Arsip | 13.30

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mursalaat (3)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mursalaat (Malaikat-Malaikat yang Diutus)
Surah Makkiyyah; Surah ke 77: 50 ayat

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: Hadzaa yaumu laa yanthiquuna (“Ini adalah hari yang mereka tidak dapat berbicara.”) yakni tidak dapat berkata-kata.
Wa laa yu’dzanu laHum faya’tadziruuna (“Dan tidak diizinkan kepada mereka minta udzur sehingga mereka [dapat] minta udzur.”) maksudnya mereka tidak mampu berbicara dan tidak pula minta izin kepada mereka melakukan hal tersebut untuk memberikan alas an, tetapi hujjah [dalil] telah ditegaskan atas mereka dan telah terbukti ungkapan atas mereka dari kedhaliman yang mereka buat, sedang mereka tidak dapat berbicara. Persidangan hari kiamat itu terdiri dari beberapa keadaan, dan Allah terkadang mengabarkan keadaan yang satu dan pada kesempatan lain menceritakan keadaan lainnya untuk menunjukkan kedahsyatan berbagai peristiwa mengerikan dan juga goncangan pada hari itu. Oleh karena itu, setiap kali setelah memberikan uraian terhadap ungkapan tersebut, Dia pun berfirman: Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besar-lah pada hari itu itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)

Dan firman Allah: Haadzaa yaumul fashli jama’naakum wal awwaliina (“Ini adalah hari keputusan. Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu.”) yakni dengan kekuasaan-Nya, Dia mengumpulkan mereka dalam satu pelataran, yang mereka bisa didengar oleh penyeru dan dapat pula dijangkau oleh pandangan.

Firman Allah: fa inkaana lakum kaidun fakiiduuni (“Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku.”) ini merupakan ancaman keras sekaligus intimidasi yang tegas. Dengan kata lain, jika kalian mampu untuk menyelamatkan diri dari genggaman-Ku dan lepas pula dari hokum-Ku maka lakukanlah, karena sesungguhnya kalian tidak akan pernah mampu melakukan hal tersebut.

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan pernah sampai pada manfaat-Ku sehingga kalian bisa member manfaat kepada-Ku. Dan tidak akan pernah juga mencapai mudlarat-Ku sehingga kalian bisa member mudlarat kepada-Ku.”

tulisan arab alquran surat al mursalaat ayat 41-50“41. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. 42. dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. 43. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan”. 44. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 45. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 46. (Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa”. 47. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 48. dan apabila dikatakan kepada mereka: “Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku’. 49. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 50. Maka kepada Perkataan Apakah sesudah Al Quran ini mereka akan beriman?” (al-Mursalaat: 41-50)

Allah Ta’ala berfirman seraya mengabarkan tentang hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yang bersungguh-sungguh beribadah kepada-Nya dengan menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan. Dan pada hari kiamat kelak, mereka berada di surge dan mata air. Dengan kata lain, yang jelas bertolak belakang dengan keadaan orang-orang yang sengsara, mereka berada di bawah naungan asap hitam nan busuk.

Firman Allah Ta’ala: wa fawaakiHa mimmaa yasytaHuuna (“Dan buah-buahan yang mereka inginkan.”) yaitu dari seluruh macam buah-buahan, apa pun yang mereka inginkan, pasti mereka dapatkan. Kuluu wasyrabuu Hanii-am bimaa kuntum ta’lamuuna (“Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan.”) yakni, hal tersebut dikatakan kepada mereka sebagai bentuk kebaikan kepada mereka.

Kemudian Allah berfirman seraya menyampaikan berita yang bersambung: innaa kadzaalika najzil muhsiniina (“Sesungguhnya demikianlah Kami member balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”) maksudnya inilah pahala yang Kami berikan kepada sebaik-baik amal. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besar-lah pada hari itu itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)

Firman Allah: kuluu wa tamatta-‘uu qaliilan innakum mujrimuuna (“Makan dan bersenang-senanglah kamu dalam waktu yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.”) Khithab ini ditujukan kepada orang-orang yang mendustakan hari kiamat. Dan perintah yang diberikan kepada mereka itu merupakan ancaman sekaligus intimidasi. Dimana Allah Ta’ala berfirman: kuluu wa tamatta’uu qaliilan (“Makan dan bersenang-senanglah kamu dalam waktu yang pendek.”) yakni dalam waktu yang tidak lama [sebentar]. Innakum mujrimuun (“Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.”) kemudian kalian akan diseret ke neraka jahanam yang telah disebutkan sebelumnya. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besar-lah pada hari itu itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)

Firman Allah: wa idzaa qiila laHumur ka-‘uu laa yarka-‘uuna (“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Rukuklah niscaya mereka tidak mau ruku’.”) maksudnya, jika orang-orang kafir bodoh itu diperintahkan untuk mengikuti orang-orang yang mengerjakan shalat dengan berjamaah, maka mereka menolak hal tersebut dan bahkan menyombongkan diri atas hal itu. Oleh karena itu, Dia berfirman: Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besar-lah pada hari itu itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)

setelah itu Allah berfirman: fabi-ayyi hadiitsim ba’daHuu yu’minuuna (“Maka kepada perkataan apakah selain al-Qur’an ini mereka akan beriman?”) maksudnya, jika mereka tidak juga beriman dengan al-Qur’an ini, lalu kepada perkataan siapa [lagi] mereka akan beriman.
Selesai.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mursalaat (2)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mursalaat (Malaikat-Malaikat yang Diutus)
Surah Makkiyyah; Surah ke 77: 50 ayat

tulisan arab alquran surat al mursalaat ayat 16-28“16. Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu? 17. lalu Kami iringkan (azab Kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian. 18. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. 19. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 20. Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? 21. kemudian Kami letakkan Dia dalam tempat yang kokoh (rahim), 22. sampai waktu yang ditentukan, 23. lalu Kami tentukan (bentuknya), Maka Kami-lah Sebaik-baik yang menentukan. 24. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 25. Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, 26. orang-orang hidup dan orang-orang mati? 27. dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar? 28. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (al-Mursalaat: 16-28)

Allah Ta’ala berfirman: alam nuHlikil awwaliina (“Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang dahulu?”) yakni, dari kalangan orang-orang yang mendustakan para Rasul serta menentang apa yang dibawa oleh para Rasul tersebut kepada mereka. Tsumma nutbi-‘uHumul aakhiriina (“lalu Kami iringkan [adzab Kami terhadap] mereka dengan [mengadzab] orang-orang yang datang kemudian.”) yakni, dari orang-orang yang semisal dengan mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman: Kadzaalika naf’alu bil mujrimiin. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”) demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Jarir.

Lalu Allah berfirman seraya melimpahkan karunia kepada makhluk-makhluk-Nya sekaligus berhujjah tentang pengembalian makhluk dengan penciptaan awal: alam nakhluqkum mim maa-im maHiin (“Bukankah Kami menciptakanmu dari air yang hina.”) yakni yang lemah lagi hina dibandingkan dengan kekuasaan Allah. Fa ja-‘alnaaHu fii qaraarim makiinin (“Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh.”) yakni Kami kumpulkan di dalam rahim, yaitu tempat menetapnya sperma laki-laki dan ovum perempuan. Dan rahim itu memang disediakan untuk menjaga ari yang dititipkan di sana.

Firman Allah: ilaa qadarim ma’luum (“Sampai waktu yang ditentukan.”) yakni sampai batas waktu tertentu, enam bulan atau Sembilan bulan. Oleh karena itu, Dia berfirman: faqadarnaa fani’mal qaadiruuna. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Lalu Kami tentukan [bentuknya], maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)

Kemudian firman Allah: alam naj’alil ardla kifaatan. Ahyaa-aw wa amwaatan (“Bukankah Kami yang menjadikan bumi [tempat] berkumpul orang-orang hidup dan orang-orang mati?”) Ibu ‘Abbas mengatakan: “[Maksudnya] pembungkus.” Dan Mujahid mengatakan: “Orang yang meninggal dibungkus, sehingga tidak terlihat sedikitpun darinya.” Sedangkan asy-Sya’bi mengatkan: “Yakni perut bumi bagi orang-orang yang sudah meninggal dunia di antara kalian dan bagian luarnya bagi orang-orang yang masih hidup.” Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. Waja-‘alnaa fiiHaa rawaasiya syaamikhatin (“Dan Kami jadikan padanya gunung-gungun yang tinggi.”) yakni gunung-gunung yang ditanam di bumi agar bumi tidak goyah dan goncang. Wa asqainaakum maa-an furaatan (“Dan Kami beri minum kamu dengan air tawar.”) yakni, air tawar yang diturunkan dari langit maupun yang disumberkan dari mata air bumi. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”) yakni, celaka bagi orang yang merenungi berbagai macam makhluk yang menunjukkan keagungan Penciptanya, tetapi setelah itu dia terus menerus dalam kedustaan dan kekufuran.

tulisan arab alquran surat al mursalaat ayat 29-40“29. (Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat): “Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya. 30. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang 31. yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka”. 32. Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. 33. seolah-olah ia iringan unta yang kuning. 34. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 35. ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu),36. dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur. 37. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 38. ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu. 39. jika kamu mempunyai tipu daya, Maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku. 40. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (al-Mursalaat: 29-40)

Allah Ta’ala berfirman seraya mengabarkan tentang orang-orang kafir yang mendustakan hari kebangkitan, pemberian balasan, surge, dan neraka. Dimana pada hari kiamat kelak, akan dikatakan kepada mereka: inthaliquu ilaa maa kuntum tukadzdzibuuna. Inthaliquu ilaa dhillin dzii tsalaatsi syu-‘ab (“Pergilah kamu untuk mendapatkan adzab yang dahulunya kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang.”) yakni jika kobaran api semakin tinggi dan naik bersamaan dengan asap, maka karena kedasyatan dan kekuatannya ia mempunyai tiga cabang. Laa dhaliiliw walaa yughnii minal laHabi (“Yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.”) maksudnya, naungan asap yang muncul akibat kobaran api itu sendiri tidak bisa dijadikan naungan dan tidak pula bisa melindungi dari kobaran api. Artinya, asap itu tidak bisa melindungi mereka dari panasnya kobaran api.

Firman Allah: innaHaa tarmii bisyararing kal qashri (“Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana.”) yakni bunga-bunga api itu beterbangan dari kobaran api itu sebesar istana. Ibnu Mas’ud mengataka: “Seperti benteng.” Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Malik dari Zaid bin Aslam dan selainnya mengatakan: “Yakni, akar pohon.” Ka annaHuu jimaalatun shufri (“Seolah-olah ia iringan unta yang kuning.”) yaitu seperti unta hitam. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, al-Hasan, Qatadah, adl-Dlahhak, dan menjadi pilihan Ibnu Jarir. Dan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair; jimaalatun shufrun; yakni tambang kapal. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besar-lah pada hari itu itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)
(bersambung ke bagian 3)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mursalaat (1)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mursalaat (Malaikat-Malaikat yang Diutus)
Surah Makkiyyah; Surah ke 77: 50 ayat

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah –yaitu Ibnu Mas’ud ra. dia bekata: “Ketika kami tengah berjalan bersama Rasulullah saw. di sebuah gua di Mina, turunlah firman Allah kepada beliau; wal mursalaati. Lalu beliau membacanya sedang aku menerimanya dari mulut beliau. Dan sesungguhnya mulut beliau menjadi basah oleh bacaan tersebut. Tiba-tiba ada seekor ular melompati kami, maka Nabi saw. bersabda: “Bunuhlah ia!” lalu kami pun mengejarnya tetapi ular itu menghilang. Selanjutnya Nabi bersabda: “Ular itu dilindungi dari kejahatan kalian sebagaimana kalian dilindungi dari kejahatannya.” dan diriwayatkan oleh Muslim.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dari ibunya bahwasannya dia pernah mendengar Nabi saw. membaca: wal mursalaati ‘urfan; dalam shalat Magrib. Dan dalam riwayat Malik dari az-Zuhri, dari ‘Ubaidilah, dari Ibnu ‘Abbas bahwa Ummul Fadl pernah mendengarnya membaca: wal mursalaati ‘urfan. Kemudian dia berkata: “Wahai anakku, dengan bacaanmu tadi engkau telah mengingatkan diriku, bahwasannya surat inilah yang terakhir aku dengar dari Rasulullah saw. dimana beliau membacanya pada waktu shalat magrib.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab ash-Shahihain, melalui jalan Malik.

tulisan arab alquran surat al mursalaat ayat 1-15bismillaaHir rahmaanir rahiim.
“1. demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, 2. dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya. 3. dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya. 4. dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang bathil) dengan sejelas-jelasnya, 5. dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu,6. untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan, 7. Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi.8. Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan,9. dan apabila langit telah dibelah, 10. dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu, 11. dan apabila Rasul-rasul telah ditetapkan waktu (mereka). 12. (niscaya dikatakan kepada mereka:) “Sampai hari Apakah ditangguhkan (mengazab orang-orang kafir itu)?” 13. sampai hari keputusan. 14. dan tahukah kamu Apakah hari keputusan itu?15. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (al-Mursalaat: 1-15)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah, wal mursalaati (“Demi Malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan.”) dia mengatakan: “Yaitu para Malaikat.” Demikian pula yang dikatakan oleh Abu Shalih, mengenai kalimat: al-‘Aashifaat, an-Naasyiraat, al-Faariqaat, dan al-Mulqiyaat, bahwa semuanya itu adalah malaikat. Tetapi yang jelas bahwa al-Mursalaat adalah angin, sebagaimana yang difirmankan Allah: wa arsalnar riyaaha lawaaqiha (“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan.”) (al-Hijr: 22) demikian juga dengan al-‘Aashifaat. Dikatakan ‘ashfatir riyaah, jika angin itu berhembus dengan mengeluarkan suara. Hal yang sama juga ada ada pada kata an-Naasyiraat, yaitu angin yang menyebarkan awan di ufuk langit sesuai dengan kehendak Rabb.

Firman Allah: fal faariqaati farqan, fal mulqiyaati dzikran, ‘udzran au nudzran (“Dan yang membedakan dengan sejelas-jelasnya, dan yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan.”) yakni para malaikat. Dan tidak ada perbedaan di sini, dimana malaikat itu turun atas perintah Allah untuk menemui Rasul-Rasul-Nya guna membedakan antara yang haq dengan yang bathil, petunjuk dengan kesesatan, yang halal dan yang haram. Di dalamnya para Rasul juga menerima wahyu, baik dalam rangka memberi alasan kepada umat manusia atau memberi peringatan kepada mereka akan siksa Allah jika mereka menyalahi perintah-Nya.

Firman-Nya: innamaa tuu-‘aduuna lawaaqi’ (“Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi.”) demikianlah yang disumpahkan dengan sumpah-sumpah tersebut. Dengan kata lain apa yang dijanjikan kepada kalian berupa hari kiamat, peniupan sangkakala, pembangkitan jasad, pengumpulan kembali orang-orang yang pertama sampai yang terakhir dalam satu tempat serta pemberian balasan kepada masing-masing pihak sesuai dengan amal perbuatannya, jika baik akan mendapatkan kebaikan. Dan jika buruk maka akan mendapatkan balasan berupa keburukan serupa, semua itu pasti terjadi, dan tidak mungkin tidak.

Kemudian Allah berfirman: fa idzan nujuumu thumisat (“Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan.”) yakni, telah hilang cahayanya.
Wa idzas samaa-u furijat (“Dan apabila langit telah dibelah.”) yakni pecah dan terbelah serta ujung-ujungnya telah digulung. Wa idzal jibaalu nusifat (“Dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu.”) yakni, dibawa menghilang sehingga tidak sedikitpun yang tersisa dan tidak pula ada bekasnya.

Firman Allah: wa idzar rusuli uqqitat (“Dan apabila Rasul-Rasul telah ditetapkan waktu.”) al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu dikumpulkan.” Ibnu Zaid mengatakan: “Yang demikian itu sama seperti firman Allah Ta’ala: yauma yajma-‘ullaaHurusula (“Pada hari dimana Allah mengumpulkan para Rasul.”) Mujahid mengatakan: “Uqqitat; yaitu ditangguhkan waktunya.”

Selanjutnya firman Allah: li ayyi yaumin ujjilat. Li yaumil fashli. Wa maa adraaka maa yaumaul fashli. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiin (“Sampai hari Apakah ditangguhkan (mengazab orang-orang kafir itu)? sampai hari keputusan. dan tahukah kamu Apakah hari keputusan itu? kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”) Allah Ta’ala berfirman: “Sampai kapan para Rasul itu ditangguhkan dan dikembalikan urusannya?” Allah Ta’ala berfirman: liyaumil fahsli (“sampai hari keputusan.”)

Firman Allah: wa maa adraaka maa yaumul fashli. Wailuy yaumaidzil lil mukadzdibiina (“Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu? Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” Yaitu kecelakaan bagi mereka dari adzab Allah pada hari-hari mendatang.
(bersambung ke bagian 2)

Tafsir Al-Qur’an Surah Saba’ (14)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Saba’ (Kaum Saba’)
Surah Makkiyyah; Surah ke 34: 54 ayat

Firman Allah: innaHuu samii-‘ung qariibun (“Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahadekat.”) yaitu Mahamendengar seluruh perkataan hamba-Nya serta Mahadekat memperkenankan doa orang yang berdoa kepada-Nya.
An-Nasa’i di sini meriwayatkan hadits Abu Musa yang terdapat di dalam ash-Shahihain: “Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Rabb yang tuli dan jauh. Akan tetapi kalian berdoa kepada Rabb yang Mahamendengar, Mahadekat lagi Mahamemperkenankan [doa].”

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 51-54“51. dan (alangkah hebatnya) Jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari kiamat); Maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka), 52. dan (di waktu itu) mereka berkata: “Kami beriman kepada Allah”, Bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu. 53. dan Sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh. 54. dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam.” (Saba’: 51-54)

Bahwa Allah berfirman: “Seandainya engkau hai Muhammad, melihat ketika orang-orang yang mendustakan [ayat-ayat-Nya] itu terperanjat ketakutan pada hari kiamat, maka mereka tidak dapat melepaskan diri, yaitu tidak ada tempat melarikan diri, tempat berpaling dan jalan keluar bagi mereka.
Wa ukhidzuu mim makaaning qariibin (“Mereka ditangkap dari tempat yang dekat [untuk dibawa ke neraka].”) yaitu mereka tidak mungkin menjaga diri dengan melarikan diri, bahkan mereka akan ditangkap sejak pertama kali.

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Ketika mereka keluar dari kubur-kubur mereka.” Mujahid, ‘Athiyyah al-‘Aufi dan Qatadah berkata: “Yaitu dari bawah telapak kaki mereka.” Pendapat yang benar bahwa yang dimaksud adalah pada hari kiamat, yaitu pada hari malapetaka yang sangat besar.

Wa qaaluu aamannaa (“Dan [di waktu itu] mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Allah.’”) yaitu pada hari kiamat mereka berkata: “kami beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya.” Sebagaimana firman Allah: “Dan [alangkah ngerinya], jika Sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia), Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang yakin.” (as-Sajdah: 12)

Karena itu Allah berfirman: wa annaa laHumut tanaawusyu mim makaanim ba-‘iid (“Bagaimanakah mereka dapat mencapai [keimanan] dari tempat yang jauh itu.”) yaitu bagaimana mereka meraih keimanan, padahal mereka jauh dari tempat penerimanya dan mereka berada di negeri akhirat, suatu negeri balasan, bukan negeri ujian. Seandainya dahulu mereka beriman di dunia, niscaya hal tersebut bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi setelah mereka berada di negeri akhirat, tidak ada jalan lagi bagi mereka untuk diterimanya keimanan, sebagaimana tidak ada jalan untuk mencapai sesuatu bagi orang yang hendak meraihnya dari tempat yang jauh.

Mujahid berkata: wa annaa laHumut tanaawusyu (“Bagaimanakah mereka dapat mencapai [keimanan].”) yaitu meraih hal tersebut. Az-Zuhri berkata: “At tanaawusyu; adalah mereka mencoba meraih keimanan, padahal mereka berada di negeri akhirat dan telah terputus dari dunia.” Ibnu ‘Abbas berkata: “Mereka menuntuk kembali ke dunia, serta bertaubat dari apa yang mereka lakukan selama ini. Padahal pada saat itu tidak ada lagi kesempatan untuk kembali dan taubat.” Demikian pula yang dikatakan oleh Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi.

Firman Allah: waqad kafaruu biHii ming qablu (“Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu.”) yaitu bagaimana mereka dapat mencapai keimanan di akhirat, padahal mereka telah mengingkari kebenaran di dunia, serta telah mendustakan para Rasul? Wa yaqdzifuuna bil ghaibi mim makaanim ba-‘iid (“Dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh.”)

Malik berkata dari Zaid bin Aslam berkata: Wa yaqdzifuuna bil ghaibi; yaitu menduga-duga. Ibnu Katsir berkata: sebagaimana firman Allah: rajmam bil ghaiib; terkadang mereka mengatakan, “dia ahli sya’ir.” Terkadang mengatakan, “dia dukun.”,”dia tukang sihir.”,”dia orang gila.” Dan perkataan-perkataan bathil lainnya. Dan merekapun mendustakan hari berbangkit, hari berkumpul dan hari kembali.

Mereka mengatakan: innadhunnu illaa dhannaa wa maa nahnu bimustaiqiniina (“kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-sekali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-sekali tidak meyakini [nya].”)(al-Jaatsiyah: 32) Qatadah dan Mujahid berkata: “Mereka melempar praduga, bahwa tidak ada kebangkitan, tidak ada surga dan tidak ada neraka.

Firman Allah: wa hiila bainaHum wa baina maa yasytaHuuna (“Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan.”) al-Hasan al-Bashri, adl-Dlahhak mengatakan: “Yaitu keimanan.” Sedang menurut as-Suddi: “Yaitu taubat.” Pendapat kedua inilah yang dipilih Ibnu Jarir.

Mujahid berkata: “wa hiila bainaHum wa baina maa yasytaHuuna (“Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan.”) dari dunia ini, berupa harta perhiasan dan keluarga.” Pendapat senada diriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu ‘Abbas dan ar-Rabi’ bin Anas dan juga menjadi pendapat al-Bukhari dan jama’ah. Pendapat yang benar adalah, tidak ada pertentangan di antara dua pendapat tersebut. Karena mereka dihalangi dari keinginan mereka terhadap dunia dan dari apa yang mereka cari di akhirat, sehingga mereka terhalang darinya.

Firman Allah: kamaa fu-‘ila bi asy-yaa-‘iHim ming qablu (“Sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu.”) yaitu sebagaimana telah berlalu kepada umat-umat masa lalu yang mendustakan para Rasul ketika bencana Allah datang kepada mereka, mereka berangan-angan seandainya mereka beriman, akan tetapi hal itu tidak lagi diterima dari mereka.

“Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: “Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan Kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah Kami persekutukan dengan Allah.” Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa kami. Itulah sunnah Allah yang telah Berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.” (Mukmin: 84-85)

Firman Allah: innaHum kaanuu fii syakkim muriib (“Sesungguhnya mereka dahulu [di dunia] dalam keraguan yang mendalam.”) yaitu dahulu mereka di dunia berada dalam keraguan dan kebimbangan. Untuk itu, keimanan mereka tidak diterima lagi saat mereka menyaksikan adzab (siksaan).

Qatadah berkata: “Jauhilah keraguan dan kebimbangan. Karena barangsiapa yang mati dalam keraguan, dia akan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu. Dan barangsiapa mati dalam keadaan yakin, maka dia akan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu pula.”
Selesai.

Tafsir Al-Qur’an Surah Saba’ (13)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Saba’ (Kaum Saba’)
Surah Makkiyyah; Surah ke 34: 54 ayat

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 46“46. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, Yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.” (Saba’: 46)

Bahwa Allah berfirman: “Katakanlah hai Muhammad, kepadaorang-orang kafir yang menyangka bahwa engkau gila: innamaa a-‘idhukum bi waahidatin (“Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja.”) yaitu, aku hanya memerintahkan kalian satu hal. An taquumuullaaHi matsnaa wa furaadaa tsumma tatafakkaruu maa bishaahibikum min jinnati (“Yaitu supaya kamu menghadap Allah [dengan ikhlas] berdua-dua tau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan [tentang Muhammad] tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu.”) yaitu, kalian menghadap-Nya secara tegar dan ikhlas karena Allah, bukan karena hawa nafsu dan fanatis buta. Lalu sebagian kalian bertanya kepada sebagian yang lainnya: “Apakah ada kegilaan pada Muhammad?” lalu sebagian kalian memberikan nasehat kepada sebagian yang lain. Tsumma tatafakkaruu (“Kemudian kamu fikirkan.”) yaitu, seseorang memandang pada dirinya sendiri tentang urusan Muhammad saw. dan bertanya kepada orang lain tentangnya, jika ada kesulitan yang dihadapinya, serta merenungkan hal tersebut. Inilah makna yang disebutkan oleh Mujahid, Muhammad bin Ka’ab, as-Suddi, Qatadah dan selain mereka. Dan inilah yang dimaksud oleh ayat tersebut, wallaaHu a’lam.

Firman Allah: inna Huwa illaa nadziirul lakum baina yadai ‘adzaabin syadiidin (“Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagimu sebelum [menghadapi] adzab yang keras.”)
Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Nu’aim bercerita kepada kami, Basyir bin al-Muhajir, ‘Abdullah bin Buraidah bercerita kepadaku, bahwa ayahnya berkata: “Suatu hari Rasulullah saw. keluar menemui kami, lalu menyeru tiga kali: ‘Hai manusia, tahukah kalian perumpamaan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Allah Ta’ala dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah saw. bersabda: ‘Perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah seperti perumpamaan suatu kaum yang takut akan didatangi musuh. Lalu mereka mengutus seorang laki-laki yang bertugas memata-matai untuk kaum itu. Di saat itu ia melihat musuh itu, lalu dia menghadap kepada mereka untuk memberikan peringatan dan dia sendiri khawatir kalau tertangkap musuh itu sebelum dia sempat memberikan peringatannya kepada kaumnya. Maka dia pun memberi tanda/isyarat dengan pakaiannya: ‘Hai manusia, kalian telah diberi. Hai manusia, telah diberi [pemberi peringatan itu] (tiga kali).
Dengan isnad yang sama dia meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: “Saat aku diutus dan hari Kiamat hampir-hampir mendahuluiku.’” (hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri dalam Musnadnya).

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 47-50“47. Katakanlah: “Upah apapun yang aku minta kepadamu, Maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”. 48. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha mengetahui segala yang ghaib”. 49. Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” 50. Katakanlah: “Jika aku sesat Maka Sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk Maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha Dekat.” (Saba’: 47-50)

Allah berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk berkata kepada orang-orang musyrik: maa sa-altukum min ajrin faHuwa lakum (“Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu.”) yaitu, aku tidak menghendaki dari kalian bayaran dan pemberian dalam menyampaikan risalah Allah dan nasehatku pada kalian serta dalam memerintahkan kalian untuk beribadah kepada Allah. In ajriya illaa ‘alallaaHi (“Upahku hanyalah dari Allah.”) yaitu aku hanya mencari pahalanya dari sisi Allah. Wa Huwa ‘alaa kulli syai-in syaHiidun (“Dan Dia Mahamengetahui segala sesuatu.”) yaitu Mahamengetahui seluruh perkara tentang keadaanku dalam menyampaikan berita yang Dia mengutusku untuk menyampaikannya kepada kalian, juga keadaan tentang kalian.

Firman Allah: qul inna rabbii yaqdzifu bil haqqi ‘allaamul ghuyuubi (“katakanlah: ‘Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebenaran. Dia Mahamengetahui segala yang ghaib.”) seperti firman Allah: “Yang mengutus Jibril dengan [membawa] perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya” (Mu’min: 15). Yaitu mengutus Malaikat kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, penghuni bumi, dan Dia Mahamengetahui hal-hal yang ghaib. Tidak ada satu pun yang berada di langit dan di bumi yang tersembunyi dari-Nya.

Qul jaa-al haqqu wa maa yubdi-ul baathilu wa maa yu-‘iid (“Katakanlah: ‘Kebenaran telah datang dan yang bathil itu tidak akan memulai dan tidak [pula] akan mengulangi.”) yaitu telah datang kebenaran dan syariat yang agung dari Allah, serta hilang hancur dan musnahlah kebathilan.

Untuk itulah ketika Rasulullah memasuki Masjidilharam pada hari Fathu Makkah [Pembebasan Kota Makkah] dan beliau menemukan berhala-berhala didirikan di sekitar ka’bah. Beliau merusak salah satu dari berhala itu dengan tangkai panahnya dan membaca: “Wa qul jaa-al haqqu wa zaHaqal baathilu innal baathilu kaana zaHuuqan (“Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”)(al-Israa’: 81) Qul jaa-al haqqu wa maa yubdi-ul baathilu wa maa yu-‘iid (“Katakanlah: ‘Kebenaran telah datang dan yang bathil itu tidak akan memulai dan tidak [pula] akan mengulangi.”) (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i tentang ayat ini dari Ibnu Mas’ud)
Yaitu kebathilan tidak lagi memiliki suara, kekuasaan ataupun kalimat, wallaaHu a’lam.

Firman Allah: qul in dlalaltu fa innamaa a dlillu ‘alaa nafsii wa iniHtadaitu fa bimaa yuuhii ilayya rabbi (“Katakanlah: ‘Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku sesat atas kemudlaratan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Rabbku kepadaku.”) yaitu seluruh kebaikan itu hanya dari sisi Allah dan milik-Nya. Dan wahyu serta kebenaran nyata yang diturunkan dari Allah mengandung hidayah, penjelasan dan petunjuk. Barangsiapa yang sesat, berarti dia sesat karena dirinya sendiri.

Sebagaimana perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud ketika ditanya tentang masalah mufawwidhah, beliau berkata: “Aku mengatakan dalam hal ini dengan pendapatku. Jika itu benar, maka itu dari Allah. Dan jika keliru maka itu dari diriku dan dari syaithan. Sedangkan Allah dan Rasul-Nya bebas dari hal itu semua.”
(bersambung ke bagian 14)

Tafsir Al-Qur’an Surah Saba’ (12)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Saba’ (Kaum Saba’)
Surah Makkiyyah; Surah ke 34: 54 ayat

Firman Allah: wa maa anfaqtum min syai-in faHuwa yukhlifuHu (“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.”) yaitu kapan saja kalian menafkahkan yang diperintahkan dan diperbolehkan kepada kalian, maka Dia pasti akan memberi gantinya untuk kalian di dunia. Sedangkan di akhirat, digantikan dengan balasan dan pahala. Sebagaimana yang tercantum dalam sebuah hadits: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Bernafkahlah niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.’”

Sufyan ats-Tsauri berkata, bahwa Abu Yunus al-Hakim bin Yazid berkata, Mujahid berkata: “Janganlah salah seorang kalian mentakwilkan ayat ini; wa maa anfaqtum min syai-in faHuwa yukhlifuHu (“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.”) jika salah seorang kalian memiliki sesuatu yang dapat mendukung/ mencukupi kehidupannya, maka hendaklah berhemat dalam nafkahnya, karena rizky itu telah ditentukan pembagiannya.”

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 40-42“40. dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada Malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”.41. malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha suci Engkau. Engkaulah pelindung Kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. 42. Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain. dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim: “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu.” (Saba’: 40-42)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia akan menghadapkan orang-orang musyrik pada hari kiamat di hadapan para makhluk. Lalu Dia bertanya kepada para malaikat yang dikira oleh mereka, bahwa tandingan-tandingan yang mereka sembah adalah berbentuk malaikat untuk dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Maka Dia berfirman kepada para malaikat: aHaa-ulaa-i iyyaakum kaanuu ya’buduun (“Apakah mereka ini dahulu menyembahmu?”) yaitu, apakah kalian memerintahkan mereka untuk menyembah kalian? Sebagaimana Dia berfirman kepada ‘Isa a.s.: “Apakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang ilah selain Allah.’ Isa menjawab: ‘Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya].’” (al-Maa-idah: 116)

Demikian pula para malaikat berkata: subhaanaka (“Mahasuci Engkau”) yaitu, Engkau Mahatinggi lagi Mahasuci dari memiliki ilah lain bersama-Mu. Anta waliyyunaa min duuniHim (“Engkau Pelindung kami, bukan mereka.”) yaitu kami adalah hamba-Mu dan kami berlepas diri dari mereka. Bal kaanuu ya’buduunal jinna (“Bahkan mereka telah menyembah jin.”) yang dimaksudkan adalah para syaitan. Karena merekalah yang menghiasi keindahan menyembah berhala dan menyesatkan mereka. aktsaruHum biHim mu’minuuna (“Kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.”)

Firman Allah: fal yauma laa yamliku ba’dlukum liba’dlin naf’aw walaa dlarran (“Maka pada hari ini sebagian kamu tidak berkuasa [untuk memberikan] kemanfaatan dan tidak pula kemudlaratan kepada sebagian yang lain.”) yaitu pada hari itu tidak akan tercapai manfaat yang kalian harapkan manfaatnya dari tandingan dan berhala-berhala yang kalian sembah di saat kesulitan dan kesempitan kalian. Pada hari itu mereka tidak memiliki manfaat dan mudlarat bagi kalian.

Wa naquululladziin dhalamuu (“Dan Kami katakan kepada orang-orang yang dhalim.”) yaitu orang-orang musyrik. Dzuuquu ‘adzaaban naaril latii kuntum biHaa tukadzdzibuuna (“Rasakan olehmu adzab neraka yang dahulu kamu dustakan itu.”) yaitu hal itu dikatakan kepada mereka sebagai ejekan dan celaan.

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 43-45“43. dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: “Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh bapak-bapakmu”, dan mereka berkata: “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja”. dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. 44. dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka Kitab-Kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun. 45. dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan sedang orang- orang kafir Mekah itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada orang-orang dahulu itu lalu mereka mendustakan rasul-rasul-Ku. Maka Alangkah hebatnya akibat kemurkaan-Ku.” (Saba’: 43-45)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang kafir, bahwa mereka berhak mendapatkan hukuman dan adzab yang pedih. Karena jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya yang mengandung penjelasan yang mereka dengarkan dalam keadaan segar dan langsung dari lisan Rasulullah saw.: qaaluu maa Haadzaa illaa rajuluy yuriidu ay yashuddakum ‘ammaa kaana ya’budu aabaa-ukum (“Mereka berkata: ‘Orang ini tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh bapak-bapakmu.”) yaitu sesungguhnya, menurut mereka agama nenek moyang merekalah yang benar dan agama yang dibawa Rasulullah adalah agama yang bathil. Semoga mereka dan nenek moyang mereka mendapat laknat Allah Swt. wa qaaluu maa Haadzaa illaa ifkum muftaraa (“Dan mereka berkata: ‘[Al-Qur’an] ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja.”) yaitu al-Qur’an. Wa qaalalladziina kafarul haqqi lammaa jaa-aHum in Haadzaa illaa sihrum mubiinun (“Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.’”)

Wa maa aatainaaHum min kutubiy yadrusuunanaHaa wa maa arsalnaa ilaHim qablaka min nadziirin (“Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-sekali tidak pernah [pula] mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun.”) yaitu tidak ada kitab yang diturunkan oleh Allah kepada bangsa Arab sebelum al-Qur’an dan tidak ada seorang Nabi pun yang diutus kepada mereka sebelum Muhammad saw. Dahulu mereka amat menginginkan hal tersebut dan mereka berkata: “Seandainya datang kepada kami seorang pemberi peringatan atau diturunkan satu kitab kepada kami, niscaya kami menjadi orang yang lebih mendapat hidayah dibandingkan orang-orang selain kami.” Tetapi tatkala Allah memberikan nikmat tersebut kepada mereka, merekapun mendustakan, menentang dan mengingkarinya. Kemudian Allah berfirman: wa kadzdzaballadziina min qabliHim (“Dan telah mendustakan orang-orang yang sebelum mereka.”) yaitu umat-umat terdahulu. Wa maa balaghuu mi’syaara maa aatainaaHum (“Sedang orang-orang kafir Mekah itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada orang-orang dahulu itu.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu berupa kekuatan di dunia.”

Demikian pula dikatakan oleh Qatadah, as-Suddi dan Ibnu Zaid yaitu hal tersebut tidak dapat melindungi dan menolak mereka dari adzab Allah. Bahkan Allah akan menghancurkan mereka, ketika mereka mendustakan para Rasul-Nya.

Untuk itu Allah berfirman: fakadzdzabuu rusulii fa kaifa kaana nakiiri (“Lalu mereka mendustakan para Rasul-Ku. Maka alangkah hebatnya akibat kemurkaan-Ku.”) yaitu maka bagaimana siksa-Ku, hukuman-Ku dan pertolongan-Ku dalam membela para Rasul-Ku.
(bersambung ke bagian 13)

Tafsir Al-Qur’an Surah Saba’ (10)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Saba’ (Kaum Saba’)
Surah Makkiyyah; Surah ke 34: 54 ayat

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 31-33“31. dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya”. dan (alangkah hebatnya) kalau kamu Lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan Perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah Kami menjadi orang-orang yang beriman”. 32. orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa”. 33. dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru Kami supaya Kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Saba’: 31-33)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang keterlaluannya orang-orang kafir dalam kesombongan, pembangkangan dan tenggelamnya mereka dengan ketiadaan mengimani al-Qur’an al-Karim serta kandungan yang diberitakannya tentang peristiwa hari kembali. untuk itu Allah berfirman: wa qaalalladziina kafaruu lan nu’mina biHaadzal qur-aana wa laa billadzii baina yadaiHi (“Dan orang-orang kafir berkata: Kami sekali-sekali tidak akan beriman kepada al-Qur’an dan tidak [pula] kepada kitab yang sebelumnya.”) Allah berfirman mengancam kepada mereka dan mengabarkan tentang pendirian mereka yang hina di hadapan-Nya saat mereka saling berbantah-bantahan dan saling menuduh.

Yarji-‘u ba’dluHum ilaa ba’dlinil qaula yaquulul ladziinastudl-‘ifuu (“Sebagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata,”) yaitu para pengikut, lilladziinas takbaruu (“Kepada orang-orang yang menyombongkan diri.”) di antara mereka. Yaitu para pemimpin dan para pembesar mereka. Lau laa antum lakunnaa mu’miniin (“Kalau tidaklah karena kamu, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.”) yaitu seandainya kalian tidak menghalangi [dari jalan kebenaran] niscaya dahulu kami mengikuti para Rasul dan mengimani apa yang mereka sampaikan kepada kami.

Lalu para pemimpin dan pembesar yang merupakan orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada mereka: a nahnu shadadnaakum ‘anil Hudaa ba’da idz jaa-akum (“Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk, sesudah petunjuk itu datang kepadamu.”) yaitu Kami tidak melakukan sesuatu kepada kalian lebih dari sekedar mengajak kalian. Akan tetapi kalianlah yang mengikuti kami tanpa dalil dan tanpa bukit serta kalian sendiri yang menentang dalil-dalil, bukti-bukti dan hujjah-hujjah yang disampaikan oleh para Rasul tersebut karena hawa nafsu dan kemauan kalian sendiri.

Untuk itu mereka berkata: bal kuntum mujrimiina wa qaalalladziinas tudl-‘ifuu lilladziinas takbaruu bal makrul laili wan naHaari (“Sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: ‘[Tidak], sebenarnya tipu daya[mu] di waktu malam dan siang.’”) yaitu, akan tetapi kalian lah yang menipu kami siang dan malam. Kalian menipu, merayu dan mengabarkan kepada kami bahwa kami berada dalam kebenaran, padahal semua itu adalah kebathilan, kedustaan yang sangat besar.

Qatadah dan Ibnu Zaid berkata: “Bal makrul laili wan naHaari (Sebenarnya tipu daya[mu] di waktu malam dan siang) maksudnya, akan tetapi kalian melakukan tipu daya siang dan malam. Demikian pula Malik dari Zaid bin Aslam berkata: “Yaitu tipu daya kalian siang dan malam.”

Idz ta’muruunanaa an nakfura billaaHi wa naj’ala laHuu andadan (“Ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.”) yaitu tandingan-tandingan dan sembahan-sembahan lain bersama-Nya. Dan kalian tebarkan kepada kami berbagai syubhat dan hal-hal yang mustahil guna menyesatkan kami.
Wa asarrun nadaamata lammaa ra-awul ‘adzaaba (“Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat adzab.”) seluruhnya, baik pemimpin maupun para pengikutnya merasakan penyesalan atas apa yang telah mareka lakukan.

Wa ja-‘alnal aghlaala fii a’naaqil ladziina kafaruu (“Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir.”) yaitu rantai-rantai yang mengikat tangan-tangan bersama leher-leher mereka. Hal yujzauna illaa maa kaanuu ya’maluuna (“Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.”) yaitu Kami hanya membalas kalian sesuai dengan amal-amal kalian, semuanya sesuai dengan tingkatan kesalahannya. Pemimpin akan disiksa sesuai dengan kepemimpinannya dan pengikut akan disiksa dengan kepengikutannya.
Qaala li kullin dli’fun wa lakillaa ta’lamuuna (“Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.”)(al-A’raaf: 38)

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 34-39“34. dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”. 35. dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan Kami sekali-kali tidak akan diazab. 36. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui”. 37. dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka Itulah yang memperoleh Balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang Tinggi (dalam syurga). 38. dan orang-orang yang berusaha (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan untuk dapat melemahkan (menggagalkan azab kami), mereka itu dimasukkan ke dalam azab. 39. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 34-39)

Allah Ta’ala berfirman menghibur Nabi-Nya saw. serta memerintahkannya untuk bercermin kepada para Rasul sebelumnya. Dia pun mengabarkan kepadanya, bahwa tidaklah Dia mengutus seorang Nabi pun pada suatu negeri, kecuali didustakan oleh para pembesarnya dan diikuti oleh kaum dlu’afanya. Sebagaimana kaum Nuh as. berkata: a nu’minulaka wat taba-‘akal ardzaluun (“Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu ialah orang-orang yang hina.”)(asy-Syu’araa: 111)
(bersambung ke bagian 11)

Tafsir Al-Qur’an Surah Saba’ (11)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Saba’ (Kaum Saba’)
Surah Makkiyyah; Surah ke 34: 54 ayat

Firman Allah: wa idzaa aradnaa an nuHlika qaryatan amarnaa mutrafiiHaa fafasaquu fiiHaa fahaqqa ‘alaiHal qaulu fadammarnaaHaa tadmiiran (“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu [supaya mentaati Allah] tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan [ketentuan Kami], kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”)(al-Israa’: 16). Dan dalam ayat ini Allah berfirman: wa maa arsalnaa fii qaryatin min nadziirin (“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun.”) Yaitu seorang Nabi atau seorang Rasul. Illaa qaala mutrafuuHaa (“Melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata,”) mereka adalah orang-orang yang bergelimang dengan kenikmatan, kemasyhuran, kekayaan dan jabatan.
Qatadah berkata: “Mereka adalah para penguasa, pemimpin dan tokoh di kalangan mereka dalam keburukan.”
Innaa bimaa ursiltum biHii kaariuuna (“Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.”) yaitu kami tidak mengimani dan tidak mengikutinya.

Allah berfirman mengabarkan tentang orang-orang yang hidup mewah dari para pendusta: wa qaaluu nahnu aktsaru amwaalan wa aulaadan wa maa nahnu bimua-‘adzdzabiin (“Dan mereka berkata: ‘Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak [daripada kamu] dan kami sekali-kali tidak akan diadzab.”) yaitu mereka menyombongkan diri dengan banyaknya harta dan anak, serta mereka berkeyakinan bahwa hal tersebut sebagai bukti bahwa Allah mencintai dan memperhatikan mereka. Mereka pun berkeyakinan bahwa Dia tidak mungkin memberikan semua ini di dunia, kemudian menyiksanya di akhirat kelak. Sungguh amat jauh apa yang mereka sangkakan tersebut.

Allah berfirman yang artinya: “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam Keadaan kafir.” (at-Taubah: 55)

Sesungguhnya Allah mengabarkan tentang pemilik dua kebun tersebut yang memiliki harta buah-buahan dan anak, akan tetapi semua itu tidak berguna baginya sedikitpun. Bahkan semua itu dihancurkan-Nya di dunia sebelum sampai ke akhirat. Untuk itu dalam ayat ini Allah berfirman: qul inna rabbii yabsuthur rizqa limay yasyaa-u wa yaqdiru (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Rabbku melapangkan rizky bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan [bagi siapa yang dikehendakinya].”) yaitu Dia akan memberikan harta kepada orang yang disenangi-Nya dan juga kepada orang yang tidak disenangi-Nya. Lalu Dia akan mem-fakirkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dan memberikan kekayaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Milik-Nya lah segala kebijaksanaan yang sempurna dan hujjah yang pasti dan lengkap. Wa lakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”)

Firman Allah: wa maa amwaalukum wa laa aulaadukum billatii tuqarribukum ‘indanaa zulfaa (“Dan sekali-sekali bukanlah harta dan bukan [pula] anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun.”) yaitu semua ini bukanlah suatu bukti tentang kecintaan dan perhatian Kami kepada kalian.
Imam Ahmad berkata dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak memandang pada bentuk tubuh dan harta-harta kalian. Akan tetapi Dia hanya memandang kepada hati dan amal-amal kalian.” (HR Muslim dan Ibnu Majah)

Untuk itu Allah berfirman: illaa man aamana wa ‘amila shaalihan (“Tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih.”) yaitu sekali-kali yang dapat mendekatkan diri kalian di sisi Kami adalah keimanan dan amal shalih.

Fa ulaa-ika laHum jazaa-udl dli’fi bimaa ‘amiluu (“Mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.”) yaitu satu kebaikan akan dilipatgandakan bagi mereka dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat.
Wa Hum fii ghurufaati aaminuun (“Dan mereka aman sentausa di tempat-tempat yang tinggi.”) yaitu di tempat-tempat yang tinggi di dalam surga dalam keadaan aman dari rasa kekurangan, rasa takut, penyakit dan segala keburukan yang dikhawatirkannya.
Walladziina yas’auna fii aayaatinaa mu-‘aajiziina (“Dan orang-orang yang berusaha [menentang] ayat-ayat Kami dengan anggapan untuk dapat melemahkan.”) yaitu mereka berusaha menghalang-halangi dari jalan Allah, mengikuti para Rasul-Nya dan membenarkan ayat-ayat-Nya. Ulaa-ika fil ‘adzaabi muhdlaruuna (“Mereka itu dimasukkan ke dalam adzab.”) yaitu mereka seluruhnya akan dibalas sesuai amal-amal mereka.

Firman Allah: qul inna rabbii yabsuthur rizqa limay yasyaa-u min ‘ibaadiHi wa yaqdiru laHu (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Rabbku melapangkan rizky bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan [bagi siapa yang dikehendakinya].”) yaitu sesuai dengan kebijaksanaan yang dimiliki-Nya. Dia melapangkan rizky yang cukup banyak kepada satu orang, menyempitkannya pada orang yang lain dan amat menekan rizky-Nya kepada yang lain pula. Semua itu pasti mengandung hikmah yang tidak dapat diketahui oleh selain-Nya. Sebagaimana firman Allah: “Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian [yang lain]. Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya.” (al-Israa’: 21) yaitu sebagaimana mereka bertingkat-tingkat di dunia, yang satu sangat fakir dan sempit, sedangkan yang satu lagi kaya raya, maka begitu pula mereka di akhirat, yang satu di kamar-kamar lagi berada di tempat-tempat yang tinggi dan yang lain berada di tempat yang paling rendah dalam neraka. dan sebaik-baik manusia di dunia sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw.: “Sesungguhnya amat beruntung siapa yang beragama Islam, diberikan rizky cukup serta dikaruniai rasa puas [qana’ah] oleh Allah dengan apa yang didapatkannya.” (HR Muslim)
(bersambung ke bagian 12)

Tafsir Al-Qur’an Surah Saba’ (9)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Saba’ (Kaum Saba’)
Surah Makkiyyah; Surah ke 34: 54 ayat

Firman Allah: qul laa tus-aluuna ‘ammaa ajramnaa wa laa nus-alu ‘ammaa ta’maluuna (“Katakanlah: ‘Kamu tidak akan ditanya [bertanggung jawab] tentang dosa yang kita perbuat dan kami tidak akan ditanya [pula] tentang apa yang kamu perbuat.” Maknanya adalah berlepas diri dari mereka, yaitu kalian bukanlah bagian dari kami dan kami bukanlah bagian dari kalian. Akan tetapi kami mengajak kalian kepada Allah Ta’ala, mentauhidkan-Nya dan mengesakan dengan beribadah kepada-Nya. Jika kalian menerimanya, kalian adalah bagian dari kami dan kami adalah bagian dari kalian dan. Dan jika kalian mendustakannya, maka kami berlepas diri dari kalian dan kalian berlepas diri dari kami. Firman Allah Ta’ala: qul yajma-‘u bainanaa rabbunaa (“Katakanlah: ‘Rabb kita akan mengumpulkan kita semua.”) yaitu pada hari kiamat Dia mengumpulkan semua makhluk di suatu tempat. Tsumma yaftahu bainanaa bil haqqi (“Kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar.”) yaitu Dia menetapkan hukum di antara kita dengan keadilan. Lalu Dia membalas setiap pelaku dengan amalnya. Jika baik maka akan dibalas dengan kebaikan. Dan jika buruk akan dibalas dengan keburukan. Dan kalian akan mengetahui pada waktu itu milik siapa kemuliaan, kemenangan dan kebahagiaan abadi.

Untuk itu Allah berfirman: wa Huwal fattaahul ‘aliim (“Dan Dia-lah Mahapemberi keputusan lagi Mahamengetahui.”) yaitu yang memutuskan, Mahaadil dan Mahamengetahui segala hakekat perkara. Firman Allah: Qul aruuniyal ladziina lahaqtum biHii syurakaa-a (“Katakanlah: ‘Perlihatkanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu[Nya].”) yaitu perlihatkanlah kepadaku ilah-ilah yang kalian jadikan tandingan bagi Allah dan menjadikannya sebagai saingan. Kallaa (“Sekali-sekali tidak mungkin”) yaitu Dia tidak punya saingan, sekutu dan tandingan. Untuk itu Allah berfirman: bal HuwallaaHu (“Sebenarnya Dialah Allah”) yaitu Mahesa dan tunggal yang tidak ada sekutu bagi-Nya. al ‘aziizul hakiim (“Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) yaitu yang memiliki keperkasaan, dengannya Dia menundukkan segala sesuatu dan mengalahkannya. Serta Mahabijaksana dalam perbuatan-Nya, perkataan-Nya, syariat dan qadar-Nya. Mahasuci Allah Mahatinggi dari apa yang mereka katakan. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 28-30“28. dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. 29. dan mereka berkata: “Kapankah (datangnya) janji ini, jika kamu adalah orang-orang yang benar?”. 30. Katakanlah: “Bagimu ada hari yang telah dijanjikan (hari kiamat) yang tiada dapat kamu minta mundur daripadanya barang sesaatpun dan tidak (pula) kamu dapat meminta supaya diajukan.” (Saba’: 28-30)

Allah berfirman kepada hamba dan Rasul-Nya, yaitu Muhammad saw.: wa maa arsalnaaka illaa kaaffatal linnaasi basyiiraw wa nadziiran (“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.”) yaitu kepada seluruh makhluk yang mukallaf, seperti firman Allah: qul yaa ayyuHannaasu innii rasuulullaahi ilaikum jamii-‘an (“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.”)(al-A’raaf: 158), basyiiraw wa nadziiran (“sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.”) yaitu engkau memberi kabar gembira bagi orang yang menaatimu dengan surga, dan memberikan ancaman bagi orang yang bermaksiat kepadamu dengan neraka. wa lakinna aktsaran naasi laa ya’lamuuna (“Tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”)

Qatadah berkata tentang ayat ini: “Allah Ta’ala mengutus Muhammad saw. kepada bangsa Arab dan bangsa ‘Ajam [non Arab]. Lalu orang yang paling mulia di antara mereka di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah orang yang paling taat kepada-Nya.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Ikrimah, ia berkata, aku mendengar Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan keutamaan kepada Muhammad saw. di atas penghuni langit dan para Nabi.” Mereka bertanya: “Hai Ibnu ‘Abbas, dengan apa beliau diberikan keutamaan di atas para Nabi?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat member penjelasan dengan terang kepada mereka.” (Ibrahim: 4) dan Dia berfirman kepada Nabi: wa maa arsalnaaka illaa kaaffatallinnaasi (“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya.”) maka Allah Ta’ala mengutusnya untuk bangsa jin dan manusia. Apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas ini telah dinyatakan di dalam ash-Shahihain yang dimarfu’kan oleh Jabir ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku: Aku dimenangkan, dengan ditanamkannya rasa takut [di hati musuh-musuhku] dalam jarak perjalanan sebulan. Tanak dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan alat bersuci, siapa saja di antara umatku yang datang padanya waktu shalat, maka laksanakanlah shalat. Dihalalkan bagiku harta rampasan perang, padahal tidak dihalalkan kepada para nabi sebelumku dan aku diberikan syafaat. Para Nabi terdahulu diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia secara umum.”

Tercantum dalam hadits shahih pula bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku diutus kepada orang berkulit hitam dan berkulit merah.”

Mujahid berkata: “Yaitu kepada jin dan manusia.” Sedangkan yang lain berkata: “Yaitu kepada bangsa Arab dan bangsa ‘Ajam [non Arab].” Semua pendapat ini shahih.

Lalu Allah berfirman mengabarkan tentang orang-orang kafir yang menganggap mustahil terjadinya hari kiamat: wa yaquuluuna mataa Haadzal wa’du ing kuntum shaadiqiin (“Dan mereka berkata: ‘Kapankah [datangnya] janji ini, jika kamu adalah orang-orang yang benar?’”) Allah Ta’ala berfirman: qul lakum mii-‘aadu yaumil laa tasta’khiruuna ‘anHu saa-‘ataw wa laa tastaqdimuuna (“Katakanlah: Bagimu ada hari yang telah dijanjikan [hari kiamat] yang tidak dapat kamu minta mundur dari padanya barang sesaatpun dan tidak pula kamu dapat meminta supaya disegerakan.”) yaitu, kalian memiliki hari yang akan datang dan telah dijanjikan, tertentu dan terbatas, tidak ditambah dan tidak dikurangi. Jika waktu itu telah datang, tidak akan ditunda sesaatpun dan tidak akan dimajukan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: inna ajalallaaHi idzaa jaa-a laa yu-akhkharu (“Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan.” (Nuuh: 4)
(bersambung ke bagian 10)

Tafsir Al-Qur’an Surah Saba’ (8)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Saba’ (Kaum Saba’)
Surah Makkiyyah; Surah ke 34: 54 ayat

Untuk itu tercantum dalam ash-shahihain, dari beberapa jalan, dari Rasulullah saw. bahwa beliau adalah pemimpin anak Adam dan pemberi syafaat terbesar di sisi Allah, ketika dia menempati tempat terpunji untuk memberikan syafaat kepada seluruh makhluk dengan mendatangi Rabb mereka untuk memutuskan perkara. Beliau bersabda: “Kemudian aku bersimpuh dan bersujud kepada Rabb-ku, sebagaimana yang Dia kehendaki. Dan Dia membukakan berbagai puja dan puji, yang pada saat ini aku tidak dapat menyebutkannya. Kemudian dikatakan: ‘Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah, niscaya engkau akan didengar. Mintalah, engkau pasti akan diberi dan berilah syafaat, niscaya akan dikabulkan syafaatmu.” (Bacalah hadits secara sempurna).

Firman Allah: hattaa idzaa fuzzi-‘a ‘ang quluubiHim qaaluu maa dzaa qaala rabbukum qaalul haqqa (“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb-mu,’ mereka menjawab: ‘Perkataan yang benar.’”) ini merupakan kedudukan tinggi dalam keagungan. Yaitu jika Allah berfirman dengan wahyu, lalu mendengarlah penghuni langit firman-Nya itu, maka merekapun bergetar karena merasa takut, sehingga mereka seperti jatuh pingsan. Hal itu dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, Masruq dan lain-lain.
Hattaa idzaa fuzzi-‘a ‘ang quluubiHim (“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka.”) yaitu lenyapnya rasa takut.

Ibnu ‘Abbas, Ibnu Umar, Abu Abdirrahman as-Sulami, asy-Sya’bi, Ibrahim an-Nakha-i, adl-Dlahhak, al-Hasan dan Qatadah berkata tentang firman-Nya: hattaa idzaa fuzzi-‘a ‘ang quluubiHim qaaluu maa dzaa qaala rabbukum qaalul haqqa (“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb-mu,’ mereka menjawab: ‘Perkataan yang benar.’”) maksudnya dikosongkan hati-hati mereka [dari rasa takut]. Jika seperti itu maka sebagian mereka bertanya kepada sebagian lain: “Apa yang difirmankan oleh Rabb kalian?” Malaikat pembawa ‘Arsy memberitahukan hal itu kepada malaikat yang ada di bawahnya, kemudian mereka sampaikan lagi kepda yang lebih bawah, sehingga berita itu sampai kepada malaikat penghuni langit terendah. Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: qaalul haqqa (“Mereka menjawab: ‘[Perkataan] yang benar.’ Yaitu mereka mengabarkan apa yang difirmankan-Nya, tanpa menambah dan tanpa pengurangan.

Wa Huwal ‘aliyyul kabiiru (“Dan Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”) al-Bukhari berkata ketika menafsirkan ayat mulia ini di dalam Shahihnya, dari al-Humaidi, dari Sufyan, bahwa ‘Amr berkata, aku mendengar ‘Ikrimah berkata, aku mendengar Abu Hurairah berkata, sesungguhnya Nabiyyullah saw. bersabda: “Jika Allah telah memutuskan urusan di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, seakan-akan suara yang didengar itu bagaikan sebuah rantai yang ditarik di atas batu keras. Jika telah dihilangkan rasa takut dalam hati mereka, mereka pun saling menanyakan: ‘Apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?’ Mereka menjawab: ‘Apa yang dikatakan-Nya adalah kebenaran, dan Dia Mahatinggi dan Mahabesar.’ Lalu syaitan mencuri pendengaran mendengar hal tersebut. Mereka, para syaitan pencuri pendengaran itu keadaannya demikian, sedangkan di antara mereka menaiki sebagian yang lain seperti ini –Sufyan menggambarkan dengan tangannya dengan memiringkan tangan dan melebarkan jari-jarinya- ketika yang di atas mendengar kalimat itu, segera ia sampaikan kepada yang berada di bawahnya. Kemudian yang lainnya memberikannya kepada yang berada di bawahnya lagi, sehingga disampaikan melalui ucapan tukang sihir atau dukun. Kemungkinan di atara setan itu ada yang terkena meteor sebelum menyampaikan kalimat tersebut dan kemungkinan pula sempat menyampaikannya sebelum terkena meteor. Lalu dia buat bersamanya seratus kedustaan. Maka dikatakan, bukankah telah dikatakan kepada kita hari ini demikian, demikian. Maka dia dipercayai [tukang sihir/ dukun] karena kalimat yang didengarnya dari langit.”
Ditakhrij secara sendiri oleh al-Bukhari tanpa Muslim dari jalur ini. Serta diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 24-27“24. Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan Sesungguhnya Kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. 25. Katakanlah: “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang Kami perbuat dan Kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat”. 26. Katakanlah: “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. dan Dia-lah Maha pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui”. 27. Katakanlah: “Perlihatkanlah kepadaku sembah-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu-Nya, sekali-kali tidak mungkin! sebenarnya Dia-lah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Saba’: 24-27)

Allah Ta’ala berfiman mengikrarkan keesaan-Nya dalam menciptakan dan memberikan rizky serta keesaan-Nya dalam Uluhiyyah pula. Sebagaimana mereka mengakui bahwa tidak ada yang memberi risky mereka dari langit dan bumi kecuali Allah, yaitu dengan diturunkannya hujan dan ditumbuhkannya tanaman, demikian pula hendaknya mereka mengetahui bahwa tidak ada ilah selain-Nya. Firman Allah: wa innaa au iyyaakum la-‘alaa Hudan au fii dlalaalim mubiin (“Dan sesungguhnya kami atau kamu [orang-orang musyrik], pasti berada dalam kebenaran atau kesesaatan yang nyata.”) ini termasuk gaya bahasa laf dan nasyr, yaitu salah satu di antara dua golongan tersebut adalah orang yang bathil dan pihak yang lain adalah yang benar. Dimana tidak ada jalan, hingga kalian atau kami berada dalam petunjuk atau kesesaatan. Akan tetapi, salah satu di antara kita adalah yang benar. Sesungguhnya Kami telah menegakkan bukti-bukti tentang tauhid, maka hal tersebut menunjukkan kebathilan syirik yang kalian lakukan.

Qatadah berkata: “Sesungguhnya hal tersebut dikatakan oleh Sahabat Rasulullah kepada orang-orang musyrik.” ‘Ikrimah dan Ziyad bin Abi Maryam berkata: “Maknanya adalah, sesungguhnya kami berada di atas kebenaran, sedangkan kalian berada di atas kebathilan yang nyata.”
(bersambung ke bagian 9)