Syarat dan Rukun Shalat (2)

1 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Bersedekap;
Empat imam madzab sepakat bahwa meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (bersedekap) di dalam shalat hukumnya adalah sunnah. Namun ada riwayat dari Maliki, yang merupakan riwayat paling masyhur: tangan dijulurkan lurus ke bawah.
Al-Awza’i berpendapat: boleh memilih antara meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan menjulurkan tangan ke bawah.
Para imam madzab berbeda pendapat tentang tempat meletakkan kedua tangan. Hanafi: di bawah pusar. Maliki, Syafi’i: di bawah dada di atas pusar. Hambali memiliki dua pendapat dan yang lebih masyhur adalah yang dipilih al-Khurqi adalah seperti pendapat Hanafi. Tiga imam madzab sepakat bahwa orang yang shalat disunnahkan memandang ke tempat sujudnya.

Iftitah;
Tiga imam madzab sepakat bahwa doa iftitah di dalam shalat hukumnya adalah sunnah. Maliki berpendapat: bukan sunnah, melainkan setelah takbiratul ikram langsung membaca al-Fatihah.
Mengenai doa iftitah, Hanafi dan Hambali: doa yang diucapkan adalah: subhaanakallaaHumma wa bihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaHa ghairuka (“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Mahasuci nama-Mu, Mahatinggi kemuliaan-Mu, tidak ada tuhan selain-Mu.”)
Menurut Syafi’I, doanya adalah sebagai berikut: wajjaHtu wajHiya lilladzii tatharas samaawaati wal ardla haniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin. Inna shalatii wa nusukii wamahyaaya wa mamaatii lillaaHi rabbil ‘aalamiin. Laa syariikalaHu wa bi dzaalika umirti wa ana minal muslimiin (“Aku hadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung pada agama yang benar dan berserah diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku itu semata-mata hanya bagi Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dengan (janji) itu aku diperintah serta aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”)
Abu Yusuf berpendapat: dianjurkan untuk membaca keduanya.

Isti’adzah;
Para imam madzab berbeda pendapat tentang mengucapkan isti’adzah: a-‘uudzu billaaHi minasy syaithaanir rajiim (“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk”) sebelum membaca al-Fatihah.
Hanafi: isti’adzah diucapkan pada rakaat pertama. Syafi’i: dibaca pada setiap rakaat. Maliki: tidak perlu membaca isti’adzah di dalam shalat fardlu. Sementara itu dari an-Nakha’I dan Ibn Sirin diriwayatkan bahwa isti’adzah dibaca setelah membaca surah al-Fatihah.

Membaca surah Al-Faatihah;
Para imam madzab sepakat bahwa membaca al-Fatihah adalah wajib bagi imam dan orang yang shalat sendirian (munfarid) pada dua rakaat shalat shubuh dan pada rakaat pertama dan kedua shalat lain.
Mereka berbeda pendapat tentang membaca surah al-Fatihah pada rakaat lainnya. Syafi’i dan Hambali: diwajibkan membaca al-Fatihah pada setiap rakaat shalat fardlu. Hanafi: membaca surah al-Fatihah tidak wajib kecuali pada rakaat pertama setiap shalat fardlu. Maliki ada dua pendapat: pertama, sama dengan pendapat Syafi’i dan Hambali. Kedua, jika tertinggal membaca surah al-Fatihah pada salah satu rakaat shalat selain shalat shubuh, hendaknya sujud sahwi. Sedangkan jika pada shalat shubuh diulang lagi shalatnya.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang wajibnya membaca al-Fatihah bagi makmum. Hanafi: tidak wajib, baik bacaan imam itu dikeraskan (jahar) maupun tidak dikeraskan (sirr). Bahkan tidak disunnahkan membacanya di belakang imam secara mutlak. Maliki dan Hambali: tidak wajib membaca surah al-Fatihah di belakang imam secara mutlak. Maliki: makmum makruh membacanya apabila imam membacanya dengan keras, baik ia mendengar bacaan imam itu maupun tidak mendengarnya.

Hambali: disunnahkan makmum membaca surah al-Fatihah di belakang imam, jika imam membacanya secara perlahan. Syafi’i: makmum wajib membaca surah al-Fatihah jika imam membacanya secara perlahan. Bahkan, dalam pendapat paling kuat dari Syafi’i: makmum wajib membaca surah al-Fatihah dalam shalat jahar.
‘Ashim dan al-Hasan bin Shalih berpendapat: membaca surah al-Fatihah adalah sunnah.

Para imam madzab berbeda pendapat dalam menentukan apa yang dibaca. Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam riwayat yang masyhur: surah yang dibaca adalah surah al-Fatihah. Hanafi: sah membaca selain surah al-Fatihah, asalkan dari al-Qur’an.
Mereka juga berbeda pendapat tentang basmalah, apakah ia bagian dari surah al-Fatihah atau bukan. Syafi’i dan Hambali: basmalah bagian dari al-Fatihah. Hanafi dan Maliki: basmalah tidak termasuk al-Fatihah, oleh karena itu tidak wajib dibaca.
Menurut Syafi’i: basmalah dibaca dengan keras. Hanafi dan Hambali: dibaca secara perlahan. Maliki: hal yang disukai adalah tidak dibaca, melainkan langsung memulai dengan: alhamdulillaaHi rabbil ‘aalamiin (“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”)
Ibn Abi Laila berpendapat: boleh memilih membaca secara jahar dan sirr.
An-Nakha’i berpendapat: mengeraskan bacaan adalah bid’ah.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang orang yang tidak bisa membaca al-Fatihah dan surah lain. Hanafi dan Maliki: hendaknya ia berdiri selama membaca al-Fatihah. Syafi’i: hendaknya ia membaca tasbih: subhaanallaaH (“Mahasuci Allah”) selama bacaan al-Fatihah. Jika ia membaca al-Fatihah dengan bahasa Parsi (terjemahan) tidaklah sah. Akan tetapi Hanafi berpendapat: jika mau ia boleh membaca surah al-Fatihah dengan bahasa Arab maupun bahasa lain.

Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan berpendapat: jika ia bisa membaca surah al-Fatihah dengan bahasa Arab maka ia tidak boleh membacanya dengan bahasa lain. Namun apabila ia tidak bisa membacanya dengan bahasa Arab yang baik maka ia boleh membacanya dengan bahasa lain.
Jika seseorang shalat membaca al-Fatihah dari Mushaf (al-Qur’an), menurut Hanafi: shalatnya batal. Syafi’i: boleh. Hambali memiliki dua pendapat: pertama boleh dan kedua, boleh dalam shalat sunnah, tetapi tidak boleh dalam shalat fardlu. Pendapat kedua ini merupakan pendapat Maliki.
(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: