Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Buruuj (1)

6 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Buruuj (Gugusan Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 85: 22 ayat


tulisan arab alquran surat al buruuj ayat 1-10“1. demi langit yang mempunyai gugusan bintang, 2. dan hari yang dijanjikan, 3. dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. 4. binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, 5. yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, 6. ketika mereka duduk di sekitarnya, 7. sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. 8. dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, 9. yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu. 10. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (al-Buruuj: 1-10)

Allah bersumpah dengan menggunakan langit dan juga bintang-bintang yang besar, sebagaimana penjelasan mengenai hal ini telah diberikan sebelumnya. Firman Allah: wal yaumil mau-‘uudi wa syaaHidiw wa masyHuudin (“Dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai hal ini. Dan mayoritas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan asy-shaaHid (yang menyaksikan) adalah hari Jumat sedangkan al-masyHuud (yang disaksikan) adalah hari ‘Arafah.

Firman Allah: qutila ash-haabul ukhduud (“Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit.”) yakni terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Jamak dari kata ini adalah akhaadiid, yang berarti parist yang ada di bumi. Yang demikian itu merupakan pemberitahuan tentang satu kaum dari orang-orang kafir yang mengintimidasi orang-orang yang beriman kepada Allah yang hidup di tengah-tengah mereka. Mereka memaksa dan menghendaki agar mereka kembali kepada agama mereka, namun orang-orang mukmin itu menolak ajakan itu, sehingga mereka membuat parit untuk mereka di bumi, di dalam parit itu mereka nyalakan api dan menyiapkan bagi mereka bahan bakar itu agar tetap menyala. Kemudian mereka bersikeras meminta orang-orang yang beriman kembali kepada mereka, tetapi orang-orang mukmin itu menolak sehingga mereka dilemparkan ke dalam parit tersebut. Oleh karena itu allah berfirman: qutila ash-haabul ukhduud. Annaari dzaatil waquud. Idz-Hum ‘alaiHaa qu-‘uud. waHum ‘alaa maa yaf’aluuna bil mu’miniina syuHuud (“Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi [dinyalakan dengan ] kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” Maksudnya, mereka menyaksikan apa yang dilakukan terhadap orang-orang yang beriman tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman:

qutila ash-haabul ukhduud. Annaari dzaatil waquud. IdzHum ‘alaiHaa qu-‘uud. waHum ‘alaa maa yaf’aluuna bil mu’miniina syuHuud (“Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi [dinyalakan dengan] kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.”) maksudnya mereka menyaksikan apa yang dilakukan terhadap orang-orang yang beriman tersebut.
Allah berfirman: wamaa naqamuu minHum illaa ay yu’minuu billaaHil ‘aziizil hamiid (“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji.”) maksudnya, orang-orang yang beriman itu tidak mempunyai satu kesalahan pun melainkan hanya karena keimanan mereka kepada Allah Yang Mahaperkasa, yang tidak ada seorang pun terhinakan dengan melindungkan diri kepada kekuasaan-Nya yang Mahamenghalangi lagi Mahaterpuji dalam segala ucapan, perbuatan, syariat, dan takdir-Nya. Meskipun telah ditakdirkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tadi mengenai kejadian yang menimpa mereka melalui tangan-tangan orang kafir. Dengan demikian, Dia Mahaperkasa lagi Mahamulia, meski sebabnya tidak diketahui oleh kebanyakan ummat manusia.

Firman Allah: alladzii laHuu mulkus samaawaati wal ardli (“Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi.”) di antara kesempurnaan sifat-Nya bahwa Dia adalah pemilik seluruh langit dan bumi serta segala sesuatu yang terdapat di antara keduanya. wallaaHu ‘alaa kulli syai-ing syaHiid (“Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.”) maksudnya tidak ada sesuatu pun di seluruh langit dan bumi yang tidak diketahui-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Para ahli tafsir telah berbeda pendapat mengenai kisah ini, siapakah orang-orang yang dimaksud. Dari ‘Ali, menurutnya, mereka itu adalah penduduk Persia. Dan ketika raja mereka hendak menghalalkan bagi kaum laki-laki menikahi mahram, maka para ulama mereka menentangnya, sehingga raja itu segera membuat parit, dan siapa saja yang menentangnya dia lemparkan ke dalam parit itu.
(bersambung ke bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: