Arsip | 12.33

Tafsir Surah Al-Qur’an Surah Muhammad (9)

9 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Muhammad (Nabi Muhammad)
Surah Madaniyyah; Surah ke 47: 38 ayat

Kemudian diriwayatkan melalui jalan ‘Abdullah bin al-Mubarak dari Ibnu Mas’ud ia bercerita: “Kami sekumpulan para shahabat Rasulullah saw. berpendapat bahwa tidak ada sedikitpun dari kebaikan melainkan akan diterima, sehingga turunlah ayat: athii-‘ullaaHa wa athi-‘ur rasuula wa laa tubthiluu a’maalakum (“Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusakkan [pahala] amal-amalmu.”). Kemudian kami bertanya: ‘Apakah gerangan yang dapat menghapuskan amal perbuatan kami?’ Maka kami katakan: ‘Dosa-dosa besar yang wajib ditinggalkan dan perbuatan-perbuatan keji.’ Sehingga turunlah ayat: innallaaHa laa yaghfiru ayyusyraka biHii wa yaghfiru maa duuna dzaalika limay yasyaa-u (“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni segala macam dosa selain dari itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”)(an-Nisaa’: 48).

Ketika ayat itu turun, maka kami berhenti [diam] dari membicarakan masalah tersebut. Kami khawatir terhadap orang yang mengerjakan dosa-dosa besar dan perbuatan keji, dan kami mengharapkan [ampunan] bagi orang yang tidak melakukannya.”

Kemudian, Allah menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa taat kepada-Nya dan juga Rasul-Nya yang mana hal itu merupakan bentuk kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat. Dia melarang mereka untuk murtad yang mana hal itu akan menjadi penghapus semua amal perbuatan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: walaa tubthiluu a’maalakum (“Dan janganlah kamu merusakkan [pahala] amal-amalmu.”) yakni dengan kemurtadan. Oleh karena itu Dia berfirman: innalladziina kafaruu wa shadduu ‘ang sabiilillaaHi tsumma maatuu waHum kuffaarung falay yaghfirallaaHu laHum (“Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi [manusia] dari jalan Allah, kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-sekali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka.”) yang demikian itu sama halnya dengan firman Allah dalam surat yang lain: innallaaHa laa yaghfiru ayyusyraka biHii wa yaghfiru maa duuna dzaalika limay yasyaa-u (“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni segala macam dosa selain dari itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”)(an-Nisaa’: 48).

Kemudian Allah berfirman kepada hamba-hamba-Nya yang beriman: falaa taHinuu (“Janganlah kamu lemah”) maksudnya lemah menghadapi musuh. Wa tad’uu ilas salmi (“Dan meminta damai”) maksudnya perdamaian dan rekonsiliasi serta gencatan senjata antara kalian dengan orang-orang kafir pada saat kalian berada dalam puncak kekuatan dan jumlah kalian yang melimpah. Oleh karena itu Dia berfirman: falaa taHinuu wa tad’uu ilas salmi wa antumul a’launa (“Janganlah kamu lemah dan meminta damai, padahal kamulah yang di atas.”) yakni pada saat kalian berada di atas musuh-musuh kalian. Adapun jika pada kaum kafir memiliki kekuatan dan jumlah yang banyak dibandingkan dengan seluruh kaum muslimin, dan sang imam [pemimpin] pun melihat perlunya di adakan perdamaian dan perjanjian, maka ia boleh melakukan hal tersebut. Yang demikian itu sama seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw. ketika beliau dihalang-halangi oleh orang-orang kafir Quraisy untuk masuk ke kota Makkah. Lalu mereka mengajak beliau mengadakan perjanjian perdamaian dan melakukan gencatan senjata antara mereka dengan beliau selam sepuluh tahun. Maka Rasulullah saw. pun memenuhi tawaran tersebut.

Firman Allah: wallaaHu ma-‘akum (“Dan Allah pun bersamamu.”) di dalamnya terdapat berita gembira yang cukup besar, yaitu berita tentang kemenangan dan keberuntungan atas musuh-musuh. Walay yatirakum a’maalakum (“Dan Dia sekali-sekali tidak akan mengurangi [pahala] amal-amal kalian.”) maksudnya Dia tidak akan pernah menghapus dan menghilangkan sedikitpun dari amal perbuatan kalian, tetapi Dia justru akan membalas kamu dengan pahalanya, tanpa dikurangi sedikitpun darinya. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat Muhammad ayat 36-38“36. Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala keppadamu dan Dia tidak akan memint harta-hartamu. 37. jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan Menampakkan kedengkianmu. 38. Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir Sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (Muhammad: 36-38)

Allah berfirman sebagai bentuk penghinaan terhadap urusan dunia dan meremehkan terhadapnya: innamal hayaataddun-yaa la-‘ibuw wa laHwuw (“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau”) maksudnya demikianlah hasilnya, kecuali jika dimaksudnya beribadah kepada Allah. Oleh karena itu Allah berfirman: wa in tu’minuu watattaquu yu’tikum ujuurakum walaa yas-alkum amwaalakum (“Dan jika kamu beriman dan bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”) maksudnya Dia tidak akan pernah butuh kepada kalian, Dia tidak meminta sesuatupun dari kalian. Dan Dia telah mewajibkan kepada kalian zakat dari harta kalian untuk membantu saudara-saudara kalian yang fakir dan miskin agar bermanfaat, dan pahalanya kembali kepada kalian.

Firman Allah: iy yas-alkumuuHaa fayuhfikum tabkhaluu (“Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesakmu [supaya memberikan semuanya] niscaya kamu akan kikir.”) yakni akan memberatkan kalian sehingga kalian kikir. Wayukhrij adl-ghaanakum (“Dan Dia akan menampakkan kedengkianmu”). Qatadah berkata: “Allah Ta’ala mengetahui, bahwasannya dalam pengeluaran harta benda itu terdapat pengikisan kedengkian.” Benar, sebab harta kekayaan itu merupakan suatu hal yang dicintai, dan tidak dibelanjakan melainkan untuk hal yang lebih dicintai seseorang daripadanya.

Firman Allah: Haa antum Haa-ulaa-i tud’auna litungfiquu fii sabii-lillaaHi fa mingkum may yabkhal (“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan [hartamu] pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir.” Yakni tidak memenuhi seruan tersebut. Wa may yabkhal fa innamaa yabkhalu ‘an nafsiHi (“Dan barangsiapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri.”) maksudnya pahala akan berkurang darinya, dan akibat dari hal itu sudah pasti kembali kepadanya. wallaaHu ghaniyyu (“Dan Allah-lah Yang Mahakaya”) yakni dari segala hal selain diri-Nya, dan segala sesuatu senantiasa membutuhkan diri-Nya. Oleh karena itu Allah berfirman: wa antumul fuqaraa’ (“Sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan.”) yakni sebenarnya kalianlah yang butuh kepada-Nya. Sehingga sifat Mahakaya merupakan suatu sifat yang lazim bagi-Nya. Sedangkan makhluk-Nya disifati dengan miskin sebagai sifat yang lazim bagi mereka, yang tidak dapat dipisahkan darinya.
Firman-Nya: wa in tatawallau (“Dan jika kamu berpaling.”) yakni dari perbuatan taat kepada-Nya dan mengikuti syariat-Nya; yastabdil qauman ghairakum tsumma laa yakuunu amtsaalakum (“Niscaya Dia akan menggantimu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan sama sepertimu.”) maksudnya, mereka itu akan mendengar lagi taat kepada-Nya dan kepada perintah-Nya.
Sekian.

Tafsir Surah Al-Qur’an Surah Muhammad (8)

9 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Muhammad (Nabi Muhammad)
Surah Madaniyyah; Surah ke 47: 38 ayat

Lalu firman Allah: fa kaifa idzaa tawaffatHumul malaa-ikatu yadl-ribuuna wujuuHaHum wa adbaaraHum (“Bagaimanakah [keadaan mereka] apabila malaikat [maut] mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?”) maksudnya, bagaimana keadaan mereka jika mereka didatangi para malaikat untuk mencabut nyawa mereka, dan arwah-arwah bergejolak dalam jasad mereka lalu dikeluarkan oleh para malaikat secara kasar, dipaksa dan menggunakan pukulan. Sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya: “Kalau kamu melihat ketika para Maikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka….” (al-Anfaal: 50)

Oleh karena itu Allah berfirman dalam surat Muhammad ini: dzaalika bi-annaHumut taba-‘uu maa askhathallaaHa wa kariHuu ridl-waanaHuu fa ahbatha a’maalaHum (“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan [karena] mereka membenci [apa yang menimbulkan] keridlaan-Nya, sebab itu Allah menghapus [pahala] amal-amal mereka.”)

tulisan arab alquran surat Muhammad ayat 29-31“29. atau Apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan Menampakkan kedengkian mereka ? 30. dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat Mengenal mereka dengan tanda-tandanya. dan kamu benar-benar akan Mengenal mereka dari kiasan-kiasan Perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. 31. dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (Muhammad: 29-31)

Allah berfirman: am hasibal ladziina fii quluubiHim maradlun allay yukhrijallaaHu adl-ghaanaHum (“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?”) maksudnya, apakah orang-orang munafik itu berkeyakinan bahwa Allah tidak akan mengungkapkan urusan mereka kepada hamba-hamba-Nya yang beriman? Tidak, justru Dia akan menjelaskan dan menampakkan urusan mereka itu, sehingga orang-orang yang berakal memahaminya. Dan mengenai hal tersebut Allah telah menurunkan dalam surat at-Taubah (Baraa-ah), yang dijelaskan secara gamblang kejahatan mereka dan berbagai perbuatan yang menunjukkan kemunafikan mereka. Oleh karena itu, hal itu disebut dengan “al-faadlihah” (pembongkar rahasia). Kata al-adlghan merupakan jamak dari kata dlaghnun, yaitu kedengkian dan iri hati yang ada di dalam diri mereka terhadap Islam dan para pemeluknya serta orang-orang yang memperjuangkannya.

Firman Allah: walau nasyaa-u la-arainaakaHum fala-‘araftaHum bisimaaHum (“Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan kepadamu, sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya.”) Allah berfirman: “Seandainya Kami menghendaki, hai Muhammad, niscaya Kami akan perlihatkan kepadamu pribadi-pribadi mereka, sehingga kamu mengenal mereka.” Tetapi Allah tidak melakukan hal tersebut terhadap seluruh orang-orang munafik sebagai penutup dari-Nya terhadap makhluk-Nya dan untuk menilai urusan sesuai dengan dzahir keselamatannya serta mengembalikan rahasia hati kepada yang mengetahuinya (Allah).

Wa lata’rifannaHum fii lahnil qauul (“Dan kamu benar-benar akan megenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.”) yaitu yang tampak dari ucapan-ucapan mereka yang menunjukkan maksud mereka yang mutakallim (orang yang mengajak bicara) dapat mengetahui dari kelompok mana dia, melalui makna dan maksud ucapan-ucapan tersebut. Dan inilah yang dimaksud dengan lahnul qaul (salah ucap). Sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan: “Tidaklah seseorang merahasiakan sesuatu melainkan Allah pasti perlihatkan pada lembaran-lembaran wajahnya dan kekeliruan lidahnya.”
Firman Allah: walanab-luwannakum (“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan mengujimu”) yakni, pasti akan menguji kalian melalui perintah dan larangan, hattaa ta’lamal mujaaHidiina mingkum wash-shaabiriina wa nabluwa akhbaaraHum (“Sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan [baik buruknya] hal ihwalmu.”) pengetahuan Allah lebih awal atas apa yang akan terjadi itu tidak menjadi keraguan. Karena yang dimaksud dengan hal itu adalah, sehingga Kami mengetahui kejadiannya. Oleh karena itu, berkenaan dengan hal ini, Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Kecuali agar Kami (Allah) mengetahui, maksudnya agar Kami dapat melihat.”

tulisan arab alquran surat Muhammad ayat 32-35“32. Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. 33. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. 34. Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam Keadaan kafir, Maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka. 35. janganlah kamu lemah dan minta damai Padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” (Muhammad: 32-35)

Allah bercerita tentang orang-orang kafir yang menghalang-halangi dari jalan Allah serta menentang dan merintangi Rasul, juga murtad dari keimanan setelah jelas petunjuk baginya, bahwa ia tidak dapat memberi mudlarat [bahaya] sedikitpun kepada Allah. Ia hanya akan memberi mudlarat kepada dirinya sendiri dan menjadikannya merugi pada hari kembalinya (hari kiamat), dan Allah akan menghapus amal perbuatannya. Oleh karena itu Dia tidak akan memberikan balasan atas semua amal yang diakhiri dengan kemurtadan dan tidak pula dibalas kebaikannya meski hanya seberat nyamuk. Tetapi Allah menggugurkan dan menghilangkan semuanya, sebagaimana semua kebaikan akan menghilangkan semua kejahatan.

Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi meriwayatkan dalam kitab ash-Shalaat, dari Abul ‘Aliyah, ia bercerita: “Bahwa para shahabat Rasulullah saw. pernah berpendapat bahwa seseorang yang mengucapkan ‘Laa ilaaHa illallaaH (tidak ada Ilah yang haq selain Allah)’ tidak akan dapat dicelakan oleh suatu dosa, sebagaimana tidak bermanfaat amal yang disertai dengan kemusyrikan. Lalu turunlah ayat: athii-‘ullaaHa wa athi-‘ur rasuula wa laa tubthiluu a’maalakum (“Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusakkan [pahala] amal-amalmu.”) takutlah kalian akan dosa-dosa yang akan menghapus amal perbuatan.

Tafsir Surah Al-Qur’an Surah Muhammad (7)

9 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Muhammad (Nabi Muhammad)
Surah Madaniyyah; Surah ke 47: 38 ayat

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia bercerita bahwa ada seseorang yang datang kepada Rasulullah saw. lalu ia berkata: “Yaa Rasulallah, sesunggguhnya aku mempunyai beberapa kerabat, aku telah menyambung tali silaturahim tetapi mereka memutuskannya, aku memberi maaf tetapi mereka berbuat dzalim, dan aku berbuat baik tetapi mereka malah berbuat jahat, apakah aku boleh membalasnya?” Beliau menjawab: “Tidak, karena kalau begitu kalian semua akan ditinggalkan oleh Allah. Tetapi berlaku baiklah dan sambunglah tali silaturahim dengan mereka, karena sesungguhnya pertolongan dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia akan terus bersamamu selama kamu masih melakukan hal itu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad saja dari sisi ini, dan ia mempunyai syahid dari sisi yang lain.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia bercerita bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya rahim itu bergantung di ‘Arsy. Yang disebut orang yang menyambung tali silaturahim itu bukan yang membalas hubungan silaturahim, tetapi yang disebut sebagai orang yang menyambung silaturahim adalah orang yang jika hubungan silaturahimnya diputuskan, ia menyambungnya.” (HR al-Bukhari)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, yang disampaikan kepada Nabi saw, beliau bersabda: “Orang-orang yang penuh kasih sayang akan disayang oleh Rabb Yang Mahapenyayang. Sayangilah penduduk bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh penghuni langit. Ar-Rahim [kekerabatan] adalah jalan dari Rabb Yang Mahapemurah, barangsiapa yang menyambungnya, maka Aku akan menyambungnya, dan barangsiapa yang memutuskannya, maka aku akan memutuskannya selamanya.” Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadist tersebut hasan Shahih.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibrahim bin ‘Abdillah bin Faridh, ayahnya pernah memberitahunya, bahwa ia pernah masuk menemui ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang ketika itu tengah sakit. Maka ‘Abdurrahman berkata kepadanya: “Engkau telah disambung hubungan oleh ar-rahim, sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda: ‘Allah swt. telah berfirman: ‘Aku adalah Rabb yang Mahapenyayang, Aku telah menciptakan rahim dan aku telah ambilkan baginya sebuah nama dari Nama-Ku. Barangsiapa menyambungnya, niscaya Aku akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskannya, maka aku akan memutuskan hubungan dengannya.’” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad saja dari sisi ini. Dan ia juga meriwayatkannya dari hadits az-Zuhri. Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari riwayat Abu Salamah, dari ayahnya. Hadits-hadits yang membahas masalah ini banyak sekali.

Imam ath-Thabarani menceritakan dari Abu ‘Umar al-Bashri, dari Sulaiman, ia bercerita: Rasulullah bersabda: “Arwah-arwah itu merupakan bala tentara yang dipersiapkan. Yang saling mengenal akan bersatu, sedang yang tidak saling mengenal akan berpisah.’”
Berkenaan dengan hal itu pula Rasulullah bersabda: “Jika perkataan telah mendominasi, dan amalan telah tersembunyi, lalu lidah saling bersatu, hati saling membenci, dan setiap orang telah memutuskan silaturahimnya, maka pada saat itu Allah melaknat dan menulikan [pendengaran] mereka serta membutakan pandangan mereka.”

tulisan arab alquran surat Muhammad ayat 24-28“24. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? 25. Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. 26. yang demikian itu karena Sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. 27. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? 28. yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad ayat 24-28)

Allah berfirman seraya memerintahkan untuk memikirkan dan memahami al-Qur’an serta melarang berpaling darinya, dimana Dia berfirman: afalaa yatadabbaruunal qur-aana am ‘alaa quluubi aqfaaluHaa (“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?”) maksudnya, bahkan hati mereka dalam keadaan terkunci mati, tidak ada sesuatupun dari makna al-Qur’an itu yang dapat menembusnya. Ibnu Jarir meriwayatkan, Basyar memberitahu kami, Hammad bin Zaid memberitahu kami, Hisyam bin ‘Urwah memberitahu kami, dari ayahnya, ia bercerita: “Pada suatu hari, Rasulullah saw. pernah membaca ayat: afalaa yatadabbaruunal qur-aana am ‘alaa quluubi aqfaaluHaa (“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?”) maka ada seorang pemuda dari penduduk Yaman berkata: ‘Justru hati-hati itu telah tertutup sehingga Allah membuka dan menyingkapnya.’ Maka, anak muda tersebut masih tetap teringat dalam hati ‘Umar hingga ia menjadi khalifah, maka iapun memohon bantuannya.”

Firman Allah: innalladziinar tadduu ‘alaa adbaariHim mim ba’di maa tabayyana laHumul Hudaa (“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang [kepada kekafiran] sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka,”) maksudnya, mereka menjauhi iman dan kembali kepada kekafiran. mim ba’di maa tabayyana laHumul Hudaasy syaithaanu sawwalalaHum (“Sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah [berbuat dosa].”) maksudnya yang demikian itu dijadikan indah dan baik dalam pandangan mereka, wa amlaa laHum (“Dan memanjangkan angan-angan mereka”) maksudnya, ia menipu dan mengkhianatinya. Dzaalika bi annaHum qaaluu lilladziina kariHuu maa nazzalallaaHu sanuthii-‘ukum fii ba’dlil amr (“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah: ‘Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan.’”) maksudnya, mereka memberi nasehat kepada mereka secara sembunyi-sembunyi untuk berbuat kebathilan. Dan demikianlah keadaan orang-orang munafik, mereka memperlihatkan apa yang bertentangan dengan apa yang disembunyikan. Oleh karena itu Allah berfirman: wallaaHu ya’lamu israaraHum (“Sedang Allah mengetahui rahasia mereka.”) yakni, apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka sembunyikan. Allah mengetahui dan melihatnya.

Tafsir Surah Al-Qur’an Surah Muhammad (6)

9 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Muhammad (Nabi Muhammad)
Surah Madaniyyah; Surah ke 47: 38 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan, Muhammad bin Ja’far memberitahu kami, Syu’bah memberitahu kami, dari ‘Ashim al-Ahwal, ia bercerita: Aku pernah mendengar ‘Abdullah bin Sarkhas berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah saw, lalu aku makan makanan beliau bersama beliau. Kemudian kukatakan: “Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan kepadamu ya Rasulallah.” Maka beliau bersabda: “Juga kepadamu.” Selanjutnya aku katakan: “Bolehkah aku memohonkan ampunan untukmu?” maka beliau bersabda: “Ya boleh, dan juga untuk kalian.” Dan setelah itu beliau membacakan firman Allah: wastaghfir lidzambika wa lil mu’miniina wal mu’minaat (“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi [dosa] orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”) setelah itu aku melihat ke tulang pipih pada pundak beliau sebelah kanan atau pundak sebelah kiri –Syu’bah ragu-ragu- ternyata ia sebesar genggaman tangan yang di atasnya terdapat butiran-butiran.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim melalui beberapa jalan, dari ‘Ashim al-Ahwal.

Firman Allah: wallaaHu ya’lamu mutaqallabakum wa matswaakum (“Dan Allah mengetahui tempatmu berusaha dan tempat tinggalmu.”) maksudnya, Dia mengetahui tindak tanduk kalian pada siang hari dan tempat menetapmu di malam hari. Pendapat seperti ini dikemukakan oleh Ibnu Juraij yang juga merupakan pilihan Ibnu Jarir. Dan dari Ibnu ‘Abbas, yakni tempat usaha kalian di dunia dan tempat tinggal kalian di akhirat. Sedangkan as-Suddi mengemukakan: “Yaitu tempat usaha kalian di dunia dan tempat tinggal kalian di kuburan kalian.” Tetapi pendapat pertama adalah lebih tepat dan jelas. WallaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat Muhammad ayat 20-23“20. dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas Maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu Lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka. 21. Ta’at dan mengucapkan Perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. 22. Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? 23. mereka Itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (Muhammad ayat 20-23)

Allah Ta’ala berfirman seraya memberitahukan tentang orang-orang Mukmin, bahwa mereka mendambakan pensyariatan jihad. Dan setelah Allah mewajibkan jihad itu dan memerintahkan mereka melakukannya, maka banyak orang-orang yang menolaknya. Disini Allah berfirman yang artinya: (“Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas Maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu Lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati,”) yakni karena rasa kaget dan takut mereka serta sikap pengecut mereka untuk bertemu dengan musuh. Setelah itu, Allah Ta’ala berfirman seraya memberikan motivasi kepada mereka: fa aulaalaHum. Thaa-‘atuw wa qaulum ma’ruuf (“Dan yang lebih buruk bagi mereka ketaatan dan ucapan yang baik.”) maksudnya, yang terbaik bagi mereka adalah mendengarkan dan menaati, yakni dalam waktu tersebut. Fa idzaa ‘azamal amru (“Apabila telah tetap perintah perang.”) yakni dalam keadaan serius, dan peperangan telah tiba. Falau shadaqullaaH (“Tetapi jikalau mereka benar [imannya] terhadap Allah.”) maksudnya, benar-benar mengikhlashkan niat kepada-Nya, lakaana khairal lakum (“Niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.”)

Firman Allah: faHal ‘asaitum intawallaitum (“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa.”) melakukan jihad, lalu kalian berpaling darinya. An tufsiduu fil ardli wa tuqaththi-‘uu arhaamakum (“kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”) maksudnya, kalian akan kembali lagi kepada keadaan semula, yaitu keadaan Jahiliyyah, dimana kalian saling menumpahkan darah dan memutuskan hubungan tali silaturahim. Oleh karena itu Dia berfirman: ulaa-ikaladziina la-‘anaHumullaaHu fa ashammaHum wa a’maa abshaaraHum (“Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan-Nya pendengaran mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”) itu merupakan larangan membuat kerusakan di muka bumi sercara umum dan larangan memutuskan hubungan silaturahim secara khusus. Tetapi Allah telah memerintahkan supaya melakukan perbaikan di muka bumi dan menyambung tali silaturahim, yakni berbuat baik kepada sanak keluarga, baik melalui ucapan maupun perbuatan, serta memberikan harta kekayaan.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Allah Ta’ala menciptakan makhluk, sehingga ketika selesai menciptakan mereka, rahimpun berdiri, lalu mengambil tempat di sisi pinggang Rabb Yang Mahapemurah, maka Dia berfirman kepada-Nya: ‘Tahanlah.’ Kemudia ia berkata: ‘Ini adalah tempat orang yang berlindung kepada-Mu dari pemutusan silaturahim.’ Maka Allah berfirman: ‘Apakah kamu rela jika Aku menyambungkan tali orang yang menyambungmu dan memutuskan tali orang yang memutuskan hubungan denganmu?’ ia menjawab: ‘Mau, yaa Rabb-ku.’ Dia berfirman: ‘Yang demikian itu untukmu.’

Abu Hurairah berkata: “Jika kalian mau, bacalah ayat: faHal ‘asaitum intawallaitum An tufsiduu fil ardli wa tuqaththi-‘uu arhaamakum (“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”)
Kemudian hal itu juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari dua jalan lainnya, dari Mu’awiyah bin Abi Mazrad, ia bercerita: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Bacalah jika kalian menghendaki: faHal ‘asaitum intawallaitum An tufsiduu fil ardli wa tuqaththi-‘uu arhaamakum (“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”) juga diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Mu’awiyah bin Abi Mazrad.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Bakrah, ia bercerita: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada satu dosapun yang lebih pantas disegerakan siksaannya di dunia disamping siksa yang disiapkan untuknya di akhirat kelak daripada tindakan kedzaliman dan pemutusan silaturahim.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh Tsauban, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” Hadist ini diriwayatkan sendiri oleh Ahmad, dan ia mempunyai syahid yang shahih.

Tafsir Surah Al-Qur’an Surah Muhammad (5)

9 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Muhammad (Nabi Muhammad)
Surah Madaniyyah; Surah ke 47: 38 ayat

tulisan arab alquran surat Muhammad ayat 16-19“16. dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” mereka Itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. 17. dan oraang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan Balasan ketaqwaannya. 18. Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena Sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka Apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila kiamat sudah datang? 19. Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Muhammad ayat 16-19)

Allah berfirman seraya menceritakan tentang orang-orang munafik di negeri mereka dan minimnya pemahaman mereka, dimana mereka duduk bersama Rasulullah saw. dan mendengar ucapan beliau, namun mereka tidak memahami sedikitpun apa yang beliau sampaikan. Dan jika mereka keluar dari sisi beliau, qaalul ladziina uutul ‘ilma (“Mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan.”) yakni para sahabat Nabi, maa dzaa qaala aanifaa (“Apa yang dikatakannya tad?”) yaitu, pada waktu tersebut. Maksudnya, mereka sama sekali tidak mengerti apa yang beliau sampaikan dan tidak pula mereka berkonsentrasi mendengarnya. Allah berfirman: ulaa-ikalladziina thaba-‘allaaHu ‘alaa quluubiHim wattaba-‘uu aHwaa-aHum (“Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.”) artinya mereka sama sekali tidak mendapatkan pemahaman yang benar dan tujuan yang tidak menyimpang.
walladziinaHtadaw zaadaHum Hudaa (“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambahkan petunjuk kepada mereka.”) maksudnya orang-orang yang bertujuan mencari petunjuk, maka Allah memberikan taufiq kepada mereka sehingga mereka mendapatkan jalan kepadanya serta meneguhkannya pada petunjuk tersebut bahkan mendapatkan tambahan. Wa aataaHum taqwaaHum (“Dan memberikan kepada mereka [balasan] ketakwaannya.”) maksudnya, Dia mengilhamkan kepada mereka petunuk mereka.

Firman Allah: faHal yangdzuruuna illas saa-‘ata an ta’tiyaHum baghtaH (“Maka tidaklah mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat, [yaitu] kedatangannya kepada mereka secara tiba-tiba.”) pada saat itu mereka dalam keadaan lengah terhadapnya. Faqad jaa-a asyraathuHaa (“Karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya.”) yakni tanda-tanda kedekatannya. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah telah berfirman: iqtaraba linnaasi hisaabuHum wa Hum fii ghaflatim mu’ridluun (“Telah dekat kepada manusia hari penghisaban segala amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling.”)(al-Anbiyaa’: 1)

Dengan demikian, diutusnya Rasulullah saw. merupakan salah satu tanda dekatnya hari kiamat, karena beliau adalah penutup para Rasul, dengan beliaulah Allah menyempurnakan agama dan menegakkan hujjah atas alam semesta. Rasulullah saw. sendiri telah memberitahukan tanda-tanda hari kiamat, menjelaskan sekaligus menguraikannya secara gamblang yang belum pernah disampaikan oleh seorang nabipun sebelumnya, sebagaimana yang dijelaskan dalam pembahasannya masing-masing.

Al-Hasan al-Bashri mengemukakan: “Pengutusan Muhammad saw. merupakan salah satu tanda dekatnya hari kiamat, dan benar apa yang beliau katakan. Oleh karena itu sebutan Nabi saw. adalah Nabiyyut Taubah (Nabi yang menyerukan taubat), Nabi MalhamaH (Nabi yang berperang) dan al-Hasyir (yaitu yang menggiring manusia atas kedua kakinya ke alam Mahsyar), serta al-‘Aqib, yaitu seorang Nabi yang tidak ada lagi Nabi setelahnya.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan, Ahmad bin al-Miqdam memberitahu kami, dari Fudhail bin Sulaiman, dari Abu Raja’, dari Sahl bin Sa’ad, ia bercerita: Aku pernah menyaksikan Rasulullah saw. bersabda dengan mengisyaratkan jari-jemarinya seperti ini, yaitu dengan jari tengah dan jari telunjuk [bersamaan]: “Jarak antara diutusku dengan hari kiamat seperti jarak antara dua jari ini [jari telunjuk dan jari tengah].”(HR al-Bukhari)

Firman Allah: fa anna laHum idzaa jaa-atHum dzikraaHum (“Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?”) maksudnya, apalah artinya peringatan bagi orang-orang kafir jika hari kiamat telah datang kepada mereka, dimana peringatan itu sama sekali tidak berarti bagi mereka. Hal itu sama dengan firman-Nya: yauma-idziy yatadzakkarul ingsaanu wa anna laHudz-dzikraa (“Dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.”)(al-Fajr: 23)

Firman Allah: fa’lam annaHuu laa ilaaHa illallaaH (“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah [yang haq] melainkan Allah.”) ini merupakan pemberitahuan bahwasannya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah. Dan Dia tidak meminta untuk mengetahui wujud-Nya. Oleh karena itu, Dia menghubungkan firman-Nya itu dengan firman-Nya: wastaghfir lidzambika wa lil mu’miniina wal mu’minaat (“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi [dosa] orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”)

Di dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Ya Allah, ampunilah kesalahan dan kebodohanku serta sikap berlebihanku dalam urusanku dan segala apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Allah, ampunilah candaku, seriusku, ketidaksengajaan, dan kesengajaanku, semua itu ada padaku.”
Dan dalam hadits lain disebutkan, bahwa beliau pernah memanjatkan doa pada akhir shalat yang beliau kerjakan: “Ya Allah ampunilah dosa-dosa yang telah aku kerjakan dan yang akan aku kerjakan, yang kusembunyikan dan yang aku tampakkan serta yang aku berlebihan padanya, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Engkau Rabb-ku, tidak ada yang berhak diibadahi kecuali hanya Engkau.”

Selain itu Rasulullah saw. bersabda: “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Rabb kalian, sesungguhnya aku senantiasa memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.”

Tafsir Surah Al-Qur’an Surah Muhammad (4)

9 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Muhammad (Nabi Muhammad)
Surah Madaniyyah; Surah ke 47: 38 ayat

Firman Allah: ming qaryatikal latii akhrajatka (“Dari [penduduk] negerimu [Muhammad] yang telah mengusirmu itu.”) yakni, kaum yang telah mengusirmu dari tengah-tengah mereka.
Ibnu Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ketika Nabi saw. pergi dari Makkah menuju ke gua, setelah sampai di gua beliau menghadap ke Makkah seraya berkata: “Engkau adalah negeri Allah yang paling dicintai Allah, dan engkau adalah negeri Allah yang paling aku cintai. Seandainya orang-orang musyrik itu tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan pergi darimu.”

Sebesar-besar musuh adalah yang memusuhi Allah Ta’ala di tanah Haram-Nya, atau membunuh orang yang bukan pembunuhnya [tidak bersalah] atau membunuh karena kejahilan, sehingga Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi-Nya, Muhammad saw. : wa ka ayyim ming qoryatin Hiya asyaddu quwwatam ming qaryatikal latii akhrajatka aHlaaknaaHum falaa naashira laHum (“Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang [penduduknya] lebih kuat dari [penduduk] negerimu [Muhammad] yang telah mengusirmu itu.Kami telah membinasakan mereka, maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka.”).

tulisan arab alquran surat Muhammad ayat 14-15“14. Maka Apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan Dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? 15. (apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (Muhammad ayat 14-15)

Allah berfirman: afa mang kaana ‘alaa bayyinatim mir rabbiHii (“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabb-nya.”) yakni berdasarkan bashirah [petunjuk di atas ilmu] dan keyakinan pada perintah dan agama Allah Ta’ala yang telah diturunkan-Nya melalui kitab-Nya, baik berupa petunjuk maupun ilmu serta fitrah yang lurus, yang telah Dia ciptakan dalam dirinya. Kaman zuyyina laHuu suu-u ‘amaliHii wattaba’uu aHwaa-aHum (“Sama dengan orang yang [syaitan] menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?”) maksudnya, yang pertama sama sekali tidak sama dengan yang lainnya.
Hal itu seperti firman Allah: afamay ya’lamu innamaa unzila ilaika mir rabbikal haqqu kaman Huwa a’maa (“Adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itu benar sama dengan orang yang buta?”)(ar-Ra’du: 19).

Kemudian Allah berfirman: matsalul jannatil latii wu-‘idal muttaquun (“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa.” Mengenai firman-Nya: matsalul jannati (“Perumpamaan surga”) ‘Ikrimah mengemukakan: “Yaitu sifatnya.”

fiiHaa anHaarum mim maa-in ghairi aasin (“Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah warnanya dan baunya.”) Ibnu ‘Abbas, al-Hasan al-Bashri, dan Qatadah mengatakan: “Yakni tidak berubah.” Sedangkan Qatadah, adl-Dlahhak dan ‘Atha’ al-Khurasani mengemukakan: “Tidak berbau busuk.” Masyarakat Arab akan mengatakan: “asanal maa’” jika air itu berubah baunya.

Wa anHaarum mil labanil lam yataghayyar tha’muHuu (“Sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya.”) bahkan benar-benar berwarna putih, manis dan kental. Wa anHaarum min khamril ladzdzatil lisy-syaaribiin (“Dan sungai-sungai dari khamr [arak] yang lezat rasanya bagi peminumnya.”) maksudnya bukan minuman yang berbau tidak enak seperti khamr yang ada di dunia, melainkan ia adalah minuman yang menyenangkan untuk dipandang, rasanya enak dan berbau harum, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala dalam surat yang lain: laa fiiHaa ghauluw walaaHum ‘anHaa yunzifuun (“Tidak ada dalam khamr itu alkohol dan mereka tidak mabuk karenanya.”)(ash-Shaaffaat: 47)

Firman Allah: wa anHaarum min ‘asalim mushaffaa (“Dan sungai-sungai dari madu yang disaring.”) artinya, madu-madu itu benar-benar jernih, berwarna sangat indah, mempunyai rasa yang sangat nikmat, dan berbau sangat harum.

Imam Ahmad meriwayatkan, Yazid bin Harun memberitahu kami, al-Jariri memberitahu kami, dari Hakim bin Mu’awiyah, dari ayahnya, ia bercerita: aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Di dalam surga itu terdapat lautan susu, lautan air, lautan madu, dan lautan khamr. Dan sungai-sungai itu mengalir darinya.” Hadits ini diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi dalam masalah sifat surga. Dan ia mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih.

Dalam sebuah haditst yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika kalian memohon kepada Allah, mohonlah surga firdaus kepada-Nya, karena Firdaus adalah surga paling tengah dan surga paling tinggi. Darinya bersumber sungai-sungai di surga dan di atasnya terdapat ‘Arsy Rabb Yang Mahapemurah.”

Firman Allah: wa laHum fiiHaa ming kullits tsamaraati (“Dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan.”) sama seperti firman Allah: yad’uuna fiiHaa bikulli faakiHatin aaminiin (“Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman [dari segala kekhawatiran]”)(ad-Dukhaan: 55). Firman-Nya lebih lanjut: wa maghfiratum mir rabbiHim (“Dan ampunan dari Rabb mereka.”) maksudnya beserta semua itu.

Firman-Nya: kaman Huwa khaalidung finnaar (“Sama dengan orang yang kekal dalam neraka?”) maksudnya, apakah orang-orang yang telah Kami sebutkan kedudukannya tersebut sama seperti orang yang berada kekal di dalam neraka? Mereka sama sekali tidak sama. Orang-orang yang berkedudukan pada derajat tinggi itu sama sekali tidak sama dengan orang-orang yang berada di neraka di bagian paling bawah. Wa suquumaa-an hamiimaa (“Dan diberi minuman dari air yang mendidih.”) artinya, benar-benar panas yang tidak mampu disentuh manusia. Faqaththa-‘a am’aa-aHum (“Sehingga memotong-motong ususnya.”) maksudnya apa yang ada di dalam perut mereka, yaitu usus-usus dan juga pencernaan menjadi terpotong-potong. Semoga Allah melindungi kita dari semua itu.

Tafsir Surah Al-Qur’an Surah Muhammad (3)

9 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Muhammad (Nabi Muhammad)
Surah Madaniyyah; Surah ke 47: 38 ayat

Mujahid berkata: “Para penghuni surga diberi petunjuk menuju tempat tinggal mereka masing-masing. Oleh karena itu Allah telah menentukan tempat mereka di dalamnya, maka mereka tidak akan salah menempatinya, seolah-olah mereka telah menempatinya sejak mereka pertama kali diciptakan, sehingga mereka tidak memerlukan lagi seorang pun petunjuk jalan yang menunjukkan mereka.”

Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Malik, dari Zaid bin Aslam. Muhammad bin Ka’ab berkata: “Mereka mengetahui tempat tinggal mereka masing-masing, jika mereka masuk surga, sebagaimana kalian mengenal tempat tinggal kalian setelah kembali dari shalat Jum’at.”
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari hadits Qatadah, dari Abul Mutawakkil an-Naji, dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika orang-orang Mukmin selamat dari neraka, mereka ditahan di jembatan yang terletak antara surga dan neraka. Mereka saling membalas berbagai kedzaliman yang dulu pernah terjadi di antara mereka semasa hidup di dunia. Sehingga ketika mereka telah disucikan dan dibersihkan, mereka diizinkan masuk surga. Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, salah seorang di antara mereka lebih mengenali tempat tinggalnya di surga daripada tempat tinggalnya dahulu di dunia.”

Firman Allah: yaa ayyuHalladziina aamanuu in tanshurullaaHa yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum (“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong [agama] Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”) yang demikian itu sama seperti firman-Nya: wa layanshurannallaaHu may yanshuruHu (“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong [agama]-Nya.”)(al-Hajj: 40) karena balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Oleh karena itu, Dia berfirman: wa yutsabbit aqdaamakum (“Dan meneguhkan kedudukanmu.”)

Firman Allah: wal ladziina kafaruu fata’sal laHum (“Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka.”) hal itu bertolak belakang dengan peneguhan kedudukan yang diberikan kepada orang-orang beriman yang menolong [agama] Allah dan Rasul-Nya. Dan dalam sebuah hadits, telah ditegaskan dari Rasulullah saw, dimana beliau bersabda: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, dan celakalah hamba permadani, celaka dan terjungkirlah ia. Dan jika tertusuk duri, maka duri tersebut tiada akan dapat dicabut.” Artinya Allah tidak akan menyembuhkannya.

Firman Allah: wa adlalla a’maalaHum (“Dan Allah menghapus amal-amal mereka.”) maksudnya menggugurkan dan membatalkannya. Oleh karena itu, Dia berfirman: dzaalika bi-annaHum kariHuu maa anzalallaaHu (“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah.”) yaitu, mereka tidak menghendaki dan tidak menyukainya. Fa ahbatha a’maalaHum (“Sehingga Allah menghapuskan [pahala-pahala] amal-amal mereka.”

tulisan arab alquran surat Muhammad ayat 10-13“10. Maka Apakah mereka tidak Mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. 11. yang demikian itu karena Sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai Pelindung. 12. Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka Makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka. 13. dan betapa banyaknya negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari pada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka, Maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka.” (Muhammad ayat 10-13)

Allah berfirman: afalam yasiiruu (“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan”) [mereka] yakni orang-orang musyrik kepad Allah dan mendustakan Rasul-Nya. Fil ardli fayandzuru kaifa kaana ‘aaqibatulladziina ming qabliHim dammarallaaHu ‘alaiHim (“Di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka, Allah telah menimpakan kebinasaan ata mereka.”) yakni hukuman yang menimpa mereka akibat kedustaan dan kekufuran mereka. Dengan kata lain, Allah menyelamatkan orang-orang Mukmin dari tengah-tengah mereka. Oleh karena itu Allah berfirman: wa lil kaafiriina amtsaaluHaa (“Dan orang-orang kafir akan menerima [akibat-akibat] seperti itu.”)

Firman Allah: dzaalika bi annallaaHa maulalladziina aamanuu wa annal kaafiriina laa maulaalaHum (“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung.”
Lalu firman Allah: innallaaHa yudkhilulladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru (“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”) yaitu pada hari kiamat kelak. Walladziina kafaruu yatamatta’uuna waya’kuluuna kamaa ta’kulul an-‘aamu (“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang, mereka makan seperti makannya binatang.”) maksudnya di dunia. Mereka bersenang-senang, mereka makan di dunia ini sama seperti makannya binatang, dengan cara mengunyah dan menggunakan gigitan, mereka tidak mempunyai keinginan keculai kepada hal yang seperti itu. Oleh karena itu, di dalam hadits shahih disebutkan: “Orang mukmin makan dalam satu usus, sedangkan orang kafir makan dalam tujuh usus.”

Kemudian Allah berfirman: wannaaru matswaalaHum (“Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.”) yakni pada hari pembalasan mereka.
Firman Allah: wa ka ayyim ming qoryatin Hiya asyaddu quwwatam ming qaryatikal latii akhrajatka (“Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang [penduduknya] lebih kuat dari [penduduk] negerimu [Muhammad] yang telah mengusirmu itu.”) yakni Makkah. aHlaaknaaHum falaa naashira laHum (“Kami telah membinasakan mereka, maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka.”) itu merupakan ancaman keras dan peringatan yang tegas bagi penduduk Makkah atas pendustaan mereka kepada Rasulullah saw. yang mana beliau adalah pemuka para Rasul dan penutup para Nabi. Jika Allah telah membinasakan umat-umat terdahulu yang mendustakan para Rasul sebelum beliau, padahal umat-umat tersebut lebih kuat dari mereka, bagaimana dugaan mereka terhadap apa yang akan dilakukan Allah terhadap mereka di dunia dan akhirat? Kalaupun kebanyakan mereka terlepas dari hukuman di dunia karena berkah adanya Rasul dan Nabi pembawa rahmat, maka sesungguhnya adzab itu akan ditimpakan secara sempurna kepada orang-orang kafir pada hari kembali mereka.

Tafsir Surah Al-Qur’an Surah Muhammad (2)

9 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Muhammad (Nabi Muhammad)
Surah Madaniyyah; Surah ke 47: 38 ayat

Sebagian ulama lainnya mengatakan, bahwa seorang pemimpin [imam] hanya diberikan dua pilihan; membebaskan tawanan secara cuma-cuma atau mengambil fidyah [tebusan], tidak boleh membunuhnya.
Ulama lain berpendapat bahwa jika menghendaki seorang pemimpin tersebut boleh membunuhnya. Hal itu berdasarkan pada hadits yang menceritakan pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi saw. terhadap an-Nadlr bin al Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, dua orang yang termasuk tawanan perang Badr. Tsumamah bin Atsal pernah bertanya kepada Rasulullah saw. ketika beliau berkata kepadanya: “Apa yang engkau miliki hai Tsumamah?” ia menjawab: “Jika engkau membunuh, engkau telah membunuh orang yang dituntut darahnya, dan jika engkau membebaskan, berarti engkau telah membebaskan orang yang berterima kasih. Dan jika engkau menghendaki harta, maka mintalah, niscaya kami akan beri sesuai yang engkau kehendaki.”

Imam Syafi’i menambahkan, dimana ia mengemukakan: “Seorang imam diberi pilihan antara membunuh tawanan, membebaskannya atau meminta tebusan dari para tawanan tersebut.” Masalah ini telah diuraikan dalam ilmu furu’. Dan kami telah kemukakan masalah tersebut dalam kitab kami al-Ahkam.

Firman Allah: hattaa tadla’al harbu awzaaraHaa (“Sampai perang berhenti”) Mujahid berkata: “Sehingga putera Maryam a.s. turun.” Seolah-olah Mujahid mengambil dari sabda Rasulullah: “Akan senantiasa ada satu golongan dari umatku yang menjunjung tinggi [menampakkan] kebenaran sehingga orang-orang terakhir dari mereka memerangi Dajjal.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Walid bin ‘Abdurrahman al-Jarasyi, dari Jubair bin Nufair, ia berkata: “Bahwa sesungguhnya Salamah bin Nufail pernah memberitahu mereka bahwa ia pernah datang kepada Rasulullah saw. lalu beliau bersabda: ‘Aku telah menambatkan kuda, meletakkan senjata dan perangpun telah usai.’ Lalu kukatakan: ‘Tidak ada perang lagi.’ Lalu Nabi saw. bersabda kepadanya: “Sekarang telah datang perang. Akan ada senantiasa segolongan dari umatku yang muncul untuk membela umat manusia, dimana Allah memalingkan hati beberapa kaum, lalu mereka memerangi kaum tersebut dan Allah pun memberi rizki kepada mereka, sehingga datang urusan Allah akan hal tersebut. Ketahuilah, sesungguhnya pusat wilayah tempat tinggal yang dijanjikan kepada orang-orang mukmin adalah di Syam, sedangkan kebaikan terikat di kepala-kepala kuda sampai hari Kiamat.” Demikian yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa-i dari dua jalan, dari Jubair bin Nufair, dari Salamah bin Nufail as-Sukuni.

Hal tersebut memperkuat pendapat yang menyatakan ayat tersebut di atas tidak dinasakh. Seolah-olah Rasulullah saw. menetapkan hukum ini di dalam perang, sehinggaa tidak ada lagi perang.
Mengenai firman Allah: Firman Allah: hattaa tadla’al harbu awzaaraHaa (“Sampai perang berhenti”) Qatadah berkata: “Sehingga tidak ada lagi kemusyrikan.” Hal itu sama seperti firman Allah: wa qaatiluuHum hattaa laa takuuna fitnatuw wayakuunad diinu lillaaHi (“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan sehingga ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.”)(al-Baqarah: 193)

Kemudian, sebagian ulama mengatakan: “Sehingga perang selesai. Yakni, sehingga pasukan-pasukan perang musyrikin itu berhenti, yaitu agar mereka bertaubat kepada Allah.” Yakni menghentikan perlawanan atas orang-orang yang diserang, yaitu dengan cara mengerahkan tenaga untuk berbuat taat kepada Allah.”

Firman Allah: dzaalika walaw yasyaa-ullaaHu lantashara minHum (“Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka.”) maksudnya, jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan menimpakan adzab dan siksaan dari sisi-Nya terhadap orang-orang kafir sebagai hukuman dari sisi-Nya. Walaakil liyabluwa ba’dlaHum biba’dlin (“Tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.”) artiny, justru Dia mensyari’atkan kepada kalian jihad dan perlawanan terhadap musuh untuk menguji kalian.

Kemudian sebagaimana telah menjadi kelaziman, bahwa peperangan itu menyebabkan terbunuhnya banyak orang Mukmin, maka Allah swt. berfirman: walladziina qutiluu fii sabiilillaaHi falay yudlilla a’maalaHum (“Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”) maksudnya, Dia tidak akan mengabaikannya begitu saja, tetapi Dia akan memperbanyak dan mengembangkan serta melipatgandakan [pahala/amalnya]. Bahkan di antara mereka ada yang amalnya terus mengalir selama di alam barzah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Miqdam bin Ma’dikarib al-Kindi, ia bercerita bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang mati syahid di sisi Allah memiliki enam keutamaan, yaitu: Allah akan mengampuni dosanya pada percikan pertama dari darahnya, ia menyaksikan tempatnya di surga, dihiasi dengan perhiasan iman, dinikahkan dengan bidadari, dijaga dari adzab kubur, diberi rasa aman dari ketakutan yang besar [pada hari kebangkitan], dan diletakkan di atas kepalanya mahkota kemuliaan yang dilapisi dengan mutiara dan batu permata. Satu permata pada mahkota itu lebih baik daripada dunia seisinya. Dan ia juga dinikahkan dengan tujuh puluh dua istri dari kalangan bidadari, dan ia diizinkan memberi syafaat kepada tujuhpuluh orang dari kalangan kerabatnya.” Hadits tersebut diriwayatkan dan dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.
Di dalam Shahih Muslim juga disebutkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Diberikan ampunan kepada orang yang mati syahid atas segala sesuatu kecuali hutang.”

Dan diriwayatkan dari hadits sekelompok shahabat. Abu Darda’ bercerita: “Rasululllah saw. pernah bersabda: ‘Orang yang mati syahid itu dapat memberi syafaat bagi tujuh puluh orang dan keluarganya.” (HR Abu Dawud)

Firman Allah: sayaHdiiHim (“Allah akan memberi petunjuk kepada mereka.”) menuju syurga. Dan firman-Nya: wa yushlihu baalaHum (“Dan memperbaiki keadaan mereka.”) yakni urusan dan keadaan mereka. Wa yudkhiluHumul jannata ‘arrafaHaa laHum (“Dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.”) maksudnya, Dia telah memperkenalkan kepada mereka dan memberi petunjuk kepadanya.

Tafsir Surah Al-Qur’an Surah Muhammad (1)

9 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Muhammad (Nabi Muhammad)
Surah Madaniyyah; Surah ke 47: 38 ayat

tulisan arab alquran surat Muhammad ayat 1-3“1. orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka. 2. dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan Itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki Keadaan mereka. 3. yang demikian adalah karena Sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang bathil dan Sesungguhnya orang-orang mukmin mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.” (Muhammad ayat 1-3)

Allah berfirman: alladziina kafaruu (“orang-orang yang kafir”) yakni kepada ayat-ayat Allah. Wa shadduu (“Dan menghalang-halangi”) orang lain. ‘An sabiilillaaHi adlalla a’maalaHum (“Dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka.”) yakni menggugurkan dan menghilangkannya dan tidak memberikan pahala dan ganjaran atas perbuatan-perbuatan tersebut.

Wal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Dan orang-orang yang beriman [kepada Allah] dan mengerjakan amal-amal yang shalih.”) yakni hati dan seluruh anggota tubuhnya beriman serta tunduk kepada syariat Allah, baik lahir maupun batin mereka. Wa aamanuu bimaa nuzzila ‘alaa muhammadin (“Dan beriman [pula] kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad.”) hal yang khusus di’athaf [disambung] kepada yang umum, dan itu merupakan dalil yang menunjukkan bahwa ia termasuk syarat sahnya iman setelah beliau diutus sebagai Rasul. Wa Huwal haqqu mir rabbiHim (“Dan itulah yang haq dari Rabb mereka.”) kalimat itu merupakan kalimat sisipan yang baik. Oleh karena itu Allah berfirman: kaffara ‘anHum sayyi-aatiHim wa ashlaha baalaHum (“Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.”)

Ibnu ‘Abbas berkata: “Yakni urusan mereka.” Mujahid berkata: “Yaitu kebutuhan mereka.” Sedangkat Qatadah dan Ibnu Zaid mengemukakan: “Keadaan mereka.” Semua pendapat itu saling berdekatan. Dan [terdapat] dalam sebuah hadits tentang doa orang yang bersin bagi orang yang mendoakannya: yaHdiikumullaaHu wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberikan petunjuk kepadamu dan memperbaiki keadaanmu).

Firman Allah: dzaalika biannalladziina kafarut taba’ul baathila (“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang bathil.”) maksudnya, Kami hapuskan semua amal perbuatan orang-orang kafir, dan Kami ampuni semua kesalahan orang-orang yang berbuat baik, Kami perbaiki pula urusan mereka, karena orang-orang kafir itu mengikuti yang bathil, yakni, memilih yang bathil daripada yang haq.

Wa annalladziina aamanut taba’ul haqqa mir rabbiHim kadzaalika yadlribul laaHun naasi amtsaalaHum (“Dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang haq dari Rabb mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.”) artinya, Allah menjelaskan kepada mereka tempat kembali perbuatan mereka, dan apa yang akan mereka alami ketika digiring kepada-Nya pada hari pembalasan mereka. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat Muhammad ayat 4-9“4. apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) Maka pancunglah batang leher mereka. sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka Maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. 5. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki Keadaan mereka, 6. dan memasukkan mereka ke dalam jannah yang telah diperkenankanNya kepada mereka. 7. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. 8. dan orang-orang yang kafir, Maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. 9. yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad ayat 5-9)

Allah berfirman seraya memberikan bimbingan kepada orang-orang Mukmin tentang apa yang mereka tuju dalam peperangan mereka melawan orang-orang musyrik: fa idzaa laqiitumul ladziina kafaruu fadlarbar riqaabi (“Apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir [di medan perang], maka pancunglah batang leher mereka.”) artinya jika kalian mendapati mereka, maka penggallah leher mereka dengan pedang. hattaa idzaa atskhantumuuHum (“Sehingga apabila kalian telah mengalahkan mereka.”) maksudnya, menghancurkan mereka dengan membunuhnya.
Fa syuddul watsaaq (“Maka tawanlah mereka.”) yakni para tawanan yang kalian tawan. Setelah selesai perang dan berakhirnya pertempuran, kalian diberi pilihan mengenai keberadaan mereka; jika kalian menghendaki, kalian boleh melepaskan tawanan itu secara Cuma-Cuma, dan jika kalian mau kalian juga bisa meminta tebusan harta dari mereka dan menjadikannya sebagai syarat bagi mereka. Yang jelas ayat ini turun setelah terjadinya perang Badr, dimana Allah mencela orang-orang yang beriman atas tindakan mereka memperbanyak tawanan pada hari itu, dengan tujuan supaya mereka dapat mengambil tebusan, dan pada hari yang sama mereka tidak banyak membunuh. Oleh karena itu Allah berfirman:

“67. tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 68. kalau Sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (al-Anfaal: 67-68)

Ada sebagian ulama yang mengklaim bahwa ayat yang memberikan pilihan antara pengambilan tebusan atas tawanan atau melepaskannya secara cuma-cuma ini mansukh [dihapus] oleh firman Allah yang artinya: “apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (at-Taubah: 5)

Demikian yang diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas, Qatadah, adl-Dlahhak, as-Suddi, dan Ibnu Juraij berkata: “Ulama lain, yang merupakan kelompok mayoritas mengemukakan, bahwa ayat tersebut tidak mansukh.”

Cara Wahyu Allah Turun kepada Para Rasul

9 Apr

Seri: Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an

Allah memberikan wahyu kepada para Rasul-Nya ada yang melalui perantara (melalui Jibril, malaikat pembawa wahyu) dan ada yang tidak melalui perantara (diantaranya: mimpi yang benar dalam tidur)
a. Mimpi yang benar dalam tidur. Dari ‘Aisyah r.a. dia berkata: “Sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah saw. adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan terangnya pagi hari.”
Hal itu merupakan persiapan bagi Rasulullah saw. untuk menerima wahyu dalam keadaan sadar, tidak tidur. Di dalam al-Qur’an wahyu diturunkan ketika beliau dalam keadaan sadar, kecuali bagi orang yang mendakwakan bahwa Surah al-Kautsar diturunkan melalui mimpi, karena adanya satu hadits mengenai hal itu. Di dalam shahih Muslim, dari Anas r.a. dia berkata: “Ketika Rasulullah saw. pada suatu hari berada di antara kami di dalam masjid, tiba-tiba beliau mendengkur, lalu beliau mengankat kepala dalam keadaan tersenyum. Aku tanyakan kepadanya: ‘Apakah yang menyebabkan engkau tertawa wahai Rasulallah?’ Ia menjawab: ‘Tadi telah turun kepadaku sebuah surah.’ Lalu beliau membaca: ‘BismillaaHir rahmaanir rahiim, innaa a’thainaakal kautsar, fa shalli lirabbika wanhar, inna syaani-aka Huwal abtar.”
Mungkin keadaan mendengkur itu adalah keadaan yang dialaminya ketika wahyu turun.
Di antara alasan yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para nabi adalah wahyu yang wajib diikuti, ialah mimpi nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya, Ismail [inilah pendapat yang benar, bukannya Ishak; disebabkan khabar gembira itu pertama-tama adalah mengenai Ismail sebelum Ishak. Karena Ismail-lah yang dibesarkan di jazirah Arab dimana kisah penyembelihan terjadi; dan karena dialah yang disifati dengan penyabar itu].
“101. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. 102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. 103. tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). 104. dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, 105. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. 107. dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, 109. (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. 110. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 111. Sesungguhnya ia Termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. 112. dan Kami beri Dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang Nabi yang Termasuk orang-orang yang saleh.” (as-Shaaffat: 101-112)
Mimpi yang benar itu tidaklah khusus bagi para rasul saja. Mimpi yang demikian itu tetap ada pada kaum mukminin, sekalipun mimpi itu bukan wahyu; hal itu seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw.: “Wahyu itu terputus, tetapi berita-berita gembira tetap ada, yaitu mimpi orang mukmin.”
Mimpi yang benar bagi para nabi di waktu tidur itu merupakan bagian pertama dari sekian macam cara Allah berbicara seperti disebutkan dalam firman-Nya yang artinya: “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (asy-Syura: 51)
b. Yang lain adalah kalam Ilahi dari balik tabir tanpa melalui perantara. Yang demikian itu terjadi pada Nabi Musa a.s.
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. (al-A’raaf: 143)
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (al-Maa-idah: 164)
Demikian pula menurut pendapat yang paling sah, Allah pun telah berbicara secara langsung kepada Rasul kita Muhammad saw. pada malam Isra’ dan Mi’raj. Yang demikian itu termasuk bagian kedua dari apa yang disebutkan oleh ayat di atas (atau dari balik tabir). Dan di dalam al-Qur’an wahyu semacam inipun tidak ada.
Sumber: studi ilmu-ilmu al-qur’an; Mannaa’ Khalil al-Qattaan