Wudlu / Thaharah

22 Mar

Kajian Fiqih Menurut Empat Madzab

 

Menurut ijma: niat adalah wajib dalam thaharah, seperti dalam mandi wajib, wudlu dan tayamum. Oleh karena itu, thaharah harus dengan niat. Namun Hanafi berpendapat: mandi wajib dan wudlu tidak perlu dengan niat. Namun tayamum harus dengan niat.

Niat ada di dalam hati. Agar lebih sempurna, niat di dalam hati dibarengi dengan pelafalan dengan lisan. Akan tetapi Maliki berpendapat: melafalkan niat adalah makruh.

Para ulama sepakat bahwa niat di dalam hati sudah memadai, tetapi dengan lisan saja tidak cukup.

Tiga imam madzab: membaca basmalah ketika berwudlu adalah sunah bukan wajib. Hambali –dalam riwayat yang paling shahih: membaca basmalah ketika berwudlu adalah wajib.

Dawud berpendapat: wudlu tanpa membaca basmalah tidak sempurna, baik karena lupa ataupun sengaja.

Ishaq bin Rahawaih berpendapat: jika wudlu tanpa membaca basmalah karena lupa maka wudlunya sah tetapi jika sengaja tidak membaca basmalah maka wudlunya tidak sah.

Para ulama sepakat bahwa membasuh kedua telapak tangan sebelum berwudlu adalah sunnah bukan wajib. Hambali: hal itu adalah wajib jika wudlu sesudah bangun tidur malam, bukan tidur siang. Sebagian dari kelompok azh-Zhahiriyah mengatakan: hal itu wajib secara mutlak, bukan karena najis, tetapi semata-mata karena ibadah.

Jika seseorang memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum dibasuh, hal itu tidaklah merusak kesucian air, kecuali menurut Hasan al-Bashri.

Para imam madzab sepakat bahwa menyela-nyela janggut yang tebal ketika bewudlu adalah sunnah.

Tiga imam madzab: batas wajah adalah antara tempat tumbuhnya  rambut pada umumnya hingga dagu, dan dari telinga yang satu hingga telinga yang lain. Maliki: bagian antara janggut dan telinga tidak termasuk bagian wajah sehingga tidak wajib dibasuh ketika berwudlu.

Para ulama sepakat bahwa dua siku termasuk ke dalam bagian tangan yang harus dibasuh ketika berwudlu. Zufar berpendapat: tidak termasuk.

Syafi’i: mengusap kepala di dalam wudlu cukuplah sekedar menyapu dan tidak ditentukan bagian tangan yang disapukan. Maliki dan hambali: wajib mengusap seluruh kepala. Hanafi: cukup mengusap seperempat bagian kepala dengan tiga jari. Jika diusap dengan dua jari, meskipun terusap seluruh bagiannya maka tidak sah.

Hanafi, Maliki, dan Hambali: disunahkan menyapu kepala  dengan sekali sapu. Syafi’i: tiga kali sapuan.

Hanafi, Maliki dan Hambali: kedua telinga termasuk bagian kepala. Oleh karena itu, disunahkan mengusap keduanya  ketika mengusap kepala. Syafi’i: mengusap kedua daun telinga adalah sunnah. Mengusapnya dengan air yang baru, yaitu sesudah mengusap kepala, bukan air sisa mengusap kepala.

Az-Zuhri berpendapat: “Kedua daun telinga termasuk bagian wajah yang harus dibasuh bagian luar dan dalamnya ketika membasuh muka.”

Asy-Sya’bi dan kelompok ulama mengatakan: “Bagian yang menghadap ke depan termasuk bagian muka sehingga harus dibasuh ketika membasuh wajah. Sementara itu, bagian yang menghadap ke belakang termasuk kepala sehingga harus diusap ketika mengusap kepala.”

Menurut ijma: tidak sah mengusap kedua telinga saja tanpa mengusap kepala.

Apakah mengusap kedua telinga itu disunnahkan berulang-ulang? Hanafi, Maliki, dan Hambali: sunnah mengusapnya  sekali saja. Syafi’I: disunnahkan mengusap telinga tiga kali. Pendapat ini sesuai dengan salah satu riwayat dari Hambali.

Hanafi: mengusap leher termasuk sunnah wudlu, Maliki dan Syafi’i: tidak disunnahkan. Sebagian ulama pengikut Syafi’I dan salah satu dan salah satu pendapat Hambil: hal itu  adalah sunnah.

Para imam madzab: membasuh kedua kaki dalam wudlu bagi orang yang mampu mengerjakannya adalah wajib.

Hambali, al-Awza’I, ats-Tsawri dari Ibn Jarir: boleh mengusap kedua kaki. Boleh juga memilih antara membasuh dan mengusap seluruh kaki. Diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, “yang difardlukan atas keduanya adalah mengusap.”

Hanafi dan Maliki: Tartib di dalam wudlu tidak wajib. Syafi’I dan Hambali: wajib tartib.

Hanafi dan Syafi’i: muwalat [berturut-turut tanpa menyelingi dengan perbuatan lain] dalam wudlu adalah sunnah. Maliki dan Hambali: muwalat adalah wajib.

Empat imam madzab sepakat bahwa satu wudlu dapat dipergunakan untuk beberapa shalat. An-Nakha-i berpendapat: tidak boleh shalat lebih dari lima shalat dengan satu wudlu.

‘Ubaid bin ‘Umair berpendapat: satu wudlu adalah wajib untuk satu shalat, berdasarkan lahiriyah ayat.

Sumber: Fiqih empat madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: