Tafsir Al-Qur’an Surah Faathir (5)

11 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Faathir
Surah Makkiyyah; Surah ke 35: 45 ayat

Wa yaumal qiyaamati yakfuruuna bisyirkikum (“Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu”) yaitu mereka membebaskan diri dari kalian. Firman Allah: wa laa yunab-bi-uka mitstu khabiir (“Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Mahamengetahui”) yaitu tidak ada yang dapat memberikan kabar kepada kalian tentang akibat dan tempat kembali berbagai urusan dan apa yang terjadi di dalamnya, seperti kabar yang diberikan oleh Rabb Yang Mahamengetahui. Qatadah berkata: “Yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala sendiri. Karena Dia mengabarkan tentang sesuatu yang pasti terjadi.”

tulisan arab alquran surat fathir ayat 15-18“15. Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. 16. jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). 17. dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. 18. dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu Tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya dan mereka mendirikan sembahyang. dan Barangsiapa yang mensucikan dirinya, Sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. dan kepada Allahlah kembali(mu).” (Faathir: 15-18)

Allah mengabarkan tentang ketidak butuhan-Nya kepada selain-Nya, serta butuhnya seluruh makhluk dan ketundukan mereka kepada-Nya. Allah berfirman: yaa ayyuhan naasu antumul fuqaraa-u ilallaaH (“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah”) yaitu mereka membutuhkan-Nya dalam seluruh gerakan dan diamnya. Sedangkan Dia, Allah Ta’ala adalah (Yang Mahakaya) Yang tidak membutuhkan mereka. Untuk itu Allah berfirman: wallaaHu Huwal ghaniyyul hamiid (“Dan Allah Dia-lah yang Mahakaya [tidak memerlukan sesuatu] lagi Mahaterpuji.”) yaitu Dia yang Tunggal dalam kekayaan-Nya, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Mahaterpuji dalam seluruh apa yang dilakukann, dikatakan, ditaqdirkan dan disyariatkan-Nya.

Firman Allah: iy yasya’ yudz-Hibkum wa ya’ti bikhalqin jadiid (“Jika Dia menghendaki niscaya Dia akan melenyapkan kalian hai manusia, dan akan mendatangkan kaum yang lain selain kalian. Semua itu bukanlah sesuatu yang sulit, dan tidak ada yang mampu mencegah-Nya. Untuk itu Allah berfirman: wa maa dzaalika ‘alallaaHi bi-‘aziiz (“Dan yang demikian itu sekali-sekali tidak sulit bagi Allah”)

Firman Allah: Wa laa taziru waaziratuw wizra ukhraa (“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”) yaitu pada hari kiamat. Wa in tad’u mitsqalatun ilaa himliHaa (“Dan jika seseorang yang berat beban dosanya memanggil [orang lain] untuk memikul dosanya itu”) yakni jika seseorang yang berat beban dosanya memanggil untuk minta tolong guna memikulkan dosanya atau sebagian dosa itu, laa yuhmal minHu syai-aw walaw kaana dzaa qurbaa (“Tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun [yang dipanggilnya itu] kaum kerabatnya.”) yaitu sekalipun kerabatnya dan sekalipun ayahnya atau anaknya, semuanya sibuk dengan diri dan masalahnya sendiri.

Kemudian Allah berfirman: innamaa tundzirul ladziina yakhsyauna rabbaHum bil ghaibi wa aqaamush shalaata (“Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada adzab Rabb-nya [sekalipun] mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan shalat.”) yaitu orang yang dapat mengambil pelajaran dari risalah yang engkau bawa hanyalah orang-orang yang memiliki mata hati dan akal yang takut kepada Allah serta melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.

Waman tazakkaa fa-innamaa yatazakkaa linafsiHi (“Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri.”) yaitu barangsiapa yang beramal kebaikan, maka manfaatnya hanya akan kembali untuk dirinya sendiri. Wa ilallaaHil Mashiir (“Dan kepada Allah-lah kembali[mu]”) yaitu hanya kepada-Nya tempat kembali dan berserah diri, dan Dia Mahacepat perhitungan-Nya, setiap pelaku akan dibalas sesuai dengan amalnya. Jika amalnya baik, maka akan dibalas kebaikan dan jika amalnya buruk maka akan dibalas keburukan.

tulisan arab alquran surat fathir ayat 19-26“19. dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. 20. dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya, 21. dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas, 22. dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar. 23. kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. 24. Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. 25. dan jika mereka mendustakan kamu, Maka Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa mukjizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. 26. kemudian aku azab orang-orang yang kafir; Maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku.” (Faathir: 19-26)

Allah berfirman: “Sebagaimana tidak adanya persamaan sesuatu yang saling berbeda dan bertentangan ini, seperti tidak samanya antara orang yang buta dengan orang yang melihat, bahkan keduanya memiliki perbedaan yang sangat banyak. Begitu pula tidak adanya persamaan antara gelap dan cahaya serta antara yang teduh dan yang panas, maka tidak sama pula antara orang-orang yang hidup dengan orang yang mati.” Ini adalah perumpamaan yang dibuat oleh Allah tentang orang-orang yang beriman, mereka itu adalah orang-orang yang hidup.

Dan orang-orang kafir, mereka itu adalah orang-orang yang mati. Sebagaimana firman Allah:
Matsalul fariqaini kal a’maa wal ashamma wal bashiiri was samii’i Hal yastawiyaani matsalan (“Perbadingan kedua golongan itu [orang-orang kafir dan orang-orang mukmin], seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya?”)(Huud: 24).

Seorang yang beriman adalah orang yang dapat melihat dan mendengar dalam cahaya, berjalan di atas jalan yang lurus di dunia dan di akhirat, sehingga kondisinya kokoh di dalam surga yang berisi pohon-pohon yang teduh dan mata air yang mengalir. Sedangkan orang kafir, dia buta dan tuli yang berjalan dalam kegelapan tanpa memiliki jalan keluar. Bahkan, dia bingung dalam penyimpangan dan kesesatan di dunia dan akhirat, sehingga dia terjerumus pada angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih dan dalam naungan asap yang hitam yang tidak sejuk dan tidak menyenangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: