Arsip | 07.34

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaaf (13)

10 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir)
Surah Makkiyyah; Surah ke 46: 35 ayat

Di dalam surga nanti masih ada kelebihan (tempat), maka untuk itu Allah menciptakan makhluk sebagai penghuninya. Bukankah orang yang beriman kepada-Nya dan berbuat amal shalihlah yang menempatinya?
Dan apa yang mereka sebutkan di sini tentang balasan atas keimanan, berupa pengampunan dosa dan keselamatan dari adzab yang pedih berarti mereka masuk ke dalam surga, karena di akhirat itu tidak terdapat tempat kecuali surga dan neraka. dengan demikian, barangsiapa yang selamat dari Neraka, sudah pasti masuk Surga. Dan tidak ada nash –menurut Ibnu Katsir-, baik secara tegas maupun samar dari pembuat syariat yang menyebutkan bahwa jin mukmin itu tidak masuk surga meskipun mereka diselamatkan dari neraka. Seandainya hal ini memang benar, maka tentu Ibnu Katsir menganutnya. wallaaHu a’lam.

Nabi Nuh pernah berkata kepada kaumnya: yaghfirlakum min dzunuubikum wa yu-akhkhirkum ilaa ajalim musamman (“Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkanmu sampai pada waktu yang ditentukan.”)(Nuuh: 4)
Sementara itu tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang-orang mukmin dari kaumnya (Nuh as.) berada di surga. Demikian halnya dengan para jin mukmin.

Firman Allah selanjutnya mengabarkan tentang mereka: wa mal laa yujib daa-‘iyallaaHi falaisa bimu’jizin fil ardli (“Dan orang yang tidak menerima [seruan] orang yang menyeru kepada Allah, maka ia tidak akan melepaskan diri [dari adzab Allah] di muka bumi.”) yakni bahwa kekuasaan Allah itu mencapai dan meliputinya. Wa laisa laHuu min duuniHi auliyaa-a (“Dan tidak ada baginya pelindung selain Allah”) artinya, tidak ada seorangpun yang akan menyelamatkan mereka dari-Nya. Ulaa-ika fii dla-laalim mubiin (“Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”) ini adalah bentuk ancaman dan tahib (menakut-nakuti). Oleh karena itu, mereka (kaum jin) itu menyeru kaumnya dengan menggunakan targhib (memberikan dorongan) dan tarhib (memberikan ancaman). Dan metode ini cukup berhasil pada sebagian besar mereka, dan datanglah kepada Rasulullah saw. rombongan demi rombongan, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Segala puji dan karunia hanya milik Allah. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat al ahqaaf ayat 33-35“33. dan Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, Kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. 34. dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, (Dikatakan kepada mereka): “Bukankah (azab) ini benar?” mereka menjawab: “Ya benar, demi Tuhan kami”. Allah berfirman “Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar”. 35. Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (al-Ahqaaf: 33-35)

Maksudnya Allah berfirman: Tidakkah orang-orang yang mengingkari kebangkitan pada hari kiamat dan menganggap tidak mungkin pembangkitan jasad-jasad makhluk pada hari pembalasan itu tidak memperhatikan: annallaaHal ladzii khalaqas samaawaati wal ardla wa lam ya’ya bikhalqiHinn (“Bahwasannya sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya?”) maksudnya, penciptaan itu sama sekali tidak menjadikan-Nya lelah karena Dia hanya mengatakan: “Jadilah,” maka jadilah ia, tanpa perlawanan dan penentangan, bahkan ia tunduk patuh dan merasa takut kepada-Nya. Bukankah Rabb yang demikian itu kuasa untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati? Oleh karena itu Allah berfirman: balaa innaHuu ‘alaa kulli syai-ing qadiir (“Ya [bahkan] sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

Kemudian Allah berfirman, memberikan ancaman kepada orang-orang yang kafir kepada-Nya: wa yauma yu’radlul ladziina kafaruu ‘alannaari alaisa Haadzaa bil haqqi (“Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, [dikatakan kepada mereka]: ‘Bukankah adzab ini benar?’”) maksudnya dikatakan kepada mereka: “Tidakkah ini sesuatu yang benar? Apakah ini sihir ataukah memang kalian tidak dapat melihat?” Mereka menjawab: balaa wa rabbinaa (“Ya benar, demi Rabb kami.”) artinya, tidak ada kata lain bagi mereka kecuali pengakuan. Qaala fadzuuqul ‘adzaaba bimaa kuntum takfuruun (“Allah berfirman: ‘Maka rasakanlah adzab ini disebabkan kamu selalu ingkar”)

Setelah itu Allah berfirman memerintahkan Muhammad saw. untuk bersabar atas dusta yang dilakukan oleh para pendusta dari kaumnya: fashbir kamaa shabara ulul ‘azmi minar rusuli (“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para Rasul [Ulul ‘azmi] telah bersabar.”) yakni atas kedustaan kaumnya masing-masing.

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah Ulul ‘azmi. Pendapat yang paling terkenal, bahwa mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa dan Muhammad saw. Dan Allah sendiri telah menyebutkan nama-nama mereka itu di antara nama para Nabi, yaitu dalam dua ayat dari surat al-Ahzaab dan asy-Syuura.
Mungkin juga yang dimaksud dengan Ulul ‘azmi adalah seluruh Rasul, sehingga kata “min” dalam firman Allah (minar rusuli) dimaksudkan untuk menjelaskan jenis. wallaaHu a’lam.

Firman Allah: wa laa tasta’jillaHum (“Dan janganlah kamu meminta disegerakan [adzab] bagi mereka.”) maksudnya, janganlah kamu meminta supaya ditimpakan adzab kepada mereka dengan segera. Ini seperti firman Allah: wa dzarnii wal mukadzdzibiina ulin na’mati wa maHHilHum qaliilan (“Dan biarkanlah Aku sendiri yang bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan, dan berilah tangguh kepada mereka barang sejenak.”) (al-Muzzammil: 11)

Dan firman Allah: balaagh (“[inilah] suatu pelajaran yang cukup”)
Ibnu Jarir mengungkapkan bahwa kata ini mengandung dua pengertian. pertama, pengertiannya bahwa hal itu adalah untuk penyampaian berita saja. kedua, maksudnya bahwa al-Qur’an ini memberikan pelajaran yang cukup.

Dan firman-Nya: faHal yuHlaku illal qaumul faasiquun (“Maka, tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.”) artinya, Allah tidak membinasakan [suatu kaum], kecuali orang-orang yang berhak dibinasakan. Dan ini merupakan keadilan-Nya. Dia tidak mengadzab kecuali mereka yang berhak menerima adzab. wallaaHu a’lam.
Sekian.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaaf (12)

10 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir)
Surah Makkiyyah; Surah ke 46: 35 ayat

Walau ilaa qaumiHim mundziriin (“Maka mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.”) maksudnya, mereka kembali kepada kaumnya dan memberikan peringatan kepada mereka atas apa yang mereka dengar dari Rasulullah saw. seperti firman Allah: liyatafaqqaHuu fiddiini wa liyundziruu qaumaHum idzaa raja-‘uu ilaiHim la-‘allaHum yahdzaruun (“Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”) (at-Taubah: 122)

Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan bahwa di kalangan kaum jin terdapat juga para pemberi peringatan, dan di kalangan mereka tidak terdapat seorang rasul. Tidak diragukan lagi bahwa tidak ada di antara kaum jin itu yang diutus oleh Allah Ta’ala sebagai Rasul. Yang demikian itu didasarkan pada firman-Nya: wa maa arsalnaa qablaka minal mursaliina illaa innaHum laya’kuluunath tha-‘aama wa yamsyuuna fil aswaaq (“Dan Kami tidak mengutus para Rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.”)(al-Furqaan: 20)

Dan firman Allah tentang Ibrahim al-Khalil: wa ja’alnaa fii dzurriyyatiHin nubuwwata wal kitaab (“Dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya.”) (al-‘Ankabuut: 27)

Dengan demikian setiap Nabi yang diutus oleh Allah setelah Ibrahim adalah keturunan dari garis nasabnya. Sedangkan firman Allah dalam al-An’am: yaa ma’syaral jinni wal insi alam ya’tikum rusulum mingkum (“Wahai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu sekalian Rasul-rasul dari golonganmu sendiri?”) (al-An’am: 130) yang dimaksud dengan hal ini adalah kumpulan dari dua jenis makhluk (jin dan manusia), maka bisa mengenai salah satu dari keduanya, yaitu jenis manusia. Sebagaimana terdapat dalam firman-Nya: yakhruju minHumaa lu’lu-u wal marjaan (“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.”)(ar-Rahmaan: 22) yakni, salah satu dari keduanya.

Kemudian Allah menafsirkan tentang pemberian peringatan oleh jin kepada kaumnya, dimana Dia berfirman seraya memberitahukan: qaaluu yaa qaumanaa innaa sami’naa kitaaban unzila mim ba’di muusaa (“Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab [al-Qur’an] yang telah diturunkan sesudah Musa.’”) mereka tidak menyebut ‘Isa, karena kepada ‘Isa as. diturunkan Injil yang di dalamnya terdapat nasehat-nasehat, bimbingan-bimbingan, dan sedikit masalah halal dan haram. Dan pada hakekatnya, ia hanya sebagai penyempurna bagi syariat Taurat. Dengan demikian, yang menjadi acuannya adalah Taurat. Oleh karena itu, mereka berkata: unzila mim ba’di muusaa (“Yang telah diturunkan setelah Musa.”)

Demikian pula yang dikemukakan oleh Waraqah bin Naufal ketika diberitahu oleh Nabi saw. mengenai kisah turunnya Jibril kepada beliau pada kali pertama: “Selamat, selamat, inilah Jibril yang dulu datang kepada Musa. Seandainya waktu itu aku masih muda..” mushaddiqal limaa baina yadaiiH (“Yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya.”) yaitu kitab-kitab yang diturunkan kepada para Nabi sebelum beliau. Dan ucapan mereka: yaHdii ilal haqqi (“Lagi memberikan petunjuk kepada kebenaran.”) yakni dalam keyakinan dan berita. Wa ilaa thariiqim mustaqiim (“Dan kepada jalan yang lurus”) yakni dalam amal perbuatan. Karena sesungguhnya al-Qur’an itu mencakup dua hal: yaitu khabar (berita) dan thalab (perintah). Berita yang disampaikannya sudah pasti benar dan perintah yang dikemukakannya pun adil. Sebagaimana firman Allah: wa tammat kalimatu rabbika shidqaw wa ‘adlan (“Telah sempurna kalimat Rabb-mu [al-Qur’an] sebagai kalimat yang benar dan adil.”)(al-An’am: 115)

Juga firman-Nya: Huwalladzii arsala rasuulaHuu bil Hudaa wa diinil haqqi (“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar.”) (ash-Shaff: 9). Al-Hudaa (petunjuk) yaitu ilmu yang bermanfaat, dan dinul haq (agama yang benar) yaitu amal shalih.

Demikian pula jin berkata: yaHdii ilal haqqi (“yang memberikan petunjuk kepada kebenaran.”) yakni dalam keyakinan. Wa ilaa thariiqim mustaqiim (“Dan kepada jalan yang lurus.”) yakni dalam amal dan perbuatan.
Yaa qaumanaa ajiibuu daa-‘iyallaaHi (“Hai kaum kami, terimalah [seruan] orang yang telah menyeru kepada Allah.”) Ini menunjukkan bahwa Allah swt. telah mengutus Rasul-Nya, Muhammad saw. kepada tsaqalain, yakni jin dan manusia, dimana beliau menyeru mereka ke jalan Allah dan membacakan kepada mereka surat yang di dalamnya terdapat firman kepada kedua kelompok, perintah, janji dan ancaman bagi mereka, yaitu surat ar-Rahmaan. Oleh karena itu, Dia berfirman: ajiibuu daa-‘iyallaaHi wa aaminuu biHii (“Terimalah seruan orang yang telah menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya.”)

Dan firman Allah: yaghfirlakum min dzunuubikum (“Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu.”) ada yang mengatakan bahwa kata “min” dalam penggalan ayat ini bersifat za-idah (tambahan), namun masih perlu diteliti, karena sifatnya sebagai tambahan dalam kalimat positif itu sedikit sekali. Ada juga yang menyatakan bahwa kata “min” itu dimaksudkan sebagai tab’idh (sebagian).

Wa yujirkum min ‘adzaabin aliim (“Dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih.”) artinya, Dia akan menjaga kalian dari adzab-Nya yang pedih. Ayat ini dijadikan dalil bagi pendapat ulama yang menyatakan bahwa jin mukmin itu tidak masuk surga, melainkan pahala bagi mereka yang shalih adalah diselamatkan dari adzab neraka pada hari kiamat kelak. Oleh karena itu, mereka mengatakan hal tersebut dalam konteks ini, yaitu konteks membanggakan diri dan melebih-lebihkan. Seandainya mereka mendapatkan pahala atas keimanan lebih tinggi dari hal itu, niscaya mereka akan menyebutnya.

Yang benar, jin mukmin adalah sama dengan manusia mukmin, mereka akan masuk surga, sebagaimana hal itu merupakan pendapat madzab sekelompok ulama salaf. Sebagian mereka ada yang mendasari pendapat tersebut dengan firman Allah: lam yathmitsHunna insung qablaHum wa laa jaann (“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka [para penghuni surga yang menjadi suami mereka] dan tidak pula jin.”)(ar-Rahmaan: 74)

Namun dalam penggunaan ayat ini sebagai dalil atas hal itu masih perlu ditinjau kembali. Dan dalil yang lebih baik dari hal itu adalah firman Allah: wa liman khaafa maqaama rabbiHii jannataan (“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua surga. Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?”)(ar-Rahmaan: 46-47)

Dengan demikian, Allah telah menganugerahkan kepada manusia dan jin, dengan memberikan pahala surga bagi mereka yang berbuat baik. Sedang para jin telah menyambut ayat ini dengan ucapan syukur yang lebih baik daripada manusia. Mereka mengatakan: “Kami tidak mendustakan sedikitpun dari nikmat-Mu, maka hanya bagi-Mu segala puji.” Karena tidak patut jika Allah menganugerahkan pahala bagi mereka tetapi mereka tidak memperolehnya. Lebih lanjut, jika Allah membalas jin yang kafir dengan siksa neraka sebagai keadilan, maka membalas siapa yang beriman dari mereka dengan pahala surga sebagai karunia adalah suatu hal yang tentu saja lebih patut. Dalil lain yang juga menunjukkan hal tersebut adalah keumuman firman Allah: innal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati kaanat laHum jannaatul firdausi nuzulan (“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.”) (al-Kahfi: 107)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaaf (11)

10 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir)
Surah Makkiyyah; Surah ke 46: 35 ayat

Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi telah meriwayatkan dari Sa’id bin ‘Amr, ia berkata: Abu Hurairah pernah ikut Rasulullah saw. dengan membawa tempat air untuk wudlu dan untuk kebutuhan lainnya. Pada suatu hari ketika Rasulullah saw. mendapatkannya, maka beliau bertanya: “Siapakah ini?” Ia menjawab: “Aku, Abu Hurairah.” Maka beliau bersabda: “Bawakan untukku beberapa batu untuk aku pergunakan beristinja’ dan jangan kau bawakan tulang dan kotoran [kering].” Abu Hurairah melanjutkan: “Maka aku bawakan beberapa batu kepada beliau yang kubawa dengan bajuku, lalu aku letakkan di samping beliau. Dan ketika beliau selesai membuang hajatnya, beliau berdiri dan aku pun mengikuti beliau dan kutanyakan: “Wahai Rasulallah, kenapa dengan tulang dan kotoran kering?” Rasulullah menjawab: “Aku pernah didatangi oleh utusan jin dari Nashibain, lalu mereka menanyakan tentang perbekalan mereka, maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka, bahwa mereka tidak melewati kotoran kering dan tulang melainkan mereka mendapatkannya sebagai makanan.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Musa bin Isma’il, dari ‘Amr bin Yahya dengan sanad yang dekat dengannya. Abu Hamzah Ats-Tsumali menyebutkan bahwa suku jin itu disebut sebagai Bani Syaishiban, mereka inilah jin yang berjumlah paling banyak dan mempunyai nasab keturunan yang paling terhormat, dan mereka merupakan mayoritas pasukan iblis.

Sufyan ats-Tsauri menyebutkan dari Ibnu Mas’ud, mereka ini berjumlah sembilan jin yang salah satu dari mereka adalah Zauba’ah. Mereka mendatangi Rasulullah saw. dari bukit Nakhlah. Diriwayatkan dari mereka, bahwa mereka ini berjumlah lima belas jin. Dan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa mereka berada di atas enam puluh binatang tunggangan.

Dari Ibnu Mas’ud, disebutkan bahwa nama tokoh mereka adalah Wardan. Ada juga yang menyatakan bahwa mereka terdiri dari tiga ratus jin. Sedangkan dari ‘Ikrimah disebutkan bahwa mereka berjumlah dua belas ribu jin. Bisa jadi perbedaan jumlah ini menunjukkan kedatangan utusan mereka kepada Rasulullah saw. terjadi berulang kali.
Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya dari ‘Abdullah bin ‘Umar ia bercerita: Aku tidak pernah mendengar ‘Umar ra. berkata dalam sesuatu pun: “Sesungguhnya aku kira seperti begini.” Melainkan seperti yang menjadi dugaannya. Ketika ‘Umar bin al-Khaththab tengah duduk, tiba-tiba ada seorang laki-laki tampan melewatinya, maka ia berkata: “Dugaanku salah. Atau bahwa ia dalam keadaan memeluk agamanya pada masa jahiliyah, atau ia merupakan seorang dukun mereka, bahwa orang itu berkata kepadaku.” Maka orang itu dipanggil untuknya dan ‘Umar pun mengatakan hal tersebut, lalu orang itu berkata: “Aku tidak pernah melihat seperti hari ini, di manapun aku berjumpa dengan seorang muslim.” ‘Umar bin al-Khaththab berkata: “Sesungguhnya aku ingin engkau benar-benar memberitahuku.” Ia mengatakan: “Aku dulu adalah seorang dukun mereka pada masa jahiliyah.” ‘Umar berkata: “Betapa menakjubkan apa yang dibawa jin wanitamu.” Ia menjawab: “Ketika pada suatu hari aku tengah berada di pasar, ia datang kepadaku, aku melihat adanya ketakutan dalam dirinya, lalu berkata: “Tidakkah kamu melihat para jin dan kebingungannya, juga keputusannya setelah lemah tak berdaya, serta menjadi mengkerut dan bangkrut.”

Lalu ‘Umar berkata: “Benarlah. Ketika akut tertidur di antara tuhan-tuhan mereka, tiba-tiba ada seseorang yang datang dengan membawa anak sapi dan menyembelihnya. Lalu ada suara yang meneriakinya dengan kencang yang belum pernah aku dengar sebelumnya suara sekencang itu. Suara itu berseru: ‘Hai si gundul, adalah suatu keberuntungan, ada seorang fashih menyerukan: laa ilaaHa illallaaH.’ Orang-orang pun berlompatan, dan kukatakan: “Aku tidak akan beranjak sehingga aku mengetahui apa di balik ini.” Kemudian ia berseru lagi: ‘Hai si gundul, adalah suatu keberuntungan, ada seorang fashih menyerukan: laa ilaaHa illallaaH.’ Lalu aku terbangun, dan tak lama kemudian ada yang menyatakan, inilah Nabi.’ Demikian menurut penuturan al-Bukhari.”

Hal yang sama juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari hadits Ibnu Wahb. Kemudian ia mengatakan: “Secara lahiriah, riwayat ini mengisyaratkan bahwa ‘Umar sendiri yang mendengar suara teriakan itu dikarenakan anak sapi yang disembelih. Demikian juga secara jelas disebutkan dalam sebuah riwayat yang dla’if [lemah], dari ‘Umar. Dan seluruh riwayat menunjukkan bahwa dukun itulah yang memberitahukan hal tersebut tentang apa yang dilihat dan didengarnya dalam mimpi. wallaaHu a’lam.”

Imam al-Baihaqi menyatakan hadits Sawad bin Qarib: “Dan sepertinya orang inilah yang menjadi dukun itu yang tidak disebutkan di dalam hadits shahih.” Abul Qasim al-Hasan bin Muhammad bin Habib –seorang ahli tafsir- memberitahu kami, dari sumber pendengarannya, dari Abu Ishaq, dari al-Barra’ ketika ‘Umar bin al-Khaththab menyampaikan khutbah kepada orang-orang di atas mimbar Rasulullah saw. tiba-tiba ia mengatakan: “Wahai sekalian manusia, apakah di antara kalian ada yang bernama Sawad bin Qarib?” Namun tak seorangpun memberi jawaban pada tahun itu.

Dan ketika tahun berikutnya tiba, ‘Umar berkata: “Wahai sekalian manusia, adakah di antara kalian yang bernama Sawad bin Qarib?” lalu kutanyakan, -lanjut al-barra’-: “Wahai Amirul Mukminin, siapah Sawad bin Qarib itu?” maka ‘Umarpun menjawab: “Sesungguhnya Sawad bin Qarib itu memulai keislamannya dengan cara yang aneh.” Ketika kami dalam keadaan seperti itu tiba-tiba muncul Sawad bin Qarib. Maka ‘Umar berkata: “Hai Sawad, beritahukan kepada kami tentang awal keislamanmu, bagaimana kejadiannya?” Sawad menjawab: “Sungguh aku dulu pernah menetap di India dan aku mempunyai seorang kawan dari bangsa jin. Dan pada suatu malam ketika aku tengah tidur, tiba-tiba jin itu datang dalam tidurku, dan ia berkata kepadaku: ‘Bangunlah, pahami, dan berfikirlah jika engkau memang berakal. Sesungguhnya telah diutus seorang Rasul dari Lu-ai bin Ghalib.’ Setelah itu, ia bersenandung: ‘Aku kagum kepada para jin dan upayanya, Menaiki unta iikat dengan talinya, Pergi ke Makkah untuk mencari petunjuk. Tidaklah jin yang baik itu sama dengan jin yang jahat. Maka, bangkitlah untuk menemui orang pilihan dari Bani Hasyim dan arahkanlah pandanganmu kepada puncaknya.’”

Lebih lanjut, Sawad menuturkan: “Lalu ia membangunkanku dan mengejutkanku seraya berkata: ‘Wahai Sawad bin Qarib, sesungguhnya Allah telah mengutus seorang Nabi, bangkit dan pergilah kamu kepadanya, niscaya kamu akan mendapat petunjuk.’ Pada malam kedua, ia mendatangiku dan membangunkanku, selanjutnya ia bersenandung: ‘Aku kagum kepada para jin dan upayanya, Menaiki unta iikat dengan pelananya, Pergi ke Makkah untuk mencari petunjuk. Tidaklah jin yang berada di depan sama dengan jin yang berada di belakangnya. Maka, bangkitlah untuk menemui orang pilihan dari Bani Hasyim dan arahkanlah pandanganmu kepada pintunya.’”

Pada malam ketiga, ia kembali mendatangi dan membangunkanku, ia bersenandung: ‘Aku kagum kepada jin dan upaya mereka mencari berita. Mereka menaiki unta lengkap dengan pelananya. Pergi ke Makkah untuk mencari petunjuk. Tidaklah mereka yang jahat sama dengan mereka yang baik. Bangkit dan pergilah kepada orang pilihan dari Bani Hasyim. Tidaklah sama jin mukmin dengan jin kafir.’”

Lebih lanjut Sawad bin Qarib menceritakan: “Setelah aku mendengarnya berkali-kali, malam demi malam, maka timbullah di dalam hatiku atas kehendak Allah kecintaan kepada Islam, berkenaan dengan perkara Rasul Allah. Kemudian aku mengambil pelanaku, lalu kuikatkan pada kendaraanku dan manaikinya, dan aku tidak melakukan hal lain sehingga aku mendatangi Rasulullah saw. Ternyata beliau tengah berada di kota, yaitu Makkah, sedang orang-orang sedang mengelilingi beliau. Setelah Nabi saw. melihat diriku, maka beliau berkata: ‘Selamat datang, hai Sawad bin Qarib, kami telah mengetahui sebab kedatanganmu.’ Katanya lagi: “Maka kukatakan: ‘Ya Rasulallah, aku telah membuat sya’ir, maka dengarkanlah.’ Maka beliau pun bersabda: ‘Katakanlah, hai Sawad.’

Lalu kuucapkan: “Telah datang kepadaku seorang kawan dari jin di tengah malam pada waktu tidur. Dia bukanlah seorang pendusta, menurut pengalamanku. Tiga malam berturut-turut, setiap malam ia katakan: Ia telah datang kepadamu, kepadamu seorang Rasul dari Lu-ai bin Ghalib. Aku pun bergegas menyingsingkan kain. Berkendaraan unta yang besar pipinya di tengah padang pasir. Maka, aku bersaksi bahwasannya hanya Allah sebagai Rabb dan tiada yang lain, dan sesungguhnya engkau telah diberi kepercayaan kepada setiap yang ghaib. Dan engkaulah Rasul yang mempunyai jalan paling dekat Kepada Allah, wahai putera orang-orang mulia lagi baik. Maka, perintahkanlah kepada kami apa yang engkau bawa, wahai Rasul yang terbaik. Sekalipun di antara apa yang dibawa itu berkenaan uban orang-orang yang luhur. Jadilah engkau pemberi syafa’at bagiku, pada hari tidak ada lagi yang dapat memberi syafaat kecuali dirimu, sungguh Sawad bin Qarib sangat membutuhkan.’

Rasulullah saw. pun tertawa sehingga tampak gigi-gigi geraham beliau, lalu bersabda kepadaku: ‘Beruntunglah engkau hai Sawad.’” Kemudian ‘Umar bertanya kepadanya: “Apakah kawanmu dari jin itu masih juga datang sekarang?” Ia menjawab: “Sejak aku membaca al-Qur’an, ia tidak lagi datang. Sungguh, ganti yang baik dari jin adalah Kitab Allah.”
Kemudian Imam al-Baihaqi menyebutkan isnadnya dari dua jalur lain.

Firman Allah: wa idz sharafnaa ilaika nafaram minal jinni (“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu.”) yaitu sekelompok jin. Yastami-‘uunal qur-aana falammaa hadlaruuHu qaaluu anshituu (“Yang mendengarkan al-Qur’an, maka ketika mereka menghadiri pembacaannya, lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu.’”) yakni, dengarkanlah. Dan ini merupakan etika yang berlaku pada mereka.

Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata: “Rasulullah saw. membaca surat ar-Rahman sampai khatam, lalu beliau bersabda: “Mengapa kulihat kalian diam saja? Jin mempunyai jawaban yang lebih baik dari kalian, aku tidak membacakan ayat berikut ini sekali pun kepada mereka: fa biayyi alaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan (“Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?”) melainkan mereka akan mengatakan: ‘Dan tidak ada sesuatupun dari nikmat-Mu yang kami dustakan. Segala puji hanya bagi-Mu.’” Demikian pula diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam bab Tafsiir, dan ia mengatakan: “Hadits ini ghariib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits al-Walid dari Zuhair.”
Hal yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dari Marwan bin Muhammad ath-Thathiri dari Zuhair bin Muhammad.

Firman Allah: falammaa qudliya (“Ketika pembacaan telah selesai”) yakni telah usai. Hal ini seperti firman Allah: fa idzaa qudliyatish shalaatu (“Apabila shalat telah selesai dikerjakan”) (al-Jumuah: 10)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaaf (10)

10 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir)
Surah Makkiyyah; Surah ke 46: 35 ayat

Abu Bakar bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Ahmad az-Zubairi, dari Sufyan, dari ‘Ashim, dari Zirr, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Jin-jin itu turun mendekati Nabi saw. ketika itu beliau sedang membaca al-Qur’an di tengah-tengah Nakhlah. Ketika mendengar bacaan beliau, jin-jin itu berkata: ‘Diamlah kalian semua.’ Mereka berjumlah sembilan orang, salah satunya adalah Zauba’ah. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

tulisan arab alquran surat al ahqaaf ayat 29-32“29. dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. 30. mereka berkata: “Hai kaum Kami, Sesungguhnya Kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. 31. Hai kaum Kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. 32. dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah Maka Dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (al-Ahqaaf: 29-32)

Hadits ini dan yang pertama dari riwayat Ibnu ‘Abbas menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak menyadari kehadiran mereka pada kali ini, karena mereka hanya sekilas mendengarkan bacaan beliau dan kemudian kembali kepada kaumnya. Dan setelah itu mereka mengirimkan utusan kepada beliau kelompok demi kelompok, rombongan demi rombongan.

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, semuanya bersumber dari Ma’n bin ‘Abdirrahman, ia berkata: Aku pernah mendengar ayahku berkata: Aku pernah bertanya kepada Masruq: “Siapakah yang memberitahu Nabi saw. pada malam para jin mendengar bacaan al-Qur’an?”Ia menjawab: “Ayahmu, -yakni Ibnu Mas’ud- pernah memberitahuku, bahwa yang memberitahu kehadiran jin itu adalah sebatang pohon.” Mungkin hal ini terjadi pada kali pertama dan menjadi ketetapan yang didahulukan atas penafian Ibnu ‘Abbas. Dan mungkin juga hal itu terjadap pada kali pertama, tetapi beliau tidak menyadari kehadiran mereka pada saat mereka mendengar bacaan beliau, sehingga sebatang pohon memberitahu beliau tentang kehadiran mereka. wallaaHu a’lam.” Dan mungkin juga hal itu terjadi pada beberapa kali terakhir. wallaaHu a’lam.

Al-Hafizh al-Baihaqi berkata: “Apa yang diceritakan Ibnu ‘Abbas ini tiada lain adalah pertama kali jin mendengarkan bacaan Rasulullah saw. dan mereka mengetahui keadaan beliau. Sedang pada saat itu, beliau sendiri belum mengajarkan al-Qur’an kepada mereka dan belum juga melihat mereka. Kemudian setelah itu beliau didatangi oleh penyeru jin, lalu beliau membacakan al-Qur’an kepada mereka seraya menyeru mereka beriman kepada Allah, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Ma’ud.

Beberapa riwayat dari Ibnu Mas’ud mengenai hal ini:

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Alqamah, ia bercerita: Aku pernah tanyakan kepada ‘Abdullah bin Mas’ud: “Adakah salah seorang di antara kalian yang menemani Rasulullah saw. pada malam hadirnya jin itu?” Ibnu Mas’ud menjawab: “Tidak ada seorangpun dari kami yang menemani beliau, tetapi kami memang pernah kehilangan beliau pada suatu malam di Makkah, maka kami katakan: ‘Apakah beliau diculik? Apakah beliau dibawa lari? Apa yang tengah beliau kerjakan?’ Lebih lanjut Ibnu Mas’ud menuturkan: ‘Maka kami menjalani malam yang amat kelabu. Dan pada permulaan pagi hari –atau ia berkta-, pada waktu sahur tiba-tiba kami mendapati beliau datang dari arah Hira’. Lalu kami tanyakan: Ya Rasulallah.’ Maka mereka menyebutkan apa yang mereka alami. Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya aku didatangi penyeru jin, lalu aku datangi mereka kemudian aku bacakan [al-Qur’an] kepada mereka.’
Kemudian beliau berangkat, lanjut Ibnu Mas’ud, dan memperlihatkan kapada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.’”

Ia mengatakan, asy-Sya’bi berkata: “Mereka bertanya kepada Rasulullah saw. tentang bekal para jin itu. ‘Amir mengungkapkan bahwa mereka bertanya kepada beliau di Makkah, dan mereka itu termasuk jin Jazirah Arab. Maka beliau menjawab: ‘Yaitu setiap tulang binatang yang disembelih dengan menyebut nama Allah yang kalian peroleh dengan tangan kalian adalah lebih melimpah [bagi kalian] daripada bila ia menjadi daging, dan setiap kotoran binatang adalah sebagai makanan bagi binatang tunggangan mereka. Oleh karena itu, janganlah kalian beristinja’ dengan menggunakan keduanya, karena keduanya adalah bekal saudara kalian dari bangsa jin.’” Demikian pula diriawayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya, Shaih Muslim.

Sedangkan dari jalan lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ia berkata: Pada malam hadirnya jin, Nabi saw. bersabda kepadaku: “Apakah ada air bersamamu?” Kukatakan: “Tidak ada air bersamaku, tetapi aku membawa tempat yang di dalamnya terdapat nabidz [perasan kurma].” Maka Nabi saw. berkata: “Ia merupakan buah yang baik dan air yang suci.” Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadits Ibnu Zaid.

Semua jalan hadits tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah saw. pergi menemui jin itu dengan sengaja, lalu beliau membacakan ayat al-Qur’an kepada mereka dan mengajak mereka ke jalan Allah. Dan Allah Ta’ala telah mensyariatkan kepada mereka melalui lisan beliau apa yang mereka memang sangat membutuhkannya pada saat itu.

Ada kemungkinan pula bahwasannya mereka pertama kali mendengar Rasulullah saw. membaca Al-Qur’an, dan beliau tidak menyadari kehadiran mereka, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas. Setelah itu, para jin itu mengirim utusan untuk menemui beliau, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud.

Adapun Ibnu Mas’ud, maka ia tidak bersama Rasulullah saw. pada saat beliau berbicara dengan jin dan berdakwah kepada mereka, tetapi pada saat itu ia berada jauh dari beliau. Dan tidak seorang pun bersama beliau selain dia. Namun, dia pun tidak menyaksikan tatkala beliau berbicara dengan jin. Demikianlah metode al-Baihaqi.

Mungkin juga (peristiwa itu) pertama kali yang terjadi, beliau pergi sendirian kepada jin dan tidak bersama Ibnu Mas’ud, juga shahabat lainnya bersama beliau, sebagaimana tampak pada lahiriah konteks riwayat yang pertama, dari jalan Imam Ahmad, dan riwayat itu juga ada pada Muslim. Kemudian setelah itu beliau pergi bersama Ibnu Mas’ud pada malam yang lain. wallaaHu a’lam.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaaf (9)

10 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir)
Surah Makkiyyah; Surah ke 46: 35 ayat

tulisan arab alquran surat al ahqaaf ayat 29-32“29. dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. 30. mereka berkata: “Hai kaum Kami, Sesungguhnya Kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. 31. Hai kaum Kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. 32. dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah Maka Dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (al-Ahqaaf: 29-32)

Mengenai firman Allah: wa idz sharafnaa ilaika nafaram minal jinni yastami-‘uunal qur-aanna (“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepada kalian yang mendengerkan al-Qur’an.”) Imam Ahmad meriwayatkan dari az-Zubair, ia berkata: “Yakni di Nakhlah, ketika Rasulullah saw. mengerjakan akhir shalat ‘Isya’: kaaduu yakuunuuna ‘alaiHi libadan (“Hampir-hampir saja jin-jin itu berdesakan mengerumuninya.”) (al-Jinn: 19)

Sufyan berkata: “Sebagian jin berdesakan dengan sebagian lainnya.” Demikian yang diriwayatkan sendiri oleh Imam Ahmad.

Imam Ahmad dan al-Hafidz Abu Bakar al-Baihaqi dalam kitabnya “Dalaa-ilun Nubuwwah” meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia menuturkan bahwa Rasulullah saw. tidak membacakan kepada jin dan tidak juga melihatnya. Pernah beliau berangkat bersama beberapa orang shahabatnya menuju pasar ‘Ukazh, sedang para syaitan dihalangi dari berita langit dan dilempari dengan meteor-meteor, sehingga syaitan-syaitan itu kembali kepada kaumnya. Kemudian kaumnya itu berkata: “Apa yang terjadi dengan kalian?” Mereka menjawab: “Kami dihalang-halangi dari berita langit, dan dilempari dengan meteor-meteor.” Kaumnya berkata: “Kalian tidak dihalang-halangi dari berita langit dan bumi melainkan hanya oleh sesuatu yang terjadi. Maka menyebarlah kalian ke belahan timur dan barat bumi, dan perhatikanlah apa yang menghalang-halangi antara kalian dan berita langit itu.”

Maka, mereka pun berangkat menjelajahi belahan timur dan barat bumi untuk mencari apa yang menghalang-halangi mereka dari berita langit tersebut. Kemudian, mereka yang menuju Timahah beralih arah kepada Rasulullah yang ketika itu berada di Nakhlah dan bermaksud pergi ke pasar ‘Ukazh. Bersama para shahabatnya, beliau tengah mengerjakan shalat Shubuh. Tatkala mereka mendengar al-Qur’an, mereka pun berhenti untuk mendengarkannya. Mereka berkata: “Demi Allah, inilah yang menghalangi kalian dari berita langit.” Dan pada saat itu mereka kembali kepada kaumnya, maka mereka berkata: innaa sami’naa qur-aanan ‘ajaaban yaHdii ilar rusydi fa aamannaabiH. Walan nusyrika birabbinaa ahadan (“Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk ke jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dankami sekali-sekali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Rabb kami.” (al-Jinn: 1-2)

Dan kepada Nabi-Nya, Muhammad saw., Allah menurunkan firman-Nya: qul uuhiya ilayya annaHus tama-‘a nafarum minal jinni (“Katakanlah: ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwasannya ada sekumpulan jin telah mendengarkan al-Qur’an..”)(al Jinn: 1)
Dan yang diwahyukan kepada beliau adalah ucapan jin. Senada dengan hadits ini, diriwayatkan oleh Bukhari dari Musaddad. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Syaiban bin Farukh, dari Abu ‘Awanah. Juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa-i dalam kitab Tafsir dari hadits Abu ‘Awanah.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Apabila jin-jin itu mendengarkan wahyu, mereka menambah satu kalimat dengan sepuluh kalinya, maka apa yang mereka dengar itu memang benar, sedangkan yang mereka tambahkan itu suatu kebathilan. Sebelum itu, bintang-bintang itu tidak dilemparkan kepada mereka. Setelah Rasulullah saw. diutus, maka salah seorang dari jin-jin itu tidak mendatangi tempat duduknya melainkan dilempari dengan meteor-meteor yang dapat membakar bagian yang dikenainya. Kemudian mereka melaporkan kejadian itu kepada iblis. Iblis berkata: ‘Hal ini tidak lain hanya karena sesuatu yang terjadi.’ Kemudian iblis itu mengirimkan pasukannya hingga akhirnya sampai kepada Nabi yang tengah mengerjakan shalat di antara dua gunung Nakhlah. Kemudian mereka mendatangi beliau, lalu memberitahukan hal itu kepada iblis. Iblispun berkata: ‘Inilah kejadian yang terjadi di bumi.’”

Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa-i dalam kitab Tafsir dan Sunan mereka dari hadits Israil. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits ini hasan shahih.” Demikian pula yang disampaikan oleh al-Hasan al-Bashri, bahwa Rasulullah saw. tidak menyadari tentang perkara mereka, kecuali setelah Allah menurunkan kepada beliau wahyu yang beliau beritakan kepada kalian.

Muhammad bin Ishaq menyebutkan dari Yazid bin Rauman dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi tentang kisah keberangkatan Nabi ke Tha-if dan dakwah beliau kepada mereka agar kembali kepada Allah. Tetapi mereka menolak dakwah beliau. Di antara kisah panjang yang disebutkan adalah doa beliau yang baik itu, yaitu:
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya siasatku dan kehinaanku di hadapan manusia, wahai Rabb Yang Mahapenyayang dari para penyayang, Engkau adalah Rabb kaum mustadla’afin [lemah], dan Engkau adalah Rabb-ku, kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang bermuka masam kepadamu, ataukah kepada teman dekat yang Engkau kuasakan kepadanya urusanku. Jika Engkau tidak marah kepadaku, maka aku tidak akan peduli. Namun aku percaya bahwa ampunan-Mu itu sangat luas untukku. Aku berlindung kepada cahaya wajah-Mu yang karenanya kegelapan menjadi bersinar terang dan karenanya pula seluruh urusan dunia dan akhirat menjadi baik, dari turunnya marah dan murka-Mu kepadaku. Keridlaan hanya milik-Mu sehingga Engkau meridlai, dan tiada daya dan upaya melainkan hanya dengan pertolongan-Mu.”

Lebih lanjut, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi menyebutkan: “Setelah beliau kembali pulang dari mereka, maka beliau bermalam di gunung Nakhlah, dan pada malam hari itu beliau membaca ayat al-Qur’an, lalu para jin dan Nashibain mendengarnya.”

Hal itu memang benar, tetapi ungkapannya bahwa jin itu mendengarkan bacaan beliau pada malam hari itu, masih perlu diteliti. Karena jin-jin itu mulai mendengar bacaan al-Qur’an pada awal diturunkannya wahyu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Ibnu ‘Abbas yang telah disebutkan sebelumnya. Sedangkan kepergian Rasulullah saw. ke Tha-if itu dilakukan setelah kematian pamannya, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Ishaq dan selainnya. wallaaHu a’lam.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaaf (8)

10 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir)
Surah Makkiyyah; Surah ke 46: 35 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah ia berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. tertawa kencang sampai aku melihat anak lidah [tekak] beliau. Akan tetapi hanya tersenyum saja.” lebih lanjut, ‘Aisyah berkata: “Jika beliau melihat awan atau angin, maka terlihat kesedihan pada wajahnya.” ‘Aisyah bertanya: “Yaa Rasulallah, sesungguhnya jika orang-orang melihat awan, maka mereka merasa gembira dengan harapan awan tersebut akan membawa hujan. Tetapi aku melihat dirimu jika melihat awan itu, maka terlihat kesedihan pada wajahmu?” beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah tidak ada yang menjaminku bahwa di dalam awan itu tidak ada adzab. Sesungguhnya suatu kaum telah diadzab dengan angin, dan pernah ada suatu kaum ketika melihat adzab itu mengatakan: ‘Ini awan yang menurunkan hujan kepada kami.’” Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari hadits Ibnu Wahb.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari ‘Aisyah ia berkata: “Jika Rasulullah saw. menyaksikan awan di salah satu ufuk langit, maka beliau akan meninggalkan aktifitasnya meskipun beliau berada dalam shalatnya, selanjutnya beliau berdoa: AllaaHumma innii a-‘uudzubika min syarri maa fiiHi (“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang terdapat di dalamnya.”)’”
Dan jika Allah menghilangkannya, maka beliau memuji Allah, dan jika hujan turun, beliau berdoa: AllaaHumma shayyiban naafi-‘an (“Ya Allah, jadikanlah ia hujan yang bermanfaat.”)

tulisan arab alquran surat al ahqaaf ayat 26-28“26. dan Sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. 27. dan Sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat). 28. Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.” (al-Ahqaaf: 26-28)

“Dan Sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu.” Maksudnya adalah Allah berfirman: Dan sungguh Kami telah meneguhkan kedudukan umat-umat terdahulu di dunia ini berupa harta kekayaan dan anak keturunan, dan Kami berikan kepada mereka apa-apa yang belum pernah Kami berikan kepada kalian hal serupa dengannya dan tidak juga mendekatinya.
“dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya”
Maksudnya mereka telah diliputi oleh adzab dan siksaan yang dulu mereka selalu mendustakannya dan menganggap tidak akan pernah terjadi. Dengan kata lain, berhati-hatilah kalian semua, hai orang-orang yang mendengar ini, agar kalian tidak sama seperti mereka, yang menyebabkan kalian ditimpa adzab yang menimpa mereka di dunia dan di akhirat.

Firman Allah: wa laqad aHlaknaa ma haulakum minal quraa (“Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu.”) yaitu penduduk negeri Makkah, dimana Allah telah membinasakan umat-umat yang mendustakan para Rasul yang bertempat tinggal di sekitarnya, misalnya kaum ‘Aad yang tinggal di al-Ahqaaf [bukit pasir] di Hadhramaut, Yaman. Juga kaum Tsamud yang tempat tinggal mereka terletak di antara mereka dan Syam. Demikian juga dengan kaum Saba’, penduduk Yaman, dan Madyan yang berada di jalan menuju Gazza. Demikian juga danau kaum Luth, mereka pernah pula melewatinya.

Firman Allah: wa sharrafnal aayaati (“Dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang.”) artinya, Kami telah menerangkan dan menjelaskannya secara gamblang.
La-‘allaHum yarji-‘uun. Falau laa nashara Humuladziinat takhadzuu min duunillaaHi qurbaanan aaliHaH (“Supaya mereka kembali [bertaubat]. Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai ilah untuk mendekatkan diri [kepada Allah] tidak dapat menolong mereka?”) maksudnya apakah tuhan-tuhan mereka itu dapat menolong mereka ketika mereka membutuhkan? Bal dlalluu ‘anHum (“Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka.”) artinya, pergi dari mereka karena lebih membutuhkan daripada mereka sendiri.
Wa dzaalika ifkuHum wa maa kaanuu yaftaruun (“Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.”) maksudnya, pengada-adaan mereka dalam tindakan mereka menjadikan tuhan-tuhan selain Allah. Dan mereka tidak memperoleh keuntungan, bahkan telah merugi dalam penyembahan mereka terhadap tuhan-tuhan itu. wallaaHu a’lam.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaaf (7)

10 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir)
Surah Makkiyyah; Surah ke 46: 35 ayat

Dan Amirul Mukminin, ‘Umar bin al-Khaththab telah menahan dan menjaga diri dari berbagai makanan dan minuman yang menyenangkan, beliau berkata: “Sesungguhnya aku sangat takut [menjadi orang] serperti orang-orang yang difirmankan Allah: adzHabtum thayyibaatikum fii hayaatikumud dun-yaa was tamta’tum biHaa (“kamu telah menghabiskan rizkymu yang baik dalam kehidupan duniawimu saja dan kamu telah bersenang-senang dengannya.”)

Firman Allah: fal yauma tujzauna ‘adzaabal Huuni bimaa kuntum tastakbiruuna fil ardli bighairil haqqi wa bimaa kuntum tafsuquun (“Maka pada hari ini kamu dibalas dengan adzab yang menghinakan, karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dank arena kamu telah fasik.”) yakni mereka akan diberi balasan sesuai dengan perbuatan mereka. Sebagaimana mereka telah bersenang-senang, menyombongkan diri tidak mau menerima kebenaran, serta selalu berbuat kefasikan dan kemaksiatan, maka Allah memberikan balasan kepada mereka dengan adzab al-Huun, yaitu siksaan yang merendahkan dan menghinakan, penderitaan yang menyakitkan, derita yang tiada putus-putusnya serta tempat tinggal dalam neraka yang paling bawah dan mengerikan. Semoga Allah menyelamatkan kita dari semua itu.

tulisan arab alquran surat al ahqaaf ayat 21-25“21. dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad Yaitu ketika Dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan Sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. 22. mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada Kami untuk memalingkan Kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada Kami azab yang telah kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar”. 23. ia berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku Lihat kamu adalah kaum yang bodoh”. 24. Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, 25. yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa.” (al-Ahqaaf: 21-25)

Allah dalam firman-Nya ini menghibur Nabi-Nya, Muhammad saw. atas kedustaan yang dilakukan kaumnya. Wadzkur akhaa ‘aadin (“Dan ingatlah saudara kamu ‘Aad.”) yakni Huud as. Yang telah diutus oleh Allah kepada kaum ‘Aad pertama yang tinggal di al-Ahqaaf, yaitu bukit pasir. Demikian dikemukakan Ibnu Zaid. Sedangkan ‘Ikrimah mengungkapkan: “Al-Ahqaaf berarti gunung-gunung yang bergua.”

Dalam bab “Idzaa Da’aa faybda’ binafsiHi” Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Semoga Allah memberikan rahmat kita semua dan saudara kaum ‘Aad [Huud].” Hadits ini dla’if menurut Syaikh al-Albani dalam kitab Dla’iful Jami’ no. 6427.

Firman Allah: wa qad khalatin nudzuru mim baini yadaiHi wa minn khalfiHi (“Dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelum dan sesudahnya.”) yakni Allah telah mengutus para Rasul dan pemberi peringatan ke negeri-negeri lain di sekitar negeri mereka. Maksudnya Huud mengucapkan hal itu kepada mereka. Akan tetapi kaumnya memberikan jawaban dengan ucapan: aji’tanaa lita’fikanaa ‘an aaliHatinaa (“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari [menyembah] ilah-ilah kami?”) maksudnya apakah kamu datang untuk menghalangi kami menyembah tuhan-tuhan kami? Fa’tinaa bimaa ta-‘idunaa ing kunta minash shaadiqiin (“Maka datangkanlah kepada kami adzab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”) maksudnya mereka meminta supaya didatangkan adzab dan hukuman Allah dengan segera, karena menganggap hal itu mustahil terjadi.

Firman Allah: qaala innamal ‘ilmu ‘indallaaH (“Ia berkata: ‘Sesungguhnya pengetahuan [tentang itu] hanya pada sisi Allah.’”) yakni, Allah yang lebih mengetahui tentang kalian, jika kalian memang berhak untuk segera diadzab, maka Dia akan melakukan hal itu pada kalian. Sedangkan aku hanya sekedar menyampaikan apa yang karenanya aku diutus.” Wa laakinna araakum qauman tajHaluun (“Tetapi aku melihat kalian adalah kaum yang bodoh.”) maksudnya kaum yang tidak berakal dan tidak pula memahami.

Firman Allah: falammaa ra-auHu ‘aaridlam mustaqbila audiyatiHim (“Maka, ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka.”) artinya, ketika mereka melihat adzab itu menuju ke tempat mereka, mereka berkeyakinan bahwa itu adalah awan yang datang membawa hujan kepada mereka, sehingga mereka merasa senang dan bergembira karenanya, dimana mereka ketika itu ditimpa kekeringan dan mereka sangat mengharapkan turunnya hujan.

Firman Allah: bal Huwa masta’jaltum biHii riihung fiiHaa ‘adzaabun aliim (“Bahkan ia merupakan adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera, yaitu angin yang mengandung adzab yang pedih.”) maksudnya itulah adzab yang dulu kalian pernah minta: “Maka datangkanlah kepada kami adzab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”) tudammaru (“Yang menghancurkan.”) atau merusak, kulli syai-in (“segala sesuatu”) yakni semua yang memang dapat hancur dari negeri mereka. Bi amri rabbiHaa (“dengan perintah Rabb-nya”) yakni dengan izin Allah kepadanya. Hal ini seperti firman Allah: maa tadzaru ming syai-in atat ‘alaiHi illaa ja’alatHu karramiim (“Angin itu tidak membiarkan sedikitpun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.”) (adz-Dzaariyaat: 42). Yakni seperti sesuatu yang hancur lebur. Oleh karena itu Allah berfirman: fa ashbahuu laa yuraa illaa masaakinuHum (“Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali [bekas-bekas] tempat tinggal mereka.”) maksudnya, semuanya telah hancur dan tidak ada sedikitpun yang tersisa.

Kadzaalika najzil qaumal mujrimiin (“Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”) artinya demikianlah ketetapan Kami [Allah] bagi orang-orang yang mendustakan Rasul-rasul Kami serta melanggar perintah Kami.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaaf (6)

10 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir)
Surah Makkiyyah; Surah ke 46: 35 ayat

tulisan arab alquran surat al ahqaaf ayat 17-20“17. dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, Apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. lalu Dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”. 18. mereka Itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. 19. dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan. 20. dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik.” (al-Ahqaaf: 17-20)

Setelah menyebutkan keadaan orang-orang yang selalu mendoakan kedua orang tuanya dan berbuat baik kepada mereka, serta pahala yang mereka peroleh dari sisi-Nya berupa kebahagiaan dan keselamatan, maka Allah melanjutkan dengan pemberitahuan tentang keadaan orang-orang yang sengsara yang durhaka kepada kedua orang tua. Dia berfirman: walladzii qaala liwaalidaiHi uffil lakumaa (“dan orang-orang yang berkata kepada kedua orang tuanya [ibu dan bapaknya], ‘cis bagi kamu berdua.’”) Ini bersifat umum bagi siapa saja yang berkata seperti itu. Ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini turun bagi siapa saja yang berkata seperti itu. Ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan ‘Abdurrahman bin Abi Bakar. Namun pendapat ini sangat lemah karena ‘Abdurrahman bin Abi Bakar masuk Islam setelah itu dengan sangat baik, bahkan ia termasuk orang pilihan pada zamannya.

Dengan demikian ayat tersebut berlaku umum bagi setiap orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan mendustakan kebenaran, yaitu dengan berkata kepada kedua orang tuanya: “Cis, bagi kalian berdua.” Yakni, bersikap durhaka terhadap keduanya.

Imam an-Nasa-I meriwayatkan, ‘Ali bin al-Hasan memberitahu kami dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata: “Setelah Mu’awiyah berbaiat untuk anaknya, Marwan berkata: ‘Ini tradisi Abu Bakar dan Umar.’ Tetapi ‘Abdurrahman bin Abi Bakar berkata: ‘Tradisi Heraclius dan Kaisar.’ Maka Marwan berkata: ‘Orang inilah yang Allah Ta’ala menurunkan ayat, walladzii qaala liwaalidaiHi uffil lakumaa (“dan orang-orang yang berkata kepada kedua orang tuanya [ibu dan bapaknya], ‘cis bagi kamu berdua.’”). kemudian hal itu terdengar oleh ‘Aisyah, maka ‘Aisyah berkata: ‘Marwan telah berdusta. Demi Allah, ‘Abdurrahman bukanlah orang yang dimaksud. Seandainya aku mau menyebutnya sebagai orang yang menjadi sebab turunnya ayat itu, niscaya aku akan menyebutnya demikian, tetapi Rasulullah saw. telah melaknat ayah Marwan dan Marwan ketika masih dalam tulang punggungnya. Maka Marwan mengelabuhi diri dari laknat Allah.”

Firman Allah: a ta-‘idaaninii an ukhraja (“Apakah kalian berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?”) yakni sedang orang-orang sudah banyak yang mati, tetapi tidak satupun dari mereka yang kembali.

Wa Humaa yastaghitsaani (“Lalu, kedua orang tua itu memohon pertolongan.”) yakni meminta kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada anaknya. Kedua orang tua itu berkata kepadanya: wailaka aamin inna wa’dallaaHi haqqun (“Celaka kamu, berimanlah. Sesungguhnya janji Allah adalah benar.”) lalu ia berkata: maa Haadzaa illaa asaathiirul awwaliin (“Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka.”)

Firman Allah: ulaa-ikal ladziina haqqan ‘alaiHimul qaulu fii umaming qadkhalat ming qabliHim minal jinni wal insi innaHum kaanuu khaasiriin (“Mereka itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan [adzab] atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.”) maksudnya, mereka termasuk dalam golongan yang serupa dengan mereka dari kalangan orang-orang kafir yang benar-benar merugikan diri mereka sendiri dan juga keluarga mereka pada hari kiamat.

Firman Allah: ulaa-ika (“Mereka itu”) disampaikan setelah; wal ladziina qaala liwaalidaiHi (“Dan orang-orang yang berkata kepada kedua orang tuanya”) menunjukkan bahwa hal itu bersifat umum, meliputi setiap orang yang berbuat demikian. Al-Hasan dan Qatadah berkata: “Yaitu orang kafir yang berbuat jahat lagi durhaka kepada kedua orang tuanya dan mendustakan hari kebangkitan.”

Firman Allah: wa likulli darajaatum mimmaa ‘amiluu (“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan.”) maksudnya masing-masing memperoleh siksa sesuai dengan amal perbuatannya. Wa yuwaffiyaHum a’maalaHum wa Hum laa yudhlamuun (“Dan agar Allah mencukupkan bagi mereka [balasan] pekerjaan-pekerjaan mereka, sedang mereka tidak dirugikan.”) artinya, Allah tidak akan mendhalimi mereka meski hanya sekecil dzarrah sekali pun atau bahkan lebih kecil lagi.

‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Tingkatan-tingkatan Neraka itu turun ke bawah, sedangkan tingkatan-tingkatan surge itu naik ke atas.”

Firman Allah: wa yauma yu’radlul ladziina kafaruu ‘alannaari adzHabtum thayyibaatikum fii hayaatikumud dun-yaa was tamta’tum biHaa (“Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka [kepada mereka dikatakan]: kamu telah menghabiskan rizkymu yang baik dalam kehidupan duniawimu saja dan kamu telah bersenang-senang dengannya.”) yakni hal itu dikatakan kepada mereka sebagai celaan dan teguran bagi mereka.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaaf (5)

10 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir)
Surah Makkiyyah; Surah ke 46: 35 ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Jika seorang wanita melahirkan anak 9 bulan, maka cukup baginya menyusui anaknya 21 bulan, jika ia melahirkan untuk kehamilan 7 bulan, maka cukup baginya menyusui 23 bulan. Dan jika ia melahirkan untuk kehamilan 6 bulan, maka cukup baginya menyusui 2 tahun penuh (24 bulan).” Karena Allah berfirman: wa hamluHuu wa fishaaluHuu tsalaatsuuna syaHran hattaa idzaa balagha asyuddaH (“Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Sehingga apabila ia telah dewasa”) yakni semakin kuat dan tumbuh besar. Wa balagha arba’iina sanaH (“Dan umurnya sampai empat puluh tahun.”) artinya akal fikirannya sudah matang, pemahaman dan kesabarannya pun sudah sempurna.

Abu Bakar bin ‘Iyasy menuturkan dari al-A’masy, dari al-Qasim bin ‘Abdirrahman, ia berkata: “Aku pernah mengatakan kepada Masruq: ‘Kapan seseorang itu dijatuhi hukuman atas dosa-dosa-dosa yang diperbuatnya?’ ia menjawab: ‘Jika engkau telah berumur 40 tahun. Maka berhati-hatilah.’”

Abu Ya’la al-Mushili meriwayatkan dari ‘Utsman, bahwa Nabi bersabda: “Jika seorang hamba muslim sudah mencapai (umur) 40 tahun, maka Allah Ta’ala memperingan hisabnya. Jika sampai umur 60 tahun, maka Allah Ta’ala mengaruniakan kepadanya kesempatan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Jika mencapai 70 tahun, maka ia akan dicintai penduduk langit. Jika mencapai umur 80 tahun, maka Allah Ta’ala menetapkan baginya berbagai kebaikannya dan menghapuskan berbagai kesalahannya. Dan jika sampai umur 90 tahun, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu dan yang akan datang, dan Allah akan menerima syafaatnya bagi keluarganya, serta di langit ia dicatat sebagai tawanan Allah di bumi-Nya.” Hadits tersebut telah diriwayatkan melalui jalan lain, terdapat di dalam kitab Musnad al-Imam Ahmad.
Dan sungguh indah ucapan seorang penyair: “Dia bercinta selama masih muda, sampai rambutnya dipenuhi uban. Tetapi tatkala rambutnya telah dipenuhi uban, ia pun berkata kepada yang bathil: ‘Menjauhlah.’”

Firman-Nya: qaala rabbi awji’nii (“Yaa Rabb-ku, tunjukilah aku.”) yakni, ilhamkanlah kepadaku. An asykura ni’matikal latii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardlaaHu (“Untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridlai.”) yakni pada masa yang akan datang. Wa ash-lihlii fii dzurriyyatii (“Dan berikanlah kebaikan kepadaku dengan [memberi kebaikan] kepada anak cucuku.” Yakni anak keturunanku. Inni tubtu ilaika wa innii minal muslimiin (“Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”) di dalamnya terdapat petunjuk bagi orang yang berumur 40 tahun, agar ia memperbaharui taubat dan kembali kepada Allah serta bertekad melaksanakan hal itu.

Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab meriwayatkan dalam kitab Sunan, dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw. pernah mengajarkan kepada para Shahabat agar ketika tasyahud mengucapkan:
allaaHumma allaf baina quluubinaa wa ashlih dzaata bainanaa, waHdinaa subulassalaami, wa najjanaa minadhdhulumaati ilan nuuri wa jannibnal fawaahisya maa dhaHara minHaa wa maa bathana, wa baariklanaa fii asmaa-‘inaa wa abshaarinaa wa quluubinaa wa azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa, wa tub ‘alainaa innaka antat tawwaabur rahiimu, waj-‘alnaa syaakiriina lini’matika musyniina biHaa ‘alaika qaabiliiHaa wa atmimHaa ‘alainaa.
“Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami, dan perbaikilah keadaan di antara kami, dan tunjukkanlah kepada kami jalan keselamatan, selamatkanlah pula kami dari kegelapan menuju cahaya, jauhkanlah kami dari berbagai kejahatan, baik yang tampak maupun tidak tampak. Berkahilah kami dengan pendengaran, pandangan, hati, istri (suami), dan akan keturunan kami. Dan berikanlah ampunan bagi kami, sesungguhnya Engkau Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Dan jadikanlah kami senantiasa mensyukuri nikmat-Mu, senantiasa memuji-Mu karenanya, serta menerimanya, dan sempurnakanlah ia bagi kami.”

Firman Allah: ulaa-ilal ladziina nataqabbalu ‘anHum ahsana maa ‘amiluu wanatajaawazu ‘an sayyi-atiHim fii ash-haabil jannaH (“Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama para penghuni surga.”) maksudnya, mereka yang mempunyai ciri-ciri seperti yang dikemukakan, yaitu bertaubat kepada Allah, kembali ke jalan-Nya, dan memperbaiki kesalahan dengan taubat dan istighfar (memohon ampunan). Mereka itulah orang-orang yang diterima amal perbuatan baik mereka, dan diberikan ampunan atas segala kesalahan dan kejahatan mereka. Kepada merekalah diberikan ampunan atas banyak kesalahan dan diterima amal kebaikan dari mereka meski sedikit. Fii ash-haabil jannaH (“Mereka itu bersama para penghuni surga.”) maksudnya mereka itu termasuk dari para penghuni surga. Demikianlah hukum yang berlaku bagi mereka di sisi Allah, sebagaimana yang telah dijanjikan oleh-Nya bagi mereka yang bertaubat dan kembali ke jalan-Nya. Oleh karena itu Dia berfirman: wa’dash-shidqil ladzii kaanuu yuu-‘aduun (“Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.”)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaaf (4)

10 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir)
Surah Makkiyyah; Surah ke 46: 35 ayat

Firman Allah: wa qaalalladziina kafaruu lilladziina aamanuu lau kaana khairam maa sabaquunaa ilaiHi (“Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Kalau sekiranya ia [al-Qur’an] adalah sesuatu yang baik, tentulah mereka tidak mendahului kami [beriman] kepadanya.’”) yakni mereka bicara tentang orang-orang yang beriman kepada al-Qur’an: “Seandainya al-Qur’an itu baik, niscaya orang-orang itu tidak akan mendahului kami beriman kepadanya.” Yang mereka maksud adalah Bilal, ‘Ammar, Shuhaib, dan Khabbab, serta orang-orang yang serupa dengan mereka dari kalangan kaum lemah, para budak dan hamba sahaya, karena mereka berkeyakinan bahwa mereka mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah dan perhatian dari-Nya. Padahal mereka telah melakukan kesalahan yang nyata. Sedangkan ahlus sunnah wal jama’ah berpendapat bahwa setiap perbuatan dan ucapan yang tidak ada dasarnya dari Shahabat Rasulullah saw. adalah bid’ah. Karena bila hal itu baik, niscaya mereka akan lebih dahulu melakukannya daripada kita, sebab mereka tidak pernah mengabaikan suatu kebaikan pun kecuali mereka telah lebih dahulu melaksanakannya.

Firman Allah: wa idz lam yaHtaduu biHi (“Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya.”) yakni dengan al-Qur’an; fasayaquuluuna Haadzaa ifkung qadiim (“Maka mereka akan berkata: Ini adalah dusta yang lama.”) yaitu kebohongan yang sudah lama atau diwariskan oleh orang-orang terdahulu. Artinya, mereka merendahkan al-Qur’an dan orang-orang yang berpegang padanya. Demikianlah kesombongan yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw. : “Tidak menerima kebenaran dan merendahkan orang lain.”

Firman Allah: wa ming qabliHii kitaabu muusaa (“Dan sebelum al-Qur’an itu telah ada kitab Musa.”) yaitu Taurat; imaamaw wa rahmataw wa Haadzaa kitaabun (“Sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini adalah kitab.”) yakni al-Qur’an. Mushaddiqun (“Yang membenarkannya.”) ialah kitab-kitab sebelumnya. Lisaanan ‘arabiyyan (“Dalam bahasa Arab”) yakni sangat fasih lagi jelas dan gamblang.
Liyundiral ladziina dhalamuu wa busyraa lilmuhsiniin (“Untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang dhalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”) yakni membawa peringatan bagi orang-orang kafir dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Innalladiina qaaluu rabbunallaaHu tsummastaqaamuu (“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah.”) telah diterangkan dalam surat as-Sajdah.
Falaa khaufun ‘alaiHim (“Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka.”) yakni dalam peristiwa yang akan mereka hadapi. Walaa Hum yahzanuun (“dan mereka tidak pula berduka cita.”) atas apa yang mereka tinggalkan. Ulaa-ika ash-haabul jannati khaalidiina fiiHaa jazaa-am bimaa kaanuu ya’lamuun (“Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”) yakni amal perbuatan merupakan sebab tercapainya rahmat dan kesempurnaannya bagi mereka. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat al ahqaaf ayat 15-16“15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri.” 16. mereka Itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (al-Ahqaaf: 15-16)

Setelah ayat pertama Allah swt. menyinggung masalah tauhid dan pemurnian ibadah serta istiqamah kepada-Nya, Dia menyambungnya dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaiamana hal itu telah disebutkan secara bersamaan dalam beberapa ayat lainnya di dalam al-Qur’an, misalnya firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (al-Israa’: 23)

Dalam surah al-Ahqaaf ini Allah berfirman: wa washshainal insaana biwaalidaiHi ihsaanan (“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua [ibu dan bapak].” Yakni, Kami perintahkan ia supaya berbuat baik serta berlemah lembut kepada keduanya. hamalatHu ummuHuu kurHan (“Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah.”) yakni menderita karenanya ketika mengandungnya, mengalami kesulitan dan kepayahan; seperti mengidam, pingsan, rasa berat dan cobaan lainnya yang dialami oleh para wanita hamil. Wa wadla-‘atHu kurHan (“Dan melahirkannya dengan susah payah juga.”) yakni dengan penuh kesulitan, juga rasa sakit yang teramat sangat. Wa hamluHuu wa fishaaluHuu tsalaatsuuna syaHran (“mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.”)

‘Ali bin Abi Thalib telah menjadikan ayat ini bersamaan dengan ayat yang terdapat dalam surah Luqman yaitu: wa fishaaluHuu ‘aamaini (“Dan menyapihnya dalam dua tahun”) (Luqman: 14), juga firman-Nya: wal waalidaatu yurdli’na aulaadaHunna haulaini kaamilaini liman araada ay yutimmar radlaa’atun (“Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (al-Baqarah: 233). Dengan ayat-ayat tersebut ‘Ali berpendapat bahwa masa minimal adalah enam bulan.

Hal ini merupakan kesimpulan kuat lagi shahih yang disetujui oleh ‘Utsman dan sekelompok shahabat. Muhammad bin Ishaq bin Yasar meriwayatkan dari Ma’mar bin ‘Abdillah al-Juhani, ia berkata: “Ada seorang laki-laki dari kami yang menikahi seorang wanita dari suku Juhainah, lalu anak itu melahirkan anak untuknya dalam waktu enam bulan penuh. Kemudiian suaminya itu berangkat menemui ‘Utsman bin ‘Affan, dan menceritakan peristiwa itu kepadanya, lalu ‘Utsman mengutus seseorang kepadanya. Setelah wanita itu berdiri dan memakai bajunya, saudara perempuannya menangis, maka ia bertanya: “Apa yang menyebabkan kamu menangis? Demi Allah tidak ada seorangpun dari makhluk Allah Ta’ala yang menggauliku kecuali dia (suaminya), sehingga Allah menakdirkan (bagi kami anak) yang dikehendaki-Nya.
Setelah ia dibawa menghadap ‘Utsman bin ‘Affan, maka ‘Utsman menyuruh agar wanita itu dirajam. Hingga akhirnya berita itu terdengar oleh ‘Ali bin Abi Thalib, lalu ‘Ali mendatangi ‘Utsman dan berkata: “Apa yang telah engkau lakukan?” ‘Utsman menjawab: “Ia telah melahirkan tepat enam bulan. Apa mungkin hal itu terjadi?” Maka ‘Ali bertanya: “Tidakkah engkau pernah mendengar Allah berfirman: wa hamluHuu wa fishaaluHuu tsalaatsuuna syaHran (“Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.”) dan Dia juga berfirman: wal waalidaatu yurdli’na aulaadaHunna haulaini (“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh.”) dari 30 bulan itu tersisa 6 bulan jika diambil 2 tahun (24 bulan),” lanjut ‘Ali.
Kemudian ‘Utsman bin ‘Affan berkata: “Demi Allah, aku tidak memahami ini. Bawa kemari wanita itu.” Tetapi orang-orang menemukan wanita itu telah selesai dirajam. Lalu Ma’mar berkata: “Demi Allah, tidaklah burung gagak dengan burung gagak atau telur dengan telur itu serupa melebihi keserupaannya dengan ayahnya.”
Setelah ayah anak itu melihatnya, maka ia berkata: “Anakku, demi Allah aku tidak meragukannya lagi.”