Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mursalaat (2)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mursalaat (Malaikat-Malaikat yang Diutus)
Surah Makkiyyah; Surah ke 77: 50 ayat

tulisan arab alquran surat al mursalaat ayat 16-28“16. Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu? 17. lalu Kami iringkan (azab Kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian. 18. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. 19. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 20. Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? 21. kemudian Kami letakkan Dia dalam tempat yang kokoh (rahim), 22. sampai waktu yang ditentukan, 23. lalu Kami tentukan (bentuknya), Maka Kami-lah Sebaik-baik yang menentukan. 24. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 25. Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, 26. orang-orang hidup dan orang-orang mati? 27. dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar? 28. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (al-Mursalaat: 16-28)

Allah Ta’ala berfirman: alam nuHlikil awwaliina (“Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang dahulu?”) yakni, dari kalangan orang-orang yang mendustakan para Rasul serta menentang apa yang dibawa oleh para Rasul tersebut kepada mereka. Tsumma nutbi-‘uHumul aakhiriina (“lalu Kami iringkan [adzab Kami terhadap] mereka dengan [mengadzab] orang-orang yang datang kemudian.”) yakni, dari orang-orang yang semisal dengan mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman: Kadzaalika naf’alu bil mujrimiin. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”) demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Jarir.

Lalu Allah berfirman seraya melimpahkan karunia kepada makhluk-makhluk-Nya sekaligus berhujjah tentang pengembalian makhluk dengan penciptaan awal: alam nakhluqkum mim maa-im maHiin (“Bukankah Kami menciptakanmu dari air yang hina.”) yakni yang lemah lagi hina dibandingkan dengan kekuasaan Allah. Fa ja-‘alnaaHu fii qaraarim makiinin (“Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh.”) yakni Kami kumpulkan di dalam rahim, yaitu tempat menetapnya sperma laki-laki dan ovum perempuan. Dan rahim itu memang disediakan untuk menjaga ari yang dititipkan di sana.

Firman Allah: ilaa qadarim ma’luum (“Sampai waktu yang ditentukan.”) yakni sampai batas waktu tertentu, enam bulan atau Sembilan bulan. Oleh karena itu, Dia berfirman: faqadarnaa fani’mal qaadiruuna. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Lalu Kami tentukan [bentuknya], maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)

Kemudian firman Allah: alam naj’alil ardla kifaatan. Ahyaa-aw wa amwaatan (“Bukankah Kami yang menjadikan bumi [tempat] berkumpul orang-orang hidup dan orang-orang mati?”) Ibu ‘Abbas mengatakan: “[Maksudnya] pembungkus.” Dan Mujahid mengatakan: “Orang yang meninggal dibungkus, sehingga tidak terlihat sedikitpun darinya.” Sedangkan asy-Sya’bi mengatkan: “Yakni perut bumi bagi orang-orang yang sudah meninggal dunia di antara kalian dan bagian luarnya bagi orang-orang yang masih hidup.” Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. Waja-‘alnaa fiiHaa rawaasiya syaamikhatin (“Dan Kami jadikan padanya gunung-gungun yang tinggi.”) yakni gunung-gunung yang ditanam di bumi agar bumi tidak goyah dan goncang. Wa asqainaakum maa-an furaatan (“Dan Kami beri minum kamu dengan air tawar.”) yakni, air tawar yang diturunkan dari langit maupun yang disumberkan dari mata air bumi. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”) yakni, celaka bagi orang yang merenungi berbagai macam makhluk yang menunjukkan keagungan Penciptanya, tetapi setelah itu dia terus menerus dalam kedustaan dan kekufuran.

tulisan arab alquran surat al mursalaat ayat 29-40“29. (Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat): “Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya. 30. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang 31. yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka”. 32. Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. 33. seolah-olah ia iringan unta yang kuning. 34. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 35. ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu),36. dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur. 37. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 38. ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu. 39. jika kamu mempunyai tipu daya, Maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku. 40. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (al-Mursalaat: 29-40)

Allah Ta’ala berfirman seraya mengabarkan tentang orang-orang kafir yang mendustakan hari kebangkitan, pemberian balasan, surge, dan neraka. Dimana pada hari kiamat kelak, akan dikatakan kepada mereka: inthaliquu ilaa maa kuntum tukadzdzibuuna. Inthaliquu ilaa dhillin dzii tsalaatsi syu-‘ab (“Pergilah kamu untuk mendapatkan adzab yang dahulunya kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang.”) yakni jika kobaran api semakin tinggi dan naik bersamaan dengan asap, maka karena kedasyatan dan kekuatannya ia mempunyai tiga cabang. Laa dhaliiliw walaa yughnii minal laHabi (“Yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.”) maksudnya, naungan asap yang muncul akibat kobaran api itu sendiri tidak bisa dijadikan naungan dan tidak pula bisa melindungi dari kobaran api. Artinya, asap itu tidak bisa melindungi mereka dari panasnya kobaran api.

Firman Allah: innaHaa tarmii bisyararing kal qashri (“Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana.”) yakni bunga-bunga api itu beterbangan dari kobaran api itu sebesar istana. Ibnu Mas’ud mengataka: “Seperti benteng.” Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Malik dari Zaid bin Aslam dan selainnya mengatakan: “Yakni, akar pohon.” Ka annaHuu jimaalatun shufri (“Seolah-olah ia iringan unta yang kuning.”) yaitu seperti unta hitam. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, al-Hasan, Qatadah, adl-Dlahhak, dan menjadi pilihan Ibnu Jarir. Dan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair; jimaalatun shufrun; yakni tambang kapal. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besar-lah pada hari itu itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)
(bersambung ke bagian 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: