Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Muthaffifiin (3)

8 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Muthaffifiin (Orang-orang yang Curang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 83: 36 ayat

Firman Allah: innal abraara lafii na-‘iim (“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu dalam kenikmatan yang besar.”) yakni pada hari kiamat kelak berada dalam kenikmatan yang abadi dan surga yang di dalamnya terdapat karunia yang menyeluruh. ‘alal araa-iki (“Di atas dipan-dipan”) kata al-‘araa-iq berarti tempat tidur, dari balik kelambu mereka memandang. Ada juga yang menyatakan: “Maksudnya mereka melihat kerajaan mereka dalam segala sesuatu yang telah diberikan Allah kepada mereka, yaitu berupa kebaikan dan anugerah yang tidak akan pernah berkurang, serta tidak akan pernah habis. Dan ada pula yang berpendapat, makna firman-Nya: ‘alal araaiki yandzuruun (“Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”) yakni memandang kepada Allah. Dan itu jelas merupakan kebalikan apa yang disifati oleh Allah bagi orang-orang yang berbuat jahat itu, kallaa innaHum ‘arrabbiHim yauma-idzil lamahjuubuun (“Sekali-sekali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari [melihat] Rabb mereka.”)(al-Muthaffifiin: 15). Lalu Allah menceritakan mengenai mereka [orang-orang yang berbuat baik] bahwa mereka diperbolehkan untuk melihat Allah di atas ranjang dan tempat tidur mereka.

Firman Allah: ta’rifu fii wujuuHiHim nadl-ratan na-‘iim (“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan.”) maksudnya jika kamu melihat wajah mereka, niscaya kamu akan menyaksikan kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan, yaitu sifat-sifat kemewahan, kemuliaan, kebahagiaan, kehormatan, dan kepemimpinan, yang padanya mereka benar-benar berada dalam kenikmatan yang sangat luar biasa agungnya.

Firman-Nya: yusqauna mir rahiiqim makhtuum (“mereka minum dari khamr murni yang dilak.”) yakni mereka diberi minum dari khamr surga. Ar-Rahiq merupakan salah satu nama minuman khamr. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan al-Hasan. Dan mengenai firman-Nya: khitaamuHuu misk (“Laknya adalah kasturi.”) Ibnu Mas’ud mengatakan: “Yakni dicampuri dengan minyak kasturi.” Sedangkan al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Allah telah membuat baik minuman khamr itu bagi mereka bagi mereka, yang ia merupakan sesuatu yang paling akhir dipersembahkan yang ditutup lagi dengan minyak kasturi juga.” Adapun Ibrahim dan al-Hasan mengemukakan: “khitaamuHuu misk; maksudnya adalah kesudahannya adalah minyak kasturi.”

Firman Allah: wa fii dzaalika falyatanaafasil mutanaafisuun (“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”) maksudnya, dalam kondisi seperti itu, hendaknya orang-orang saling membanggakan diri, bermewah-mewah dan memperbanyak, serta berlomba-lomba untuk meraih apa yang telah diperoleh orang-orang terdahulu.

Firman Allah: wa mizaajuHuu min tasniim (“Dan campuran khamr murni itu adalah dari tasnim.”) maksudnya campuran minuman ar-rahiq ini adalah apa yang disebut tasnim, yaitu salah satu minuman yang diberi nama tasnim, yang ia merupakan minuman yang paling mulia lagi paling tinggi bagi para penghuni surga. Demikian yang dikatakan oleh Abu Shalih dan adl-Dlahhak. Oleh karena itu Dia berfirman: ‘ainay yasyrabu biHal muqarrabuun (“[yaitu] mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”) yaitu minuman yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah secara murni [tanpa campuran], dan diminum oleh ash-haabul yamiin (orang-orang yang menerima catatan amal dengan tangan kanan) dengan dicampur minuman lain. Demikianlah yang dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Masruq, Qatadah dan lain-lain.

tulisan arab alquran surat al muthaffifiin ayat 29-36“29. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. 30. dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. 31. dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. 32. dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, 33. Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. 34. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, 35. mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. 36. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (al-Muthaffifiin: 29-36)

Allah menceritakan tentang orang-orang yang berbuat dosa, dimana ketika masih di dunia mereka menertawakan orang-orang yang beriman seraya menghinakannya, dimana jika mereka melalui orang-orang mukmin maka mereka saling mengedipkan matanya, dengan pengertian menghinakan mereka.

Wa idzang qalabuu ilaa aHliHimung qalabuu fakiHiin (“Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.”) maksudnya ketika orang-orang yang berbuat dosa itu kembali ke rumah-rumah mereka maka mereka akan kembali dalam keadaan senang gembira. Artinya, apapun yang mereka cari pasti mereka dapatkan. Meski demikian mereka tidak mensyukuri nikmat yang telah dikaruniakan kepada mereka, bahkan mereka justru sibuk menghina dan dengki kepada orang-orang mukmin.

Wa idzaa ra-awHum qaaluu innaHaa-ulaa-i ladlaalluun (“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat.”) maksudnya, karena mereka berada dalam agama yang bukan agama mereka.

Firman Allah: wa maa ursiluu ‘alaiHim haafidhiin (“Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.”) maksudnya, orang-orang yang berbuat dosa itu tidak dikirim untuk menjaga orang-orang mukmin, baik itu menyangkut amal perbuatan, ucapan maupun segala sesuatu yang dibebankan kepada mereka. Lalu untuk apa mereka menyibukkan diri mengawasi dan memfokuskan pandangan mereka kepada orang-orang mukmin? Oleh karena itu, Allah berfirman: falyauma (“Maka pada hari ini.”) yaitu hari kiamat, alladziina aamanuu minal kuffaari yadl-hakuun (“Orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.”) sebagai balasan atas perbuatan mereka yang menertawakan orang-orang mukmin:
‘alal araa-iki yangdhuruun(“Mereka [duduk] di atas dipan-dipan sambil memandang.”) yakni melihat kepada Allah, dalam rangka menangkis orang-orang yang menganggap bahwa mereka (orang-orang mukmin itu) sebagai orang yang sesat, tetapi mereka itu termasuk dari wali-wali Allah yang didekatkan kepada-Nya dan melihat langsung kepada-Nya di alam yang penuh kemuliaan-Nya.

Firman Allah: Hal tsuwwabul kuffaaru maa kaanuu yaf’aluun (“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”) maksudnya, apakah orang-orang kafir itu akan diberi ganjaran [atau tidak] atas apa yang telah mereka lakukan terhadap orang-orang mukmin berupa caci maki dan penghinaan? Artinya, mereka telah diberi balasan dengan balasan yang paling lengkap lagi sempurna.

2 Tanggapan to “Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Muthaffifiin (3)”

  1. Djokolono 22 Juni 2014 pada 03.52 #

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Jazakallah khairan katsiraa, atas semua ilmu yang sangat bermanfaat ini.

    Ya Allah jika Saudaraku yang baik ini, sedang tidur, jagalah & segarkanlah bangunnya.
    Jika sedang beribadah, terimalah ibadahnya.
    Jika sedang berdo’a, kabulkanlah do’anya.
    Jika sedang bekerja, ringankan kerjanya, berkahilah kerjanya dan jadikan sebagai bagian dari ibadah dan amal shalehnya.
    Jika sedang usaha, mudahkan, lancarkan, bimbinglah dan berkahilah usahanya.
    Jika sedang kesulitan, berilah kesabaran, berilah petunjuk, bebaskanlah kesulitannya, berilah dia pembimbing dan penolong dari sisi MU.
    Jika sedang sakit tabahkanlah dan sembuhkanlah.
    Jika sedang sedih, gembirakanlah.
    Jika sedang cemas, tentramkanlah hatinya dan lapangkan dadanya.
    Jika sedang lupa dan khilaf, ampunilah, maafkanlah dan sayangilah dia.
    Jika sedang berbahagia, karuniakanlah rasa syukur.
    Aamiin.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Djokolono

    • untungsugiyarto 23 Juni 2014 pada 06.23 #

      Wa’alaikumus salaam warahmatullaHi wabarakatuH.
      aamiin wa iyyaakum
      aamiin wa iyyaakum
      aamiin wa iyyaakum
      aamiin wa iyyaakum
      aamiin wa iyyaakum
      aamiin wa iyyaakum
      aamiin wa iyyaakum
      aamiin wa iyyaakum
      aamiin wa iyyaakum
      aamiin wa iyyaakum
      aamiin wa iyyaakum…..
      Syukran jz atas doa kebaikan untuk kita semua ya akhii, semoga antum mendapatkan kebaikan yang sama. aamiin.
      Wa’alaikumus salaam warahmatullaHi wabarakatuH.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: