Arsip | 13.14

Berharap Kepada Allah (3)

2 Mei

Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Kami duduk-duduk dengan Rasulullah saw., Abu Bakar dan Umar ra., serta para sahabat yang lain, kemudian Rasulullah saw. berdiri dan meninggalkan kami. Mak kami menunggu-nunggu, tetapi beliau tidak kembali. Kami merasa khawatir dan cemas kalau-kalau beliau terhalang oleh sesuatu, maka kami semua berdiri dan sayalah orang yang pertama kali merasa cemas. Saya lalu keluar mencari Rasulullah saw. sehingga saya sampai ke pagar tembok seorang Anshar.” Ia bercerita panjang lebar, sampai ia mengucapkan: “Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Pergilah dan jumpai siapa saja yang kamu temui di pagar tembok ini menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dengan keyakinan hatinya, maka gembirakanlah dia dengan surga.” (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash ra. ia berkata: Ketika Nabi saw. membaca firman Allah yang menceritakan tentang keadaan Nabi Ibrahim as.: Rabbi innaHunna adl-lalnaa katsiiram minannaasi faman tabi’anii fa innaHuu minnii (“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia. Maka barangsiapa saja yang mengikuti aku, maka sesungguhnya ia termasuk golonganku”) dan juga tentang keadaan Nabi Isa: in tu-‘adz-dzibHum fa innaHum ‘ibaaduka wa in taghfirlaHum fa innaka antal ‘aziizul hakim.” (Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).” Kemudian Rasulullah mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: “AllaaHumma ummatii, ummatii.(Ya Allah tolonglah umatku, tolonglah umatku).” Dan beliau terus menangis. Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Hai Jibril, datanglah kepada Muhammad, dan tanyakan kenapa ia menangis?” kemudian Jibril mendatangi Rasulullah saw. dan menceritakan semua yang barusaja difirmankan-Nya kepada Jibril setelah kembali, kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Hai Jibril datanglah kepada Muhammad dan katakanlah: “Sesungguhnya Kami (Allah) akan memberikan keridlaan [kesenangan] kepadamu tentang umatmu dan Kami tidak sampai menyakiti hatimu.” (HR Muslim)

Dari Mu’adz bin Jabal ra. ia berkata: Saya menemani Nabi saw. di atas keledai, kemudian beliau bertanya: “Wahai Mu’adz tahukah kamu apakah hak Allah atas hamba-Nya dan apakah hak hamba atas Allah?” Saya menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas hamba-Nya, adalah mereka menyembah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Sedangkan hak hamba atas Allah, adalah tidak menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” Kemudian saya bertanya: “Wahai Rasulullah, bolehkah saya menyampaikan kabar gembira ini kepada orang banyak?” Beliau menjawab: “Jangan kamu kabarkan berita gembira ini kepada mereka, karena mereka nanti akan berlaku seenaknya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari al-Barra’ bin ‘Azib ra., dari Nabi saw. beliau bersabda: “Seorang muslim, apabila ditanya di dalam kubur, maka ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang artinya: “Allah akan menetapkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang baik di kala hidup di dunia maupun di akhirat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya orang kafir itu apabila melakukan kebaikan, ia langsung diberi balasan yang ia rasakan di dunia. Sedangkan bagi orang mukmin, sesungguhnya Allah Ta’ala menyimpan kebaikan-kebaikannya untuk di akhirat, dan ia dikaruniai rizky di dunia karena ketaatannya.”
Dalam riwayat lain dikatakan Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya kebaikan orang mukmin, dia diberi karunia di dunia, karena kebaikannya dan kebaikan itu masih dibalas lagi kelak di akhirat. Adapun orang kafir, ia mendapat karunia di dunia karena kebaikan-kebaikan yang ia kerjakan tidak karena Allah. Sehingga apabila ia pulang ke akhirat, maka ia tidak akan memperoleh balasan apa-apa atas kebaikan yang ia kerjakan itu.” (HR Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan shalat lima waktu, bagaikan sungai yang penuh dengan air mengalir pada pintu salah satu seorang di antara kalian. Dan ia mandi lima kali setiap hari dari sungai itu.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Seorang Muslim yang meninggal dunia kemudian jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak mempersekutukan Allah, maka Allah menerima syafaat dan doa mereka terhadap orang yang meninggal dunia itu.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Kami bersama-sama Rasulullah saw. di dalam suatu majelis yang berbentuk lingkaran berjumlah kurang lebih empat puluh orang, kemudian beliau bertanya:”Apakah kalian suka, seandainya kalian merupakan seperempat penghuni surga?” Kami menjawab: “Ya, suka.” Beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, aku berharap semoga kalian merupakan setengah dari penghuni surga. Dan surga itu hanya akan dimasuki orang Islam. Kalian di tengah-tengah orang musyrik itu, bagaikan rambut putih pada kulit lembu hitam, atau bagaikan rambut hitam pada kulit lembu merah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:”Jika hari kiamat tiba, Allah akan memberi untuk orang Islam masing-masing seorang Yahudi atau seorang Nasrani seraya berfirman: “Inilah tebusanmu dari neraka.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. dari Nabi saw. beliau bersabda:”Kelak di hari kiamat orang-orang Islam datang dengan membawa dosa sebesar gunung, kemudian Allah memberi ampunan kepada mereka.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Di hari kiamat, orang mukmin didekatkan kepada Rabb-nya, kemudian memberikan perlindungan kepadanya, dan bertanya: “Tahukah kamu dosa ini?” orang mukmin itu menjawab: “Wahai Rabb-ku, saya tahu.” Allah berfirman: “Sesungguhnya aku telah menutup-nutupi dosamu di duia, dan sekarang Aku ampuni dosa-dosa itu.” Kemudian diberikan kepadanya catatan amal kebaikannya.” (HR Bukhari dan Muslim.)

Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: ada seorang laki-laki mencium seorang wanita kemudian ia menghadap Nabi saw. dan menceritakan kepada beliau tentang apa yang telah ia kerjakan, kemudian turunlah firman Allah Ta’ala: aqimish shalaata tharafayin naHaari wa zulfam minal laili innal hasanaati yudz Hibnaa yudz Hibnas sayyi-aati (“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada sebagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk.”) orang itu bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah ini hanya untuk saya?” Beliau menjawab: “Untuk semua umatku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mimpi Kaum Muslimin

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits; Bukhari; Muslim;

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari.” (ar-Ruum: 23)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada lagi kenabian kecuali al-mubasysyirat.” Para shahabat bertanya: “Apakah al-mubasysyirat itu?” Beliau menjawab: “Impian yang bagus.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Nabi sawl bersabda: “Apabila hari kiamat telah dekat, maka impian orang mukmin hampir tidak pernah bohong. Impian orang mukmin itu merupakan salah satu dari empat puluh enam bagian tanda-tanda kenabian.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Sebenar-benar impianmu adalah sebenar-benar kata-katamu.”

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka seakan-akan ia benar-benar melihat aku pada waktu terjaga, karena setan itu tidak dapat menyerupai aku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. bahwasannya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu bermimpi dengan impian yang disukainya, maka sesungguhnya impian itu dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu hendaknya ia memuji kepada Allah dan menceritakannya kepada orang lain.”
Dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Janganlah ia menceritakan impian itu kecuali kepada orang-orang yang disukainya.” Dan apabila ia bermimpi dengan impian yang tidak disukainya maka sesungguhnya impian itu dari syaitan. Maka hendaknya ia berlindung diri dari kejelekan impiannya dan janganlah ia menceritakan impian itu kepada siapapun juga, karena impian itu tidak akan membahayakan dirinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Qatadah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Impian yang bagus –dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: Impian yang baik-baik itu dari Allah, dan impian yang buruk itu dari syaitan. Oleh karena itu barangsiapa yang mimpi sesuatu yang tidak disukainya, maka hendaknya ia meniupkan sebelah kiri tiga kali, dan hendaknya ia berlindung diri dari syaitan [membaca ta’awudz, yaitu: a-‘uudzu billaaHi minasy-syaithaanir rajiim]; sesungguhnya impian itu tidak akan membahayakannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu bermimpi dengan sesuatu yang tidak disukainya maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali, dan hendaklah ia berlindung diri kepada Allah dari gangguan syaitan [membaca ta’awudz tiga kali], dan hendaknya ia membalikkan diri dari tidurnya yang semula.” (HR Muslim)

Dari Abul Asqa’ Watsilah bin al-Aqra’ ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya termasuk sesuatu yang tercela, apabila seseorang mengaku turunan selain ayahnya, atau ia mendustakan impian yang tidak dilihatnya, atau ia mengucapkan atas nama Rasulullah saw. apa yang tidak beliau sabdakan.” (HR Bukhari)

Adab (Tata Cara) Minta Izin

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits Bukhari-Muslim

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu, sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (an-Nuur: 27)

Allah berfirman: “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin.” (an-Nuur: 29)

Dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Minta izin itu sampai tiga kali. Apabila diizinkan maka masuklah kamu dan apabila tidak diizinkan maka pulanglah kamu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahal bin Sa’ad ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya minta izin itu dijadikan ketentuan karena untuk menjaga pandangan mata.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Rabi’iy bin Hirasy ia berkata: “Seseorang dari bani ‘Amir menceritakan kepada kami sewaktu ia minta izin untuk masuk ke rumah Nabi saw. dan waktu itu beliau berada di dalam rumah. Orang itu mengucapkan: “Bolehkah saya masuk?” Kemudian Rasulullah saw. bersabda kepada pelayannya: “Keluarlah dan ajarkanlah kepada orang itu tentang tata cara meminta izin, katakanlah kepadanya: “Ucapkanlah Assalaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” Orang itu mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi, maka ia mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” Kemudian Nabi saw. memberi izin kepadanya, dan ia pun terus masuk.” (HR Abu Dawud)

Dari Kildah bin Hanbal ra. ia berkata: Saya datang ke rumah Nabi saw. dan langsung masuk tanpa mengucapkan salam, kemudian Nabi saw. bersabda: “Kembalilah, dan ucapkanlah: assalaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Adab Memberi Salam

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadit-hadist Bukhari-Muslim

Bagi orang yang memberi salam disunnahkan untuk mengucapkan: assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaHi wa barakaatuH (“Kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadamu”) walaupun orang-orang yang diberi salam hanya seorang. Dan bagi orang yang menjawab salam disunnahkan untuk mengucapkan: wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaaHi wa barakaatuH (“Dan kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan atas kamu pula.”), dengan menggunakan “wawu ‘athaf” pada ucapan “wa ‘alaikum.”

Dari Imran bin al-Hushain ra. ia berkata: ada seorang yang datang kepada Nabi saw. dan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum.” Maka salam itu dijawab oleh beliau, dan ia duduk. Kemudian beliau bersabda: “Sepuluh.” Sesudah itu datang lagi seseorang dan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaH.” Salam itu dijawab oleh beliau dan ia duduk, kemudian beliau bersabda: “Dua puluh.” Sesudah itu datang lagi seorang dan mengucapkan salam: “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaHi wa barakaatuH.” Salam dijawab oleh beliau dan ia duduk lalu beliau bersabda: “Tiga puluh.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada saya: “Ini Jibril menyampaikan salam untuk kamu.” Maka saya menjawab: “Wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaHi wa barakaatuH.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. bahwasannya apabila Nabi saw. mengatakan suatu perkataan, beliau mengulanginya tiga kali, sehingga benar-benar dapat dipahami. Dan apabila beliau mendatangi suatu kaum maka beliau mengucapkan salam kepada mereka sampai tiga kali.” (HR Bukhari)

Dari Miqdad ra. di dalam haditsnya yang panjang ia berkata: “Kami biasa menyediakan susu yang menjadi bagian Nabi saw. Apabila beliau datang pada malam hari, beliau mengucapkan salam yang tidak sampai membangunkan orang tidur, tetapi dapat didengar oleh orang yang jaga. Nabi biasa datang dan mengucapkan salam sebagaimana biasanya.”

Dari Asma’ binti Yazid ra. bahwasannya pada suatu hari Rasulullah saw. melewati sekelompok wanita yang sedang duduk di masjid, maka beliau melambaikan tangan dan mengucapkan salam.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Juray al Juhamiy ra. ia berkata: Saya datang kepada Rasulullah saw. dan mengucapkan: “Alaikas salaamu yaa RasuulallaaH.” Beliau menjawab: “Janganlah engkau mengucapkan: alaikas salaam, karena sesungguhnya ucapan itu adalah salam untuk orang yang sudah meninggal.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang naik kendaraan memberi salam kepada yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit memberi salam kepada orang yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Bukhari dikatakan: “Yang kecil [muda] mengucapkan salam kepada yang besar [tua].”

Dari Abu Ummah Muday bin Ajlan al-Bahiliy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seutama-utama manusia menurut Allah adalah orang yang lebih dulu memberi salam.” (HR Abu Dawud)
Diriwayatkan pula oleh Turmudzi dari Abu Umamah: Ada seorang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ada dua orang yang saling bertemu, maka siapakah yang terlebih dahulu harus memberi salam?” Beliau menjawab: “Orang yang lebih utama menurut Allah Ta’ala.”

Dari Abu Hurairah ra. ketika menceritakan orang yang salah shalatnya, dimana ia datang dan shalat, kemudian datang kepada Nabi saw. dan mengucapkan salam, maka beliau menjawab salamnya, kemudian bersabda: “Kembalilah kamu dan shalatlah karena sesungguhnya kamu belum shalat.” Maka ia pun kembali dan shalat lagi, kemudian datang dan mengucapkan salam kepada Nabi. Ia berbuat demikian sampai tiga kali.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Dan seandainya di antara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu lagi maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi.” (HR Abu Dawud)

Allah berfirman: “Maka apabila kamu memasuki [sesuatu rumah dari] rumah-rumah [ini] hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan di sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An-Nuur: 61)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Hai anakku, apabila kamu datang kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, niscaya kamu dan keluargamu mendapat berkah.” (HR Turmudzi)

Dari Anas ra. bahwasannya ia berjalan melewati anak-anak, kemudian ia mengucapkan salam untuk mereka, serta berkata: “Rasulullah saw. biasa melakukan hal yang demikian ini.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahl bin Sa’ad ra. ia berkata: “Di tengah-tengah kami ada seorang wanita..” dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Ada seorang wanita tua yang biasa mencari rempah-rempah kemudian dimasak dalam kuali dan dicampur dengan gandum. Apabila kami selesai shalat Jum’at maka kami datang ke tempatnya dan memberi salam kepadanya, kemudian ia menghidangkan masakan itu kepada kami.” (HR Bukhari)

Dari Ummu Hani’ Fakhitah binti Abi Thalib ra. ia berkata: “Saya mendatangi Nabi saw. pada hari penaklukan kota Makkah dimana pada waktu itu beliau sedang mandi dengan ditutupi kain oleh Fatimah, kemudian saya mengucapkan salam.” (HR Muslim)

Dari Asma’ binti Yazid ra. ia berkata: “Nabi saw. berjalan melewati sekelompok wanita kemudian beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian memulai lebih dulu mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Apabila kamu sekalian bertemu dengan salah satu di antara mereka di tengah jalan, maka berusahalah agar ia menuju tempat yang sempit [pinggiran jalan].” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepadamu sekalian maka jawablah: “Wa ‘alaikum.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah ra. bahwasannya Nabi saw. berjalan melewati majelis yang di dalamnya terdapat orang-orang Islam, orang-orang musyrik yang menyembah berhala, serta orang-orang Yahudi, kemudian Nabi saw. mengucapkan salam kepada mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian sampai pada suatu majelis, maka hendaklah ia mengucapkan salam. Tidaklah yang pertama ia berhak daripada yang terakhir.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Menyebarkan Salam

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an; hadits-hadits Bukhari Muslim

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (an-Nuur: 27)

Allah berfirman: “Maka apabila kamu memasuki [suatu rumah dari] rumah-rumah [ini] hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan di sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An-Nuur: 61)

Allah berfirman: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu [dengan serupa dengannya].” (an-Nisaa’: 86)

Allah berfirman: “Sudahkah sampai kepadamu [Muhammad] cerita tamu Ibrahim [malaikat-malaikat] yang dimuliakan? [ingatlah] ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun,” Ibrahim menjawab: “Salaamun.” (adz-Dzaariyaat: 24-25)

Dari Abdullah bin Amir bin Ash. Bahwasannya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Bagaimana Islam yang baik itu?” Beliau menjawab: “Yaitu kamu memberi makanan, dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tatkala Allah meciptakan Adam as. Allah berfirman kepadanya: ‘Pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu, kemudian dengarkanlan jawaban mereka kepadamu, karena sesungguhnya jawaban itu merupakan penghormatan bagimu dan penghormatan bagi anak cucumu.’ Maka Adam mengucapkan: ‘Assalaamu ‘alaikum.’ Mereka menjawab: ‘Assalaamu ‘alaika wa rahmatullaaH.’ Mereka memberi tambahan dengan: ‘wa rahmatullah.’” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ubadah al-Barra’ bin ‘Azib ra. ia berkata: Rasulullah saw. menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perbuatan, yaitu menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong orang yang lemah, membantu orang yang teraniaya, menyebar luaskan salam dan menepati sumpah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum kamu beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum kamu saling mencintai. Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu sekalian.” (HR Muslim)

Dari Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan, dan salatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian masuk surga dengan selamat.” (HR Turmudzi)

Dari Tufail bin Ubay bin Ka’ab bahwasannya ia datang ke tempat Abdullah bin Umar, kemudian mereka pergi bersama-sama ke pasar. Thufail berkata: “Ketika kami pergi bersama-sama ke pasar setiap melewati tukang rombeng, orang yang menjual dagangannya, orang miskin, bahkan melewati siapa saja, ia pasti mengucapkan salam kepadanya.” Thufail berkata: “Pada suatu hari saya datang ke tempat Abdullah bin Umar kemudian ia mengajak saya ke pasar, maka saya berkata kepadanya: “Apa yang akan kamu lakukan di pasar nanti, karena kamu tidak akan membeli sesuatu, tidak akan mencari sesuatu, tidak akan menawar sesuatu, dan tidak akan duduk di pasar? Lebih baik kita duduk-duduk di sini dan berbincang-bincang saja.” Abdullah menjawab: “Wahai Abu Bathn [disebut demikian karena Thufail mempunyai perut yang besar] kita pergi ke pasar untuk menyebarluaskan salam. Kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita jumpai.” (HR Malik)

Adab duduk

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits; Bukhari-Muslim

Dari Abdullah bin Yazid ra. bahwasannya ia melihat Rasulullah saw. terlentang di masjid dengan meletakkan salah satu dari kedua kakinya pada kaki yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir bin Samurah ra. ia berkata: “Apabila Nabi saw. telah selesai shalat shubuh, maka beliau duduk bersila dengan baiknya sampai matahari terbit.” (HR Abu Dawud)

Dari Ibnu Samurah ra. ia berkata: “Saya melihat Rasulullah saw. berada di halaman Ka’bah sedang duduk mendekapkan lutut dengan kedua tangannya begini.” Ia menggambarkan cara duduk itu dengan kedua tangannya. (HR Bukhari)

Dari Ibnu Umar ra. Ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah sekali-sekali salah seorang di antara kamu sekalian membangkitkan seseorang dari tempat duduknya, kemudian ia duduk pada tempatnya itu, tetapi hendaklah kamu sekalian memperluas untuk member tempat.” Dan bagi Ibnu Umar, apabila ada seseorang bangkit dari tempat duduknya dan Ibnu Umar dipersilakan duduk di tempat itu, maka ia tidak mau duduk di tempat itu. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu sekalian bangkit dari tempat duduknya kemudian ia kembali lagi, maka ia adalah orang yang paling berhak untuk menempati tempat itu.” (HR Muslim)

Dari Jabir bin Samurah ra. Ia berkata: “Apabila kami datang kepada Nabi saw. maka salah seorang di antara kami duduk dimana ia sampai.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abdullah (Salman) al-Farisiy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada seorangpun yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersuci dengan sempurna dan memakai minyak atau memakai harum-haruman yang ada di rumahnya, kemudian pergi ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang yang sudah duduk lebih dulu, kemudian shalat sebagaiamana yang telah ditentukan, serta memperhatikan imam yang sedang berkhutbah, melainkan diampuni dosa-dosanya yang diperbuat antara hari itu sampai Jum’aat berikutnya.” (HR Bukhari)

Dari Amr bin Sya’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang tidak diperbolehkan memisahkan antara dua orang (yang sudah duduk lebih dulu) kecuali dengan izin keduanya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dalam riwayat Abu Dawud: “Tidak boleh seorang duduk di antara dua orang, kecuali dengan izin keduanya.”

Dari Hudzaifah bin al-Yaman ra. bahwasannya Rasulullah saw. mengutuk orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis. (HR Abu Dawud)

Dari Abu Mijlaz, bahwasannya ada seseorang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis, kemudiian Hudzaifah berkata: “Allah mengutuk orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis melalui lisan Muhammad saw.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik majelis adalah majelis yang lapang.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalam suatu majelis dan ia banyak bercakap-cakap, kemudian sebelum bangkit untuk meninggalkan majelis itu ia membaca: subhaanakallaaHumma wa bihamdika asy-Hadu allaa IlaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu) melainkan diampuni dosa yang diperbuatnya selama ia duduk di dalam majelis itu.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Barzah ra. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. hendak bangkit untuk meninggalkan suatu majelis, maka ucapan yang paling akhir diucapkannya adalah: subhaanakallaaHumma wa bihamdika asy-Hadu allaa IlaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu). Maka ada seseorang berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya Engkau mengucapkan suatu ucapan yang tidak biasa engkau baca pada waktu-waktu sebelumnya.” Beliau bersabda: “Ucapan itu sebagai kaffarat (pelebur) atas dosa yang diperbuat selama dalam majelis.” (HR Abu Dawud, dan diriwayatkan juga oleh al-Hakim Abu Abdullah dari ‘Aisyah ra.)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Jarang sekali Rasulullah saw. bangkit dari suatu majelis sebelum membaca doa-doa ini: allaaHummaqsim lanaa min khasy-yatika maa tahuulu biHi bainanaa wa baina ma’shiyatika wa min thaa-‘atika maa tuballighunaa biHi jannataka wa minal yaqiini maa tuHawwinu biHi ‘alainaa mashaa-ibad dun-yaa. allaaHuma matti’naa bi asmaa’inaa wa abshaarinaa wa quwwatinaa maa ahyaitanaa waj’alHul waritsa minnaa waj’al tsa’ranaa ‘alaa man dhalamanaa wanshurnaa ‘alaa man ‘aadaanaa wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa wa laa taj’alid dud-yaa akbara Hamminaa wa laa mablagha ‘ilminaa wa laa tusallith ‘alainaa man laa yarhamunaa (Ya Allah, bagikanlah kepada kami dari rasa takut kepada-Mu yaitu rasa yang dapat menghalangi kami dari berbuat maksiat kepada-Mu. Dan bagikanlah rasa takut kepada-Mu, yaitu rasa yang dapat menghantarkan kami ke dalam surga-Mu, serta bagikanlah kami rasa yakin, yaitu raya yang dapat meringankan cobaan dunia yang menimpa kami. Ya Allah puaskanlah kami dengan pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami selama Engkau masih memberi hidup kepada kami, dan jadikanlah semua itu mewarisi kami [jangan sampai semua itu ditinggalkan sebelum kami meninggal]. Balaslah orang yang berbuat aniaya kepada kami, tolonglah kami dalam menghadapi musuh-musuh kami. Janganlah Engkau menimpakan cobaan dalam agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia itu sebagai tujuan utama kami atau sebagai puncak pengetahuan kami; serta janganlah Engkau jadikan orang yang tidak mempunyai rasa belas kasih terhadap kami menjadi pemimpin kami)” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Suatu kaum yang bangkit dari suatu majelis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala ketika duduk, maka mereka bangkit bagaikan keledai. Mereka mendapat kerugian yang besar sekali.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Suatu kaum yang duduk di suatu majelis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala dan tidak pula membaca salawat Nabi mereka maka mereka sungguh mendapatkan kerugian, (tergantung Allah) apakah Ia akan menyiksa mereka atau mengampuni mereka.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalam suatu tempat duduk kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia akan mendapatkan kerugian di hadapan Allah. Dan barangsiapa yang berbaring kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia juga mendapat kerugian di hadapan Allah.” (HR Abu Dawud).