Adab Bepergian (1)

27 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits

Dari Ka’ab bin Malik ra. bahwasannya Nabi saw. keluar untuk perang Tabuk pada hari Kamis, dan beliau memang suka keluar [bepergian] pada hari Kamis.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat yang lain dikatakan: “Jarang sekali Rasulullah saw. keluar [bepergian] kecuali pada hari Kamis.”

Dari Shakher bin Wad’ah al-Ghamidiy ash-Shahabiy ra. bahwasanya Rasulullah saw. berdoa: “AllaaHumma baariklanaa li-ummatii fii bukuuriHaa (Ya Allah berkahilah umatku pada pagi harinya).” Dan apabila beliau mengutus [melepas] pasukan, maka beliau mengutus mereka pada pagi hari. Shakher adalah seorang pedagang, maka ia mengirimkan barang dagangannya pada pagi hari, kemudian ia menjadi kaya dan banyak hartanya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya manusia tahu [bahayanya bepergian] seorang diri sebagaimana yang telah aku ketahui, niscaya tidak akan ada seorangpun yang berjalan sendirian pada waktu malam.” (HR Bukhari)

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang bepergian sendirian itu bagaikan satu setan, dua orang yang bepergian itu bagaikan dua setan, tiga orang yang bepergian itu adalah rombongan.” (HR Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa-i)

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila ada tiga orang bepergian hendaklah mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi pemimpin rombongan.” (HR Abu Dawud)

Dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sebaik-baik kawan adalah empat orang, sebaik-baik pasukan adalah empat ratus dan sebaik-baik tentara adalah empat ribu orang, dan tidak akan dapat dikalahkan oleh dua belas ribu orang karena dianggap sedikit.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila kamu sekalian sedang bepergian dan melewati tanah subur, maka berilah kesempatan kepada unta untuk memakan rumputnya. Dan apabila kamu sekalian sedang bepergian dan melewati tanah yang tandus, maka percepatlah di dalam berjalan dan kejarlah jangan sampai unta itu kehabisan tenaga. Apabila kamu sekalian berhenti pada waktu malam, maka janganlah berhenti [mendirikan kemah] di tengah jalan karena sesungguhnya itu adalah jalan binatang dan tempat yang sangat berbahaya pada waktu malam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Qatadah ra. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. berada dalam perjalanan dan berhenti pada waktu malam, maka beliau tidur pada pinggang kanannya, dan apabila berhenti sudah menjelang shubuh, maka beliau menegakkan lengannya dan meletakkan kepala pada telapak kanannya.” (HR Bukhari)
Para ulama berkata: “Beliau menegakkan lengannya supaya beliau tidak lelap di dalam tidur yang dapat menyebabkan terlambat shalat shubuhnya, atau tidak bisa mengerjakan shalat shubuh pada awal waktunya.”

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kamu sekalian hendaklah bepergian pada waktu malam, karena seolah-olah bumi itu terlipat pada waktu malam.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Tsa’labah al-Khusyanniy ra. ia berkata: Apabila seseorang berhenti di dalam perjalanan, mereka bekelompok-kelompok dan berada pada lembah yang berbeda-beda, kemudian Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya terpisah-pisahnya kamu sekalian dalam kelompok dan lembah yang berbeda-beda adalah ajaran dari setan.” Maka sejak itu apabila mereka berhenti dalam perjalanan, kelompok yang satu akan berkumpul dengan kelompok yang lain.” (HR Abu Dawud)

Dari Sahal bin Amr, ada yang memanggilnya dengan Sahal bin Amr Rabi’ bin Amr al-Anshariy yang terkenal dengan sebutan Ibnu Handzalah, ia termasuk shahabat yang mengadakan Bai’atur Ridwan ra. ia berkata: Suatu ketika Rasulullah saw. berjalan dan melewati seekor unta yang punggungnya lengket dengan perut [kurus], kemudian beliau bersabda: “Takutlah kamu kepada Allah terhadap binatang yang bisu ini. Kendarailah ia dengan cara yang baik, dan berilah ia makan dengan cara yang baik pula.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Ja’far Abdullah bin Ja’far ra. ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah saw. mengajak saya membonceng di belakangnya dan menyampaikan rahasia kepada saya, yang rahasia itu tidak akan saya sampaikan kepada siapapun. Dan jika Rasulullah saw. menunaikan hajat beliau suka menutupinya dengan tonggak atau bedinding dengan pohon kurma.” (Hr Muslim)
Dalam riwayat lain terdapat tambahan: “Beliau pernah ke kebun seorang shahabat Anshar dan di situ terdapat seekor unta. Ketika unta itu melihat Nabi saw. terus merintih dan mencucurkan air mata. Kemudian Nabi mendengar dan mengusap punggung dan kedua telinganya, maka unta itu diam. Beliau lantas bertanya: “Siapakah pemilik unta ini? Siapakah yang mempunyai unta ini?” Maka datanglah seorang pemuda Anshar dan berkata: “Ini unta saya wahai Rasulallah.” Beliau bersabda: “Apakah kamu tidak takut kepada Allah terhadap binatang yang telah diberikan Allah untuk kamu, sesungguhnya unta ini mengadu kepadaku bahwa kamu melaparkan dan melelahkannya.” (HR Abu Dawud, seperti yang diriwayatkan oleh al-Barqaniy)

Dari Anas ra. ia berkata: “Apabila kami berhenti dalam bepergian, kami tidak melakukan shalat sunah terlebih dahulu sebelum melepaskan tali kekang binatang yang kami kendarai.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Pada suatu ketika kami sedang bepergian, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang dengan naik kendaraan dimana ia menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang memiliki kelebihan kendaraan hendaklah ia memberikan kepada yang tidak mempunyainya. Barangsiapa yang memiliki bekal lebih, maka hendaklah ia memberikan kepada orang yang tidak mempunyainya.” Beliau menyebutkan macam-macam harta dengan nada seperti itu, sehingga kami sadar bahwa sesungguhnya tidaklah pantas salah seorang di antara kami mempunyai kelebihan harta.” (HR Muslim)

Dari Jabir ra. dari Rasulullah saw. bahwasannya apabila beliau hendak berangkat perang, beliau bersabda: “Wahai para shahabat Muhajirin dan Anshar sesungguhnya ada sebagian orang di antara saudara-saudaramu yang tidak memiliki harta dan keluarga, maka dari itu hendaklah salah seorang di antara kamu sekalian menggabungkan dua atau tiga orang dengannya.” Kemudian tidak ada salah seorang di antara kami melainkan ia bergatian kendaraan dengan orang yang digabungkannya. Jabir berkata: “Saya menggabungkan dua atau tiga orang dengan saya, dan kesempatan untuk mengendarai unta saya bagi sama rata antara saya dan mereka.” (HR Abu Dawud)

Dari Jabir ra. ia berkata: “Rasulullah saw. apabila berada dalam perjalanan, beliau biasa di belakang; dimana beliau memberi pertolongan kepada orang yang lemah serta membonceng dan mengajaknya.” (HR Abu Dawud)

Allah berfirman: “Dan Allah telah menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu, dan supaya kamu mengucapkan: Mahasuci Rabb yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.” (az-Zukhruf: 12-14)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya apabila Rasulullah saw. menaiki untanya untuk keluar bepergian, beliau mengucapkan takbir tiga kali dan berdoa: subhaanal ladzii sakhkhara lanaa Haadzaa wamaa kunnaa laHuu muqriniin. Wa innaa ilaa rabbinaa lamungqalibuun. allaaHumma innaa nas-aluka fii safaarinaa Haadzal birra wat taqwaa wa minal ‘amali maa tardlaa, allaaHumma Hawwin ‘alainaa safaranaa Haadzaa wathwi ‘annaa bu’daHu, allaaHumma antash shaahibu fis safari wal khaliifatu fil aHli. Allaahumma innii a-‘uudzubika min wa’tsaa-is safari wa kaabatil landhari wa suu-il mungqalabi fil maali wal aHli wal waladi (Maha suci Rabb yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, takwa dan amal yang Engkau ridlai dalam kepergian kami ini. Ya Allah, mudahkanlah segala urusan dalam kepergian kami ini dan pendekkanlah jarak dari jauhnya kepergian dan pengganti bagi keluarga yang kami tinggalkan. Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari kesukaran dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan jeleknya kembali, baik bagi harta maupun keluarga kami). Dan apabila Rasulullah saw. hendak pulang, beliau juga membaca doa tersebut dengan diberi tambahan: aayibuuna taa-ibuuna ‘aabiduuna lirabbinaa haamiduuna (“Kami adalah orang yang siap untuk pulang, kami adalah orang yang bertaubat, beribadah dan memuji kepada Rabb kami.”) (HR Muslim)
(bersambung ke bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: