Tafsir Al-Qur’an Surah ‘Abasa (3)

24 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah ‘Abasa (Ia Bermuka Masam)
Surah Makkiyyah; Surah ke 80: 42 ayat

Annaa shababnal maa-a shabban (“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan ai [dari langit].”) maksudnya Kami telah menurunkan air dari langit ke bumi. Tsumma syaqaqnal ardla syaqqan (“Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.”) yaitu Kami tempatkan air itu disana, lalu ia masuk ke dalam lapisan-lapisan tanah, selanjutnya masuk ke dalam biji-bijian yang terdapat di dalam bumi, sehingga tumbuh, tinggi dan tampak di permukaan bumi.
Fa ambatnaa fiHaa habban (“Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.”) yang dimaksud al-habb disini adalah biji-bijian. Dan kata ‘inah sudah sangat populer, yaitu anggur. Sedangkan qadlban berarti sejenis sayur-sayuran yang biasa dimakan mentah oleh binatang. Dan ada juga yang menyebutnya dengan al-qutt. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Qatadah, adl-Dlahhak, dan as-Suddi. Sedangkan al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Al-qadlb berarti makanan binatang.”
Wa zaituunan (“Zaitun”) zaitun ini merupakan sesuatu yang sudah populer, yaitu bumbu. Perasannya pun bisa sebagai bumbu dan untuk menyalakan lampu pelita, dipergunakan untuk meminyaki sesuatu. Wa nakhlan (“dan pohon kurma”) dapat dimakan mentah, hampir matang, atau ruthab (yang sudah matang), atau tamr, baik yang masih mentah atau sudah rusak, dan diperas menjadi manisan atau cuka.

Wa hadaa-iqa ghulban (“dan kebun-kebun yang lebat”) yakni kebun-kebun. Al-Hasan dan Qatadah mengemukakan: “Ghulban berarti pohon kurma yang lebat lagi rapat.” Ibnu ‘Abbas dan Mujahid mengatakan: “Ghulban berarti setiap yang merapat dan berkumpul.” Ibnu ‘Abbas juga mengatakan: “Ghulban berarti pohon yang dapat dijadikan sebagai tempat bernaung.” Dan Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata tentang ayat: Wa hadaa-iqa ghulban (“dan kebun-kebun yang lebat”) yaitu tumbuhannya yang tinggi. ‘Ikrimah berkata: “Banyaknya pepohonan.”

Allah berfirman; wa faakiHataw wa abban (“Dan buah-buahan dan rumput-rumputan.”) kata al-fakiHah adalah hasil yang dikeluarkan dari tumbuhan berupa buah-buahan. Ibnu ‘Abbas berkata: “Al-fakiHah adalah sesuatu yang dimakan dalam keadaan berair [basah] dan al-abb adalah sesuatu yang tumbuh dari tanah yang dikonsumi oleh binatang ternak dan tidak dimakan oleh manusia. ‘Atha’ berkata: “Sesuatu yang tumbuh di permukaan tanah disebut dengan al-abb.” Ibnu Jarir meriwayatkan dari Anas, ia berkata: Umar bin al-Khaththab pernah membaca: ‘abasa wa tawallaa. Dan ketika sampai pada ayat: wa faakiHataw wa abban, dia mengatakan: “Kami telah memahami kata al-faakiHah (buah), tetapi apa arti al-abb?” maka beliau bersabda: “Demi Allah hai Ibnul Khaththab, hal itu adalah takalluf.” Dan sanad ini shahih. Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh lebih dari satu dari Anas. Dan itu berarti juga bahwa dia bermaksud untuk mengetahui banyak, jenis dan wujudnya, jika tidak maka setiap orang yang membaca ayat ini akan mengetahui bahwa ia adalah salah satu tumbuhan bumi. Hal ini didasari pada firman-Nya: fa ambatnaa fiiHaa habban. Wa ‘inabaw waqadl-ban, wa zaituunaw wa nakhlan, wa hadaa-iqa ghulban. Wa faakiHataw wa abban (“Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan phon kurma, kebun-kebun yang lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan.”
Dan firman Allah: mataa-‘allakum wali an-‘aamikum (“Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”) yaitu sebagai bekal hidup dan untuk binatang ternak kalian di dunia ini sampai hari kiamat.

tulisan arab alquran surat 'abasa ayat 33-42“33. Dan apabila datang suara yang memekakkan [tiupan sangkakala yang kedua]. 34. Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. 35. dari ibu dan bapaknya, 36. dari istri dan anak-anaknya. 37. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.38. banyak muka pada hari itu berseri-seri,39. tertawa dan bergembira ria,40. dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu,41. dan ditutup lagi oleh kegelapan. 42. mereka Itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (‘Abasa: 33-42)

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Ash-shaakhkhakh; merupakan salah satu dari nama-nama hari kiamat yang diagungkan Allah dan selalu diperingatkan kepada hamba-hamba-Nya.” Ibnu Jarir mengatakan: “Bisa jadi ia merupakan nama bagi tiupan sangkakala.”
Yauma yafirrul mar-u min akhiiHi. Wa ummiHii wa abiiHi wa shaahibatiHii wa baniiHi (“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.”) maksudnya, dia mengetahui mereka tetapi justru dia lari dan menjauh dari mereka, karena keadaan yang sangat menakutkan dan suasananya sangat mencekam. Di dalam hadits shahih disebutkan berkenaan dengan masalah syafaat, jika setiap Rasul dari kalangan Ulul ‘azmi diminta untuk member syafaat di sisi Allah, maka dia akan mengatakan: “Saya pun mengkhawatirkan diriku sendiri.” Bahkan ‘Isa putera Maryam sendiri mengatakan: “Aku tidak meminta kepada-Nya hari ini kecuali untuk diriku sendiri, aku juga tidak meminta untuk Maryam, ibuku yang telah melahirkanku.” Oleh karena itu, Allah berfirman: Yauma yafirrul mar-u min akhiiHi. Wa ummiHii wa abiiHi wa shaahibatiHii wa baniiHi (“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.”)

Firman Allah: likulim ri-im minHum yauma-idzin sya’nuy yughniiHi (“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkannya.”) maksudnya, dia selalu mengurus diri sendiri sehingga tidak peduli dengan urusan orang lain. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda: “Kalian akan digiring ke padang mahsyar dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, berjalan kaki dan tidak berkhitan.” Lebih lanjut Ibnu ‘Abbas mengatakan: Lalu istri istri Nabi berkata: “Wahai Rasulallah, apakah kita dapat saling lihat? Atau sebagian kami dapat melihat aurat sebagian lainnya?” Beliau menjawab: “Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkannya.” Atau beliau mengatakan: “Mereka tidak akan sempat untuk memperhatikan [orang lain].”

Dan firman Allah: wujuuHuy yauma-idzim musfiratun. Dlaahikatum mustabsyiratun (“Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria.”) maksudnya, disana umat manusia terbagi menjadi dua golongan; ada orang-orang yang wajahnya berseri-seri yaitu ceria, dlaahikatum mustabsyiraH (“Tertawa dan gembira ria”) yakni dalam keadaan bahagia dan gembira di dalam hati mereka, dan di wajah mereka tampak keceriaan. Mereka itulah para penghuni surga.

Wa wujuuHuy yauma-idzin ‘alaiHaa ghabaratun. tarHaquHaa qataratun (“Dan banyak [pula] muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan.”) yakni mereka diliputi dan dipenuhi oleh kegelapan atau warna hitam pekat. Dan firman Allah: ulaa-ika Humul kafaratul fajaraH (“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.”) yakni, kufur dalam hati mereka dan durhaka dalam amal perbuatan mereka.
(selesai)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: