Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fath (5)

25 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fath (Kemenangan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 48: 29 ayat

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Iyas bin Salamah, dari ayahnya, Salamah bin al-Akwa’ ia bercerita: “Aku pernah datang ke Hudaibiyyah bersama Rasulullah saw. pada saat itu kami berjumlah 1400 orang dengan 50 ekor kambing. Kemudian Rasulullah saw. duduk di tepi sumur Hudaibiyyah, entah beliau berdoa atau meludah ke dalamnya, sehingga akhirnya mengalirlah air, sehingga kami dapat minum dan  memberi minum [hewan ternak kami].”

Al-Humaidi juga meriwayatkan, Sufyan memberitahu kami, dari ‘Amr, ia pernah mendengar Jabir bercerita: “Pada peristiwa Hudaibiyyah itu kami berjumlah 1400 orang. Maka Rasulullah saw. bersabda: ‘Kalian adalah sebaik-baik penduduk bumi pada hari ini.’” Jabir berkata: “Seandainya aku dapat melihat, niscaya aku akan tunjukkan kepada kalian tempat pohon itu berada.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Tidak akan masuk neraka seseorang yang pernah mengikat janji setia di bahwa pohon ini.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Jabir, ia bercerita: “Rasulullah bersabda: ‘Semua orang yang ikut berbai’at di bawah pohon itu akan masuk surga, kecuali pemilik unta merah.’ Kemudian kami berangkat dan segera mencarinya, dan ternyata ia adalah seoran yang telah kehilangan untanya. Lalu  kami katakan kepadanya: ‘Kemarilah berbai’atlah.’ Orang itu menjawab: ‘Menemukan untaku lebih aku sukai daripada harus berbaiat.’”

Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dari Jabir, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barang siapa menempuh jalan pegunungan ini, yaitu  tsaniyyatul mirar, maka dosa-dosanya akan dihapuskan sebagaimana dihapuskannya dosa-dosa Bani Irail.” Yang pertama kali menaikinya adalah kuda Bani Khazraj, setelah itu orang-orang menyusul mereka. Kemudian Nabi saw. bersabda: “Kalian semua diberi ampunan, kecuali pemilik unta merah.”  Lalu kami katakan kepada orang itu: “Kemarilah agar Rasulullah saw. memohonkan ampunan untukmu.”  Maka orang itupun menjawab: “Demi Allah, menemukan untaku yang hilang lebih aku sukai daripada aku  dimintakan ampunan oleh Sahabat kalian.” Hadits ini diriwayatkkan juga oleh Muslim  dari ‘Ubaidillah.

Selain itu Imam Muslim juga  meriwayatkan dari Jabir, ia bercerita: “Seorang budak milik Hathib bin Abi  Balta’ah pernah datang mengadukan tuannya, Hathib. Budak itu berkata: ‘Ya Rasulallah, pastilah Hathib itu akan masuk neraka.’ Maka Rasulullahpun bersabda: ‘Engkau telah berdusta, ia tidak akan masuk ke dalamnya, karena ia telah ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah.”

Oleh karena itu seraya memberi pujian kepada mereka, Allah swt. berfirman yang artinya: “bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. tangan Allah di atas tangan mereka, Maka Barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan Barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (al-Fath: 10)

tulisan arab alquran surat al fath ayat 11-14“11. orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: ‘Harta dan keluarga Kami telah merintangi Kami, Maka mohonkanlah ampunan untuk kami’; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah : “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. sebenarnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 12. tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. 13. dan Barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Maka Sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala. 14. dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia memberikan ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengazab siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Fath: 11-14)

Allah Ta’ala berfirman seraya memberitahukan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw. tentang alasan orang-orang Badui yang tidak ikut serta ke Hudaibiyyah. Mereka lebih memilih tinggal bersama keluarga dan kesibukan mereka serta enggan melakukan perjalanan bersama Rasulullah saw. mereka beralasan bahwa mereka sibuk. Dan mereka meminta supaya Rasulullah saw. memohonkan ampunan bagi mereka. Ucapan itu hanya  sebagai basa-basi, bukan sebagai keyakinan, bahkan hanya sebagai siasat dan tipu daya serta cenderung dibuat-buat. Oleh karena itu, Allah berfirman: “mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah : “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu.”  Maksudnya  tidak ada seorangpun yang sanggup menolak apa yang dikehendaki Allah terhadap kalian. Mahatinggi lagi Mahasuci Dia, dan Dia Mahamengetahui segala apa yang kalian  rahasiakan dan sembunyikan, meskipun kalian mengada-ada dan bersifat munafik terhadap kami.

Oleh karena itu Allah berfirman: bal kaanallaa Hu bimaa ta’maluuna khabiir (“Sebenarnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu  kerjakan.”) maksudnya, ketidak ikut sertaan kalian itu sama sekali tidak beralasan dan tidak pula  berhalangan, tetapi sebagai bentuk kemunafikan.

Bal dzanantum allay yangqalibar rasuulu wal mu’minuuna ilaa aHliHim abadan (“Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-sekali tidak akan  kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya.”) maksudnya, kalian berkeyakinan bahwa mereka itu akan terbunuh, tercabut hingga akar-akarnya, dan akan binasa semuanya, serta tidak ada seorangpun dari mereka yang pulang dengan membawa berita. Wa dzanantum dzannas sau-i wa kuntum qaumam buuran (“dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum  yang binasa.”) maksudnya, hancur binasa. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan lain-lain. Sedangkan Qatadah berkata: “Yakni rusak.”

Firman Allah: wa mallam yu’mim billaHi wa rasuuliHii (“Dan barang siapa yang tidak  beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”) maksudnya barangsiapa yang tidak tulus ikhlash dalam beramal, baik secara lahir maupun batin karena Allah, maka Allah akan mengazabnya di neraka, meskipun dia telah memperlihatkan di hadapan manusia sesuatu yang bertentangan dengan apa yang terdapat di dalam hati mereka. Selanjutnya  Allah menjelaskan bahwa Dia Mahabijaksana, Maharaja, dan Mahapengatur seluruh penghuni langit dan bumi.

Yaghfiru limay yasyaa-u wa yu’adzdzibu may yasyaa-u wa kaanallaaHu ghafuurur rahiimaa (“Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) yakni bagi orang-orang yang bertaubat, kembali, dan tunduk kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: