Shalat

29 Apr

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Semua kaum Muslim sepakat bahwa shalat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang disebutkan dalam sabda RAsulullah saw. berikut: “Islam dibangun di atas lima fondasi [rukun].”

Dan sesungguhnya shalat diwajibkan dalam sehari semalam adalah lima kali, yaitu tujuh belas rakaat; diwajibkan Allah atas setiap laki-laki Islam, baligh, dan berakal (sehat), dan atas perempuan Islam, baligh dan berakal (sehat), serta tidak sedang haid dan nifas.

Kewajiban shalat tidak gugur dari mukallaf, kecuali ia telah meninggal dunia. Demikian menurut para imam madzab, kecuali Hanaf. Hanafi berpendapat: apabila seseorang sudah tidak mampu memberi isyarat dengan kepalanya maka gugurlah kewajiban shalat darinya.
Orang yang pingsan karena suatu penyakit atau sesuatu sebab yang mubah, gugurlah kewajiban shalat darinya selama ia pingsan. Demikian menurut Maliki dan Syafi’i. Hanafi: jika pingsannya sehari semalam atau kurang, ia wajib mengqadla shalatnya. Jika lebih dari itu, ia tidak wajib mengqadlanya. Sementara itu, Hambali berpendapat: pingsan tidak menggugurkan kewajiban qadla.

Hukuman atas Ditinggalkannya Shalat;
Empat imam madzab sepakat bahwa setiap mukallaf yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya dihukumi sebagai kafir dan wajib dibunuh. Namun, mereka berbeda pendapat tentang mukallaf yang meninggalkan shalat bukan karena pengingkaran terhadapnya, tetapi semata-mata karena malas dan meremehkannya.
Maliki dan Syafi’i berpendapat: ia harus dibunuh. Namun ia dibunuh atas nama had, bukan karena dikafirkan –menurut pendapat yang paling shahih dari mereka. Sesudah dibunuh, jasadnya diperlakukan sebagaimana perlakuan terhadap jasad seorang muslim, yakni dimandikan, dishalatkan, dikuburkan, dan diwarisi harta peninggalannya.
Pendapat yang paling shahih dari Syafi’i: meninggalkan shalat saja, ia sudah pantas dibunuh, tetapi terlebih dahulu diberi kesempatan untuk bertobat. Jika ia bertobat maka ia tidak dibunuh. Akan tetapi jika ia tidak mau bertobat maka ia dibunuh.
Hanafi berpendapat: orang tersebut dipenjarakan sampai ia mau melaksanakan shalat. Sementara itu dari Hambali ada dua pendapat. Pendapat yang dipilih kebanyakan shahabatnya dan dinukil dari nasnya adalah bahwa orang yang meninggalkan shalat satu shalat harus dibunuh. Ia dibunuh karena kekufurannya, seperti orang murtad, dan diberlakukan kepadanya apa yang diberlakukan terhadap orang murtad, yaitu tidak dishalatkan dan tidak diwarisi harta peninggalannya. Harta peninggalannya jadi harta fa’i.
Empat imam madzab sepakat bahwa shalat merupakan kewajiban yang tidak dapat digantikan dengan harta (fidyah) atau diwakilkan kepada orang lain.

Hukum orang kafir yang mengerjakan shalat;
Jika orang kafir mengerjakan shalat, Hanafi berpendapat: jika ia mengerjakan shalat di dalam masjid, baik sendirian maupun berjamaah, maka ia dihukumi Islam. Syafi’i: ia tidak dihukumi Islam, kecuali shalatnya dilakukan di negeri yang memerangi Islam (dar al-harb). Maliki: kalau ia shalat ketika bepergian (safar), karena khawatir atas keselamatan dirinya, maka ia tidak dihukumi islam. Namun jika ia shalat dalam keadaan aman, tidak ada yang ditakutinya, maka ia dihukumi Islam. Hambali: apabila ia shalat maka ia dihukumi Islam secara mutlak, baik shalatnya sendirian maupun berjamaah, baik di dalam masjid maupun di tempat lain, baik di negeri Islam maupun tidak.

Waktu shalat fardlu;
Empat imam madzab sepakat bahwa awal waktu dzuhur adalah ketika matahari sudah tergelincir dan tidak boleh shalat sebelum matahari tergelincir. Akan tetapi, menurut Syafi’i dan Maliki shalat menjadi wajib dengan tergelincirnya matahari sebagai wujud muwassa’ hingga panjang bayangan benda sama dengan tinggi benda tersebut, dan itulah akhir waktunya. Sedangkan Hanafi berpendapat: kewajiban shalat dikaitkan dengan akhir waktunya. Shalat pada awal waktu hukumnya adalah sunnah.Al-Qadhi Abdul Wahab al-Maliki berpendapat: seluruh fuqaha yang lain menyalahi pendapat Hanafi tersebut.
Pendapat yang dipilih dari Maliki adalah bahwa akhir waktu dzuhur adalah jika bayangan setiap benda sama dengan tinggi benda tersebut. Demikian juga menurut Syafi’i. Namun Syafi’i mengatakan: waktu mudhayyaq bagi orang yang mukim. Sedangkan Hanafi dalam masalah ini sependapat dengan Maliki.
Akhir waktu dzuhur adalah permulaan waktu asyar. Oleh karena itu, orang yang tidak shalat dzuhur hingga bayangan benda sama dengan tinggi bendanya, ia harus mengulangi shalat dzuhur. Syafi’i: barangsiapa mengerjakan shalat dzuhur dan menyelesaikan shalatnya ketika bayangan suatu benda sama dengan tinggi benda itu, maka ia dipandang telah shalat pada waktunya. Sesudah itu masuk waktu shalat asyar.

Para shahabat Hanafi berpendapat: awal waktu asyar adalah ketika bayangan suatu benda dua kali lebih panjang daripada tinggi benda tersebut, sedangkan akhir waktunya adalah ketika matahari terbenam.
Maliki: waktu shalat magrib adalah ketika matahari terbenam. Tidak boleh diakhirkan darinya. Syafi’i memiliki dua pendapat. Pendapat yang dipilih para ulama madzab Syafi’i mutaakhir: akhir waktu magrib adalah setelah hilang mega merah. Hanafi dan Hambali: magrib mempunyai dua waktu.
Syafaq adalah warna merah yang muncul sesudah magrib. Maka, apabila ia sudah datang, masuklah waktu isya’. Demikian menurut Syafi’i dan Maliki. Sementara itu, Hanafi dan Hambali berpendapat: waktu isya’ dimulai sejak hilangnya cahaya putih sesudah hilangnya mega merah.
Empat imam madzab sepakat bahwa awal waktu shubuh adalah terbitnya fajar kedua, yaitu fajar sadiq yang cahayanya tersebar di ufuk dan tidak ada gelap sesudahnya. Sedangkan akhir waktunya yang dipilih adalah ketika hari sudah terang. Akhir waktu yang diperkenankan untuk shalat shubuh adalah terbitnya matahari.
Menurut Maliki, Syafi’i, dan satu riwayat dari Hambali: sebaiknya shalat shubuh dilakukan ketika hari masih gelap. Sementara itu, menurut Hanafi: sebaiknya shalat shubuh dilakukan pada waktu antara gelap dan terang. Jika gelap telah hilang maka waktu terang lebih baik daripada gelap, kecuali di Muzdalifah. Di tempat itu, sebaiknya shalat shubuh dilakukan ketika hari masih gelap.
Dari Hambali diperoleh riwayat lain, yaitu harus diperhatikan keadaan orang yang shalat. Jika ia sukar mengerjakan shalat shubuh ketika hari masih gelap maka mengerjakannya setelah terang adalah lebih utama. Sementara itu jika shalatnya dilakukan berjamaah maka sebaiknya dilakukan ketika hari masih gelap.
Mengakhirkan shalat dzuhur pada musim panas adalah lebih utama jika dikerjakan di masjid secara berjamaah. Demikian kesepakatan para imam madzab.
Pendapat paling shahih dari shahabat-shahabat Syafi’i: keringanan (rukhshah) ini ditetapkan atas suatu tempat yang panas dan jamaah berdatangan dari tempat yang jauh.
Mengerjakan shalat asyar pada awal waktu adalah lebih utama, kecuali menurut Hanafi.
Mengakhirkan shalat isya adalah lebih utama, kecuali menurut pendapat Syafi’i. Hal ini merupakan pendapat paling shahih menurut shahabat-shahabat Syafi’i.

Shalat Wustha;
Para imam mujtahid berbeda pendapat tentang shalat wustha. Hanafi dan Hambali: al-wustha adalah shalat asyar. Maliki dan Syafi’i: al-Wustha adalah shalat fajar (shubuh). Sedangkan pendapat yang dipilih para ulama mutaakhir madzab Syafi’i: al-wustha adalah shalat asyar.
Sekian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: