Tafsir Al-Qur’an Surah Saba’ (13)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Saba’ (Kaum Saba’)
Surah Makkiyyah; Surah ke 34: 54 ayat

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 46“46. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, Yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.” (Saba’: 46)

Bahwa Allah berfirman: “Katakanlah hai Muhammad, kepadaorang-orang kafir yang menyangka bahwa engkau gila: innamaa a-‘idhukum bi waahidatin (“Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja.”) yaitu, aku hanya memerintahkan kalian satu hal. An taquumuullaaHi matsnaa wa furaadaa tsumma tatafakkaruu maa bishaahibikum min jinnati (“Yaitu supaya kamu menghadap Allah [dengan ikhlas] berdua-dua tau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan [tentang Muhammad] tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu.”) yaitu, kalian menghadap-Nya secara tegar dan ikhlas karena Allah, bukan karena hawa nafsu dan fanatis buta. Lalu sebagian kalian bertanya kepada sebagian yang lainnya: “Apakah ada kegilaan pada Muhammad?” lalu sebagian kalian memberikan nasehat kepada sebagian yang lain. Tsumma tatafakkaruu (“Kemudian kamu fikirkan.”) yaitu, seseorang memandang pada dirinya sendiri tentang urusan Muhammad saw. dan bertanya kepada orang lain tentangnya, jika ada kesulitan yang dihadapinya, serta merenungkan hal tersebut. Inilah makna yang disebutkan oleh Mujahid, Muhammad bin Ka’ab, as-Suddi, Qatadah dan selain mereka. Dan inilah yang dimaksud oleh ayat tersebut, wallaaHu a’lam.

Firman Allah: inna Huwa illaa nadziirul lakum baina yadai ‘adzaabin syadiidin (“Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagimu sebelum [menghadapi] adzab yang keras.”)
Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Nu’aim bercerita kepada kami, Basyir bin al-Muhajir, ‘Abdullah bin Buraidah bercerita kepadaku, bahwa ayahnya berkata: “Suatu hari Rasulullah saw. keluar menemui kami, lalu menyeru tiga kali: ‘Hai manusia, tahukah kalian perumpamaan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Allah Ta’ala dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah saw. bersabda: ‘Perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah seperti perumpamaan suatu kaum yang takut akan didatangi musuh. Lalu mereka mengutus seorang laki-laki yang bertugas memata-matai untuk kaum itu. Di saat itu ia melihat musuh itu, lalu dia menghadap kepada mereka untuk memberikan peringatan dan dia sendiri khawatir kalau tertangkap musuh itu sebelum dia sempat memberikan peringatannya kepada kaumnya. Maka dia pun memberi tanda/isyarat dengan pakaiannya: ‘Hai manusia, kalian telah diberi. Hai manusia, telah diberi [pemberi peringatan itu] (tiga kali).
Dengan isnad yang sama dia meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: “Saat aku diutus dan hari Kiamat hampir-hampir mendahuluiku.’” (hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri dalam Musnadnya).

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 47-50“47. Katakanlah: “Upah apapun yang aku minta kepadamu, Maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”. 48. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha mengetahui segala yang ghaib”. 49. Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” 50. Katakanlah: “Jika aku sesat Maka Sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk Maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha Dekat.” (Saba’: 47-50)

Allah berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk berkata kepada orang-orang musyrik: maa sa-altukum min ajrin faHuwa lakum (“Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu.”) yaitu, aku tidak menghendaki dari kalian bayaran dan pemberian dalam menyampaikan risalah Allah dan nasehatku pada kalian serta dalam memerintahkan kalian untuk beribadah kepada Allah. In ajriya illaa ‘alallaaHi (“Upahku hanyalah dari Allah.”) yaitu aku hanya mencari pahalanya dari sisi Allah. Wa Huwa ‘alaa kulli syai-in syaHiidun (“Dan Dia Mahamengetahui segala sesuatu.”) yaitu Mahamengetahui seluruh perkara tentang keadaanku dalam menyampaikan berita yang Dia mengutusku untuk menyampaikannya kepada kalian, juga keadaan tentang kalian.

Firman Allah: qul inna rabbii yaqdzifu bil haqqi ‘allaamul ghuyuubi (“katakanlah: ‘Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebenaran. Dia Mahamengetahui segala yang ghaib.”) seperti firman Allah: “Yang mengutus Jibril dengan [membawa] perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya” (Mu’min: 15). Yaitu mengutus Malaikat kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, penghuni bumi, dan Dia Mahamengetahui hal-hal yang ghaib. Tidak ada satu pun yang berada di langit dan di bumi yang tersembunyi dari-Nya.

Qul jaa-al haqqu wa maa yubdi-ul baathilu wa maa yu-‘iid (“Katakanlah: ‘Kebenaran telah datang dan yang bathil itu tidak akan memulai dan tidak [pula] akan mengulangi.”) yaitu telah datang kebenaran dan syariat yang agung dari Allah, serta hilang hancur dan musnahlah kebathilan.

Untuk itulah ketika Rasulullah memasuki Masjidilharam pada hari Fathu Makkah [Pembebasan Kota Makkah] dan beliau menemukan berhala-berhala didirikan di sekitar ka’bah. Beliau merusak salah satu dari berhala itu dengan tangkai panahnya dan membaca: “Wa qul jaa-al haqqu wa zaHaqal baathilu innal baathilu kaana zaHuuqan (“Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”)(al-Israa’: 81) Qul jaa-al haqqu wa maa yubdi-ul baathilu wa maa yu-‘iid (“Katakanlah: ‘Kebenaran telah datang dan yang bathil itu tidak akan memulai dan tidak [pula] akan mengulangi.”) (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i tentang ayat ini dari Ibnu Mas’ud)
Yaitu kebathilan tidak lagi memiliki suara, kekuasaan ataupun kalimat, wallaaHu a’lam.

Firman Allah: qul in dlalaltu fa innamaa a dlillu ‘alaa nafsii wa iniHtadaitu fa bimaa yuuhii ilayya rabbi (“Katakanlah: ‘Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku sesat atas kemudlaratan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Rabbku kepadaku.”) yaitu seluruh kebaikan itu hanya dari sisi Allah dan milik-Nya. Dan wahyu serta kebenaran nyata yang diturunkan dari Allah mengandung hidayah, penjelasan dan petunjuk. Barangsiapa yang sesat, berarti dia sesat karena dirinya sendiri.

Sebagaimana perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud ketika ditanya tentang masalah mufawwidhah, beliau berkata: “Aku mengatakan dalam hal ini dengan pendapatku. Jika itu benar, maka itu dari Allah. Dan jika keliru maka itu dari diriku dan dari syaithan. Sedangkan Allah dan Rasul-Nya bebas dari hal itu semua.”
(bersambung ke bagian 14)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: