Tasfir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf (8)

3 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-zukhruf (Perhiasan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 43: 89 ayat

Wa saufa tus-aluuna (“Dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban.”) yaitu tentang al-Qur’an ini, bagaimana kalian mengamalkan dan memperkenankannya.

Was-al man arsalnaa ming qablika mir rusulinaa aja-‘alnaa min duunir rahmaani aalihatay yu’baduuna (“Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelummu: ‘Adakah Kami menentukan ilah-ilah untuk disembah?’”) yaitu seluruh Rasul menyeru kepada apa yang engkau seru manusia kepadanya, yaitu beribadah kepada Allah Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya, serta melarang menyembah berhala-berhala dan patung-patung, seperti firman Allah Yang Mahaagung kebesaran-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat [untuk menyerukan]: ‘Ibadahilah Allah [saja], dan jauhilah thaghut itu.” (an-Nahl: 36)

Mujahid berkata dalam qiraat ‘Abdullah bin Mas’ud: “Tanyakanlah kepada para Rasul Kami yang telah Kami utus kepada mereka sebelummu.” Demikian yang diceritakan oleh Qatadah, adl-Dlahhak, dan as-Suddi dari Ibnu Mas’ud. Seakan-akan ini merupakan tafsir, bukan bacaan. wallaaHu a’lam.
‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Tanyakanlah kepada mereka pada malam Isra’, karena para Nabi berkumpul kepadanya. Ibnu Jarir memilih pendapat yang pertama, wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat az zukhruf ayat 46-50“46. dan sesunguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seru sekalian alam”. 47. Maka tatkala Dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami dengan serta merta mereka mentertawakannya. 48. dan tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu mukjizat kecuali mukjizat itu lebih besar dari mukjizat-mukjizat yang sebelumnya. dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (ke jalan yang benar). 49. dan mereka berkata: “Hai ahli sihir, Berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) Kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; Sesungguhnya Kami (jika doamu dikabulkan) benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk. 50. Maka tatkala Kami hilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya).” (az-Zukhruf: 46-50)

Allah berfirman mengabarkan tentang seorang hamba dan utusan-Nya, yaitu Musa as. yang diutus-Nya kepada Fir’aun dan para pembesarnya, yaitu para gubernur, para menteri, para panglima, para pengikut dari bangsa Qibthi dan Bani Israil. Dia mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah Mahaesa Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, serta melarang mereka untuk menyembah selain-Nya. Dia utus bersamanya mukjizat-mukjizat besar, seperti tangannya, tongkatnya, dikirimnya topan, belalang, belatung, kodok dan darah, berkurangnya tanam-tanamna, jiwa dan buah-buahan. Bersamaan dengan itu mereka tetap sombong dengan tidak mengikuti dan tidak tunduk kepadanya, mereka mendustakan dan mengejeknya serta menertawakan orang yang membawanya.

Wa maa nuriiHim min aayaati illaa Hiya akbaru min ukhtiHaa (“Dan tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu mukjizat kecuali mukjizat itu lebih besar dari mukjizat-mukjizat sebelumnya.”) akan tetapi mereka tetap tidak kembali dari penyimpangan dan kesesatan mereka serta kebodohan dan kepandiran mereka. Setiap kali datang kepada mereka satu mukjizat dari mukjizat-mukjizat tersebut, merekapun merendahkan diri sambil mengungkapkan kata-kata lembut kepada Musa as., yaa ayyuHas saahiru (“Hai ahli sihir.”) yaitu orang yang ‘alim/ahli. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Jarir, karena orang-orang ‘alim/ahli di masa mereka adalah tukang-tukang sihir. Sihir di masa mereka bukanlah sesuatu yang tercela, sehingga kata-kata itu bukan merupakan penghinaan, karena kondisi saat itu adalah kondisi dimana mereka membutuhkannya, yang tentu saja tidak sesuai. Kata-kata ini hanyalah penghormatan menurut sangkaan mereka. Karena setiap kali mereka berjanji kepada Musa as, jika dia hilangkan adzab dari mereka, niscaya mereka akan beriman dan membiarkan Bani Israil bersamanya. Tetapi setiap kali itu pula mereka mengkhianati apa yang mereka janjikan itu.

tulisan arab alquran surat az zukhruf ayat 51-56“51. dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; Maka Apakah kamu tidak melihat(nya)? 52. Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? 53. mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau Malaikat datang bersama-sama Dia untuk mengiringkannya?” 54. Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan Perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. 55. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut), 56. dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (az-Zukhruf: 51-56)

Allah berfirman tentang Fir’aun, keengganannya, berpalingnya dia, kekufurannya dan pembangkangannya, bahwa dia menghimpun kaumnya, lalu menyeru mereka untuk selalu bangga dan hormat dengan kerajaan Mesir dan kelakuannya kepadanya.
Alaisalii mulku mishra wa HaadziHil anHaaru tajrii min tahtii (“dan Fir’aun berseru kepada kaumnya [seraya] berkata: ‘Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan [bukankah] sungai-sungai ini mengalir di bawahku?’”) Qatadah berkata: “Mereka telah memiliki kebun-kebun dan air-air sungai.” Afalaa tubshiruuna (“Maka apakah kamu tidak melihatnya?”) yaitu apakah kalian tidak melihat kebesaran dan kerajaan yang aku miliki. Yang dia maksud adalah Musa dan para pengikutnya dari kaum fuqara’ dan dlu’afa’.

Am ana khairum man Haadzal ladzii Huwa maHiinun (“Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini?”) as-Suddi berkata: “Dia berkata: ‘Bahkan aku lebih baik daripada orang yang hina ini.’” Demikian pula sebagian ahli Nahwu Bashrah berkata: “Sesungguhnya am disini bermakna bal [bahkan]. Yang dimaksud adalah, bahwa Fir’aun –semoga laknat Allah baginya- lebih baik dari Musa as. Sungguh dia telah berdusta dalam perkataannya ini dengan kedustaan yang amat jelas dan tegas. Maka laknat Allah yang terus-menerus akan menimpanya hingga hari kiamat. Yang dimaksud dengan perkataannya maHiinun sebagaimana yang dikatakan Sufyan, yaitu orang yang hina. Sedangkan Qatadah dan as-Suddi berkata: “Yaitu orang yang lemah.”
Wa laa yakaadu yubiinu (“Dan yang hampir tidak dapat menjelaskan [perkataannya].”) yaitu, dan yang hampir tidak dapat fashih dalam perkataannya, karena ia cadel.
(bersambung ke bagian 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: