Arsip | 15.55

Menangis karena Takut kepada Allah

3 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (al-Israa’: 109)

Firman Allah: “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitahuan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis?” (an-Najm: 59-60)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda kepadaku: “Bacalah al-Qur’an untukku.” Saya menjawab: “Wahai Rasulallah, bagaimana saya harus membacakan buat engkau, padahal al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku ingin mendengar al-Qur’an itu dibaca oleh orang lain.” Kemudian saya membacakan untuk beliau surat an-Nisaa’. Sampai pada ayat: fa kaifa idzaa ji’naa ming kulli ummatim bisyaHiidiw wa ji’naa bika ‘alaa Haa ulaa-i syaHiidaa (“Maka bagaimanakah [halnya orang kafir itu nanti], apabila Kami mendatangkan seorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu],” beliau bersabda: “Cukup sampai di situ!” kemudian saya menoleh kepada beliau dan saat itu kedua matanya sedang bercucuran air mata.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. pernah berkhutbah, dan saya belum pernah mendengarny. Beliau bersabda: “Andaikan kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan pasti akan banyak menangis.” Anas berkata: “Mendengar yang demikian para shahabat Rasulullah saw. menutupi muka mereka sambil menangis terisak-isak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sehingga air susu itu kembali ke puntingnya. Tidak akan berkumpul debu yang menempel karena berjuang di jalan Allah dengan asap neraka jahanam.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ada tujuh kelompok yang akan memperoleh naungan Allah, pada hati yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: 1) pemimpin yang adil. 2) pemuda yang giat beribadah kepada Allah. 3) seseorang yang hatinya selalu digantungkan [ditautkan] dengan masjid. 4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah. 5) seorang laki-laki yang dirayu oleh seorang perempuan bangsawan yang cantik rupawan, lalu ia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah. 6) seseorang yang memberikan sedekah lalu disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. 7) seseorang yang mengingat [berdzikir] kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya bercucuran air mata.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Asy-Syaikhkhir ra. ia berkata: saya mendatangi Rasulullah saw. sedangkan beliau sedang shalat, dan di dalam perutnya terdengar suara seperti suara air sedang mendidih, saat beliau menangis.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada Ubay bin Ka’ab: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla itu menyuruhku untuk membacakan: lam yakunilladziina kafaruu. Ubay bertanya: “Allah menyebut nama saya kepadamu?” Beliau menjawab: “Ya.” Maka Ubay menangis. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Setelah Rasulullah saw. wafat Abu Bakar mengajak Umar ra. ia berkata: “Mari kita berkunjung ke rumah Ummu Aiman ra. sebagaimana Rasulullah dulu sering mengunjunginya.” Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, ia menangis, lalu keduanya bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis? Bukankah engkau sudah tahu bahwa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya itu sangat baik?” ia menjawab: “Sesungguhnya saya menangis bukan sebab itu, saya tahu bahwa apa yang disediakan Allah untuk Rasulullah itu sangat baik, namun saya menangis karena wahyu dari langit telah terputus.” Ternyata perkataan Ummu Aiman itu mendorong keduanya untuk menangis, maka menangislah keduanya.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: ketika Rasulullah saw. sakit keras, ada seseorang yang menanyakan tentang imam shalat, kemudian beliau bersabda: “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami shalat.” ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang amat lembut hatinya, apabila ia membaca al-Qur’an ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda: “Suruhlah ia [Abu Bakar] untuk menjadi imam.”
Dalam riwayat Aisyah ra. yang lain dikatakan, bahwa ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar apabila menempati tempatmu [menjadi imam], orang-orang tidak mendengar bacaan shalatnya karena menangis.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf ia berkata: Dihidangkan makanan kepada Abdurrahman bin ‘Auf ra. tetapi waktu itu ia sedang berpuasa, dan ia berkata: “Mush’ab bin Umair ra. adalah orang yang lebih baik daripada aku, ketika ia terbunuh di dalam peperangan tidak ada kain yang dapat mengkafaninya kecuali sepotong selimut yang terbuat dari bulu. Apabila kepalanya ditutupi, maka terbukalah kakinya. Kemudian kami telah diberi kekayaan dunia yang banyak.” Atau ia berkata: “Kami telah diberi kekayaan dunia sebanyak-banyaknya. Kami khawatir, jika kebaikan kami telah dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu. (HR Bukhari)

Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan al-Bahiliy ra., dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidak ada sesuatupun yang lebih dicintai Allah daripada dua tetes dan dua bekas, yaitu tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang menetes sewaktu berjuang di jalan Allah. Adapun dua bekas adalah bekas luka sewaktu berjuang di jalan Allah dan bekas dari menjalankan salah satu kewajiban-kewajiban Allah Ta’ala.” (HR Tirmidzi)

Dari al-‘Irbadh bin Sariyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. telah memberi suatu nasehat kepada kami, nasehat itu dapat menggetarkan hati dan mencucurkan air mata.”

Takut dan Berbaik Sangka Kepada Allah

3 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an-Hadits

Allah berfirman tentang hamba-Nya yang shalih: “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka.” (al-Mukmin: 44-45)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Aku menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku senantiasa bersamanya selama ia mengingat Aku. Demi Allah, Allah lebih senang menerima tobat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang di antara kalian yang menemukan kembali barangnya yang telah hilang di tengah padang pasir. Siapa saja mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta, dan siapa saja yang mendekat kepada-Ku sehasta maka aku mendekat kepadanya sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir bin Abdullah ra. ia berkata: Saya mendengar Nabi saw. bersabda sebelum tiga hari kemudian beliau meninggal: “Jangan sekali-sekali salah seorang di antara kamu mati, kecuali ia berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Hai anak Adam, selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, pasti Aku ampuni dosa yang telah kamu perbuat, dan Aku tidak peduli berapapun banyaknya. Hai anak Adam, andaikan dosa-dosamu bagaikan awan di langit, kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampunimu. Hai anak Adam, sesungguhnya andaikan kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian kamu menghadap Aku sedangkan kamu tidak menyekutukan Aku, maka Aku akan mengampuni dosa yang seisi bumi banyaknya itu.” (HR Tirmidzi)

Allah berfirman: “Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang rugi.” (al-A’raaf: 9)

Allah berfirman: “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yag kafir.” (Yusuf: 87)

Allah berfirman: “Pada hari di waktu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram.” (Ali Imraan: 106)

Allah berfirman: “Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-An’am: 165)

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti, benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (al-Iftithar: 13-14)

Firman Allah: “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (yaitu) api yang sangat panas.” (al-Qaari’ah: 6-11)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Andaikan orang mukmin mengetahui siksaan yang disediakan oleh Allah, pasti tidak ada seorangpun yang berharap masuk surga-Nya. Dan andai saja orang kafir mengetahui rahmat yang dikaruniakan oleh Allah pasti tidak ada seorangpun yang berputus asa dari rahmat-Nya.” (HR Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila jenazah itu diletakkan di atas bahu, dibawa oleh orang-orang yang memikulnya, jika jenazah itu baik niscaya ia berkata: “Cepatlah, cepat antarkan aku.” Namun apabila jenazah itu tidak baik maka ia berkata: “Aduh celaka, akan dibawa kemana aku ini?” semua makhluk mendengar suara jenazah itu kecuali manusia, andaikan manusia itu mendengar pasti pingsan.” (HR Bukhari)

Dari Ibnu Mas’ud ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Surga itu amat dekat kepada salah seorang di antara kamu melebihi dekatnya tali sepatunya. Dan demikian pula dengan neraka.” (HR Bukhari)

Berharap Kepada Allah (4)

3 Mei

Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits

Dari Anas ra. ia berkata: ada seseorang datang kepada Nabi saw. dan berkata: “Wahai Rasulallah, saya telah berbuat sesuatu yang harus dikenakan hukuman. Maka laksanakanlah hukuman itu kepada saya.” Kemudian tibalah waktu shalat, maka ia shalat bersama-sama beliau. Setelah selesai, ia berkata lagi: “Wahai Rasulallah, saya telah berbuat sesuatu yang harus dikenakan hukuman. Maka laksanakanlah hukuman itu kepada saya, sesuai dengan ketentuan Allah.” Beliau bersabda: “Bukankah kamu tadi shalat bersama-sama kami?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Dosamu telah diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)
Keterangan: Perbuatan yang dikerjakan oleh orang tersebut tidaklah tergolong perbuatan yang harus dikenakan hukuman berat seperti berbuat zina dan meminum khamr.

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat ridla (senang) kepada orang yang apabila makan ia memuji kepada-Nya, atau apabila minum, ia memuji kepada-Nya, karena merasa telah mendapatkan rahmat.” (HR Muslim)

Dari Abu Musa ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima tobat orang yang berdosa pada waktu siang. Dan Ia membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk menerima tobat orang yang berbuat dosa pada waktu malam, sampai matahari terbit dari barat [hari kiamat].” (HR Muslim)

Dari Abu Najih ‘Amr bin ‘Abasah As-Sulamiy ra. ia berkata: “Pada zaman jahiliyah, saya menduga bahwa semua manusia itu berada dalam kesesatan dan tidak ada yang berada dalam kebenaran, serta semua manusia menyembah berhala. Kemudian saya mendengar, bahwa di Makkah ada seseorang yang mengajarkan ajaran-ajaran yang baik, maka saya segera kesana dengan berkendaraan. Di masa itu Rasulullah saw. masih sembunyi-sembunyi dan dianiaya oleh kaumnya. Saya merasa iba. Sesampainya di Makkah dan berjumpa dengannya, saya bertanya: “Siapa engkau?” Beliau menjawab: “Aku adalah seorang Nabi.” Saya bertanya: “Apakah Nabi itu?” Beliau menjawab: “Allah mengutusku.” Saya bertanya: “Untuk apa Allah mengutusmu?” Beliau menjawab: “Allah mengutusku untuk menyambung tali persaudaraan, menghancurkan berhala dan mengesakan Allah, dan Allah tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu pun.” Saya bertanya: “Siapa sajakah yang mengikuti engkau di dalam ajaran seperti ini?” Beliau menjawab: “Orang merdeka dan hamba sahaya.”
Pada waktu itu orang yang telah mengikuti di antaranya adalah Abu Bakar dan Bilal ra. Saya berkata: “Sesungguhnya saya akan mengikuti engkau.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya sekarang kamu belum bisa mengikuti ajaran ini. Bukankah kamu tahu keadaanku dan keadaan orang-orang di sekelilingku. Kembalilah kepada keluargamu, nanti apabila kamu mendengar aku telah mendapatkan kemenangan, maka datanglah kepadaku.”

Kemudian Amr’ kembali kepada keluarganya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah saya masih tetap mencari-cari kabar kepada keluargaku, sehingga datanglah sekelompok penduduk Madinah, dan saya bertanya: “Bagaimana berita seseorang yang baru datang di Madinah itu?” Mereka menjawab: “Orang-orang Madinah menyambut kedatangannya, sedangkan kaumnya bermaksud untuk membunuhnya, tetapi mereka tidak mampu.” Kemudian saya pergi ke Madinah dan menemui beliau dan bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah engkau masih mengenal saya?” Beliau menjawab: “Ya, kamu adalah orang yang pernah menemuiku di Makkah.” ‘Amr berkata: “Wahai Rasulallah, beritahukan kepada saya tentang apa saja yang diajarkan Allah kepada engkau, dan saya belum mengetahuinya. Beritahukan kepada saya tentang shalat.” Beliau bersabda: “Shalat shubuh-lah kamu, kemudian berhentilah sampai matahari terbit setinggi tombak, karena ketika matahari itu terbit seolah-olah ia terbit di antara dua tanduk setan dan pada saat itu orang-orang kafir sujud kepada matahari. Kemudian shalatlah sekehendak hatimu, karena sesungguhnya shalat itu disaksikan dan dihadiri malaikat, sehingga matahari itu hampir tergelincir kira-kira sepanjang tombak, kemudian berhentilah dari shalat karena waktu itu neraka jahanam sedang dinyalakan. Apabila matahari telah tergelincir, shalatlah, karena shalat itu disaksikan dan dihadiri oleh malaikat sehingga kamu mengerjakan shalat asyar. Lalu berhentilah shalat sampai matahari terbenam karena pada waktu matahari terbenam itu seolah-olah terbenam di antara dua tanduk syaitan. Dan pada waktu itu juga orang-orang kafir sujud kepada matahari.”

‘Amr berkata: “Saya berkata: “Wahai Rasulallah, beritahukan kepada saya tentang wudlu.” Nabi bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mengerjakan wudlu, berkumurlah, dan memasukkan air ke dalam hidung serta semburkanlah lagi keluar, maka berjatuhanlah dosa-dosa muka, mulut dan hidungnya. Apabila ia membasuh muka sebagaimana yang diperintahkan Allah, maka berjatuhanlah dosa-dosa mukanya melalui ujung dagunya bersama-sama dengan air. Apabila ia membasuh kedua tangannya sampai siku, maka berjatuhanlah dosa-dosa kedua tangannya melalui ujung jari-jarinya bersama-sama dengan air. Apabila ia mengusap kepala, maka berjatuhanlah dosa-dosa kepalanya melalui ujung rambutnya bersama-sama dengan air. Apabila ia membasuh kedua kakinya sampai mata kaki, maka berjatuhanlah dosa-dosa kedua kakinya melalui ujung jari-jarinya bersama-sama dengan air. Kemudian apabila ia berdiri untuk mengerjakan shalat dimana ia memuji, menyanjung dan mengagungkan Allah dengan bacaan-bacaan yang telah ditentukan serta membersihkan hatinya, hanya ditujukan kepada Allah Ta’ala saja, maka hilanglah semua dosanya bagaikan keadaannya ketika ia dilahirkan oleh ibunya.”

Ketika ‘Amr bin Abasah menceritakan hadits ini kepada Abu Umamah menegurnya: “Hai ‘Amr perhatikanlah apa yang kamu ucapkan. Apakah mungkin seseorang itu diberi ampunan sebesar itu hanya dengan mengerjakan serangkaian amalan saja?” ‘Amr menjawab: “Wahai Abu Umamah, usiaku sudah lanjut, tulangku sudah rapuh dan ajalku hampir tiba, maka buat apa aku mendustakan Allah Ta’ala. Andaikan aku hanya mendengar satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali, dan tujuh kali saja dari Rasulullah saw. aku pasti tidak akan menceritakan hal itu selama-lamanya, tetapi aku mendengarnya lebih dari.” (HR Muslim)

Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila Allah berkehendak menurunkan rahmat kepada suatu umat, maka Allah mewafatkan Nabi-Nya sebelum umat itu binasa, dimana Nabi itu dijadikan perintis jalan dan simpanan bagi umat itu. Dan apabila Allah berkehendak menyiksa suatu umat, maka disiksa-Nya umat itu di waktu Nabi-Nya masih hidup supaya Nabi itu melihat dan merasa lega atas binasanya umat itu dikarenakan mendustakan dan mendurhakai perintahnya.” (HR Muslim)

Sunnah Menjawab Bila Ditanya Namanya

3 Mei

Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits

Dari Anas ra. di dalam hadits tentang Isra’ yang telah masyhur, dimana ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kemudian Jibril membawa aku ke langit dunia dan minta dibukakan pintu langit, ketika ditanya: Siapa ini? Ia menjawaba: Jibril. Ditanya lagi: Bersama siapa kamu? Ia menjawab: Muhammad. Kemudian ia naik ke langit kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Pada setiap pintu langit ditanya; “Siapa ini?” maka ia menjawab: “Jibril.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Dzar ra. ia berkata: Saya keluar pada suatu malam, tiba-tiba saya bertemu dengan Rasulullah saw. dimana beliau berjalan sendirian. Pada saat itu saya berjalan dalam keadaan terang bulan, kemudian beliau menoleh dan melihat saya, lalu bertanya: “Siapa ini?” saya menjawab: “Abu Dzar.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ummu Hani’ ra. ia berkata: Saya datang kepada Nabi saw. dan beliau sedang mandi dan ditutupi kain oleh Fatimah, kemudian beliau bertanya: “Siapa ini?” Saya menjawab: “Ummu Hani’” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: saya datang kepada Nabi saw. dan mengetuk pintu, kemudian beliau bertanya: “Siapa ini?” saya menjawab: “Saya.” Beliau bersabda: “Saya, saya..” seolah-olah beliau membenci ucapan itu. (HR Bukhari dan Muslim)

Mendoakan Orang Bersin

3 Mei

Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah itu suka kepada bersin dan benci kepada menguap. Maka apabila salah seorang di antara kamu bersin dan ia memuji Allah Ta’ala (membaca hamdalah), maka bagi setiap orang muslim yang mendengarnya wajib mengucapkan: YarhamukallaaH (“Semoga Allah mengasihi kamu”). Adapun menguap itu adalah berasal dari setan, maka apabila salah seorang di antara kamu menguap, hendaknya ia menahannya semampunya, karena apabila salah seorang di antara kamu sekalian itu menguap maka setan mentertawakannya.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian bersin maka hendaklah ia mengucapkan: alhamdulillaaH (“Segala puji bagi Allah.”), dan hendaklah saudara atau kawannya mengucapkan: YarhamukallaaH (“Semoga Allah mengasihi kamu.”). apabila ada seorang mengucapkan: yarhamukallaaH, maka hendaklah orang yang bersin mengucapkan: YahdikumullaaH (“Semoga Allah menberi petunjuk kepadamu dan semoga Allah selalu menunjukkan kebaikan kepada hatimu.”) (HR Bukhari)

Dari Abu Musa ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian bersin dan ia memuji kepada Allah maka doakanlah ia. Dan apabila ia tidak memuji kepada Allah, maka janganlah kamu mendoakannya.” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Ada dua orang bersin di hadapan Nabi saw. kemudian beliau mendoakan kepada salah seorang di antara keduanya itu dan tidak mendoakan kepada yang lain. Maka orang yang tidak didoakan berkata: “Si Fulan bersin kemudian engkau mendoakannya. Dan saya bersin mengapa tidak mendoakan saya?” Beliau bersabda: “Si Fulan ini memuji kepada Allah sedangkan kamu tidak memuji kepada Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. apabila bersin, maka beliau meletakkan tangan dan mulutnya dan beliau merendahkan atau menekan suaranya.” Perawi bimbang. (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abu Musa ra. ia berkata: Orang-orang Yahudi bersin di hadapan Rasulullah saw. dengan harapan agar beliau mengucapkan: yarhamukallah, tetapi beliau hanya mengucapkan: Yahdikumullah wa yushlihu baalakum.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian menguap, maka hendaklah ia menutup tangan pada mulutnya, karena sesungguhnya setan akan masuk ke mulutnya.” (HR Muslim)

Sunnah Berjabat Tangan

3 Mei

Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits

Dari Abul Khaththab (Qatadah) ia berkata: “Saya bertanya kepada Anas: “Apakah para shahabat saw. itu biasa berjabat tangan?” ia menjawab: “Ya.” (HR Bukhari)

Dari Anas ra. ia berkata: Ketika orang-orang dari negeri Yaman datang, maka Rasulullah saw. bersabda: “Kini telah datang penduduk kota Yaman dan mereka itulah orang yang pertama kali datang dengan berjabat tangan.” (HR Abu Dawud)

Dari Al-Barra’ ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:”Dua orang Islam yang bertemu kemudian mereka berjabat tangan maka dosa kedua orang itu diampuni sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Dawud)

Dari Anas ra. ia berkata: ada seorang bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulallah, apabila seorang di antara kami bertemu dengan saudara atau kawannya apakah ia harus membungkukkan diri?” Beliau menjawab: “Tidak.” Ia bertanya: “Apakah ia harus mendekap dan menciumnya?” Beliau menjawab: “Tidak.” Ia bertanya lagi: “Apakah ia harus memegang tangannya dan menjwabatnya?” Beliau menjawab: “Ya.” (HR Turmudzi)

Dari Saffan bin ‘Assal ra, ia menceritakan bahwa ada seorang Yahudi berkata kepada kawannya: “Marilah kita pergi menemui Nabi.” Maka keduanya datang kepada Rasulullah saw. dan menanyakan tentang sembilan ayat. Setelah dijawab oleh Nabi saw. kemudian mereka mencium tangan dan kaki Rasulullah saw. seraya berkata: “Kami bersaksi sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi.” (HR Turmudzi)

Dari Ibnu Umar ra. ia menceritakan sebuah kisah yang di dalamnya terdapat kalimat: “Kemudian kami mendekat Nabi saw. dan mencium tangan beliau.” (HR Abu Dawud)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Zaid dan Haritsah datang ke Madinah dan Rasulullah saw. sedang berada dirumahku, kemudian ia datang dan mengetuk pintu, lantas Nabi saw. bangkit dan menarik kainnya, serta memeluk dan menciumnya.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Dzar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada saya: “Janganlah kamu sekali-sekali meremehkan kebaikan, walaupun hanya dengan bermuka manis apabila kamu berjumpa dengan saudaramu.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Nabi saw. mencium al-Hasan bin Ali ra. kemudian al-Aqra bin Habis berkata: “Sesungguhnya saya mempunyai sepuluh anak, tetapi saya tidak pernah mencium seorangpun dari mereka.” Mak Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa tidak mengasihi maka tidak akan dikasihi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits Shahih Li Ghairihi

3 Mei

‘Ulumul Hadits; Ilmu-ilmu Hadits; DR. Mahmud Thahan

1. Definisi: hadits shahih lighairihi merupakan hadits hasan li dzatihi yang diriwayatkan dari jalur lain yang semisal, atau yang lebih kuat. Dinamakan dengan hadist shahih lighairihi karena keshahihannya tidak berasal dari sanadnya itu sendiri, melainkan berasal dari jalur lain yang turut bergabung.

2. Tingkatan Hadits Shahih Li Ghairihi
Tingkatannya lebih tinggi dibandingkan dengan hadits hasan li dzatihi; dan ini bukan shahih li dzatihi

3. Contoh hadits hasan li ghairihi
Hadist Muhammad bin Amru, dari Abu Salmah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya aku tidak memberatkan umatku, akan aku perintahkan untuk bersiwak setiap kali menjelang shalat.” (dikeluarkan oleh Tirmidzi dalam bab Thaharah. Asy-Syaikhan juga mengeluarkannya melalui jalur Abu Zinad dari al-A’raj dari Abu Hurairah.)

Ibnu Shalah berkata: Muhammad bin Amru bin Alqamah termasuk perawi yang populer dengan kejujuran dan sikap menjaga dirinya, akan tetapi tidak tergolong orang yang cermat (itqan) sehingga sebagian mereka mendla’ifkannya karena buruk hafalannya; sebagian lainnya mentsiqahkannya karena kejujuran dan keluhurannya. Maka dalam hal ini hadits tersebut hasan. Tatkala dijumpai jalur periwayatan lainnya yang bisa bergabung (untuk memperkuatnya) hilanglah apa yang menjadi kekhawatiran kita terhadap hadits tersebut dari sisi buruknya hafalan. Kekurangannya tertolong, sehingga sanadnya kuat, lalu naik derajatnya menjadi shahih.

Hadits Hasan

3 Mei

‘Ulumul Hadits; Ilmu-ilmu Hadits; DR. Mahmud Thahan

Definisi
a. Menurut bahasa: merupakan sifat musyabbahah dari kata al-husn, yang berarti al-jamal (bagus)
b. Menurut istilah: para ulama memiliki definisi yang berbeda-beda mengenai hadits hasan, karena melihat bahwa hadits hasan itu di tengah-tengah antara hadits shahih dan hadits dlaif, ditambah lagi sebagian ulama-ulama itu mendefinisikannya dengan mencakup salah satu dari dua kategori tersebut.
Definisi menurut berbagai ulama adalah:
1. Menurut al-Khathabi: hadits hasan yaitu hadits yang diketahui tempat keluarnya, para perawinya masyhur (dikenal), menjadi tempat beredarnya banyak hadits, diterima oleh banyak ulama dan digunakan sebagian besar fuqaha.
2. Menurut at-Tirmidzi: yaitu setiap hadits yang diriwayatkan yang di dalam sanadnya tidak ada rawi yang dituduh berdusta, haditsnya tidak syadz, diriwayatkan pula haditsnya melalui jalan lain; hadits seperti ini menurut kami adalah hadits hasan.
3. Menurut Ibnu Hajar: “Yaitu hadits ahad yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, ke-dlabit-annya sempurna, sanadnya bersambung, haditsnya tidak ‘ilat maupun syadz; hadits yang semacam ini adalah hadits shahih li dzatihi. Jika derajat ke-dlabit-annya lebih rendah, itulah hadits hasan li dzatihi.
DR. Ahmad Thahan mengatakan: hadits hasan menurut Ibnu Hajar seakan-akan hadits shahih, hanya saja derajat ke-dlabit-an perawinya lebih rendah atau lebih ringan. Ini termasuk definisi yang baik mengenai hadist hasan. Definisi menurut al-Khatabi memiliki banyak hal yang kontradiktif. Sedangkan menurut at-Tirmidzi definisinya mencakup salah satu dari jenis hadits hasan, yaitu hasan li ghairihi. Padahal yang dituju oleh definisi itu adalah li dzatihi. Sebab hadits hasan li ghairihi pada dasarnya merupakan hadist dlaif yang derajatnya naik menjadi hasan karena dibantu oleh banyaknya jalur.
4. Definisi terpilih: berpijak pada definisi Ibnu Hajar: yaitu hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, yang derajat dlabit-nya lebih ringan dari orang yang serupa hingga puncak (akhir) sanad, tidak ada syudzudz maupun ‘ilat.

Hukum hadits hasan:
Bisa dijadikan sebagai hujjah (argumen), sebagaimana hadits shahih, meskipun dari segi kekuatannya berbeda. Seluruh fuqaha menjadikannya sebagai hujjah dan mengamalkannya, begitu pula sebagian besar pakar hadits dan ulama ushul, kecuali mereka yang memiliki sikap keras. Sebagian ulama yang lebih longgar mengelompokkannya dalam hadits shahih, meski mereka mengatakan tetap berbeda dengan hadits shahih yang telah dijelaskan sebelumnya. Mereka itu seperti al-Hakim, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah.

Contoh hadits hasan:
Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi, yang berkata: Telah bercerita kepada kami Qutaibah, telah bercerita kepada kami Ja’far bin Sulaiman ad-Dluba’i, dari Abi ‘Imran al-Jauni, dari Abu Bakar bin Abu Musa al-Asy’ari, yang berkata: aku mendengar bapakku berkata –di hadapan musuh- : Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada di bawah kilatan pedang…al-Hadits.
Imam Tirmidzi mengomentari hadits ini dengan : “Hadist hasan gharib.”
Hadits ini hasan karena empat orang perawi sanadnya tergolong tsiqah, kecuali Ja’far bin Sulaiman ad-Dluba’i. Jadilah haditsnya hasan. Karena hal itu pula hadits yang martabatnya shahih turun menjadi hasan.

Tingkatan Hadits Hasan:
Sama halnya dengan hadits shahih yang mempunyai berbagai macam tingkatan, begitu pula halnya dengan hadits hasan, mempunyai beberapa tingkatan. Adz-Dzahabi telah membagi hadits hasan ke dalam dua tingkatan, seraya berkata:
a. Tingkatan yang paling tinggi: Bahzu bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya; Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya; Ibnu Ishak dari at-Taimi. Contoh-contoh seperti ini ada yang mengatakan shahih, hanya saja derajat keshahihannya paling rendah.
b. Setelah itu merupakan (sanad-sanad) yang diperselisihkan kehasanan dan kedla’ifannya; seperti haditsnya Harist bin Abdullah, ‘Ashim bin Dlamrah, Hajjaj bin Arthah, dan semacamnya.

Pernyataan ahli hadits: “Hadits ini shahih isnad” berbeda (maknanya) dengan pernyataan “ini hadits shahih.”
Begitu pula halnya dengan pernyataan mereka: “Hadits ini hasan isnad” berbeda (maknanya) dengan pernyataan “Ini hadits hasan”. Pernyataan (hadits ini shahih isnad atau hadits ini hasan isnad) karena sanadnya memang shahih atau hasan tanpa memperhatikan matan, syudzudz maupun adanya ‘ilat. Apabila seorang ahli hadits mengatakan: “Hadits ini shahih” itu berarti hadits itu telah memenuhi syarat-syarat hadits shahih yang lima. Lain lagi jika ia menyatakan: “Hadits ini shahih isnad” itu berarti hadits itu memenuhi tiga syarat keshahihan saja, yaitu sanadnya bersambung, rawinya adil dan dlabith. Adapun tidak adanya syudzudz dan ‘ilat, berarti hadits tersebut tidak bisa memenuhinya. Karena itu tidak bisa ditetapkan sebagai hadits shahih atau hasan.
Meski demikian, apabila seorang hafidh mu’tamad (dalam hadits) meringkas pernyataannya dengan : “Hadits ini shahih isnad” sementara ia tidak menyebutkan adanya ‘ilat, maka berarti matannya juga shahih. Sebab, pada dasarnya hadist tersebut tidak memiliki ‘ilat maupun syudzudz.

Pernyataan Tirmidzi dan selainnya: “Hadits ini Hasan Shahih”
Kenyataannya ungkapan seperti ini amat sulit, sebab hadits hasan itu derajatnya lebih rendah dari hadits shahih. Maka bagaimana menggabungkan keduanya sementara tingkatan keduanya berbeda? Para ulama telah menjawab maksud dari pernyataan Tirmidzi dengan jawaban yang bermacam-macam. Yang terbaik adalah pernyataan al-Hafidh Ibnu Hajar yang disetujui oleh as-Suyuthi. Ringkasnya sebagai berikut:
a. Jika haditsnya mempunyai dua buah sanad atau lebih, maka berarti hadits tersebut adalah hasan menurut salah satu sanad, dan shahih menurut sanad lainnya.
b. Jika haditsnya hanya mempunyai satu sanad, maka berarti hadist tersebut adalah hasan menurut suatu kelompok, dan shahih menurut kelompok lain.
Jadi, seakan-akan orang yang mengatakan hal itu menunjukkan adanya perbedaan di kalangan para ulama mengenai status (hukum) hadits tersebut, atau tidak memperkuat status (hukum) hadits tersebut (apakah shahih ataukah hasan).

Pembagian Hadits menurut al-Baghawi dalam Kitabnya al-Mashabih;
Dalam kitabnya itu al-Baghawi membuat istilah khusus. Beliau merumuskan hadits-hadits yang terdapat di dalam kitab Shahihain (Bukhari dan Muslim) atau salah satunya sebagai “Shahih”, sedang hadits-hadits yang terdapat di dalam Sunan yang empat dengan istilah “hasan”. Penggunaan istilah ini tidak lazim digunakan oleh para pakar hadits. Padahal di dalam kitab Sunan yang empat terdapat juga istilah-istilahh shahih, hasan, dla’if dan munkar. Oleh karena itu Ibnu Shalah dan Imam Nawawi telah menjelaskan perkara tersebut. Dengan demikian, pembaca kitab al-Mashabih hendaknya mengetahui istilah khusus yang terdapat dalam kitabnya al-Baghawi, yang menyatakan hadits-hadits dengan istilah shahih atau hasan.

Para ulama belum pernah menyusun kitab khusus yang terpisah dan isinya berupa hadits-hadits hasan saja sebagaimana yang dijumpai pada hadits-hadits shahih. Meski demikian, banyak kitab yang di dalamnya terdapat banyak hadits hasan, yang populer antara lain:
a. Jami’ at-Tirmidzi; yang populer dengan nama Sunan at-Tirmidzi yang menjadi kitab pokok untuk mengenal hadits-hadits hasan. Dalam kitabnya, Imam Tirmidzi mempopulerkan istilah hadits hasan, dan tergolong orang yang sering menyebutkannya. Meski demikian, tetap diperlukan penjelasan terhadap perselisihan atas istilah hasan shahih dan sejenisnya. Bagi penggiat hadits hendaknya tetap memperhatikan tulisan-tulisan yang terseleksi, yang telah dikaji dan ditetapkan berdasarkan kitab-kitab rujukan.
b. Sunan Abu Daud; dalam surat yang ditujukan kepada penduduk Makkah, beliau menyebutkan bahwa di dalam kitabnya terdapat hadits-hadits shahih, atau yang menyerupainya atau pun yang mendekatinya. Jika terdapat hadits-hadits yang sangat lemah maka beliau menjelaskannya. Apabila beliau tidak mengomentari suatu hadits, berarti hadits itu shahih. Berdasarkan hal ini, jika kita dapati suatu hadits yang belum ada penjelasan tentang kedla’ifan-nya, dan tidak ada seorang pun dari imam-imam hadits yang menshahihkannya, maka berarti hadits itu adalah hasan menurut Abu Daud.
c. Sunan ad-Daruquthni: beliau menetapkan bahwa sebagian besar hadits-hadist dalam kitabnya adalah hasan.