Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (1)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

tulisan arab alquran surat az zukhruf ayat 1-8BismillaaHir rahmaanir rahiim (Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang)
“1. Haa Miim[1]. 2. demi kitab (Al Quran) yang menerangkan. 3. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). 4. dan Sesungguhnya Al Quran itu dalam Induk Al kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar Tinggi (nilainya) dan Amat banyak mengandung hikmah. 5. Maka Apakah Kami akan berhenti menurunkan Al Quran kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?6. berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. 7. dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. 8. Maka telah Kami binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya dari mereka itu (musyrikin Mekah) dan telah terdahulu (tersebut dalam Al Quran) perumpamaan umat-umat masa dahulu.” (az-Zukhruf: 1-8)

[1] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Allah Ta’ala berfirman: haamiim. Wal kitaabil mubiin (“haamiim. Demi Kitab [al-Qur’an] yang menerangkan.”) yaitu yang jelas, tegas dan lugas makna-makna dan lafazhnya. Karena al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang merupakan bahasa interaktif manusia yang paling fasih. Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: innaa ja-‘alnaaHu qur-aanan (“Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an”) yang Kami turunkan; ‘arabiyyan (“Dalam bahasa Arab”) yaitu dengan bahasa Arab yang fasih dan jelas. La-‘allakum ta’qiluuna (“Supaya kamu memahaminya”) yaitu supaya kalian memahami dan merenungkannya, sebagaimana firman Allah: bilisaanin ‘arabiyyim mubiin (“Dengan bahasa Arab yang jelas”)(asy-Syu’araa’: 195)

Firman Allah: wa innaHuu fii ummil kitaabi ladainaa la-‘aliyyin hakiim (“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk al-Kitab [Lauhul Mahfudh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [nilainya] dan amat banyak mengandung hikmah.”) yaitu, Dia menjelaskan kemuliaannya di alam atas, agar dimuliakan, diagungkan dan ditaati oleh penghuni bumi. Maka Allah berfirman: wa innaHuu (“Dan sesungguhnya dia”) yaitu al-Qur’an, fii ummil kitaabi (“Dalam induk al-Kitab”) yaitu di Lauhul Mahfudh. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas dan Mujahid.
Ladainaa; yaitu di sisi Kami, itulah yang dikatakan oleh Qatadah dan lain-lain.
La-‘liyyun (“Adalah yang benar-benar tinggi [nilainya]”) yaitu, memiliki kedudukan yang agung, mulia dan utama. Itulah yang dikatakan Qatadah.
Hakiimun (“Amat banyak mengandung hikmah”) yaitu dipenuhi hikmah dan bebas dari kerancuan dan penyimpangan. Semua ini merupakan peringatan tentang kemuliaan dan keutamaanya. Sebagaimana firman Allah: innaHuu laqur-aanung kariim. Fii kitaabim maknuun. Laa yamussuHuu illal mutaHHaruun. Tanziilum mirrabbil ‘aalamiin (“Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara [Lauhul mahfudh], tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Rabb semesta alam.”)(al-Waaqi’ah: 77-80)

Dan firman Allah yang artinya: “Sekali-sekali jangan [demikian]! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam Kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis [malaikat], yang mulia lagi berbakti.” (‘Abasa: 11-16)

Untuk itu, para ulama mengambil istinbath dari dua ayat ini, bahwa orang yang berhadats tidak boleh menyentuh mushaf, karena para malaikat sangat mengagungkan mushaf yang di dalamnya tercakup al-Qur’an di alam atas, maka para penghuni bumi tentu saja lebih tepat untuk mengagungkannya, karena al-Qur’an turun kepada mereka dan pembicaraannya diarahkan untuk mereka, sehingga mereka lebih berhak mensikapinya dengan penuh penghormatan dan pengagungan serta ketundukkan dan penyerahan diri. Berdasarkan firman Allah: “Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk al-Kitab [Lauhul mahfudh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [nilainya] dan amat banyak mengandung hikmah.” Dan firman Allah: “Maka, apakah Kami akan berhenti menurunkan al-Qur’an kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?”

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maknanya. Satu pendapat mengatakan bahwa maknanya adalah, apakah kalian mengira bahwa Kami akan memaafkan kalian, sehingga Kami tidak akan mengadzab kalian dan kalian semaunya saja tidak mau melaksanakan perintah yang terkandung di dalamnya. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Abu Shalih, Mujahid, as-Suddi dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

Qatadah berkata tentang firman Allah: afa nadl-ribu ‘angkumudz dzik-ra shaf-han (“Maka apakah Kami akan berhenti menurunkan al-Qur’an kepadamu?”) yaitu demi Allah, seandainya al-Qur’an itu diangkat ketika para pendahulu ummat ini menolaknya, niscaya mereka akan binasa. Akan tetapi Allah berkenan mengembalikannya dengan kekuasaan dan rahmat-Nya. Dia mengulangnya kepada mereka dan menyerukan mereka selama 20 tahun, atau sesuai kehendak Allah. Pendapat Qatadah ini mempunyai makna sangat dalam yang kesimpulannya bahwa karena kelembutan dan kasih sayang Allah kepada para makhluk-Nya, tidak ditinggalkan-Nya mengajak mereka kepada kebaikan dan kepada adz-Dzikrul Hakim, yaitu al-Qur’an, sekalipun mereka termasuk orang-orang yang melampaui batas dan berpaling darinya. Bahkan Dia tetap memerintahkan mereka agar orang yang ditakdirkan mendapatkan hidayah dapat meraih hidayahnya dan dapat tegaknya hujjah bagi orang yang ditentukan kesengsaraannya.

(bersambung ke bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: