Haid, Istihadhah, dan Nifas (1)

29 Apr

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Haid;
Para imam madzab sepakat bahwa kewajiban shalat gugur bagi perempuan haid, yaitu selama masa haidnya. Ia tidak dituntut mengqadlanya. Ia juga diharamkan berthawaf di Baitullah, diam di dalam masjid, dan suaminya haram menyetubuhinya hingga haidnya berhenti.
Umur minimal perempuan haid adalah sembilan tahun. Demikian menurut Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Pendapat ini juga dipilih dalam madzab Hanafi.

Masa Menopause;
Para imam madzab berbeda pendapat tentang batas waktu berhentinya haid (menopause). Menurut Hanafi yang diriwayatkan oleh Hasan bin Ziyad: Sampai umur enam puluh tahun. Muhammad bin al-Hasan dalam ar-Rumiyyat: lima puluh lima tahun. Sedangkan Maliki dan Syafi’i berpendapat: tidak ada batas yang tetap bagi masa berhentinya haid. Hal ini tergantung pada keadaan suatu negeri. Hal itu berbeda-beda karena perbedaan panas dan dingin iklim suatu negeri.
Sementara itu, Hambali memiliki tiga riwayat. Pertama: lima puluh tahun untuk perempuan Arab dan bukan Arab secara mutlak. Kedua: enam puluh tahun secara mutlak. Ketiga: enam puluh tahun bagi perempuan Arab dan lima puluh tahun bagi perempuan bukan Arab.

Lama Masa Haid;
Lama minimal masa haid, menurut Syafi’i yang paling masyhur dan Hambali adalah sehari semalam dan masa maksimalnya adalah lima belas hari lima belas malam. Menurut pendapat Hanafi: masa minimal adalah tiga hari dan maksimalnya adalah sepuluh hari. Sementara itu, menurut Maliki: tidak ada batas minimalnya, bisa saja satu jam, dan batas maksimalnya adalah lima belas hari.
Adapun masa minimal suci di antara dua haid adalah lima belas hari, menurut Hanafi dan Syafi’i. Menurut Hambali: tiga belas hari. Sedangkan Maliki berpendapat: kami tidak mengetahui waktu suci yang pasti di antara dua hadi. Diriwayatkan dari sebagian shahabat maliki, bahwa masa minimalnya adalah sepuluh hari. Menurut mereka, tidak ada batas maksimalnya.

Senggama dengan Perempuan Haid;
Hanafi, Maliki dan Syafi’i: bersenang-senang dengan istri yang sedang haid diperbolehkan dari bagian pusar ke atas. Tidak boleh mendekati bagian badan dari pusar ke lutut karena hal itu haram. Sementara itu, Hambali, Muhammad bin al-Hasan, sebagian ulama madzab Maliki, dan sebagian shahabat Syafi’i berpendapat: boleh bersenang-senang dengannya kecuali pada kemaluannya.
Bersenggama dengan istri yang sedang haid pada kemaluannya dengan sengaja adalah haram, menurut kesepakatan para imam madzab. Namun jika terjadi persenggamaan, menurut Hanafi, Maliki dan Syafi’i –dalam qaul jadid dan pendapat paling kuat dari madzabnya- serta Hambali dalam salah satu riwayatnya: ia harus memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya, tetapi tidak dituntut denda.
Menurut Syafi’i: lebih disukai bersedekah satu dinar jika senggama dilakukan pada permulaan keluarnya darah dan setengah dinar jika dilakukan ketika haid hampir selesai. Sementara itu, dalam qaul qadimnya Syafi’i berpendapat: wajib membayar denda. Adapun tentang kadarnya, ada dua pendapat. Pertama (yang paling masyhur), wajib membayar satu dinar jika senggama dilakukan pada permulaan keluarnya darah dan setengah dinar jika dilakukan ketika haid hampir berakhir. Kedua, memerdekakan budak dalam keadaan apapun senggama itu dilakukan.
Hambali dalam riwayat lainnya mengatakan: bersedekah satu atau setengah dinar. Menurutnya tidak ada perbedaan antara senggama pada permulaan keluarnya darah dan ketika darah hampir berhenti.
Apabila darah haid berhenti, tidak boleh bersenggama dengan perempuan tersebut hingga ia mandi, meskipun terhentinya dari masa haid terpanjang. Demikian menurut mayoritas ulama. Bahkan, Ibn al-Mundzir mengatakan: “Hal ini menyerupai ijma’ mereka.”
Hanafi berpendapat: Jika terhentinya haid itu dari batas masa haid terpanjang, boleh bersenggama sebelum mandi. Namun, jika terhentinya itu bukan itu bukan dari batas masa haid terpanjang, tidak boleh bersenggama sebelum mandi atau ketika waktu shalatnya telah berlalu.”
Al-Awza’i dan Dawud berpendapat: apabila perempuan itu telah membasuh kemaluannya, boleh bersenggama dengannya.
Jika haid terhenti, tetapi tidak ditemukan air untuk bersuci, dalam hal ini Hanafi berpendapat: Tidak boleh besenggama hingga ia bertayamum dan shalat. Maliki: tidak boleh besenggama hingga ia mandi. Syafi’i dan Hambali: apabila sudah bertayamum, boleh bersenggama walaupun belum shalat.
(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: