Arsip | April, 2013

Berharap Kepada Allah (1)

30 Apr

Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits

Firman Allah: “Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (az-Zummar; 53)

Firman Allah: “Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu) melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba’: 17)

Firman Allah: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.” (Thaha: 48)

Firman Allah: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (al-A’raaf: 156)

Dari ‘Ubadah bin Shamit ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang bersaksi, bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak menyekutukannya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan utusan –Nya serta bukti kekuasaannya yang diberikan kepada Maryam dan ruh daripada-Nya; serta bersaksi bahwa Surg dan neraka itu itu adalah haq (benar-benar ada) maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal perbuatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim dikatakan: “Siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah mengharamkannya dari api neraka.”

Dari Abu Dzar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Siapa saja yang mengerjakan satu kebaikan, ia akan dibalas dengan sepuluh kali lipat atau lebih. Dan siapa saja yang mengerjakan satu kejahatan, ia akan dibalas dengan satu kejahatan atau Aku mengampuninya. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka aku mendekat kepadanya sehasta. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Siapa saja yang datang kepadaku dengan berjalan, maka aku datang kepadanya dengan berlari. Dan siapa saja yang menghadap kepadaku dengan membawa dosa seisi bumi banyaknya, sedangkan ia tidak menyekutukan Aku dengan sesuatupun, maka aku akan menerimanya dengan ampunan sebanyak isi bumi juga.” (HR Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: Seorang Badui datang kepada Nabi saw. dan bertanya: “Apakah dua hal yang sudah pasti itu?” Beliau menjawab: “Siapa saja meninggal dunia sedangkan ia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk surga. Dan siapa saja yang meninggal dunia sedangkan ia menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka.” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Ketika Nabi saw. bepergian, ditemani Mu’adz beliau memanggil: “Wahai Mu’adz.” Ia menjawab: “Ya, ada apa ya Rasulallah?” Beliau memanggil lagi: “Wahai Mu’adz.” Ia menjawab: “Ya, ada apa ya Raasulallah?” Beliau memanggil lagi: “Wahai Mu’adz.” Ia menjawab: “Ya, ada apa ya Raasulallah?” Ini adalah panggilan yang ketiga kalinya. Kemudian beliau bersabda: “Seorang hamba yang bersaksi, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dengan sebenar-benar keluar dari lubuk hati, Allah pasti mengharamkan dirinya dari api neraka.” kemudian Mu’adz bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah saya diperbolehkan memberitahukan hal ini kepada orang banyak supaya mereka gembira?” beliau bersabda: “Kalau mereka mengetahui, mungkin akan sembrono.”Tatkala Mu’adz akan meninggal ia memberitahukan hal itu karena takut berdosa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. atau Abu Sa’id al-Khudriy, ia berkata: ketika perang Tabuk, para shahabat menderita kelaparan. Maka mereka berkata: “Wahai Rasulallah, andaikan engkau mengizinkan, kami akan menyembelih binatang kami untuk dimakan, sehingga dapat menambah kekuatan kami.” Rasulullah saw. bersabda: “Laksanakanlah.” Kemudian Umar ra. datang dan berkata: “Wahai Rasulallah, andaikan engkau memberi izin mereka, maka kendaraan kita tinggal sedikit, tetapi perintahkanlah mereka yang masih mempunyai sisa-sisa bekal makanan, untuk mengumpulkannya kemudian berdoalah kepada Allah agar sisa bekal makanan itu membawa berkah bagi mereka. Dengan demikian semoga Allah memberi keberkahan terhadap sisa bekal makanan itu bagi mereka.” Rasulullah saw. bersabda: “Ya, benar.”
Kemudian beliau menghamparkan kain dan menyeru kepada orang-orang yang masih mempunyai sisa bekal makanan untuk mengumpulkan pada kain itu. Ada seseorang yang menyerahkan segenggam jagung, ada yang menyerahkan segenggam kurma dan ada juga yang menyerahkan segenggam kurma dan ada pula yang menyerahkan sepotong roti, sehingga terkumpul sisa-sisa bekal makanan yang sedikit itu.
Kemudian Rasulullah berdoa agar sisa-sisa makanan yang sedikit itu diberi berkah. Sesudah itu beliau bersabda: “Ambillah dengan membawa bejana (wadah) kalian masing-masing.” Maka mereka membawa bejana dan diisi dengan makanan dari kain yang terhampar itu sampai akhirnya semua bejana mereka penuh dan makan dengan kenyang, bahkan pada kain itu masih tersisa makanan. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan-Nya. Tidak ada seorang hamba pun yang merasa bimbang terhalang dari surga, ketika menghadap kepada Allah dengan dua kalimat ini.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tatkala Allah menciptakan makhluk, Ia menulis pada suatu kitab. Kitab itu berada di sisi-Nya di atas ‘Arsy, bertulis: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Takut Kepada Allah (2)

30 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Dari al-Miqdad ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Pada hari kiamat matahari didekatkan kepada para makhluk, sehingga jaraknya kira-kira hanya satu mil.” Sulaim bin ‘Amir yang meriwayatkan dari al-Miqdad, berkata: “Demi Allah, saya tidak mengerti yang dimaksud oleh Rasulullah dengan mil itu; apakah ukuran jarak pada perjalanan ataukah mil yang biasa dipakai untuk mencelaki mata.” Rasulullah saw. bersabda: “Manusia tenggelam dalam keringat sesuai dengan amal perbuatannya. Di antara mereka ada yang terbenam sebatas kedua mata kakinya, sebatas pusarnya, dan ada pula yang terbenam sampai pada mulutnya.” Rasulullah saw. memberikan isyarat dengan tangan ke arah mulut beliau.” (HR Muslim)

Dari abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Pada hari kiamat manusia akan berkeringat, sehingga setinggi tujuh puluh hasta, dan mereka akan tenggelam dalam lautan keringat, sehigga ada yang mencapai telinga mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Kami bersama-sama Rasulullah saw. tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Beliau bertanya: “Apakah kamu tahu, bunyi apakah ini?” kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Ini adalah suara batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun. Batu itu sekarang baru sampai ke dasar neraka, maka kalian mendengar suara gemuruhnya.” (HR Muslim)

Dari ‘Adiy bin Hatim ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang di antara kalian akan berbicara langsung dengan Tuhannya, padahal di antara dia dengan Tuhannya tidak ada juru bahasa, kemudian ia melihat ke kanan, tiada terlihat kecuali amal yang pernah diperbuatnya, ia melihat ke kiri tiada terlihat kecuali amal yang diperbuatnya, dan ia melihat ke depan tiada yang terlihat kecuali api yang tepat di depannya. Maka takutlah kalian terhadap neraka walaupun hanya bersedekah dengan separuh kurma.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Dzarr ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku takut melihat apa yang tidak kamu lihat. Langit itu berkeriut-keriut; di situ tidak ada tempat untuk bisa menyisipkan empat jari-jari melainkan ada malaikat yang meletakkan dahinya untuk bersujud kepada Allah Ta’ala. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit sekali tertawa dan pasti akan banyak menangis, dan kamu tidak akan bersuka ria dengan istrimu di perduan. Bahkan kalian akan keluar ke tempat-tempat yang ramai untuk memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Barzah Nadlah bin ‘Ubaid al-Aslamiy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kedua kaki seseorang tidak akan bergerak, sebelum ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan. Tentang ilmunya untuk apa ia pergunakan. Tentang hartanya darimana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan. Dan tentang badannya, untuk apa ia rusakkan.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. membaca ayat: yauma-idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) Kemudian beliau bertanya: “Tahukah kalian, apa yang diberitakan oleh bumi?” Para shahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya berita bumi, adalah bumi menjadi saksi terhadap terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, yang mereka perbuatan di atasnya. Bumi ini akan berkata: “Ia telah berbuat begini dan begitu pada hari ini dan hari itu.” Inilah yang diberitakan oleh bumi.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana aku bisa bersenang-senang padahal malaikat meniup sangkakala telah memasukkan ke dalam mulut dan ia hanya menunggu ijin, kapan ia diperintah untuk meniup sangkakalanya.” Berita ini terasa berat sekali oleh para shahabat, kemudian beliau bersabda: “Ucapkanlah: hasbunallaaHu wa ni’mal wakiil (Allah yang mencukupi kami dan Ia sebaik-baik yang menjamin.)”

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang takut, ia harus berangkat lebih pagi, dan siapa saja yang berangkat lebih pagi, ia pasti akan lebih cepat sampai pada tempat tujuan. Ingatlah bahwa dangangan Allah itu mahal. Ingatlah dagangan Allah itu surga.” (HR Tirmidzi)

Dari ‘Aisyah ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Manusia akan dikumpulkan nanti pada hari kiamat dalam kedadaan tidak beralas kaki dan telanjang bulat.” Saya bertanya: “Wahai Rasulallah, waktu itu laki-laki dan perempuan berkumpul, mereka dapat saling memandang kepada yang lain?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, pada saat itu urusannya sangat berat, sehingga mereka tidak sempat memperhatikan hal-hal demikian itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Urusan pada saat itu lebih penting daripada saling pandang di antara mereka.”

Takut Kepada Allah (1)

30 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk).” (Al-Baqarah: 40)

Firman Allah: “Sesungguhnya azab Tuhan-mu benar-benar keras.” (al-Buruuj: 12)

Firman Allah: “Dan Begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi) nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). dan Kami Tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih),” (Huud: 106)

Firman Allah: “Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)Nya.” (Ali Imraan: 28)

Firman Allah: “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (Abasa: 34-37)

Firman Allah: “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu Lihat manusia dalam Keadaan mabuk, Padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (al-Hajj: 1-2)

Allah berfirman: “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabb-nya ada dua surga.” (ar-Rahman: 46)

Allah berfirman: “dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata: “Sesungguhnya Kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga Kami merasa takut (akan diazab)” Maka Allah memberikan karunia kepada Kami dan memelihara Kami dari azab neraka. Sesungguhnya Kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.” (ath-Thuur: 25-28)

Dari Ibnu Mas’ud ia bercerita: Rasulullah saw. yang selalu benar dan dipercaya itu, bercerita kepada kami: bahwa tiap-tiap manusia itu terkumpul penciptaannya dalam perut ibu selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian berupa gumpalan darah selama empat puluh hari, kemudian berupa daging selama empat puluh hari, lalu diutuslah malaikat dan meniupkan roh ke dalamnya serta diperintah pula untuk mencatat empat kalimat, yaitu mencatat tentang rizky, ajal, amal perbuatan dan tentang celaka dan bahagianya. Demi Dzat yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang di antara kamu beramal dengan amalnya ahli surga, sehingga jarak dia dengan surga hanya sehasta, namun karena ia telah tercatat sebagai ahli neraka, maka tiba-tiba ia melakukan amalan amalan ahli neraka, sampai akhirnya ia masuk neraka. Dan salah seorang di antara kamu sekalian beramal dengan amalnya ahli neraka, sehingga sehingga jarak antara dia dengan neraka hanya sehasta, tetapi karena ia telah tercatat sebagai ahli surga, maka tiba-tiba dia melakukan amalah ahli surga sampai akhirnya dia masuk surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Pada hari kiamat neraka jahanam akan dibentangkan dengan tujuh puluh ribu kendali, tiap-tiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.” (HR Muslim)

Dari Nu’man bin Basyir ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seringan-ringannya siksa ahli neraka pada hari kiamat, ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorangpun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi ahli neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Samurah bin Jundub ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Di antara ahli neraka ada yang disiksa dengan api sebatas pada kedua mata kakinya, sebatas kedua lututnya, sebatas pusarnya, dan ada pula yang disiksa dengan api sebatas bahunya.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Di kala manusia berdiri, menunggu panggilan tuhan semesta alam, ada salah seorang di antara mereka yang terbenam dalam keringatnya sampai pada kedua daun telinganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. pernah berkhutbah, dan saya belum pernah mendengar khutbah yang seperti itu. Beliau bersabda: “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit sekali tertawa dan pasti akan banyak menangis.” Kemudian para sahabat Rasulullah saw. menutup wajah mereka sambil menangis terisak-isak. (HR Bukhari dan Muslim)

Menghukumi Menurut Dhahirnya

30 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Al-Qur’an dan Hadits

Allah berfirman: “Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.” (at-Taubah: 5)

Dari Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melaksanakan, maka terjagalah darah dan harta mereka, kecuali dalam kewajiban Islam. Adapun perhitungan mereka terserah pada Allah Ta’ala.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah Thariq bin Asy-yam ra. ia berkata: saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang mengucapkan ‘laa ilaaHa illallaaH [tidak ada Tuhan kecuali Allah] dan ingkar terhadap yang disembah kecuali Allah, maka haramlah diganggu harta dan darahnya. Adapun perhitungannya terserah pada Allah Ta’ala.” (HR Muslim)

Dari Ma’bad al-Miqdad bin al-Aswad ra. ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah saw.: “Bagaima pendapatmu seandainya saya bertemu dengan seorang kafir dan kami berperang, kemudian ia memotong salah satu tangan saya, kemudian ia menyembunyikan diri daripadaku dengan berlindung di balik pohon serta berkata: “Saya sekarang masuk Islam karena Allah.” Maka apakah boleh saya membunuhnya setelah ia mengucapkan perkataan itu wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Janganlah kemu membunuhnya.” Ma’bad bertanya: “Wahai Rasulallah, ia telah memotong salah satu tangan saya, kemudian mengucapkan perkataan itu.” Jawab beliau: “Janganlah kamu membunuhnya, seandainya kamu membunuhnya, maka ia menduduki kedudukanmu sebelum kamu membunuhnya, dan kamu menduduki kedudukannya sebelum ia mengucapkan perkataan yang diucapkannya itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah bin Zaid ra. ia berkata: “Rasulullah saw. mengutus kami ke Huragah di suku Juhainah. Pada suatu pagi kami menyerbu mereka. Saya dan seorang shahabat Anshar, berpapasan dengan salah seorang di antar mereka. Ketika kami telah mengepungnya, ia mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” (Tiada Tuhan selain Alla); shahabat Anshar tadi melepaskannya tetapi saya menikamnya dengan tombak sehingga terbunuh. Ketika kami sampai di Madinah, berita itu telah sampai pada Nabi saw. maka beliau memanggil saya: “Hai Usamah, kenapa kamu membunuh orang padahal ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH”?” Saya menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia hanya berusaha menyelamatkan diri.” Beliau bersabda: “Kenapa kamu membunuh orang padahal ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH”?” Beliau mengulang-ulang sabdanya itu sehingga perasaan saya ingin andaikan saya baru masuk Islam hari itu.” (HR Bukhari)

Dalam riwayat lain dikatakan: Rasulullah saw. bertanya: “Apakah ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” kemudian kamu membunuhnya?” Saya menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia mengucapkan kalimat itu hanya karena takut pada pedang.” Beliau bertanya: “Apakah sudah kamu belah dadanya, sehingga kamu mengetahui isi hatinya, apakah ia mengucapkan kalimat itu dengan tulus atau tidak?” Beliau mengulang-ulangi pertanyaan itu, sehingga perasaan saya ingin untuk baru masuk Islam pada hari itu.”

Dari Jundub bin Abdullah ra. ia berkata: Rasulullah saw. mengutus suatu pasukan muslimin untuk memerangi pasukan musyrik. Ketika kedua pasukan itu saling berhadapan, ada seorang musyrik yang mendekati seorang muslim dan membunuhnya. Kemudian ada seorang muslim yang mencari lengahnya dan membunuhnya. Dan kami yakin bahwa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Ketika Usamah mengangkat pedangnya orang musyrik itu mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” tetapi kemudian Usamah membunuhnya. Ketika juru kabar sampai di hadapan Rasulullah saw. ia menanyakan dan menceritakan tentang jalannya peperangan, sehingga ia menceritakan tentang bagaimana orang itu bertindak. Setelah itu beliau memanggil Usamah dan bertanya: “Kenapa kamu membunuhnya?” Usamah menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia sangat merugikan pasukan muslimin dan ia telah membunuh fulan dan si fulan. Ia membahayakan pasukan kita. Oleh karena itu saya bermaksud untuk menyerangnya. Tetapi ketika melihat pedang, ia mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH.” Rasulullah saw. bertanya: “Kamu terus membunuhnya?” Usamah menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” Usamah berkata: “Wahai Rasulallah, mohonkan ampun untuk diri saya.” Beliau bersabda: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” beliau tidak bersabda apa-apa selain hanya: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, ia berkata: “Saya mendengar Umar bin Khaththab ra. berkata: “Sesungguhnya manusia pada masa Rasulullah saw. itu diberi keputusan dengan petunjuk wahyu, dan sekarang wahyu itu telah terhenti. Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai dengan perbuatan yang nampak bagi kami. Maka siapa saja yang nampa berbuat baik kepada kami niscaya kami mempercayai dan mendekatinya dan kami tidak perlu mempermasalahkan urusan batin. Allah lah yang memperhitungkan masalah batinnya. Dan siapa saja yang nampak berbuat jahat kepada kami niscaya kami tidak mempercayai dan membenarkannya walaupun ia mengatakan bahwa batinnya (niat)nya baik.” (HR Bukhari)

Syarat Shahih Bukhari-Muslim

29 Apr

Ilmu Hadits; DR. Mahmud Thahan; hadits-hadits shahih

Imam Bukhari dan Muslim tidak pernah menjelaskan suatu syarat dari syarat-syaratnya, atau memaparkan tambahan dari syarat-syarat atas keshahihan haditsnya. Akan tetapi para ulama yang giat melakukan pengkajian, penelusuran dan penelaahan terhadap uslub-uslub keduanya menemukan apa yang mereka prediksi sebagai syarat-syarat keduanya, atau merupakan syarat salah satu di antara keduanya.

Pernyataan yang paling baik dalam hal ini, bahwa yang dimaksud dengan syarat Syaikhan, atau syarat salah satu di antara keduanya adalah hadits yang diriwayatkan dari jalur para perawi yang terdapat pada dua kitab tersebut atau salah satunya, selain memperhatikan tata cara yang diambil oleh Syaikhan dalam meriwayatkan hadits dari para perawi itu.

Jika para ulama hadits menyatakan terhadap suatu hadist: “muttafaqun ‘alaiHi” maka makna yang dimaksud mereka adalah kesepakatan syaikhan, artinya syaikhan (Bukhari dan Muslim) sepakat atas keshahihannya, jadi bukan kesepakatan umat. Meski Ibnu Shalah menyatakan: “Kesepakatan umat terhadap hadits itu merupakan keharusan dan telah tercapai, sebab umat telah sepakat untuk menerima apa yang disepakati keduanya.”

Tidak disyaratkan bahwa hadits shahih itu harus ‘aziz, artinya tidak harus memiliki dua (jalur) sanad. Sebab, baik di dalam Shahihain maupun selain kitab Shahihain terdapat hadits-hadits shahih yang gharib. Ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama seperti Abu Ali al-Jubbai al-Mu’tazili dan al-Hakim. Pernyataan mereka ini bertentangan dengan kesepakatan umat.

Tingkatan-tingkatan Shahih
Seperti yang telah dipaparkan bahwa para ulama telah menyebut sanad-sanad yang paling shahih menurut pendapat mereka. Dengan demikian sebagai pelengkap syarat-syarat keshahihan, perlu diutarakan bahwa hadits shahih itu juga bertingkat-tingkat.
a. Tingkatan yang paling tinggi (utama) yang diriwayatkan dengan sanad yang paling shahih, seperti Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar.
b. Kemudian hadits-hadits yang diriwayatkan melalui jalur para perawi yang tingkatannya lebih rendah dari sanad yang utama, seperti riwayat Hammad bin Salmah dari Tsabit dari Anas.
c. Selain itu ada hadits-hadits yang diriwayatkan para perawi yang lebih rendah lagi tingkatan keshahihannya, seperti riwayat Suhail bin Abi Shalih dari Bapaknya dari Abu Hurairah.
Berikut ini adalah rincian dari pembagian hadits-hadits shahih pada tujuh tingkatan:
1. Hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim (ini tingkatan yang paling tinggi)
2. Hadits yang diriwayatkan Bukhari
3. Hadist yang diriwayatkan Muslim
4. Hadist yang sesuai dengan syarat Bukhari Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkan hadits tersebut
5. Hadits yang sesuai dengan syarat Bukhari, namun beliau tidak mengeluarkan hadits tersebut
6. Hadits yang sesuai dengan syarat Muslim, namun beliau tidak mengeluarkan hadits tersebut
7. Hadits yang dishahihkan imam-imam hadits selain Bukhari dan Muslim dan tidak memenuhi syarat keduanya, seperti Ibnu Khuzamah dan Ibnu Hibban.

Lalu apa arti hadits-hadits shahih yang diterima oleh umat Islam itu? Yakni hadits-hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dengan sanad bersambung, maka hukumnya adalah shahih. Sedangkan hadits-hadist yang dihilangkan seorang rawi atau lebih pada awal sanad –yang disebut dalam hadits mu’allaq- padahal dalam kitab Bukhari yang seperti itu amat banyak, maka hal ini telah dijelaskan oleh Bukhari dalam berbagai bab dan muqaddimah kitabnya, sehingga tidak ada sesuatupun yang terpangkas. Sementara di dalam shahih Muslim tidak ada realita seperti itu, kecuali satu hadits saja yang terdapat pada bab tayamum, yang tidak ada pada topik lain. Hukumnya sebagai berikut:
a. Kalau haditsnya menggunakan sighat jazm (bentuk kalimat yang bersifat pasti) seperti pernyataan: amara (telah memerintahkan), dzakara (telah menyebutkan) maka hukumnya shahih berdasarkan penyandaran (mudlaf ilaihi)
b. Kalau haditsnya tidak menggunakan shighat jazm, seperti pernyataan: yurwa (diriwayatkan), yudzkar (disebutkan), yuhka (dikisahkan) atau ruwiya dan dzukira, maka hukumnya tidak shahih berdasarkan penyandaran (mudlaf ilihi). Karena itu tidak ada hadist lemah yang dimasukkan ke dalam kitab yang bernama shahih.

Hadits Arbain ke 2 (dua): Islam, Iman dan Ihsan

29 Apr

Imam Nawawi;
DR Musthafa Dieb al-Bugha Muhyidin Mistu

Hadits Arbain nomor 2  (Kedua)

Umar bin al-Kaththab ra berkata: Suatu hari kami duduk dekat Rasulullah saw., tiba-tiba muncul seorang laki-laki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya hitam legam. Tak terlihat tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tak seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Ia duduk di depan Nabi, lututnya ditempelkan di lutut beliau, dan kedua tangannya diletakkan di paha beliau, lalu berkata: “Hai Muhammad. Beritahu aku tentang Islam.” Rasulullah saw. menjawab: “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadlan dan menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau mampu.” Laki-laki itu berkata: “Benar.” Kami heran kepadanya; bertanya tetapi setelah itu membenarkan jawaban Nabi?!
Ia bertanya lagi: “Beritahu aku tentang iman.” Nabi menjawab: “Iman itu engkau beriman kepada Allah , malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir dan takdir, yang baik atau yang buruk.” Ia berkata: “Benar.” Dia bertanya lagi: “Beritahu aku tentang Ihsan.” Nabi menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Laki-laki itu berkata lagi: “Beritahu aku kapan terjadinya kiamat.” Nabi menjawab: “Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi: “Beritahu aku tanda-tandanya.” Nabi menjawab: “Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya, orang yang bertelanjang kaki dan tidak memakai baju (orang miskin), dan penggembala kambing saling berlomba mendirikan bangunan megah.” Kemudian laki-laki itu pergi. Aku diam beberapa waktu. Setelah itu Nabi bertanya kepadaku: “Hai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya tadi? Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Dia itu Jibril, datang untuk mengajarkan Islam kepada kalian.” (HR Muslim)

Urgensi Hadits;
Ibnu Daqiq al-‘Id berkata; “Hadits ini sangat penting, meliputi semua amal perbuatan, yang dhahir dan yang batin, bahkan semua ilmu syariat mengacu kepadanya, karena semua hal yang ada dalam semua hadits, bahkan seakan menjadi Ummus Sunnah (induk bagi hadits), sebagaimana surah al-Fatihah disebut Ummul Qur’an karena ia mencakup seluruh nilai-niali yang ada dalam al-Qur’an.
Hadits ini mutawathir karena diriwayatkan dari 8 shahabat: Abu Hurairah ra., Umar ra., Abu Dzar ra., Anas ra., Ibnu ‘Abbas ra., Ibnu Umar ra., Abu ‘Amir, al-Asy’ari dan Jarir al-Bajali ra.

Fiqhul Hadits (Kandungan Hadits)
1. Memperbaiki pakaian dan penampilan
Ketika hendak masuk masjid dan hendak menghadiri majelis ilmu, disunnahkan memakai pakaian yang rapi, bersih dan memakai minyak wangi. Bersikap baik dan sopan di majelis ilmu dan di hadapan para ulama adalah perilaku yang sangat baik, karena Jibril saja datang kepada Nabi Muhammad saw. dengan penampilan dan sikap yang baik.
2. Definisi Islam
Secara etimologi, Islam berarti tunduk dan menyerah sepenuhnya pada Allah swt. secara terminologi adalah agama yang dilandasi oleh lima dasar yaitu: 1) syahadatain. 2) menunaikan shalat wajib pada waktunya dengan memenuhi syarat, rukun dan memperhatikan adab dan hal-hal yang sunnah. 3) mengeluarkan zakat. 4) puasa di bulan Ramadlan. 5) Haji sekali seumur hidup bagi yang mampu, mempunyai biaya untuk pergi ke tanah suci dan mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.
3. Secara etimologi, iman berarti pengakuan atau pembenaran. Secara terminologi, berarti pembenaran dan pengakuan yang mendalam akan:
a. Adanya Allah swt. Pencipta alam semesta yang tidak mempunyai sekutu apapun.
b. Adanya makhluk Allah swt. yang bernama malaikata. Mereka adalah hamba Allah yang mulia, tidak pernah melakukan maksiat dan selalu menurut perintah-Nya. Mereka diciptakan dari cahaya, tidak makan, tidak berjenis kelamin, tidak mempunyai keturunan dan tidak ada yang tahu jumlahnya kecuali Allah swt.
c. Adanya kitab-kitab samawi yang diturunkan Allah swt. dan meyakini bahwa kitab-kitab tersebut (sebelum diubah dan diselewengkan manusia) merupakan syariat Allah.
d. Adanya rasul-rasul yang telah diutus Allah, yang dibekali dengan kitab samawi sebagai perantara untuk memberikan hidayah kepada umat manusia. Meyakini bahwa mereka adalah manusia biasa yang diistimewakan dan ma’shum (terjaga dari segala dosa).
e. Adanya hari akhir, pada hari itu Allah membangkitkan manusia dari kuburnya, lalu diperhitungkan seluruh amal perbuatannya. Amal perbuatan yang baik akan dibalas dengan kebaikan dan amal perbuatan buruk akan dibalas dengan keburukan.
f. Adanya qadla dan qadar. Artinya apapun yang terjadi pada alam semesta ini merupakan ketentuan dan kehendak Allah semata, untuk satu tujuan yang hanya diketahui-Nya.
Inilah rukun-rukun Iman. Siapapun yang meyakini, maka ia akan selamat dan beruntung dan barangsiapa yang menentangnya maka ia tersesat dan merugi. Allah swt. berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (an-Nisaa’: 36)
4. Islam dan Iman;
Melalui penjelasan di atas kita pahami bahwa Iman dan Islam adalah dua hal yang berbeda, secara etimologi maupun secara terminologi. Pada dasarnya, jika berbeda nama tentu berbeda makna. Meskipun demikian, tidak jarang dipergunakan dengan arti yang sama, Islam berarti Iman dan sebaliknya. Keduanya saling melengkapi. Iman menjadi sia-sia tanpa Islam, demikian juga sebaliknya.
5. Definisi Ihsan;
Ihsan adalah ikhlash dan pernuh perhatian. Artinya sepenuhnya ikhlas untuk beribadah hanya kepada Allah dengan penuh perhatian sehingga seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika tidak mampu maka ingatlah bahwa Allah senantiasa melihatmu dan mengetahui apapun yang ada pada dirimu.
6. Hari kiamat dan tanda-tandanya;
Tibanya hari kiamat adalah rahasia Allah. Tidak ada satupun makhluk yang mengetahuinya, baik malaikat maupun rasul. Karenanya, Nabi saw. bersabda kepada Jibril: “Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.” Meskipun demikian, Nabi Muhammad saw. menjelaskan sebagian tanda-tandanya, antara lain:
a. Krisis moral, sehingga banyak anak yang durhaka kepada orang tuanya, mereka memperlakukan orang tuanya seperti perlakuan terhadap budaknya.
b. Kehidupan yang jungkir balik. Banyak orang bodoh menjadi pemimpin, pemberian wewenang kepada orang yang tidak mempunyai kemampuan, harta melimpah, manusia banyak yang berlaku sombong dan foya-foya, bahkan mereka berlomba dan saling meninggikan bangunan dengan penuh kebanggaan. Mereka berlaku congkak pada orang lain, bahkan mereka seakan ingin menguasainya.
7. Etika bertanya.
Seorang muslim akan menanyakan sesuatu yang akan membawa manfaat bagi dunia dan akhiratnya. Ia tidak akan menanyakan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat. Bagi orang yang menghadiri sebuah majelis ilmu tahu ia melihat bahwa audiens (orang-orang yang hadir disitu) ingin mengetahui satu hal. Ternyata masalah tersebut belum ada yang menanyakan, maka sepatutnya ia menanyakan meskipun ia sudah mengetahuinya agar orang-orang yang hadir bisa mengambil manfaat dari jawaban yang diberikan.
Orang yang ditanya tentang suatu hal, dan ia tidak mengetahui jawabannya, hendaknya ia mengakui ketidaktahuannya agar tidak terjerumus pada hal-hal yang ia tidak mengetahuinya.
8. Metode tanya jawab.
Pendidikan modern pun mengakui bahwa metode tanya jawab adalah metode pendidikan yang relatif berhasil, karena memberikan tambahan semangat pada diri pendengar untuk mengetahui jawaban yang akan diberikan. Metode ini sering dipergunakan Rasulullah saw. dalam mendidik generasi Shahabat.

Manfaat dan Cara Mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah

29 Apr

‘Ulumul Qur’an; Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an; Mannaa’ Khalil al-Qattaan

1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan al-Qur’an. Sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar. Sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafaz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh atas yang terdahulu.
2. Meresapi gaya bahasa al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi, merupakan arti paling khusus dalam ilmu retorika. Karakteristik gaya bahasa Makkiyyah dan Madaniyyah dalam al-Qur’an pun memberikan kepada orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kejiwaan lawan berbicara dan menguasai fikiran dan perasaannya serta mengatasi apa yang ada di dalam dirinya dengan penuh kebijaksanaan. Setiap tahapan dakwah mempunyai topik dan pola penyampaian tersendiri. Pola penyampaian itu berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan tata cara, keyakinan dan kondisi lingkungan. Hal yang demikian nampak jelas dalam berbagai cara al-Qur’an menyeru berbagai golongan: orang yang beriman, yang musyrik, yang munafik dan ahli kitab.
3. Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah saw. sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik pada periode Makkah maupun periode Madinah, sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan. Al-Qur’an adala sumber pokok bagi peri kehidupan Rasulullah. Perjalanan hidup beliau yang diriwayatkan ahli sejarah harus sesuai dengan al-Qur’an; dan al-Qur’an pun memberikan kata putus terhadap perbedaan riwayat yang mereka riwayatkan.

Untuk mengetahui dan menentukan Makkiyyah dan Madaniyyah para ulama bersandar pada dua cara utama: simaa’i naqli (pendengaran seperti apa adanya) dan qiyaasi ijtihaadi (kias hasil ijtihad). Cara pertama didasarkan pada riwayat shahih dari para shahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu; atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para shahabat; bagaimana dan dimana serta peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu. Sebagian besar penentuan Makkiyyah dan Madaniyyah itu didasarkan pada cara pertama ini. Namun demikian, tentang hal ini tidak diperoleh sedikitpun keterangan dari Rasulullah saw. karena ia tidak termasuk suatu kewajiban, kecuali dalam batas yang dapat membedakan mana yang nasikh dan mana yang mansukh. Qadi Abu Bakar Ibnu Tayyib al-Baqalani dalam al-Intisaar menegaskan: “Pengetahuan tentang Makkiyyah dan Madaniyyah itu mengacu pada hafalan para shahabat dan tabi’in. Tidak ada suatu keterangan pun yang datang dari Rasulullah saw. mengenai hal ini, sebab ia tidak diperintahkan untuk itu, dan Allah tidak menjadikan ilmu pengetahuan mengenai hal itu sebagai kewajiban umat. Bahkan sekalipun sebagai pengetahuannya dan pengetahuan mengenai sejarah nasikh dan mansukh itu wajib bagi ahli ilmu, tetapi pengetahuan tersebut tidak harus diperoleh melalui nas dari Rasulullah saw.

Cara kedua adalah cara qiyaasi ijtiHaadi didasarkan pada ciri-ciri makkiyyah dan Madaniyyah. Apabila dalam surah makkiyyah terdapat suatu ayat yang mengandung sifat madaniyyah atau mengandung peristiwa madaniyyah, maka dikatakan bahwa ayat itu madaniyyah. Dan apabila dalam surah Madaniyyah terdapat ayat yang mengandung sifat makkiyyah atau mengandung peristiwa makkiyyah, maka ayat tadi dikatakan sebagai ayat makkiyyah. Demikian pula apabila dalam satu surah terdapat ciri-ciri Madaniyyah, maka surah itu dinamakan surah madaniyyah. Inilah yang disebut qiyaasi ijtiHaadi. Oleh karena itu para ahli mengatakan: “Setiap surah yang di dalamnya mengandung kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, maka surah itu adalah makkiyyah. Dan setiap surah yang mengandung kewajiban atau ketentuan, surah itu adalah madaniyyah. Dan begitu seterusnya.” Ja’bari mengatakan: “Untuk mengetahui Makkiyyah dan madaniyyah ada dua cara, yaitu sima’i (pendengaran) dan qiyyasi (kias).” Sudah tentu sima’i pegangannya adalah berita pendengaran, sedang qiyasi berpegang pada penalaran. Baik berita pendengaran maupun penalaran, keduanya merupakan metode pengetahuan yang valid dan metode penelitian ilmiah.

Perbedaan Makkiyyah dan Madaniyyah

29 Apr

‘Ulumul Qur’an; Ilmu-ilmu Al-Qur’an; Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Ketentuan Makkiyyah dan Ciri Khas Temanya

1. Setiap surah yang di dalamnya mengandung “sajdah”
2. Mengadung lafal “kallaa”. Lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari al-Qur’an. Dan disebutkan sebanyak tiga puluh tiga kali dalam lima belas surah.
3. Mengandung kalimat “yaa ayyuHan naas” dan tidak mengandung kalimat “yaa ayyuHalladziina aamanuu.” Kecuali surah al-Hajj yang pada akhir surah terdapat “yaa ayyuHalladziina aamanur ka-‘uu wasjuduu.” Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah Makkiyyah.
4. Setiap surah yang mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu, kecuali surah al-Baqarah.
5. Setiap surah yang mengandung kisah Adam dan Iblis adalah Makki, kecuali surah al-Baqarah.
6. Setiap surah yang dibuka dengan huruf-huruf singkatan, seperti alif laam miim dan lain-lain, kecuali surah al-Baqarah dan Ali ‘Imraan. Sedang surah ar-Ra’du masih diperselisihkan.

Ciri Tema dan Gaya Bahasa Makkiyyah:

1. Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaannya, surga dan nikmatnya, argumen terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniah.
2. Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat; dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara dhalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
3. Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka; dan sebagai hiburan buat Rasulullah saw. sehingga beliau tabah dalam menghadapi gangguan mereka dan yakin akan menang.
4. Suku katanya pendek-pendek disertai kata-kata yang mengesankan sekali, pernyataannya singkat, di telinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah; seperti surah-surah yang pendek-pendek. Dan perkecualiannya hanya sedikit.

Ketentuan Madaniyyah:

1. Setiap surah yang berisi kewajiban atau had (sanksi)
2. Setiap surah yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik kecuali surah al-Ankabuut.
3. Setiap surah yang di dalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab

Ciri khas dan gaya bahasa Madaniyyah:

1. Menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan.
2. Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki di antara sesama mereka.
3. Menyingkap perilaku orang munafik, menganalisa kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
4. Suku kata dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.

Makkiyyah dan Madaniyyah

29 Apr

‘Ulumul Qur’an; Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an; Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Semua bangsa berusaha keras untuk melestarikan warisan pemikiran dan sendi-sendi kebudayaannya. Demikian juga umat Islam amat memperhatikan kelestarian risalah Muhammad yang memuliakan semua umat manusia. Itu disebabkan risalah Muhammad bukan sekedar risalah ilmu dan pembaruan yang hanya memperhatikan sepanjang diterima akal dan mendapat respons manusia; tetapi, di atas itu semua, ia agama yang melekat pada akal dan terpateri dalam hati. Oleh sebab itu kita dapati para pengemban petunjuk yang terdiri atas para shahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya meneliti dengan cermat turunnya al-Qur’an ayat demi ayat, baik dalam hal waktu ataupun tempatnya. Penelitian ini merupakan pilar kuat dalam sejarah perundang-undangan yang menjadi landasan bagi para peneliti untuk mengetahui metode dakwah, macam-macam seruan, dan pentahapan dalam penetapan hukum dan perintah. Mengenai hal ini antara lain seperti dikatakan oleh Ibnu Mas’ud ra:

“Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, setiap surah al-Qur’an kuketahui dimana surah itu diturunkan; dan tiada satu ayatpun dari kitab Allah kecuali pasti kuketahui mengenai apa ayat itu diturunkan. Sekiranya aku tahu ada seseorang yang lebih tahu daripadaku mengenai kitab Allah, dan dapat kujangkau orang itu dengan untaku, pasti aku pacu untaku kepadanya.”

Dakwah menuju jalan Allah itu memerlukan metode tertentu dalam menghadapi segala kerusakan akidah, perundang-undangan dan perilaku. Beban dakwah itu baru diwajibkan setelah benih subur tersedia baginya dan fondasi kuat telah dipersiapkan untuk membawanya. Dan asas-asas perundangan dan aturan sosialnya juga baru digariskan setelah hati manusia dibersihkan dan tujuannya ditentukan, sehingga kehidupan yang teratur dapat terbentuk atas dasar bimbingan dari Allah.

Orang yang membaca al-Qur’anul Karim akan melihat bahwa ayat-ayat Makkiyyah mengandung karakteristik yang tidak ada dalam ayat-ayat Madaniyyah, baik dalam irama maupun maknanya; sekalipun yang kedua ini didasarkan pada yang pertama dalam hokum-hukum dan perundang-undangannya.
Pada zaman jahiliyah masyarakat sedang dalam keadaan buta dan tuli, menyembah berhala, mempersekutukan Allah, mengingkari wahyu, mendustakan hari akhir dan mereka mengatakan: a idzaa mitnaa wa kunnaa turaaban wa ‘idhaaman a innaa lamab’uutsuun (“Apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, benarkah kami akan dibangkitkan kembali?”) (ash-Shaaffaat: 16)
“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan yang akan membinasakan kita hanyalah waktu.” (al-Jaatsiyah: 24)

Mereka ahli bertengkar yang sengit sekali, tukang berdebat dengan kata-kata pedas dan retorika yang luar biasa. Sehingga wahyu makkiyyah (yang diturunkan di Makkah) juga berupa goncangan-goncangan yang mencekam, menyala-nyala seperti api yang member tanda bahaya disertai argumentasi sangat tegas dan kuat. Semua itu dapat menghancurkan keyakinan mereka pada berhala, kemudian mengajak mereka kepada agama tauhid. Dengan demikian tabir kebobrokan mereka berhasil dirobek-robek, begitu juga segala impian mereka dapat dilenyapkan dengan memberikan contoh-contoh kehidupan akhirat; surga dan neraka yang terdapat di dalamnya. Mereka yang begitu fasih berbahasa dengan kebiasaan retorika tinggi, ditantang agar membuat seperti apa yang ada dalam al-Qur’an, dengan mengemukakan kisah-kisah para pendusta terdahulu sebagai pelajaran dan peringatan.

Demikianlah akan kita lihat al-Qur’an surah Makkiyyah itu penuh dengan ungkapan-ungkapan yang kedengarannya amat keras di telinga, huruf-hurufnya seolah melontarkan api ancaman dan siksaan, masing-masing sebagai penahan dan pencegah, sebagai suara pembawa malapetaka, seperti dalam surah al-Qaari’ah, al-Ghaasyiyah dan al-Waaqi’ah, dengan huruf-huruf hijaiyyah pada permulaan surah. Dan ayat-ayat berisi tantangan di dalamnya, nasib umat-umat terdahulu, bukti-bukti alamiah dan yang dapat diterima akal. Semua itu ciri-ciri al-Qur’an surah Makkiyyah.

Setelah terbentuk jamaah yang beriman kepada Allah, malaikat, kitab dan Rasul-Nya, kepada hari akhir dan qadar, baik dan buruknya, serta aqidahnya telah diuji dengan berbagai cobaan dari orang musyrik dan ternyata dapat bertahan, dan dengan agamanya itu mereka berhijrah karena lebih mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada kesenangan hidup duniawi –maka di saat itu kita melihat ayat-ayat Madaniyyah yang panjang-panjang membicarakan hukum-kukum Islam serta ketentuan-ketentuannya, mengajak berjihad dan berkurban di jalan Allah kemudian menjelaskan dasar-dasar perundang-undangan, meletakkan kaidah-kaidah kemasyarakatan, menentukan hubungan pribadi, hubungan internasional dan antar bangsa. Juga menyingkapkan aib dan isi hati orang-orang munafik, berdialog dengan ahli kitab dan membungkam mulut mereka. Inilah ciri-ciri umum al-Qur’an yang Madaniyyah.

Haid, Istihadhah, dan Nifas (2)

29 Apr

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Shalat dan Membaca al-Qur’an bagi Perempuan Haid
Perempuan haid adalah seperti orang junub dalam kaitannya dengan shalat. Demikian menurut kesepakatan para imam madzab. Adapun berkaitan dengan membaca al-Qur’an, Syafi’i, Hanafi dan Hambali berpendapat bahwa hukumnya sama dengan orang junub. Sementara itu dari Maliki ada dua riwayat: pertama, boleh membaca ayat asalkan sedikit. Kedua, yang dinukil dari kebanyakan shahabatnya: boleh membaca ayat sebanyak yang dikehendaki. Demikian juga pendapat Dawud.

Apakah Perempuan Hamil Mengalami Haid
Para imam madzab berbeda pendapat tentang perempuan hamil, apakah ia mengalami haid. Hanafi dan Hambali: tidak mengalami haid. Maliki: mengalami haid. Syafi’i: ada dua pendapat; tetapi yang paling shahih: ia mengalami haid.

Menentukan Masa Haid;
Empat imam Madzab berbeda pendapat mengenai perempuan yang baru selesai haid, yang darahnya melebihi masa haid maksimal. Hanafi: ia berhenti pada ukuran maksimal haid, yaitu sepuluh hari. Maliki memiliki dua riwayat, yang termasyhur adalah riwayat dari Ibnu Qasim dan lainnya: ia berhenti pada masa haid maksimal, yaitu lima belas hari. Sesudah itu, darah tersebut dipandang sebagai darah penyakit istihadhah.
Syafi’i bependapat: apabila ia bisa membedakan darah haid dengan darah penyakit, hendaknya ia berpegang pada hal tersebut. Sementara itu jika ia tidak dapa membedakannya, dalam hal ini terdapat dua pendapat. Salah satunya: dikembalikan pada kebiasaan perempuan pada umumnya, yaitu enam atau tujuh hari.
Hambali juga memiliki dua pendapat. Pendapat termasyhur dan yang dipilih oleh al-Khurqi: ia berhenti pada kebiasaan perempuan pada umumnya.
Adapun perempuan yang dapat membedakan antara darah haid dan darah istihadhah melalui bau, kebekuan, dan warnanya. Darah haid lebih hitam pekat, sedangkan darah istihadhah adalah lembut, merah dan tidak berbau. Hal itu dapat dijadikan patokan untuk mengetahui kedatangan atau terhentinya darah haid. Demikian menurut Maliki dan Syafi’i. Oleh karena itu, shalat harus ditinggalkan ketika datang haid. Apabila darah haid terhenti, hendaknya ia mandi dan halal disetubuhi. Sementara itu, Hanafi berpendapat: sesuatu yang dapat dijadikan pegangan adalah bilangan hari.

Menentukan Awal Masa Istihadhah;
Hanafi: jika ia mempunyai kebiasaan (masa haid yang teratur) hendaknya ia merujuk pada kebiasaan tersebut. Jika tidak mempunyai kebiasaan, ia tidak boleh berpegang pada perbedaan darah, melainkan ia harus berpedoman pada masa haid minimal.
Maliki: ia tidak boleh berpegang pada kebiasaan, tetapi berpegang pada perbedaan darah. Oleh karena itu jika ia dapat membedakannya, ia berpegang pada perbedaan tersebut. Jika tidak bisa, ia dianggap tidak haid sama sekali dan tetap mengerjakan shalat. Hal ini dalam bulan kedua dan ketiga. Adapun pada bulan pertama, ada dua riwayat. Salah satunya yang termasyhur adalah berepedoman pada masa haid maksimal.
Menurut Syafi’i: jika ia mempunyai kebiasaan dan dapat membedakan darah haid dari darah penyakit (istihadhah), maka didahulukan pembedaan tersebut. Jika ia tidak dapat membedakannya maka ia berpedoman pada kebiasaan. Jika keduanya tidak dapat dilakukan jadilah ia seperti perempuan yang baru mengalami haid dan berpegang pada ketentuan tersebut.
Hambali: jika ia mempunyai kebiasaan dan dapat membedakannya, maka ia berpedoman pada perbedaan tersebut. Namun jika keduanya tidak dapat dilakukan, dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama, berpedoman pada masa haid minimal. Kedua, berpedoman pada kebiasaan perempuan pada umumnya, yaitu enam atau tujuh hari.

Senggama dengan Perempuan Istihadhah;
Hanafi, Syafi’i, dan Maliki: bersenggama dengan perempuan ber-istihadhah hukumnya adalah boleh, sebagaimana bolehnya mengerjakan shalat dan berpuasa. Hambali: tidak boleh bersenggama pada kemaluannya, kecuali jika dikhawatirkan suaminya akan jatuh pada perzinaan. Jika demikian, senggama diperbolehkan. Demikian menurut salah satu pendapatnya yang shahih.

Nifas;
Empat imam madzab sepakat bahwa haram bagi perempuan nifas (keluar darah setelah melahirkan) segala hal yang diharamkan dalam haid. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tentang lamanya masa nifas.
Hanafi dan Hambali berpendapat bahwa lama masa nifas adalah empat puluh hari. Demikian juga salah satu pendapat Maliki. Maliki (dalam pendapat yang lain) dan Syafi’i berpendapat: Lama masa nifas adalah enam puluh hari.
Al-Layts bin Sa’ad berpendapat: lama masa nifas adalah tujuh puluh hari. Tiga imam madzab berpendapat bahwa apabila darah nifas terhenti sebelum masa maksimalnya, maka suami boleh menyetubuhinya. Sementara itu Hambali berpendapat: suami tidak boleh menyetubuhinya, kecuali lewat masa empat puluh hari.
Sekian.