Menjaga Kehormatan, Tidak Meminta-minta (2)

6 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Dari Abu Abdurrahman bin ‘Auf bin Malik ra. ia berkata: Kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw. waktu itu kira-kira berjumlah sembilan, delapan atau tujuh orang; kemudian beliau bertanya: “Apakah kalian tidak akan berbaiat (berjanji setia) kepada Rasulullah?” Padahal kami barusaja berbaiat. Maka kami menjawab: “Bukankah kami sudah berbaiat kepadamu wahai Rasulallah?” Kemudian kami mengulurkan tangan dan berkata: “Kami telah berbaiat kepada engkau, maka dalam hal apa kami harus berbaiat?” Beliau menjawab: “Kalian harus menyembah Allah, Dzat yang Maha Esa dan kalian tidak boleh menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, shalat lima waktu, serta harus senantiasa mendengarkan dan mentaati segala perintah-Nya.” Dan beliau berbisik: “Janganlah kalian meminta-minta sesuatu pun kepada sesama manusia.” Setelah itu, sungguh saya menyaksikan, bahwa salah seorang di antara kelompok ini, ada yang cambuknya terjatuh dan ia tidak mau meminta kepada seseorang untuk mengambilkan cambuknya.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Siapa saja di antara kalian yang senantiasa meminta-minta, nanti ia akan bertemu Allah Ta’ala, sedangkan mukanya tidak berdaging.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Umar ra. ia berkata: Ketika Rasulullah saw. berada di atas mimbar, beliau berbicara tentang sedekah, dan menjaga diri dari meminta-minta, beliau bersabda: “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah yang memberi, sedangkan tangan yang di bawah adalah tangan yang meminta-minta.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang meminta-minta kepada sesama manusia dengan maksud untuk memperbanyak harta kekayaan, maka sesungguhnya ia meminta bara api; sehingga terserah padanya apakah cukup dengan sedikit saja atau akan memperbanyaknya.” (HR Muslim)

Dari Samurah bin Jundub ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya meminta-minta itu adalah cacat (luka) yang digoreskan orang di wajahnya, kecuali apabila ia meminta kepada penguasa atau karena keadaan terpaksa.” (HR Tirmidzi)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang tertimpa kekurangan, kemudian ia mengadukannya kepada sesama manusia, maka kekurangannya tidak akan tertutupi. Tetapi siapa saja yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya rizky (baik datangnya) segera ataupun lambat.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Dari Tsauban ra. ia berkata: Rasulullah saw. bertanya: “Siapakah yang berani menjaminkan dirinya kepadaku untuk tidak meminta sesuatupun kepada sesama manusia maka aku akan jamin ia masuk surga?” Saya menjawab: “Saya.” Maka ia tidak pernah meminta sesuatupun kepada orang. (HR Abu Daud)

Dari Abu Bisyr Qabishah bin al-Mukhariq ra. ia berkata: Saya adalah orang yang menanggung beban amat berat, maka saya mendatangi Rasulullah saw. untuk meminta bantuannya meringankan beban itu. Kemudian beliau bersabda: “Tunggulah sampai ada zakat yang datang kesini, nanti akan aku suruh si ‘amil (pengumpul dan pembagi zakat) untuk memberi bagian kepadamu.” Kemudian beliau bersabda: “Wahai Qabishah, meminta-minta itu tidak diperbolehkan kecuali ada salah satu dari tiga sebab. Pertama, seseorang yang menanggung beban yang amat berat, maka ia diperbolehkan meminta-minta sampai dapat memperingan bebannya, kemudian dia mengekang dirinya untuk tidak meminta-minta lagi. Kedua, seseorang yang tertimpa kecelakaan dan hartanya habis, maka ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan kehidupan yang layak. Dan yang ketiga, seseorang yang sangat miskin, sehingga ada tiga orang yang bijaksana di antara kaumnya mengatakan: “Si Fulan benar-benar miskin.” Maka ia diperbolehkan meminta-minta, sampai dapat hidup dengan layak. Wahai Qabishah, meminta-minta selain disebabkan tiga hal tadi, adalah usaha yang haram dan orang yang memakannya berarti ia makan barang haram.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Bukan dinamakan orang miskin, orang yang meminta-minta kemudian ia tidak memperoleh sesuap dan dua suap makanan atau tidak memperoleh satu dan dua buah butir kurma. Tetapi yang dinamakan orang miskin adalah orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhannya dan tidak pernah berfikir untuk diberi sedekah dan ia juga tidak mau pergi untuk meminta-minta kepada orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya (Abdullah bin Umar), dari Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. memberi bagian dari sedekah kepada saya, tetapi saya menolaknya dan berkata: “Wahai Rasulallah, berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkannya.” Beliau bersabda: “Terimalah, apabila harta itu mendatangimu, sedangkan kamu tidak mengharap-harapkan dan meminta. Kemudian terserah kamu, boleh kamu makan atau sedekahkan. Dan yang tidak datang kepadamu, janganlah kamu menuruti hawa nafsumu untuk mendapatkannya.” Salim berkata: “Setelah itu, Abdullah tidak pernah meminta sesuatupun kepada orang lain, dan tidak pernah menolak pemberian.” (HR Bukhari dan Muslim)
Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: