Hadits Arbain ke 4: Tahapan Penciptaan Manusia (2)

17 Mei

Hadits Arbain ke 4 (empat),
Al-Wafi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

4. Allah Maha Mengetahui
Sesungguhnya Allah mengetahui kondisi manusia sebelum mereka diciptakan. Keimanan, ketaatan, kekufuran, kemaksiatan, kebahagiaan dan kesengsaraan, semuanya atas pengetahuan dan kehendak Allah swt. Banyak nash yang menyatakan hal ini.
Ali bin Abi Thalib ra. menyebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah satu jiwa yang telah ditiupkan ruh ke dalamnya, melainkan Allah telah mentapkan tempatnya, di surga atau di neraka. jika tidak, maka Allah telah mentapkan apakah ia bahagia atau celaka.” Seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulallah, jika demikian apakah kita kemudian pasrah dengan ketentuan kita?” Rasulullah menjawab: “Tidak, tapi beramallah, karena semua dimudahkan menurut ketentuan masing-masing. Orang yang ditentukan bahagia, akan dimudahkan pada amal-amal orang yang berbahagian. Sedangkan orang yang ditetapkan sengsara akan dimudahkan pada amal-amal orang-orang yang sengsara.” Lalu beliau membaca ayat: “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik…” (al-Lail: 5-6)

Dengan demikian, maka pengetahuan Allah dalam masalah ini tidak berarti meniadakan ikhtiar (usaha) seorang hamba. Karena Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk beriman dan menaati perintah, juga melarang manusia dari kekufuran dan kemaksiatan, ini menunjukkan bahwa seorang hamba harus berusaha untuk mencapai apa yang ia inginkan. Jika tidak, maka perintah dan larangan Allah tersebut sia-sia belaka. Dan ini mustahil bagi Allah swt. Allah berfirman: “Demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Maka sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 7-10)

5. Menggunakan takdir sebagai argument.
Allah swt. telah memerintahkan kepada kita untuk meyakini dan menaati-Nya, juga melarang kita dari kekufuran dan kemaksiatan. Itulah yang telah dibebankan kepada kita. Adapun apa yang telah digariskan untuk kita, sama sekali kita tidak mengetahuinya. Karenanya, orang-orang yang kufur dan berbuat kesesatan tidak bisa menggunakan takdir sebagai argumen kekafiran dan kefasikan mereka. Allah berfirman: “Katakanlah, wahai Muhammad: beramallah kalian semua karena Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin akan mengetahui amal perbuatanmu.” (at-Taubah 105)
Adapun jika ketetapan (qadla) tersebut benar-benar telah terjadi, maka diperbolehkan menggunakan takdir sebagai argumen. Karena hal ini dapat meringankan beban orang-orang mukmin. Bahwa apapun hasil yang diterima, itulah ketetapan Allah. Perlu diingat, apapun bentuk ketetapan tersebut, itulah yang terbaik bagi seorang mukmin, baik yang berbentuk kesenangan maupun yang berbentuk kesengsaraan.

6. Yang menjadi penentu adalah bagian akhir dari amal perbuatan. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya segala perbuatan ditentukan bagian akhirnya.” (HR Bukhari) artinya, barangsiapa yang telah ditetapkan Allah beriman di akhir hayatnya. Meskipun sebelumnya dia kufur dan selalu melakukan maksiat, menjelang kematiannya ia akan beriman. Ia meninggal dalam keadaan iman dan dimasukkan ke dalam surga. Demikian pula dengan orang yang telah ditentukan kafir ataupun fasik di akhir hayatnya. Meskipun sebelumnya ia beriman, menjelang kematiannya ia akan melakukan kekufurannya. Ia meninggal dalam keadaan kufur dan dimasukkan ke dalam neraka. karenanya jangan sekali-sekali tertipu dengan sikap dan perilaku manusia yang bersifat lahiriah. Karena yang paling menentukan adalah akhir hayatnya. Jangan pula kita putus asa dengan sikap dan perilaku seseorang. Karena yang paling menentukan adalah akhir hayatnya. Oleh karena itu, marilah kita sama-sama berdoa semoga Allah memberikan kepada kita keteguhan hati dalam kebenaran dan kebaikan serta memberikan kepada kita husnul khatimah di akhir hayat yang baik. Amiin.

7. Nabi Muhammad saw. sering berdoa: “Wahai Dzat yang membalik-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam agama-Mu.” Dalam riwayat Muslim, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya hati seluruh manusia berada di antara dua jari Allah, seolah-olah hanya satu hati. Allah berbuat sekehendak-Nya.” Lalu beliau berdoa: “Wahai Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan-Mu.”

8. Ibnu Hajar al-Haitami berkata: “Sesungguhnya akhiran yang buruk diakibatkan oleh bibit keburukan yang terpendam dalam jiwa manusia, yang tidak diketahui orang lain. Kadang-kadang, seseorang melakukan perbuatan-perbuatan ahli neraka. namun di dalam jiwanya terpendam bibit kebaikan. Maka menjelang ajalnya bibit kebaikan tersebut tumbuh dan mengalahkan kejahatannya. Sehingga ia mati dengan husnul khatimah.
Abdul Aziz bin Dawud berkata: “Aku pernah hadir pada seseorang yang sedang ditalqin (dibimbing untuk mengucapkan dua kalimat syahadat), akan tetapi ia tidak mau. Lalu aku bertanya tentang orang ini. Ternyata ia seorang peminum khamr.” Pada kesempatan lain, ia aberkata: “Berhati-hatilah dengan dosa, karena dosa bisa menjerumuskan manusia ke dalam su-ul khatimah (akhir hayat yang buruk)

9. Tahapan pertumbuhan janin yang dijelaskan dalam hadits ini, belum terdeteksi oleh ilmu kedokteran kecuali pada masa-masa akhir. Hal ini bukti kemukjizatan al-Qur’an dan as-Sunnah yang sangat nyata.
sekian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: