Arsip | Mei, 2013

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naba’ (3)

31 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naba’ (Berita Besar)
Surah Makkiyyah; Surah ke 78: 40 ayat

Firman Allah: laa yasma-‘uuna fiiHaa laghwaw walaa kidzdzaaban (“Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak [pula perkataan] dusta.”) yakni, di dalam surga itu tidak terdapat perkataan yang tidak bermanfaat dan tidak pula dosa dan dusta, bahkan surga merupakan tempat yang penuh dengan keselamatan, semua penghuninya selamat dari segala bentuk kekurangan, firman Allah: jazaa am mir rabbika ‘athaa-an hisaaban (“Sebagai balasan dari Rabb-mu dan pemberian yang cukup banyak.”) yakni semua yang kami sebutkan itu merupakan balasan yang dibrerikan Allah kepada mereka. Dia memberikan hal itu kepada mereka sebagai karunia, anugerah, kebaikan dan rahmat-Nya. ‘Athaa-an hisaaban; berarti pemberian yang cukup, memadai, selamat, lagi banyak. Masyarakat Arab biasa mengungkapkan: “A’thaanii fa ahsibnii (dia memberiku sehinggal hal itu mencukupiku)” artinya Dia telah memberikan kecukupan kepadaku. Dan dari kata itu pula muncul kata “hasbiyallaaH” yang berarti Allah sebagai Rabb yang mencukupiku.

tulisan arab alquran surat an naba' ayat 37-40“37. Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; yang Maha Pemurah. mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. 38. pada hari, ketika ruh dan Para Malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. 39. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka Barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.40. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:”Alangkah baiknya Sekiranya dahulu adalah tanah.” (an-Naba’: 37-40)

Allah memberitahukan tentang keagungan dan kemuliaan-Nya. Dan bahwasannya Dia adalah Rabb langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya. dan bahwasannya Dia adalah Rabb Yang Mahapemurah rahmat-Nya mencakup segala sesuatu. Dan firman-Nya: laa yamlikuuna minHu khithaaban (“Mereka tidak dapat berbicara dengan-Nya.”) maksudnya tidak ada seorang pun yang sanggup mengajak-Nya berbicara kecuali dengan seizin-Nya. Yang demikian itu sama seperti firman-Nya: yauma ya’ti laa takallamu nafsun illaa biidzniH (“Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya.”)(Huud: 105)

Dan firman Allah: yauma yaquumur ruuhu wal malaa-ikatu shaffan laa yatakallamuuna (“Pada hari itu ketika ruh dan para Malaikat berdiri bershaff-shaff, mereka tidak berkata-kata.”) para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan ruh di sini. Terdapat beberapa pendapat:
1. Apa yang diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas, bahwa mereka adalah arwah anak-cucu Adam
2. Mereka adalah anak cucu Adam. Demikian yang dikemukakan oleh al-Hasan dan Qatadah. Qatadah mengatakan: “Dan inilah salah satu dari apa yang disembunyikan oleh Ibnu ‘Abbas.”
3. Mereka adalah salah satu dari makhluk Allah dalam bentuk seperti bentuk anak cucu Adam, tetapi mereka bukan malaikat dan bukan juga manusia, tetapi mereka makan dan minum. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Abu Shalih, dan al-A’masiy.
4. Ruh itu adalah Jibril. Demikian yang dikemukakan oleh asy-Sya’bi, Sa’id bin Jubair, dan adl-Dlahhak. Pendapat terakhir ini didasarkan pada firman Allah: nazala biHir ruuhul amiinu ‘alaa qalbika latakuuna minal mumtariina (“Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amiin [Jibril] ke dalam hatimu [Muhammad] agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (asy-Syu’araa’: 193-194). Muqatil bin Hayyan mengungkapkan: “Ar-Ruh yang dimaksud adalah malaikat yang paling mulia dan yang paling dekat dengan Allah sekaligus pengantar wahyu.”
5. Ruh yang dimaksud adalah al-Qur’an. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Zaid, seperti firman-Nya: wa kadzaalika awhainaa ilaika ruuham min amrinaa (“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh [al-Qur’an] dengan perintah Kami.” (asy-Syuura: 52)
6. Keenam, ruh yang dimaksud adalah salah satu malaikat dengan ukuran seluruh makhluk. Dan Ibnu Jarir bersikap diamm dan tidak memastikan salah satu dari pendapat-pendapat tersebut. Dan yang lebih mendekati, menurut pendapat saya [Ibnu Katsir], wallaHu a’lam, mereka adalah anak cucu Adam.

Firman Allah: illaa man adzinalaHur rahmaanu (“Kecuali siapa yang diberi izin kepadanya oleh Rabb Yang Mahapemurah.”) yang demikian itu sama seperti firman-Nya: yauma ya’ti laa takallamu nafsun illaa biidzniH (“Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya.”)(Huud: 105) sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih: “Dan tidak ada yang berbicara pada hari itu kecuali para Rasul.”

Sedangkan firman-Nya: wa qaala shawaaban (“Dan dia mengucapkan kata yang benar.”) yakni, kata-kata yang benar. Dan di antara kata-kata yang benar itu adalah ucapa: “Laa ilaaHa illallaaH (tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah) sebagaimana diungkapkan oelh Abu Shalih dan ‘Ikrimah.

Firman Allah: dzaalikal yaumul haqqu (“Itulah hari yang pasti terjadi.”) yakni hari yang pasti akan terjadi, dan tidak mungkin tidak.
Fa man syaa-at takhadza ilaa rabbiHii ma-aaban (“Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Rabbny.”) yakni tempat kembali dan jalan yang dijadikan petunjuk kepada-Nya serta manhaj yang dilalui di atasnya. Dan firman Allah:
Innaa andzarnaakum ‘adzaabang qariiban (“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu [hai orang kafir] siksa yang dekat.”) yakni hari Kiamat, untuk mempertegas kepastian terjadinya, sehingga ia pun menjadi dekat, karena setiap yang akan datang itu pasti datang:
Yauma yandhurul mar-umaa qaddamat yadaaHu (“Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya.”) yakni, akan diperlihatkan kepadanya semua amal perbuatannya, yang baik maupun yang buruk, yang lama maupun yang baru. Wa yaquulul kaafiru yaa laitanii kuntu turaaban (“Dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.”) maksudnya pada hari itu orang kafir berangan-angan, andai saja dulu aku di dunia hanya sebagai tanah dan bukan sebagai makhluk serta tidak juga keluar ke dalam wujud. Hal ini mereka katakan ketika adzab Allah diperlihatkan dan mereka melihat amal perbuatan mereka yang buruk telah ditulis oleh tangan para malaikat yang mulia lagi berbakti. Ada juga yang berpendapat, hal itu mereka katakan ketika Allah memberikan keputusan kepada hewan-hewan yang pernah hidup di dunia dan Dia memberikan keputusan di antara binatang-binatang itu dengan keputusan-Nya yang adil yang tidak mendhalimi, sehingga kambing yang tidak bertanduk akan menuntuk qishash dari kambing yang bertanduk. Dan setelah pemberian keputusan, barulah dikatakan kepada binatang-binatang itu: “Jadilah kamu tanah kembali.” Maka pada saat itu, orang kafir itu berkata: “Yaa laitanii kuntu turaaban (alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah).” Yakni andai saja aku menjadi hewan sehingga aku akan kembali menjadi tanah.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naba’ (2)

31 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naba’ (Berita Besar)
Surah Makkiyyah; Surah ke 78: 40 ayat

Wa futihatis samaa-u fakaanat abwaaban (“dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu.”) yaitu beberapa jalan turunnya para malaikat.
Wa suyyiratil jibaalu fakaanat saraaban (“Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.”) yang demikian itu sama dengan firman Allah: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan.” (an-Naml: 88). Sedangkan di sini, Dia berfirman: fa kaanat saraaban (“Maka menajadi fatamorganalah ia.”) yakni dikhayalkan kepada orang yang melihat bahwa ia merupakan sesuatu padahal ia bukan apa-apa. Dan setelah itu, semuanya itu hilang sehingga tidak lagi dapat dipandang serta sama sekali tidak berbekas.

Firman Allah: inna jaHannama kaanat mirshaadan (“Sesungguhnya Neraka Jahannam itu [padanya] ada tempat pengintai.”) yakni tempat pengintai yang sudah disiapkan, liththaaghiina (“bagi orang-orang yang melampaui batas.”) yang mereka adalah penentang, para pelaku maksiat, dan pembangkang kepada para Rasul, ma-aaban (“Menjadi tempat kembali.”) yakni menjadi tempat kembali dan tempat menetap.

Mengenai firman Allah: inna jaHannama kaanat mirshaadan (“Sesungguhnya Neraka Jahannam itu [padanya] ada tempat pengintai.”) al-Hasan dan Qatadah mengatakan: “Artinya, sesungguhnya tidak ada seorang pun masuk surga sehingga dia menyeberangi neraka, jika ia bisa menyeberanginya, maka ia akan selamat. Dan jika tidak, maka dia akan ditahan di neraka.

Dan firman Allah: laa bitsiina fiiHaa ahqaaban (“mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.”) maksudnya, mereka tinggal di neraka itu. Kata “ahqaab” merupakan jamak dari kata “hiqb” yang berarti sesaat dari zaman. Khalid Ibnu Ma’dan mengatakan: “Dan firman-Nya: illaa maa syaa-a rabbuka (“Kecuali apa yang dikehendaki oleh Rabbmu.”) bagi orang-orang yang meyakini tauhid.” Keduanya meriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Setelah itu, di mengatakan: “Dan yang benar bahwa hal itu tidak ada akhirnya.” Sebagaimana yang dikemukakan oleh Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas. Dan yang sebelumnya di telah mengatakan dari Salim, aku pernah mendengar al-Hasan bertanya tentang firman Allah: laa bitsiina fiiHaa ahqaaban: (“Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya”) dia mengatakan: “Adapun ‘ahqaabaa; maka ia tidak terhitung melainkan kekekalan di dalam neraka. tetapi mereka menyebutkan bahwa al-hiqh berarti tujuh puluh tahun, yang setiap harinya mencapai seribu tahun dari perhitungan waktu kalian. Sa’id menceritakan dari Qatadah, Allah Ta’ala berfirman: laa bitsiina fiiHaa ahqaaban: (“Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya”) yakni masa yang tiada pernah terputus, dimana setiap kali satu hiqh berlalu maka akan datang hiqh yang berikutnya.

Firman Allah: laa yadzuuquuna fiiHaa bardaw walaa syaraaban (“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak [pula mendapatkan] minuman.”) maksudnya, di neraka mereka tidak mendapatkan sesuatu yang dingin bagi hari mereka dan tidak juga mendapatkan minuman segar yang dapat mereka minum. Oleh karena itu Allah berfirman: illaa hamiimaw wa ghassaaqan (“Selain air yang mendidih dan nanah.”) Abu ‘Aliyah mengatakan: “Dikecualikan dari dingin adalah panas dan dari minuman itu nanah.” Demikian pula yang dikemukakan oleh ar-Rabi’ bin Anas. Adapun al-hamiim berarti panas yang mencapai puncaknya. Sedangkan al-ghassaq berarti nanah, keringat, air mata, dan luka para penghuni neraka yang berkumpul, ia sangat dingin, rasa dinginnya tidak dapat disentuh oleh manusia dan bau busuknya tidak dapat didekati. Dan pembicaraan tentang al-ghassaaq telah disajikan pada pembahasan surah Shaad, sehingga tidak perlu lagi dilakukan pengulangan –mudah-mudahan Allah memberikan pahala atas semua itu dengan karunia dan kemuliaan-Nya.

Firman Allah: jazaa-aw wifaaqan (“Sebagi balasan yang setimpal”) yakni semua yang mereka alami yang berupa hukuman, adalah sesuai dengan amal perbuatan mereka yang tidak benar yang mereka kerjakan semasa di dunia. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, dan lain-lain. Selanjutnya Allah berfirman: innaHum kaanuu laa yarjuuna hisaaban (“Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab.”) maksudnya mereka tidak meyakini bahwa di sana terdapat alam tempat pembalasan dan penghisaban. Wa kadzdzabuu bi aayaatinaa kidzdzaaban (“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.”) yakni mereka mendustakan hujjah-hujjah dan bukti-bukti Allah atas makhluk-Nya yang telah diturunkan melalui para Rasul-Nya, tetapi mereka justru menyambutnya dengan pendustaan dan penentangan. Dan firman-Nya: kidzdzaaban (“Dusta dengan sesungguh-sungguhnya.”), yakni pendustaan, kalimat ini merupakan bentu masdar [infinitive] tanpa fi’il.

Firman Allah: wa kulla syai-in ahshainaaHu kitaaban (“Dan segala sesuatu sudah Kami catat dalam suatu kitab.”) maksudnya, Kami [Allah] telah mengetahui amal perbuatan seluruh hamba, lalu Kami catat bagi mereka untuk selanjutnya Kami akan memberikan balasan atas hal tersebut, jika baik maka akan diberi balasan kebaikan, dan jika buruk maka akan diberikan balasan keburukan juga.

Sedangkan firman-Nya: fadzuuquu falan naziidakum illa ‘adzaaban (“Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-sekali tidak akan menambah kepadamu selain daripada adzab.”) maksudnya, dikatakan kepada penghuni neraka: “Rasakanlah apa yang kalian rasakan, dan sekali-sekali Kami tidak akan menambah kecuali adzab yang serupa, dan dzab yang lain lagi dalam bentu lain yang berpasang-pasangan.”

tulisan arab alquran surat an naba' ayat 31-36“31. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, 32. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, 33. dan gadis-gadis remaja yang sebaya, 34. dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). 35. di dalamnya mereka tidak mendengar Perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) Perkataan dusta.36. sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,” (an-Naba’: 31-36)

Allah berfirman seraya memberitahukan tentang orang-orang yang berbahagia dan segala sesuatu yang telah disediakan bagi mereka, baik itu berupa kemuliaan maupun kenikmatan yang abadi. Dimana Dia berfirman: inna lil muttaqiina mafaazan (“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat ketenangan.”) Ibnu ‘Abbas dan adl-Dlahhak mengatakan: “Yakni dalam keadaan suci.” Mujahid dan Qatadah mengemukakan: “Mereka beruntung dan selamat dari neraka.” dan yang paling jelas disini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, karena setelah itu dia mengemukakan: “hadaa-iqa” kata al-hadaa-iqa disini berarti kebun-kebun kurma dan juga yang lainnya.
Hadaa-iqa wa a’naaban wa kawaa-‘iba ats-raaban (“Yaitu kebun-kebun dan buah anggur. Dan gadis-gadis remaja yang sebaya.”) yakni, bidadari-bidadari yang masih gadis. Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan lain-lain mengatakan: “Kawaa-‘iba yakni montok.” Yang mereka maksudkan bahwa buah dada bidadari-bidadari itu montok dan belum mengalami penurunan, karena mereka semua masih gadis yang umurnya sebaya, yakni mempunyai umur yang sama.

Firman Allah: wa ka’san diHaaqan (“Dan gelas-gelas yang penuh [berisi minuman].”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni yang penuh lagi berturut-turut.” Sedangkan ‘Ikrimah mengatakan: “Yakni yang jernih.”
(bersambung ke bagian 3)

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naba’ (1)

31 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naba’ (Berita Besar)
Surah Makkiyyah; Surah ke 78: 40 ayat

tulisan arab alquran surat an naba' ayat 1-16bismillaaHir rahmaanir rahiim
“1. tentang Apakah mereka saling bertanya-tanya? 2. tentang berita yang besar, 3. yang mereka perselisihkan tentang ini. 4. sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, 5. kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui. 6. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, 7. dan gunung-gunung sebagai pasak? 8. dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, 9. dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, 10. dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, 11. dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, 12. dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, 13. dan Kami jadikan pelita yang Amat terang (matahari), 14. dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, 15. supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, 16. dan kebun-kebun yang lebat?” (an-Naba’: 1-16)

Allah berfirman seraya mengingkari orang-orang musyrik dalam hal pertanyaan yang mereka ajukan mengenai hari kiamat, yakni pengingkaran terhadap kejadiannya: ‘amma yatasaa-aluuna, ‘anin nabai-il ‘adhiim (“Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang berita besar.”) yakni tentang sesuatu yang mereka pertanyakan perihal hari kiamat, yang ia merupakan berita yang sangat besar, yaitu berita luar biasa hebatnya lagi benar-benar jelas.

Alladzii Hum fiiHi mukhtalifuun (“Yang mereka perselisihkan tentang ini.”) yakni mengenai hal itu, manusia terbagi menjadi dua golongan: beriman kepadanya dan kufur kepadanya. Selanjutnya Allah berfirman seraya mengancam orang-orang yang mengingkari hari kiamat: kallaa saya’lamuuna. Tumma kallaa saya’lamuun (“Sekali-sekali tidak; kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-sekali tidak; kelak mereka akan mengetahui.”) yang demikian itu merupakan ancaman keras sekaligus kecaman yang tegas. Kemudian Allah menjelaskan kekuasaan-Nya yang agung untuk menciptakan berbagai hal aneh dan segala sesuatu menakjubkan yang menunjukkan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, baik itu menyangkut hari kiamat maupun yang lainnya. Oleh karena itu, Dia berfirman: alam naj’alil ardla miHaadan (“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?”) yakni terhampar bagi semua makhluk, dibentangkan bagi mereka sehingga menjadi diam dan tidak menggoncang para penghuninya yang ada di atasnya.

Firman Allah: wa khalaqnaakum azwaajan (“Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan”) yakni laki-laki dan perempuan. Masing-masing dapat bersenang-senang antara satu dengan yang lainnya, sehingga dengan demikian terjadi regenerasi.
Wa ja-‘alnaa naumakum subaatan (“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.”) yakni menghentikan gerakan agar dapat beristirahat setelah melakukan perjalanan dan berusaha dalam menghadapi kehidupan di siang hari. Dan ayat seperti ini telah diuraikan dalam surah al-Furqaan. wa ja-‘alnal laila libaasan (“Dan kami jadikan malammu sebagai pakaian.”) yakni gelap dan hitamnya malam itu membuat orang-orang tenang. Seorang penyair mengungkapkan: “Ketika malam telah menyelimuti atau ketika ia memasang kedua telinganya untuk mendengarkannya. Pada saat malam itu tiba.”

Mengenai firman Allah: wa ja-‘alnal laila libaasan (“Dan kami jadikan malammu sebagai pakaian.”) Qatadah mengatakan: “Yakni ketenangan. Dan firman Allah: wa ja-alnan naHaara ma-‘aasyaa (“Dan Kami jadikan siang untung mencari penghidupan.”) maksudnya Kami jadikan siang itu cerah, terang dan bersinar, agar umat manusia dapat pulang pergi untuk mencari penghidupan dan berusaha serta berdagang dan lain sebagainya.

Wa banainaa fauqakum sab’an syidaadan (“Dan Kami bangun di atasmu tujuh buah [langit] yang kokoh.”) yakni tujuh langit dengan keluasan, ketinggian, keutuhan, kekokohan, serta penghiasannya dengan bintang-bintang yang menetap di tempatnya dan planet-planet berputar pada porosnya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa ja-‘alnaa siraajaw waHHaajan (“Dan Kami jadikan pelita yang amat terang,”) yakni matahari yang bersinar terang ke seluruh alam yang sinarnya menyinari seluruh penghuni bumi.

Wa anzalnaa minal mu’shiraati maa-an tsajjaajan (“Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.”) al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: al-mu’shiraati berarti angin.” Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: minal mu’shiraati berarti dari awan.” Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Al-Farra’ mengemukakan: “Yaitu awan yang bersatu dengan air hujan tetapi belum sampai turun hujan.” Sebagaimana dikatakan “imra-atun mu’shirun”, yaitu jika wanita itu sudah mendekati masa haidhnya tetapi belum haidh. Dan firman Allah: maa-an tsajjaajan (“Air yang banyak tercurah.”) Mujahid, Qatadah, ar-Rabi’in Anas mengatakan: tsajjaajan berarti yang disiramkan [tercurah].” Sedangkan ats-Tsauri mengemukakan: “Yakni, secara berturut-turut.”

Firman Allah: linukhrija biHii habbaw wanabaatan. Wa jannaatin alfaafan (“Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat.”) artinya agar dengan air yang banyak lagi baik dan bermanfaat serta penuh berkah itu Kami keluarkan; habban (“Biji-bijian”) yang sengaja disimpan bagi umat manusia dan binatang ternak; wa nabaatan (“Dan tumbuh-tumbuhan.”) yang hijau, yang bisa dimakan ketika masih basah, wa jannaatin (“Serta kebun-kebun.”) yakni kebun buah-buahan yang beraneka ragam dan dengan aneka warna serta rasa dan aroma yang berbeda-beda, meski hal itu berada dan berkumpul di satu tempat. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa jannaatin alfaafan (“Dan kebun-kebun yang lebat.”) Ibnu ‘Abbas dan juga yang lainnya mengatakan: “Alfaafan berarti berkumpul.”

tulisan arab alquran surat an naba' ayat 17-30“17. Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, 18. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangsakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, 19. dan dibukalah langit, Maka terdapatlah beberapa pintu, 20. dan dijalankanlah gunung-gunung Maka menjadi fatamorganalah ia. 21. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai 22. lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, 23. mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, 24. mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, 25. selain air yang mendidih dan nanah, 26. sebagai pambalasan yang setimpal. 27. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,28. dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan Sesungguh- sungguhnya. 29. dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. 30. karena itu rasakanlah. dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.” (an-Naba’: 17-30)

Allah berfirman seraya memberitahukan tentang hari keputusan, yaitu hari Kiamat, dimana hari itu telah ditentukan waktunya dengan pasti, tidak dapat bertambah dan tidak pula berkurang. Dan tidak juga waktunya diketahui secara pasti kecuali oleh Allah.
Yauma yungfakhu fish shuuri fata’tuuna afwaajan (“Yaitu hari [yang pada waktu itu] ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok.”) Mujahid mengatakan: “Berkelompok-kelompok.” Ibnu Jarir mengemukakan: “Yaitu, masing-masing umat datang bersama Rasulnya sendiri-sendiri.” Yang demikian itu seperti firman-Nya: yauma nad’uu kulli unaasin bi-imaamiHim (“[Ingatlah] suatu hari [yang di hari ini] Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya.”)(al-Israa’: 71)
(bersambung ke bagian 2)

Siwak dan Kebersihan badan

31 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya aku tidak khawatir untuk mempersulit umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak [bersugi] setiap akan mengerjakan shalat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Hudzaifah ra. ia berkata: “Apabila Nabi saw. bangun dan tidurnya, beliau selalu bersiwak [menggosok gigi] dengan siwak [sikat gigi].” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Kami selalu menyediakan siwak dan air wudlu untuk Rasulullah saw. Maka apabila Allah membangunkan beliau kapan saja pada waktu malam, niscaya beliau bersugi, wudlu dan mengerjakan shalat.” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Aku sudah sering kali menganjurkan kepada kalian untuk bersiwak.” (HR Bukhari)

Dari Syuraih bin Hani’ ia berkata: Saya pernah bertanya kepada ‘Aisyah ra. tentang perbuatan apakah yang mula pertama dikerjakan oleh Nabi saw. apabila masuk rumahnya?” ‘Aisyah menjawab: “Beliau bersiwak.” (HR Muslim)

Dari Abu Musa al-Asy’ariy ra. ia berkata: “Saya masuk ke rumah Nabi saw. sedangkan ujung siwaknya masih berada pada mulutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Bersiwak [bersugi] itu dapat membersihkan mulut dan mendapat ridla dari Rabb.” (HR Nasa-i dan Ibnu Huzaimah)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda: “Fitrah [kebersihan badan] itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur kumis.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sepuluh macam daripada fitrah adalah: mencukur kumis, memelihara jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung, memotong kuku, membasuh sela-sela jari, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan dan bersuci apabila buang air.” Perawi hadits ini berkata: “Untuk yang kesepuluh saya lupa, tetapi kalau tidak salah berkumur.” Sedangkan Waki’ salah seorang yang juga meriwayatkan hadits ini berkata: “[yang kesepuluh] adalah istinja.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Potonglah kumis dan peliharalah jenggot.” (HR Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Lailatul Qadar

30 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – hadits

Firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (al-Qadr: 1-5)

Firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [al-Qur’an] pada suatu malam yang diberkahi.” (ad-Dukhaan: 13)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa beribadah pada malam Qadar dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya beberapa shahabat Nabi saw. memimpikan Lailatul Qadar pada tujuh malam yang terakhir [dalam bulan Ramadlan], kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Aku perhatikan impianmu itu benar-benar tepat pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa ingin mencari Lailatul Qadar, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh pada tujuh malam yang terakhir.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. selalu ber-i’tikaf pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadlan, serta bersabda: “Bersungguh-sungguhlah kalian mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadlan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Bersungguh-sungguhlah kalian mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadlan.” (HR Bukhari)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. apabila telah masuk pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadlan, beliau selalu beribadah pada waktu malam serta membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh ibadah dan mengikatkan sarungnya [tidak bersetubuh dengan istrinya].” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah pada bulan Ramadlan, tidak seperti pada bulan-bulan yang lain, dan pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadlan beliau semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah tidak seperti pada malam-malam yang lain.” (HR Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Saya bertanya: “Wahai Rasulallah, bagaimana pendapatmu seandainya saya mengetahui malam itu adalah malam Qadar, apakah yang harus saya baca pada malam tersebut?” Beliau bersabda: “Bacalah: AllaaHumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii [Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pengampun, maka ampunilah saya].” (HR Turmudzi)

Keutamaan Shalat Tarawih

30 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat sunnah pada bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. sangat menganjurkan untuk selalu shalat sunnah pada malam Ramadlan, tetapi tidak mewajibkannya, dimana beliau bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah pada malam bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Muslim)

Keutamaan Shalat Malam

30 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – hadits

Allah berfirman: “Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (al-Israa’: 79)

Allah berfirman: “Lambung mereka jauh dari tempat tidur..[maksudnya mereka tidak tidur di waktu manusia tidur, melainkan mengerjakan shalat malam]”) (as-Sajdah: 16)

Allah berfirman: “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (adz-Dzaariyaat: 17)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Nabi saw. berdiri shalat malam, hingga pecah-pecah kedua telapak kaki beliau. Saya bertanya kepada beliau: “Untuk apa engkau berbuat ini, wahai Rasulallah, sedangkan engkau telah benar-benar diampuni dosa-dosamu yang telah lewat dan yang akan datang?” Rasulullah bersabda: “Tak bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari al-Mughirah, seperti hadits di atas, yang juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dari Ali ra. bahwasannya pada suatu malam ketika ia tidur bersama Fatimah, tiba-tiba Nabi saw. mengetuk pintu seraya bersabda: “Kenapa kalian tidak mengerjakan shalat?” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Salim bin Abdullah bin Umar bin Kaththab ra. dari ayahnya dari Nabi saw. bersabda: “Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya ia suka mengerjakan shalat malam.” Salim berkata: “Maka sesudah itu Abdullah hanya tidur sebentar pada waktu malam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si fulan dimana dia bangun pada waktu malam, tetapi tidak mau mengerjakan shalat sunnah pada waktu malam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Pernah di hadapan Nabi saw. diceritakan tentang seseorang yang tidur pada waktu malam sampai pagi [tidak bangun pada waktu malam], kemudian beliau bersabda: “Itu adalah orang yang kedua telinganya dikencingi oleh setan.” Atau beliau bersabda: “Di telinganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Setan mengikat tengkuk kepala salah seorang di antara kalian sewaktu tidur dengan tiga ikatan. Pada masing-masing ikatan setan itu berkata: “Tidurlah lagi, malam masih panjang.” Apabila orang itu bangun kemudian dzikir kepada Allah Ta’ala maka lepaslah satu ikatan. Apabila ia berwudlu, maka lepaslah satu ikatan lagi, dan apabila ia shalat, maka lepaslah semua ikatan itu. Sehingga pada waktu pagi ia akan tangkas dan tenang jiwanya, sedang kalau tidak, maka ia akan lesu dan malas.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Salam ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Wahai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, dan shalatlah kalian pada waktu malam sewaktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Puasa yang paling utama selain puasa Ramadlan adalah puasa pada bulan Muharram dan shalat yang paling utama sesudah shalat fardlu adalah shalat malam [tahajjud].” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Shalat malam itu dua rakaat. Apabila kamu khawatir kedahuluan Shubuh maka berwitirlah dengan satu rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Adalah Nabi saw. melakukan shalat malam dua rakaat dan shalat witir dengan satu rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. sering berbuka [tidak puasa] dalam satu bulan, sehingga kami menyangka beliau tidak pernah puasa dalam bulan itu, dan beliau sering berpuasa sehingga kami menyangka bahwa beliau tidak pernah berbuka sedikitpun dalam bulan itu. Demikian pula apabila kamu melihat beliau shalat pada waktu malam, niscaya kamu dapat melihatnya, dan apabila kamu ingin melihat beliau tidur niscaya kamu dapat melihatnya.” (HR Bukhari)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Rasulullah saw. biasa shalat sebelas rakaat pada waktu malam, dimana dalam setiap kali beliau sujud, lamanya kira-kira sama dengan seorang membaca lima puluh ayat, dan itu beliau belum mengangkat kepala. Beliau shalat dua rakaat sebelum shalat shubuh, kemudian beliau berbaring pada pinggang kanannya, sehingga muadzin mengumandangkan iqamata untuk shalat Shubuh.” (HR Bukhari)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas rakaat baik itu pada bulan Ramadlan maupun pada bulan lainnya, dimana beliau shalat empat rakaat yang cukup lama dan sempurna, kemudian beliau shalat empat rakaat yang sama lama dan sempurna khusuknya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat. Saya bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah engkau tidak tidur sebelum shalat Witir?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah sesungguhnya kedua mataku terpejam, tetapi hatiku tidak tidur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Nabi saw. biasa tidur pada permulaan malam dan bangun pada akhir malam, kemudian mengerjakan shalat. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Pada suatu malam saya shalat bersama-sama dengan Nabi saw. dan beliau lama sekali berdiri sehingga timbul niat yang tidak baik dalam diri saya. Ada seseorang yang menanyakan: “Niat apakah itu?” Ia menjawab: “Saya bermaksud ingin duduk dan meninggalkan shalat bersama beliau.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Hudzaifah ra. ia berkata: Pada suatu malam saya shalat dengan Nabi saw. Setelah membaca al-Fatihah, beliau membaca surah al-Baqarah, dalam hati saya berkata: “Mungkin beliau akan rukuk setelah mendapat seratus ayat.” Setelah seratus ayat, beliau melanjutkan bacaannya, maka dalam hati saya berkata: “Mungkin beliau akan mengkhatamkan [menghabiskan] surah al-Baqarah dalam satu rakaat.” Selesai membaca al-Baqarah, dalam hati saya berkata: “Sekarang mungkin beliau akan melakukan rukuk.” Tetapi beliau mulai membaca surah an-Nisaa’ dan dibacanya sampai selesai, kemudian beliau membaca Ali Imraan dengan sangat hati-hati dan jelas. Apabila beliau membaca ayat yang di dalamnya ada perintah tasbih, maka beliau membaca tasbih. Apabila beliau membaca ayat yang di dalamnya ada perintah untuk memohon, maka beliau memohon. Apabila beliau membaca ayat yang di dalamnya ada perintah untuk berlindung diri, maka beliau berlindung diri. Kemudian beliau rukuk dengan membaca: “Subhaana rabbiyal ‘adhiim” lamanya rukuk hampir sama dengan lamanya berdiri, kemudian beliau membaca: “Sami-‘allaaHu liman hamidaH, rabbanaa lakal hamdu.” Kemudian belau berdiri yang lamanya hampir sama dengan lamanya rukuk, kemudian sujud dan membaca “Subhaana rabbiyal a’laa.” Lamanya sujud hampir sama dengan lamanya berdiri.” (HR Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: Rasulullah saw. pernah ditanya: “Manakah yang paling utama di dalam shalat?” Beliau menjawab: “Lamanya berdiri.” (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Shalat yang paling disenangi oleh Allah adalah cara shalatnya Nabi Dawud, dan puasa yang paling disenangi oleh Allah adalah puasa Nabi Dawud, dimana beliau tidur setengah malam dan bangun pada sepertiganya serta tidur seperenam malam, dan beliau puasa sehari dan berbuka sehari.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya pada waktu malam terdapat satu saat, apabila seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah Ta’ala baik berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat, niscaya Allah mengabulkan permohonannya. Dan saat yang demikian itu ada pada setiap malam.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat pada waktu malam hendaklah ia memulainya dengan dua rakaat yang ringan.” (HR Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. mengerjakan shalat pada waktu malam, beliau memulainya dengan dua rakaat yang ringan,” (HR Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Apabila Rasulullah saw. tidak dapat mengerjakan shalat pada waktu malam karena sakit atau karena sesuatu yang lain, maka beliau mengerjakan sebelas rakaat pada waktu siang.” (HR Muslim)

Dari Umar bin Khaththab ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa tertidur tidak mengerjakan kebiasaannya atau melaksanakanya antara shalat Shubuh dan shalat Dhuhur, maka dicatatkan baginya seolah-olah ia membaca atau melaksanakannya pada waktu malam.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah sangat mengasihi laki-laki yang bangun pada waktu malam, kemudian mengerjakan shalat dan mau membangunkan istrinya. Apabila istrinya enggan bangun, maka ia menyiramkan air pada muka istrinya itu. Allah sangat mengasihi seorang perempuan yang bangun pada waktu malam, kemudian mengerjakan shalat dan mau membangunkan suaminyanya. Apabila suaminya enggan bangun, maka ia menyiramkan air pada muka suaminya itu.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id ra. mereka berkata: Rasulullah saw. bersabada: “Apabila seorang laki-laki membangunkan istrinya pada waktu malam, kemudian keduanya shalat dua rakaat, maka masing-masing dicatat dalam golongan orang-orang yang selalu dzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR Abu Dawud)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian mengantuk dalam melaksanakan shalat, maka hendaklah ia tidur sehingga rasa kantuknya hilang. Sebab, jika shalat sambil mengantuk, bisa jadi ia bermaksud memohon ampun tetapi malah mengutuk dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat pada waktu malam, kemudian ia membaca al-Qur’an melalui lisannya, tetapi ia tidak mengetahui apa yang sedang dibacanya maka hendaklah ia tidur.” (HR Muslim)

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naazi’aat (3)

29 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naazi’aat (Malaikat-Malaikat yang Mencabut)
Surah Makkiyyah; Surah ke 79: 46 ayat

Firman Allah Ta’ala: wal ardla ba’da dzaalika dahaaHaa (“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.”) ayat ini ditafsirkan oleh firman-Nya yang berikutnya: akhraja minHaa maa-aHaa wa mar-‘aaHaa (“Dia memancarkan darinya mata airnya, dan [menumbuhkan] tumbuh-tumbuhannya.”) dan penafsiran ayat ini telah diberikan pada surah as-Sajdah, bahwa bumi telah diciptakan sebelum langit, tetapi penghamparan bumi itu dilakukan setelah penciptaan langit. Dengan pengertian, Dia mengeluarkan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya dengan kekuatan menuju pada perbuatan. Dan itulah makna ungkapan Ibnu ‘Abbas dan yang lainnya serta menjadi pilihan Ibnu Jarir. Dan penetapan mengenai hal itu telah diberikan sebelumnya di sana.

Firman Allah: wal jibaala arsaaHaa (“Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh.”) yakni dikokohkan dan ditetapkan di tempatnya masing-masing, dan Dia Mahabijak lagi Mahamengetahui serta Mahalembut lagi Mahapenyayang kepada semua makhluk-Nya.

Firman-Nya: mataa-‘allakum wali an-‘aamikum (“[Semua itu] untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”) maksudnya, Dia hamparkan bumi, lalu Dia pancarkan mata airnya serta munculkan segala yang dikandungnya dan Dia alirkan sungai-sungainya, serta tumbuhan tanaman, pepohonan, dan buah-buahannya, juga Dia tegakkan gunung-gunungnya aga penghuninya dapat menetap dan tenang. Semua itu merupakan kenikmatan bagi semua makhluk-Nya, dan karena mereka memang membutuhkan berbagai bintang ternak yang dapat mereka makan dan pergunakan untuk kendaraan selama mereka dibutuhkan di dunia ini sampai berakhirnya masa dan waktu yang telah ditentukan.

tulisan arab alquran surat an naazi'aat ayat 34-46“34. Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. 35. pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, 36. dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada Setiap orang yang melihat. 37. Adapun orang yang melampaui batas, 38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, 39. Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). 40. dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, 41. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). 42. (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya? 43. siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? 44. kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).45. kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit) 46. pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (an-Naazi’aat: 34-46)

Allah berfirman: fa idzaa jaa-atith thaammatul kubraa (“Maka apabila malapetaka yang sangat besar [hari kiamat] telah datang.”) yaitu hari kiamat. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas. Disebut demikian [ath-thaammaH] karena ia memenuhi segala sesuatu yang menakutkan lagi menyeramkan.
Yauma yatadzakkarul insaanu maa sa-‘aa (“Pada hari [ketika] manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya.”) yakni pada saat itu anak cucu Adam teringat akan seluruh amal perbuatannya, yang baik maupun yang buruk.
Wa burrizatil jahiimu limayyaraa (“Dan diperlihatkan Neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.”) maksudnya, diperlihatkan kepada orang-orang yang melihat sehingga semua orang menyaksikan dengan mata mereka sendiri .
Fa ammaa man thaghaa (“Adapun orang yang melampaui batas.”) yakni sombong lagi lagi sewenang-wenang. Wa aatsaral hayaataddun-yaa (“Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia.”) yakni lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada urusan agama dan juga akhiratnya, fa innal jahiima Hiyal ma’waa (“Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal[nya].”) tempat kembali mereka adalah neraka jahim sedang makanan mereka adalah pohon zaqqum dan minumannya dari air yang mendidih.

Wa ammaa man khaafa maqaama rabbiHii wa naHan nafsa ‘anil Hawaa (“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.”) yakni takut ketika berdiri di hadapan Allah swt. dan takut akan hukum-Nya yang diberlakukan padanya, juga menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsunya serta mengarahkannya untuk selalu mentaati Rabb-nya.
Fa-innal jannata Hiyal ma’waa (“Maka sesungguhnya surga-lah tempat tinggal[nya].”) yakni arah dan tempat kembalinya adalah surga yang aromanya semerbak.

Lalu Allah berfirman: yas-aluunaka ‘anis saa-‘ati ayyaana mursaaHaa. Fiima anta min dzikraaHaa. Ilaa rabbika muntaHaaHaa (“[Orang-orang kafir] bertanya kepadamu [Muhammad] tentang hari berbangkit, kapankah terjadiya? Siapakah kamu [sehingga] dapat menyebutkan [waktunya]? Kepada Rabbmulah dikembalikan kesudahannya [ketentuan waktunya].”) maksudnya, pengetahuan tentangnya tidak diberikan kepadamu dan juga kepada siapa pun, tetapi semua itu hanyalah kembali kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, karena hanya Dia yang mengetahu kepastian waktunya.

Ilaa rabbika muntaHaaHaa (“Kepada Rabb-mulah dikembalikan kesudahannya [ketentuan waktunya].”) innamaa anta mundziru may yakhsyaaHaa (“Kamu hanya memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya [hari berbangkit].”) maksudnya, Aku [Allah] mengutusmu agar menyampaikan peringatan kepada umat manusia sekaligus memberikan ancaman kepada mereka akan siksa dan adzab-Nya. Barangsiapa yang takut kepada Allah dan takut pada ancaman-Nya, maka dia akan mengikutimu. Dengan demikian dia telah beruntung dan memperoleh kesuksesan. Kegagalan dan kerugian hanya bagi orang-orang yang mendustakan dan menentangmu.

Dan firman Allah Ta’ala: kaannaHum yauma yaraunaHaa lam yalbatsuu illaa ‘asyiyyatan au dluhaaHaa (“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, merek seakan-akan tidak tinggal [di dunia] melainkan [sebentar saja] di waktu sore atau pagi.”) maksudnya, jika mereka bangkit dari kubur mereka menuju ke padang mahsyar, mereka merasakan kehidupan itu sangat sebentar sekali seakan-akan dalam pandangan mereka, kehidupan dunia itu hanya satu soren saja atau hanya sepanjang pagi saja. Juwaibir meriwayatkan dari adl-Dlahhak, dari Ibnu ‘Abbas: “kaannaHum yauma yaraunaHaa lam yalbatsuu illaa ‘asyiyyatan au dluhaaHaa (“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, merek seakan-akan tidak tinggal [di dunia] melainkan [sebentar saja] di waktu sore atau pagi.”) adapun yang dimaksud dengan sore hari adalah antara waktu Dhuhur sampai terbenamnya matahari. Sedangkan waktu pagi adalah antara terbitnya matahari sampai pertengahan siang.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naazi’aat (2)

29 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naazi’aat (Malaikat-Malaikat yang Mencabut)
Surah Makkiyyah; Surah ke 79: 46 ayat

Allah Ta’ala memberitahu Rasul-Nya, Muhammad saw. tentang hamba sekaligus Rasul-Nya, Musa as., dimana Dia telah mengutusnya kepada Fir’aun dan telah memperkuat dirinya dengan beberapa mukjizat. Namun demikian Fir’aun tetap saja dalam kekufuran dan kesewenangannya sehingga Allah menimpakan adzab kepada mereka dengan adzab dari Rabb Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Maka demikian juga akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang menyalahimu [Muhammad] dan mendustakan apa yang engkau bawa. Oleh karena itu, pada akhir kisah Dia berfirman: inna fii dzaalika la-‘ibratal limay yakhsyaa (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut. [kepada Rabb]”)

Dengan demikian, firman Allah Ta’ala: Hal ataaka hadiitsu muusaa (“Sudahkah sampai kepadamu [ya Muhammad] kisah Musa.”) maksudnya, apakah engkau [Muhammad] sudah pernah mendengar berita tentang Musa, idznaadaaHu rabbuHuu (“Tatkala Rabb-Nya memanggilnya”) yakni Dia mengajaknya bicara seraya memanggilnya, bil waadil muqaddasi thuwaa (“Di lembah suci, yaitu lembah Thuwaa”) yakni nama sebuah lembah. Demikian menurut pendapat yang benar. Lalu Allah berfirman kepada Musa: idzHab ilaa fir’auna innaHuu thaghaa (“Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.”) maksudnya dia sombong, sewenang-wenang dan berlaku dhalim.

Faqul Hallaka ilaa an tajakkaa (“Dan katakanlah [kepada Fir’aun]: ‘Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri [dari kesesatan]?”) maksudnya, katakanlah kepada Fir’aun, “Apakah kamu mau memenuhi ajakan kepada suatu jalan yang dapat kamu jadikan untuk membersihkan diri?” yakni menyerahkan diri dan mentaati.
Wa aHdiyaka ilaa ilaa rabbika (“Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu.”) yakni aku tunjukkan kepadamu untuk menyembah Rabb-mu. Fatakhsyaa (“agar kamu takut kepada-Nya.”) maksudnya sehingga hatimu menjadi tunduk kepada-Nya seraya taat dan penuh kekhusyu’an setelah sebelumnya [hatimu] membatu dan jauh dari kebaikan.

Fa araaHul aayatal kubraa (“Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.”) yakni Musa pun memperlihatkan kepada Fir’aun hujjah yang sangat kuat dan bukti yang jelas mengenai kebenaran apa yang dibawanya dari sisi Allah disamping menyerukan dakwah yang haq tersebut. Fakadzadzaba wa-‘ashaa (“Tatapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai.”) maksudnya dia mendustakan kebenaran dan menentang ketaatan yang diperintahkan kepadanya. Alhasil dia tetap kufur serta tidak mau memenuhi ajakan Musa, baik bathin maupun lahir. Pengetahuannya mengenai kebenaran yang dibawa Musa itu tidak dapat dipastikan bahwa dia beriman kepadanya, karena ma’rifah itu adalah ilmu hati sedangkan iman adalah pengamalannya, yang merupakan ketundukan dan kepasrahan kepada kebenaran.

Firman Allah: tsumma adbara yas-‘aa (“Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang [Musa].”) maksudnya dalam rangka menyambut kebenaran dengan kebathilan, maka Fir’aun mengumpulkan para ahli syair untuk menghadapi berbagai mukjizat yang sangat hebat yang dibawa oleh Musa, fahasyara fanaadaa (“Maka dia mengumpulkan [pembesar-pembesarnya] lalu berseru memanggil,”) yakni kaumnya.
Faqaala ana rabbukumul a’laa fa akhadzaHullaaHu nakaalal aakhirati wal uulaa (“Seraya berkata: ‘Akulah rabb-mu yang paling tinggi.’ Maka Allah mengadzabnya dengan adzab di akhirat dan adzab di dunia.”) maksudnya Allah menimpakan adzab kepadanya sekaligus dijadikan sebagai ibrah dan pelajaran bagi orang-orang semisalnya dari mereka yang berbuat sewenang-wenang di dunia. Dan yang benar, bahwa pengertian yang dimaksud dengan firman-Nya: nakaalal aakhirati wal uulaa (“Dengan adzab terakhir dan adzab yang pertama.”) yakni di dunia dan di akhirat. Dan firman-Nya: inna fii dzaalika la-‘ibratal limay yakhsyaa (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut [kepada Rabb-nya]”) yakni bagi orang-orang yag mau mengambil pelajaran dan berhati-hati.

tulisan arab alquran surat an naazi'aat ayat 27-33“27. Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya, 28. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, 29. dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. 30. dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. 31. ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. 32. dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, 33. (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (an-Naazi’aat: 27-33)

Allah berfirman seraya mengemukakan hujjah kepada orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan, yaitu menyangkut pengembalian makhluk setelah ketiadaannya. A antum (“Apakah kamu.”) wahai sekalian umat manusia; asyaddu khalqan amis samaa-u (“Yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit?”) artinya penciptaan langit itu lebih sulit daripada penciptaan kalian. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: lakhalqus samaawaati wal ardli akbaru min khalqin naasi (“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia.”)(al-Mu’minuun: 57)

Firman-Nya: banaaHaa (“Allah telah membangunnya.”) penggalan ayat ini ditafsirkan oleh firman-Nya yang selanjutnya: rafa-‘a samkaHaa fasawwaaHaa (“dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.”) maksudnya, dia telah menjadikannya sebagai bangunan yang sangat tinggi dan jauh dari daratan dengan permukaan yang sama, dihiasi dengan bintang-bintang pada malam hari yang gelap.

Firman-Nya: wa aghthasya lailaHaa wa akhraja dluhaaHaa (“Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.”) maksudnya Dia telah menjadikan malam harinya gelap gulita lagi pekat, dan Dia jadikan siang harinya terang benderang lagi penuh cahaya.
(bersambung ke bagian 3)

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naazi’aat (1)

29 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naazi’aat (Malaikat-Malaikat yang Mencabut)
Surah Makkiyyah; Surah ke 79: 46 ayat

tulisan arab alquran surat an naazi'aat ayat 1-14bismillaaHir rahmaanir rahiim
“1. demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, 2. dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, 3. dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, 4. dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, 5. dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). 6. (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam, 7. tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. 8. hati manusia pada waktu itu sangat takut, 9. pandangannya tunduk. 10. (orang-orang kafir) berkata: “Apakah Sesungguhnya Kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula? 11. Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila Kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” 12. mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”. 13. Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, 14. Maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.” (an-Naazi’aat: 1-14)

Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, masruq, Sa’id bin Jubair, AbuShalih, Abduh Dhuha, as-Suddi berkata: wan naazi’aati gharqan (“Demi yang mencabut [nyawa] dengan keras.”) yakni para malaikat. Yang mereka maksudkan adalah ketika Malaikat itu mencabut nyawa anak cucu Adam, maka di antara mereka ada yang diambil nyawanya dengan susah payah sehingga harus dicabut dengan keras. Dan ada juga yang dicabut nyawanya dengan mudah. Dan itulah makna firman Allah Ta’ala: wan naasyithaati nasythaa (“Dan [malaikat-malaikat] yang mencabut [nyawa] dengan lemah lembut.”) demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas.

Sedangkan firman-Nya: was saabihaati sabhan (“Dan yang turun dari langit dengan cepat.”) maka Ibnu Mas’ud mengatakan: “Yaitu para Malaikat.” Sedangkan Qatadah mengemukakan: “Yaitu bintang-bintang.” Diriwayatkan dari ‘Ali, Masruq, Mujahid, Abu Shalih, dan al-Hasan al-Bashri, yaitu para Malaikat. Dan al-Hasan mengatakan: “Dia lebih cepat kepada keimanan dan pembenaran.”

Firman Allah: fal mudabbiraati amran (“Dan yang mengatur urusan [dunia]”). Ali, Muhahid, ‘Atha’, Abu Shalih, al-Hasan, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas, dan as-Suddi mengatakan: “Yakni para malaikat.” Dan al-Hasan menambahkan: “Mereka mengatur urusan dari langit sampai ke bumi, yakni atas perintah Rabbnya.” Dan dalam hal yang terakhir ini mereka berbeda pendapat.

Firman-Nya: yauma tarjufur raaajifatu tatba-‘uHar raadifatu (“Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua.”) Ibnu Abbas mengatakan: “Dua tiupan, yaitu tiupan pertama dan tiupan kedua.” Dan firman-Nya: Quluubuy yauma-idziw waajifaH (“Yakni dalam keadaan takut.”) Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. abshaaruHaa khaasyi-‘ah (“Pandangannya tunduk.”) maksudnya pandangan para pemiliknya. Dinisbatkannya hal itu kepadanya dimaksudkan untuk mengungkapkan keadaan, yaitu dalam keadaan hina dina, karena melihat berbagai hal yang menakutkan.

Firman Allah: yaquuluuna a-innaa lamarduuduuna fil haafiraH (“[Orang-orang kafir] berkata: ‘Apakah kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula?”) yakni orang-orang musyrik dari kaum Quraisy serta orang-orang yang mengungkapkan apa yang mereka ungkapkan dalam mengingkari hari kiamat. Mereka menjauhkan diri dari terjadinya hari berbangkit setelah mereka ditempatkan di dalam kubur. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, dan setelah jasad-jasad mereka hancur berantankan dan tulang-belulang mereka berserakan dan hancur lumat. Oleh karena itu, mereka berkata: a idzaa kunnaa ‘idhaaman nakhiraH (“Apakah [akan dibangkitkan juga] apabila telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?”) ada yang membaca: naakhiraH. Sedangkan Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan: “Yakni hancur berantakan.” Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yaitu tulang-belulang yang sudah hancur lumat dan angin sudah masuk ke dalamnya.”

Adapun ucapan mereka: tilka idzang karratun khaasiraH (“kalau demikian itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.”) Muhammad bin Ka’ab mengatakan: “Kaum Quraisy mengungkapkan: ‘Seandainya Allah menghidupkan kita kembali setelah kematian kita, maka kita benar-benar merugi.”

Allah berfirman: fa innamaa Hiya zajratuw waahidatun fa idzaaHum bis saaHirati (“Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.”) maksudnya, yang demikian itu merupakan satu perintah saja dari Allah, tiada duanya dan tidak juga ada pengulangan. Tiba-tiba umat manusia bangkit seraya melihat, dimana Allah Ta’ala memerintahkan Israfil untuk meniupkan sangkakala satu kali sebagai tanda kebangkitan. Dan ternyata generasi pertama dan generasi terakhir bangkit di hadapan Rabb seraya melepaskan pandangan.

Dan firman Allah Ta’ala: fa idzaa Hum bissaaHiraH (“Maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.”) yang benar, kata as-saaHiraH berarti bumi.

tulisan arab alquran surat an naazi'aat ayat 15-26“15. sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. 16. tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Thuwa; 17. “Pergilah kamu kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas, 18. dan Katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. 19. dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?”20. lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.21. tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. 22. kemudian Dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). 23. Maka Dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. 24. (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”.25. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. 26. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (an-Naazi’aat: 15-26)
(bersambung ke bagian 2)