Haid, Istihadhah, dan Nifas (2)

29 Apr

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Shalat dan Membaca al-Qur’an bagi Perempuan Haid
Perempuan haid adalah seperti orang junub dalam kaitannya dengan shalat. Demikian menurut kesepakatan para imam madzab. Adapun berkaitan dengan membaca al-Qur’an, Syafi’i, Hanafi dan Hambali berpendapat bahwa hukumnya sama dengan orang junub. Sementara itu dari Maliki ada dua riwayat: pertama, boleh membaca ayat asalkan sedikit. Kedua, yang dinukil dari kebanyakan shahabatnya: boleh membaca ayat sebanyak yang dikehendaki. Demikian juga pendapat Dawud.

Apakah Perempuan Hamil Mengalami Haid
Para imam madzab berbeda pendapat tentang perempuan hamil, apakah ia mengalami haid. Hanafi dan Hambali: tidak mengalami haid. Maliki: mengalami haid. Syafi’i: ada dua pendapat; tetapi yang paling shahih: ia mengalami haid.

Menentukan Masa Haid;
Empat imam Madzab berbeda pendapat mengenai perempuan yang baru selesai haid, yang darahnya melebihi masa haid maksimal. Hanafi: ia berhenti pada ukuran maksimal haid, yaitu sepuluh hari. Maliki memiliki dua riwayat, yang termasyhur adalah riwayat dari Ibnu Qasim dan lainnya: ia berhenti pada masa haid maksimal, yaitu lima belas hari. Sesudah itu, darah tersebut dipandang sebagai darah penyakit istihadhah.
Syafi’i bependapat: apabila ia bisa membedakan darah haid dengan darah penyakit, hendaknya ia berpegang pada hal tersebut. Sementara itu jika ia tidak dapa membedakannya, dalam hal ini terdapat dua pendapat. Salah satunya: dikembalikan pada kebiasaan perempuan pada umumnya, yaitu enam atau tujuh hari.
Hambali juga memiliki dua pendapat. Pendapat termasyhur dan yang dipilih oleh al-Khurqi: ia berhenti pada kebiasaan perempuan pada umumnya.
Adapun perempuan yang dapat membedakan antara darah haid dan darah istihadhah melalui bau, kebekuan, dan warnanya. Darah haid lebih hitam pekat, sedangkan darah istihadhah adalah lembut, merah dan tidak berbau. Hal itu dapat dijadikan patokan untuk mengetahui kedatangan atau terhentinya darah haid. Demikian menurut Maliki dan Syafi’i. Oleh karena itu, shalat harus ditinggalkan ketika datang haid. Apabila darah haid terhenti, hendaknya ia mandi dan halal disetubuhi. Sementara itu, Hanafi berpendapat: sesuatu yang dapat dijadikan pegangan adalah bilangan hari.

Menentukan Awal Masa Istihadhah;
Hanafi: jika ia mempunyai kebiasaan (masa haid yang teratur) hendaknya ia merujuk pada kebiasaan tersebut. Jika tidak mempunyai kebiasaan, ia tidak boleh berpegang pada perbedaan darah, melainkan ia harus berpedoman pada masa haid minimal.
Maliki: ia tidak boleh berpegang pada kebiasaan, tetapi berpegang pada perbedaan darah. Oleh karena itu jika ia dapat membedakannya, ia berpegang pada perbedaan tersebut. Jika tidak bisa, ia dianggap tidak haid sama sekali dan tetap mengerjakan shalat. Hal ini dalam bulan kedua dan ketiga. Adapun pada bulan pertama, ada dua riwayat. Salah satunya yang termasyhur adalah berepedoman pada masa haid maksimal.
Menurut Syafi’i: jika ia mempunyai kebiasaan dan dapat membedakan darah haid dari darah penyakit (istihadhah), maka didahulukan pembedaan tersebut. Jika ia tidak dapat membedakannya maka ia berpedoman pada kebiasaan. Jika keduanya tidak dapat dilakukan jadilah ia seperti perempuan yang baru mengalami haid dan berpegang pada ketentuan tersebut.
Hambali: jika ia mempunyai kebiasaan dan dapat membedakannya, maka ia berpedoman pada perbedaan tersebut. Namun jika keduanya tidak dapat dilakukan, dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama, berpedoman pada masa haid minimal. Kedua, berpedoman pada kebiasaan perempuan pada umumnya, yaitu enam atau tujuh hari.

Senggama dengan Perempuan Istihadhah;
Hanafi, Syafi’i, dan Maliki: bersenggama dengan perempuan ber-istihadhah hukumnya adalah boleh, sebagaimana bolehnya mengerjakan shalat dan berpuasa. Hambali: tidak boleh bersenggama pada kemaluannya, kecuali jika dikhawatirkan suaminya akan jatuh pada perzinaan. Jika demikian, senggama diperbolehkan. Demikian menurut salah satu pendapatnya yang shahih.

Nifas;
Empat imam madzab sepakat bahwa haram bagi perempuan nifas (keluar darah setelah melahirkan) segala hal yang diharamkan dalam haid. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tentang lamanya masa nifas.
Hanafi dan Hambali berpendapat bahwa lama masa nifas adalah empat puluh hari. Demikian juga salah satu pendapat Maliki. Maliki (dalam pendapat yang lain) dan Syafi’i berpendapat: Lama masa nifas adalah enam puluh hari.
Al-Layts bin Sa’ad berpendapat: lama masa nifas adalah tujuh puluh hari. Tiga imam madzab berpendapat bahwa apabila darah nifas terhenti sebelum masa maksimalnya, maka suami boleh menyetubuhinya. Sementara itu Hambali berpendapat: suami tidak boleh menyetubuhinya, kecuali lewat masa empat puluh hari.
Sekian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: