Arsip | 14.31

Air Sisa Minum yang suci / najis

1 Mei

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq; al-Qur’an-Hadits

Air sisa minuman yang dimaksud adalah apa yang masih terdapat pada bejana setelah diminum, dan ia bermacam-macam.

1. Sisa Manusia atau anak cucu Adam
Ia adalah suci, baik muslim maupun kafir, junub maupun haid. Adapun firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” Maka maksudnya adalah najis ma’nawi dilihat dari segi kepercayaan mereka yang salah dan tiada waspadanya menjaga diri dari kotoran-kotoran dan najis. Karena mereka bergaul dengan kaum Muslimin. Sementara para utusan dan duta-duta mereka berdatangan kepada Nabi saw. dan memasuki masjid, dan tidaklah disuruh oleh Nabi mencuci apa juga yang dikenai tubuh mereka.
Dari ‘Aisyah ra. katannya: “Saya minum dan saya waktu itu sedang haid, lalu saya berikan kepada Nabi saw. maka diletakkannya mulutnya pada bekas tempat mulutku.” (HR Muslim)

2. Sisa binatang yang dimakan dagingnya
Ia adalah suci karena air liurnya terbit dari daging suci hingga hukumnya tiada berbeda. Berkata Abu Bakar Ibnul Mundzir: “Ahli-ahli sama berpendapat (ijma’) bahwa sisa binatang yang dimakan dagingnya, boleh diminum dan dipakai untuk berwudlu.”

3. Sisa bagal, keledai, binatang seperti burung buas
Ia juga suci karena hadits Jabir ra: Ditanya Nabi saw: “Bolehkah kita berwudlu dengan sisa keledai?” Jawab Nabi saw.: “Boleh, juga dengan sisa semua binatang buas.” (diriwayatkan oleh Syafi’i, Daruquthni dan Baihaqi, katanya: “Hadits ini mempunyai sanad yang bila dihimpun sebagian dengan yang lain, maka akan menjadi kuat.)

Dari Ibnu Umar ra. katanya: “Dalam salah satu perjalanan Nabi saw. berangkat di waktu malam. Rombongan itu lewat pada seorang laki-laki yang sedang duduk dekat kolamnya. Umar pun bertanya kepadanya: “Apakah ada binatang buas yang minum di kolammu pada malam ini?” Nabi saw. bersabda: “Hai empunya kolam, jangan katakan padanya. Itu keterlaluan. Yang masuk perutnya adalah miliknya, sedang yang tertinggal, jadi minuman kita dan ia suci lagi menyucikan.” (HR Daruquthni)

Dan dari Yahya bin Sa’id bahwa Umar pergi bersama rombongan yang di dalamnya terdapat ‘Amru bin ‘Ash, hingga sampailah mereka ke dalam sebuah kolam. ‘Amru bertanya: “Hai empunya kolam, apakah kolam ini didatangi binatang buas untuk diminum?” “Tak usah dijawab.” Kata Umar, “Karena kita boleh minum di tempat minumnya binatang buas, dan ia dapat minum di tempat kita.” (Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwaththa’)

4. Sisa Kucing
Ia adalah suci berdasarkan hadits Kabsyah binti Ka’ab yang tinggal bersama Qatadah, bahwa Abu Qatadah suatu ketika masuk rumah, maka disediakan untuknya air minum oleh Kabsyah. Tiba-tiba datang seekor kucing yang meminum air itu, dan Abu Qatadah pun memiringkan mangkok hingga binatang itu dapat minum.
Ketika Abu Qatadah melihat Kabsyah memperhatikannya, ia pun bertanya: “Apakah kau tercengang hai anak saudaraku?” “Benar.” Ujarnya. Berkatalah Abu Qatadah: Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Kucing itu tidak najis, ia termaduk binatang yang berkeliling dalam lingkunganmu.” (diriwayatkan oleh yang berlima. Kata Turmudzi: “Hadits ini hasan lagi shahih.” Juga dinyatakan shahih oleh Bukhari dan lain-lain)

5. Sisa anjing dan babi
Ia adalah najis yang harus dijauhi. Mengenai sisa anjing ialah berdasarkan riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra: Bahwa Nabi saw. bersabda: “Bila anjing minum pada bejana salah seorang di antaramu, hendaknya dicucinya sebanyak tujuh kali.”
Dan menurut riwayat Ahmad dan Muslim: “Membersihkan bejana salah seorang kamu bila dijilat oleh anjing dengan membasuhnya sebanyak tujuh kali, permulaannya dengan tanah.” Adapun sisa babi ialah, karena kotorannya dan menjijikkan.”

Syarat dan Rukun Shalat (4)

1 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Duduk di Antara Dua Sujud;
Para imam madzab berbeda pendapat tentang wajibnya duduk di antara dua sujud. Hanafi: sunnah. Sementara Syafi’i, Maliki dan Hambali: wajib.
Menurut pendapat Syafi’i yang paling shahih: duduk istirahat (sebelum berdiri dari sujud) hukumnnya adalah sunnah. Sedangkan tiga imam lainnya berpendapat: tidak dimustahabkan duduk istirahat, tetapi langsung berdiri dari sujud.
Bangun dari sujud hendaknya dengan cara menekan kedua telapak tangan ke lantai. Demikian menurut tiga imam. Namun menurut Hanafi: tidak boleh menekan ke lantai dengan tangan.

Tasyahud;
Para imam madzab berbeda pendapat mengenai tasyahud awal dan duduknya (ketika membacanya). Hanafi, Maliki dan Syafi’i: tasyahud awal adalah mustahab. Sedangkan menurut Hambali: tasyahud awal adalah wajib.
Disunnahkan dalam duduk ketika membaca tasyahud awal dengan duduk iftirasy (duduk dengan melipat kaki kiri di bawah dan melipat kaki kanan di samping serta telapak kaki kanan ditegakkan) dan untuk tasyahud akhir dengan duduk tawaruk (duduk dengan melipat kaki kiri di bawah dan kaki kanan dilipat di samping serta telapak kaki kanan ditegakkan dan telapak kaki kiri di bawah pergelangan kaki kanan). Demikian menurut Syafi’i. Menurut Hanafi: disunnahkan duduk iftirasy pada tasyahud awal dan akhir. Maliki: duduk tawarruk pada kedua tasyahud.
Empat imam madzab sepakat bahwa boleh membaca salah satu bacaan tasyahud yang telah diriwayatkan dari Nabi saw. melalui tiga sahabatnya sebagai berikut: 1) ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab ra. 2) ‘Abdullah bin Mas’ud ra. 3) ‘Abdullah bin ‘Abbas ra.

Syafi’i dan Hambali memilih tasyahud Ibnu ‘Abbas, Hanafi memilih tasyahud Ibnu Mas’ud, dan Maliki memilih tasyahud Ibnu ‘Umar.
Tasyahud Ibnu ‘Abbas:
Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillaaH. Assalaamu ‘alaika ayyuHan habiyyu wa rahmatullaaHi wa barakaatuH. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaaHish shaalihiin. asyHadu allaa ilaaHa illallaaHu wa asy-Hadu anna muhammadar rasuulullaaHi (“segala kehormatan yang penuh berkah, rahmat, dan kabaikan bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat, dan berkah Allah terlipah atasmu, wahai Nabi. Semoga kesejahteraan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”) hadits ini diriwayatkan Muslim di dalam shahih-nya.

Tasyahud Ibnu Mas’ud sebagai berikut:
Attahiyyaatu lillaaHi wash shalawaatu wath thayyibaatu. Assalaamu ‘alaika ayyuHan habiyyu wa rahmatullaaHi wa barakaatuH. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaaHish shaalihiin. asyHadu allaa ilaaHa illallaaHu wa asy-Hadu anna muhammadar rasuulullaaHi (“segala kehormatan, rahmat, dan kabaikan bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat, dan berkah Allah terlipah atasmu, wahai Nabi. Semoga kesejahteraan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”) hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam shahih mereka.

Tasyahud Ibnu ‘Umar:
Attahiyyaatu lillaaHi. Azzaakiyaatu lillaaHi aththayyibaatush shalawaatu lillaaHi. Assalaamu ‘alaika ayyuHan habiyyu wa rahmatullaaHi wa barakaatuH. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaaHish shaalihiin. asyHadu allaa ilaaHa illallaaHu wa asy-Hadu anna muhammadan ‘abduHuu wa rasuuluHu (“segala kehormatan, rahmat, dan kabaikan bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat, dan berkah Allah terlipah atasmu, wahai Nabi. Semoga kesejahteraan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”) hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam al-Muwaththa’ dan al-Baihaqi an-Nawawi berpendapat: “Sanad-sanadnya shahih.”

Mengucapkan shalawat kepada Nabi saw. (dan keluarganya) dalam tasyahud akhir hukumnya adalah sunnah, menurut pendapat Hanafi dan Maliki. Syafi’i: wajib. Hambali dalam pendapatnya yang paling masyhur: shalat menjadi batal jika tidak membacanya.

Salam;
Para imam madzab sepakat bahwa mengucapkan salam disyariatkan. Syafi’i, Maliki dan Hambali: salam merupakan rukun. Hanafi: bukan rukun.
Hanafi dan Hambali: salam yang disyariatkan adalah dua kali. Maliki: satu kali. Syafi’i memiliki dua pendapat dan yang paling shahih: dua kali.
Apakah salam termasuk bagian shalat? Maliki, Syafi’i dan Hambali: ia termasuk bagian shalat. Hanafi: ia bukan bagian shalat.
Maliki: salam pertama wajib bagi imam dan munfarid. Syafi’i: wajib bagi imam, makmum dan munfarid. Hanafi: bukan fardlu. Hambali memiliki dua riwayat dan yang paling masyhur: kedua salam itu wajib.
Salam kedua menurut Hanafi, Syafi’i dalam pendapatnya yang paling shahih, dan Hambali: hukumnya sunnah. Sementara itu Maliki: tidak disunnahkan bagi imam dan munfarid. Sedangkan bagi makmum disunnahkan mengucapkan salam tiga kali; sekali ke kanan, sekali ke kiri dan sekali lagi ke depan untuk menjawab salam imam.

Niat Keluar dari Shalat;
Para imam madzab berbeda pendapat tentang niat keluar dari shalat. Maliki dan salah satu pendapat Syafi’i, serta Hambali: wajib. Namun pendapat paling shahih dari Syafi’i: tidak wajib. Sedangkan di kalangan ulama Hanafi terdapat perbedaan pendapat, apakah ia wajib atau tidak. Dari Hanafi sendiri tidak diperoleh keterangan yang dapat dijadikan pegangan.
Apa yang diniatkan dengan salam? Hanafi: niat memberi salam kepada malaikat penjaga dan kepada orang yang ada di sebelah kanan dan kiri. Maliki: imam dan munfarid berniat keluar dari shalat. Makmum pada salam pertama berniat keluar dari shalat, sedangkan pada salam kedua berniat menjawab salam imam. Syafi’i: munfarid berniat memberi salam kepada siapa saja yang ada di sebelah kanan dan kirinya, baik manusia, malaikat maupun jin. Imam berniat pada salam pertama untuk keluar dari shalat dan memberi salam kepada makmum. Sedangkan makmum berniat menjawab salam imam. Hambali dalam pendapatnya yang paling masyhur: berniat keluar dari shalat saja, tidak boleh disertai dengan niat yang lain.
(bersambung)

Syarat dan Rukun Shalat (3)

1 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Membaca Amiim;
Para imam mujtahid berbeda pendapat tentang mengucapkan amiin sesudah al-Fatihah. Pendapat yang masyhur dari Hanafi: mengucapkannya tidak dikeraskan, baik oleh imam maupun makmum. Maliki: dikeraskan baik oleh imam maupun makmum. Sedangkan tentang bacaannya oleh imam, terdapat dua pendapat yaitu boleh dan tidak boleh. Syafi’i: dikeraskan oleh imam. Sedangkan tentang bacaannya oleh makmum terdapat dua pendapat namun pendapatnya yang lebih shahih adalah bahwa bacaannya dikeraskan. Demikian menurut qaul qadim Syafi’i dan yang dipilih. Hambali: dikeraskan, baik oleh imam maupun makmum.

Membaca Surah Lain Setelah al-Fatihah;
Empat imam madzab sepakat bahwa membaca surah sesudah surah al-Fatihah dalam shalat shubuh dan dalam dua rakaat pertama shalat empat rakaat (dzuhur, asyar dan isya) serta dalam shalat tiga rakaat (magrib) hukumnya adalah sunnah.
Akan tetapi apakah disunnahkan juga dalam rakaat-rakaat lainnya? Dalam hal ini, tiga imam (Hanafi, Maliki dan Hambali) berpendapat: tidak disunnahkan. Sementara itu Syafi’i memiliki dua pendapat dan pendapat yang lebih kuat: tidak disunnahkan. Demikian dalam qaul qadim dan yang dipilih.

Mengeraskan Bacaan Surah;
Para imam madzab sepakat bahwa mengeraskan bacaan surah dalam shalat jahriyah (maghrib, isya dan shubuh) dan membacanya dengan perlahan dalam shalat sirriyah (dzuhur dan asyar) hukumnya adalah sunnah. Apabila sengaja mengeraskan dalam shalat sirriyah atau sebaliknya maka hal itu tidak membatalkan shalat, tetapi dianggap meninggalkan sunnah. Namun sebagian ulama Maliki berpendapat bahwa jika sengaja melakukannya maka shalatnya batal.
Para imam mujtahid berbeda pendapat tentang orang yang shalat sendirian (munfarid), apakah disunahkan mengeraskan bacaannya pada shalat jahriyah? Maliki dan Syafi’i: sunnah. Pendapat yang masyhur dari Hambali: tidak disunnahkan. Hanafi: boleh memilih, jika mau ia boleh mengeraskan sekedar terdengar oleh dirinya sendiri. Ia juga boleh membacanya dengan keras atau perlahan.

Rukuk dan Sujud;
Para imam mujtahid sepakat bahwa rukuk dan sujud merupakan fardlu shalat. Disyariatkan membungkuk dalam rukuk hingga kedua telapak tangan sampai ke lutut. Ketika itu, disunnahkan mengucapkan takbir. Namun, Sa’id bin Jubair dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berpendapat: tidak perlu bertakbir, kecuali pada permulaan shalat.
Para imam madzab berbeda pendapat tentang tumakninah dalam rukuk dan sujud. Hanafi: tumakninah tidak wajib, tetapi sunnah. Maliki, Syafi’i dan Hambali: fardlu sebagaimana rukuk dan sujud itu sendiri.
Menurut ijma’, ketika rukuk disunnahkan meletakkan kedua tangan di atas kedua lutut dan tidak diletakkan di antara kedua lutut.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia memasukkan kedua tangannya di antara dua lutut.

Tasbih dalam Rukuk dan Sujud;
Tasbih dalam rukuk dan sujud adalah sunnah. Akan tetapi menurut Hambali: tasbih dalam rukuk dan sujud adalah wajib satu kali. Demikian juga membaca: “sami’allaaHu liman hamidaH” dan berdoa di antara dua sujud. Namun jika ditinggalkan karena lupa, tidak membatalkan shalat.
Membaca tasbih tiga kali dalam rukuk dan sujud hukumnya adalah sunnah. Demikian menurut kesepakatan empat imam madzab.
Ats-Tsawri berpendapat: imam membaca tasbih lima kali agar makmum sempat membacanya tiga kali.

I’tidal;
Menurut Syafi’i dan Hambali: mengangkat kepala dari rukuk dan i’tidal adalah wajib. Demikian juga menurut pendapat Maliki yang termasyhur. Sementara itu, menurut Hanafi: tidak wajib. Jadi boleh langsung sujud, tetapi hal itu makruh. Mengucapkan sami’: “Sami-‘allaaHu liman hamidaH. Rabbanaa lakal hamdu mil-us samaawaati wa mil-ul ardli wa mil-u maa syi’ta min syai-im ba’du.” Ketika bangkit dari rukuk hukumnya adalah sunnah, baik bagi imam, makmum maupun bagi orang yang shalat sendirian (munfarid). Demikian menurut Syafi’i. Menurut Hanafi, Maliki dan Hambali: imam tidak boleh membaca lebih dari “Sami’allaaHu liman hamidaH” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) dan makmum tidak boleh membaca lebih dari “Rabbanaa lakal hamdu” (Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala puji). Maliki menambahkan: munfarid boleh membaca lebih dari bacaan tersebut.

Anggota Sujud;
Empat imam madzab sepakat bahwa sujud disyariatkan dengan tujuh anggota tubuh: muka, dua lutut, dua tangan, dan ujung jari kedua kaki.
Mereka berbeda pendapat tentang kefardluannya. Hanafi: yang fardlu adalah hahi dan hidung. Syafi’i: yang diwajibkan adalah dahi, inilah yang disepakati di kalangan madzab Syafi’i. Akan tetapi tentang anggota lain terdapat dua pendapat, pendapat yang paling kuat adalah yang mewajibkannya. Pendapat inipun adalah pendapat yang masyhur dari dalam madzab Hambali, kecuali hidung yang dalam hal ini perbedaan pendapat dalam madzab Hambali.
Maliki memiliki dua pendapat yang saling bertentangan. Diriwayatkan dari Ibnu Qasim bahwa yang wajib dalam sujud adalah dahi dan hidung. Jika keduanya tidak menempel (pada tempat sujud), sebaiknya shalat tersebut diulang jika masih ada waktu. Sementara itu jika waktunya sudah lewat maka tidak perlu mengulangnya.
Empat madzab berbeda pendapat tentang orang yang sujud di atas lipatan sorbannya. Hanafi, Maliki dan Hambali dalam salah satu pendapatnya: hal itu boleh. Sedangkan menurut Syafi’i dan pendapat lain Hambali: tidak boleh hingga dahinya menempel secara langsung pada tempat sujud.
Mereka pun berbeda pendapat tentang wajibnya membuka kedua telapak tangan ketika sujud. Dalam hal ini Hanafi dan Hambali berpendapat: tidak wajib. Maliki: wajib. Sedangkan Syafi’i memiliki dua pendapat, dan yang lebih shahih: tidak wajib.
(bersambung)

Syarat dan Rukun Shalat (2)

1 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Bersedekap;
Empat imam madzab sepakat bahwa meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (bersedekap) di dalam shalat hukumnya adalah sunnah. Namun ada riwayat dari Maliki, yang merupakan riwayat paling masyhur: tangan dijulurkan lurus ke bawah.
Al-Awza’i berpendapat: boleh memilih antara meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan menjulurkan tangan ke bawah.
Para imam madzab berbeda pendapat tentang tempat meletakkan kedua tangan. Hanafi: di bawah pusar. Maliki, Syafi’i: di bawah dada di atas pusar. Hambali memiliki dua pendapat dan yang lebih masyhur adalah yang dipilih al-Khurqi adalah seperti pendapat Hanafi. Tiga imam madzab sepakat bahwa orang yang shalat disunnahkan memandang ke tempat sujudnya.

Iftitah;
Tiga imam madzab sepakat bahwa doa iftitah di dalam shalat hukumnya adalah sunnah. Maliki berpendapat: bukan sunnah, melainkan setelah takbiratul ikram langsung membaca al-Fatihah.
Mengenai doa iftitah, Hanafi dan Hambali: doa yang diucapkan adalah: subhaanakallaaHumma wa bihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaHa ghairuka (“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Mahasuci nama-Mu, Mahatinggi kemuliaan-Mu, tidak ada tuhan selain-Mu.”)
Menurut Syafi’I, doanya adalah sebagai berikut: wajjaHtu wajHiya lilladzii tatharas samaawaati wal ardla haniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin. Inna shalatii wa nusukii wamahyaaya wa mamaatii lillaaHi rabbil ‘aalamiin. Laa syariikalaHu wa bi dzaalika umirti wa ana minal muslimiin (“Aku hadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung pada agama yang benar dan berserah diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku itu semata-mata hanya bagi Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dengan (janji) itu aku diperintah serta aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”)
Abu Yusuf berpendapat: dianjurkan untuk membaca keduanya.

Isti’adzah;
Para imam madzab berbeda pendapat tentang mengucapkan isti’adzah: a-‘uudzu billaaHi minasy syaithaanir rajiim (“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk”) sebelum membaca al-Fatihah.
Hanafi: isti’adzah diucapkan pada rakaat pertama. Syafi’i: dibaca pada setiap rakaat. Maliki: tidak perlu membaca isti’adzah di dalam shalat fardlu. Sementara itu dari an-Nakha’I dan Ibn Sirin diriwayatkan bahwa isti’adzah dibaca setelah membaca surah al-Fatihah.

Membaca surah Al-Faatihah;
Para imam madzab sepakat bahwa membaca al-Fatihah adalah wajib bagi imam dan orang yang shalat sendirian (munfarid) pada dua rakaat shalat shubuh dan pada rakaat pertama dan kedua shalat lain.
Mereka berbeda pendapat tentang membaca surah al-Fatihah pada rakaat lainnya. Syafi’i dan Hambali: diwajibkan membaca al-Fatihah pada setiap rakaat shalat fardlu. Hanafi: membaca surah al-Fatihah tidak wajib kecuali pada rakaat pertama setiap shalat fardlu. Maliki ada dua pendapat: pertama, sama dengan pendapat Syafi’i dan Hambali. Kedua, jika tertinggal membaca surah al-Fatihah pada salah satu rakaat shalat selain shalat shubuh, hendaknya sujud sahwi. Sedangkan jika pada shalat shubuh diulang lagi shalatnya.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang wajibnya membaca al-Fatihah bagi makmum. Hanafi: tidak wajib, baik bacaan imam itu dikeraskan (jahar) maupun tidak dikeraskan (sirr). Bahkan tidak disunnahkan membacanya di belakang imam secara mutlak. Maliki dan Hambali: tidak wajib membaca surah al-Fatihah di belakang imam secara mutlak. Maliki: makmum makruh membacanya apabila imam membacanya dengan keras, baik ia mendengar bacaan imam itu maupun tidak mendengarnya.

Hambali: disunnahkan makmum membaca surah al-Fatihah di belakang imam, jika imam membacanya secara perlahan. Syafi’i: makmum wajib membaca surah al-Fatihah jika imam membacanya secara perlahan. Bahkan, dalam pendapat paling kuat dari Syafi’i: makmum wajib membaca surah al-Fatihah dalam shalat jahar.
‘Ashim dan al-Hasan bin Shalih berpendapat: membaca surah al-Fatihah adalah sunnah.

Para imam madzab berbeda pendapat dalam menentukan apa yang dibaca. Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam riwayat yang masyhur: surah yang dibaca adalah surah al-Fatihah. Hanafi: sah membaca selain surah al-Fatihah, asalkan dari al-Qur’an.
Mereka juga berbeda pendapat tentang basmalah, apakah ia bagian dari surah al-Fatihah atau bukan. Syafi’i dan Hambali: basmalah bagian dari al-Fatihah. Hanafi dan Maliki: basmalah tidak termasuk al-Fatihah, oleh karena itu tidak wajib dibaca.
Menurut Syafi’i: basmalah dibaca dengan keras. Hanafi dan Hambali: dibaca secara perlahan. Maliki: hal yang disukai adalah tidak dibaca, melainkan langsung memulai dengan: alhamdulillaaHi rabbil ‘aalamiin (“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”)
Ibn Abi Laila berpendapat: boleh memilih membaca secara jahar dan sirr.
An-Nakha’i berpendapat: mengeraskan bacaan adalah bid’ah.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang orang yang tidak bisa membaca al-Fatihah dan surah lain. Hanafi dan Maliki: hendaknya ia berdiri selama membaca al-Fatihah. Syafi’i: hendaknya ia membaca tasbih: subhaanallaaH (“Mahasuci Allah”) selama bacaan al-Fatihah. Jika ia membaca al-Fatihah dengan bahasa Parsi (terjemahan) tidaklah sah. Akan tetapi Hanafi berpendapat: jika mau ia boleh membaca surah al-Fatihah dengan bahasa Arab maupun bahasa lain.

Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan berpendapat: jika ia bisa membaca surah al-Fatihah dengan bahasa Arab maka ia tidak boleh membacanya dengan bahasa lain. Namun apabila ia tidak bisa membacanya dengan bahasa Arab yang baik maka ia boleh membacanya dengan bahasa lain.
Jika seseorang shalat membaca al-Fatihah dari Mushaf (al-Qur’an), menurut Hanafi: shalatnya batal. Syafi’i: boleh. Hambali memiliki dua pendapat: pertama boleh dan kedua, boleh dalam shalat sunnah, tetapi tidak boleh dalam shalat fardlu. Pendapat kedua ini merupakan pendapat Maliki.
(bersambung)

Syarat dan Rukun Shalat (1)

1 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Syarat-syarat Shalat;
Para imam mujtahid sepakat bahwa shalat mempunyai syarat, yang tanpa syarat tersebut shalat tidak sah, yakni:
1. Wudlu dengan air atau tayamum ketika tidak ada air
2. Berdiri di tempat yang suci
3. Menghadap kiblat bagi yang sanggup melakukannya
4. Mengetahui dengan yakin bahwa waktu shalat telah tiba

Para imam madzab berbeda pendapat mengenai menutup aurat. Hanafi, Syafi’i dan Hambali: menutup aurat termasuk syarat-syarat shalat. Oleh karena itu menurut mereka syarat shalat ada lima.
Menurut Maliki, sebagian mereka berpendapat: menutup aurat termasuk syarat-syarat shalat jika sanggup dikerjakan dan teringat. Kalau aurat sengaja dibuka dan shalat dalam keadaan tersebut, padahal ia sanggup menutupnya, maka shalat itu batal. Sebagian yang lain berpendapat bahwa menutup aurat merupakan kewajiban yang berdiri sendiri. Ia bukan syarat sahnya shalat. Oleh karena itu jika seseorang shalat dalam keadaan aurat terbuka dan disengaja maka ia telah durhaka, tetapi kewajiban shalatnya gugur sedang shalatnya dipandang sah. Sedangkan pendapat yang dipegang para ulama mutaakhir madzab Maliki: shalat dengan aurat terbuka adalah tidak sah.

Rukun-rukun Shalat:
Empat imam mujtahid sepakat bahwa shalat mempunyai rukun-rukun yang termasuk di dalam shalat, di antaranya ada tujuh rukun yang disepakati:
1. Niat
2. Takbiratul ikram
3. Berdiri bagi yang mampu
4. Membaca (surah al-Fatihah)
5. Rukuk
6. Sujud
7. Duduk pada akhir shalat
Para imam madzab berbeda pendapat tentang rukun-rukun selain yang tujuh ini. Syarat-syarat dan rukun-rukun di atas merupakan fardlu shalat yang sebagian bersatu dan sebagian lagi tidak bersatu. Maka, niat menurut ijma’ adalah fardlu shalat.

Niat;
Hanafi: boleh mendahulukan niat atas takbiratul ikram asalkan terpaut sedikit dengan takbir. Maliki dan Syafi’i: niat harus bersamaan dengan takbiratul ikram, tidak boleh didahulukan atau diakhirkan.
Al-Qaffal, seorang imam mutaqaddim pengikut madzab Syafi’i berpendapat: jika niat bersamaan dengan awal takbiratul ikram, maka shalat itu sah.
An-Nawawi, seorang imam mutaakhir pengikut madzab Syafi’i, berpendapat: pendapat yang dipilih dalam hal ini adalah cukup membandingkan kebersamaan menurut anggapan umum, mengingat shalat yang dikerjakan tidak dipandang lalai darinya. Inilah yang diamalkan orang-orang dahulu (salaf).

Takbiratul Ikram;
Para imam madzab sepakat bahwa takbiratul ikram termasuk fardlu-fardlu shalat yang tidak sah kecuali dilafalkan . diriwayatkan dari az-Zuhri bahwa shalat tidak sah dengan semata-mata niat tanpa takbiratul ikram.
Para imam madzab sepakat bahw takbiratul ikram cukup hanya mengucapkan “AllaaHu akbar.” (Allah Mahabesar).
Hanafi berpendapat bahwa sah takbiratul ikram dengan lafaz pengagungan seperti: “AllaaHul ‘adhiim.” (Allah Yang Mahaagung) dan “AllaaHul jaliil” (Allah Yang Mahamulia). Kalau seseorang mengucapkan “AllaaH” tanpa tambahan lafaz lain, hal itu sah.
Syafi’i berpendapat: sahnya takbiratul ikram dengan bahasa Arab, selain itu maka shalatnya tidak sah. Namun Hanafi berpendapat: shalatnya sah.
Menurut ijma’ para imam madzab, mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ikram hukumnya adalah sunnah. Namun mereka berbeda pendapat tentang batasannya. Hanafi: sejajar dengan telinga. Maliki dan Syafi’i: sejajar bahu. Hambali memiliki tiga pendapat: 1) yang lebih masyhur sejajar dengan bahu. 2) sejajar dengan telinga. 3) boleh memilih di antara keduanya. Pendapat terakhir ini dipilih oleh al-Khurqi.
Menurut Maliki, Syafi’i, dan Hambali, bahwa mengangkat kedua tangan ketika rukuk dan bangkit dari rukuk (i’tidal) hukumnya adalah sunnah. Sementara itu Hanafi berpendapat: bukan sunnah.

Berdiri;
Para imam madzab sepakat bahwa bediri (qiyam) merupakan fardlu shalat yang diwajibkan bagi orang yang mampu melakukannya. Apabila seseorang meninggalkannya, padahal ia mampu, maka shalatnya tidak sah. Namun jika tidak mampu berdiri, hendaknya ia shalat sambil duduk.
Tentang cara shalat sambil duduk dalam madzab Syafi’i ada dua pendapat: 1) duduk bersila. Demikian pula riwayat dari Maliki dan Hambali, dan Hanafi. 2) duduk iftirasy (duduk dengan melipat kaki kiri di bawah dan kaki kanan dilipat di samping serta telapak kaki kanan ditegakkan). Inilah pendapat yang paling shahih. Hanafi: boleh duduk sekehendaknya.
Jika tidak mampu shalat sambil duduk, menurut Syafi’i: berbaring di atas lambung yang sebelah kanan sambil menghadap kiblat. Jika tidak mampu berbaring, hendaknya terlentang di atas punggung dan kedua kaki diarahkan ke kiblat. Demikian juga pendapat Maliki dan Hambali. Sementara itu, Hanafi berpendapat: hendaknya ia berbaring terlentang di atas punggung dan menghadapkan kedua kaki ke kiblat sehingga ia dapat mengisyaratkannya ke kiblat ketika rukuk dan sujud.
Jika seseorang tidak mampu berisyarat dengan kepala ketika rukuk dan sujud, hendaklah ia berisyarat dengan mata. Akan tetapi, Hanafi berpendapat: jika sudah demikian keadaannya, gugurlah kewajiban shalat darinya.
Orang yang mengerjakan shalat di atas kapal atau perahu wajib berdiri jika shalat itu fardlu selama tidak khawatir tenggelam atau kepala pusing. Namun Hanafi berpendapat: tidak wajib berdiri.
(bersambung)

Berharap Kepada Allah (2)

1 Mei

Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits

Dari ‘Itban bin Malik ra. salah seorang yang mengikuti perang Badar, ia berkata: “Saya biasa menjadi imam bai kaumku, Bani Salim. Antara tempatku dengan tempat mereka terdapat sebuah lembah. Apabila turun hujan, saya kesulitan mendatangi masjid mereka. Maka saya menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Sesungguhnya penglihatanku sudah berkurang, dan lembah antara tempat tinggal saya dengan tempat mereka banjir apabila turun hujan. Sehingga saya kesulitan untuk mendatangi tempat itu. Oleh karena itu sudilah kiranya engkau datang ke rumah saya, dan rumah itu akan saya jadikan mushalla.” Rasulullah bersabda: “Baiklah.” Keesokan harinya, ketika cuaca tidak begitu panas Rasulullah dan Abu Bakar ra. datang ke tempat saya. Rasulullah minta izin untuk masuk, dan saya memperlilakannya, tetapi beliau tidak langsung duduk, dan bertanya: “Bagian manakah yang kamu inginkan agar aku shalat di rumahmu?” saya menunjukkan tempatnya, kemudian Rasulullah saw. berdiri dan bertakbir. Kami mengikuti beliau shalat dua rakaat kemudian salam, dan kamipun mengucapkan salam ketika beliau mengucapkannya. Kemudian saya mempersilakan beliau untuk menikmati hidangan bubur dari tepung gandum yang saya sediakan.
Para tetangga mendengar bahwa Rasulullah berada di rumah saya, maka berbondong-bondonglah mereka memenuhi rumah saya. Lalu salah seorang berkata: “Apa yang dikerjakan oleh Malik, saya tidak tahu.” Lantas ada orang yang berkata: “ lantas ada orang yang berkata: “Dia adalah orang munafik yang tidak cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah bersabda: “Kamu jangan berkata seperti itu, apakah kamu tidak tahu bahwa ia mengucapkan: laa ilaaHa illallaaH (Tidak ada Tuhan selain Allah), dengan itu mengharapkan keridlaan Allah Ta’ala?” Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Adapun kami, demi Allah tidak mengetahui kecintaan dan pembicaraannya melainkan lebih condong kepada orang-orang munafik.” Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan api neraka kepada orang yang mengucapkan: laa ilaaHa illallaaH Muhammadar rasuulullaaH (Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah) dengan tujuan untuk mencari ridla Allah). (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Beberapa orang tawanan di hadapkan kepada Rasulullah saw. tiba-tiba ada seorang wanita dalam tawanan itu bingung mencari anaknya. Setiap ia melihat anak kecil dalam rombongan tawanan itu diangkatnya dan disusuinya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Apakah kamu berpendapat bahwa wanita itu akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab:”Demi Allah, tidak.” Beliau bersabda: “Allah lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi sayangnya perempuan itu kepada anaknya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tatkala Allah menciptakan makhluk, Ia menulis pada suatu kitab. Kitab itu berada di sisinya di atas ‘Arasy, bertuliskan: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Sembilan puluh sembilan ditahan di sisi-Nya, satu bagian Ia turunkan ke bumi. Dari satu bagian itulah semua makhluk saling menyayangi sampai binatang itu mengangkat kakinya, karena khawatir menginjak anaknya.”
Dalam riwayat lain dikatakan: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat dan Ia menurunkan satu di antara seratus rahmat itu untuk jin, manusia, binatang dan serangga. Dengan satu rahmat itulah mereka saling menyayangi dan dengan satu rahmat itulah binatang buas mempunyai rasa kasih sayang terhadap anaknya. Adapun rahmat yang sembilan puluh sembilan, Allah menyimpannya untuk diberikn pada hari kiamat, sebagai rasa sayang terhadap hamba-hamba-Nya. (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits riwayat Muslim dari Salman al-Farisi ra. Ia berkata: RAsulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai rahmat seratus, satu diantaranya rahmat yang menjadikan makhluk itu saling menyayangi. Dan yang Sembilan puluh Sembilan, diturunkan pada hari kiamat.”
Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi, Ia menciptakan pula seratus rahmat. Masing-masing rahmat memenuhi langit dan bumi. Satu di antaranya sebagai rahmat di muka bumi. Dengan satu rahmat itulah seorang ibu mempunyai rasa sayang terhadap anaknya, demikian pula binatang dan burung, mereka saling menyayangi. Apabila hari kiamat tiba, maka disempurnakanlah rahmat itu.”

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. dalam menceritakan wahyu yang diterima dari Tuhannya Yang Maha Pemberi Berkah lagi Mahaluhur, beliau bersabda: “Seorang hamba berdosa, kemudian ia berdoa: ‘Ya Allah ampunilah dosaku.’ Maka Allah Yang Maha Pemberi Berkah lagi Mahaluhur berfirman: ‘Hamba-Ku berbuat dosa kemudian ia mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan akan menuntut dosanya.’”
Kemudian ia melakukan dosa lagi dan berdoa: ‘Ya Tuhanku, ampunilah dosaku.’ Maka Allah Yang Maha Pemberi Berkah lagi Maha Luhur berfirman: ‘Hamba-Ku berbuat dosa kemudian ia mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan akan menuntut dosanya.’ Kemudian ia melakukan dosa lagi dan berdoa: ‘Ya Tuhanku, ampunilah dosaku.’ Maka Allah Yang Maha Pemberi Berkah lagi Maha Luhur berfirman: ‘Hamba-Ku berbuat dosa kemudian ia mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan akan menuntut dosanya. Aku benar-benar memberi ampunan kepada hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat menurut apa yang dikehendakinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, andaikan kalian tidak berdosa, Allah pasti akan memusnahkan kalian dan mendatangkan kaum yang berdosa kemudian mereka memohon ampunan kepada Allah, maka Allah pun mengampuni dosa mereka.” (HR Muslim)

Dari Abu Ayyub al-Anshariy ra. ia berkata: saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Andaikan kalian tidak berbuat dosa, Allah pasti menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampunan maka Allah pun mengampuni dosa mereka.” (HR Muslim)

Adab Berpakaian

1 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Dari Mu’adz bin Anas ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian mewah karena tawadlu’ (merendahkan diri) kepada Allah padahal ia mampu untuk membelinya, maka kelak pada hari kiamat Allah memanggilnya di hadapan para makhluk, untuk disuruh memilih pakaian iman sekehendaknya untuk dipakainya.” (HR Turmudzi)

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya kepada hamba-Nya.” (HR Turmudzi)

Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian memakai kain sutera, karena sesungguhnya orang yang memakainya di dunia, maka kelak di akhirat ia tidak akan memakainya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang memakai kain sutera (ketika di dunia) adalah orang yang tidak akan mendapat bagian kelak (di akhirat).” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan dalam riwayat Bukhari dikatakan: “Orang yang tidak akan mendapat bagian kain sutera kelak di akhirat.”

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang memakai kain sutera di dunia, maka tidak akan memakainya kelak di akhirat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ali ra. ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw. memegang kain sutera di tangan kanannya, dan memegang emas di tangan kirinya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya kedua benda ini adalah haram bagi umatku yang laki-laki.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Musa al-Asy’ariy ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Diharamkan memakai kain sutera dan emas bagi umatku yang laki-laki, dan dihalalkan bagi umatku yang perempuan.” (HR Turmudzi)

Dari Hudzaifah ra. ia berkata: Nabi saw. telah melarang kami untuk makan dan minum menggunakan bejana emas dan perak, dan juga melarang memakai kain sutera baik yang tipis maupun yang tebal, serta melarang duduk di atasnya.” (HR Bukhari)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. telah memberikan kemudahan kepada Zubair dan Abdurrahman bin ‘Auf ra. untuk memakai kain sutera karena menderita penyakit gatal-gatal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. apabila memakai baju, sorban, kemeja atau selendang yang baru, maka beliau memberinya nama dan berdoa: “AllaaHumma lakal hamdu anta kasautahiiHi, as-aluka khairaHu wa khaira maa shuni-‘alaHu, wa a-‘uudzu bika min syarriHii wa syarri maa shuni-‘alaHu” (Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau yang telah memberiku pakaian. Saya memohon kepada-Mu akan kebaikan pakaian ini dan kebaikan yang dibuat untuknya. Dan saya berlindung diri kepada-Mu akan kejelekan pakaian ini dan kejahatan yang diperbuat untuknya.”) (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Mu’awiyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian duduk di atas kain sutera dan jangan pula di atas kulit harimau.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Al-Malih dari ayahnya, bahwasannya Rasulullah saw. melarang duduk pada kulit binatang buas. (HR Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa’i)
Dan di riwayat Turmudzi dikatakan: “Beliau melarang menghamparkan kulit binatang buas untuk diduduki.”

Tata Cara/Adab Tidur

1 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Dari al-Barra’ bin Azib ra. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. berada di tempat tidurnya dan hendak tidur, maka beliau miring ke sebelah kanan kemudian membaca: “AllaaHumma aslamtu nafsii ilaika wawajjaHtu wajHii ilaika wa fawwadl-tu amrii ilaika wa alja’tu dhaHrii ilaika. Raghbataw wa raHbatan ilaika. Laa malja-a wa laa manjaa illaa ilaika. Amantu bikitaabikalladzii anzalta wa nabiyyikal ladzii arsalta.” (Ya Allah, saya menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu, dan menyerahkan semua urusan kepada-Mu dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan (beriman) dengan nabi-Mu yang Engkau utus.” (HR Bukhari)

Dari al-Barra’ bin Azib ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Apabila kamu hendak tidur maka berwudlu-lah lebih dulu seperti wudlumu untuk shalat. Kemudian berbaringlah pada pinggangmu yang kanan dan bacalah doa ini (yaitu sama dengan yang telah disebutkan di atas ini). Dalam hadits ini Nabi saw. juga bersabda: “Jadikanlah bacaan doa ini sebagai akhir dari semua perkataanmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Nabi saw. biasa mengerjakan shalat malam sebelas rakaat, dan jika fajar telah menyingsing maka beliau shalat dua rakaat yang tidak terlalu lama, kemudian berbaring pada pinggang sebelah kanan sampai muadzin datang mengumandangkan adzan shubuh.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Hudzaifah ra. ia berkata: Apabila Nabi saw. hendak tidur pada waktu malam, maka beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya, kemudian berdoa: “AllaaHumma bismika amuut wa ahyaa” (Ya Allah, atas nama-Mu saya mati dan saya hidup). Dan apabila bangun, beliau berdoa: “Alhamdu lillaaHilladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaiHin nusyuur.” (Segala puji bagi Allah Dzat yang menghidupkan kami sesudah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya lah kami dibangkitkan.) (HR Bukhari)

Dari Ya’isy Thaikhfah al-Ghifariy ra.ia berkata: ayah saya berkata: “Pada waktu saya tiduran menelungkup di dalam masjid tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan saya dengan kakinya dan berkata: ‘Tidur semacam ini adalah tidur yang dimurkai (dibenci) oleh Allah.’ Dan ketika saya lihat, ternyata orang itu adalah Rasulullah saw.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalamsuatu majelis kemudian ia tidak dzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia akan mendapatkan kerugian di hadapan Allah. Dan barangsiapa yang berbaring kemudian ia tidak bedzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia juga akan mendapatkan kerugian di hadapan Allah.” (HR Abu Dawud

Haram Menurunkan Pakaian Karena Sombong

1 Mei

Riyadhush shalihin; Imam Nawawi; Hadits-Hadits

Dari Asma’ binti Yazid al-Anshariyah ra. ia berkata: “Lengan kemeja Rasulullah saw. hanya sampai pergelangan tangan.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang menurunkan kainnya di bawah mata kaki karena sombong, maka pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihatnya.” Kemudian Abu Bakar ra. berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya kain saya selalu turun sampai di bawah mata kaki, kecuali apabila saya sangat berhati-hati.” Rasulullah saw. bersabda kepadanya: “Sesungguhnya kamu tidaklah termasuk orang-orang yang berbuat semacam itu karena sombong.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Nanti pada hari kiamat Allah tidak akan melihat orang yang menurunkan kainnya di bawah mata kaki karena sombong.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Kain yang berada di bawah mata kaki, adalah bagian dari api neraka.” (HR Bukhari)

Dari Abu Dzarr ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang kelak pada hari kiamat Allah tidak akan mengajak bicara mereka, Allah tidak akan melihat mereka, dan tidak pula mengampuni dosa mereka, dan mereka akan mendapat siksa yang pedih.” Rasulullah mengucapkan kalimat itu tiga kali. Kemudian Abu Dzarr berkata: “Amatlah kecewa dan rugi mereka itu. Siapakah mereka wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang menurunkan kainnya, orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya, dan orang yang menjual barang dagangannya menggunakan sumpah palsu.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Orang yang menurunkan kain, kemeja dan sorbannya; barangsiapa yang memanjangkan sesuatu karena sombong, maka kelak pada hari kiamat Allah tidak akan melihat kepadanya.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)

Dari Abu Jurayz (Jabir) bin Sulaim ra. ia berkata: Saya melihat seseorang yang pendapatnya selalu diikuti oleh orang banyak, apapun yang dikatakannya pasti diikuti mereka.” Saya bertanya: “Siapakah orang itu?” Para shahabat menjawab: “Itu adalah Rasulullah saw?” Saya mengucapkan ‘ALAIKASSALAAM YAA RASUULALLAAH dua kali.” Kemudian beliau bersabda: “Janganlah kamu mengucapkan ‘alaikassalaam, karena ‘alaikassalaam adalah ucapan untuk orang yang telah meninggal. Tetapi ucapkanlah: ASSALAAMU ‘ALAIKUM.” Jabir bertanya: “Benarkah engkau utusan Allah?” Beliau menjawab: “Ya. Aku adalah utusan Allah, zat yang apabila kamu tertimpa suatu musibah kemudian kamu berdoa kepada-Nya, niscaya Dia akan menghilangkan musibah yang menimpa kamu. Apabila kamu tertimpa paceklik kemudian kamu berdoa kepada-Nya, niscaya Dia akan segera menumbuhkan tanaman untuk mu. Apabila kamu berada di tengah gurun pasir atau tanah lapang, kemudian kendaraanmu atau ternakmu hilang lantas kamu berdoa kepada-Nya, niscaya Dia akan mengembalikannya kepadamu.” Jabir berkata kepada beliau: “Berilah saya nasehat.” Beliau bersabda: “Janganlah engkau sekali-kali memaki seseorang.” Jabir berkata: “Maka setelah itu saya tidak pernah memaki orang merdeka, budak, onta dan kambing.” Beliau juga bersabda: “Janganlah kamu sekali-sekali meremehkan suatu kebaikan, dan berkatalah kepada temanmu dengan muka yang manis. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk kebaikan. Dan tinggikanlah kainmu sampai pertengahan betis, dan kalau kamu enggan, maka boleh sampai kedua mata kaki. Janganlah kamu menurunkan kain itu melebihi mata kaki karena itu termasuk perbuatan sombong. Dan sesungguhnya Allah tidak suka terhadap sifat sombong. Dan apabila ada seseorang memaki dan mencela kamu dengan apa yang dia ketahui tentang dirimu, maka janganlah engkau mencelanya dengan apa yang engkau ketahui tentang dirinya. Karena sesungguhnya akibat dari caci maki itu akan kembali kepadanya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Qais bin Basyiir at-Taghlibi, ia berkata: Ayah yang menjadi teman dekat Abu Darda’ memberitahukan kepadaku dimana ia berkata: “Di Damaskus ada seorang shahabat Nabi saw. yang bernama Ibnu Hanzhaliyah, ia adalah orang yang senang menyendiri, jarang sekali duduk-duduk bersama orang lain, kecuali untuk shalat. Apabila selesai shalat ia terus membaca tasbih dan takbir sehingga pulang ke rumahnya.” Ketika kami berada di tempat Abu Darda’, ia lewat. Maka Abu Darda’ berkata kepadanya: “Sampaikanlah suatu kalimat yang bermanfaat bagi kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “Rasulullah saw. mengutus suatu pasukan, kemudian setelah kembali, salah seorang di antara mereka duduk pada suatu majelis yang mana disitu ada Rasulullah saw. Ia berkata kepada seseorang yang berada di sampingnya: “Bagaimana pendapatmu ketika kami berhadapan dengan musuh, maka seorang dari kami menyerang musuh, dan setelah menikam musuh ia berkata: ‘Rasulullah tikaman diriku, dan aku adalah pemuda Ghifar’?” Orang yang ada di sampingnya berkata: “Menurut pendapatku orang tadi selalu hilang pahalanya.” Orang lain yang mendengar apa yang dikatakannya, ia berkata: “Menurut pendapatku orang itu tidak apa-apa (masih tetap pahalanya).” Maka bertengkarlah kedua orang itu sehingga Rasulullah saw. mendengar kemudian beliau bersabda: “Maha suci Allah, tidak apa-apa ia tetap mendapat pahala dan tetap terpuji.” Saya melihat Abu Darda’ nampak gembira sekali dan mengangkat kepalanya ditujukan kepada Ibnu Hanzhaliyah serta bertanya: “Apakah kamu mendengar sendiri keterangan itu dari Rasulullah saw. ? Ibnu Hanzhaliyah menjawab: “Ya.” Abu Darda’ mengulang-ulang pertanyaan itu sehingga saya berkata: “Ia benar-benar minta berkah kepada kedua lututnya.” Ayah berkata lagi: “Pada saat yang lain ia lewat, maka Abu Darda’ berkata kepadanya: “Sampaikanlah satu kalimat yang bermanfaat untuk kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda kepada kami: Orang yang memberi belanja untuk kudanya itu bagaikan orang yang membentangkan tangannya dengan sedekah, ia tidak menggenggamkan tangannya itu.”
Pada saat yang lain ia lewat, maka Abu Darda’ berkata: “Sampaikanlah satu kalimat yang bermanfaat untuk kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik orang adalah Khuraim Al-Usaidy, seandainya ia tidak berambut panjang dan tidak menurunkan kainnya sampai di bawah mata kaki.” Setelah berita itu terdengar oleh Khuraim maka ia langsung mengambil pisau untuk memotong rambutnya sampai sebatas kedua telinganya dan menaikkan kainnya sampai ke pertengahan kedua betisnya.”
Pada saat yang lain ia lewat, maka Abu Darda’ berkata: “Sampaikanlah satu kalimat yang bermanfaat untuk kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “ Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian akan kembali kepada saudara-saudaramu, maka perbaikilah kendaraanmu dan baguskanlah pakaianmu sehingga kamu seolah-olah merupakan tahi lalat yang menjadi hiasan manusia. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang kotor, baik dalam pakaiannya maupun perkataannya.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Pada suatu hari ketika ada seseorang shalat dengan kain yang sampai di bawah mata kaki, maka Rasulullah saw. bersabda: “Pergilah dan berwudlu-lah.” Ia pun pergi dan berwudlu. Maka ada seseorang bertanya: “Wahai Rasulallah, mengapa engkau menyuruh orang itu melakukan wudlu kemudian engkau diamkan?” Beliau bersabda: “Karena ia shalat dengan memakai kain sampai di bawah mata kaki. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang memakai kain sampai di bawah mata kaki.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kain sarung seorang muslim adalah sampai pertengahan betis. Dan tidaklah berdosa jika sampai pada di antara betis dan kedua mata kaki. Sedangkan yang sampai di bawah mata kaki itu adalah bagian neraka. dan barangsiapa yang menurunkan kain sarungnya sampai di bawah mata kaki karena sombong maka kelak Allah tidak akan melihat kepadanya.” (HR Abu Dawud)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: saya berjalan di depan Rasulullah saw. sedangkan kain saya terlalu rendah, kemudian beliau bersabda: “Wahai Abdullah, naikkanlah kainmu itu.” Maka saya pun menaikkannya. Beliau bersabda lagi: “Naikkan lagi.” Maka saya pun menaikkan kain sesuai dengan petunjuk itu.” Ada orang yang bertanya: “Sebatas mana kamu menaikkan?” Abdullah menjawab: “Sebatas pertengahan betis.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menurunkan kainnya karena sombong, maka kelak pada hari kiamat Allah tidak akan melihat kepadanya.” Salamah bertanya: “Maka bagaimana cara wanita menurunkan tepi kain mereka?” Beliau bersabda: “Diturunkan sejengkal.” Salamah berkata: “Kalau begitu, telapak kaki mereka terbuka?” Beliau bersabda: “Boleh diturunkan sehasta, tidak boleh lebih dari itu.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)