangunan adalah makruh.

Dawud berpendapat: boleh membelakangi atau menghadap kiblat di dalam bangunan ataupun di tanah lapang.

Istinjak

Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam satu  riwayat: istinjak adalah wajib. Namun, dalam riwayat lain dari Maliki: sah shalat seseorang tanpa istinjak. Hanafi: istinjak adalah sunah, tidak wajib. Demikian juga menurut riwayat dari Maliki, menurut Maliki: jika seseorang shalat tanpa istinjak maka shalatnya sah. Yang wajib dihilangkan adalah yang lebih dari ukuran mata uang dirham.

Tidak boleh beristinjak dengan mempergunakan batu yang kurang dari tiga buah, walaupun sudah bersih. Adapun yang dimaksud dengan tiga buah batu adalah tiga kali sapuan. Maka apabila batu tersebut mempunyai tiga buah sudut, sudahlah cukup jika dapat membersihkannya. Namun jika batu yang bersudut tiga itu tidak bisa membersihkan, maka bagian itu harus disapu dengan batu keempat, kelima, dan seterusnya hingga bersih.

Hanafi dan Maliki: yang diperlukan adalah kebersihannya, dan tidak disukai menggunakan lebih dari tiga buah batu.

Menurut ijma: boleh beristinjak dengan sesuatu yang dianggap dapat menggantikan batu, seperti tembikar, kayu dan papan. Sementara itu, Dawud berpendapat: beristinjak harus menggunakan batu.

Syafi’i dan Hambali: tidak boleh beristinjak dengan tulang dan kotoran hewan. Hanafi dan Maliki: kedua benda itu memadai, tetapi lebih tidak disukai tidak menggunakan keduanya.

Sumber: Fiqih empat madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi