Arsip | Juni, 2013

Kemuliaan dan Keutamaan Wali Allah

27 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Al-Qur’ana – Hadits

Firman Allah: “Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Yunus: 62-64)

Firman Allah: “Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan dan minumlah.” (Maryam: 25-26)

Firman Allah: “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (Ali Imraan: 37)

“dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri..” (al-Kahfi: 16-17)

Dari Abu Muhammad Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq ra. bahwasannya Ashabush Shuffah adalah orang-orang yang miskin, dan pada suatu ketika Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa mempunyai makanan untuk dua orang hendaknya ia makan bertiga, dan barangsiapa yang mempunyai makanan untuk empat orang hendaknya makan berlima atau berenam, atau sebagaimana yang beliau sabdakan.
Dan sesungguhnya Abu Bakar mengajak tiga orang, sedangkan Nabi saw. mengajak sepuluh orang. Kemudian Abu Bakar makan malam bersama Nabi saw. dan tinggal di sana sampai isya’, setelah waktu sudah cukup malam maka dia pulang, dan setibanya di rumah ia ditanya oleh istrinya: “Apakah yang menyebabkan engkau menelantarkan tamu-tamumu?” Abu Bakar bertanya: “Apakah kamu belum menjamu mereka?” Istrinya menjawab: “Mereka enggan sebelum engkau pulang, padahal makanan sudah dihidangkan untuk mereka.” Abdurrahman berkata: “Kemudian saya pergi dan bersembunyi, maka Abu Bakar memanggil-manggil: “Wahai si bodoh, Abu Bakar memaki-maki dan mencaci-caci saya. Kemudian Abu Bakar bertanya kepada tamu-tamunya: “Silakan makan seadanya, demi Allah saya sendiri tidak akan makan.” Abdurrahman berkata: “Demi Allah setiap kali saya mengambil makanan itu maka dari bawahnya menyumberlah makanan yang lebih banyak, sehingga mereka merasa kenyang semua, dan sisa makakan itu malah lebih banyak daripada sebelum dimakan. Kemudian Abu Bakar memperhatikan makanan yang bertambah banyak itu dan berkata kepada istrinya: “Wahai saudari Bani Firas, apakah ini?” Istrinya berkata: “Betapa senangnya hatiku, sekarang makanan ini malah lebih banyak daripada sebelum dimakan, bahkan tiga kali lipat.” Kemudian Abu Bakar makan dan berkata: “Sesungguhnya sumpahku tadi adalah semata-mata karena godaan setan.” Setelah Abu Bakar makan sesuap daripada makanan itu, ia lantas membawanya ke tempat nabi saw, kemudian makanan itu semua berada di tempat beliau.
Pada saat itu ada rapat membicarakan suatu perjanjian antara kami dengan kaum lain, dimana setelah selesai rapat kami membagi orang-orang yang rapat itu menjadi dua belas kelompok, setiap kelompok terdiri dari beberapa orang dimana hanya Allah saja yang tahu berapa jumlah setiap kelompok itu, dan semua dapat makan dari sisa makanan yang dibawa ke tempat Nabi saw. itu.
Dalam riwayat lain dikatakan: “Abu Bakar bersumpah untuk tidak makan, istrinyapun bersumpah untuk tidak makan, maka tamu-tamu itu bersumpah untuk tidak makan sebelum Abu Bakar bersedia untuk makan bersama-sama. Kemudian Abu Bakar berkata: “Sumpah ini adalah semata-mata karena godaan setan.” Maka ia meminta agar makanan itu pun segera dihidangkan, lantas Abu Bakar makan dan para tamu itupun makan bersamanya.
Kemudian setiap kali mereka mengangkat makanan, maka dari bawahnya menyumberlah makanan yang lebih banyak. Abu Bakar lantas berkata kepada istrinya: “Wahai saudari Bani Firas, apakah ini?” Istrinya berkata: “Alangkah senangnya hatiku, sungguh makanan ini lebih banyak daripada sebelum kami makan.” Setelah selesai makan, ia membawa sisa makanan itu kepada Nabi saw. diriwayatkan beliaupun berkenan makan makanan itu.”
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Abu Bakar berpesan kepada Abdurrahman: “Layanilah tamu-tamu dengan baik karena saya akan pergi ke tempat Nabi saw. dan hidangkanlah makanan kepada mereka sebelum saya datang.” Ketika sampai di rumah, Abdurrahman segera menghidangkan makanan yang ada kepada para tamuu itu seraya berkata: “Silakan makan.” Mereka bertanya: “Dimanakah tuan rumah?” Abdurrahman berkata: “Ia telah berpesan agar saya segera menghidangkan makanan kepada kalian, nanti apabila ia datang sedangkan kalian semua belum makan, maka ia akan memarahi saya.” Mereka tetap tidak mau makan. Saya berkeyakinan bahwa saya akan dimarahi olehnya, maka ketika ia [Abu Bakar] datang saya terus bersembunyi, dan Abu Bakar bertanya kepada para tamunya: “Apakah yang telah kalian perbuat?” Mereka menceritakan apa adanya, kemudian Abu Bakar memanggil: “Wahai Abdurrahman,” saya diam. Ia memanggil lagi, “Wahai Abdurrahman.” Saya pun tetap diam. Kemudian ia memanggil lagi: “Wahai Abdurrahman.” Saya pun tetap diam. Kemudian dia memanggil lagi: “Wahai si tolol, saya bersumpah bila kamu mendengar suaraku ini, maka kamu harus segera datang.” Maka saya pun keluar dan berkata: “Tanyakan kepada tamu-tamumu.” Para tamu berkata: “Benar ia tadi telah menghidangkan makanan untuk kami.” Abu Bakar bertanya: “Jadi kalian menunggu saya, padahal demi Allah saya tidak akan makan pada malam ini.” Mereka berkata: “Demi Allah, kami tidak akan makan sebelum engkau bersedia makan.” Abu Bakar berkata: “Celaka kalian, mengapa kalian tidak bersedia menikmati makanan yang telah kami persiapkan? Hidangkanlah makanan itu.” Kemudian makanan itu pun dikeluarkan, dan ia mengulurkan tangannya seraya berkata: “BismillaaH, yang pertama [sumpah] tadi adalah semata karena setan.” Maka Abu Bakar pun makan bersama-sama dengan tamu. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh pada umat-umat sebelum kamu sekalian ada orang-orang yang mendapat ilham, seandainya pada umatku ada salah seorang yang mendapat ilham niscaya ia adalah Umar.” (HR Bukhari)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Aisyah.

Dari Jabir bin Samurah ra. ia berkata: Penduduk Kuffah mengadukan Sa’ad yakni Ibnu Abu Waqqash ra. kepada Umar bin Kaththab ra, kemudian Umar menggantinya dan mengangkat Ammar untuk penduduk Kuffah itu. Saat mereka mengadukan Sa’ad sampai-sampai mereka mengatakan baha ia tidak sempurna shalatnya, kemudian Umar memanggilnya dan berkata: “Wahai Abu Ishak, sesungguhnya penduduk Kuffah menyangka bahwa engkau tidak sempurna shalatnya.” Kemudian ia berkata: “Demi Allah sesungguhnya saya shalat bersama mereka persis seperti shalat Rasulullah saw. saya tidak menyimpang sedikitpun. Apabila saya shalat Isya’, maka saya agak lama dalam dua rakaat pertama dan saya lebih cepat pada dua rakaat yang akhir.” Umar berkata: “Demikianlah persangkaan terhadap dirimu wahai Abu Ishak.”
Setelah itu Umar mengirim Sa’ad bersama dengan beberapa orang pergi ke Kuffah untuk menyelidiki penduduk Kuffah secara keseluruhan. Pada tiap masjid dia menanyakan tentang keadaan Sa’ad dan pada umumnya mereka memuji kebaikan Sa’ad, hanya saja ketika ia masuk ke dalam masjid Bani Abs, di situ ada seseorang di antara mereka yang berdiri bernama Usamah bin Qatadah yang biasa dipanggil dengan Abu Sa’dah, dimana ia berkata: “Apabila kamu menanyakan tentang Sa’ad kepada kami, maka sesungguhnya ia adalah pemimpin yang tidak pernah memimpin pasukan, ia tidak pernah membagi barang rampasan dengan sama rata, dan ia tidak adil dalam menentukan hukuman. Sa’ad berkata: “Demi Allah saya benar-benar akan berdoa dengan tiga macam doa yaitu: Wahai Allah apabila hamba-Mu ini berdusta hanya karena riya’ dan sum’ah (menjilat), maka panjangkanlah usianya, dan lanjutkanlah kemiskinannya, serta timpakanlah berbagai fitnah kepadanya.” Kemudian dikabulkanlah doa itu, sehingga apabila ia ditanya oleh seseorang maka ia menjawab: “Saya tua renta dan ditimpa berbagai macam fitnah adalah akibat doa Sa’ad.” Abdul Malik bin Umar perawi hadits ini dari Jabir bin Samurah berkata: “Saya sendiri telah melihat Usamah demikian tuanya, sehingga kedua kelopaknya hampir menutup kedua matanya, dan ia selalu duduk-duduk di tepi jalan untuk mengganggu perempuan-perempuan yang lewat disitu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Urwah bin az-Zubair bahwasannya Sa’id Zaid bin Amr bin Nufail ra. diadukan oleh Arwa binti Aus kepada Marwan bin al-Hakam, dimana ia menuduh bahwa Sa’id merampas sebagian tanahnya, kemudian Said berkata: “Saya merampas tanahnya setelah saya mendengar sabda Rasulullah saw.” Marwan bertanya: “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah saw.?” Sa’id menjawab: “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa merampas sejengkal tanah dengan aniaya, maka akan dikalungkan di lehernya tujuh petala bumi.” Kemudian Marwan berkata kepadanya: “Saya lantas berdoa: Ya Allah, apabila Arwa berdusta semoga dibutakan matanya dan semoga ia mati di bumi yang dipersoalkan itu.” Urwah menceritakan bahwa Arwa benar-benar buta sebelum ia mati, dan suatu ketika ia berjalan pada bumi yang dipersoalkan itu, kemudian ia jatuh terperosok ke dalam sebuah lobang sehingga mati di situ.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan, dari Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar dengan maksud yang sama; dan diceritakan bahwa ia melihat Arwa itu buta berjalan dengan meraba-raba di dinding serta berkata: “Saya tertimpa musibah akibat doa Sa’id.” Dan bahwasannya sewaktu ia berjalan di bumi yang dipersoalkan itu ia terperosok ke dalam sebuah sumur yang berada di situ, sehingga ia mati dan sumur itulah yang merupakan kubur baginya.

Dari Jabir bin Abdullah ra. ia berkata: Ketika perang Uhud telah dimulai, pada malam harinya ayah memanggil saya dan berkata: “Menurut perkiraan saya, saya adalah orang yang pertama kali terbunuh di antara shahabat-shahabat Nabi saw., dan sesungguhnya saya tidak meninggalkan seseorang yang lebih saya sayangi melebihi kamu sekalian selain Rasulullah saw. sendiri, dan sesungguhnya saya mempunyai utang, maka bayarlah utang itu dan saya berwasiat rawatlah baik-baik saudara perempuanmu.”
Kemudian pada pagi harinya benarlah ayah adalah orang yang pertama kali terbunuh, dan sya menguburkannya dengan orang lain dalam satu liang kubur. Lama kelamaan saya merasa tidak enak untuk membiarkan ayah bersama orang lain dalam satu liang kubur, maka setelah enam bulan saya ambil lagi dari kuburnya dan waktu itu jasad ayah masih seperti pada hari saya memasukkan ke liang kubur hanya telinganya yang agak berubah, kemudian jasad ayah saya kuburkan dalam laing tersendiri.” (HR Bukhari)

Dari Anas ra. bahwasannya ada dua shahabat keluar dari majelis nabi saw. pada malam yang gelap gulita, kemudian di depan kedua shahabat itu ada semacam dua buah lampu, dan ketika shahabat itu berpisah maka kedua benda semacam lampu itu menyertai masing-masing kedua shahabat itu, sehingga sampai di rumahnya.” (HR Bukhari)
Dalam sebuah hadits yang lain diceritakan bahwa kedua shahabat tersebut adalah Usaid bin Hudlair dan Abbad bin Bisyr.

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. pernah mengirimkan sepuluh orang mata-mata (pengintai). Dan beliau mengangkat Ashim bin Tsabit al-Anshariy ra. sebagai pemimpin mereka. Setelah mereka berangkat dan sampai di Hudah, tempat antara ‘Usfan dan Makkah, maka mereka diketahui oleh kelompok kaum Hudzil yaitu Bani Lihyan, kemudian mereka mengeluarkan seratus orang ahli panah untuk menyerang rombongan ‘Ashim. Ketika ‘Ashim dan teman-temannya merasa bertemu mereka, maka ia berlindung di suatu tempat, lalu sekawanan orang (Bani Lihyan) mengepungnya. Mereka berkata kepadanya: “Singgahlah dan angkat tanganmu, kalian memiliki perjanjian, bahwa kami tidak membunuh seorangpun dari kalian.” Lalu ‘Ashim bin Tsabit berkata: “Wahai sekalian orang, saya tidak akan singgah di dalam jaminan keamanan orang kafir.” Kemudian ia berdoa: “Ya Allah beritahukanlah kepada Nabi-Mu mengenai diri kami.”
Mereka melempari ‘Ashim dan teman-temannya, sehingga terbunuhlah ‘Ashim. Ada tiga orang yang tetap tinggal dengan mendapat jaminan keamanan, antara lain Khubaib, Zaid bin Datsinah dan seorang laki-laki (Abdullah bin Thariq). Ketika mereka telah menguasainya, maka mereka melepaskan tali busur, lalu mengikatnya dengan tali itu. Laki-laki yang ketiga berkata: “Ini adalah awal pengkhianatan, demi Allah, saya tidak akan mau berdamai dengan kalian dan bagi saya lebih baik mengikuti jejak kawan-kawan yang telah gugur.”
Ia berpendapat lebih baik dibunuh daripada berdamai dengan mereka. Kemudian mereka menyiksa dan membunuhnya. Lalu Khubaib dan Zaid bin Datsinah dibawa ke Makkah, sehingga mereka menjual keduanya setelah peristiwa perang Badar. Kemudian anak-anak Harist bin Amir bin Abdu Manaf membeli Khubaib. Padahal Khubaib adalah orang yang membunuh Harits bin Amir pada perang Badar. Khubaib tingga di sisi mereka sebagai tawanan, sehingga mereka sepakat untuk membunuhnya.
Pernah pada suatu hari Khubaib meminjam pisau kepada salah seorang putri Haris, maka putri itupun meminjaminya, kemudian ada anak kecil yang lalai, sehingga sampai kepada Khubaib. Dia menjumpai anaknya berada di pangkuan Khubaib, padahal pisau cukur itu berada di gengamannya.
Putri Haris berkata: “Saya sangat terkejut, sehingga diketahui oleh Khubaib.” Maka Khubaib bertanya: “Apakah kamu takut aku akan membunuhnya? Sungguh aku tidak akan melakukan hal itu.”
Puteri Harits berkata: “Demi Tuhan, sama sekali saya belum pernah melihat seorang tawanan yang lebih baik dari Khubaib. Demi Allah, pada suatu hari saya pernah menjumpai ia sedang memakan setandan anggur, padahal ia diikat dengan besi dan waktu itu di Makkah tidak ada anggur.” Puteri Harits berkata: “Sesungguhny demikian itu adalah rizky yang telah diberikan Allah kepada Khubaib.”
Ketika mereka membawa Khubaib keluar dari tanah Haram untuk membunuhnya di tanah Halal (luar tanah Haram), maka Khubaib berkata kepada mereka: “Biarkanlah diriku shalat dua rakaat.” Maka mereka meninggalkannya, lalu ia shalat dua rakaat dan berkata: “Demi Allah, kalau saja mereka tidak menyangka, bahwa tiada keluh kesah pada diriku, niscaya aku menambah (dua rakaat lagi).” Kemudian ia berdoa: “Ya Allah, hitunglah jumlah mereka, bunuhlah mereka dengan bercerai-berai, dan janganlah Engkau sisakan seorang pun dari mereka.” Kemudian ia berkata: “Aku tidak peduli, di kala aku terbunuh sebagai seorang muslim. Di sebelah manapun, maka hanya kepada Allah tempat aku terbanting (berbaring). Semua itu terserah kepada Allah, jika Dia menghendaki, maka Dia memberi berkah atas tubuh yang telah dicabik-cabik.”
Khubaib adalah orang yang memberi contoh kepada setiap muslim yang akan dibunuh, dimana ia bersabar dan mengerjakan shalat. Dan diberitakan kepada Tsabit di saat mereka diberi sesuatu dari (jasadnya) yang dapat diketahui. Karena dia pernah membunuh seseorang dari para tokoh mereka. Kemudian Allah mengirim untuk ‘Ashim sekawanan lebah seperti awan hitam, sehingga menyelamatkannya dari para utusan orang-orang Quraisy. Maka mereka tidak kuasa memotong sedikitpun dari (jasad) ‘Ashim).” (HR Bukhari)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Sama sekali saya tidak pernah mendengar Umar ra. mengatakan tentang sesuatu: saya memperkirakan akan terjadi begini, melainkan terjadilah apa yang diperkirakannya itu.” (HR Bukhari)

Doa-Doa

27 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (al-Mu’min: 60)

Firman Allah: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-A’raaf: 55)

Firman Allah: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah] bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku.” (al-Baqarah: 186)

Firman Allah: “Atau siapakah yang memperkenankan [doa] orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” (an-Naml: 62)

Dari Nu’man bin Basyir ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Doa itu adalah ibadah.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: RAsulullah saw. menyukai doa yang mencakup segala macam tujuan permohonan, dan meninggalkan doa selain itu.” (HR Abu Dawud)

Dari Anas ra. ia berkata: doa yang sering dibaca oleh Rasulullah saw. adalah: AllaaHumma aatinaa fiddun-yaa hasanaH wa fil aakhirati hasanaH, waqinaa ‘adzaaban naar (Ya Allah, berilah kebaikan kepada kami di dunia dan akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksaan neraka.) (HR BUkhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Muslim ada tambahan: “Anas apabila hendak berdoa dengan suatu doa, maka ia berdoa dengan membaca doa ini lebih dahulu, atau apabila hendak berdoa dengan suatu doa, maka ia memasukkan doa ini ke dalam doa yang dibacanya.”

Dari Ibn Mas’ud bahwasannya Nabi saw. sering berdoa: AllaaHumma innii as-aluka Hudaa wattuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa (ya Allah, sesungguhnya saya memohon petunjuk, tambahan takwa, terpeliharanya kehormatan diri, dan kekayaan kepada-Mu).” (HR Muslim)

Dari Thariq bin Asy-yam ra. ia berkata: Biasanya apabila seseorang masuk Islam, ia diajari shalat oleh Nabi saw. kemudian Nabi memerintahkannya untuk berdoa dengan kalimat-kalimat berikut: allaaHummaghfirlii warhamnii waHdinii wa ‘aafinii warzuqnii (Ya Allah, berkenanlah Engkau mengampuniku, memberiku rahmat, menunjukiku, menyehatkanku dan memberiku risky)” (HR Muslim)
Dalam riwayat yang lain dikatakan, dari Thariq bahwasannya Nabi saw. kedatangan seseorang kemudian bertanya: “Wahai RAsulallah, bagaimanakah aku harus berkata ketika aku hendak memohon kepada Tuhanku?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: allaaHummaghfirlii warhamnii waHdinii wa ‘aafinii warzuqnii, karena kalimat-kalimat tersebut mengumpulkan urusan duniamu dan akhiratmu.”

Dari Amr bin Ash ia berkata, Rasulullah saw. berdoa: AllaaHumma musharrifal quluubi sharrif quluubanaa ‘alaa thaa-‘atika (Ya Allah, Dzat yang mengubah-ubah hati, ubahlah hati kami untuk taat kepada-Mu)” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Berlindung dirilah kalian kepada Allah daripada beratnya cobaan, tertimpa kesulitan, jeleknya takdir dan cemoohan musuh.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. sering berdoa: AllaaHumma ashlihlii diinilladzii Huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlihlii dun-yaayal latii fiiHaa ma-‘aasyii, wa ashlihlii aakhiratil latii fiiHaa ma-‘aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khaiir, waj’alil mauta raahatan lii min kulli syarrin (Ya Allah, berkenanlah Engkau membuat baik agamaku yang merupakan pemeliharaan urusanku, berkenanlah Engkau membuat baik duniaku yang aku hidup di dalamnya, berkenanlah Engkau membaikkan akhiratku tempat kembaliku. Berkenanlah Engkau menjadikan hidup sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, dan menjadikan mati sebagai istirahat bagiku dan setiap kejahatan.” (HR Muslim)

Dari Ali ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada saya: “Ucapkanlah: AllaaHummaHdinii wassadidnii (Ya Allah tunjukilah saya dan luruskanlah saya).”
Dalam sebuah riwayat dikatakan: AllaaHumma innii as-alukal Hudaa was sadaada (Ya Allah, sesungguhnya aku mohon petunjuk dan kelurusan kepada-Mu).” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. sering berdoa: “AllaaHumma innii a’uudzubika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal Harami wal bukhli, wa a-‘uudzubika min ‘adzaabil qabri, wa a-‘uudzubika min fitnatil mahyaa wal mamaati (Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari lemah, malas, taku, tua dan kikir. Saya berlindung diri kepada-Mu dari siksa kubur, fitnah hidup dan fitnah mati).”
Dalam riwayat lain terdapat tambahan: wa-dlala-ad daini wa ghalabatir rijaali (serta keberatan utang dan paksaan orang lain)” (HR Muslim)

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. bahwasannya ia pernah berkata kepada Rasulullah saw.: “Ajarkanlah kepada saya suatu doa yang harus saya baca di dalam shalat.” Beliau bersabda: “Bacalah: AllaaHumma innii dlalamtu nafsii dlulman katsiiran wa laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta faghfirlii maghfiratan min ‘indika warhamnii innaka antal ghafuurur rahiim (Ya Allah, sesungguhnya saya menganiaya diri sendiri dengan penganiayaan yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau, maka ampunilah saya dengan suatu ampunan dari pada-Mu dan kasihanilah saya, sesungguhnya Engkau Mahapengampun lagi Maha Penyayang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Musa ra. dari Nabi saw. bahwasannya beliau sering berdoa dengan doa ini: AllaaHumagh firlii khathii-atii wa jaHlii wa is-raafii wa maa anta a’lamu biHi minnii, AllaaHummagh firlii jiddii wa Haz-lii wa khatha-ii wa ‘am-dii wa kullu dzaalika ‘indii, AllaaHummagh firlii maa qaddamtu wa maa a akh-khartu wa maa as-rartu wa maa a’lantu wa maa anta a’lamu biHi minnii, antal muqaddimu wa antal mu-akh-khiru wa anta ‘alaa kulli syai-ing qadiir (Ya Allah, berkenanlah Engkau mengampuni kesalahanku, kebodohanku, keterlaluanku dalam segala hal, serta apapun yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Ya Allah, berkenanlah Engkau mengampuni kesungguhanku, kesalahanku dan kesengajaanku, yang mana kesemuanya itu terdapat pada diriku. Ya Allah, berkenanlah Engkau mengampuni dosaku yang telah lalu, dosa yang akan datang, dosa yang kuperbuat dengan sembunyi-sembunyi, maupun terang-terangan, dan segala dosa yang mana Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkau adalah Dzat yang mendahului dan mengakhirkan, serta yang kuasa atas segala sesuatu)” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Nabi saw. membaca doa: “AllaaHumma innii a-‘uudzubika min syarri maa ‘amiltu wa min syarri maa lam a’-lamu (Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari kejelekan yang telah saya kerjakan dan yang belum saya kerjakan)” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Di antara doa-doa Rasulullah saw. adalah : “AllaaHumma inni a-‘uudzubika min zawaali mi’matika, wa tahawwuli ‘aafiyatika, wa fujaa-ati ni’matika, wa jamii-‘i sakhatika (Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, bergesernya kesejahteraan-Mu, mendadaknya cobaan-Mu, dan segala macam murka-Mu)” (HR Muslim)

Dari Zaid bin Arqam ra, ia berkata: Rasulullah saw. sering berdoa dengan doa: “AllaaHumma innii a-‘uudzubika minal ‘ajzi wal kasali wal bukhli wal Harami wa ‘adzaabil qabri, AllaaHuma aati nafsii taqwaaHaa wa zakkiHaa anta khairu man zakkaaHaa, anta waliyyuHaa wa maulaaHaa, AllaaHumaa innii a-‘uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’ wa min qalbin laa yahsya’, wa min nafsin laa tasyba’, wa min da’watin laa yustajaabu laHaa (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung diri kepada-Mu dari kelemahan, malas, kikir, tua dan siksa kubur, dan bersihkanlah hatiku, karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang paling bisa membersihkannya, Engkau adalah pelindung dan penguasanya. Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusuk (tenang), nafsu yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan)” (HR Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwasannya Rasulullah saw. sering berdoa dengan: “AllaaHumma laka as-lamtu, wa bika aamantu, wa ‘alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khaasamtu, wa ilaika haakamtu, faghfirlii maa qaddamtu wa maa akh-khartu wa maa asrartu wa maa a’lantu, antal muqaddimu wa antal mu-akhkhiru, laa ilaaHa illaa anta (Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, beriman, bertawakal, kembali dan hanya bersandar kepada-Mu aku mengambil keputusan. Karena itu berkenanlah Engkau mengampuni dosaku yang telah lewat dan dosa yang akan terjadi, apa yang aku rahasiakan dan apa yang aku tampakkan. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan selain Engkau).
Dalam sebuah riwayat terdapat tambahan: “Laa haula wa laa quwwata illaa billaaH (Tiada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan pertolongan Allah).” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Nabi saw. sering berdoa dengan doa ini: “AllaaHumma innii a-‘uudzubika min fitnatin naari wa ‘adzaabinnaari, wa min syarril ghinaa wal faq-ri (Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari fitnah neraka dan siksa neraka serta dari kaya dan miskin yang jelek)” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Yazid bin ‘Ilaqah dari pamannya yakni Qutbah bin Malik ra. ia berkata: Nabi saw. sering berdoa dengan doa: “AllaaHumma innii a-‘uudzubika min munkaraatil akhlaaqi wal a’maali wal aHwaa-i (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung diri kepada-Mu dari akhlak-akhlak yang munkar, amal perbuatan dan hawa nafsu yang jahat)” (HR Turmudzi)

Dari Syakal bin Humaid ra. ia berkata: Saya bertanya: “Wahai Rasulallah, ajarkanlah kepada saya suatu doa.” Kemudian beliau bersabda: “Ucapkanlah: AllaaHumma innii a-‘uudzubika min syarri sam’i, wa min syarri bashari, wa min syarri lisaanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi (Ya Allah sesungguhny saya berlindung diri kepada-Mu dari jahatnya pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku dan angan-anganku)” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Anas ra. bahwasannya Nabi saw. sering berdoa dengan doa: “AllaaHumma innii a-‘uudzubika minal barashi wal junuuni wal judzaami wa sayyi-il asqaami (Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari penyakit belang, gila, penyakit kusta, dan penyakit-penyakit yang berat).” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. sering berdoa dengan doa: “AllaaHumma innii a-‘uudzubika minal juu-‘i fa innaHuu bi’sadl-dlajii’, wa a-‘uudzubika minal khiyaanati fannaHaa bi’satil bithaanaH (Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari lapar, karena lapar itu adalah sejelek-jelek kawan tidur, dan saya berlindung diri kepada-Mu daripada khianat, karena sesungguhnya khianat itu adalah sejelek-jelek sahabat).” (HR Abu Dawud)

Dari Ali ra. bahwasannya ada seorang budak mukatab datang kepadanya dan berkata: “Sesungguhnya saya tidak mampu membayar angsuran untuk memerdekakan diri saya, maka berilah saya bantuan.” Kemudian Ali berkata: “Maukah kamu saya ajari beberapa kalimat yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada saya, dimana bila kamu mempunyai hutang sebesar gunung misalnya, niscaya Allah akan memberi pertolongan kepadamu untuk segera dapat melunasinya, yaitu bacalah: “AllaaHummakfinii bihalaalika ‘an haraamika waghninii bifadl-lika ‘amman siwaak (Ya Allah cukupkanlah kepadaku rizky yang halal, dan jauhkanlah dari rizky yang haram, serta kayakanlah aku atas karunia-Mu dari semua selain Engkau)” (HR Turmudzi)

Dari Imran bin Hushain ra. bahwasannya Nabi saw. pernah mengajarkan kepada ayahnya yakni Hushain dua kalimat untuk berdoa, yaitu: AllaaHumma alHimnii rusydii, wa a-‘idznii min syarri nafsii (Ya Allah, ilhamkanlah petunjuk kepadaku dan lindungilah aku dari kejahatan atasku) (HR Turmudzi)

Dari Abul Fadl al Abbad bin Abdul Muthalib ra. ia berkata: Saya bertanya: “Wahai Rasulallah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang mana aku harus memohonnya kepada Allah Ta’ala.” Beliau bersabda: “Mohonlah kesejahteraan kepada Allah Ta’ala.” Setelah selang beberapa hari saya datang lagi dan berkata: “Wahai Rasulallah, ajarkanlah sesuatu kepadaku dan yang mana aku harus memohonnya kepada Allah.” Beliau bersabda kepadaku: “Wahai Abbas, paman Rasulullah, mohonlah kesejahteraan di dunia dan di akhirat kepada Allah.” (HR Turmudzi)

Dari Syahr bin Hausyab berkata: Saya pernah bertanya kepada Ummu Salamah ra.: “Wahai Ummul Mukminin, doa apakah yang sering dibaca Rasulullah saw. manakala beliau berada di tempatmu?” Ummul Mukminin menjawab: “Doa yang paling sering beliau baca adalah: Yaa Muqallibal quluubi tabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku untuk memeluk agama-Mu) (HR Turmudzi)

Dari Abu Darda’ ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Di antara doa Nabi Dawud adalah: AllaaHumma innii as-aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal ‘amalul ladzii yuballighunii hubbaka, AllaaHummaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsii wa aHlii wa minal maa-il baaridi (Ya Allah, sesungguhnya saya bermohon kepada-Mu untuk dapat selalu mencintai-Mu dan amal perbuatan yang dapat mengantarkanku untuk mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cinta kepada diriku sendiri, keluargaku, dan melebihi daripada air yang sejuk)” (HR Turmudzi)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Perbanyaklah kalian mengucapkan: Yaa dzal jalaali wal ik-raam (Wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia)” (HR Turmudzi)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Rabi’ah bin Amir Ash Shahabiy.

Dari Abu Umamah ra. ia berkata: Rasulullah saw. berdoa dengan doa yang panjang dimana kami tidak dapat menghafalkan sedikitpun, kemudian kami berkata: “Wahai Rasulallah, engkau berdoa dengan doa yang sangat panjang sehingga kami tidak dapat menghafalnya sedikitpun.” Beliau bersabda: “Maukah kamu sekalian aku tunjukkan tentang doa yang mencakup itu semua? Yaitu ucapan: AllaaHumma inni as-aluka min khairi maa sa-alaka minHu Nabiyyuka Muhammadun. Wa a-‘uudzubika min syarri masta-‘aadzaka minHu Nabiyyuka Muhammadun, wa antal musta-‘aanu wa ‘alaikal balaaghu, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaaHi (Ya Allah, sesugguhnya saya memohon kepada-Mu sebaik-baik apa yang dimohon oleh Nabi-Mu Muhammad saw. dan saya berlindung diri kepada-Mu dari sejelek-jelek apa yang Nabi-Mu Muhammad saw. mohon perlindungan dan hanya kepada-Mulah pantas disampaikan segala keluhan. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah.” (HR Turmudzi)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Di antara doa-doa Rasulullah saw. adalah: AllaaHumma innii as-aluka muujibaati rahmatika wa ‘azaa-imi maghfiratika, was salaamata min kulli itsmin, wal ghaniimata min kulli birrin, wal fauza biljannati minan naari (Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu atas terpenuhinya rahmat-Mu, kepastian ampunan-Mu, selamat dari segala dosa, memperoleh segala kebaikan, serta beruntung mendapatkan surga dan selamat dari api neraka).” (HR Turmudzi)

Prioritas Wala’ (Loyalitas) Kepada Umat Atas Wala’ Terhadap Kabilah dan Individu

27 Jun

Yusuf Qardhawy; Fiqih Prioritas

MAKNA ungkapan tersebut ditegaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw yang menganjurkan kepada kita untuk mendahulukan wala’ kepada jamaah, serta memberikan ikatan emosional terhadap umat, daripada memberikan wala’ kepada kelompok dan keluarga. Sesungguhnya dalam Islam tidak ada individualisme, fanatisme kelompok, dan pemisahan dari jamaah Islam.

Dahulu konsep kabilah/kelompok/suku pada masyarakat jahiliyah merupakan dasar loyalitas dan poros pemberian Perlindungan. Wala’ yang diberikan oleh seseorang kepada kabilahnya harus diberikan pada saat kabilahnya melakukan kebenaran maupun kesalahan; sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair:

Mereka tidak bertanya terlebih dahulu kepada saudara mereka ketika mereka jatuh ke dalam suatu perkara, dan menjadikan jawabannya sebagai bukti.

Motto setiap orang di antara mereka ialah: “Tolonglah saudaramu, baik dia zhalim atau dizhalimi,” yang benar-benar mereka laksanakan.

Setelah datang Islam, maka Islam menetapkan bahwa pembelaan itu hanya milik Allah, RasulNya, dan kaum Muslimin, yakni Umat Islam. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang.” (al-Ma’idah: 55-56)

Mereka kemudian dididik oleh al-Qur’an dan sunnah Nabi saw untuk menjadi saksi keadilan bagi Allah, dengan melepaskan ikatan emosional dan cinta kepada sanak kerabat, serta tidak didasarkan kepada kebencian kepada musuh-musuhnya. Keadilan harus diletakkan di atas emosi dan ditujukan kepada Allah, sehingga seseorang tidak melakukan pemihakan kepada orang yang dicintai olehnya dan merugikan orang yang tidak dia sukai. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum Muslimin kerabatmu. . .” (an-Nisa’: 135)

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil-lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah…” (al-Ma’idah: 8)

Rasulullah saw memakai sebagian ungkapan yang pernah dipergunakan pada zaman Jahiliyah, dan memberi muatan makna yang baru pada ungkapan itu, yang belum pernah dilakukan oleh seseorang sebelumnya. Rasulullah saw bersabda, “Tolonglah saudara, baik dia zhalim atau dizhalimi.” Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, kita boleh menolong kalau dia dizhalimi, lalu bagaimana mungkin kami memberikan pertolongan kalau dia berlaku zhalim?” Rasulullah saw bersabda, “Cegahlah dia untuk tidak melakukan kezhaliman, karena sesungguhaya hal itu merupakan pertolongan baginya.” (25 Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi dari Anas; dan juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir dengan makna
hadits yang sama (lihat Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 1501,
1502)

Dengan cara seperti itu benarlah konsep pemberian bantuan terhadap orang yang zhalim, sehingga yang perlu ditolong ialah hawa nafsunya, menyingkirkan setannya, dan kita perlu
menggandeng tangannya sehingga dia tidak jatuh ke jurang kezhaliman, yang menjadi malapetaka di dunia dan kegelapan di akhirat kelak.

Di samping itu, Rasulullah saw juga memperingatkan kepada kita agar tidak menganjurkan fanatisme, atau melakukan peperangan di bawah panji fanatisme. Barangsiapa yang terbunuh di bawah bendera fanatisme itu, dia dianggap terbunuh dalam kejahiliyahan.

Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa terbunuh di bawah bendera kebutaan (perkara yang tidak jelas hukumnya), menganjurkan fanatisme, dan mendukung fanatisme, maka dia mati dalam kejahiliyahan.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab al-Imarah, no. 1850, dari Jundub bin Abdullah al-Bajali)

Dalam hadits yang lain disebutkan, “Barangsiapa memisahkan diri dari ketaatan dan meninggalkan jamaah, kemudian dia meninggal dunia, maka dia mati dalam kejahiliyahan. Dan barangsiapa berperang di bawah bendera kebutaan, marah karena rasa fanatik, atau menganjurkan orang untuk fanatik, dan mendukung fanatisme, kemudian dia terbunuh, maka dia terbunuh dalam keadaan jahiliyah.” (Juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. hadits no. 1848)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dikatakan, “Tidak termasuk golongan kami orang yang menganjurkan fanatisme, dan juga tidak termasuk golongan kami orang yang berperang karena fanatisme, dan juga tidak termasuk golongan kami orang yang meninggal dunia dalam fanatisme.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab al-Adab min al-Sunan (5121)

“Diriwayatkan dari Watsilah bin al-Asqa’, aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksudkan dengan fanatisme itu?” Beliau menjawab, “Memberikan pertolongan kepada kaummu yang melalaikan kezhaliman.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5119)

Ibn Mas’ud meriwayatkan secara mauquf dan marfu’, “Barangsiapa menolong kaumnya yang melakukan sesuatu yang tidak benar, maka dia bagaikan keledai yang digantung, dengan ikatan pada ekornya.” (Hadits mauquf yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (5117) dan marfu’ (5118)

Imam al-Khattabi berkata, “Artinya, orang itu telah jatuh ke dalam dosa dan hancur, sebagaimana keledai yang terjatuh ke dalam perigi kemudian ia diambil dengan ditarik ekornya, yang akhirnya tidak dapat diselamatkan.”

Nabi saw sangat membenci fanatisme dan berlepas diri darinya, orang-orang yang menganjurkannya, orang-orang yang berperang karenanya, dan orang yang meninggal dunia karena membelanya.Beliau menganjurkan hidup berjamaah, dan menegaskannya dengan sabda, perbuatan, dan ketetapannya. Dia memperingatkan agar orang tidak memisahkan diri darinya, berselisih pendapat, dan menyimpang dari jamaah tersebut. Di antara sabda Nabi saw yang berkaitan dengan perkara ini ialah:

“Tangan Allah berada di atas jamaah.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibn Abbas, Ibn Ashim; dan Hakim dari Ibn Umar, Ibn Abi Ashim, dari Usamah bin Syarik, sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (8065)

“Berjamaah itu adalah rahmat, dan berpecah-belah adalah azab.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad; dan Ibn Abi Ashim dalam as-Sunnah dari Nu’man bin Basyir; sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir)

Dalam lafaz yang lain disebutkan, “Berjamaah itu adalah berkah dan berpecah-belah adalah azab.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman juga dari Nu’man; sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (3014)

“Hendaklah kamu hidup berjamaah, dan janganlah kamu hidup berpecah-belah, karena sesungguhnya setan akan bersama orang yang sendirian, dan dia akan berada lebih jauh dari dua orang. Barangsiapa yang ingin merasakan hembusan angin surga, maka hendaklah dia melazimkan hidup berjamaah.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya dalam al-Jihad (2528). Ibn Majah (2782). di-shahihkan oleh Hakim. 4: 152-153, yang disepakati oleh adz-Dzahabi.)

MENANAMKAN SEMANGAT BERJAMAAH TERHADAP UMAT

Ketika kita berbicara tentang pemberian wala’ kepada kaum Muslimin, umat Islam, ada baiknya kita juga melanjutkannya dengan pembicaraan yang berkaitan dengan urusan masyarakat dan umat, pemberian prioritas dalam tangga kemaslahatan dan tuntutannya.

Kalau kita mau memperhatikan, maka sesungguhnya syari’ah Islam ini sama sekali tidak melalaikan urusan masyarakat, dari segi ibadah, muamalah, sopan santun, dan segala hukum yang berkaitan dengannya.

Semua aturan itu tidak lain adalah untuk menyiapkan setiap individu agar menjadi ‘bagian’ dalam bangunan masyarakat, atau ‘anggota tubuh’ dalam struktur badan yang hidup.

Penggambaran seorang individu yang menjadi ‘bagian’ dari bangunan, atau ‘anggota tubuh’ dalam badan manusia, bukanlah berasal dari pemikiran saya. Tetapi gambaran yang pernahdikemukakan oleh Nabi saw dalam sebuah hadits yang shahih.

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari bahwasanya Nabi saw bersabda, “Orang mukmin dengan mukmin yang lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya.” (Muttafaq ‘Alaih, dari Abu Musa. Lihat al-Lu’lu’ wa al-Marjan (1670)

Dari Nu’man bin Basyir diriwayatkan bahwasanya Nabi saw bersabda, “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah bagaikan sebuah tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuhnya yang mengadu kesakitan, maka anggota tubuh yang lainnya ikut merasakannya, tidak dapat tidur dan merasa demam.” (Muttafaq ‘Alaih, dari Nu’man bin Basyir, lihat al-Lu’lu’ wal-Marjan (1671)

Sesungguhnya Islam, dengan al-Quran dan Sunnah Nabinya, telah menanamkan dalam jiwa kaum Muslimin semangat untuk hidup berjamaah melalui setiap hukum dan ajarannya.

Dalam shalat, kita dianjurkan shalat berjamaah, shalat Jumat, shalat Id. Ada adzan dan ada masjid-masjid yang dibangun. Rasulullah tidak memberikan keringanan kepada orang buta untuk shalat di rumahnya selama dia masih dapat mendengarkan panggilan adzan untuk melakukan shalat. Beliau bahkan pernah hendak membakar rumah suatu kaum Muslimin, karena mereka meninggalkan shalat berjamaah.

Di masjid, seorang Muslim tidak boleh shalat sendirian di belakang barisan orang yang sedang shalat berjamaah, karena hal itu menunjukkan bentuk pemisahan diri dan penyimpangan dari jamaah; walaupun itu hanya bentuk yang tampak saja.

Diriwayatkan dari Wabishah bin Mu’abbad bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang lelaki shalat sendiri di belakang barisan orang yang sedang shalat berjamaah, kemudian beliau memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud (682); Tirmidzi yang menganggapnya sebagai hadits hasan (230); dan Ibn Majah (1004)

Diriwayatkan dari Ali bin Syaiban r.a. berkata, “Kami keluar sehingga kami berjumpa dengan Nabi saw kemudian kamj menyatakan janji setia kepadanya. Kami shalat di belakangnya, kemudian kami shalat di belakangnya shalat yang lain. Kemudian shalat itu selesai. Setelah itu beliau melihat seorang lelaki shalat sendirian di belakang barisan. Lalu Nabi saw berdiri ketika beliau hendak kembali sambil bersabda, “Betulkan shalatmu, karena sesungguhnya tidak ada shalat di belakang barisan.” (38 Diriwayalkan olch Ibn Majah ( 1003), dan disebutkan dalam az-ZIwa tid bahwa isnad hadits ini shahih, danpara perawinya tsiqah (dapat dipercaya).

Oleh sebab itu, orang Muslim yang masuk masjid, kemudian dia menemukan ada suatu jamaah yang sedang melakukan shalat, maka hendaklah dia mencari celah-celah di antara jamaah itu kemudian dia masuk ke dalamnya. Jika tidak ada, maka hendaklah dia menarik salah seorang di antara mereka untuk shalat di sampingnya. Dia tidak boleh shalat sendirian, dan orang yang ditarik itu hendaklah mengikutinya; karena untuk kasus ini dia akan mendapatkan pahala tersendiri.

Sebagian imam mazhab mengambil pengertian lahiriah hadits-hadits tersebut, sehingga mereka menganggap batal orang yang shalat sendirian; sedangkan imam yang lainnya menganggap bahwa hal itu hukumnya makruh.

Arti dari apa yang telah kami sebutkan di atas ialah betapa gigihnya Islam hendak mewujudkan persatuan dan kesatuan, baik dari segi kandungannya maupun bentuknya, dari inti maupun penampakan luarnya.

Kalau ada seorang Muslim yang shalat sendirian, tidak sedang berjamaah, maka dia dianggap mewakili kaum Muslimin dalam memanjatkan doa kepada Tuhannya. Dia menyebut dirinya dengan mengatasnamakan jamaah (kesatuan kaum Muslimin) sehingga dia membaca: “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Berilah petunjuk kepada kami untuk meniti jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 5-6)

Dia tidak memohon pertolongan untuk dirinya sendiri bahkan memohon untuk dirinya dan jamaahnya dalam saat yang sama.

Pada bulan puasa, dia juga tidak berpuasa sendirian. Ketika seseorang melihat bulan sabit pada akhir bulan Ramadhan, dia juga tidak berbuka sendiri; yaitu ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bulan sabit yang menunjukkan kedatangan bulan Syawal itu. Dia berpuasa bersama orang-orang Muslim lainnya, dan juga berbuka puasa bersama-sama dengan mereka, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih.

Begitu pula halnya dengan wukuf di Arafah. Dia melakukan wukuf bersama jamah kaum Muslimin yang sangat banyak.

Ibn Taimiyah pernah ditanya oleh penduduk desa yang melihat bulan sabit Dzulhijjah, tetapi penguasa di Madinah tidak melihatnya. Apakah mereka boleh melakukan puasa 9 Dzulhijjah berdasarkan perhitungan orang desa itu, walaupun pada hakikatnya hari itu adalah 10 Dzulhijjah menurut pendapat penguasa mereka. Dia menjawab, “Ya, mereka boleh berpuasa pada9 Dzulhiljah berdasarkan penglihatan mereka, walaupun menurut penghitungan penguasa hari itu 10 Dzulhijjah; karena ada hadits dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Puasa kamu adalah puasa ketika kamu semua berpuasa, dan hari raya kamu adalah ketika kamu semua berhari raya, dan Id al-Adha-mu adalah ketika kamu semua berhari raya Id al-Adha.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibn Majah, dan Tirmidzi yang men-shahih-kan hadits ini)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hari raya Id al-Fitri ialah ketika semua orang berhari raya Id al-Fitri, dan hari raya Id al-Adha ialah ketika semua orang berhari raya Id al-Adha.” (40 Diriwayatkan oleh Tirmidzi)

Demikianlah amalan menurut pendapat para imam kaum Muslimin. Karena sesungguhaya, apabila semua orang tidak tepat tarikh-nya berada di Arafah pada tanggal sepuluh Dzulhijjah, maka semua imam sepakat bahwa mereka akan tetap diberi pahala wuquf di Arafah. Dan itulah Hari Arafah menurut mereka. (Syarh Ghayah al-Muntaha fi al-Fiqh al-Hanbali, 2: 217-218)

&

Prioritas Studi dan Perencanaan Pada Urusan Dunia

27 Jun

Yusuf Qardhawy; Fiqih Prioritas

KALAU kita pernah mengatakan tentang pentingnya ilmu atas amal dalam berbagai urusan agama, maka kita sekarang ini menegaskan mengenai pentingnya ilmu dalam urusan-urusan dunia.

Kita hidup sekarang ini pada zaman yang segala sesuatu didasarkan atas ilmu pengetahuan. Pada zaman kita sekarang ini sudah tidak lagi menerima hal-hal yang tidak teratur dan mengawur dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan kehidupan dunia.

Semua pekerjaan yang baik mesti didahului dengan studi kelayakan terlebih dahulu, dan harus dipastikan menghasilkan sesuatu yang memuaskan sebelum pekerjaan itu dimulai. Oleh karena itu, mesti ada perencanaan sebelum melakukannya, dan harus diperhitungkan secara matematis dan dilakukan berbagai penelitian sebelum pekerjaan itu dilakukan.

Dalam buku dan kajian-kajian yang lain saya pernah menyebutkan: “Sesungguhnya penelitian, perencanaan, dan studi kelayakan sebelum kerja dilaksanakan merupakan etos kerja yang telah ada pada Islam. Rasulullah saw adalah orang yang pertama kali melakukan perhitungan secara statistik terhadap orang-orang yang beriman kepadanya setelah dia berhijrah ke Madinah al-Munawwarah. Dan kesan dari perencanaan itu begitu terasa pada perjalanan hidup beliau dalam berbagai bentuknya.20

Seharusnya orang yang paling dahulu melakukan perencanaan hari esok mereka ialah para aktivis gerakan Islam, sehingga mereka tidak membiarkan semua urusan mereka berjalan tanpa perencanaan; tanpa memanfaatkan pengalaman di masa yang lalu; tanpa mencermati realitas yang terjadi pada hari ini; tanpa menimbang benar dan salahnya ijtihad yang pernah dilakukan; tanpa menilai untung-ruginya perjalanan umat kemarin dan hari ini; tanpa memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai kemampuan dan fasilitas yang dimiliki oleh umat, baik yang berbentuk material maupun spiritual, yang tampak dan yang tidak tampak, yang produktif dan yang tidak produktif.

Perencanaan yang mereka buat itu mesti memperhatikan sumber kekuatan dan titik-titik kelemahan yang dimiliki oleh umat kita dan musuh-musuh kita; kemudian siapakah sebenarnya musuh kita yang hakiki? Siapakah musuh kita yang abadi dan musuh yang insidental? Siapakah di antara mereka yang mungkin dapat kita manfaatkan dan siapa yang tidak dapat dimanfaatkan? Siapa yang dapat kita ajak berdiskusi dan siapa yang tidak? Semua musuh harus kita pandang secara berbeda, karena pada hakikatnya mereka juga berbeda-beda.

Semua persoalan di atas tidak dapat diketahui kecuali dengan ilmu pengetahuan dan kajian yang objektif, yang sama sekali tidak emosional, bebas dari pelbagai pengaruh individual, ingkungan dan waktu sejauh yang dapat dilakukan oleh manusia; karena sesungguhnya kebebasan yang bersifat mutlak hampir dapat dikatakan mustahil.

Catatan Kaki:
20 Baca buku kami ar-Rasul wal-‘Ilm, cet. Mu’assasah
ar-Risalah, Beirut dan Darus-Shahwah Islamiyyah.

&

Prioritas Pemahaman Atas Hafalan

27 Jun

Yusuf Qardhawy; Fiqih Prioritas

ADA baiknya saya mengingatkan di sini –ketika kita berbicara tentang prioritas pengetahuan atas amal perbuatan—kepada sesuatu yang penting, yang juga termasuk di dalam perbincangan kita mengenai fiqh prioritas. Yaitu prioritas pemahaman atas penguasaan yang sekadar hafalan. Ilmu yang hakiki ialah ilmu yang betul-betul kita fahami dan kita cerna dalam otak kita.

Itulah yang sebenarnya diinginkan oleh Islam dari kita; yaitu pemahaman terhadap ajaran agama, dan bukan sekadar belajar agama; sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah SWT: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (at-Taubah: 122)

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan, “Barangsiapa dihendaki Allah mendapatkan kebaikan, maka Dia akan memberinya pemahaman tentang agamanya.”15

Fiqh merupakan sesuatu yang lebih dalam dan lebih spesifik dibandingkan dengan ilmu pengetahuan. Sesungguhnya fiqh itu mencakup pemahaman, dan juga pemahaman yang mendalam. Oleh karena itu, Allah SWT menafikannya dari orang-orang kafir dan orang-orang munafik, ketika Dia memberikan sifat kepada mereka: “… disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (al-Anfal 65)

Dalam hadits Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan oleh Muslim dikatakan, “Manusia itu bagaikan barang tambang, seperti layaknya tambang emas dan perak. Orang yang baik pada zaman jahiliyah adalah orang yang baik pada zaman Islam apabila mereka memiliki pemahaman yang baik.”

Dalam hadis Abu Musa yang dimuat di dalam Shahihain dikatakan, “Perumpamaan Allah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu pengetahuan adalah seperti hujan lebat yang menyirami tanah. Di antara tanah itu ada yang gembur yang bisa menerima air, kemudian menumbahkan rerumputan yang lebat. Kemudian ada pula tanah cadas yang dapat menghimpun air sehingga airnya dapat dimanfantkan oleh manusia. Mereka minum, memberi minum kepada binatang ternak, dan bercocok tanam dengannya. Tetapi ada juga tanah yang sangat cadas dan tidak dapat menerima air, tidak dapat menumbuhkan tanaman. Begitulah perumpamaan orang yang memahami ajaran agama Allah dan memanfaatkan ajaran yang aku diutus untuk menyampaikannya. Dia memahami kemudian mengajarkannya. Dan begitulah orang yang tidak mau mengangkat kepalanya dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus untuk menyampaikannya.’16

Hadits ini mengumpamakan apa yang dibawa oleh Nabi, berupa petunjuk dan ilmu pengetahuan, laksana air hujan yang menghidupkan tanah yang mati, bagaikan ilmu agama yang menghidupkan hati yang telah mati. Orang yang menerima ajaran agama itupun bermacam-macam, seperti beraneka ragamnya tanah yang menerima air hujan. Tingkatan orang yang paling tinggi ialah orang yang memahami ilmu pengetahuan, memanfaatkannya, kemudian mengajarkannya.

Ia bagaikan tanah yang subur dan bersih, yang airnya dapat diminum, serta menumbuhkan berbagai macam tanaman di atasnya. Tingkatan yang berada di bawahnya ialah orang yang mempunyai hati yang dapat menyimpan, tetapi dia tidak mempunyai pemahaman yang baik dan mendalam pada akal pikiran mereka, sehingga dia dapat membuat kesimpulan hukum yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain… Mereka adalah orang-orang yang hafal, dan bila ada orang yang datang memerlukan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, maka dia dapat memberikan manfaat hafalan itu kepadanya.

Orang-orang seperti inilah yang dapat dimanfaatkan ilmu pengetahuan mereka. Kelompok orang seperti ini diumpamakan seperti tanah cadas yang mampu menampung air, sehingga datang orang yang meminum airnya, atau memberi minum kepada binatang ternaknya, atau
menyirami tanaman mereka. Itulah yang diisyaratkan dalam sebuah hadits yang sangat terkenal: “Semoga Allah memberi kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataanku kemudian dia menghafalnya, lalu menyampaikannya sebagaimana yang dia dengarkan. Bisa jadi orang yang membawa fiqh bukanlah seorang faqih, dan bisa jadi orang yang membawa fiqh ini
membawanya kepada orang yang lebih faqih daripada dirinya.”17

Sedangkan kelompok ketiga ialah orang-orang yang tidak memiliki pemahaman dan juga tidak ahli menghafal, tidak punya ilmu dan tidak punya amal. Mereka bagaikan tanah cadas yang tidak dapat menampung air dan tidak dapat dimanfaatkan oleh orang lain.18

Hadits tersebut menunjukkan bahwa manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah dan rasul-Nya ialah orang-orang yang memahami dan mengerti, disusul dengan orang yang menghafal. Disitulah letak kelebihan orang yang faham atas orang yang menghafal; dan letak kelebihan fuqaha atas para huffazh. Dalam qurun yang terbaik bagi manusia –yaitu tiga abad pertama di dalam Islam– kedudukan dan kepeloporan berada di tangan para faqih, sedangkan pada masa-masa kemunduran, kedudukan dan kepeloporan itu ada para hafizh.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa hafalan sama sekali tidak mempunyai arti dan nilai, serta ingatan yang dimiliki oleh manusia itu tidak ada gunanya. Tidak, ini tidak benar. Saya hanya ingin mengatakan: “Sesungguhnya hafalan hanyalah sebagai gudang data dan ilmu pengetahuan; untuk kemudian dimanfaatkan. Menghafal bukanlah tujuan itu sendiri, tetapi ia adalah sarana untuk mencapai yang lainnya. Kesalahan yang banyak dilakukan oleh kaum Muslimin ialah perhatian mereka kepada hafalan lebih tinggi daripada pemahaman, dan memberikan hak dan kemampuan yang lebih besar kepadanya.

Oleh karena itu, kita menemukan penghormatan yang sangat berlebihan diberikan kepada para penghafal al-Qur’an, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka. Sehingga berbagai perlombaan untuk itu seringkali dilakukan di berbagai negara, yang menjanjikan hadiah yang sangat besar nilainya; hingga mencapai puluhan ribu dolar untuk seorang pemenang. Ini perlu kita hargai dan kita syukuri.

Akan tetapi, sangat disayangkan hadiah seperti itu, atau setengahnya, bahkan seperempatnya, tidak diberikan kepada orang-orang yang mencapai prestasi gemilang di dalam ilmu-ilmu syariah yang lainnya; seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, fiqh, usul fiqh, aqidah, dan da’wah; padahal keperluan umat kepada orang-orang seperti ini lebih banyak, di samping itu manfaat yang diperoleh dari mereka juga lebih besar.

Di antara persoalan yang sangat memalukan dalam dunia pendidikan di negara kita ialah bahwa pendidikan itu kebanyakan didasarkan kepada hafalan dan “kebisuan”, serta tidak didasarkan kepada pemahaman dan pencernaan. Oleh karena itu, kebanyakan pelajar lupa apa yang telah dipelajarinya setelah dia menempuh ujian. Kalau apa yang mereka pelajari didasarkan atas pemahaman dan contoh yang nyata, maka hal itu akan masuk ke dalam otak mereka, dan tidak mudah hilang dari ingatan.

Catatan Kaki:

15 Muttafaq Alaih, dari Mu’awiyah. al-Lu’lu’ wa al-Marjan
(615)
16 Muttafaq ‘Alaih, dari Mu’awiyah, al-Lu’lu’ wal-Marjan
(1471)
17 Hadits ini diriwayatkan dalam beberapa redaksi yang berbeda
dari Zaid bin Tsabit, Ibn Mas’ud dan lain-lain. Sebagaimana
disebutkan di dalam Shahih al-Jami’as-Shaghir (6763-6766)
18 Lihatlah penjelasan hadits ini di dalam at-Fath, 1 :177;
Nawawi meriwayatkannya dari Muslim, yang kemudian dikutip oleh pengarang al-Lu’lu’ wa al-Marjan. h. 601

&

Prioritas Maksud dan Tujuan Atas Penampilan Luar

27 Jun

Yusuf Qardhawy; Fiqih Prioritas

DI ANTARA persoalan yang termasuk di dalam fiqh prioritas ini ialah tujuan. Yakni menyelami pelbagai tujuan yang terkandung di dalam syari’ah, mengetahi rahasia dan sebabsebabnya, mengaitkan antara satu sebab dengan sebab yang lain, mengembalikan cabang kepada pokoknya, mengembalikan hal-hal yang parsial kepada yang universal, dan tidak menganggap cukup mengetahui penampakan dari luar, serta jumud di dalam memahami nash-nash syari’ah tersebut.

Sebagaimana diketahui, dari nash yang bermacam-macam, yang berasal dari al-Qur’an dan Sunnah, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian hukum yang parsial dalam berbagai bentuk peribadahan dan muamalah, hubungan antara keluarga, hubungan sosial, politik, dan hubungan internasional, bahwa syari’ah ini memiliki berbagai tujuan yang terkandung pada setiap hal yang disyari’ahkan olehnya, baik berupa perintah maupun larangan; ataupun berupa hukum yang mubah.

Agama ini tidak mensyari’ahkan sesuatu dengan sewenang-wenang, tetapi dia dalam syari’ah yang dibuatnya terkandung hikmah yang sesuai dengan kesempurnaan Allah SWT, ilmu-Nya, rahmat-Nya, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Di antara nama-Nya yang mulia ialah “Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”. Allah SWT Maha Bijaksana dengan apa yang disyari’ahkan dan Dia perintahkan. Dia juga Maha bijaksana dalam hal yang berkaitan dengan apa yang Dia ciptakan kemudian Dia menetapkan ukurannya. Kebijaksanaan-Nya tampak pada dunia perintah-Nya, sebagaimana tampak juga di dalam dunia penciptaan. Allah SWT berfirman: “… Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah…” (al A’raf: 54)

Karena Dia tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia, maka juga tidak pernah menetapkan syari’ah yang kaku dan tidak berguna. Orang-orang yang bijak berkata tentang apa yang diciptakan oleh Tuhan

“… Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali ‘Imran: 151)

Kita juga dapat mengatakan, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau tidak menetapkan syari’ah ini kecuali dengan hikmah yang terkandung di dalamnya.”

Kekeliruan yang sering kali dilakukan oleh orang-orang yang menggeluti ilmu agama ini ialah bahwasanya mereka hanya mengambang di permukaan dan tidak turun menyelam ke dasarnya, karena mereka tidak memiliki keahlian dalam berenang dan menyelam ke dasarnya, untuk mengambil mutiara dan batu mulianya. Mereka hanya disibukkan dengan hal-hal yang ada di permukaan, sehingga tidak sempat mencari rahasia dan tujuan yang sebenarnya. Mereka dilalaikan oleh perkara-perkara cabang saja dan bukan perkara-perkara yang utama. Mereka menampilkan agama Allah, dan hukum-hukum syari’ahnya atas hamba-hamba-Nya dalam bentuk yang bermacam-macam, dan tidak menampilkan dalam bentuknya yang universal. Bentuk-bentuk itu tidak dikaitkan dengan satu sebab yang menyatukannya, sehingga syari’ah agama Allah hanya tampak seperti yang diucapkan oleh lidah mereka, dan yang ditulis oleh pena mereka. Syari’ah seakan-akan tidak mampu mewujudkan kemaslahatan bagi makhluk Allah, padahal kegagalan itu sebenarnya bukan pada syari’ah, tetapi pada pemahaman mereka yang memutuskan keterkaitan antara sebagian hukum dengan sebagian yang lain. Mereka tidak peduli bila tindakan mereka memisahkan antara hal-hal yang sama, atau menyamakan hal-hal yang sebetulnya berbeda; padahal hal itu sama sekali tidak pernah dinyatakan oleh syari’ah.

Seringkali penyimpangan pada hal-hal yang lahiriah seperti ini mempersempit apa yang sebenarnya telah diluaskan oleh Allah, mempersulit hal-hal yang dipermudah oleh syari’ah, membuat stagnasi persoalan yang sepatutnya dapat dikembangkan, serta mengikat hal-hal yang seharusnya dapat diperbarui dan kembangkan.

&

Prioritas Perkara Pokok Atas Perkara Cabang

27 Jun

Prioritas dalam Perkara yang Diperintahkan
Yusuf Qardhawy; Fiqih Prioritas

PERHATIAN utama yang harus kita berikan dalam perkara yang diperintahkan ini ialah memberikan prioritas kepada perkara pokok atas cabang. Yaitu mendahulukan perkara-perkara pokok, mendahulukan hal-hal yang berkaitan dengan iman dan tauhid kepada Allah, iman kepada para malaikatNya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir; yang dikatakan sebagai rukun iman sebagaimana dijelaskan oleh al-Qur’an: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi…” (al-Baqarah:177)

“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami tobat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”” (al-Baqarah: 285)

“… Barangsiapa kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan lari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (an-Nisa’: 136)

Tidak ada ayat yang menyebutkan iman kepada takdir sekaligus memasukkannya ke dalam pokok aqidah, karena sesungguhnya iman kepada takdir ini sudah termasuk di dalam iman kepada Allah SWT. Iman kepada takdir merupakan bagian dari iman kepada kesempurnaan Ilahi, ilmu-Nya yang meliputi segalanya, kehendak-Nya yang luas, dan kekuasaan-Nya yang pasti.

Aqidah adalah masalah pokok, sedang syari’ah adalah perkara cabang.

Iman adalah perkara pokok, sedangkan amalan merupakan perkara cabang.

Kami tidak ingin memperpanjang perbincangan para ahli ilmu kalam di sekitar hubungan amal dan iman, apakah amal merupakan bagian dari iman, ataukah dia merupakan buah darinya? Apakah iman merupakan syarat bagi terwujudnya amal sekaligus bukti bagi kesempurnaannya?

Keimanan yang benar harus membuahkan amalan. Sejauh keimanan yang dimiliki oleh seseorang, maka akan sejauh itu pula amal perbuatannya, dan sejauh itu pula dia melakukan perintah yang diberikan kepadanya, serta menjauhi larangannya.

Amal perbuatan yang tidak dilandasi dengan iman yang benar tidak akan ada nilainya di sisi Allah SWT; sebagaimana digambarkan oleh al-Qur’an berikut ini: “… bagaikan fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (an-Nur: 39)

Oleh karena itu, perkara paling utama untuk didahulukan dan harus diberi perhatian yang lebih daripada yang lainnya adalah meluruskan aqidah, memurnikan tauhid, memberantas kemusyrikan dan khurafat, mengokohkan benih-benih keimanan dalam hati, sehingga membuahkan hasil yang bisa dinikmati dengan izin dari tuhannya, yang akhirnya kalimat tauhid “La ilaha illa Allah” dapat bersemayam di dalam jiwa, menjadi cahaya hidup, menerangi gelapnya pemikiran manusia dan kegelapan perilakunya.

Al-Muhaqqiq Ibn al-Qayyim berkata, “Ketahuilah bahwa pancaran sinar ‘La ilaha illa Allah’ akan dapat menghancurkan noda-noda dosa sesuai dengan kadar kekuatan dan kelemahan pancaran cahaya itu. Orang yang memiliki pancaran cahaya inipun bermacam-macam kekuatan dan kelemahannya, dan tidak akan ada orang yang dapat menghitungnya kecuali Allah SWT. Di antara manusia terpadat orang yang memiliki cahaya itu di dalam hatinya bagaikan matahari; ada yang cahaya di dalam hatinya itu bagaikan bintang; ada cahaya yang bagaikan api yang membara; ada yang seperti lentera; dan yang terakhir sekali bagaikan lampu yang sangat lemah sinarnya.”

Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak cahaya-cahaya itu akan tampak sesuai dengan kadar keimanan yang dimiliki oleh manusia. Cahaya itu akan memancar sesuai dengan ilmu dan amal, makrifat dan keadaan cahaya kalimat yang memancar dari hati manusia.

Semakin besar pancaran cahaya kalimat itu di dalam hati manusia, maka ia akan membakar segala bentuk syubhat dan hawa nafsu sesuai dengan kekuatannya. Sehingga kadar pembakaran itu sampai kepada tingkat pembersihan yang sangat sempurna terhadap syubhat dan syahwat; yang pada akhirnya tidak ada dosa kecuali dosa itu akan dibakar olehnya. Itulah keadaan orang yang tauhidnya benar, yang tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Allah SWT.

Siapa yang memahami makna uraian tersebut, maka dia akan mengetahui makna sabda Nabi saw, “Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan api neraka kepada orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah, semata-mata untuk mencapai keridhaan-Nya.”

“Tidak akan masuk api neraka orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah,”

Dan juga sabda-sabda beliau yang lainnya yang banyak membuat kemusykilan bagi manusia, sehingga mereka menduga bahwa hadits-hadits itu telah dihapuskan. Ada pula yang menyangka bahwa hadits-hadits itu diturunkan sebelum turunnya perintah dan larangan, serta mapannya syari’ah ini. Sebagian yang lain mengartikannya api kaum musyrik dan kafir. Dan ada pula yang mentakwilkan dengan masuk selama-lamanya ke dalam neraka, dan berkata, “Maknanya ialah tidak memasuki neraka tersebut selama-lamanya.” Dan lain-lain pentakwilan yang kurang menyenangkan.

Penetap syari’ah agama ini –Nabi saw– tidak menjadikan hal itu bisa dicapai dengan hanya mengucapkan melalui lidah saja. Dan inilah yang sepatutnya diketahui oleh orang banyak ketika mereka menjalankan ajaran agama ini. Kalimat itu harus diucapkan melalui hati dan lidah. Ucapan melalui hati ini mencakup pengetahuan, pembenaran terhadap kalimat tersebut, dan pengetahuan terhadap hakikat yang dikandungnya. Ada yang dinafikan dan ada yang ditetapkan. Seseorang mesti mengetahui hakikat Ilahiah yang harus dinafikan dari selain Allah, karena ia hanya kbusus bagi-Nya; serta ada sesuatu yang sangat mustahil dimiliki oleh sesuatu selain Allah SWT. Wujudnya makna seperti ini di dalam hati –secara ilmu, ma’rifah, keyakinan dan kenyataan– sudah pasti dapat menyelamatkan orang yang mengucapkannya dari api neraka.

Orang yang mengucapkan kalimat ini dengan lidahnya, tidak memperhatikan maknanya, dan tidak menghayatinya, dan ucapan lidahnya tidak sampai kepada hatinya, tidak mengetahui kadar dan hakikatnya, tetapi dia mengharapkan pahala darinya, maka dia hanya akan diperhitungkan berdasarkan apa yang terdapat di dalam hatinya. Karena sesungguhnya semua amal perbuatan tidak akan diberi keutamaan dari segi bentuk luarnya dan kuantitasnya. Amal buatan manusia akan diperhitungkan menurut keyakinan yang telah ada di dalam hatinya. Dua hal ini (bentuk luar dan keyakinan dalam hati) akan dihitung sebagai satu kesatuan. Perbedaan di antara kedua hal ini adalah bagaikan langit dan bumi. Sebagaimana adanya dua orang yang shalat pada satu baris, tetap kedudukan shalat mereka berbeda seperti langit dan bumi. [Madarij al-Salikin, 1:329-331]

&

Prioritas Hak Masyarakat Atas Hak Individu

27 Jun

Yusuf Qardhawy; Fiqih Prioritas

SUATU prioritas yang mesti kita berikan perhatian ialah kewajiban yang berkaitan dengan hak orang ramai yang harus kita dahulukan atas kewajiban yang berkaitan dengan hak individu. Sesungguhnya seorang individu tidak akan dapat mempertahankan dirinya tanpa orang ramai, dan dia juga tidak dapat hidup sendirian; karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk bermasyarakat; seperti yang dikatakan oleh para ilmuwan Muslim terdahulu. Manusia adalah makhluk sosial sebagaimana dikatakan oleh ilmuwan modern. Seseorang akan sedikit nilainya kalau dia sendirian, dan akan banyak nilainya kalau dia bersama-sama orang ramai. Bahkan dia dianggap tiada ketika dia sendirian, dan baru dianggap ada ketika dia dengan kumpulannya.

Atas dasar itu, kewajiban yang berkaitan dengan hak orang ramai atau umat harus lebih diutamakan daripada kewajiban yang berkaitan dengan hak individu.

Oleh karena itu, para ulama menetapkan apabila terjadi pertentangan antara kewajiban berperang –yang hukumnya fardhu kifayah– dengan berbakti kepada orangtua, maka berbakti kepada orangtua harus didahulukan, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits-hadits shahih yang telah kami sebutkan di atas. Akan tetapi, apabila perang berubah hukumnya menjadi fardhu ain, yaitu apabila orang-orang kafir menyerang negeri kaum Muslimin, maka perang diwajibkan atas semua penduduk negara itu untuk mempertahankan negara mereka. Jika ada bapak atau ibu –karena alasan-alasan emosional– menolak keikutsertaan anaknya dalam perang mempertahankan negara, maka sesungguhnya penolakan itu tidak dibenarkan oleh agama.

Memang benar, sesungguhnya berbakti dan mentaati kedua orangtua merupakan fardhu ain, dan perang dalam keadaan seperti itu juga fardhu ain; namun kefardhuan perang di sini adalah untuk mempertahankan umat secara menyeluruh, termasuk kedua orangtua itu. Kalau tidak, maka negara akan jatuh ke tangan musuh, atau seluruh penduduknya terbunuh, termasuk kedua orang itu. Oleh karena itu, perang pada kondisi seperti ini adalah untuk kemaslahatan orang banyak.

Perang dalam hal ini merupakan hak Allah, dan berbakti adalah hak kedua orangtua, dan hak Allah harus didahulukan atas hak makhluk-Nya.

Uraian tersebut merupakan penegasan terhadap apa yang dikatakan sebelumnya. Kebanyakan, kalimat ‘hak Allah’ dipergunakan sebagai ungkapan yang mewakili hak orang banyak atau umat, karena sesungguhnya Allah SWT tidak memperoleh keuntungan di balik semua hukum tersebut. Hukum-hukum itu pada awal dan akhirnya adalah untuk kepentingan hamba-hamba-Nya.

Sebagai penerapan terhadap kaidah ini, kita harus mendahulukan hak umat atas hak individu. Imam al-Ghazali dan lainnya membolehkan penembakan terhadap kaum Muslimin apabila mereka dijadikan sebagai benteng musuh (yaitu apabila mereka dipergunakan sebagai benteng musuh yang diletakkan pada barisan terdepan) dengan syarat-syarat tertentu; padahal tidak diperselisihkan lagi bahwa menjaga pertumpahan darah kaum Muslimin adalah wajib, dan kita tidak boleh menumpahkan darah mereka dengan cara yang tidak benar. Lalu bagaimana al-Ghazali membolehkan penembakan terhadap orang-orang Muslim yang tidak bersalah itu ketika mereka berada di barisan terdepan tentara musuh?

Sesungguhnya Imam Ghazali dan ulama yang sepakat dengan pendapatnya membolehkan hal itu adalah untuk melindungi orang banyak, menjaga umat dari kehancuran, karena sesungguhnya individu dapat diganti, sedangkan umat tidak akan ada gantinya.

Para fuqaha mengatakan, “Kalau musuh kita mempergunakan kaum Muslimin sebagai benteng pertahanan mereka, ketika mereka dijadikan sebagai tawanan; kemudian mereka ditempatkan pada barisan tentara yang terdepan, untuk melindungi tentara mereka sendiri; dan kalau kita tidak menghancurkan pasukan tentara musuh itu akan membahayakan umat Islam, maka kaum Muslimin yang dijadikan sebagai tameng itu boleh kita bunuh. Pasukan tentara kaum Muslimin boleh membunuh mereka, walaupun darah mereka harus dilindungi karena mereka tidak berdosa apa-apa. Sesungguhnya keadaan darurat untuk memberikan perlindungan kepada umat secara menyeluruh sangat memerlukan pengorbanan orang-orang yang dijadikan sebagai benteng itu. Kalau tidak, maka dikhawatirkan Islam akan tercabut dari akarnya dan dikuasai oleh orang-orang kafir. Dan pahala orang-orang itu kita serahkan kepada Allah.” (21 Lihat Imam al-Ghazali, al-Mustashfa, 1: 294-295)

Oleh karena itu, Imam Ghazali menjawab penolakan orang-orang yang tidak setuju dengan praktek tersebut: “Ini merupakan penumpahan darah orang yang harus dilindungi dan diharamkan darahnya. praktek seperti itu bertentangan dengan hukum agama, karena sesungguhnya bila praktek serupa itu tidak dijalankan, maka tidak akan terjadi pertumpahan darah yang tidak dibenarkan. Namun kita mengetahui, bahwasanya agama ini sangat memperhatikan hak orang banyak daripada hak orang sedikit. Sesungguhnya menjaga kaum Muslimin agar tidak jatuh ke tangah orang-orang kafir adalah lebih penting daripada melaksanakan salah satu tujuan syari’ah agama ini, yaitu melindungi darah seorang Islam. Hal ini lebih penting daripada mencapai tujuan syari’ah itu.” ( Ibid., 1:303 )

Pendapat di atas –sebagaimana yang kami lihat– didasarkan atas fiqh pertimbangan.

Contoh yang serupa dengan ini ialah apabila terjadi kondisi darurat perang yang mewajibkan pembayaran pajak atas orang-orang yang mampu, dan mewajibkan orang-orang kaya untuk membiayai peperangan. Sesungguhnya syari’ah agama ini menekankan dan mewajibkannya, sebagaimana disebutkan dalam pelbagai nas yang ditulis oleh para ahli fiqh. Pada kondisi biasa (keadaan damai) mereka tidak dibebani kewajiban untuk membayar apa-apa selain zakat. Imam Ghazali mengemukakan argumentasi bagi pendapatnya sebagai berikut: “Karena sesungguhnya kita mengetahui bahwa apabila ada dua bahaya yang kita hadapi, maka syari’ah agama ini menganjurkan kepada kita untuk menolak bahaya yang lebih besar. Dan sesungguhnya bayaran yang dikenakan kepada setiap orang yang kaya (yang dibebani tambahan pembayaran pajak) adalah lebih kecil bahayanya atas diri mereka dan harta bendanya daripada bahaya yang timbul apabila negara Islam dikuasai oleh penguasa dari luar Islam yang nantinya akan menguasai aturan yang berlaku di negara itu. Dengan adanya tambahan pembayaran pajak itu kita dapat memotong segala macam kejahatan yang diperkirakan akan timbul.” (Imam al-Ghazali, al-Mustashfa, 1: 303-304; lihat
as-Syathibi, al-I’tisham, 2: 121-122, cet. Syirkah al-I’lanat
as-Syarqiyyah)

Kasus yang sama dengan ini ialah pembebasan tawanan kaum Muslimin dari tangan orang-orang kafir, walaupun untuk ini memerlukan biaya yang sangat tinggi. Imam Malik berkata, “Kaum Muslimin diwajibkan untuk menebus tawanan yang ada di tangan musuh, walaupun untuk melakukannya diperlukan seluruh kekayaan mereka.” (Abu Bakar Ibn ‘Arabi, Ahkam al-Qur’an, 59-60)

Mengapa? Karena kehormatan para tawanan itu terdiri atas kaum Muslimin, dan kehormatan kaum Muslimin berada di atas kehormatan yang lebih khusus, yaitu harta kekayaan yang
dimiliki oleh para individu.

&

Prioritas Ilmu Atas Amal

27 Jun

Yusuf Qardhawy; Fiqih Prioritas

Di antara pemberian prioritas yang dibenarkan oleh agama ialah prioritas ilmu atas amal. Ilmu itu harus didahulukan atas amal, karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan. Dalam hadits Mu’adz disebutkan, “ilmu, itu pemimpin, dan amal adalah pengikutnya.”

Oleh sebab itu, Imam Bukhari meletakkan satu bab tentang ilmu dalam Jami’ Shahih-nya, dengan judul “Ilmu itu Mendahului Perkataan dan Perbuatan.” Para pemberi syarah atas buku ini menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksudkan dalam judul itu harus menjadi syarat bagi ke-shahih-an perkataan dan perbuatan seseorang. Kedua hal itu tidak dianggap shahih kecuali dengan ilmu; sehingga ilmu itu didahulukan atas keduanya. Ilmulah yang membenarkan niat dan membetulkan perbuatan yang akan dilakukan. Mereka mengatakan: “Bukhari ingin mengingatkan orang kepada persoalan ini, sehingga mereka tidak salah mengerti dengan pernyataan ‘ilmu itu tidak bermanfaat kecuali disertai dengan amal yang pada gilirannya mereka meremehkan ilmu pengetahuan dan enggan mencarinya.”

Bukhari mengemukakan alasan bagi pernyataannya itu dengan mengemukakan sebagian ayat al-Qur’an dan hadits Nabi saw: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas dosa orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan…” (Muhammad: 19)

Oleh karena itu, Rasulullah saw pertama-tama memerintahkan umatnya untuk menguasai ilmu tauhid, baru kemudian memohonkan ampunan yang berupa amal perbuatan. Walaupun perintah di dalam ayat itu ditujukan kepada Nabi saw, tetapi ayat ini juga mencakup umatnya.

Dalil yang lainnya ialah ayat berikut ini: “… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…” (Fathir: 28)
Ilmu pengetahuanlah yang menyebabkan rasa takut kepada Allah, dan mendorong manusia kepada amal perbuatan.

Sementara dalil yang berasal dari hadits ialah sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka dia akan diberi-Nya pemahaman tentang agamanya.”2
Karena bila dia memahami ajaran agamanya, dia akan beramal, dan melakukan amalan itu dengan baik.

Dalil lain yang menunjukkan kebenaran tindakan kita mendahulukan ilmu atas amal ialah bahwa ayat yang pertama kali diturunkan ialah “Bacalah.” Dan membaca ialah kunci ilmu pengetahuan; dan setelah itu baru diturunkan ayat yang berkaitan dengan kerja; sebagai berikut: “Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah.” (al-Muddatstsir: 1-4)

Sesungguhnya ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amal perbuatan, karena ilmu pengetahuanlah yang mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil dalam keyakinan umat manusia; antara yang benar dan yang salah di dalam perkataan mereka; antara perbuatan-perbuatan yang disunatkan dan yang bid’ah dalam ibadah; antara yang benar dan yang tidak benar di dalam melakukan muamalah; antara tindakan yang halal dan tindakan yang haram; antara yang terpuji dan yang hina di dalam akhlak manusia; antara ukuran yang diterima dan ukuran yang ditolak; antara perbuatan dan perkataan yang bisa diterima dan yang tidak dapat diterima.

Oleh sebab itu, kita seringkali menemukan ulama pendahulu kita yang memulai karangan mereka dengan bab tentang ilmu pengetahuan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali ketika menulis buku Ihya’ ‘Ulum al-Din; dan Minhaj al-‘Abidin. Begitu pula yang dilakukan oleh al-Hafizh al-Mundziri dengan bukunya at-Targhib wat-Tarhib. Setelah dia menyebutkan hadits-hadits tentang niat, keikhlasan, mengikuti petunjuk al-Qur’an dan sunnah Nabi saw; baru dia menulis bab tentang ilmu pengetahuan.

Fiqh prioritas yang sedang kita perbincangkan ini dasar dan porosnya ialah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui apa yang mesti didahulukan dan apa yang harus diakhirkan. Tanpa ilmu pengetahuan kita akan kehilangan arah, dan melakukan tindakan yang tidak karuan.

Benarlah apa yang pernah diucapkan oleh khalifah Umar bin Abd al-Aziz, “Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.”3
Keadaan seperti ini tampak dengan jelas pada sebagian kelompok kaum Muslimin, yang tidak kurang kadar ketaqwaan, keikhlasan, dan semangatnya; tetapi mereka tidak mempunyai ilmu pengetahuan, pemahaman terhadap tujuan ajaran agama, dan hakikat agama itu sendiri.

Seperti itulah sifat kaum Khawarij yang memerangi Ali bin Abu Thalib r.a. yang banyak memiliki keutamaan dan sumbangan kepada Islam, serta memiliki kedudukan yang sangat dekat dengan Rasulullah saw dari segi nasab, sekaligus menantu beliau yang sangat dicintai oleh beliau. Kaum Khawarij menghalalkan darahnya dan darah kaum Muslimin yang mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT.

Mereka, kaum Khawarij ini, merupakan kelanjutan dari orang-orang yang pernah menentang pembagian harta yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw, yang berkata kepada beliau dengan kasar dan penuh kebodohan: “Berbuat adillah engkau ini!” Maka beliau bersabda, “Celaka engkau! Siapa lagi yang adil, apabila aku tidak bertindak adil. Kalau aku tidak adil, maka engkau akan sia-sia dan merugi. ”

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Sesungguhnya perkataan kasar yang disampaikan kepada Rasulullah saw ialah ‘Wahai Rasulullah, bertaqwalah engkau kepada Allah.” Maka Rasulullah saw menyergah ucapan itu sambil berkata, “Bukankah aku penghuni bumi yang paling bertaqwa kepada Allah?”

Orang yang mengucapkan perkataan itu sama sekali tidak memahami siasat Rasulullah saw untuk menundukkan hati orang-orang yang baru masuk Islam, dan pengambilan berbagai kemaslahatan besar bagi umatnya, sebagaimana yang telah disyari’ahkan oleh Allah SWT dalam kitab suci-Nya. Rasulullah saw diberi hak untuk melakukan tindakan terhadap shadaqah yang diberikan oleh kaum Muslimin. Lalu bagaimana halnya dengan harta pampasan perang?

Ketika sebagian sahabat memohon izin kepada Rasulullah saw untuk membunuh para pembangkang itu, beliau yang mulia melarangnya; kemudian memperingatkan mereka tentang munculnya kelompok orang seperti itu dengan bersabda: “Kalian akan meremehkan (kuantitas) shalat kalian dibandinglan dengan shalat yang mereka lakukan, meremehkan (kuantitas ) puasa kalian dibandingkan dengan puasa yang mereka lakukan; dan kalian akan meremehkan (kuantitas) amal kalian dibandingkan dengan amal mereka. Mereka membaca al-Qur’an tetapi tidak lebih dari kerongkongan mereka. Mereka menyimpang dari agama (ad-Din) bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.”

Makna ungkapan “fidak lebih dari kerongkongan mereka” ialah bahwa hati mereka tidak memahami apa yang mereka baca, dan akal mereka tidak diterangi dengan bacaan ayat-ayat itu. Mereka sama sekali tidak memanfaatkan apa yang mereka baca itu, walaupun mereka banyak mendirikan shalat dan melakukan puasa.

Di antara sifat yang ditunjukkan oleh Nabi tentang kelompok itu ialah bahwa, “Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala.”4

Kesalahan fatal yang dilakukan oleh mereka bukanlah terletak pada perasaan dan niat mereka, tetapi lebih berada pada akal pikiran dan pemahaman mereka. Oleh karena itu, mereka dikatakan dalam hadits yang lain sebagai: “Orang-orang muda yang memilih impian yang bodoh.” 5

Mereka baru diberi sedikit ilmu pengetahuan, dengan pemahaman yang tidak sempurna, tetapi mereka tidak mau memanfaatkan kitab Allah padahal mereka membacanya dengan sangat baik, tetapi bacaan yang tidak disertai dengan pemahaman. Mungkin mereka memahaminya dengan cara yang tidak benar, sehingga bertentangan dengan maksud ayat yang diturunkan oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, Imam Hasan al-Bashri memperingatkan orang yang tekun beribadah dan beramal, tetapi tidak membentenginya dengan ilmu pengetahuan dan pemahaman. Dia mengucapkan perkataan yang sangat dalam artinya, “Orang yang beramal tetapi tidak disertai dengan ilmu pengetahuan tentang itu, bagaikan orang yang melangkahkan kaki tetapi tidak meniti jalan yang benar. Orang yang melakukan sesuatu tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu itu, maka dia akan membuat kerusakan yang lebih banyak daripada perbaikan yang dilakukan. Carilah ilmu selama ia tidak mengganggu ibadah yang engkau lakukan. Dan beribadahlah selama ibadah itu tidak mengganggu pencarian ilmu pengetahuan. Karena ada sebagian kaum Muslimin yang melakukan ibadah, tetapi mereka meninggalkan ilmu pengetahuan, sehingga mereka keluar dengan pedang mereka untuk membunuh umat Muhammad saw. Kalau mereka mau mencari ilmu pengetahuan, niscaya mereka tidak akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan itu.”6

ILMU MERUPAKAN SYARAT BAGI PROFESI KEPEMIMPINAN POLITIK, MILITER, DAN KEHAKIMAN

Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan syarat bagi semua profesi kepemimpinan, baik dalam bidang politik maupun administrasi. Sebagaimana yang dilakukan oleh Yusuf as ketika berkata kepada Raja Mesir: ” … sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 54-55)

Yusuf as menunjukkan keahliannya dalam pekerjaan besar yang ditawarkan kepadanya, yang mencakup pengurusan keuangan, ekonomi, perancangan, pertanian, dan logistik pada waktu itu. Yang terkandung di dalam keahlian itu ada dua hal; yakni penjagaan (yang lebih tepat dikatakan “kejujuran”) dan ilmu pengetahuan (yang dimaksudkan di sini ialah pengalaman dan kemampuan). Kenyataan itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh salah seorang anak perempuan Nabi besar dalam surah al-Qashash: “… karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (al-Qashash: 26)

Ia juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam dunia militer; sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT ketika memberikan alasan bagi pemilihan Thalut sebagai raja atas bani Israil: “… Nabi (mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu pengetahuan yang luas dan tubuh yang perkasa…” (al-Baqarah, 247)

Pedoman itu juga sepatutnya diberlakukan dalam dunia kehakiman, sehingga orang-orang yang hendak diangkat menjadi hakim diharuskan memenuhi syarat seperti syarat yang diberlakukan bagi orang yang hendak menjadi khalifah. Untuk menjadi hakim itu tidak cukup hanya dengan menyandang sebagai ulama yang bertaqlid kepada ulama lainnya. Karena pada dasarnya, ilmu pengetahuan merupakan kebenaran itu sendiri dengan berbagai dalilnya, dan bukan ilmu pengetahuan yang diberitahukan oleh Zaid atau Amr. Orang-orang yang bertaqlid kepada manusia yang lainnya tanpa ada alasan yang membenarkan tindakannya, atau ada alasannya tetapi sangat lemah, maka orang itu dianggap tidak mempunyai ilmu pengetahuan.

Keputusan hukum yang diterima dari orang yang melakukan taqlid, adalah sama dengan kekuasaan yang dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan, yang sangat penting. Akan tetapi ada batasan-batasan tertentu dan minimal bagi ilmu pengetahuan yang mesti dikuasai oleh hakim itu. Jika tidak, maka dia akan membuat keputusan hukum berdasarkan kebodohan dan akan menjadikannya sebagai penghuni neraka.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah dari Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga golongan hakim. Dua golongan berada di neraka, dan satu golongan lagi berada di surga. Yaitu seorang yang mengetahui kebenaran kemudian dia membuat keputusan hukum dengan kebenaran itu, maka dia berada di surga. Seorang yang memberikan keputusan hukum yang didasarkan atas kebodohannya, maka dia berada di neraka. Kemudian seorang yang mengetahui kebenaran tetapi dia melakukan kezaliman dalam membuat keputusan hukum, maka dia berada di neraka.”7

PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI MUFTI (PEMBERI FATWA)

Persoalan yang serupa dengan kehakiman ialah pemberian fatwa. Seseorang tidak boleh memberikan fatwa kepada manusia kecuali dia seorang yang betul-betul ahli dalam bidangnya, dan memahami ajaran agamanya. Jika tidak, maka dia akan mengharamkan yang halal dan menghalalkan hal-hal yang haram; menggugurkan kewajiban, mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, menetapkan hal-hal yang bid’ah dan membid’ahkan hal-hal yang disyariahkan; mengkafirkan orang-orang yang beriman dan membenarkan orang-orang kafir. Semua persoalan itu, atau sebagiannya, terjadi karena ketiadaan ilmu dan fiqh. Apalagi bila hal itu disertai dengan keberanian yang sangat berlebihan dalam memberikan fatwa, serta melanggar larangan bagi siapa yang mau melakukannya.

Hal ini dapat kita lihat pada zaman kita sekarang ini, di mana urusan agama telah menjadi barang santapan yang empuk bagi siapa saja yang mau menyantapnya; asal memiliki kemahiran dalam berpidato, keterampilan menulis; padahal al-Qur’an, sunnah Nabi saw, dan generasi terdahulu umat ini sangat berhati-hati dalam menjaga hal ini. Tidak ada orang yang berani melakukan hal itu kecuali orang-orang yang benar-benar mempunyai keahlian di dalam bidangnya, serta memenuhi syarat untuk persoalan tersebut. Betapa sulit sebenarnya untuk memenuhi syarat-syarat itu.

Sebenarnya Nabi saw sangat tidak suka kepada orang yang tergesa-gesa memberikan fatwa pada zamannya. Ada sebagian orang yang memberikan fatwa kepada salah seorang di antara mereka yang terluka ketika mereka berjinabat untuk mandi, tanpa mempedulikan luka yang dideritanya. Sehingga hal itu menyebabkan kematiannya. Maka Rasulullah saw bersabda, “Karena mereka telah membunuhnya, maka semoga Allah akan membunuh mereka! Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak tahu. Sebenarnya kalau mereka mau bertanya, maka orang itu bisa sembuh. Sebenarnya bagi orang seperti itu hanya cukup bertayammum saja…” 8

Lihatlah bagaimana Rasulullah saw menganggap bahwa fatwa yang diberikan oleh mereka sama dengan pembunuhan terhadap orang tersebut, sehingga beliau mendoakan mereka, “Semoga Allah juga membunuh mereka.” Oleh karena itu, fatwa yang keluar dari kebodohan dapat membunuh jiwa dan membawa kerusakan. Dan pada akhirnya, Ibn al-Qayyim dan ulama yang lainnya sepakat untuk mengharamkan pemberian fatwa dalam urusan agama tanpa disertai dengan ilmu pengetahuan; berdasarkan firman Allah SWT: “… dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raf: 33)

Banyak sekali hadits, qaul sahabat, dan generasi terdahulu umat ini yang melarang pemberian fatwa bagi orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan.
Ibn Sirin berkata, “Seorang lelaki yang mati dalam keadaan bodoh itu lebih baik daripada dia mati dalam keadaan berkata tentang sesuatu yang dia tidak mempunyai ilmu pengetahuan tentang itu.”

Abu Hushain al-Asy’ari berkata, “Sesungguhnya salah seorang di antara mereka ada yang memberi fatwa dalam suatu masalah. Jika hal ini berlaku pada zaman Umar, maka dia akan mengumpulkan para pejuang Perang Badar.”
Lalu, bagaimana bila Umar melihat keberanian orang pada zaman kita sekarang ini?

Ibn Mas’ud dan Ibn ‘Abbas berkata, “Barangsiapa memberi fatwa kepada orang ramai tentang apa saja yang mereka tanyakan kepadanya, maka dia termasuk orang gila.”
Abu Bakar berkata, “kangit mana yang melindungi diriku dan bumi mana yang akan menjadi tempat pijakanku, kalau aku mengatakan sesuatu yang tidak kuketahui.”

Ali berkata, “Hatiku menjadi sangat tenang –dia mengucapkannya sebanyak tiga kali– bila ada seorang lelaki yang ditanya tentang sesuatu yang dia ketahui, tetapi dia tetap mengatakan, ‘Allah yang Maha Tahu.'”
Ibn al-Musayyab, tokoh senior tabi’in, apabila dia hendak memberikan fatwa dia berkata, “Ya Allah, selamatkan aku, dan benarkan apa yang keluar dari diriku.”

Semua ini menunjukkan bahwa kita perlu sangat berhati-hati dalam memberikan fatwa. Selain itu, fatwa harus diberikan oleh orang-orang yang betul-betul memiliki ilmu pengetahuan, wawasan yang luas, wara’, yang menjaga diri dari setiap kemaksiatan, tidak menuruti hawa nafsunya sendiri atau hawa nafsu orang lain.

Atas dasar uraian tersebut, sangatlah mengherankan bila para pelajar ilmu syariah –kebanyakan pelajar yang baru masuk pada fakultas ini– tergesa gesa memberikan fatwa dalam berbagai persoalan yang sangat pelik, problema yang sangat penting, mendahului para ulama besar, dan bahkan berani menentang para imam mazhab besar, para sahabat yang mulia, dengan menyombongkan diri seraya mengatakan, “Mereka orang lelaki, dan kamipun orang lelaki.”

Pertama-tama yang diperlukan oleh seseorang yang hendak memberikan fatwa ialah mengukur kemampuan dirinya sendiri, kemudian memahami berbagai tujuan syari’ah, memahami hakikat dan kenyataan hidup. Akan tetapi,sangat disayangkan bahwa mereka tertutup oleh penghalang yang sangat besar, yaitu ketertipuan dengan diri mereka sendiri. Sesungguhnya tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT.

PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI DA’I DAN GURU (MUROBI)

Jika ilmu pengetahuan harus dimiliki oleh orang yang bergelut dalam dunia kehakiman dan fatwa, maka dia juga diperlukan oleh dunia da’wah dan pendidikan. Allah SWT berfirman: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata…” (Yusuf: 108)

Setiap juru da’wah –dari pengikut Nabi saw– harus melandasi da’wahnya dengan hujjah yang nyata. Artinya, da’wah yang dilakukan olehnya mesti jelas, berdasarkan kepada hujjah-hujjah yang jelas pula. Dia harus mengetahui akan dibawa ke mana orang yang dida’wahi olehnya? Siapa yang dia ajak? Dan bagaimana cara dia berda’wah?

Oleh karena itu, mereka berkata tentang orang rabbani: yaitu orang yang berilmu, beramal, dan mengajarkan ilmunya; sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT: “… akan tetapi (dia) berkata, ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu telah mempelajarinya.” (Ali ‘Imran: 79)

Ibn Abbas memberikan penafsiran atas kata “rabbani” sebagai para ahli hikmah sekaligus fuqaha.9
Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan rabbani ialah orang yang mengajar manusia dengan ilmu kecilnya sebelum ilmu itu menjadi besar.

Yang dimaksud dengan ilmu kecil ialah ilmu yang sederhana dan persoalannya jelas. Sedangkan ilmu besar ialah ilmu yang pelik-pelik. Ada pula yang mengatakan bahwa rabbani ialah orang yang mengajarkan ilmu-ilmu yang parsial sebelum ilmu-ilmu yang universal, atau ilmu-ilmu cabang sebelum ilmu-ilmu yang pokok, ilmu-ilmu pengantar sebelum ilmu-ilmu yang inti.10

Yang dimaksudkan dengan pernyataan itu ialah bahwa pengajaran itu dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan kondisi dan kemampuan orang yang diajarnya, sehingga dapat ditingkatkan sedikit demi sedikit.

Persoalan yang perlu diperhatikan oleh orang yang bergerak dalam bidang da’wah dan pendidikan ialah bahwa juru da’wah dan pendidik itu mesti mengambil jalan yang paling mudah dan bukan jalan yang susah; memberikan kabar gembira dan tidak menakut-nakuti mereka; sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang disepakati ke-shahih-annya oleh Bukhari dan Muslim, “Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari.”11

Al-Hafizh ketika memberikan penjelasan terhadap hadits ini mengatakan, “Yang dimaksudkan dengan hal ini ialah menarik simpati hati orang yang hampir dekat dengan Islam, dan tidak melakukan da’wah dengan cara yang keras dan kasar pada awal mula kegiatan da’wah itu. Begitu pula hendaknya kecaman terhadap orang yang suka melakukan kemaksiatan. Kecaman itu hendaknya dilakukan secara bertahap. Karena sesungguhnya sesuatu yang pada tahap awalnya dapat dilakukan dengan mudah, maka orang akan bertambah senang untuk memasukinya dengan hati yang lapang. Pada akhirnya, dia akan bertambah baik sedikit demi sedikit. Berbeda dengan cara berda’wah yang dilakukan dengan keras dan kasar.” 12

Yang dimaksudkan dengan perkataan ,mempermudah, di situ bukanlah terbatas pada orang-orang yang hampir dekat hatinya dengan Islam, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Hafizh, tetapi ia berlaku lebih umum dan permanen. Misalnya mempermudah jalan bagi orang yang hendak melakukan taubat, atau kepada setiap orang yang memerlukan keringanan; seperti orang yang sakit atau sudah tua usianya, atau orang yang berada di dalam keadaan yang mendesak.

Di antara keharusan yang berlaku di dalam ilmu pengetahuan ialah upaya untuk mencari ilmu-ilmu agama sejauh kemampuan yang dimiliki oleh seseorang, sesuai dengan kadar kemampuan otaknya untuk menerima ilmu pengetahuan tersebut. Dia tidak boleh mengucapkan sesuatu yang tidak cocok dengan akal pikirannya, sehingga hal itu malah berbalik menjadi fitnah bagi dirinya dan juga kepada orang lain. Sehubungan dengan hal ini Ali r.a. berkata, “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pengetahuan mereka. Tinggalkan apa yang tidak cocok dengan akal pikiran mereka. Apakah engkau menghendaki mereka mengatakan sesuatu yang bohong terhadap Allah dan rasul-Nya?” 13

Ibn Mas’ud r.a. berkata, “Engkau tidak layak menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kadar kemampuan otak mereka. Jika tidak, maka engkau akan menimbulkan fitnah pada sebagian orang itu.”14.

Catatan Kaki:
1 Diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Barr dan lainnya dari Mu’adz, sebagai hadits marfu’ dan mauquf, tetapi hadits ini lebih benar digolongkan kepada hadits mauquf.
2 Baca, Shahih al-Bukhari dan Fath al-Bari, 1:158-162, cet. Dar al-Fikr yang disalin dari naskah lama.
3 Baca Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih, karangan Ibn ‘Abd al-Barr, 1:27, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah
4 Lihatlah sifat-sifat mereka dalam buku al-Lu’lu’ wa al-Marjan fima Ittafaqa ‘alaih al-Syaikhani, khususnya hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Jabir, Abu Sa’id, Ali, dan Sahal bin Hunaif (638-644).
5 Hadits Ali, Ibid.
6 Ucapan ini dikutip oleh Ibn Hazm dalam bukunya, Miftah Dar al-Sa’adah, h. 82
7 Diriwayatkan oleh para penulis Sunan Arba’ah dan al-Hakim; sebagai mana diriwayatkan oleh Thabrani dan Abu Ya’la, dan Baihaqi dari Ibn Umar; seperti yang dimuat di dalam al-Jami’ as-Shaghir. (4446) dan (4447).
8 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Jabir, dan diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Ibn ‘Abbas. Lihat Shahih al-Jami’ as-Shaghir (4362) dan (4363).
9 Hal ini disebutkan oleh Bukhari ketika memberikan komentar pada bab “Ilmu” dalam Shahih-nya. Al-Hafizh berkata dalam Fath-nya, “Hadits ini sampai Ibn Abi ‘Ashim dengan isnad hasan. Dan juga diriwayatkan oleh al-Khathib dengan isnad hasan yang berbeda.” 1: 161
10 al-Fath, 1: 162
11 Diriwayatkan oleh al-Syaikhani dari Anas, sebagaimana disebutkan di dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan
12 al-Fath, 1: 163
13 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-‘Ilm, secara mauquf atas Ali r.a. (Lihar al-Fath. 1 225)
14 Diriwayatkan oleh Muslim dalam mukadimah as-Shahih secara mauquf atas Ibn Mas’ud. Ibid.

&

Prioritas Ijtihad Atas Taqlid

27 Jun

Yusuf Qardhawy; Fiqih Prioritas

PEMBAHASAN mengenai prioritas ijtihad dan pembaruan atas pengulang-ulangan dan taqlid, berkaitan erat dengan fiqh maksud dan tujuan syari’ah seperti yang telah kami bahas di muka, serta berkaitan pula dengan masalah pemahaman dan hafalan.

Ilmu, menurut para ulama salaf umat ini, bukan sekadar pengetahuan tentang hukum, walaupun diperoleh dari hasil taqlid kepada orang lain atau mengutip perkataannya dengan
tidak memiliki hujjah yang memuaskan. Dengan kata lain, dia mengetahui kebenaran melalu orang lain, dan mengikuti pendapat orang banyak yang tidak berdalil.

Ilmu, menurut mereka sekali lagi, ialah ilmu yang independen, yang disertai dengan hujjah, dan tidak perduli apakah ilmu ini disepakati oleh Zaid atau Amr. Ilmu ini tetap berjalan bersama dengan dalilnya ke manapun ia pergi. Dia berputar bersama kebenaran yang memuaskan di manapun berada.

Ibn al-Qayyim mengemukakan hujjah berkenaan dengan larangan dan celaan melakukan taqlid berdasarkan firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyei pengetahuan tentangnya…” (al-Isra’: 36)

Dia berkata, “Taqlid itu bukanlah pengetahuan yang disepakati oleh ahli ilmu pengetahuan itu.” Dalam I’lam al-Muwaqqi’in, ia menyebutkan lebih dari delapan puluh macam taqlid yang tidak benar, dan penolakannya terhadap syubhat yang dilakukan oleh para pelakunya.”19

Kalau kejumudan pada lahiriah nash dianggap tercela, sebagaimana yang dilakukan oleh pengikut mazhab Zhahiriyah lama dan baru, maka celaan juga patut dikenakan terhadap kejumudan terhadap apa yang dikatakan oleh para tokoh terdahulu, tanpa mempedulikan perkembangan yang terjadi antara zaman kita dan zaman mereka, keperluan kita dan keperluan mereka, pengetahuann kita dan pengetahuan mereka. Saya kira, kalau mereka sempat hidup pada zaman kita sekarang ini sehingga mereka dapat melihat apa yang kita lihat, mereka hidup seperti kita hidup sekarang ini –pada posisi mereka sebagai orang yang mampu melakukan ijtihad dan berpandangan luas– maka mereka akan banyak mengubah fatwa dan hasil ijtihad yang telah mereka lakukan.

Bagaimana tidak? Sahabat-sahabat mereka, yang datang sesudah periode mereka banyak yang telah melakukan pengubahan, dikarenakan terjadinya perbedaan waktu dan zamannya, walaupun sebenarnya jarak waktu antara kelompok pertama dan kelompok yang kedua tidak begitu jauh. Bagaimana tidak, para imam ahli ijtihad itu sendiri telah banyak melakukan perubahan terhadap pendapat mereka ketika mereka masih hidup, karena mengikuti perubahan ijtihad yang baru mereka lakukan, bisa jadi karena pengaruh umur, kematangan, zaman, atau tempat mereka melakukan ijtihad?

Imam Syafi’i r.a. sebelum pindah dan menetap di Mesir dia telah mempunyai mazhab yang dikenal dengan “Qaul qadim” (pendapat lama); kemudian setelah dia menetap di Mesir, dia
mempunyai mazhab baru yang dikenal dengan “Qaul jadid” (pendapat baru). Hal ini terjadi karena dia baru melihat apa yang belum pernah dia lihat sebelumnya, dan dia baru mendengar apa yang belum dia dengar sebelum itu.

Imam Ahmad juga meriwayatkan bahwa dalam satu masalah dia mengeluarkan pandangan yang berbeda-beda. Hal ini tidak lain karena sesungguhnya fatwanya dikeluarkan pada situasi dan kondisi yang berbeda.

Catatan Kaki:
19 Lihat I’lam al-Muwaqqi’in, juz 2, h. 168-260, cet.
Al-Sa’adah Mesir, yang ditahqiq oleh Muhammad Muhyiddin Abd al-Hamid.

&