Syarat dan Rukun Shalat (1)

1 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Syarat-syarat Shalat;
Para imam mujtahid sepakat bahwa shalat mempunyai syarat, yang tanpa syarat tersebut shalat tidak sah, yakni:
1. Wudlu dengan air atau tayamum ketika tidak ada air
2. Berdiri di tempat yang suci
3. Menghadap kiblat bagi yang sanggup melakukannya
4. Mengetahui dengan yakin bahwa waktu shalat telah tiba

Para imam madzab berbeda pendapat mengenai menutup aurat. Hanafi, Syafi’i dan Hambali: menutup aurat termasuk syarat-syarat shalat. Oleh karena itu menurut mereka syarat shalat ada lima.
Menurut Maliki, sebagian mereka berpendapat: menutup aurat termasuk syarat-syarat shalat jika sanggup dikerjakan dan teringat. Kalau aurat sengaja dibuka dan shalat dalam keadaan tersebut, padahal ia sanggup menutupnya, maka shalat itu batal. Sebagian yang lain berpendapat bahwa menutup aurat merupakan kewajiban yang berdiri sendiri. Ia bukan syarat sahnya shalat. Oleh karena itu jika seseorang shalat dalam keadaan aurat terbuka dan disengaja maka ia telah durhaka, tetapi kewajiban shalatnya gugur sedang shalatnya dipandang sah. Sedangkan pendapat yang dipegang para ulama mutaakhir madzab Maliki: shalat dengan aurat terbuka adalah tidak sah.

Rukun-rukun Shalat:
Empat imam mujtahid sepakat bahwa shalat mempunyai rukun-rukun yang termasuk di dalam shalat, di antaranya ada tujuh rukun yang disepakati:
1. Niat
2. Takbiratul ikram
3. Berdiri bagi yang mampu
4. Membaca (surah al-Fatihah)
5. Rukuk
6. Sujud
7. Duduk pada akhir shalat
Para imam madzab berbeda pendapat tentang rukun-rukun selain yang tujuh ini. Syarat-syarat dan rukun-rukun di atas merupakan fardlu shalat yang sebagian bersatu dan sebagian lagi tidak bersatu. Maka, niat menurut ijma’ adalah fardlu shalat.

Niat;
Hanafi: boleh mendahulukan niat atas takbiratul ikram asalkan terpaut sedikit dengan takbir. Maliki dan Syafi’i: niat harus bersamaan dengan takbiratul ikram, tidak boleh didahulukan atau diakhirkan.
Al-Qaffal, seorang imam mutaqaddim pengikut madzab Syafi’i berpendapat: jika niat bersamaan dengan awal takbiratul ikram, maka shalat itu sah.
An-Nawawi, seorang imam mutaakhir pengikut madzab Syafi’i, berpendapat: pendapat yang dipilih dalam hal ini adalah cukup membandingkan kebersamaan menurut anggapan umum, mengingat shalat yang dikerjakan tidak dipandang lalai darinya. Inilah yang diamalkan orang-orang dahulu (salaf).

Takbiratul Ikram;
Para imam madzab sepakat bahwa takbiratul ikram termasuk fardlu-fardlu shalat yang tidak sah kecuali dilafalkan . diriwayatkan dari az-Zuhri bahwa shalat tidak sah dengan semata-mata niat tanpa takbiratul ikram.
Para imam madzab sepakat bahw takbiratul ikram cukup hanya mengucapkan “AllaaHu akbar.” (Allah Mahabesar).
Hanafi berpendapat bahwa sah takbiratul ikram dengan lafaz pengagungan seperti: “AllaaHul ‘adhiim.” (Allah Yang Mahaagung) dan “AllaaHul jaliil” (Allah Yang Mahamulia). Kalau seseorang mengucapkan “AllaaH” tanpa tambahan lafaz lain, hal itu sah.
Syafi’i berpendapat: sahnya takbiratul ikram dengan bahasa Arab, selain itu maka shalatnya tidak sah. Namun Hanafi berpendapat: shalatnya sah.
Menurut ijma’ para imam madzab, mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ikram hukumnya adalah sunnah. Namun mereka berbeda pendapat tentang batasannya. Hanafi: sejajar dengan telinga. Maliki dan Syafi’i: sejajar bahu. Hambali memiliki tiga pendapat: 1) yang lebih masyhur sejajar dengan bahu. 2) sejajar dengan telinga. 3) boleh memilih di antara keduanya. Pendapat terakhir ini dipilih oleh al-Khurqi.
Menurut Maliki, Syafi’i, dan Hambali, bahwa mengangkat kedua tangan ketika rukuk dan bangkit dari rukuk (i’tidal) hukumnya adalah sunnah. Sementara itu Hanafi berpendapat: bukan sunnah.

Berdiri;
Para imam madzab sepakat bahwa bediri (qiyam) merupakan fardlu shalat yang diwajibkan bagi orang yang mampu melakukannya. Apabila seseorang meninggalkannya, padahal ia mampu, maka shalatnya tidak sah. Namun jika tidak mampu berdiri, hendaknya ia shalat sambil duduk.
Tentang cara shalat sambil duduk dalam madzab Syafi’i ada dua pendapat: 1) duduk bersila. Demikian pula riwayat dari Maliki dan Hambali, dan Hanafi. 2) duduk iftirasy (duduk dengan melipat kaki kiri di bawah dan kaki kanan dilipat di samping serta telapak kaki kanan ditegakkan). Inilah pendapat yang paling shahih. Hanafi: boleh duduk sekehendaknya.
Jika tidak mampu shalat sambil duduk, menurut Syafi’i: berbaring di atas lambung yang sebelah kanan sambil menghadap kiblat. Jika tidak mampu berbaring, hendaknya terlentang di atas punggung dan kedua kaki diarahkan ke kiblat. Demikian juga pendapat Maliki dan Hambali. Sementara itu, Hanafi berpendapat: hendaknya ia berbaring terlentang di atas punggung dan menghadapkan kedua kaki ke kiblat sehingga ia dapat mengisyaratkannya ke kiblat ketika rukuk dan sujud.
Jika seseorang tidak mampu berisyarat dengan kepala ketika rukuk dan sujud, hendaklah ia berisyarat dengan mata. Akan tetapi, Hanafi berpendapat: jika sudah demikian keadaannya, gugurlah kewajiban shalat darinya.
Orang yang mengerjakan shalat di atas kapal atau perahu wajib berdiri jika shalat itu fardlu selama tidak khawatir tenggelam atau kepala pusing. Namun Hanafi berpendapat: tidak wajib berdiri.
(bersambung)

Iklan

Satu Tanggapan to “Syarat dan Rukun Shalat (1)”

  1. fadjar 24 November 2014 pada 04.04 #

    Ketika saya bingung harus mengikuti pendapat siapa, maka
    hanya pada Allah saya berserah diri .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: