Tafsir Al-Qur’an Surah Faathir (10)

24 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Faathir
Surah Makkiyyah; Surah ke 35: 45 ayat

Tercantum pula di dalam sebuah hadits shahih bahwa Rasulullah saw. hidup selama 63 tahun.
Firman Allah: wa jaa-akumun nadziir (“Dan [telah] datang kepadamu pemberi peringatan.”) diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ‘Ikrimah, Abu Ja’far al-Baqir, Qatadah dan Sufyan bin ‘Uyainah bahwa mereka berkata: “An-nadziir yaitu uban.”

As-Suddi dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Yang dimaksud dengan an-nadziir adalah Rasulullah saw.”
Ibnu Zaid membaca: Haadzaa nadziirum minan nudzuril uulaa (“Inilah [Muhammad] adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu.” (an-Najm: 56) inilah yang shahih dari Qatadah sesuai yang diriwayatkan oleh Syaiban bahwa ia berkata: “Ia akan berdalil dengan umur dan para Rasul terhadap mereka.” Dan inilah pilihan Ibnu Jarir dan itulah pendapat yang lebih jelas.

Firman Allah yang artinya: “8. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab: “Benar ada”, Sesungguhnya telah datang kepada Kami seorang pemberi peringatan, Maka Kami mendustakan(nya) dan Kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”. (al-Mulk: 8-9)

Firman Allah: fadzuuquu famadz dzaalimiina min nashiir (“Maka rasakanlah [azab kami] dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun.”) yaitu maka rasakanlah adzab api neraka sebagai balasan bagi pembangkangan kalian kepada para Nabi di masa kalian beramal [masih hidup]. Kalian pada hari ini tidak memiliki penolong yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab, hukuman dan belenggu yang kalian alami.

tulisan arab alquran surat fathir ayat 38-39“38. Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala isi hati. 39. Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.” (Faathir: 38-39)

Allah mengabarkan tentang pengetahuan-Nya terhadap hal-hal yang ghaib di langit dan di bumi serta mengetahui apa saja yang disimpan dalam rahasia dan disembunyikan di dalam hati sanubari. Dia akan membalas setiap pelaku sesuai dengan apa yang dilakukannya. Kemudian Allah berfirman: Huwalladzii ja-‘alakum khalaa-ifa fil ardli (“Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi.”) yaitu suatu kaum menggantikan kaum lain yang sebelumnya, dan suatu generasi menggantikan generasi lain sebelumnya. Famang kafara fa-‘alaiHi kufruHu (“Barang siapa kafir, maka [akibat] kekafirannya menimpa dirinya sendiri.”) yaitu bahaya kekufurannya itu hanya akan kembali kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang lain.

Walaa yaziidul kaafiriina kufruHum ‘inda rabbiHim illaa maqtan (“Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Rabb mereka.”) yaitu setiap kali mereka terus berada dalam kekufufan mereka, maka setiap kali itu pula Allah murka kepada mereka, dan setiap kali mereka terus berada di dalamnya, setiap kali itu pula mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari kiamat. Berbeda dengan orang-orang yang beriman yang mana setiap kali salah seorang di antara mereka bertambah umurnya dan baik amalnya, maka setiap kali itu pula meningkat derajat dan kedudukannya di dalam surga, bertambah pahalanya, serta dicintai oleh Penciptanya, Rabb semesta alam.

tulisan arab alquran surat fathir ayat 40-4140. Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau Adakah Kami memberi kepada mereka sebuah kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka”. 41. Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Faathir: 40-41)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik: ara-aitum syurakaa-akumulladziina tad’uuna min duunillaaHi (“Terangkanlah kepadaku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah.”) yaitu berhala-berhala dan tandingan-tandingan.
Aruunii maa dzaa khalaquu minal ardli am laHum syirkun fis samaawaati (“Perlihatkanlah kepadaku [bagian] manakah dari bumi yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam [penciptaan] langit.”) Yaitu mereka tidak memiliki sesuatu sedikitpun dalam masalah tersebut serta tidak memiliki satu bagian kecilpun.

Am aatainaaHum kitaaban faHum ‘alaa bayyinatim minHu (“Atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas dari padanya.”) yaitu ataukah Kami memberi kepada mereka al-Kitab mengenai apa yang mereka katakan tentang kesyirikan dan kekufuran? Sebenarnya tidaklah demikian. Bal iy ya-‘idudz dzaalimuuna ba’dluHum ba’dlan illaa ghuruuran (“Sebenarnya orang-orang yang dzalim itu sebagian dari mereka tidak menjanjikan kepada yang sebagian lainnya melainkan tipuan belaka.” Bahkan, mereka hanyalah mengikuti hawa nafsuk, logika dan angan-angan yang muncul dari mereka sendiri, itu semua merupakan tipu daya, kebathilan, dan kebohongan. Kemudian Allah mengabarkan tentang kekuasaan-Nya yang besar, dimana dengan itu berdirilah langit dan bumi dengan perintah-Nya, dan pada apa yang Dia jadikan pada keduanya berupa kekuatan yang kokoh. innallaaHa yumsikus samaawaati wal ardli an tazuulaa (“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap.”) yaitu Allah menahan keduanya dari kegoncangan (bergeser) dari tempatnya, sebagaimana firman Allah: wa yumsikus samaa-a an taqa’a ‘alal ardli illaa bi idzniH (“Dan Dia menahan [benda-benda] langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya.”) (al-Hajj: 65)

Wa la in zaalataa in amsakaHumaa min ahadim mim ba’diHi (“Dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah.”) yaitu tidak ada yang sanggup mempertahankan keadaan keduanya secara terus menerus kecuali Dia, dan disamping itu Dia Mahapenyantun lagi Mahapengampun. Yaitu jika Dia melihat hamba-hamba-Nya berbuat kufur dan maksiat, Dia amat pemurah, ditunda, ditunggu dan diakhirkan adzab-Nya, serta tidak disegerakan, juga menutupinya dari yang lain dan mengampuni-Nya. Untuk itu Allah berfirman: innaHuu kaana haliiman ghafuuran (“Sesungguhnya Dia adalah Mahapenyantun lagi Mahapengampun.”

Allah telah mengabarkan dalam Kitab-Nya bahwa Dia adalah: al-hayyul qayyuumu laa ta’khudzuHuu sinatuw walaa nauum. laHuu maa fis samaawaati wamaa fil ardli (“Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus [makhluk-Nya]; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.” (al-Baqarah: 255).

Dan tercantum di dalam ash-Shahihain, bahwa Abu Musa al-Asy’ari berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak tidur dan tidak patut untuk tidur. Dia menurunkan dan menaikkan keadilan [timbangan]. Dinaikkan kepada-Nya amal di waktu malam sebelum siang dan [dinaikkah kepada-Nya] amal di waktu siang sebelum malam. Hijab-Nya adalah cahaya atau api. Seandainya Dia membukanya, niscaya wajah-Nya akan membakar apa saja dari makhluk-Nya [maksudnya seluruh makhluknya] yang dijangkau oleh pandangan-Nya.”

Di dalama sebuah kitab karya al-Faqih Yahya bin Ibrahim bin Muzain ath-Thilathali yang diberi nama Siyarul Fuqaha, Zaunan yaitu Abdul Malik bin al-Husain menceritakan kepada kami dari Ibnu Wahab bahwa Malik berkata: “Langit itu tidak berputar.” Dia berdalil dengan ayat ini: innallaaHa yumsikus samaawaati wal ardli an tazuulaa; dan sebuah hadits: “Sesungguhnya di barat terdapat sebuah pintu taubat yang senantiasa terbuka, hingga matahari terbit di sana.” Menurutku hadits ini shahih. wallaaHu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: