Tayamum (Thaharah)

25 Apr

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab

Para imam madzab sepakat bahwa tayamum adalah dengan tanah yang suci (ash-sha’id), ketika tidak ada air atau ada air; tetapi takut menggunakannya. Namun, mereka berbeda pendapat tentang hakekat ash-sha’id. Syafi’I dan Hambali: ash-Sha’id adalah at-turab (tanah). Oleh karena itu, boleh bertayamum kecuali dengan tanah yang suci atau dengan pasir berdebu. Hanafi dan Maliki: ash-sha’id adalah al-ardl (tanah). Oleh karena itu bertayamum dengan tanah dan segala macam bagiannya walaupun dengan batu yang tidak bertanah dan pasir yanag tidak berdebu.
Maliki menambahkan: boleh bertayamum dengan apa saja yang berkaitan dengan bumi, seperti tumbuh-tumbuhan.
Syafi’I dan Maliki: mencari air terlebih dahulu merupakan syarat dibolehkannya tayamum. Hanafi: mencari air tidak merupakan syarat. Hambali: wajib mencari air.
Para imam madzab sepakat bahwa orang junub boleh bertayamum seperti orang yang berhadats kecil. Musafir yang mempunyai air sedikit dan takut kehausan boleh menyimpan air tersebut untuk minum, lalu ia bertayamum.
Hanafi dan qaul jaded Syafi’i: mengusap kedua tangan dalam tayamum adalah sampai ke siku. Maliki dan Hambali: mengusap sampai ke siku adalah mustahab (sunnah), sedangkan sampai ke pergelangan tangan adalah wajib.

Diriwayatkan dari az-Zuhri, “Mengusap tangan itu sampai ke ketiak.”
Empat imam madzab sepakat bahwa seseorang berhadats yang bertayamum, lalu ia mendapatkan air sebelum shalat, maka tayamumnya batal dan ia wajib bersuci dengan air itu. Namun, mereka berbeda pendapat jika diperoleh air sesudah shalat.
Syafi’i: jika shalat itu termasuk shalat yang dapat gugur kewajibannya karena tayamum, seperti shalat orang musafir, maka shalatnya tidak batal. Ia boleh meneruskan shalatnya, tetapi menghentikan shalatnya untuk wudlu adalah lebih baik.

Maliki: ia boleh meneruskan shalatnya, tidak perlu digugurkan, dan shalatnya sah. Hanafi: tayamum batal dan ia wajib keluar dari shalat untuk berwudlu dengan air, kecuali jika shalat itu shalat jenazah dan shalat hari raya. Hambali: tayamumnya batal secara mutlak.
Para imam madzab sepakat bahwa jika seseorang melihat air setelah shalat, maka ia wajib mengulangi shalatnya, walaupun waktu shalat masih ada.

Menurut kesepakatan para imam madzab, tayamum tidak dapat menghilangkan hadzats. Dawud berpendapat tayamun dapat menghilangkan hadat, namun pendapat ini lemah karena kalau dapat menghilangkan hadats besar, kenapa tayamum batal ketika diperoleh air.
Syafi’i, Maliki, dan Hambali: tidak boleh mengerjakan dua shalat fardlu dengan satu tayamum, baik bagi orang yang mukim maupun musafir. Demikian juga pendapat sejumlah shahabat Nabi saw. dan tabi’in. sedangkan Hanafi berpendapat bahwa tayamum seperti wudlu. Boleh mengerjakan beberapa shalat dengan satu tayamum hingga diperoleh air. Demikian juga pendapat ats-Tsawri dan al-Hasan.

Para Imam Madzab sepakat bahwa niat merupakan syarat sahnya tayamum. Mereka juga sepakat bahwa tayamum tidak menghilangkan hadats, melainkan sekedar membolehkan shalat. Namun Hanafi berpendapat: tayamum dapat menghilangkan hadats.
Menurut ijma’ orang yang bertayamum boleh mengimami shalat orang yang berwudlu dan orang yang bertayamum. Demikian. Namun diriwayatkan dari Rabi’ah dan Muhammad bin al-Hasan bahwa mereka tidak membolehkan hal itu.
Menurut pendapat Maliki, Syafi’i, dan Hambali: tidak boleh bertayamum sebelum masuk waktu shalat. Sedangkan Hanafi membolehkannya.

Tiga Imam Madzab sepakat bahwa tidak boleh bertayamum untuk shalat hari raya dan shalat jenazah dalam hadhar (bukan dalam perjalanan), meskipun khawatir tidak akan dapat dikerjakan kecuali dengan tayamum. Akan tetapi, Hanafi membolehkannya.
Mereka berbeda pendapat tentang seseorang yang tidak dalam perjalanan kesulitan memperoleh air. Sementara itu, ia khawatir waktu shalat akan habis jika mengambil air yang letaknya jauh. Jika mengambilnya, diperkirakan matahari segera terbit. Dalam hal ini Imam Syafi’i berpendapat: hendaknya ia bertayamum, kemudian shalat. Setelah mendapat air, ia mengulang shalatnya.

Menurut Maliki, hendaknya ia bertayamum dan shalat tanpa harus mengulangi shalatnya jika memperoleh air. Sedangkan menurut Hanafi, hendaknya ia menunda shalatnya hingga memperoleh air, lalu mengerjakan shalat yang ditinggalkannya.
Barangsiapa merasa khawatir akan mati jika menggunakan air, ia boleh bertayamum. Di dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Akan tetapi jika ia takut akan bertambah parah sakitnya, bertambah lama sembuhnya, atau takut menimbulkan sakit baru, tetapi tidak khawatir mati, maka menurut Hanafi, Syafi’i, dan Hambali, ia boleh bertayamum tanpa harus mengulangi shalatnya –setelah hilang kekhawatirannya.
Atha’ dan al-Hasan berpendapat: orang sakit tidak boleh bertayamum sama sekali kecuali ketika tidak ada air.

Barangsiapa yang mendapatkan air sedikit, yang tidak cukup untuk sekali berwudlu, maka menurut pendapat terkuat Syafi’i, ia boleh menggunakan air yang ada sebelum bertayamum. Hambali: dibasuh bagian-bagian yang dapat dibasuh dengan air itu, sedangkan anggota lainnya ditayamumi. Sementara itu, imam lainnya berpendapat bahwa tidak wajib menggunakan air itu dan boleh bertayamum.

Barangsiapa yang sebagian anggota badannya terluka atau terputus lalu diperban dan ia takut bertambah parah jika dilepas perbannya, dalam hal ini Syafi’i berpendapat: hendaknya ia mengusap kainnya selain bertayamum. Hanafi dan Maliki: apabila sebagian tubuhnya sehat dan sebagiannya terluka maka gugurlah hukum luka. Namun lebih disukai jika ia mengusap lukanya dengan air. Akan tetapi, jika bagian luka yang terluka lebih besar daripada bagian yang sehat maka hendaklah ia bertayamum dan gugur kewajiban membasuh anggota yang terluka. Sementara itu Hambali berpendapat bahwa yang bagian sehat dibasuh dan bagian yang terluka ditayamumi.

Apabila seseorang mengusap perban, lalu ia shalat, maka ia tidak dituntut untuk mengulangi shalatnya. Namun Syafi’i berpendapat sebaliknya jika perban itu dibalutkan dalam keadaan berhadats dan sukar dicabut. Demikian pendapat paling kuat darinya.

Maliki dan Hambali berpendapat: orang yang mendapat tahanan kota dan tidak diperbolehkan pergi kemana-mana, maka jika ia tidak mendapat air, ia boleh bertayamum dan shalat tanpa harus mengulang shalatnya. Dari Hanafi terdapat dua riwayat, salah satunya mengatakan bahwa tidak perlu shalat hingga ia dibebaskan dari tahanan itu atau mendapatkan air. Sedangkan pendapat kedua dari Hanafi menyatakan bahwa ia harus shalat dan mengulang shalatnya. Demikian juga pendapat Syafi’i.

Orang yang lupa bahwa di kendaraannya ada air, lalu ia bertayamum dan mengerjakan shalat, kemudian ia menemukan air itu, maka ia harus mengulang shalatnya. Demikian pendapat Syafi’i dalam qaul jadid-nya. Maliki dalam sebagian riwayatnya menyatakan bahwa ia tidak perlu mengulang shalatnya, tetapi hal itu lebih baik. Sedangkan Hanafi dan Hambali berpendapat: ia tidak wajib mengulang shalatnya. Seperti itu pula dalam qaul qadim Syafi’i.

Barangsiapa yang tidak mendapatkan air dan tidak mendapatkan tanah, sedangkan waktu shalat sudah tiba, menurut Hanafi dan qaul qadim Syafi’i, ia tidak perlu shalat sehingga sebelum mendapatkan air atau tanah.
Dari Maliki terdapat juga riwayat. Pertama, seperti pendapat Hanafi. Kedua, mengerjakan shalat menurut keadaannya dan mengulanginya jika ditemukan air. Hal ini sesuai dengan qaul jadid Syafi’i dan salah satu riwayat dari Hambali. Ketiga, pendapat paling shahih, harus shalat dan tidak perlu mengulanginya. Seperti itu pula riwayat kedua dari Hambali.

Jika pada badan seseorang terdapat najis, tetapi ia tidak mempunyai sesuatu untuk menghilangkannya, sementara ia sendiri dalam keadaan suci, menurut Hambali, ia bertayamum untuk najis sebagaimana tayamum untuk hadats dan tidak perlu mengulang shalatnya, setelah memperoleh air. Sementara itu, Hanafi, Maliki, dan Syafi’i berpendapat bahwa ia tidak perlu tayamum untuk najis.

Selain itu, dalam riwayat lain Hanafi berpendapat bahwa ia tidak perlu shalat hingga mendapatkan air untuk menghilangkan najisnya. Sedangkan Syafi’i berpendapat bahwa ia boleh shalat dan harus mengulanginya, setelah memperoleh air.

Empat imam madzab berbeda pendapat tentang kadar air yang memadai dalam mengusap anggota tayamum. Hanafi dalam riwayat yang masyhur berpendapat: dua tepukan, satu untuk wajah dan satu lagi untuk kedua tangan dan siku.
Adapun pendapat yang paling shahih dalam madzab Syafi’i adalah seperti pendapat Hanafi. Namun, Syaikh Abu Hamid al-Asfarayini berpendapat, “Hal itu telah ditetapkan dalam qaul qadim dan qaul jadid Syafi’i. Oleh karena itu, mengusap wajah dan kedua tangan sampai siku adalah dengan dua kali tepukan atau beberapa kali tepukan.”

Maliki dalam riwayatnya yang paling masyhur dan Hambali berpendapat: Cukup sekali tepukan untuk mengusap muka dan dua telapak tangan, yaitu bagian dalam jari-jarinya untuk wajah dan bagian dalam telapak tangan untuk mengusap kedua tangan.
Sekian.

Sumber: Fiqih empat madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Iklan

3 Tanggapan to “Tayamum (Thaharah)”

  1. Badar 27 Agustus 2013 pada 20.54 #

    Terima kasih infonya, sangat membantu. Wassalamualaikum.

    • untungsugiyarto 28 Agustus 2013 pada 06.24 #

      wa’alaikumus salaam wr.wb. sama-sama semoga bermanfaat.

  2. untungsugiyarto 28 Agustus 2013 pada 06.24 #

    wa’alaikumus salaam wr.wb. sama-sama semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: