Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fajr (1)

2 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fajr (Fajar)
Surah Makkiyyah; Surah ke 89: 30 ayat

 

An-Nasa-I  meriwayatkan dari Jabir, dia berkata, Mu’adz pernah mengerjakan shalat, lalu ada orang yang datang mengerjakan shalat bersamanya, maka Mu’adz memanjangkan shalat. Maka dia mengerjakan shalat sendiri di satu sudut masjid.  Kemudian dia kembali lagi dan sampailah berita itu kepada Mu’adz, maka Mu’adz berkata: “Dia adalah orang munafik.” Selanjutnya hal itu disampaikan kepada Rasulullah saw. maka anak muda itu bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, aku datang untuk mengerjakan shalat, lalu dia memanjangkan shalatnya sehingga aku mundur  dan mengerjakan sendiri di salah satu sudut masjid, sedang aku telah menambatkan untaku.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Apakah engkau ingin membuat fitnah, wahai Mu’adz? Mengapa engkau tidak membaca Sabbihisma rabbikal a’laa atau wasy syamsi wa dluhaaHaa atau wal fajr atau wal laili idzaa yaghsyaa ?”

tulisan arab alquran surat al fajr ayat 1-14“bismillaaHir rahmaanir rahiim. 1. demi fajar, 2. dan malam yang sepuluh[1572], 3. dan yang genap dan yang ganjil, 4. dan malam bila berlalu. 5. pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal. 6. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? 7. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai Bangunan-bangunan yang tinggi[1573], 8. yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, 9. dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah[1574], 10. dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), 11. yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, 12. lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, 13. karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, 14. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”  (al-Fajr: 1-14)

[1572] Malam yang sepuluh itu ialah malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. dan ada pula yang mengatakan sepuluh yang pertama dari bulan Muharram Termasuk di dalamnya hari Asyura. ada pula yang mengatakan bahwa malam sepuluh itu ialah sepuluh malam pertama bulan Zulhijjah.

[1573] Iram ialah ibukota kaum ‘Aad.

[1574] Lembah ini terletak di bagian utara Jazirah Arab antara kota Madinah dan Syam. mereka memotong-motong batu gunung untuk membangun gedung-gedung tempat tinggal mereka dan ada pula yang melubangi gunung-gunung untuk tempat tinggal mereka dan tempat berlindung.

Adapun kata al-fajr telah diketahui maknanya, yaitu waktu shubuh. Demikian yang dikemukakan oleh ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, dari Masruq, dan Muhammad bin Ka’ab. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah waktu fajar pada hari raya kurban, khusunya, yang merupakan penutup malam yang ke sepuluh. Dan yang dimaksud dengan “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid, dan lain-lain dari kalangan kaum Salaf dan Khalaf.  Dan dalam kitab Shahih al-Bukhari telah disebutkan riwayat Ibnu ‘Abbas secara marfu’: “Tidak ada hari-hari beramal shalih yang lebih disukai Allah daripada hari-hari ini.”

Yakni, sepuluh hari di bulan Dzulhijjah. Para shahabat bertanya: “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian dia tidak kembali lagi darinya.”

Imam Ahmad juga juga meriwayatkan dari Jabir, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Sesungguhnya sepuluh hari itu adalah sepuluh hari ‘Idul Adh-ha. Yang ganjil adalah hari ‘Arafah dan yang genap adalah hari Nahar (kesepuluh).”

Diriwayatkan oleh an-Nasa-i juga diriwayatan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari hadits Zaid bin al-Hibab. Dan perawi-perawinya adalah laa ba’-sa biHim (bisa diterima). Dan menurut saya, matan (teks haditsnya) bukan dari Rasulullah saw. wallaaHu a’lam.

Firman Allah: wasy syaf’i wal watri (“Dan yang gelap dan yang ganjil”).  Mengenai hal ini telah dikemukakan sebuah hadits yang menjelaskan bahwa yang ganjil adalah hari Nahar yang jatuh pada hari kesepuluh. Dan dalam kitab ash-Shahihain disebutkan hadits dari riwayat Abu Hurairah, dari Rasulullah saw: “Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitungnya, maka dia akan masuk surga. Dan Dia  itu ganjil dan menyukai yang ganjil.”

Al-Hasan al-Bashri dan Zaid bin Aslam mengatakan: “Makhluk ini secara keseluruhan adalah genap dan ganjil, dimana Allah telah bersumpah dengan ciptaan-Nya.” Dan mengenai firmannya: wasy syaf’i wal watri (“Dan yang gelap dan yang ganjil”) al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia mengatakan: “Allah itu ganjil dan esa sedangkan kalian itu genap.”

Firman Allah: wal laili idzaa yasri (“Dan malam bila berlalu”). Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia mengatakan: “Yakni jika telah pergi.” Dan mungkin juga yang dimaksud adalah jika berjalan, yakni berangkat. Dan ada yang mengatakan bahwa ini adalah lebih tepat, karena ia dalam posisi berseberangan dengan firman-Nya: wal fajri (“Demi fajar”). Karena waktu fajar adalah beranjaknya waktu siang dan berakhirnya waktu malam.

Jika firman Allah: wal laili idzaa yasri (“Dan malam bila berlalu.”) diartikan beranjaknya waktu malam, maka hal itu terbagi menjadi: beranjakknya waktu malam dan berakhirnya waktu siang, dan juga sebaliknya, sama seperti firman Allah Ta’ala: wal laili idzaa ‘as ‘as. Wash shub-hi idzaa tanaffas (“Demi malam apabila telah hamper meninggalkan gelapnya. Dan demi shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing.”) (at-Takwiir: 17-18). Demikian pula yang disampaikan adl-Dlahhak.

Firman-Nya: half ii dzaalika qasamul lidzii hijr (“Pada yang demikian itu terdapat sumpah [yang dapat diterima] oleh orang-orang yang berakal.”) yaitu orang-orang yang mempunyai akal dan berisi. Akal tersebut juga dengan sebutan al-hijr karena ia dapat mencegah manusia melakukan hal-hal yang tidak pantas untuk dilakukan, baik itu dalam bentuk perbuatan maupun ucapan. Sumpah ini berkaitan dengan waktu-waktu ibadah dan ibadah itu sendiri, yang terdiri dari haji, shalat, dan berbagai macam ibadah lainnya  dari sarana yang bisa dipergunakan oleh hamba-hamba yang bertakwa lagi taat untuk mendekatkan diri kepada Allah, takut lagi tawadlu serta khusyu’ di hadapan wajah-Nya yang mulia untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: