KEMU’JIZATAN AL-QUR’AN

16 Mei

Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an; Manna’ Khalil al-Qattan;

Alam yang luas dan dipenuhi makhluk-makhluk Allah ini; gunung-gunung yang menjulang tinggi, samudera yang melimpah, daratan yang luas, menjadi kecil di hadapan makhluk yang lemah, manusia. Itu semua disebabkan Allah telah menganugerahkan kepada makhluk manusia itu berbagai keistimewaan dan kelebihan serta memberinya kekuatan berfikir cemerlang yang dapat menembus segala medan untuk menundukkan unsur-unsur kekuatan alam tersebut dan menjadikannya sebagai pelayan bagi kepentingan kemanusiaan.

Allah sama sekali tidak akan menelantarkan manusia, tanpa memberikannya wahyu, dari waktu ke waktu yang membimbingnya ke jalan petunjuk sehingga mereka dapat menempuh liku-liku hidup ini atas dasar keterangan dan pengetahuan.

Namun watak manusia yang sombong dan angkuh terkadang menolak untuk tunduk kepada manusia lain yang serupa dengannya selama manusia lain itu tidak membawa kepadanya sesuatu yang tidak membawa kepadanya sesuatu yang tidak disanggupinya hingga ia mengakui, tunduk dan percaya akan kemampuan manusia lain itu yang tinggi di atas kemampuannya sendiri. Oleh karena itu Rasul-rasul Allah di samping diberi wahyu, mereka juga dibekali kekuatan dengan hal-hal yang luar biasa yang dapat menegakkan hujjah atas manusia sehingga mereka mengakui kelemahannya di hadapan hal-hal luar biasa tersebut serta tunduk dan taat kepadanya.

Namun mengingat akal manusia pada awal fase perkembangannya tidak melihat sesuatu yang lebih dapat menarik hati selain mukjizat-mukjizat alamiyah yang hissi (indrawi) karena akal mereka belum mencapai puncak ketinggian dalam bidang pengetahuan dan pemikiran, maka yang paling relevan adalah jika setiap Rasul itu hanya diutus kepada kaumnya secara khusus dan mukjizatnya pun hanya berupa sesuatu hal luar biasa yang sejenis dengan apa yang mereka kenal selama ini.

Hal demikian itu agar saat tidak mampu menandinginya, mereka segera tunduk dan percaya bahwa hal luar biasa itu datang dari “kekuatan langit”. Dan ketika akal mereka telah mencapai taraf sempurna maka Allah mengumandangkan risalah Muhammad saw yang abadi kepada seluruh umat manusia. Serta mukjizat bagi risalahnya juga berupa mukjizat yang ditujukan kepada akal manusia yang telah berada pada tingkat kematangan dan perkembangannya yang paling tinggi.

Bila dukungan Allah kepada Rasul-rasul terdahulu berbentuk ayat-ayat kauniyah yang memukau mata, dan tidak ada jalan bagi akal untuk menentangnya, seperti mukjizat tangan dan tongkat bagi Nabi Musa, dan penyembuhan orang buta serta menghidupkan orang yang sudah mati dengan izin Allah bagi Nabi Isa, maka mukjizat Nabi Muhammad, pada masa kejayaan ilmu pengetahuan ini berbentuk mukjizat ‘aqliyah, mukjizat bersifat rasional, yang berdialog dengan akal manusia dan menantangnya untuk selamanya. Mukjizat tersebut adalah Al-Qur’an dengan segala ilmu dan pengetahuan yang dikandungnya serta tentang segala berita tentang masa lalu dan masa yang akan datang. Akal manusia betapapun majunya, tidak akan sanggup menandingi Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah ayat kauniyah yang tiada bandingnya. Kelemahan aka yang bersifat kekurangan substantif ini merupakan pengakuan akal itu sendiri bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya dan sangat diperlukan untuk dijadikan pedoman dan pembimbing. Itulah makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah dengan sabdanya:

“Tiada seorang nabipun kecuali diberi mukjizat yang dapat membuat manusia beriman kepadanya. Namun apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku. Karena itu aku berharap semoga kiranya aku menjadi Nabi paling banyak pengikutnya.”

Demikianlah. Allah telah menentukan keabadian mukjizat Islam sehingga kemampuan manusia menjadi tak berdaya menandinginya, padahal waktu yang tersedia cukup panjang dan ilmu pengetahuan pun telah maju pesat.

Pembicaraan tentang kemukjizatan Al-Qur’an juga merupakan satu macam mukjizat tersendiri, yang di dalamnya para penyelidik tidak bisa mencapai rahasia satu sisi daripada sampai ia mendapatkan di balik sisi itu sisi-sisi lain yang akan disingkapkan kemukjizatannya oleh zaman. Persis sebagaimana dikatakan oleh ar-Rafi’: “Betapa serupa (bentuk pembicaraan) Qur’an, dalam susunan kemukjizatannya dan kemukjizatan susunannya dengan sistem yang alam, yang dikerumuni oleh para ulama dari segala arah serta diliputi dari segala sisinya. Segala sisi itu mereka jadikan obyek kajian dan penyelidikan, namun bagi mereka ia senantiasa tetap menjadi makhluk baru dan tempat tujuan yang jauh.”

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: