Tafsir Al-Qur’an Surah Faathir (6)

11 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Faathir
Surah Makkiyyah; Surah ke 35: 45 ayat

Firman Allah: innallaaHa yusmi’u may yasyaa-u (“Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya”) yaitu memberikan petunjuk kepada mereka untuk mendengarkan, menerima dan tunduk kepada hujjah. Wa maa anta bimusmi’im mang fil qubuur (“Dan kamu sekali-sekali tidak sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar”) yaitu sebagaimana orang-orang yang mati tidak dapat mengambil manfaat dari hidayah dan dakwah yang ditujukan kepadanya setelah kematian dan keberadaan mereka di dalam kubur, sedangkan mereka adalah orang-orang kafir, begitu pula orang-orang musyrik yang ditentukan kecelakaan bagi mereka, dimana tidak ada lagi bagi mereka alasan dan tidak ada lagi yang sanggup memberikan hidayah kepada mereka.

In anta illaa nadziir (“Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan”) kewajiban engkau hanyalah menyampaikan dan memberikan peringatan. Sedangkan Allah menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya serta memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Innaa arsalnaaka bil haqqi basyiiraw wa nadziiran (“Sesungguhnya Kami mengutusmu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.”) yaitu pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman dan pemberi peringatan bagi orang-orang kafir. Wa im min ummati illaa khalaa fiiHaa nadziirun (“Dan tidak ada satu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.”) yaitu tidak ada satu umatpun yang telah berlalu diantara manusia melainkan Allah Ta’ala telah mengutus kepada mereka para Rasul pemberi peringatan serta menolak berbagai alasan dari mereka. Sebagaimana Allah berfirman: innamaa anta mundziruw wa likulli qumin Haad (“Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk”) (Ar-Ra’d: 7)

Firman Allah: wa iy yukadzdzibuuka faqad kadzdzabal ladziina ming qabliHim jaa-atHum rusuluHum bil bayyinaati (“Dan jika mereka mendustakanmu, maka sesungguhnya orang-orang sebelum mereka telah mendustakan [para Rasul-Nya]; kepada mereka telah datang Rasul-Rasul-Nya dengan membawa mukjizat yang nyata.”) yaitu mukjizat yang nyata dan dalil-dalil yang kuat. Wa bizzuburi (“Zubur”) yaitu kitab-kitab. Wa bil kitaabil muniir (“Dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.”) yaitu yang tegas dan jelas. Tsumma akhadz-tulladziina kafaruu (“Kemudian Aku adzab orang-orang yang kafir”) yaitu disamping semua itu, mereka mendustakan para Rasul mereka tentang risalah yang mereka bawa, sehingga Aku menghukum mereka dengan siksaan dan hinaan. Fa kaifa kaana nakiir (“Maka lihatlah bagaimana [hebatnya] akibat kemurkaan-Ku”) yaitu bagaimana engkau melihat bahwa kemurkaan-Ku terhadap mereka begitu besar, dahsyat dan kuat. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat fathir ayat 27-28“27. tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. 28. dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Faathir: 27-28)

Allah Ta’ala berfirman mengingatkan tentang kesempurnaan kekuasaan-Nya dalam menciptakan sesuatu yang berbeda bentuknya dari unsur yang satu, yaitu air yang diturunkan-Nya dari langit. Dengan air itu, keluarlah buah-buahan dengan warna yang berbeda-beda, juga rasa dan baunya. Allah berfirman: “dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (ar-Ra’du: 4)

Firman Allah: wa minal jibaali judadum biidluw wa humrum mukhtalifun alwaanuHaa (“Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya.”) yaitu Diapun menciptakan gunung-gunung dengan warna yang berbeda-beda –seperti yang dapat disaksikan- berupa warna putih dan warna merah. Di sebagian gunung-gunung itu terdapat jalan-jalan. Itulah al judad yang merupakan jamak dari juddaH yang warnanya berbeda-beda. Ibnu ‘Abbas berkata: “Judadun adalah jalan-jalan.” Demikian pula yang dikatakan oleh Abu Malik, al-Hasan, Qatadah dan as-Suddi. Di antara jalan-jalan tersebut terdapat gharaabiibu suud. ‘Ikrimah berkata: “Al-Gharaabiibu adalah gunung-gunung tinggi yang hitam.” Demikian pula yang dikatakan oleh Abu Malik, ‘Atha’ al-Khurasani dan Qatadah. Ibnu Jarir berkata: “Jika orang Arab, menggambarkan sesuatu yang hitam pekat dengan “aswadu gharbiib”.

Firman Allah: wa minan naasi wad-dawaabbi wal an’aami mukhtalifun alwaanuHuu kadzaalika (“Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya [dan jenisnya]”) yaitu, demikian pula halnya makhluk-makhluk hidup, berupa manusia dan ad-dawaab, yaitu binatang melata, yakni setiap binatang yang berjalan dengan empat kaki. Al-an’aam (binatang ternak) merupakan bentuk khusus yang disertakan kepada sesuatu yang umum, dan demikian pula, iapun berbeda-beda. Sedangkan di antara manusia ada bangsa barbar, Habsy, dan Thumathim yang sangat hitam, serta bangsa Shaqalibah dan Romawi yang sangat putih dan bangsa Arab ada di antara mereka, sedangkan bangsa Hindi di bawah mereka. Untuk itu Allah berfirman dalam surat ar-Ruum: 22: “Dan berlain-lainannya bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui.”

Firman Allah: innamaa yakhsyallaaHa min ‘ibadiHil ‘ulamaa-u (“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”) yaitu sesungguhnya orang-orang yang takut kepada-Nya dengan sebenar-benarnya adalah para ulama yang mengenal-Nya. Karena, setiap kali bertambah sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah Yang Mahaagung lagi Mahamengetahui, maka setiap kali itu pula rasa takut itu semakin besar dan semakin banyak.
Ibnu Laihai’ah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Di antara hamba-hamba-Nya yang mengetahui tentang Allah adalah orang yang tidak menyekutukan-Nya, menghalalkan apa-apa yang dihalalkan-Nya, mengharamkan apa-apa yang diharamkan-Nya dan meyakini tentang perjumpaan dengan-Nya dan bahwasannya amalnya akan dihitung.”
Said bin Jubair berkata: “Al-Khasy-syah [rasa takut] adalah sesuatu yang menghalangi antara engkau dengan maksiat kepada Allah.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: