Sujud Tilawah

29 Apr

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Sujud tilawah adalah sunnah bagi yang membaca al-Qur’an dan yang mendengarnya. Demikian pendapat tiga imam madzab. Hanafi berpendapat: sujud tilawah adalah wajib.
Seseorang yang tidak sengaja membaca (ayat sajdah) tidak dianjurkan untuk sujud tilawah, menurut tiga imam madzab. Hanafi berpendapat: keduanya, pendengar dengan sengaja atau tidak , hukumnya sama.

Ayat-ayat sajdah ada 14. Demikian menurut pendapat Syafi’i yang paling kuat, Hambali dan Maliki dalam salah satu riwayatnya.
Menurut Maliki, Syafi’i, dan Hambali: dalam surat al-Hajj terdapat dua ayat sajdah. Hanafi dalam salah satu riwayat dari Maliki: hanya ada satu ayat sajdah dalam surah al-Hajj.
Sujud dalam surah Shaad, apakah ia sujud syukur ataukah sujud tilawah? Hanafi, Maliki dan salah satu riwayat Hambali: ia adalah sujud tilawah. Syafi’i dan dalam riwayat Hambali yang paling masyhur: ia adalah sujud syukur yang sebaiknya dilakukan di luar shalat.
Empat imam madzab sepakat bahwa dalams surah al-mufashshal terdapat tidak ayat sajdah, yaitu dalam surah an-Najm, al-Insyiqaq dan al-‘Alaq. Namun dalam pendapatnya yang paling masyhur, Maliki berpendapat: tidak ada ayat sajdah dalam surah al-Mufashshal.
Empat imam madzab sepakat bahwa ayat-ayat sajdah lainnya ada sepuluh. Yaitu dalam surah al-A’raaf, ar-Ra’du, an-Nahl, al-Israa’, Maryam, al-Hajj (yang pertama), al-Furqaan, an-Naml, as-Sajdah, dan al-Fushilat.
Ibn Ishaaq bin Rahawaih berpendapat: jumlah ayat sajdah adalah lima belas, yaitu (jumlah tersebut di atas) ditambah satu ayat dalam surah Shaad.

Apabila orang yang membaca ayat sajdah tidak sedang shalat, sementara yang mendengar sedang shalat, maka yang mendengarkan tidak dituntut untuk melakukan sujud tilawah. Demikian pendapat Syafi’i, Maliki, dan Hambali. Sementara itu Hanafi: apabila shalatnya selesai, hendaknya bersujud tilawah.
Menurut ijma’ empat imam madzab, yang diisyaratkan untuk sujud tilawah adalah apa yang diisyaratkan untuk shalat.
Ibn Musayyab berpendapat: perempuan haid apabila mendengar bacaan ayat sajdah, hendaknya ia bersujud dengan isyarat kepala, seraya mengucapkan: sajada wajHiya lillladzii khalaqaHuu wa shuwwaraHu (“Wajahku bersujud kepada Dzat yang menciptakannya dan membentuknya.”)
Menurut tiga imam madzab, sujud tilawah tidak dapat digantikan dengan rukuk. Sedangkan menurut Hanafi bisa.
Syafi’i dan Maliki: imam shalat berjamaah tidak dimakruhkan membaca ayat sajdah dalam shalat siriiyah, tetapi tidak di dalam shalat jahriyah. Hambali berpendapat seperti pendapat Hanafi: kalau imam membaca ayat sajdah secara perlahan, ia tidak boleh bersujud.

Syafi’i: apabila imam bersujud tilawah lalu makmum tidak mengikutinya, batallah shalat makmum tersebut, sebagaimana jika ia meninggalkan qunut.
Adapun salam dalam sujud tilawah, Syafi’i memiliki dua pendapat. Pendapat yang paling kuat: bertakbir ketika merunduk untuk bersujud dan ketika mengangkat kepala dari sujud, lalu membaca salam tanpa tasyahud terlebih dahulu. Demikian juga pendapat Hambali. Hanafi dan Maliki berpendapat: bertakbir untuk bersujud dan mengangkat kepala, dan tidak membaca salam.

Apabila bacaan ayat sajdah diulang-ulang, sedangkan yang membacanya tidak dalam keadaan suci, maka ia tidak perlu bersujud ketika itu atau sesudah ia bersuci. Namun, sebagian ulama Syafi’i berpendapat bahwa hendaknya ia bersuci, kemudian bersujud tilawah.
Hanafi berpendapat: sujud tilawah untuk bacaan ayat sajdah pertama sudah cukup bagi bacaan ayat sajdah yang berulang-ulang jika dalam satu tempat.

Syafi’i dan Hambali: disunnahkan bagi orang yang memperoleh nikmat atau terlepas dari bahaya untuk bersujud syukur kepada Allah.
Ath-Thaahawi berpendapat: Hanafi tidak meriwayatkan tentang sujud syukur.
Muhammad bin al-Hasan meriwayatkan bahwa Hanafi memakruhkan sujud syukur.
Maliki memakruhkannya jika dikerjakan dalam shalat.
Al-Qadhi ‘Abdul Wahhab menukil dari Maliki: tidak apa-apa, demikian pendapat yang shahih.
Bagi orang yang shalat apabila ia membaca ayat-ayat yang mengandung rahmat, disunnahkan memohon rahmat kepada Allah. Jika ia membaca ayat-ayat yang mengandung azab, disunnahkan memohon perlindungan kepada-Nya dari azab tersebut.
Hanafi berpendapat: hal demikian itu adalah makruh dalam shalat fardlu.
Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: