Syarat dan Rukun Shalat (4)

1 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Duduk di Antara Dua Sujud;
Para imam madzab berbeda pendapat tentang wajibnya duduk di antara dua sujud. Hanafi: sunnah. Sementara Syafi’i, Maliki dan Hambali: wajib.
Menurut pendapat Syafi’i yang paling shahih: duduk istirahat (sebelum berdiri dari sujud) hukumnnya adalah sunnah. Sedangkan tiga imam lainnya berpendapat: tidak dimustahabkan duduk istirahat, tetapi langsung berdiri dari sujud.
Bangun dari sujud hendaknya dengan cara menekan kedua telapak tangan ke lantai. Demikian menurut tiga imam. Namun menurut Hanafi: tidak boleh menekan ke lantai dengan tangan.

Tasyahud;
Para imam madzab berbeda pendapat mengenai tasyahud awal dan duduknya (ketika membacanya). Hanafi, Maliki dan Syafi’i: tasyahud awal adalah mustahab. Sedangkan menurut Hambali: tasyahud awal adalah wajib.
Disunnahkan dalam duduk ketika membaca tasyahud awal dengan duduk iftirasy (duduk dengan melipat kaki kiri di bawah dan melipat kaki kanan di samping serta telapak kaki kanan ditegakkan) dan untuk tasyahud akhir dengan duduk tawaruk (duduk dengan melipat kaki kiri di bawah dan kaki kanan dilipat di samping serta telapak kaki kanan ditegakkan dan telapak kaki kiri di bawah pergelangan kaki kanan). Demikian menurut Syafi’i. Menurut Hanafi: disunnahkan duduk iftirasy pada tasyahud awal dan akhir. Maliki: duduk tawarruk pada kedua tasyahud.
Empat imam madzab sepakat bahwa boleh membaca salah satu bacaan tasyahud yang telah diriwayatkan dari Nabi saw. melalui tiga sahabatnya sebagai berikut: 1) ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab ra. 2) ‘Abdullah bin Mas’ud ra. 3) ‘Abdullah bin ‘Abbas ra.

Syafi’i dan Hambali memilih tasyahud Ibnu ‘Abbas, Hanafi memilih tasyahud Ibnu Mas’ud, dan Maliki memilih tasyahud Ibnu ‘Umar.
Tasyahud Ibnu ‘Abbas:
Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillaaH. Assalaamu ‘alaika ayyuHan habiyyu wa rahmatullaaHi wa barakaatuH. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaaHish shaalihiin. asyHadu allaa ilaaHa illallaaHu wa asy-Hadu anna muhammadar rasuulullaaHi (“segala kehormatan yang penuh berkah, rahmat, dan kabaikan bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat, dan berkah Allah terlipah atasmu, wahai Nabi. Semoga kesejahteraan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”) hadits ini diriwayatkan Muslim di dalam shahih-nya.

Tasyahud Ibnu Mas’ud sebagai berikut:
Attahiyyaatu lillaaHi wash shalawaatu wath thayyibaatu. Assalaamu ‘alaika ayyuHan habiyyu wa rahmatullaaHi wa barakaatuH. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaaHish shaalihiin. asyHadu allaa ilaaHa illallaaHu wa asy-Hadu anna muhammadar rasuulullaaHi (“segala kehormatan, rahmat, dan kabaikan bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat, dan berkah Allah terlipah atasmu, wahai Nabi. Semoga kesejahteraan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”) hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam shahih mereka.

Tasyahud Ibnu ‘Umar:
Attahiyyaatu lillaaHi. Azzaakiyaatu lillaaHi aththayyibaatush shalawaatu lillaaHi. Assalaamu ‘alaika ayyuHan habiyyu wa rahmatullaaHi wa barakaatuH. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaaHish shaalihiin. asyHadu allaa ilaaHa illallaaHu wa asy-Hadu anna muhammadan ‘abduHuu wa rasuuluHu (“segala kehormatan, rahmat, dan kabaikan bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat, dan berkah Allah terlipah atasmu, wahai Nabi. Semoga kesejahteraan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”) hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam al-Muwaththa’ dan al-Baihaqi an-Nawawi berpendapat: “Sanad-sanadnya shahih.”

Mengucapkan shalawat kepada Nabi saw. (dan keluarganya) dalam tasyahud akhir hukumnya adalah sunnah, menurut pendapat Hanafi dan Maliki. Syafi’i: wajib. Hambali dalam pendapatnya yang paling masyhur: shalat menjadi batal jika tidak membacanya.

Salam;
Para imam madzab sepakat bahwa mengucapkan salam disyariatkan. Syafi’i, Maliki dan Hambali: salam merupakan rukun. Hanafi: bukan rukun.
Hanafi dan Hambali: salam yang disyariatkan adalah dua kali. Maliki: satu kali. Syafi’i memiliki dua pendapat dan yang paling shahih: dua kali.
Apakah salam termasuk bagian shalat? Maliki, Syafi’i dan Hambali: ia termasuk bagian shalat. Hanafi: ia bukan bagian shalat.
Maliki: salam pertama wajib bagi imam dan munfarid. Syafi’i: wajib bagi imam, makmum dan munfarid. Hanafi: bukan fardlu. Hambali memiliki dua riwayat dan yang paling masyhur: kedua salam itu wajib.
Salam kedua menurut Hanafi, Syafi’i dalam pendapatnya yang paling shahih, dan Hambali: hukumnya sunnah. Sementara itu Maliki: tidak disunnahkan bagi imam dan munfarid. Sedangkan bagi makmum disunnahkan mengucapkan salam tiga kali; sekali ke kanan, sekali ke kiri dan sekali lagi ke depan untuk menjawab salam imam.

Niat Keluar dari Shalat;
Para imam madzab berbeda pendapat tentang niat keluar dari shalat. Maliki dan salah satu pendapat Syafi’i, serta Hambali: wajib. Namun pendapat paling shahih dari Syafi’i: tidak wajib. Sedangkan di kalangan ulama Hanafi terdapat perbedaan pendapat, apakah ia wajib atau tidak. Dari Hanafi sendiri tidak diperoleh keterangan yang dapat dijadikan pegangan.
Apa yang diniatkan dengan salam? Hanafi: niat memberi salam kepada malaikat penjaga dan kepada orang yang ada di sebelah kanan dan kiri. Maliki: imam dan munfarid berniat keluar dari shalat. Makmum pada salam pertama berniat keluar dari shalat, sedangkan pada salam kedua berniat menjawab salam imam. Syafi’i: munfarid berniat memberi salam kepada siapa saja yang ada di sebelah kanan dan kirinya, baik manusia, malaikat maupun jin. Imam berniat pada salam pertama untuk keluar dari shalat dan memberi salam kepada makmum. Sedangkan makmum berniat menjawab salam imam. Hambali dalam pendapatnya yang paling masyhur: berniat keluar dari shalat saja, tidak boleh disertai dengan niat yang lain.
(bersambung)

Iklan

3 Tanggapan to “Syarat dan Rukun Shalat (4)”

  1. iqbal 26 Desember 2013 pada 20.04 #

    Assalamu’alaikum..

    mf mas,, mau tanya : teks : “Apakah salam termasuk bagian shalat? Maliki, Syafi’i dan Hambali: ia termasuk bagian shalat. Hanafi: ia bukan bagian shalat.”

    pertanyaannya : apa dasar atau dalil Hanafi yg berpendapat Salam bukan bagian sholat???
    terdapat dalam kitab apa saja…

    mohon jawabannya… terimakasih…

    • untungsugiyarto 2 Januari 2014 pada 06.18 #

      Wa’alaikumus salaam wr.wb. Mohon maaf, tulisan ini saya sadur dari terjemahan buku Kajian Fiqih Empat Imam Madzab; Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi; degan maksud sebagai informasi awal bagi yang perlu info ini. untuk kajian lebih jauh silakan merujuk ke buku aslinya. terima kasih atas apresiasinya.

      • iqbal 6 Januari 2014 pada 18.45 #

        hmm,,,
        bgtu y mas… rencana prmasalahan ttg ini mau diangkat jadi skripsi…
        trmkasih mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: