Sebab-sebab Hadats

22 Mar

Kajian Fiqih Menurut Empat Imam Madzab

Kencing, buang air besar dan keluar mani

Air kencing dan kotoran yang keluar dari dua saluran –qubul dan dubur- membatalkan wudlu, menurut ijma’. Adapun sesuatu yang jarang terjadi, seperti keluar ulat dari dubur, keluar angin dari qubul [kemaluan], batu, darah, dan lainnya juga membatalkan wudlu, kecuali menurut Maliki. Sedangkan Hanafi mengecualikan angin yang keluar dari kemaluan yang menurutnya tidak membatalkan wudlu.

Tiga imam madzab: keluar mani membatalkan wudlu. Pendapat paling shahih dari Syafi-i: tidak membatalkan wudlu, tetapi mewajibkan mandi. Hanafi: semua itu, termasuk mani, membatalkan wudlu.

Menyentuh kemaluan

Para imam madzab sepakat bahwa orang yang menyentuh kemaluannya dengan selain tangan, wudlunya tidak batal. Namun mereka berbeda pendapat tentang orang yang menyentuh kemaluan dengan tangan. Hanafi: hal itu membatalkan wudlu secara mutlak, dengan sisi tangan manapun dia menyentuh. Syafi-i: hal itu membatalkan wudlu jika sentuhannya dengan telapak tangan bagian dalam dan tidak ada penghalang, baik disertai syahwat maupun tidak. Sedangkan bila sentuhannya dengan punggung tangan, hal itu tidak membatalkan wudlu.

Pendapat termsyur dari Hambali: hal itu membatalkan wudlu, baik sentuhannya dengan telapak tangan bagian dalam maupun bagian luar. Sedangkan pendapat paling kuat dari Maliki: jika sentuhannya disertai dengan syahwat maka hal itu membatalkan wudlu, tetapi jika tidak disertai dengan syahwat maka wudlunya tidak batal.

Adapun menyentuh kemaluan orang lain, Syafi’i dan Hambali: tidak membatalkan wudlu, baik orang yang menyentuhnya maupun yang disentuh, baik anak kecil maupun orang dewasa, baik masih hidup maupun sudah mati. Maliki: hal itu tidak membatalkan wudlu jika yang menyentuh adalah anak kecil. Hanafi: hal itu tidak membatalkan wudlu siapapun yang menyentuhnya.

Apakah orang yang disentuh kemaluannya, wudlunya batal? Maliki: wudlunya batal. Hanafi, Syafi’i, dan Hambali: wudlunya tidak batal.

Emapt imam madzab sepakat bahwa menyentuh biji pelir tidak membatalkan wudlu, meskipun tidak memakai penghalang.

Hanafi dan Hambali: tidak wajib wudlu karena menyentuh amrad [anak muda belia] meskipun disertai dengan syahwat. Maliki dan Syafi’i: wajib berwudlu karenanya.

Memegang dubur, menurut Hanafi dan Maliki: tidak membatalkan wudlu. Syafi’i dan Hambali: hal itu membatalkan wudlu. Namun, menurut riwayat lain dari mereka, hal itu tidak membatalkan wudlu.

Bersentuhan Kulit Laki-laki dan Perempuan

Para imam madzab berbeda pendapat tentang hukum laki-laki yang menyentuh kulit perempuan. Syafi’i: hal itu membatalkan wudlu dalam keadaan apapun jika tidak ada penghalang, kecuali jika yang disentuh itu muhrim. Maliki dan Hambali: jika bersentuhan ditu disertai dengan syahwat maka wudlunya batal. Namun jika tidak disertai dengan syahwat maka wudlunya tidak batal. Hanafi: hal itu tidak membatalkan wudlu, kecuali jika memegang zakar, baik tegang dengan sendirinya maupun dengan kesengajaan.

Muhammad bin al-Hasan –seorang murid terkemuka Hanafi- berpendapat: wudlunya tidak batal meskipun zakarnya tegang.

‘Atha’ berpendapat: jika seseorang menyentuh perempuan asing –bukan muhrim- yang dapat dinikahi, maka wudlunya batal. Sementara itu jika perempuan yang disentuh itu halal baginya, seperti istri dan budak perempuan, maka wudlunya tidak batal.

Pendapat paling kuat dari Syafi’i dan Maliki: orang yang menyentuh dan yang disentuh sama saja, batal wudlunya. Dari Hambali: terdapat dua riwayat, yang satu membatalkan dan yang lainnya tidak membatalkan.

Tidur

Para imam madzab sepakat bahwa tidur sambil berbaring dan bersandar dapat membatalkan wudlu. Namun mereka berbeda pendapat tentang orang yang tertidur dalam shalat, misalnya ketika rukuk.

Hanafi dalam qaul jadid: jika tidurnya di tempat duduknya maka wudlunya tidak batal. Namun jika tidak maka wudlunya batal. Sedangkan dalam qaul qadim, ia berpendapat bahwa tidur dalam keadaan apapun di dalam shalat tidak membatalkan wudlu.

Hambali: jika tidurnya ketika berdir, rukuk,duduk, dan sujud itu lama maka wudlunya batal. Menurut al-Kaththabi: inilah pendapat paling shahih dari dua riwayat Hambali.

Syafi’i: tidak ada perbedaan antara tidur lama dan tidur singkat, meskipun ia bermimpi, selama pantatnya tetap melekat pada tempat duduknya. Sebab tidur itu sendir bukan hadats, melainkan dimungkinkan timbulnya hadats.

Hal Lain  yang Membatalkan Wudlu

Syafi’i dan Hambali: najis yang keluar dari badan selain dari dubur dan qubul, seperti darah dari hidung, muntah, dan darah berbekam tidak membatalkan wudlu. Hanafi: wajib berwudlu karena keluar darah yang mengalir dan muntah yang memenuhi mulut. Hambali: muntah yang banyak membatalkan wudlu, sedangkan sedikit ada dua riwayat.

Menurut ijma’: tertawa terbahak-bahak di dalam shalat membatalkan shalat. Namun apakah hal itu membatalkan wudlu? Maliki, Syafi’i dan Hambali: tidak membatalkan wudlu. Hanafi: membatalkan wudlu.

Menurut ijma’: memakan makanan yang dimasak dengan api, seperti nasi dan roti, tidak membatalkan wudlu. Namun, diriwayatkan dari sebagian sahabat, seperti Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, dan Zaid bin Tsabit, bahwa mereka mewajibkan wudlu.

Hanafi,Maliki, dan Syafi’i dalam qaul jadid: memakan daging unta tidak membatalkan wudlu. Hambali: membatalkan wudlu. Pendapat ini sesuai dengan qaul qadim Syafi’i dan yang dipilih para shahabatnya.

Tiga imam madzab: memandikan jenazah tidak membatalkan wudlu. Hambali: hal itu membatalkan wudlu.

Para imam sepakat bahwa orang yang yakin telah bersuci, lalu timbul keraguan tentang kesuciannya, maka tetap suci. Maliki: menurut lahiriah, berpendapat: ia tidak suci dan harus wudlu lagi.

Al-Hasan berpendapat: jika keraguannya muncul ketika shalat, hendaklah ia memilih apa yang diyakininya, lalu meneruskan shalatnya. Namun jika keraguannya muncul di luar shalat, hendaklah ia mengambil yang meragukan, yakni wudlu lagi.

Menyentuh Mushhaf

Menurut ijma’: tidak boleh menyentuh mushhaf [al-Qur’an] dan membawanya bagi orang yang berhadats. Ada diriwayatkan dari Dawud dan lain-lain bahwa mereka membolehkannya.

Boleh membawa mushhaf dengan cara dibungkus dan digantungkan, kecuali menurut Syafi’i: boleh membawa al-Qur’an bersama benda lain atau bersama tafsir atau dinar [uang], dan boleh juga membuka lembarannya dengan kayu.

Buang Hajat

Syafi’i, Maliki, dan Hambali dalam riwayatnya yang paling masyur: menghadap ke arah kiblat dan membelakanginya ketika buang air di tanah lapang adalah haram. Hanafi dan Hambali –dalam riwayat lain: buang air menghadap kiblat atau membelakanginya, baik di tanah lapang maupundi dalam bangunan adalah makruh.

Dawud berpendapat: boleh membelakangi atau menghadap kiblat di dalam bangunan ataupun di tanah lapang.

Istinjak

Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam satu  riwayat: istinjak adalah wajib. Namun, dalam riwayat lain dari Maliki: sah shalat seseorang tanpa istinjak. Hanafi: istinjak adalah sunah, tidak wajib. Demikian juga menurut riwayat dari Maliki, menurut Maliki: jika seseorang shalat tanpa istinjak maka shalatnya sah. Yang wajib dihilangkan adalah yang lebih dari ukuran mata uang dirham.

Tidak boleh beristinjak dengan mempergunakan batu yang kurang dari tiga buah, walaupun sudah bersih. Adapun yang dimaksud dengan tiga buah batu adalah tiga kali sapuan. Maka apabila batu tersebut mempunyai tiga buah sudut, sudahlah cukup jika dapat membersihkannya. Namun jika batu yang bersudut tiga itu tidak bisa membersihkan, maka bagian itu harus disapu dengan batu keempat, kelima, dan seterusnya hingga bersih.

Hanafi dan Maliki: yang diperlukan adalah kebersihannya, dan tidak disukai menggunakan lebih dari tiga buah batu.

Menurut ijma: boleh beristinjak dengan sesuatu yang dianggap dapat menggantikan batu, seperti tembikar, kayu dan papan. Sementara itu, Dawud berpendapat: beristinjak harus menggunakan batu.

Syafi’i dan Hambali: tidak boleh beristinjak dengan tulang dan kotoran hewan. Hanafi dan Maliki: kedua benda itu memadai, tetapi lebih tidak disukai tidak menggunakan keduanya.

Sumber: Fiqih empat madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: