Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (13)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

Wa naadau yaa maaliku (“Mereka berseru: ‘Hai Malik.’”) yaitu penjaga neraka. al-Bukhari meriwayatkan dari Shafwan bin Ya’la, bahwa ayahnya berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. membaca di atas mimbar: Wa naadau yaa maaliku liyaqdli ‘alainaa rabbuka (“Mereka berseru: ‘Hai Malik. Biarlah Rabbmu membunuh kami saja.’”) yaitu menggenggam ruh-ruh kami, lalu kami dapat beristirahat dari hukuman yang kami derita. Sesungguhnya [keadaan] mereka seperti firman Allah Ta’ala: “Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak [pula] diringankan dari mereka adzabnya.” (Faathir: 36) dan firman Allah: “Orang-orang yang celaka [kafir] akan menjauhinya. [Yaitu] orang-orang yang akan memasuki api yang besar [neraka]. kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak [pula] hidup.” (al-A’laa: 11-13)

Ketika mereka meminta kematian, maka Malik menjawab mereka: qaala innakum maa kitsuuna (“Dia menjawab: ‘Kamu akan tetap tinggal [di neraka ini].”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Dia telah tinggal seribu tahun, kemudian dia berkata: ‘Sesungguhnya kalian akan tetap tinggal.’” (HR Ibnu Abi Hatim). Artinya kalian tidak akan keluar dan tidak dapat lolos darinya. Kemudian Dia menceritakan tentang sebab kecelakaan mereka, yaitu sikap mereka yang menentang dan menyelisihi kebenaran. Dia berfirman: laqad ji’naakum bil haqqi (“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepadamu.”) telah Kami jelaskan, telah Kami tegaskan, dan Kami rinci tentangnya kepada kalian.
Wa laa kinna aktsarakum lilhaqqi kaariHuuna (“Tetapi kebanyakan di antara kamu benci kepada kebenaran itu.”) yaitu, akan tetapi orang seperti kalian tidak akan menerimanya. Dia hanya tunduk dan membanggakan kebathilan, menghalangi dan menolak kebenaran serta membenci pelakunya. Maka kembalikanlah penyesalan itu kepada diri-diri kalian sendiri dan menyesallah, dimana penyesalan itu tidak berguna lagi.

Firman Allah: am ab-ramuu amran fa innaa mub-rimuuna (“Bahkan mereka telah menetapkan satu tipu daya [jahat] maka sesungguhnya Kami akan membalas tipu daya mereka.”) Mujahid berkata: “Mereka hendak melakukan tipu daya jahat, maka Kami balas tipu daya mereka.” Apa yang dikatakan Muhahid ini seperti firman Allah: “Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar [pula], sedang mereka tidak menyadari.” (an-Naml: 50). Hal itu karena orang-orang musyrik mencari-cari celah dalam menolak kebenaran dengan kebathilan melalui berbagai celah dan tipu daya yang mereka tempuh. Maka, Allah Ta’ala menipu daya mereka dan mengembalikan bencananya kepada mereka sendiri. Untuk itu Allah berfirman: am yahsabuuna annaa laa nasma’u sirraHum wa najwaaHum (“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka.”) yaitu, rahasia dan terus-terangnya mereka. Balaa wa rusulunaa ladaiHim yaktubuuna (“Sebenarnya [Kami mendengar], dan utusan-utusan [malaikat-malaikat] Kami selalu mencatat di sisi mereka.”) yaitu, Kami mengetahui apa yang ada pada mereka, begitu pula para Malaikat mencatat amal-amal mereka, baik kecil maupun besar.

tulisan arab alquran surat az zukhruf ayat 81-89“81. Katakanlah, jika benar Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak, Maka Akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu). 82. Maha suci Tuhan yang Empunya langit dan bumi, Tuhan yang Empunya ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.83. Maka Biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.84. dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. 85. dan Maha suci Tuhan yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. 86. dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya). 87. dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, Maka Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )?, 88. dan (Allah mengetabui) Ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman”.
89. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan Katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).” (az-Zukhruf: 81-89)

Allah berfirman: qul (“Katakanlah”) hai Muhammad. In kaana lir rahmaani waladun fa ana awwalul ‘aabidiina (“Jika benar [Rabb] Yang Mahapemurah mempunyai anak, maka akulah [Muhammad] yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu seandainya memang demikian, niscaya aku akan menyembahnya, karena aku adalah seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya yang menaati seluruh apa yang diperintahkan-Nya kepadaku, tidak ada kesombongan dan keengganan sedikitpun dariku. Seandainya pengandaian ini terjadi, niscaya itulah yang terjadi, akan tetapi tentu saja hal itu mustahil bagi hak Allah Ta’ala. Syarat itu tidak pasti dan juga tidak boleh terjadi. Sebagaimana Allah berfirman: “Kalau sekirannya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Dia-lah Allah Yang Mahaesa lagi Mahamengalahkan.” (az-Zummar: 4)

Dikatakan bahwa kata “in” di sini bukan sebagai syarat, akan tetapi sebuah nafyu [penolakan], sebagaimana ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah: qul in kaana lir rahmaani waladun (“Katakanlah: jika benar [Rabb] yang Mahapemurah mempunyai anak.”) yaitu Allah Yang Maharahman tidaklah memiliki anak dan aku orang yang pertama-tama bersaksi.” Mujahid berkata: “Fa ana awwalul ‘aabidiina (“Maka akulah [Muhammad] orang yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu orang yang pertama mengabdi dan mengesakan-Nya, serta orang yang pertama-tama mendustakan kalian.” Al-Bukhari berkata: “Fa ana awwalul ‘aabidiina (“Maka akulah [Muhammad] orang yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu tunduk kepadanya.”
(bersambung ke bagian 14)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: