Tafsir Al-Qur’an Surah At-Takwiir (3)

17 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Takwiir (Menggulung)
Surah Makkiyyah; Surah ke 81: 29 ayat

Dan firman Allah: wallaili idzaa ‘as-‘as (“Demi malam apabila telah hamper meninggalkan gelapnya.”) mengenai hal ini terdapat dua pendapat. Pertama, menuju kepada kegelapannya. Mujahid mengatakan: “Yakni menjadi gelap.” Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, idzaa ‘as-‘as, apabila telah hampir meninggalkan gelapnya; yakni jika malam telah meninggalkan gelapnya. Demikian pula yang dikemukakan oleh Muhahid, Qatadah dan adl-Dlahhak. Dan juga menjadi pilihan Ibnu Jarir bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: idzaa ‘as-‘as (“Apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.”) yakni jika malam telah pergi meninggalkan. Hal itu didasarkan pada firman-Nya: wash-shubhi idzaa tanaffas (“Dan demi shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing.”) yakni bersinar. Hal itu didasarkan pada ungkapan seorang penyair: “Sehingga apabila waktu shubuh sudah mempunyai sinar, sementara malamnya telah meninggalkan gelapnya.”
Yakni telah pergi. Menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud dengan firman Allah: idzaa ‘as-‘as, adalah jika malam telah tiba, meskipun penggunaannya bisa juga untuk pengertian meninggalkan, tetapi pengertian tiba di sini lebih cocok, seakan-akan Allah bersumpah dengan malam dan kegelapannya jika tiba dan dengan waktu pagi dan cahayanya jika terbit. Sebagaimana Dia telah berfirman: wal laili idzaa yaghsyaa. Wan naHaari idzaa tajallaa (“Demi malam menutupi [cahaya siang], dan siang apabila terang benderang.”)(al-Lail: 1-2)

Firman Allah: wash shubhi idzaa tanaffas (“Dan demi shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing.”) yakni jika telah terbit. Dan firman-Nya: innaHuu laqaulu rasuuling kariim (“Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar firman [Allah yang dibawa oleh] utusan yang mulia [Jibril],”) yakni sesungguhnya al-Qur’an ini adalah yang disampaikan oleh utusan yang mulia, yaitu malaikat yang sangat mulia, mempunyai bentuk yang baik dan indah dipandang. Dia adalah Jibril a.s. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, asy-Sya’bi, Maimun bin Mihran, al-Hasan, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas, adl-Dlahhak, dan lain-lain.
Dzii quwwatin (“Yang mempunyai kekuatan”) yakni seperti firman-Nya: ‘allamaHuu syadiidul quwaa (“Yang diajarkan kepadanya oleh [Jibril] yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas.”)(an-Najm: 5-6). Yakni, mempunyai tubuh yang kuat dan kekuatan serta perbuatan yang sangat dahsyat.

‘inda dzil ‘arsy makiin (“Yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.”) yakni dia mempunyai kedudukan dan derajat yang tinggi di sisi Allah. Muthaa-‘in tsamma (“Yang ditaati di sana”) yakni dia mempunyai kewibawaan, ucapannya didengar dan ditaati di Mala-ul A’laa. Mengenai firman-Nya: Muthaa-‘in tsamma (“Yang ditaati di sana”) Qatadah mengatakan: “Yaitu di langit.” Artinya, dia bukan termasuk kelompok malaikat biasa, tetapi dia termasuk kelompok malaikat yang terhormat lagi mulia yang mendapat perhatian dan dipilih untuk menyampaikan risalah yang sangat agung ini. Firman-Nya: amiin (“Lagi dipercaya”). Sifat Jibril yang amanah [dapat dipercaya]. Dan demikian ini merupakan suatu hal yang sangat agung sekali. Di mana Rabb telah menyucikan hamba dan utusan-Nya, sebagai sosok malaikat, yaitu Jibril, yaitu Muhammad saw. melalui firman-Nya: wa maa shaahibukum bimajnuun (“Dan temanmu [Muhammad] itu bukanlah sekali-sekali orang yang gila.”) Asy-Syay’bi, Maimun bin Mihran dan Abul Shalih yang telah disebutkan sebelumnya mengatakan bahwa firman-Nya ini, yakni Muhammad saw.

Dan firman Allah: wa laqad raa-aaHu bil ufuqil mubiin (“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.”) Muhammad betul-betul telah melihat Jibril yang mendatanginya membawa risalah dari Allah dengan penampilan aslinya, yang diciptakan Allah, mempunyai 600 sayap. Bil ufuqil mubiin (“Di ufuk yang terang.”) yakni benar-benar nyata, sebagai penglihatan pertama.

Wa maa Huwa ‘alal ghaibi bidlaniin (“Dan dia [Muhammad] bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.”) maksudnya Muhammad itu tidaklah pantad dituduh bakhil terhadap apa yang telah diturunkan kepadanya. Di antara mereka ada yang membaca dengan menggunakan huruf “dladl” yang berarti orang yang kikir. Tetapi justru beliau saw. selalu menerangkan kepada setiap orang. Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa kata dhaniin dan dlaniin adalah sama, artinya tidaklah dia itu sebagai pendusta atau seorang jahat. Kata adh-dhaniin berarti orang yang dituduh, sedangkan adl-dlaniin berarti orang yang kikir. Qatadah mengemukakan: “Sebelumnya al-Qur’an itu merupakan sesuatu yang ghaib, lalu Allah menurunkannya kepada Muhammad, dan beliau tidak kikir untuk menjelaskannya kepada manusia, tetapi beliau justru menyebarkan, menyampaikan, dan menjelaskannya kepada setiap orang yang menghendakinya.” Demikian pula yang dikemukakan oleh ‘Ikrimah, Ibnu Zaid, dan beberapa ulama lainnya. Dan Ibnu Jarir memilih bacaan kata dlaniin dengan huruf dladl.
Ibnu Katsir mengatakan bahwa keduanya mutawatir dan maknanya shahih.
Firman Allah: wa maa Huwa biqauli syaithaanir rajiim (“Dan al-Qur’an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk.”) maksudnya, al-Qur’an itu bukan merupakan ucapan syaitan yang terkutuk. Artinya, syaitan itu tidak akan mampu mengembannya dan tidak juga menghendakinya, serta tidak pantas baginya untuk mendapatkannya. Sebagaimana firman Allah yang artinya:
“dan Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan- syaitan. dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan Kuasa. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al Quran itu.” (asy-Syu’araa: 210-212)

Firman Allah: fa aina tadz-Habuun (“Maka kemanakah kamu akan pergi?”) maksudnya, kemana akal kalian pergi ketika kalian mendustakan al-Qur’an ini, padahal kemunculannya sudah sangat nyata dan isinya pun sudah benar-benar jelas serta keberadaannya pun tidak diragukan berasal dari Allah swt. Mengenai firman-Nya: fa aina tadz-Habuun (“Maka kemanakah kamu akan pergi?”) Qatadah mengatakan: “Yakni dari kitab Allah dan ketaatan kepada-Nya.”

Firman Allah: in Huwa illaa dzikrul lil ‘aalamiin (“Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.”) maksudnya al-Qur’an ini merupakan peringatan bagi seluruh umat manusia, dengannnya mereka mangambil pelajaran dan menjadikannya sebagai nasehat.
Limay yasyaaa-a mingkum ay yastaqiim (“Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.”) yakni bagi orang yang menghendaki petunjuk, maka hendaklah ia berpegang pada al-Qur’an ini, karena sesungguhnya ia merupakan penyelamat sekaligus petunjuk baginya, dan tidak ada petunjuk bagi selainnya.
Wa maa tasyaa-uuna illaa ay yasyaa allaaHu rabbul ‘aalamiin (“Dan kamu tidak dapat menghendaki [menempuh jalan itu] kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.”) maksudnya kehendak itu tidak diserahkan kepada kalian sehingga barangsiapa menghendaki, dia akan mendapatkan, dan barangsiapa menghendaki dia akan memperoleh kesesatan. Tetapi semua itu bergantung kepada kehendak Allah Ta’ala, Rabb seru sekalian alam.
Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: