Tafsir Al-Qur’an Surah Faathir (11)

24 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surah Faathir
Surah Makkiyyah; Surah ke 35: 45 ayat

tulisan arab alquran surat fathir ayat 42-43“42. dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; Sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, Maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), 43. karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (Faathir: 42-43)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang suku Quraisy dan bangsa Arab bahwa mereka bersumpah kepada Allah dengan sekuat-kuat sumpah sebelum diutusnya Rasul kepada mereka. Sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan menjadi lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat, yaitu dari seluruh umaat lain yang didatangi oleh para Rasul. Itulah yang dikatakan oleh adl-Dlahhak dan yang lainnya.

Allah berfirman: falammaa jaa-aHum nadziirun (“Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan”) yaitu Muhammad bersama dengan Kitab yang agung, yang diturunkan kepadanya, yaitu al-Qur’anul Mubiin. Maa zaadaHum illaa nufuuran (Maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari kebenaran.”) yaitu tidak menambah apa-apa bagi mereka kecuali bertambahnya kekufuran di atas kekufuran mereka. Kemudian, Dia menjelaskan tentang hal itu dengan firman-Nya: istikbaaran fil ardli (“Karena kesombongan [mereka] di muka bumi.”) yaitu sombong untuk mengikuti ayat-ayat Allah. Wa makras sayyi-i (“Dan [karena] rencana mereka yang jahat.”) yaitu mereka tipu manusia dengan menghalangi mereka dari jalan Allah.

Wa laa yahiiqul makrus sayyi-u illaa bi-aHliHi (“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.”) yaitu bahayanya tidak akan kembali kecuali kepada diri mereka sendiri, tidak kepada orang lain. Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi berkata: “Tiga hal, yang barangsiapa melaksanakannya, dia tidak akan selamat, hingga turun kepadanya tipu daya, kedzaliman dan pelanggaran sumpah (janji).” Dan itu dibenarkan dalam kitab Allah Ta’ala, Wa laa yahiiqul makrus sayyi-u illaa bi-aHliHi (“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.”) dan firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya [bencana] kedzalimanmu akan menimpa dirimu sendiri.” (Yunus: 23) dan juga firman-Nya yang artinya: “Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri.” (al-Fath: 10)

Firman Allah: faHal yandzuruuna illaa sunnatal aw-waliin (“Tidaklah yang mereka nanti-nantikan melainkan [berlakunya] sunnah [Allah yang telah berlaku] kepada orang-orang yang terdahulu.”) yaitu hukuman Allah kepada mereka atas kedustaan mereka terhadap para Rasul dan menyelisihi perintah mereka.
Falan tajida lisunnatillaaHi tabdiilan (“Maka sekali-sekali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah.”) yaitu tidak berubah dan tidak berganti, bahkan akan berlaku kepada setiap pendusta. Falan tajida lisunnatillaaHi tahwiilan (“Maka sekali-sekali kamu tidak akan mendapat penyimpangan bagi sunnah Allah itu.”) yaitu: wa idzaa araadallaaHu biqaumin suu-an falaa maraddalaHu (“Dan apabila Allah mengehendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya.”)(ar-Ra’du: 11) yaitu tidak akan terlepas dan luput dari mereka sedikitpun.

tulisan arab alquran surat fathir ayat 44-45“44. dan Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. 45. dan kalau Sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Faathir: 44-45)

Allah berfirman: “Katakanlah hai Muhammad kepada orang-orang yang mendustakan risalah yang engkau sampaikan kepada mereka: ‘Berjalanlah di muka bumi, lalu lihatlah bagaimana akibat buruk yang menimpa orang-orang yang mendustakan para Rasul. Bagaimana Allah menghancurkan mereka dan orang-orang kafir yang sama seperti mereka? Rumah-rumah mereka telah hancur, dan telah dicabut kenikmatan yang telah mereka dapatkan setelah sebelumnya sempurna kekuatan mereka dan banyaknya jumlah mereka, serta banyaknya harta dan anak-anak mereka. Semua itu tidak dapat membela mereka sedikitpun dan tidak dapat menolak dari adzab Allah sedikitpun, tatkala perintah Rabb-mu itu datang. Karena tidak ada yang mampu melemahkan Allah Ta’ala, jika Dia hendak menjadikan sesuatu di langit dan di bumi.”

innaHuu kaana ‘aliimang qadiiran (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahakuasa.”) yaitu Mahamengetahui seluruh kejadian serta Mahakuasa secara mutlak. Kemudian Allah berfirman: walau yu-aakhidzullaahun naasa bimaa kasabuu maa taraka ‘alaa dzohriHaa min daab-baH (“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun.”) yaitu seandainya Dia menghukum mereka dengan seluruh dosa mereka, niscaya binasalah seluruh penghuni langit dan bumi serta apa saja yang mereka miliki berupa binatang melata dan rizky mereka.

Ibnu Hatim berkata: “Sa’id bin Jubair dan as-Suddi berkata, tentang firman Allah: maa taraka ‘alaa dzohriHaa min daab-baH (“Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun.”) yaitu ketika hujan tidak turun kepada mereka, niscaya matilah seluruh binatang melata.

Walakiy yu-akh-khiruHum ilaa ajalim musammaa (“Akan tetapi Allah menangguhkan [penyiksaan] mereka, sampai waktu yang tertentu.”) yaitu akan tetapi Dia menunggu mereka hingga hari kiamat, lalu Dia akan menghisab mereka pada waktu itu dan setiap pelaku akan dibalas sesuai perbuatannya. Dia akan membalas pelaku taat dengan pahala dan pelaku maksiat dengan siksaan. Untuk itu Allah berfirman: fa idzaa jaa-a ajaluHum fa innallaaHa kaana bi-‘ibaadiHii bashiiran (“Maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Mahamelihat [keadaan] hamba-hamba-Nya.”)
Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: