Arsip | 07.00

Sujud Syukur

28 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra. ia berkata: Kami bersama-sama dengan Rasulullah saw. keluar dari Makkah menuju ke Madinah, ketika kami hampir sampai di Azwara, beliau turun lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa sejenak kepada Allah lantas sujud. Beliau melakukannya tiga kali. Beliau bersabda: “Sesungguhny aku memohon kepada Rabb agar diizinkan memberi syafaat kepada umatku, kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga umatku, maka aku bersujud kepada Rabb-ku karena bersyukur. Setelah itu aku mengangkat kepala dan memohon kepada Rabb-ku dan memohon kepada Rabb-ku agar diizinkan memberi syafaat kepada umatku, kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga umatku, maka aku bersujud kepada Rabb-ku karena bersyukur. Setelah itu aku mengangkat kepala lagi dan memohon kepada Rabb-ku dan memohon kepada Rabb-ku agar diizinkan memberi syafaat kepada umatku, kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga yang lain, maka aku sujud syukur kepada Rabb-ku. (HR Abu Dawud)

Shalat Witir

28 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Ali ra. ia berkata: Shalat witir itu tidak diharuskan sebagaimana shalat fardlu, tetapi Rasulullah saw. selalu mengerjakannya serta bersabda: “Sesungguhnya Allah itu witir [ganjil/esa] dan suka pada yang ganjil, maka shalat witir-lah kalian wahai ahli Qur’an.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Dari semua waktu-waktu malam, Rasulullah saw. selalu mengerjakan shalat Witir. beliau pernah mengerjakan shalat Witir pada permulaan malam, pernah pada tengah malam, dan pernah pada akhir malam, serta paling akhir beliau mengerjakan shalat Witir sampai habis waktu sahur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tutuplah shalat malam dengan shalat witir.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Shalat Witir-lah kalian sebelum shubuh.” (HR Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Nabi saw. biasa shalat sunnah pada waktu malam, sedang ‘Aisyah membujur di depannya, apabila beliau tinggal mengerjakan shalat Witir beliau membangunkan ‘Aisyah, kemudian mengerjakan shalat Witir.” (HR Muslim)
Dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Apabila beliau tinggal mengerjakan shalat Witir, beliau bersabda: ‘Wahai ‘Aisyah bangun dan berwitirlah kamu.”

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Kerjakanlah shalat itu dengan Witir.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Jabir ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang khawatir untuk tidak bangun pada akhir malam, maka shalatlah Witir pada permulaannya. Dan barangsiapa berkeyakinan akan bisa bangun pada akhir malam, maka shalatlah Witir pada akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam itu disaksikan oleh malaikat dan hal itu adalah lebih utama.” (HR Bukhari)

Keutamaan Shalat Dluha

28 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Kekasihku [Muhammad saw.] mewariskan kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan serta dua rakaat Dluha, dan aku mengerjakan shalat Witir sebelum aku tidur.” (HR Bukhari dan Muslim)
Shalat Witir sebelum tidur itu disunnahkan bagi orang yang tidak mempunyai keyakinan bahwa ia akan dapat bangun pada akhir malam, sedangkan bagi orang yang berkeyakinan [akan dapat bangun pada akhir malam] maka ia lebih utama mengerjakannya pada akhir malam.

Dari Abu Dzar ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Setiap pagi, masing-masing ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan sedekahnya. Dan setiap tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, setiap bacaan takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah dan melarang berbuat munkar adalah sedekah. Kesemuanya itu dapat diganti dengan dua rakaat Dluha.” (HR Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Biasanya Rasulullah saw. melakukan shalat Dluha empat rakaat dan beliau menambah sekehendak Allah.” (HR Muslim)

Dari Ummu Hanik [Fakhitah] binti Abu Thalib ra. ia berkata: “Pada waktu penaklukan kota Makkah saya datang kepada Rasulullah saw. dan saya dapatkan beliau sedang mandi. Ketika selesai mandi, beliau shalat sunnah delapan rakaat. Shalat itu adalah shalat Dluha.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Zaid bin Arqam ra. bahwasannya ia melihat orang-orang mengerjakan shalat Dluha [pada waktu belum begitu siang], maka ia berkata: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat Dluha selain saat ini lebih utama, karena sesungguhnya mereka mengertahui bahwa shalat Dluha selain saat ini lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah adalah pada waktu anak-anak unta bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari.” (HR Muslim)

Anjuran untuk mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid: Dari Abu Qatadah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk dulu sebelum mengerjakan shalat dua rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari jabir ra. ia berkata: Saya datang kepada Nabi saw. sedangkan beliau sedang berada di masjid, kemudian bersabda: “Shalatlah dua rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Shalat sunnah sebelum wudlu:
Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda kepada Bilal: “Hai Bilal. Ceritakanlah kepadaku tentang amal yang kamu harapkan akan mendapat pahala, yang telah kamu kerjakan dalam Islam. Karena sesungguhnya aku mendengar suara terompahmu di hadapanku di surga.” Bilal menjawab: “Saya tidak beramal dengan sesuatu amal pun yang lebih saya harapkan pahalanya, kecuali saya mengerjakan shalat dengan bersuci baik di waktu siang atau malam sesuai dengan apa yang telah ditentukan buatku untuk shalat.” (HR Bukhari dan Muslim)