Arsip | 12.57

Nasehat

13 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – hadits

Firman Allah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (an-Nahl: 125)

Dari Abu Wail Syaqiq bin Salamah, ia berkata: Setiap hari Kamis, Ibnu Mas’ud ra. biasa memberi nasehat kepada kami. Waktu itu ada yang usul: “Wahai Abu Abdurrahman, saya lebih senang apabila kamu mau menasehati kami setiap hari.” Ibnu Mas’ud menjawab: “Sebenarnya saya bisa memberi nasehat setiap hari. Hanya saja, saya khawatir kalau kalian menjadi bosan. Saya sengaja membatasinya sebagaimana Rasulullah saw. melakukannya kepada kami. Beliau juga khawatir kalau kami merasa bosan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Yaqdhan Ammar bin Yasir ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya lamanya shalat seseorang dan singkatnya khutbah, membuktikan pandainya seseorang dalam masalah agama. Oleh karena itu, perpanjanglah shalat dan persingkatlah khutbah.” (HR Muslim)

Dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Salamiy ra. ia berkata: Ketika kami shalat bersama Rasulullah saw. tiba-tiba ada orang yang bersin, dan saya mengucapkan: “YarhamukallaaH (semoga Allah memberi rahmat kepadamu)” Spontan orang-orang membelalakkan matanya kepada saya, maka saya berkata: “Kenapa kalian memandangku seperti itu?” kemudian mereka menepukkan tangannya pada paha mereka. Ketika saya lihat, mereka bermaksud agar saya diam. Sayapun terpaksa diam. Ketika Rasulullah saw. selesai shalat –demi ayah dan bundaku- tidak pernah saya melihat seorang pendidik lebih baik daripada beliau, baik sebelum maupun sesudahnya. Demi Allah, beliau tidak membentak, memukul, maupun memaki saya, bahkan beliau bersabda: “Sesungguhnya di dalam shalat tidak boleh becakap-cakap dengan sesama manusia walaupun hanya sepatah kata. Sebab shalat itu membaca tasbih, takbir dan ayat-ayat al-Qur’an.” Hal itu sama dengan sabda Rasulullah saw. sewaktu saya berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya baru saja saya melewati masa jahiliyah, dan sekarang Allah telah mendatangkan Islam. Sebenarnya masih ada di antara kami orang-orang yang masih suka mendatangi dukun. Bagaimana pendapatmu?” Beliau menjawab: “Kamu jangan mendatangi mereka.” Saya bertanya lagi: “Bagaimana pendapatmu jika di antara kami masih ada orang-orang yang suka meramal?” Beliau menjawab: “Itu hanya perasaan mereka. Oleh karena itu, jangan sampai kepercayaan mereka itu menghalangi perbuatan baik.” (HR Muslim)

Dari al-Irbadh bin Sariyah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. pernah memberi nasehat yang dapat menggetarkan hati, dan dapat mencucurkan air mata.”

Menjauhi Fitnah Agama

13 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an –Hadits

Allah berfirman: “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku utusan Allah untuk memberi peringatan yang nyata.” (adz-Dzaariyaat)

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang takwa, kaya, lagi pula suka merahasiakannya.” (HR Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulallah, siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab: “Orang Mukmin yang berjuang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.” Ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Seseorang yang menyendiri pada sebuah desa dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhannya.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Dengan tujuan untuk bertakwa kepada Allah dan manjauhi manusia karena kejahatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Hampir terjadi bahwa sebaik-baik harta seseorang muslim adalah kambing yang digembalakan di puncak gunung dan tempat-tempat menetesnya air, karena menjauhi fitnah-fitnah yang mengganggu agamanya.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila Allah mengutus seorang Nabi, pasti ia menggembala kambing.” Para shahabat bertanya: “Dan engkau?” Beliau menjawab: “Ya, dulu saya jugal menggembala kambing dengan upah dari penduduk Makkah.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Pertama, sebaik-baik kehidupan manusia adalah seseorang yang memegang kendali kudanya untuk berjuang di jalan Allah. Ia melompat ke punggung kuda setiap kali ia mendengar panggilan perang atau semacamnya, dengan lompatan itu, ia mencari musuh atau mati di tempat yang disangka ada musuh. Kedua, seseorang yang menggembala anak kambing di puncak salah satu gunung atau lembah salah satu jurang dengan mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan senantiasa beribadah, sehingga sampai ajalnya. Ia tidak berhubungan dengan manusia sedikitpun kecuali dalam kebaikan.” (HR Muslim)

Menjauhi Fitnah Agama

13 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an –Hadits

Allah berfirman: “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku utusan Allah untuk memberi peringatan yang nyata.” (adz-Dzaariyaat)

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang takwa, kaya, lagi pula suka merahasiakannya.” (HR Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulallah, siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab: “Orang Mukmin yang berjuang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.” Ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Seseorang yang menyendiri pada sebuah desa dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhannya.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Dengan tujuan untuk bertakwa kepada Allah dan manjauhi manusia karena kejahatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Hampir terjadi bahwa sebaik-baik harta seseorang muslim adalah kambing yang digembalakan di puncak gunung dan tempat-tempat menetesnya air, karena menjauhi fitnah-fitnah yang mengganggu agamanya.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila Allah mengutus seorang Nabi, pasti ia menggembala kambing.” Para shahabat bertanya: “Dan engkau?” Beliau menjawab: “Ya, dulu saya jugal menggembala kambing dengan upah dari penduduk Makkah.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Pertama, sebaik-baik kehidupan manusia adalah seseorang yang memegang kendali kudanya untuk berjuang di jalan Allah. Ia melompat ke punggung kuda setiap kali ia mendengar panggilan perang atau semacamnya, dengan lompatan itu, ia mencari musuh atau mati di tempat yang disangka ada musuh. Kedua, seseorang yang menggembala anak kambing di puncak salah satu gunung atau lembah salah satu jurang dengan mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan senantiasa beribadah, sehingga sampai ajalnya. Ia tidak berhubungan dengan manusia sedikitpun kecuali dalam kebaikan.” (HR Muslim)

Marah karena Larangan Allah Dilanggar

13 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan siapa saja yang mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah baik baginya di sisi Rabb-nya.” (al-Hajj: 30)

Firman Allah: “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr al-Badriy ra. ia berkata: ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw. dan berkata: “Saya terpaksa mundur dari jamaah Shubuh, karena si fulan memanjangkan bacaan shalatnya.” Saya belum pernah melihat Nabi saw. marah ketika memberi nasehat, melebihi saat itu. Beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya ada di antara kalian orang yang menjadikan dirinya dijauhi. Siapa saja di antara kalian yang menjadi imam, hendaklah memperpendek bacaan, karena di belakang ada orang tua, lemah, dan ada orang yang mempunyai keperluan lain.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ia berkata: Rasulullah saw. datang dari berpergian, sedangkan di rumah saya terpasang tabir yang ada lukisannya. Setelah Rasulullah saw. melihatnya, berubahlah wajah beliau. Sambil menurunkan tabir, Nabi saw. bersabda: “Wahai ‘Aisyah, paling beratnya siksa Allah pada hari kiamat adalah bagi siapa yang menyamai ciptaan-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Orang-orang Quraisy sedang berunding tentang keadaan seorang perempuan yang harus dipotong tangannya karena mencuri. Mereka berkata: “Siapa yang harus menyampaikan masalah ini kepada Rasulullah saw.?” Mereka menjawab: “Tiada lain yang pantas selain Usamah bin Zaid kekasih Rasulullah saw.” Usamah pun menyampaikan hal itu kepada beliau, lalu beliau saw. bertanya: “Akankah kalian melindungi orang yang terkena salah satu hukuman dari Allah Ta’ala?” Beliau berdiri dan berpidato: “Sesungguhnya yang menyebabkan orang-orang sebelum kalian binasa, jika orang terpandang di antara mereka mencuri, mereka membiarkan. Tetapi bila yang mencuri orang lemah, mereka melaksanakan hukuman. Demi Allah seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Nabi saw. melihat dahak di arah kiblat. Melihat itu beliau tidak senang, sehingga wajahnya berubah, lalu berdiri dan dibuang dengan tangannya seraya bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat, berarti dia sedang berbisik dengan Rabb-nya. Sedang Rabb berada di antara dia dan Kiblat. Oleh karena itu, jangan meludah ke arah kiblat, melainkan ke arah kiri atau ke bawah kaki.” Kemudian beliau mengambil ujung serbannya dan meludah disitu serta melipat-lipatnya seraya bersabda: “Atau lakukan seperti ini.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menjaga Rahasia

13 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti akan dimintai pertanggung jawabannya.” (al-Isra’: 34)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. Ia berkata: RAsulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling hina di sisi Allah pada hari kiamat adalah suami atau istri yang bersetubuh, kemudian menyebarkan rahasianya.” (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Umar ia berkata: Ketika Hafsah putri Umar menjadi janda, Umar berkata: “Saya bertemu dengan Utsman bin Affan ra. lalu saya tawarkan Hafsah kepadanya. Umar berkata: “Jika engkau mau, saya akan nikahkan dengan Hafsah putrid saya.” Utsman bin Affan menjawab: “Beri saya kesempatan berfikir.” Selang beberapa hari ia menemui Umar dan berkata: “Saya tidak akan menikah saat ini.” Kemudian Umar bertemu dengan Abu Bakar ash-Shiddiq ra, dan berkata kepadanya: “Jika engkau mau, saya akan nikahkan dengan putriku, Hafshah.” Abu Bakar ra. diam, tidak memberi jawaban apa-apa kepada Umar. Sehingga Umar merasa lebih tersinggung daripada penolakan Utsman. Selang beberapa hari Nabi saw. melamar Hafshah, dan langsung dinikahkan. Kemudian Abu Bakar menemui Umar dan berkata: “Mungkin engkau tersinggung saat menawarkan Hafshah kepada saya sedang saya tidak memberi jawaban. Umar menjawab: “Ya.” Abu Bakar berkata lagi: “Sungguh tidak ada yang menghalangi saya menerima tawaran itu. Hanya saja, saya telah mengetahui bahwa Nabi saw. menyebut-nyebutnya. Dan saya tidak mau menyebar luaskan rahasia Rasulullah saw. Seandainya Nabi saw. tidak ingin mengambil Hafshah sebagai istri beliau, niscaya saya akan menerimanya.” (HR Bukhari)

Dai ‘Aisyah ra. ia berkata: Ketika kami, para istri Nabi saw. berada di sekelilingnya, datanglah Fatimah ra. yang jalannya mirim Rasulullah saw. Ketika beliau melihatnya, langsung disambut seraya bersabda: “Selamat datang anakku.” Beliau menyuruhnya duduk di sebelah kanan atau kiri beliau seraya membisikkan sesuatu di telinganya. Kemudian Fatimah menangis keras sekali. Beliau kasihan melihatnya, lantas membisikkan sesuatu lagi dan ia (Fatimah) tertawa. Maka saya berkata kepadanya: “Rasulullah saw. mengistimewakan kamu dengan rahasia-rahasia melebihi kepada istri-istrinya, tetapi lalu kenapa engkau menangis.” Ketika Rasulullah saw. telah pergi, saya (Aisyah) bertanya kepadanya: “Apa yang dibisikkan Rasulullah saw. kepadamu?” Fatimah menjawab: “Saya tidak akan menyebar luaskan rahasia Rasulullah saw.” Setelah Rasulullah saw. wafat, Aisyah mengulangi pertanyaannya: “Saya benar-benar ingin mendengar tentang sesuatu yang pernah Rasulullah saw. sampaikan kepadamu.” Fatimah menjawab: “Kalau sekarang, baiklah akan saya katakan. Pada bisikan pertama, beliau memberitahu bahwa malaikat Jibril as. setiap tahun datang untuk mengulangi bacaan al-Qur’an sekali atau dua kali, tetapi dalam waktu dekat ini ia telah datang dua kali, dan aku yakin kalau ajalku sudah dekat. Oleh karena itu, bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang meninggalkan kamu. Oleh karena itu saya menangis, seperti yang engkau lihat. Melihat yang demikian, beliau merasa kasihan dan berbisik untuk kali kedua. Beliau bersabda: ‘Wahai Fatimah, apakah kamu tidak ridla menjadi penghulu penghuni surga?’ Oleh karena itu saya tertawa seperti yang engkau lihat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Tsabit dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. menghampiri saya. Waktu itu saya sedang bermain dengan anak-anak. Beliau mengucapkan salam dan menyuruhku untuk sebuah keperluan. Sampai aku terlambat datang kepada ibu. Ketika saya datang, ibu bertanya: “Apakah yang menyebabkan kamu terlambat datang?” Saya menjawab: “Rasulullah saw. mengutus saya untuk suatu keperluan.” Ibu bertanya lagi: “Keperluan apa?” Saya menjawab: “Itu rahasia.” Ibu berkata: “Kalau begitu kamu jangan menceritakan rahasia Rasulullah saw. kepada siapapun.” Anas berkata: “Demi Allah, andaikan saya boleh beritahu rahasia itu kepada seseorang, pasti aku akan memberitahumu hai Tsabit.” (HR Muslim)

Menghindari Syubhat

13 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an-hadits

Firman Allah yang artinya: “Dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah adalah besar.” (an-Nuur: 15)

Firman Allah: “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (al-Fajr: 14)

Dari an-Nu’man bin Basyir ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya yang halal sudah jelas, dan yang haram juga sudah jelas. Di antara halal dan haram ada hal-hal syubhat (meragukan) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Siapa saja yang berhati-hati dari hal-hal yang syubhat itu, maka terjagalah harta dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam hal-hal yang syubhat, maka ia terjerumus ke dalam yang haram. Sebagaimana penggembala yang menghalau ternak di sekitar tempat terlarang. Kemungkinan besar ternak gembalaannya akan memasuki tempat terlarang itu. Ingatlah, setiap penguasa mempunyai larangan, dan hal yang dilarang Allah adalah apa yang diharamkan. Ingatlah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, apabila gumpalan daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan bila gumpalan daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra, ia berkata: Bahwa Nabi saw. menemukan sebiji kurma di tengah jalan, kemudian Nabi saw. bersabda: “Andai aku tidak khawatir kurma ini termasuk sedekah, niscaya aku memakannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari an-Nawwas bin Sam’an ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Kebajikan, adalah budi pekerti yang baik. Dan dosa (kejahatan) adalah sesuatu yang menimbulkan keresahan pada dirimu, dimana kamu merasa tidak senang apabila perbuatan itu diketahui oleh orang lain.” (HR Muslim)

Dari Wabishah bin Ma’bad ra. ia berkata: Saya mendatangi Rasulullah saw. kemudian beliau bertanya: “Kamu ingin menanyakan tentang kebaikan?” Saya menjawab: “Ya.” Lalu beliau bersabda: “Tanyakanlah pada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa yang membuat jiwa menjadi tenang dan menentramkan hati. Sedangkan dosa (kejahatan), adalah apa yang membuat kacau pada jiwa dan membuat ragu-ragu pada hati, walaupun orang-orang memberi nasehat kepadamu.” (HR Ahmad dan ad-Darimiy)

Dari Abu Sirwa’ah Uqbah bin al-Harits ra. bahwasannya ia kawin dengan putri Abu Ihab bin Aziz, kemudian datanglah seorang perempuan dan berkata: “Sesungguhnya dulu saya pernah menyusui Uqbah dan juga perempuan yang dikawininya.” Maka Uqbah berkata kepadanya: “Saya tidak tahu kalau engkau dulu pernah menyusui saya, dan engkau tidak pernah memberitahukan hal ini kepada saya.” Kemudian ia pergi ke Madinah untuk menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw., kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana lagi, sedangkan hal itu sudah terjadi.” Lalu Uqbah menceraikan istrinya, dan istrinya kawin lagi dengan orang lain.” (HR Bukhari)

Dari al-Hasan bin Ali ra. ia berkata: Saya selalu ingat pada sabda Rasulullah saw. yaitu: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu dan kerjakan sesuatu yang tidak meragukanmu.” (HR Tirmidzi)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Abu Bakar ash-Shiddiq mempunyai seorang pelayan yang selalu membawakan bekal untuknya, dan Abu Bakar selalu memakannya. Pada suatu hari, pelayan itu datang dengan membawakan makanan, maka Abu Bakar pun memakannya. Tetapi kemudian pelayan itu bertanya: “Tahukah tuan, makanan apa ini?” Abu Bakar bertanya pula: “Makanan apa ini?” Pelayan itu menjawab: “Dulu pada masa jahiliyah saya berlagak mendukuni seseorang padahal sebenarnya saya tidak mengerti ilmu perdukunan, saya hanya menipunya. Suatu hari ia bertemu dengan saya dan memberikan makanan yang tuan makan tadi.” Kemudian Abu Bakar memasukkan jarinya ke dalam mulut, dan memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya.” (HR Bukhari)

Dari Nafi, ia berkata: Umar bin al-Khaththab ra. membagi-bagikan belanja sebanyak empat ribu kepada tiap-tiap shahabat Muhajirin yang hijrah paling awal, tetapi ia hanya membagi tiga ribu lima ratus kepada anaknya; ketika ada yang mengatakan: “Ia termasuk shahabat Muhajirin, tetapi kenapa engkau menguranginya?” Umar menjawab: “Karena ia dibahwa hijrah oleh orang tuanya.” Dan Umar berkata lagi: “Ia tidak dapat disamakan dengan orang yang hijrah sendiri.” (HR Bukhari)

Dari Athiyah bin Urwah as-Sa’dy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang tidak bisa mencapai tingkatan Muttaqin (orang-orang yang bertakwa), sebelum ia meninggalkan semua yang tidak berdosa karena khawatir terjerumus pada sesuatu yang berdosa.” (HR Tirmidzi)

Memuliakan Tamu

13 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – hadits

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka Dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” (adz-Dzaariyaaat: 24-27)

“dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, Inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. tidak Adakah di antaramu seorang yang berakal?” (Huud: 78)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali persaudaraannya. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Syuraih Khuwailid bin Amr (al-Khuza’i) ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamu pada saat istimewanya.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah saat istimewanya?” Beliau menjawab: “Hari dan malam pertamanya. Bertamu itu adalah tiga hari. Setelahnya adalah sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan: “Orang muslim tidak boleh tinggal di tempat saudaranya, sehingga menyebabkan saudaranya itu berdosa.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, bagaimana ia bisa menyebabkan saudaranya berdosa?” Beliau bersabda: “Ia tinggal di tempat saudaranya, sedangkan saudaranya tidak mempunyai hidangan yang bisa disuguhkan.”

Menjaga Kebiasaan Amal Baik

13 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – hadits

Firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (ar-Ra’du: 11)

Firman Allah: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang-benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi bercerai berai kembali.” (an-Nahl: 92)

Firman Allah: “Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras.” (al-Hadid: 16)

Firman Allah: “Maka mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.” (al-Hadid: 27)

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Wahai Abdullah, janganlah engkau sepertii si fulan. Ia selalu bangun untuk shalat malam, kemudian ditinggalkannya kebiasaan itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Firman Allah: “Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (al-Hijr: 88)

Firman Allah: “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imraan: 159)

Dari Adiy bin Hatim ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah kalian terhadap api neraka, walaupun hanya dengan menyedekahkan separuh biji kurma. Apabila tidak menadapatkannya, cukup dengan berkata yang baik.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Bertutur kata dengan baik adalah sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Dzar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada saya: “Janganlah sekali-sekali meremehkan perbuatan baik, walaupun menyambut saudaramu dengan muka ceria.” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Apabila Nabi saw. mengatakan sesuatu biasanya mengulanginya tiga kali hingga benar-benar dapat dimengerti. Dan apabila beliau mendatangi suatu kaum, biasanya mengucapkan salam kepada mereka sebanyak tiga kali.” (HR Muslim)

Dari Aisyah ra. ia berkata: “Perkataan Rasulullah saw. adalah ucapan yang sangat jelas, jika orang lain mendengarnya pasti dapat memahaminya.” (HR Abu Daud)

Pemaaf dan Berpaling dari Orang Bodoh

13 Mei

Riyadhus Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadit

Firman Allah: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (al-A’raaf: 199)

Firman Allah: “Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (al-Hijr: 85)

Firman Allah: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian?” (an-Nuur: 22)

Firman Allah: “Dan mereka memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imraan: 134)

Firman Allah: “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (asy-Suura: 43)

Dari ‘Aisyah ra. saya berkata: Saya bertanya kepada Nabi saw: “Pernahkah engkau mengalami penderitaan yang lebih berat dari perang Uhud?” Beliau menjawab: “Sungguh, aku telah mendapat penderitaan karena (perbuatan) kaummu sedangkan yang paling berat adalah pada hari Aqabah. Ketika aku menyempatkan diri untuk mengajak putera Abd Jalil bin Kulal, ia tidak menyambutku sebagaimana harapanku. Kemudian aku pergi dengan perasaan sedih sekali dan tidak sadar. Namun sesampai di Qarnuts Tsa’alib aku sadar dan mengangkat kepalaku. Waktu itu aku dinaungi oleh awan. Setelah aku memandangnya, ternyata disitu ada malaikat Jibril as. ia memanggilku seraya berkata: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mendengar kaummu mencela dan menolak ajakanmu. Dan Allah mengutus malaikat penjaga gunung untukmu. Ia akan memenuhi apa saja yang kamu kehendaki untuk menyiksa mereka.’ Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam seraya berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu, dan aku adalah malaikat penjaga gunung. Rabb telah mengutusku untuk memenuhi permintaanmu. Maka apakah yang kamu kehendaki? Apabila kamu menghendaki, akan aku runtuhkan dua gunung itu untuk menyiksa mereka.’ Nabi saw. menjawab: ‘Aku masih berharap, semoga Allah mengeluarkan dari tulang belakang mereka orang yang beribadah (menyembah) Allah Yang Maha Esa, dan mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. tidak pernah memukul apapun dengan tangannya, ia juga tidak pernah memukul istrinya dan pelayannya. Kecuali apabila beliau berjihad di jalan Allah. Dan beliau sama sekali tidak pernah membalas orang yang mengganggunya, kecuali bila apa yang telah diharamkan Allah Ta’ala itu dilanggar, maka beliau menghukum karena Allah Ta’ala.” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Saya pernah berjalan bersama Rasulullah saw.. Waktu itu beliau membawa selimut Najran yang tebal pinggirannya, dan bertemu dengan seorang Badui, kemudian ia menarik-narik selendang beliau dengan kuat. Saya melihat leher beliau terdapat bekas ujung selimut, karena kerasnya tarikan orang Badui itu. Kemudian dia berkata: “Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku harta Allah yang ada padamu!” Beliau menoleh kepada orang Badui itu, sambil tersenyum beliau menyuruh untuk memenuhi permintaan orang Badui itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra ia berkata: Saya seolah-olah masih melihat Rasulullah saw. mencontohkan tentang salah seorang Nabi –semoga Allah melimpahkan rahmat dan kesejahteraan-Nya kepada kaum yang memukul Nabi itu sampai berdarah- sambil mengusap darah di mukanya, Nabi itu berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosa kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Yang dinamakan orang kuat adalah bukan orang yang kuat bergulat. Orang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya pada waktu marah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: ada seseorang mengadu kepada Rasulullah saw.: “Sesungguhnya saya mempunyai keluarga. Saya selalu menyambung hubungan dengan mereka, tatapi mereka selalu memutuskannya. Saya selalu berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka membalasnya dengan berbuat jahat. Saya senantiasa menyantuni mereka, tetapi mereka tidak tahu diri.” Kemudian beliau bersabda: “Seandainya keadaanmu seperti apa yang kamu katakan, maka seolah-olah kamu menaburkan abu panas kepada mereka dan kamu akan selalu mendapat pertolongan Allah karena perbuatanmu itu, selama kamu masih tetap mengerjakan hal yang demikian.” (HR Muslim)

Keutamaan Malu

13 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. melewati seorang Anshar yang sedang memberi nasehat kepada saudaranya karena pemalu, lalu beliau saw. bersabda: “Biarkan, ia pemalu. Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Imran bin Hushain ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Perasaan malu selalu mendatangkan kebaikan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan: “Setiap perasaan malu mengandung kebaikan.”

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Cabang iman ada enam puluh lebih, atau tujuh puluh lebih. Yang paling utama adalah ucapan: laa ilaaHa illallaaH (tiada Tuhan selain Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan malu adalah bagian dari iman.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: “Rasulullah saw. sangat pemalu, melebihi seorang gadis yang dipingit. Ketika melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, kami dapat mengetahui melalui raut wajahnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Para ulama berpendapat: “Hakekat malu adalah budi pekerti yang mengajak agar meninggalkan kejelekan dan mencegah dari mengurangi hak orang lain.”
Dalam riwayat Abul Qasim al Junaid ra. ia berkata: “Malu adalah memandang kebaikan dan melihat kekurangan diri sendiri. Dari kedua pandangan itu, lahirlah perasaan yang dinamakan malu.”