Arsip | 13.54

Hadits Arba’in ke 5: Menolak Kemungkaran dan Bid’ah

7 Jun

al-Wafi; DR. Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 5 (Kelima)

Ummul Mukminin, Ummu Abdillah, ‘Aisyah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mendatangkan hal baru dalam urusan agama yang tidak termasuk bagian darinya [tidak ada dasar hukumnya] maka tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim)
Riwayat Muslim menyebutkan, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa melakukan amalan, tanpa didasari perintah kami, maka tertolak.”

Kandungan hadits:

1. Islam dilakukan dengan cara ittiba’ [mengikuti], bukan ibtida’ [mencipatakan]. Melalui hadits ini Rasulullah saw. menjaga kemurnian Islam dari tangan orang-orang yang melampaui batas. Hadits ini merupakan jawami’ul kalim [singkat namun penuh makna], yang mengacu kepada berbagai nash al-Qur’an yang menyatakan bahwa keselamatan seseorang hanya akan didapat dengan mengikuti petunjuk Raulullah saw. tanpa menambah atau mengurangi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allaha: “Katakanlah wahai Muhammad, ‘Jika kalian semua mencintai Allah maka ikutilah aku, tentu Allah akan mencintai kalian.” (Ali Imraan: 31) juga dalam firman Allah: “Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan [yang sesat] karena dapat mencerai-beraikan kalian dari jalan-Ku.” (al-An’am: 153)

2. Berbagai perbuatan yang tertolak. Hadits ini merupakan dasar yang jelas bahwa semua perbuatan yang tidak didasari oleh perintah syar’i adalah tertolak. Hadits ini juga menunjukkan bahwa semua perbuatan, baik yang berhubungan dengan perintah maupun larangan terikat dengan hukum syara’. Karenanya, sungguh sangat sesat perbuatan yang keluar dari koridor yang telah ditentukan oleh syara’, seolah-olah perbuatanlah yang menghukumi syara’ dan bukan syara’ yang menghukumi perbuatan. Karena itu setiap muslim wajib menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut [yang ada di luar koridor syara’] adalah bathil dan tertolak. Perbuatan-perbuatan yang ada di luar koridor syara’ ini terbagi dua, dalam ibadah dan muamalah.
a. Dalam ibadah. Jika ibadah yang dilakukan seseorang keluar dari hukum syara’, maka perbuatan tersebut tertolak. Ini termasuk dalam firman Allah swt., “Apakah mereka mempunyai sekutu, yang membuat peraturan [dalam agama] bagi mereka, yang Allah tidak mengizinkannya.” (asy-Syura: 21).
Contohnya mendekatkan diri kepada Allah dengan mendengar nyanyian, menari, melihat wanita atau berbagai perbuatan lainnya yang tidak berdasarkan syara’. Mereka inilah orang-orang yang dibutakan hatinya oleh Allah hingga tidak bisa melihat kebenaran bahkan kemudian selalu mengikuti langkah-langkah setan. Mereka mengklaim bahwa mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah melalui kesesatan yang mereka ciptakan. Mereka ini tidak jauh berbeda dengan orang-orang Arab jahiliyyah yang menciptakan satu bentu ibadah dan pendekatan diri kepada Allah, sedangkan Allah tidak menurunkannya. Allah swt. berfirman, “Ibadah mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakan azab disebabkan karena kekafiranmu.” (al-Anfal: 35)
Kadang, orang menyangka bahwa jika dengan melakukan ibadah bisa mendekatkan diri kepada Allah, maka pendekatana tersebut juga bisa dilakukan dengan perbuatan yang lain. Sebagai contoh, dimana Nabi Muhammad ada orang yang berpuasa sambil berdiri di bawah sengatan terik matahari. Ia tidak duduk dan tidak berteduh. Lalu Rasulullah saw. menyuruhnya untuk duduk dan berteduh sambil terus menyempurnakan puasanya.

b. Mu’amalah.
Sama halnya dalam ibadah, jika tidak ada dasar syar’i, maka amalan [yang berkenaan dengan mu’amalah] yang dilakukan seseorang batal dan tertolak. Ini didasarkan oleh kejadian pada masa Rasulullah saw. Suatu saat ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw. dan menginginkan agar hukuman zina diubah dengan denda, maka Rasulullah menolaknya. Lebih lengkapnya kejadian tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam sebuah hadits yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. kedatangan seseorang. Orang tadi berkata: “Anakku bekerja pada si fulan, lalu berzina dengan istrinya. Saya telah membayar denda sebanyak seratus kambing dan seorang pembantu.” Mendengar penuturannya Rasulullah saw. bersabda: “Seratus kambing dan pembantu dikembalikan kepadamu dan hukuman bagi anakmu seratus kali cambukan dan diasingkan selama setahun.”
Demikian juga semua akad [transaksi] yang dilarang oleh syara’, atau dua orang yang melakukan akad mengabaikan salah satu rukun atau syarat akad maka akad tersebut batal dan tertolak. Permasalah ini, secara rinci bisa dibaca di buku-buku fiqih.

3. Perbuatan yang diterima
Dalam kehidupan ada perkara-perkara yang sifatnya baru dan tidak bertentangan dengan syariat. Bahkan sesuai atau cenderung bertentangan dengan syariat. Bahkan sesuai atau cenderung didukung dasar-dasar syara’. Maka perkara-perkara tersebut diterima. Para Shahabat banyak mencontoh hal ini. Seperti pengumpulan al-Qur’an di masa Abu Bakar, penyeragaman [bacaan] al-Qur’an di masa Utsman bin Affan dengan mengirimkan salinan-salinan mushaf ke berbagai penjuru disertai para qari’.
Contoh lain, penulisan ilmu nahwu, tafsir, sanad hadits dan sebagai ilmu lainnya, baik teori maupun yang bersifat empiris yang sangat bermanfaat bagi manusia, dan dapat mendorong terwujudnya pelaksanaan hukum Allah di muka bumi.

4. Bid’ah yang tercela dan bid’ah yang terpuji
Dari uraian di atas bisa kita tarik kesimpulan bahwa perkara-perkara yang sifatnya baru dan bertentangan dengan syara’, maka perkara tersebut tergolong bid’ah yang tercela dan sesat. Namun perkara yang sifatnya baru dan tidak bertentangan dengan syariat bahkan sesuai dan didukung oleh syariat, maka perkara tersebut baik dan sifatnya fardlu kifayah. Karena itulah Imam Syafi’i pernah mengatakan, “Apa-apa yang sengaja dibuat dan tidak sesuai dengan al-Qur’an atau Sunah ataupun ijma’, maka perkara tersebut masuk dalam katagori bid’ah yang sesat. Apa-apa yang sengaja diciptakan dan bersifat baik juga tidak betentangan dengan syara’ maka masuk dalam katagori bid’ah yang baik.”
Bid’ah yang sesat pun berfariasi, ada yang makruh dan ada yang haram, tergantung bahaya yang ditimbulkan dan ketidaksesuaiannya dengan nilai-nilai Islam. Bahkan dalam melakukan perbuatan bid’ah tersebut seseorang bisa terjerumus dalam kekufuran dan kesesatan, misalnya: orang yang bergabung dengan aliran sesat, yang mengingkari wahyu dan syariat Allah, mengajak untuk menerapkan hukum buatan manusia, menuduh penerapan hukum Allah merupakan keterbelakangan. Atau orang yang bergabung dengan jama’ah-jama’ah sufi, yang meremehkan berbagai kewajiban atau mempunyai paham wihdatul wujud atau hulul [manunggaling kawula gusti] dan berbagai perilaku sesat lainnya.
Termasuk bid’ah sayi’ah atau sesat adalah pengagungan suatu benda dan minta keberkahan kepada benda tersebut, dengan keyakinan bahwa benda tersebut, dengan keyakinan bahwa benda yang dia agungkan bisa memberi manfaat, misalnya: mengagungkan pohon, batu, atau kuburan. Pernah suatu saat para shahabat lewat di samping pohon bidara yang diagung-agungkan orang musyrik. Para shahabat berkata: “Ya Rasulallah, biarkanlah kami mempunyai gantungan [senjata] sebagaimana mereka orang musyrik mempunyai gantungan.” Rasulullah bersabda: “AllaHu akbar, ini seperti yang dikatakan kaumnya Musa: ‘Buatkanlah kamu tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan.’” Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengerti dan pasti kalian akan mengikuti kaum sebelum kalian.”

5. Kami sengaja menyebutkan hadits kedua: “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak didasari perintah kami, maka ia tertolak.” Karena sebagian ahli bid’ah membantah hadist pertama “Barangsiapa yang menciptakan hal baru dalam perkara [ibadah] yang tidak ada dasar hukumnya maka ia tertolak.” Dengan argumen mereka, “Kami tidak pernah menciptakan hal baru. Apa yang kami lakukan telah kami dapatkan dari orang-orang sebelum kami.”
Maka dengan menyebutkan hadits kedua ini, argumentasi mereka tidak bernilai.

6. Dari hadits di atas bisa kita pahami bahwa barangsiapa yang mereka-reka satu amalan, maka dosanya ia sendiri yang menanggung dan amalan tersebut tertolak.

7. Setiap larangan cenderung pada dampak kerusakan.

8. Agama Islam sangat sempurna tidak ada satu kekuranganpun, tidak perlu ditambah-tambah lagi atau dikurangi.

Keutamaan Memerdekakan Budak

7 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? [yaitu] melepaskan budak dari perbudakannya.” (al-Balad: 11-13)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa memerdekakan budak muslim, maka Allah akan membebaskan –dengan sebab- setiap anggota tubuhnya dari neraka, sampai kemaluannya pun terbebas dari api neraka, sebab kemaluan budak yang ia bebaskan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Dzar ra. ia berkata: Saya bertanya: “Wahai Rasulalah, amal-amal manakah yang paling utama?” Beliau bersabda: “Iman kepada Allah dan jihad fi sabilillah.” Saya bertanya lagi: “Budak manakah yang paling utama?” Beliau bersabda: “Yang paling berharga di sisi keluarganya dan paling banyak harganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Berbuat Baik Kepada Budaknya

7 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – hadits

Allah berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang terdekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” (an-Nisaa’: 36)

Dari al-Ma’rur bin Suwaid berkata: Saya melihat Abu Dzar ra memakai suatu perhiasan yang sama dengan perhiasan yang dipakai oleh pelayannya, maka saya menanyakan hal itu kepadanya, kemudian ia menceritakan bahwa pada masa Rasulullah saw. ia pernah memakai seseorang kemudian orang itu mencela ibunya. Kemudian Nabi saw. bersabda: “Sungguh, kamu ini orang yang bermulut jahiliyyah. Mereka [budak-budak itu] adalah teman-teman dan hamba sahaya kalian, yang dijadikan Allah berada di bawah kekuasaan kalian. Barangsiapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, maka hendaklah ia memberi makan saudaranya [budak]nya itu dengan apa yang dia makan, dan memberi pakaian dengan apa yang dipakai. Janganlah kalian membebani mereka dengan apa yang mengalahkan kalian [tidak sanggup mengerjakannya]. Jika kalian memberi tugas mereka, maka bantulah mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian dibawakan makanan oleh pelayannya, maka jika ia tidak mengajak duduk pelayan itu bersamanya [untuk makan bersama], hendaklah ia memberikan kepada pelayan itu sesuap atau dua suap atau sepotong dua potong makanan. Karena pelayan itulah yang menyajikannya.” (HR Bukhari)

Macam-Macam Mati Syahid

7 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Syuhada; [orang-orang yang mati syahid] itu ada lima macam: orang yang mati karena wabah, karena sakit perut, mati tenggelam, mati tertimpa reruntuhan bangunan, dan mati dalam perang di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bertanya: “Siapakah yang kalian anggap mati syahid di kalangan kalian?” Para shahabat menjawab: “Wahai Rasulallah, orang-orang yang mati terbunuh dalam peperangan sabilillah itulah orang yang mati syahid.” Beliau bersabda: “Kalau begitu hanya sedikit orang-orang yang mati syahid dari umatku.” Para shahabat bertanya: “Lalu siapa wahai Rasulallah?” Beliau bersabda: “Orang yang terbunuh dalam perang sabilillah adalah syahid, orang yang mati karena wabah penyakit adalah syahid, orang yang mati karena sakit perut adalah syahid dan orang yang mati tenggelam pun adalah syahid.” (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan hartanya, maka ia syahid.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abul A’war Sa’id bin Zaid bin Amr bin Naufil ra., salah seorang di antara sepuluh orang yang dipastikan masuk surga, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid, dan barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan darahnya [dirinya] maka ia mati syahid, barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan agamanya maka ia mati syahid, dan barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan keluarganya, maka ia mati syahid.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Suatu ketika datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw. lalu berkata: “Wahai Rasulallah, bagaimanakah jika ada seseorang datang untuk merebut hartaku?” Beliau bersabda: “Jangan kamu berikan.” Lelaki itu bertanya: “Bagaimanakah jika ia menyerangku?” Beliau bersabda: “Ganti serang dia.” lelaki itu bertanya lagi: “Bagaimana jika ia berhasil membunuhku?” Beliau bersabda: “Kamu mati syahid.” Lelaki itu bertanya lagi: “Bagaimana jika saya berhasil membunuhnya?” Beliau bersabda: “Dia berada di neraka.” (HR Muslim)

Haji

7 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – hadits

Allah berfirman: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu [bagi] orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari [kewajiban haji], maka sesungguhnya Allah Mahakaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam.” (Ali ‘Imraan: 97)

Dari Ibnu ‘Umar ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Islam didirikan atas lima sendi, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan berpuasa pada bulan Ramadlan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan kami dimana beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah kalian.” Ada seorang laki-laki bertanya: “Apakah setiap tahun wahai Rasulallah?” Beliau terdiam, sehingga laki-laki itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Apabila aku mengatakan ya, maka berarti menjadi wajib, sedangkan kamu tidak akan mampu mengerjakannya.” Beliau terus bersabda: “Tinggalkanlah apa yang tidak aku perintahkan, karena sesungguhnya orang-orang [umat] sebelum kamu itu binasa karena banyak pertanyaan [yang mereka ajukan] dan perselisihan mereka terhadap Nabi-Nabi mereka [tidak mau patuh dan taat]. Maka apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka kerjakanlah semampu kamu, dan apabila aku melarang kamu atas sesuatu maka tinggalkanlah.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Nabi saw. pernah ditanya: “Amal perbuatan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ia bertanya: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah.” Ia bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Haji yang mabrur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan haji kemudian ia tidak berkata kotor dan tidak melakukan kefasikan, maka ia kembali [bersih] seperti saat dilahirkan oleh ibunya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Umrah satu sampai umrah berikutnya merupakan kafarat [pelebur dosa] terhadap dosa yang ada di antara kedua umrah itu. Dan haji mabrur tidak ada lain balasannya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Saya berkata: “Wahai Rasulallah, menurut kami jihad adalah amal perbuatan yang paling utama. Bolehkah kami terus menerus berjihad?” kemudian beliau bersabda: “Tetapi jihad yang paling utama adalah haji yang mabrur.” (HR Bukhari)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Tiada hari dimana Allah memerdekakan hamba-Nya dari api neraka melebihi daripada hari ‘Arafah.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Umrah pada bulan Ramadlan itu sebanding dengan haji atau sebanding dengan haji bersamaku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas ra. bahwasannya ada seorang perempuan bertanya: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya Allah mewajibkan haji kepada hamba-Nya tetapi kewajiban itu sampai pada ayah dalam usia yang sangat tua, dimana ia tidak mampu lagi untuk bepergian, maka bolehkah saya mengerjakan haji untuknya [menghajikannya]?” Beliau bersabda: “Ya, boleh.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Laqith bin Amir ra. bahwasannya ia datang kepada Nabi saw. dan berkata: “Sesungguhnya ayah saya sudah berusia lanjut, dimana ia sudah tidak mampu lagi mengerjakan haji dan Umrah, bahkan tidak mampu bepergian sama sekali.” Beliau bersabda: “Berhaji dan berumrahlah untuk ayahmu.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari as-Saib bin Yazid ra. ia berkata: “Saya pernah mengerjakan haji bersama dengan Rasulullah saw. yaitu pada haji Wada’, pada waktu itu saya berusia tujuh tahun.” (HR Bukhari)

Dari Ibnu ‘Abbas ra bahwasannya Nabi saw. bertemu dengan suatu rombongan di Rauha’, kemudian beliau bertanya: “Siapakah rombongan ini?” Mereka menjawab: “Orang-orang Islam.” Mereka bertanya: “Siapakah engkau?” Beliau menjawab: “Utusan Allah.” Kemudian ada seorang perempuan mengangkat anaknya yang masih kecil seraya bertanya: “Apakah anak kecil ini wajib berhaji?” Beliau menjawab: “Ya, dan pahalanya buat kamu.” (HR Muslim)

Dari Anas ra. bahwasannya Rasulullah saw. berhaji dengan naik kendaraan sambil membawa bekalnya.” (HR Bukhari)

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: “Ukadh, Majinnah dan Dzul Majaz merupakan pasar-pasar sejak jaman jahiliyyah. Kaum Muslimin khawatir berdoa apabila berdagang pada musim haji, lalu turunlah ayat: laisa ‘alaikum junaahun an tabtaghuu fadl-lam mir rabbikum [tidaklah berdosa bagi kalian untuk mencari karunia dari Rabb kalian] dalam musim haji.” (HR Bukhari)

I’tikaf

7 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Rasulullah saw. selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan sehingga beliau dipanggil oleh Allah swt. (wafat). Setelah beliau wafat, istri-istrinya meneruskan kebiasaan i’tikaf yang selalu dikerjakan oleh beliau.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Nabi saw. biasanya beri’tikaf pada sepuluh hari setiap bulan Ramadlan. Kemudian pada tahun dimana beliau wafat, beliau beri’tikaf dua puluh hari.” (HR Bukhari)

Puasa Sunnah Senin dan Kamis

7 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Amal perbuatan itu diserahkan [dilaporkan] pada hari senin dan kamis, karena itu aku suka apabila amalku dilaporkan dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR Turmudzi)
Muslim juga meriwayatkannya tetapi tidak menyebutkan puasanya.

Dari Abi Qatadah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Amal perbuatan itu diserahkan [dilaporkan] pada hari Senin dan Kamis, karena itu aku suka apabila amalku dilaporkan dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. senantiasa bersungguh-sungguh dalam berpuasa senin dan kamis.” (HR Turmudzi)

Keutamaan Memberi Buka [Makan] Orang Berpuasa

7 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Yazid bin Khalid al-Juhanniy ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa memberi buka [makan] orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu.” (HR Turmudzi)

Dari Ummu Umarah al-Anshariy ra. bahwasannya Nabi saw. datang ke rumah Ummu Umarah dan menghidangkan makanan kepada beliau , kemudian beliau bersabda: “Makanlah wahai Ummu Umarah.” Ia menjawab: “Saya sedang berpuasa.” Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang berpuasa itu selalu didoakan oleh malaikat jika ada orang makan di tempatnya sampai selesai makan.” Atau beliau bersabda: “Sampai orang yang makan itu merasa kenyang.” (HR Turmudzi)

Dari Anas ra. bahwasannya Nabi saw. datang ke tempat Sa’ad bin Ubadah ra. kemudian ia menghidangkan roti dan mentega, maka beliau pun memakannya serta bersabda: “Telah berbuka di tempatmu orang-orang yang berpuasa, dan memakan makananmu orang-orang yang baik, serta malaikat mendoakan kamu.” (HR Abu Dawud)

Sunnah Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

7 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Abu Ayyub ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadlan, kemudian mengikutinya dengan enam hari pada bulan Syawal, maka puasa enam hari itu bagaikan puasa sepanjang masa.” (HR Muslim)

Sunnah Puasa Tiga Hari Tiap Bulan

7 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Puasa tiga hari yang paling utama adalah pada Ayyamul Bidl [hari-hari terang], yaitu tanggal 13, 14, dan tanggal 15. Ada pula yang berpendapat bahwa [Ayyamul Bidl] itu adalah 12, 13 dan tanggal 14. Tetapi pendapat yang pertama yang shahih dan masyur.

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Kekasihku [Nabi Muhammad saw] berpesan kepadaku untuk berpuasa tiga hari tiap bulan, dan dua rakaat Dluha dan shalat Witir sebelum saya tidur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Darda’ ra. ia berkata: “Kekasihku [Nabi Muhammad saw.] berpesan kepadaku untuk tidak meninggalkan tiga macam selama saya masih hidup, yaitu: puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dluha dan agar saya tidak tidur sebelum mengerjakan shalat Witir.” (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. ia berkata: “Puasa tiga hari setiap bulan, bagaikan puasa sepanjang masa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Mu’adzah al-Adawiyyah bahwasannya ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah ra.: “Adakah Rasulullah saw. berpuasa tiga hari setiap bulan?” ‘Aisyah menjawab: “Ya.” Saya [Mu’adzah] bertanya: “Dari bulan apakah beliau berpuasa?” ‘Aisyah menjawab: “Saya tidak memperhatikan dari bulan yang manakah beliau berpuasa.” (HR Muslim)

Dari Abu Dzar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila kamu berpuasa pada tiga hari setiap bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, keempat belas dan kelima belas.” (HR Turmudzi)

Dari Qatadah bin Milhan ra. ia berkata: Rasulullah saw. menyuruh kami untuk berpuasa pada Ayyamul Bidl yaitu tanggal 13, 14 dan 15.” (HR Abu Dawud)

Dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata: Rasulullah saw. tidak pernah berbuka [artinya berpuasa] pada Ayyamul Bidl baik beliau berada di rumah maupun sedang dalam bepergian.” (HR Nasa’i)