Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (14)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

As-suddi berkata: “qul in kaana lir rahmaani waladun Fa ana awwalul ‘aabidiina (“Katakanlah: jika benar [Rabb] yang Mahapemurah mempunyai anak. Maka akulah [Muhammad] orang yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu, seandainya Dia memiliki anak, maka akulah yang pertama menyembahnya, tetapi Dia tidak memiliki anak.”
Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Jarir, ia menyebutkan ucapan yang mengatakan bahwa kata “in” adalah nafyu (penolakan).

Untuk itu Allah berfirman: subhaana rabbis samaawaati wal ardli rabbil ‘arsyi ‘ammaa yashifuuna (“Mahasuci Rabb Yang mempunyai langit dan bumi, Rabb Yang mempunyai ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.”) yaitu, Mahatinggi lagi Mahakudus dan suci –Pencipta segala sesuatu- dari memiliki anak, karena Dia Mahaesa, segala sesuatu bergantung kepada-Nya, tidak ada yang sebanding dan semisal dengan-Nya, sehingga Dia tidak memiliki anak.

Firman Allah: fadzarHum yakhuudluu (“Maka, biarkanlah mereka tenggelam.”) dalam kebodohan dan kesesatan mereka. Wa yal’abuu (“dan bermain-main”) di dalam dunia mereka. Hattaa yulaaquu yaumaHumul ladzii yuu-‘aduuna (“Sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.”) yaitu hari kiamat. Artinya mereka akan mengetahui bagaimana tempat kembali, tempat tinggal dan kondisi mereka pada hari itu.

Firman Allah: wa Huwal ladzii fis samaa-i ilaaHuw wafil ardli ilaaHu (“Dan Dia-lah Ilah [yang diibadahi] di langit dan Ilah [yang diibadahi] di bumi.”) artinya, Dia-lah Ilah yang ada di langit dan Ilah yang ada di bumi, dimana para penghuninya mengabdi kepada-Nya. Mereka seluruhnya tunduk dan rendah di hadapan-Nya. Wa Huwal hakiimul ‘aliimu (“Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.”) ayat ini seperti firman Allah: “Dan Dia-lah Allah [yang diibadahi], baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui [pula] apa yang kamu usahakan.” (al-An’am: 3). Yaitu, Dia-lah Allah Yang diseru di langit dan di bumi.

Wa tabaarakal ladzii laHuu mulkus samaawaati wal ardli wa maa bainaHumaa (“Dan Mahasuci [Rabb] Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya.”) Dia-lah Mahapencipta, Pemilik dan Pengatur keduanya, tanpa ada yang menolak dan membangkang. Mahasuci serta Mahatinggi Allah dari memiliki anak. Tabaaraka; artinya, telah pasti keselamatan bagi-Nya dari berbagai cacat dan kekurangan karena Dia adalah Rabb Yang Mahatinggi lagi Mahabesar, Pemilik segala sesuatu yang di tangan-Nya berbagai urusan, baik dibatalkan atau dilanjutkan. Wa ‘indaHuu ‘ilmus saa-‘ati (“Dan di sisi-Nya lah pengetahuan tentang hari kiamat.”) yaitu tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Dia.
Wa ilaiHi turja-‘uuna (“Dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”) lalu, semuanya dibalas sesuai dengan amalnya. Jika baik, akan dibalas dengan kebaikan. Dan jika buruk akan dibalas dengan keburukan.

Firman Allah: wa laa yamlikul ladziina yad’uuna min duuniHi (“Dan tidaklah sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Dia.”) yaitu patung-patung dan berhala-berhala itu. Asy-syafaa-‘ata (“dapat memberikan syafaat”) yaitu tidak mampu memberikan syafaat kepada mereka. Illaa man syaHida bil haqqi wa Hum ya’lamuuna (“Akan tetapi [orang yang dapat memberi syafaat ialah] orang yang mengakui yang haq [tauhid] dan mereka meyakini[nya].”) ini adalah istisna munqathi’ [pengecualian yang betul-betul kuat]. Artinya, akan tetapi syafaat orang yang mengakui kebenaran dengan ilmu pengetahuan yang mendalam dapat bermanfaat dengan izin Allah.

Firman Allah: wa la-in sa-altaHum man khalaqaHum layaquulunnallaaHu fa annaa yu’fakuuna (“Dan sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’”) artinya mereka mengakui bahwa Dia-lah Pencipta segala sesuatu, Dia Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi, walaupun demikian mereka mengabdi kepada ilah lain yang tidak memiliki apapun dan tidak mempunyai kemampuan sedikitpun. Dengan demikian, mereka benar-benar berada dalam kebodohan, kepandiran dan kelemahan akal yang amat nyata. Untuk itu Allah berfirman: fa annaa yu’fakuuna (“Maka, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan [dari beribadah kepada Allah]?”)

Firman Allah: wa qii liHii yaa rabbi inna Haa-ulaa-i qaumul laa yu’minuuna (“Dan [Allah mengetahui] ucapan Muhammad: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.”) Muhammad saw. berkata dengan ucapannya, yaitu mengadu kepada Rabb-nya tentang kaumnya yang mendustakan dirinya, dimana dia berkata: “Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.” Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Mujahid dan Qatadah, dan atas dasar itu Ibnu Jarir menafsirkannya. Al-Bukhari meriwayatkan, ‘Abdullah bin Mas’ud membaca: wa qaalar rasuulu yaa rabbi.
Mujahid berkata tentang firman Allah: wa qii liHii yaa rabbi inna Haa-ulaa-i qaumul laa yu’minuuna (“Dan [Allah mengetahui] ucapan Muhammad: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.”) yaitu Allah mengedepankan perkataan Muhammad saw. Qatadah berkata: “Itulah perkataan Nabi kalian saw. yang mengadu tentang kaumnya kepada Rabb-nya. Kemudian dalam firman-Nya: wa qii liHii yaa rabbi; Ibnu Jarir menceritakan bahwa ada dua bacaan. Salah satunya dibaca nashab, dimana dia memiliki dua kedudukan, salah satunya ma’thuf [dihubungkan] atas firman Allah Ta’ala: nasma-‘u sirraHum wa najwaaHum; dan yang kedua adalah takdir fi’il yaitu “wa qaala qiiliHii”. Sedangkan bacaan yang kedua adalah khafadh. Dan kata “qiiliHi” sebagai ‘athaf ats firman-Nya: wa ‘indaHuu ‘ilmus saa-‘ati; takdirnya yaitu: wa ‘alima qiiliHii.

Firman Allah: fashfah ‘anHum (“Maka berpalinglah [hai Muhammad] dari mereka.”) yaitu dari orang-orang musyrik. Wa qul salaamun (“Dan katakanlah: ‘Salam [selamat tinggal].’”) yaitu janganlah engkau menjawab mereka –atas apa yang mereka katakan- dengan jawaban yang buruk. Akan tetapi, berlemah lembut dan ma’afkanlah mereka, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Fa saufa ya’lamuuna (“Kelak mereka akan mengetahui [nasib mereka yang buruk].”) ini merupakan ancaman dari Allah Ta’ala kepada mereka. Untuk itu, mereka ditimpa dengan adzab-Nya yang tidak dapat ditolak serta Dia tinggikan agama dan kalimat-Nya, serta Dia syariatkan jihad dan perjuangan setelah itu, hingga manusia memasuki agama Allah dengan berbondong-bondong, lalu serbarkanlah Islam di seluruh penjuru timur dan barat. wallaaHu a’lam.
Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: