Arsip | 07.21

Ibnu ‘Abbas

14 Mei

‘Ulumul Qur’an; Riwayat Hidup Mufasir; Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Ia adalah Abdullah bin ‘Abbas bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdi Manaf al-Quraisy al-Hasyimi, putra paman Rasulullah saw. Ibunya bernama Ummul Fadl Lubanah al-Haris al-Hilaliyah. Ia dilahirkan ketika bani Hasyim berada di Syi’b, tiga atau lima tahun sebelum hijrah; namun pendapat pertama lebih kuat.

Abdullah bin ‘Abbas menunaikan ibadah haji pada tahun ‘Utsman terbunuh, atas perintah ‘Utsman. Ketika terjadi perang Siffin ia berada di al-Maisarah, kemudian diangkat menjadi gubernur Basrah dan kemudian menetap disana sampi Ali terbunuh. Kemudian ia mengangkat Abdullah bin al-Haris, sebagai penggantinya, menjadi gubernur Basrah sedang ia sendiri pulang ke Hijaz. Ia wafat di Taif pada 65 H. Pendapat lain mengatakan pada 67 atau 68 H. Namun pendapat yang terakhir inilah yang dipandang shahih oleh jumhur ulama. Al-Waqidi menerangkan, tidak ada selisih pendapat di antara para imam bahwa Ibnu Abbas dilahirkan di Syi’b ketika kaum Quraisy diboikot Bani Hasyim, dan ketika Nabi wafat ia baru berusia tiga belas tahun.

Kedudukan dan Keilmuannya;
Ibnu Abbas dikenal dengan julukan Turjumaanul Qur’an (juru tafsir al-Qur’an), Habrul Ummah (tokoh ulama umat) dan Ra’isul Mufassirin (pemimpin para mufasir). Baihaqi dalam ad-Dalaa’il meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan: “Juru tafsir al-Qur’an paling baik adalah Ibnu ‘Abbas.” Abu Nu’aim meriwayatkan keterangan dari Mujahid, “Adalah Ibnu ‘Abbas dijuluki orang dengan al-Bahr (lautan) karena banyak dan luas ilmunya.” Ibnu Sa’d meriwayatkan pula dengan sanad shahih dari Yahya bin Sa’id al-Anshari: Ketika Zaid bin Tsabit wafat, Abu Hurairah berkata: “Orang paling pandai umat ini telah wafat, dan semoga Allah menjadika Ibnu Abbas sebagai penggantinya.”

Dalam usia muda, Ibnu Abbas telah memperoleh kedudukan istimewa di kalangan para pembesar shahabat mengingat ilmu dan ketajaman pemahamannya, sebagai realisasi doa Rasulullah saw. kepadanya. Dalam sebuah hadits berasal dari Ibnu Abbas dijelaskan: “Nabi pernah merangkul dan mendoakannya: “Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah.”
Dalam Mu’jam al-Baghawi dan lainnya, dari Umar, Bahwa Umar mendekati Ibnu Abbas dan berkata: “Sungguh saya pernah melihat Rasulullah mendoakanmu, lalu membelai kepalamu, meludahi mulutmu dan berdoa: ‘Ya Allah, berilah ia pemahaman dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya ta’wil.’”

Bukhari, melalui sanad Sa’id bin Jubair, meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: “Umar mengikutsertakan saya ke dalam kelompok tokoh-tokoh tua perang Badar. Nampaknya sebagian mereka merasa tidak senang lalu berkata: “Kenapa anak ini diikutsertakan ke dalam kelompok kami padahal kamipun mempunyai anak-anak yang sepadan dengannya?” Umar menjawab: “Ia memang seperti yang kamu ketahui.”
Pada suatu hari Umar memanggil mereka dan memasukkan saya bergabung dengan mereka. Saya yakin, Umar memanggilku agar bergabung itu semata-mata hanya untuk “memperlihatkan” saya kepada mereka. Ia berkata: “Bagaimana pendapat tuan-tuan mengenai firman Allah: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (an-Nashr: 1)?” Sebagian mereka menjawab: “Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya ketika Ia memberikan pertolongan dan kemenangan kepada kita.” Sedangkan yang lain bungkam, tidak berkata apa-apa. Lalu ia bertanya kepadaku: “Begitukah pendapatmu hai Ibnu Abbas?” “Tidak,” jawabku. “Lalu bagaimana menurutmu?” tanyanya lebih lanjut. “Ayat itu,” jawabku, “adalah pertanda ajal Rasulullah saw. yang diberitahukan Allah kepadanya. Ia berfirman, apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan itu adalah pertanda ajalmu (Muhammad), maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Ia Maha Penerima taubat.” Umar berkata: “Aku tidak mengetahui maksud ayat itu kecuali apa yang kamu katakan.”

Tafsirnya;
Riwayat dari Ibnu Abbas mengenai tafsir tidak terhitung banyaknya, dan apa yang dinukil darinya itu telah terhimpun dalam sebuah kitab ringkas yang campur aduk yang diberi nama “Tafsir Ibnu Abbas”. Di dalamnya terdapat bermacam-macam riwayat dan sanad yang berbeda-beda, tetapi sanad paling baik adalah yang melalui Ali bin Abi Thalhah al-Hasyimi, dari Ibnu Abbas; sanad ini dipedomani oleh Bukhari dalam kitab shahihnya. Sedangkan sanad yang cukup baik, jayyid, ialah yang melalui Qais bin Muslim al-Kufi, dari ‘Atha’ bin as-Sa’ib.

Di dalam kitab-kitab tafsir besar yang mereka sandarkan kepada Ibnu Abbas terdapat kerancuan sanad. Sanad paling rancu dan lemah adalah sanad melalui al-Kalbi dari Abu Salih. Al-Kalbi adalah Abun Nasr Muhammad bin as-Sa’ib (w.146 H). Dan jika dengan sanad ini digabungkan riwayat Muhammad bin Marwan as-Sadi as-Saghir, maka hal ini akan merupakan silsilah kadzib, mata rantai kedustaan. Demikian juga sanad Muqatil bin Sulaiman bin Bisyr al-Azdi. Hanya saja al-Kalbi lebih baik daripadanya karena pada diri Muqatil terdapat berbagai madzab atau paham yang rendah.

Sementara itu sanad adl-Dlahhak bin Muzahim al-Kufi, dari Ibnu Abbas adalah Munqati’, terputus, karena adl-Dlahhak tidak bertemu langsung dengan Ibnu Abbas. Apabila digabungkan kepadanya riwayat Bisyr bin ‘Imarah maka riwayat ini tetap lemah karena Bisyr adalah lemah. Dan jika sanad itu melalui riwayat Juwaibir, dari adl-Dlahhak, maka riwayat tersebut sangat lemah karena Juwaibir sangat lemah dan ditinggalkan riwayatnya.

Sanad melalui al-‘Aufi, dan seterusnya dari Ibnu Abbas, banyak dipergunakan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, padahal al-‘Aufi itu seorang yang lemah meskipun lemahnya tidak keterlaluan dan bahkan terkadang dinilai hasan oleh Tirmidzi.

Dengan penjelasan tersebut dapatlah kiranya pembaca menyelidiki jalan periwayatan tafsir Ibn Abbas dan mengetahui mana jalan yang cukup baik dan diterima, serta mana pula jalan yang lemah atau ditinggalkan, sebab tidak setiap yang diriwayatkan dari Ibn Abbas itu shahih dan pasti.
Sekian.

Hadits Mu’allaq

14 Mei

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi.
a. Menurut bahasa: merupakan isim maf’ul dari kata ‘alaqa yang berarti menggantungkan, mengaitkan sesuatu atau menjadikan sesuatu tergantung. Sanadnya dinamakan dengan mu’allaq karena kesinambungannya hanya di bagian atas saja, sementara di bagian bawahnya terputus. Jadilah seperti sesuatu yang tergantung pada atapnya.
b. Menurut istilah: hadits yang pada bagian awal sanadnya dibuang, baik seorang rawi atau pun lebih secara berturut-turut.

2. Bentuk hadits mu’allaq
a. Jika dibuang (dihilangkan) seluruh sanadnya, kemudian dikatakan –misalnya-: ‘Rasulullah saw. bersabda begini dan begini.”
b. Bentuk lainnya adalah jika dibuang seluruh sanadnya kecuali sahabat, atau kecuali sahabat dan tabi’in.

3. Contoh hadits mu’allaq
Hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dalam bagian pendahuluan topik mengenai paha: Dan berkata Abu Musa: “Nabi saw. telah menutup kedua lututnya tatkala Utsman masuk.”
Ini hadits mu’allaq, karena Bukhari telah membuang seluruh sanadnya kecuali shahabat, yaitu Abu Musa al-Asy’ari.

4. Hukum hadits Mu’allaq
Hadits mu’allaq hukumnya mardud (tertolak), karena hilangnya salah satu syarat diterimanya suatu hadits, yaitu sanadnya harus bersambung. Hadits mu’allaq adalah hadits yang dibuang (hilang) seorang rawi atau pun lebih dari sanadnya, sementara kita tidak mengetahui keadaan rawi yang dibuang tersebut.

5. Hukum hadits mu’allaq yang terdapat dalam kitab shahihain
Hukum hadits mu’allaq yaitu mardud, berlaku bagi hadits ini secara mutlak. Namun jika dijumpai hadits mu’allaq di dalam kitab yang sudah dipastikan keshahihannya –seperti kitab shahihain- maka terdapat kekhususan hukum. Hal ini sudah disinggung dalam topik hadits shahih. Tidak masalah jika disebutkan lagi disini.
a. Sesuatu yang disebut dengan sighat (bentuk kalimat) pasti (jazm): seperti kata qaala (telah berkata), dzakara (telah menyebutkan), haka (telah menceritakan); maka dalam hal ini hukumnya adalah shahih didasarkan pada mudlaf ilaiHi (yang menjadi sandarannya).
b. Sesuatu yang disebut dengan sighat (bentuk kalimat) yang lemah (tamridl): seperti kata qiila (dikatakan), dzukira (disebutkan), hukiya (diceritakan); maka dalam hal ini tidak dapat dihukumi shahih berdasarkan mudlaf ilaiHi. Jadi bisa shahih, hasan atau punn dlaif. Meskipun tidak ada hadits wahn (sangat lemah) di dalam kitab yang dikenal dengan kitab shahih. Cara untuk mengetahui keshahihannya melalui kajian sanad dari hadits selainnya, yang hukumnya tergantung kepadanya.

Hadits Mardud Disebabkan Gugurnya Sanad

14 Mei

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Maksud gugurnya sanad
Yang dimaksud gugurnya sanad adalah terputusnya rantai sanad (silsilah as-sanad) dengan gugurnya seorang rawi atau lebih secara sengaja, baik dari sebagian perawi atau dari yang lainnya secara sengaja, baik pada awal sanad, akhir sanad atau pun di tengah-tengah sanad, baik gugur secara dhahir [tampak jelas] atau pun tersembunyi.

2. Macam-macam gugurnya sanad.
Dilihat dari aspek jelas atau tersembunyinya, gugur sanad dibagi dua:
a. Gugur secara dhahir. Ini termasuk gugurnya sanad yang bergabung dengan pengetahuan para imam hadits maupun orang-orang yang menyibukkan diri dengan ilmu hadits. Gugurnya sanad dapat diketahui dari tidak bertemunya antara rawi dengan gurunya; bisa karena tidak bertemu dalam satu zaman atau berada dalam satu zaman namun tidak pernah bertemu dengan gurunya [tidak memiliki ijazah maupun mandat]. Karena itu seorang pengkaji sanad hadits memerlukan pengetahuan tentang sejarah hidup para perawi, sebab di dalamnya terkandung penjelasan mengenai kelahirannya, waktu kematiannya, periode mencari ilmunya, perjalanan-perjalanan yang dilakukannya, dan yang semacamnya.
Para ulama hadits telah menyusun istilah untuk menyebut gugurnya sanad secara dhahir dengan empat nama, berdasarkan tempat gugurnya sanad dan jumlah rawi yang gugur. yaitu: hadits mu-‘allaq, hadits mursal, hadits mu’dlal, dan hadits munqathi’.
b. Gugur secara tersembunyi: jenis ini tidak bisa diketahui kecuali oleh para imam hadits yang cerdas lagi kritis terhadap jalur-jalur hadits dan cacaatnya sanad. Dalam hal ini terdapat dua istilah, yaitu hadits mudallas, dan hadits mursal khafi.

Hadits Mardud (Tertolak) dan Hadits Dla’if

14 Mei

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadist Praktis; DR. Mahmud Thahan

1. Definisi khabar mardud
Yaitu hadits yang tidak kuat kebenaran pembawa beritanya. Ini terjadi karena hilangnya satu atau lebih syarat-syarat diterimanya hadits, seperti yang telah dibahas pada topik hadits shahih.

2. Pembagian khabar mardud dan sebab-sebabnya
Para ulama membagi khabar mardud menjadi banyak jenis, masing-masing memiliki nama tersendiri. Meski demikian seluruh jenis tersebut dimasukkan ke dalam satu nama umum yaitu “dla’if”. Penyebab tertolaknya suatu hadits sangat banyak, namun bisa dikembalikan kepada dua sebab pokok, yaitu: a) sanadnya gugur. b) perawinya cacat. Dari dua penyebab pokok ini masing-masing terbagi-bagi lagi.

Hadits Dla’if

1. Definisi a) menurut bahasa: lawan dari kuat. Kata dla’if memiliki arti kata yang bersifat empiris sekaligus juga arti maknawi; namun yang dimaksudkannya disini adalah arti maknawi. b) menurut istilah: hadits yang tidak terkumpul sifat-sifat hadits hasan, disebabkan hilangnya satu syarat atau lebih.
Al-Baiquni menyatakan dalam salah satu bait puisinya: “Setiap hadits yang tingkatannya lebih rendah dari hadits hasan, adalah hadits dla’if yang memiliki jenis beragam.”

2. Macam-macamnya
Hadits dla’if memiliki jenis yang amat beragam sesuai dengan berat ringannya kadar dla’if periwayatannya, sama seperti yang dijumpai pada hadits shahih. Ada yang berupa hadits dla’if, ada yang sangat dla’if, ada yang wahi, munkar, dan yang paling rendah adalah maudlu’.

3. Sanad-sanad terlemah
Seperti halnya dalam pembahasan tentang hadits shahih yang menyinggung sanad-sanad yang paling shahih, begitu pula tatkala para ulama membaha tentang hadits dla’if, dijumpai adanya sanad-sanad terlemah. Imam al-Hakim an-Naisaburri telah menyebutkan sejumlah besar sanad-sanad terlemah yang menisbahkan kepada sebagian sahabat, sebagian aspek dan beberapa negeri.
a. Sanad-sanad terlemah yang dinisbahkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq ra: Shadaqah bin Musa ad-Daqiqi dari Farqad as-Sabhi dari Marrah ath-Thayyib dari Abu Bakar.
b. Sanad-sanad terlemah penduduk Syam: Muhammad bin Qais al-Mashlub dari Ubaidillah bin Zahr dari Ali bin Yazid dari al-Qasim dari Abu Umamah.
c. Sanad-sanad terlemah yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas ra: as-Suddi ash-Shaghir Muhmmad bin Marwan dari al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu ‘Abbas. Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata: “Ini merupakan silsilah dusta, bukan silsilah utama.”

4. Contoh Hadits Dlaif
Hadits yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi melalui jalur Hakim al-Atsram dari Abi Tamimah al-Hujaimi dari Abu Hurairah dari Nabi saw. yang bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi seorang wanita yang sedang haid atau [mendatangi wanita] pada duburnya, atau mendatangi dukun, maka ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
Imam Tirmidzi mengomentari hadits ini: “Kami tidak mengetahui hadits ini kecuali melalui jalur Hakim al-Atsram dari Abi Tamimah al-Hujaimi dari Abu Hurairah.” Kemudian ia berkata: “Muhammad telah mendlaifkan hadits ini dilihat dari sisi sanadnya.”
Di dalam sanadnya terdapat Hakim al-Atsram. Para ulama mendlaifkannya. Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib at-Tahdzib menyatakan: “Ia terlalu lemah [fihilinun].”

5. Hukum meriwayatkan hadits Dlaif
Menurut para ahli hadits dan yang lainnya, boleh meriwayatkan hadits-hadits dlaif, dengan mempermudah sanad-sanadnya tanpa ada penjelasan kedlaifannya –kecuali hadits-hadits maudlu’, tidak boleh meriwayatkannya melainkan harus disertai penjelasan keadaannya-, itu pun dengan dua syarat:
a. Tidak terkait dengan perkara akidah, seperti sifat-sifat Allah
b. Tidak dalam posisi menjelaskan hukum-hukum syara yang terkait dengan masalah halal dan haram.
Jadi, boleh meriwayatkan hadits-hadits dlaif dalam hal –misalnya- peringatan-peringatan, targhib [anjuran-anjuran], tarhib [ancaman-ancaman], kisah-kisah, dan yang sejenisnya. Yang termasuk orang-orang yang mempermudah periwayatan hadits-hadits dlaif antara lain Sufyan ats-Tsauri, Abdurrahman bin Mahdi, dan Ahmad bin Hambal.
Perlu diperhatikan, bahwa jika anda meriwayatkan suatu tanpa sanad, hendaknya anda jangan mengatakan: “Rasulullah saw. telah bersabda begini dan begini.” Hendaknya anda mengatakan: “Diriwayatkan dari Rasulullah saw. begini dan begini.” Atau: “Telah sampai kepada kami begini dan begini.” Atau yang sejenis itu; agar tidak memastikan hadits tersebut dinisbatkan kepada Rasulullah saw. sementara anda tidak mengetahui kedlaifannya.

6. Hukum mengamalkan hadits dlaif
Para ulama berbeda pendapat dalam hal mengamalkan hadits dlaif. Jumhur ulama lebih menyukai mengamalkan hadits dlaif dalam perkara fadlail al-‘amal, itupun harus memenuhi tiga syarat seperti yang telah dipaparkan oleh Ibnu Hajar:
a. Haditsnya tidak sangat dlaif
b. Haditsnya termasuk di dalam cakupan pokok-pokok hadits ma’mul (bisa diamalkan)
c. Tatkala mengamalkannya tidak dii’tiqadkan mengenai kepastiannya, hanya sekedar kehati-hatian saja.

7. Kitab-kitab populer yang mengandung banyak hadits dlaif
a. Kitab-kitab yang disusun untuk menjelaskan mengenai hadits-hadits dlaif, seperti adl-Dluafa karya Ibnu Hibban; Mizan al-I’tidal karya adz-Dzahabi. Mereka menyebutkan berbagai contoh hadits yang menjadi dlaif disebabkan perawinya dlaif.
b. Kitab-kitab yang disusun secara khusus hanya berisi hadit-hadits dlaif. Misalnya kitab-kitab yang mengumpulkan hadist-hadits mursal, ‘ilal, mudraj dan sejenisnya. Seperti al-Marasil karya Abu Daud; al-‘Ilal karya ad-Daruquthni.