Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naba’ (2)

31 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naba’ (Berita Besar)
Surah Makkiyyah; Surah ke 78: 40 ayat

Wa futihatis samaa-u fakaanat abwaaban (“dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu.”) yaitu beberapa jalan turunnya para malaikat.
Wa suyyiratil jibaalu fakaanat saraaban (“Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.”) yang demikian itu sama dengan firman Allah: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan.” (an-Naml: 88). Sedangkan di sini, Dia berfirman: fa kaanat saraaban (“Maka menajadi fatamorganalah ia.”) yakni dikhayalkan kepada orang yang melihat bahwa ia merupakan sesuatu padahal ia bukan apa-apa. Dan setelah itu, semuanya itu hilang sehingga tidak lagi dapat dipandang serta sama sekali tidak berbekas.

Firman Allah: inna jaHannama kaanat mirshaadan (“Sesungguhnya Neraka Jahannam itu [padanya] ada tempat pengintai.”) yakni tempat pengintai yang sudah disiapkan, liththaaghiina (“bagi orang-orang yang melampaui batas.”) yang mereka adalah penentang, para pelaku maksiat, dan pembangkang kepada para Rasul, ma-aaban (“Menjadi tempat kembali.”) yakni menjadi tempat kembali dan tempat menetap.

Mengenai firman Allah: inna jaHannama kaanat mirshaadan (“Sesungguhnya Neraka Jahannam itu [padanya] ada tempat pengintai.”) al-Hasan dan Qatadah mengatakan: “Artinya, sesungguhnya tidak ada seorang pun masuk surga sehingga dia menyeberangi neraka, jika ia bisa menyeberanginya, maka ia akan selamat. Dan jika tidak, maka dia akan ditahan di neraka.

Dan firman Allah: laa bitsiina fiiHaa ahqaaban (“mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.”) maksudnya, mereka tinggal di neraka itu. Kata “ahqaab” merupakan jamak dari kata “hiqb” yang berarti sesaat dari zaman. Khalid Ibnu Ma’dan mengatakan: “Dan firman-Nya: illaa maa syaa-a rabbuka (“Kecuali apa yang dikehendaki oleh Rabbmu.”) bagi orang-orang yang meyakini tauhid.” Keduanya meriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Setelah itu, di mengatakan: “Dan yang benar bahwa hal itu tidak ada akhirnya.” Sebagaimana yang dikemukakan oleh Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas. Dan yang sebelumnya di telah mengatakan dari Salim, aku pernah mendengar al-Hasan bertanya tentang firman Allah: laa bitsiina fiiHaa ahqaaban: (“Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya”) dia mengatakan: “Adapun ‘ahqaabaa; maka ia tidak terhitung melainkan kekekalan di dalam neraka. tetapi mereka menyebutkan bahwa al-hiqh berarti tujuh puluh tahun, yang setiap harinya mencapai seribu tahun dari perhitungan waktu kalian. Sa’id menceritakan dari Qatadah, Allah Ta’ala berfirman: laa bitsiina fiiHaa ahqaaban: (“Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya”) yakni masa yang tiada pernah terputus, dimana setiap kali satu hiqh berlalu maka akan datang hiqh yang berikutnya.

Firman Allah: laa yadzuuquuna fiiHaa bardaw walaa syaraaban (“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak [pula mendapatkan] minuman.”) maksudnya, di neraka mereka tidak mendapatkan sesuatu yang dingin bagi hari mereka dan tidak juga mendapatkan minuman segar yang dapat mereka minum. Oleh karena itu Allah berfirman: illaa hamiimaw wa ghassaaqan (“Selain air yang mendidih dan nanah.”) Abu ‘Aliyah mengatakan: “Dikecualikan dari dingin adalah panas dan dari minuman itu nanah.” Demikian pula yang dikemukakan oleh ar-Rabi’ bin Anas. Adapun al-hamiim berarti panas yang mencapai puncaknya. Sedangkan al-ghassaq berarti nanah, keringat, air mata, dan luka para penghuni neraka yang berkumpul, ia sangat dingin, rasa dinginnya tidak dapat disentuh oleh manusia dan bau busuknya tidak dapat didekati. Dan pembicaraan tentang al-ghassaaq telah disajikan pada pembahasan surah Shaad, sehingga tidak perlu lagi dilakukan pengulangan –mudah-mudahan Allah memberikan pahala atas semua itu dengan karunia dan kemuliaan-Nya.

Firman Allah: jazaa-aw wifaaqan (“Sebagi balasan yang setimpal”) yakni semua yang mereka alami yang berupa hukuman, adalah sesuai dengan amal perbuatan mereka yang tidak benar yang mereka kerjakan semasa di dunia. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, dan lain-lain. Selanjutnya Allah berfirman: innaHum kaanuu laa yarjuuna hisaaban (“Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab.”) maksudnya mereka tidak meyakini bahwa di sana terdapat alam tempat pembalasan dan penghisaban. Wa kadzdzabuu bi aayaatinaa kidzdzaaban (“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.”) yakni mereka mendustakan hujjah-hujjah dan bukti-bukti Allah atas makhluk-Nya yang telah diturunkan melalui para Rasul-Nya, tetapi mereka justru menyambutnya dengan pendustaan dan penentangan. Dan firman-Nya: kidzdzaaban (“Dusta dengan sesungguh-sungguhnya.”), yakni pendustaan, kalimat ini merupakan bentu masdar [infinitive] tanpa fi’il.

Firman Allah: wa kulla syai-in ahshainaaHu kitaaban (“Dan segala sesuatu sudah Kami catat dalam suatu kitab.”) maksudnya, Kami [Allah] telah mengetahui amal perbuatan seluruh hamba, lalu Kami catat bagi mereka untuk selanjutnya Kami akan memberikan balasan atas hal tersebut, jika baik maka akan diberi balasan kebaikan, dan jika buruk maka akan diberikan balasan keburukan juga.

Sedangkan firman-Nya: fadzuuquu falan naziidakum illa ‘adzaaban (“Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-sekali tidak akan menambah kepadamu selain daripada adzab.”) maksudnya, dikatakan kepada penghuni neraka: “Rasakanlah apa yang kalian rasakan, dan sekali-sekali Kami tidak akan menambah kecuali adzab yang serupa, dan dzab yang lain lagi dalam bentu lain yang berpasang-pasangan.”

tulisan arab alquran surat an naba' ayat 31-36“31. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, 32. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, 33. dan gadis-gadis remaja yang sebaya, 34. dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). 35. di dalamnya mereka tidak mendengar Perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) Perkataan dusta.36. sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,” (an-Naba’: 31-36)

Allah berfirman seraya memberitahukan tentang orang-orang yang berbahagia dan segala sesuatu yang telah disediakan bagi mereka, baik itu berupa kemuliaan maupun kenikmatan yang abadi. Dimana Dia berfirman: inna lil muttaqiina mafaazan (“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat ketenangan.”) Ibnu ‘Abbas dan adl-Dlahhak mengatakan: “Yakni dalam keadaan suci.” Mujahid dan Qatadah mengemukakan: “Mereka beruntung dan selamat dari neraka.” dan yang paling jelas disini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, karena setelah itu dia mengemukakan: “hadaa-iqa” kata al-hadaa-iqa disini berarti kebun-kebun kurma dan juga yang lainnya.
Hadaa-iqa wa a’naaban wa kawaa-‘iba ats-raaban (“Yaitu kebun-kebun dan buah anggur. Dan gadis-gadis remaja yang sebaya.”) yakni, bidadari-bidadari yang masih gadis. Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan lain-lain mengatakan: “Kawaa-‘iba yakni montok.” Yang mereka maksudkan bahwa buah dada bidadari-bidadari itu montok dan belum mengalami penurunan, karena mereka semua masih gadis yang umurnya sebaya, yakni mempunyai umur yang sama.

Firman Allah: wa ka’san diHaaqan (“Dan gelas-gelas yang penuh [berisi minuman].”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni yang penuh lagi berturut-turut.” Sedangkan ‘Ikrimah mengatakan: “Yakni yang jernih.”
(bersambung ke bagian 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: