Tafsir Al-Qur’an Surah Saba’ (6)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Saba’ (Kaum Saba’)
Surah Makkiyyah; Surah ke 34: 54 ayat

Allah berfirman: wa syai-im min sidring qaliilin (“Dan sedikit dari pohon Sidr.”) ketika pohon-pohon yang terbaik ini diganti dengan pohon sidr. Inilah yang terjadi di antara dua kondisi dua kebun tersebut. Setelah buah-buahan yang lezat, pemandangan yang indah, teduhan yang lebat dan sungai-sungai yang mengalir digantikan oleh pohon arak, berduri, sidr yang berduri besar dan berbuah sedikit. Hal tersebut disebabkan oleh kekafiran dan kesyirikan mereka kepada Allah dan mendustakan kebenaran serta berpalingnya mereka kepada kebathilan.

Firman Allah: dzaalika jazainaaHum bimaa kafaruu wa Hal nujaazii illal kafuura (“Demikian Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab [yang demikian itu] melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.”) yaitu Kami siksa mereka oleh sebab kekufuran mereka. Mujahid berkata: “Tidak ada yang dihukum kecuali orang yang sangat kufur.” Al-Hasan al-Bashri berkata: “Mahabenar Allah yang Mahaagung, tidak ada yang dihukum seperti perbuatannya itu kecuali orang yang sangat kufur.” Thawus berkata: “Tidak ada yang ditelitinya kecuali orang yang sangat kufur.”

tulisan arab alquran  surat saba' ayat 18-19“18. dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman. 19. Maka mereka berkata: “Ya Tuhan Kami jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka Menganiaya diri mereka sendiri; Maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi Setiap orang yang sabar lagi bersyukur.” (Saba’: 18-19)

Allah Ta’ala menyebutkan kondisi mereka yang penuh kenikmatan, kesenangan dan kehidupan yang tenteram dan makmur, negeri yang hijau, tempat-tempat yang aman tenteram, daerah-daerah yang antara satu bagian dengan bagian lainnya saling menyambung dan berdekatan, dipenuhi banyak pohon, tanam-tanaman dan buah-buahan dimana orang yang melakukan perjalanan tidak lagi membutuhkan bekal dan air. Bahkan dimana saja mereka singgah, mereka pasti mendapatkan air dan buah serta dapat pula beristirahat siang di satu daerah dan bermalam di daerah lain sesuai yang dibutuhkan oleh mereka dalam perjalanan mereka.

Untuk itu Allah berfirman: wa ja-‘alnaa bainaHum wa bainal qurallatii baaraknaa fiiHaa (“Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan barokah kepadanya.”) Wahab bin Munabbih berkata: “Yaitu suatu daerah di Shan’a.” Demikian pula yang dikatakan oleh Abu Malik. Adapun Mujahid, al-Hasan, Sa’id bin Jubair dan Malik dari Zaid bin Aslam, Qatadah, adl-Dlahhak, as-Suddi, Ibnu Zaid dan lain-lain, yaitu dari daerah Syam. Yang dimaksud adalah mereka melakukan perjalanan dari kota Yaman ke Kota Syam di suatu daerah yang terkenal dan saling menyatu.

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya adalah Baitul Maqdis.” Qurran dhaaHiratan; yaitu yang jelas dan tampak, dimana para musafir dapat mengetahuinya. Mereka dapat tidur siang di satu tempat dan bermalam di tempat lain. Untuk itu Allah berfirman: wa qaddarnaa fiiHas saira (“Dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu [jarak-jarak] perjalanan.”) yaitu Kami jadikan hal itu sesuai yang dibutuhkan oleh musafir. Siiruu fiiHaa layaaliya wa ayyaaman aaminiina (“Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.”) yaitu keamanan mereka rasakan dalam perjalanan mereka di waktu malam dan siang.

Qaluu rabbanaa baa-‘id baina asfaarinaa wa dhalamuu anfusaHum; ulama lain membaca: ba’-‘id baina asfaarinaa; hal itu disebabkan mereka mengingkari nikmat ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, al-Hasan dan lainnya. Mereka menyenangi padang pasir dan gurun, dimana dalam menempuhnya memerlukan bekal, kendaraan dan berjalan di waktu terik disertai rasa takut. Sebagaimana Bani Israil meminta kepada Musa agar Allah mengeluarkan bagi mereka tanam-tanaman yang ditumbuhkan bumi berupa sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah. Padahal mereka berada di dalam kehidupan yang makmur dengan manna dan salwa, serta makanan, minuman dan pakaian mewah yang mereka nikmati.

Untuk itu Allah berfirman kepada mereka: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pastikan kamu memperoleh apa yang kamu minta.’ Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.” (al-Baqarah: 61) dan Allah berfirman tentang mereka: fa Qaluu rabbanaa baa-‘id baina asfaarinaa wa dhalamuu anfusaHum (“Maka mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami.’ Dan mereka menganiaya diri mereka sendiri.”) yaitu oleh sebab kekufuran mereka.

Fa ja-‘alnaaHum ahaadiitsa wa mazzaqnaaHum kulla mumazzaqin (“Maka kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.”) yaitu Kami jadikan mereka cerita bagi manusian dan sebagai dongeng yang dituturkan tentang kisah mereka. Bagaimana Allah menipu daya mereka dan menghancurkan mereka setelah mereka bersatu, bersaudara dan berada dalam kehidupan yang baik serta memecah-belah mereka di berbagai negeri.

Firman Allah: inna fii dzaalika la-aayaatil likulli shabbaarin syakuur (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.”) sesungguhnya dalam peristiwa yang menimpa mereka berupa kemurkaan, siksaan, perubahan nikmat dan ‘afiat menjadi hukuman dikarenakan kekufuran dan dosa-dosa yang mereka lakukan sungguh mengandung pelajaran dan petunjuk bagi setiap hamba yang bersabar terhadap berbagai musibah serta bersyukur terhadap segala nikmat.

Di dalam ash-Shahihain dinyatakan dari hadits Abu Hurairah: “Sungguh menakjubkan urusan orang Mukmin. Tidak ada satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah baginya, kecuali itu pasti merupakan kebaikan. Jika ia mendapatkan kesenangan, dia pun bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika dia mendapatkan kesedihan/ kesulitan, dia pun bersabar, maka itu baik baginya. Dan itu semua hanya dimiliki oleh orang Mukmin.”
(bersambung ke bagian 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: