Arsip | 16.14

Ilmu Pengetahuan

10 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – hadits

Firman Allah: “Dan katakanlah: Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (ThaaHaa: 114)

Firman Allah: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.” (az-Zumar: 9)

Firman Allah: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Fathir: 28)

Dari Mu’awiyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah menjadi baik, maka Dia memberikan kefahaman [ilmu] masalah agama.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak boleh hasud [dengki] kecuali dalam dua hal, yaitu terhadap orang yang diberi harta oleh Allah kemudian dia mempergunakannya untuk membela kebenaran, dan terhadap orang yang diberi ilmu pengetahuan oleh Allah kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Musa ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diberikan Allah kepadaku, bagaikan hujan yang menimpa bumi. Maka sebagian tanah ada yang baik [subur], lalu tumbuhlah tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Ada pula tanah yang kering tetapi bisa menyimpan air, lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia, mereka bisa minum dari air itu, memberikan minum ternak dan bertani. Ada lagi air yang menimpa bagian bumi lain yang datar dan lunak yang tidak dapat menyimpan air dan tidak dapat menumbuhkan tumbuhan. Demikianlah perumpamaan orang alim dalam masalah agama dan mengerjakannya dan perumpamaan orang yang tidak dapat menerima petunjuk Allah yang ditugaskan kepadaku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahl bin Sa’ad ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan perantaraanmu, itu lebih baik daripada unta merah [hak milik orang yang paling berharga].” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Sampaikanlah [ilmu] dariku meski hanya satu ayat, dan boleh saja kalian menceritakan dari bani Israil [boleh untuk diambil pelajaran]. Dan barangsiapa mendustakan atasku [mengatas namakan suatu pembicaraan kepada Nabi, padahal beliau tidak menyabdakannya] dengan sengaja, maka sebaiknya ia meletakkan tempat duduknya di neraka.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah memudahkan bagi orang itu karena ilmu tersebut jalan menuju surga.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mengajak kepada jalan yang baik, maka ia mendapat pahala sebanyak pahala orang yang mengikutinya [mengikuti ajakannya] tanpa mengurangi pahala mereka sendiri sedikitpun.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila anak Adam [manusia] mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Dunia dan segala isinya adalah terkutuk kecuali dzikir dan taat kepada Allah Ta’ala, serta orang alim dan orang yang belajar.” (HR Turmudzi)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa keluar dengan tujuan menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy dari Nabi saw. beliau bersabda: “Seorang mukmin tidak akan merasa kenyang untuk berbuat kebaikan, sehingga akhir tujuannya adalah surga.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Mumamah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Kelebihan orang alim terhadap orang yang ahli ibadah [tetapi tidak alim], seperti kelebihanku terhadap orang yang paling rendah di antara kalian.” Kemudian Rasulullah saw. meneruskan sabdanya: “Sesungguhnya Allah, malaikat serta penghuni langit dan bumi sampai-sampai semut yang ada di sarangnya dan juga ikan, senantiasa memintakan rahmat untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Darda’ ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena puas dengan yang diperbuatnya, dan bahwasannya penghunii langit dan bumi sampai ikan di lautan memintakan ampunan kepada orang yang pandai. Kelebihan orang alim terhadap ‘abid [orang yang ibadah tetapi tidak ‘alim], bagaikan kelebihan bulan purnama terhadap bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya ulama adalah perwaris nabi, dan bahwasannya para Nabi tidak mewarisi dinar, dan dirham, tetapi para Nabi mewariskan ilmu pengetahuan. Maka barangsiapa mengambil [menuntut] ilmu, maka ia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR Turmudzi)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Semoga Allah memberi cahaya yang berkilauan kepada seseorang yang mendengar sesuatu dariku, kemudian ia menyampaikannya sebagaimana yang telah ia dengar, karena banyak orang yang disampaikan kepadanya [sesuatu itu] lebih menghayati daripada orang yang mendengarnya sendiri.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian ia menyembunyikannya [tidak mau menjawab dengan sebenarnya], maka kelak di hari kiamat ia akan dikendalikan dengan kendali dari api neraka.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mempelajari ilmu pengetahuan yang semestinya bertujuan untuk mencari ridla Allah ‘Azaa wa Jalla, kemudian dia memperlajarinya dengan tujuan hanya untuk mendapatkan kedudukan /kekayaan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan baunya surga kelak pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh, Allah tidak akan mencabut ilmu dari manusia begitu saja. tetapi Allah mencabutnya dengan mengambil [mewafatkan] orang-orang yang berilmu, sampai tidak lagi tersisa seorang alim pun, lalu menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Para pemimpin yang bodoh itu ditanya, lalu ia memberikan fatwa tanpa dasar ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Bermurah Hati dalam Berjual Beli dan Utang

10 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – hadits

Allah berfirman: “Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 215)

Allah berfirman: “Hai kaum-Ku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka.” (Hud: 85)

Allah berfirman: “kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (al-Muthaffifiin: 1-6)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya ada seseorang datang kepada Nabi saw. untuk menagih utang. Kemudian ia berkata keras kepada beliau sehingga para shahabat bermaksud untuk memukulnya, tetapi Rasulullah saw. bersabda: “Biarkanlah, karena bagi orang yang mempunyai hak itu ada kebebasan untuk berbicara.” Kemudian beliau bersabda: “Berikanlah kepadanya unta yang umurnya sama dengan unta yang aku hutang.” Para shahabat menjawab: “Wahai Rasulallah, kami tidak mendapatkan unta yang umurnya sama, kami hanya mendapatkan unta yang umurnya lebih tua.” Beliau bersabda: “Berikanlah unta itu, karena sesungguhnya sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik membayar utang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Semoga Allah memberi rahmat kepada seseorang yang bermurah hati sewaktu menjual, bermurah hati sewaktu membeli, dan bermurah hati sewaktu menagih hutang.” (HR Bukhari)

Dari Abu Qatadah ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang ingin diselamatkan Allah dari kesulitan-kesulitan hari kiamat, maka hendaklah ia mempermudah orang miskin, atau hendaklah ia membebaskan utang orang miskin.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Ada seseorang yang biasa memberi utang kepada orang-orang dan selalu berkata kepada pelayannya: Jika kamu mendatangi [menagih] orang tidak tidak bisa membayar, maka maafkanlah dia, semoga Allah mamaafkan kami. Sehingga apabila berhadapan dengan Allah maka Allah memaafkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Mas’ud al-Badriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Ada seorang laki-laki yang dihisab di hari kiamat yang dahulu, ternyata tidak mempunyai amal kebaikan sedikitpun, hanya saja dia adalah orang kaya yang biasa memberi utang kepada orang-orang, dan ia menyuruh pelayan-pelayannya untuk memaafkan orang yang tidak bisa membayar utangnya, kemudian Allah Ta’ala berfirman: ‘Kami lebih pantas memaafkannya, maka maafkanlah orang itu.’” (HR Muslim)

Dari Khudzaifah ra. ia berkata: Apabila salah seorang dari hamba-hamba Allah yang telah dikaruniai kekayaan dihadapkan kepada Allah, dan Allah bertanya kepadanya: “Apa yang telah kamu lakukan terhadap kekayaanmu di dunia?” Khudzaifah berkata: “Mereka tidak dapat menyembunyikan apapun di hadapan Allah.” Kemudian orang itu menjawab: “Wahai Rabb-ku, Engkau telah mengaruniakan harta kekayaan, dan saya mengadakan hubungan dagang dengan sesama manusia, saya biasa bersikap lunak dimana bila saya memberikan keringanan kepada orang yang kaya dan menangguhkan orang yang miskin.” Allah Ta’ala lantas berfirman: “Aku yang lebih pantas untuk berbuat seperti itu, maafkanlah hamba-Ku.” Kemudian Uqbah bin Amir dan Abu Mas’ud ra. berkata: “Memang demikianlah yang kami dengar dari lisan Rasulullah saw.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa menangguhkan utang yang belum bisa membayar atau membebaskannya, maka kelak di hari kiamat Allah memberi naungan di bawah naungan ‘Arsy yang waktu itu tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR Turmudzi)

Dari Jabir ra. bahwasannya Nabi saw. membeli seekor unta, kemudian beliau menimbang harganya dan melebihinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Syufan Suwaid bin Qais ra. ia berkata: Saya dan Mukarramah al-Badiy membawa dagangan dari Hajar, kemudian Nabi saw. datang kepada kami dan menawar beberapa celana, saya mempunyai tukang timbang yang saya gaji, kemudian Nabi bersabda: “Timbanglah dan lebihi.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Memuji dan Bersyukur kepada Allah

10 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat [pula] kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari [nikmat]Ku.” (al-Baqarah: 152)

Firman Allah: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah [nikmat] kepadamu.” (Ibrahim: 7)

Firman Allah: “Dan katakanlah, segala puji bagi Allah.” (al-Israa’: 111)

Firman Allah: “Dan penutup doa mereka adalah: alhamdu lillaaHi rabbil ‘aalamiin.” (Yunus: 10)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya ketika Nabi saw. diisra’kan beliau diberi dua gelas minuman yang berisi khamr [tuak] dan susu. Kemudian beliau memperhatikan dua gelas itu lalu mengambil gelas yang berisi susu. Kemudian malaikat Jibril berkata: “AlhamdulillaaHil ladzii Hadaaka lilfithraH, lau akhadztal khamra ghawat ummatuka (“Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada engkau pada kesucian, seandainya engkau mengambil khamr [tuak] niscaya tersesatlah umatmu.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Setiap perbuatan baik yang tidak dimulai dengan memuji Allah, maka tidak sempurnalah perbuatan itu.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Musa al-Asy’ariy ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Apabila anak seseorang meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat-Nya: ‘Kamu telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ para malaikat menjawab: ‘Ya.’ Allah bertanya: ‘Kamu telah mencabut nyawa buah hatinya?’ para malaikat menjawab: ‘Ya.’ Allah bertanya: ‘Apakah yang diucapkan oleh hamba-Ku?’ Para malaikat menjawab: ‘Ia memuji-Mu denganmengucapkan: innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji-‘uun.’ Kemudian Allah Ta’ala berfirman: ‘Bangunlah sebuah rumah di surga untuk hamba-Ku itu dan berilah nama Baitul Hamd.’” (HR Turmudzi)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah merasa puas terhadap hamba-Nya yang apabila makan selalu memuji-Nya dan apabila minum juga memuji-Nya.” (HR Muslim)

Keutamaan Budak yang Dapat Menunaikan Kewajibannya

10 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Bagi seorang budak jika menjalankan tugas majikannya dan menyempurnakan ibadah kepada Allah, maka ia memperoleh pahala dua kali lipat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Hamba sahaya yang baik mendapatkan dua pahala. Demi Dzat yang menguasai jiwa Abu Hurairah, seandainya tidak ada jihad fi sabilillah, haji dan berbakti kepada ibuku, niscaya aku suka jika mati dalam keadaan menjadi hamba sahaya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Musa al-Asy’ariy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Hamba sahaya yang menyempurnakan ibadah kepada Rabb-nya dan menunaikan hak terhadap majikannya, bertindak baik dan taat, maka ia memperoleh dua pahala.” (HR Bukhari)

Dari Musa al-Asy’ariy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga macam orang yang memperoleh dua pahala, yaitu: 1. Ahli kitab [Yahudi atau Nasrani] yang beriman kepada Nabinya dan beriman kepada Muhammad, 2. Hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan majikannya. 3. Dan seorang lelaki yang mempunyai budak perempuan, lalu mendidik dan mengajarinya sampai pandai, kemudian memerdekakannya, lalu mengawininya, maka orang itu memperoleh dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Orang yang Kematian Anak Kecil

10 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap orang Islam yang kematian tiga anaknya yang belum dewasa, maka ia akan dimasukkan ke dalam surga atas berkat rahmat Allah terhadap anak-anaknya itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seseorang di antara umat Islam yang kematian tiga orang anaknya akan tersentuh api neraka, kecuali hanya sekedar untuk menepati sumpah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan menepati sumpah adalah firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan tidak ada seorangpun di antara kamu sekalian melainkan melewati neraka itu.” Yang dimaksud dengan melewati neraka adalah melewati shirat yaitu titian yang dipasang di atas neraka jahanam. Semoga Allah memberi keteguhan kepada kita dalam melewati titian itu.

Dai Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Ada seorang perempuan datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: “Wahai Rasulallah, banyak orang yang telah memperoleh hadits dari engkau, maka berilah kami kesempatan suatu hari yang mana kami akan datang dan di situ sudilah kiranya engkau mengajarkan kepada kami, tentang apa yang telah Allah diajarkan kepadamu.” Beliau bersabda: “Kumpullah kalian semua pada hari anu dan hari anu.” Maka berkumpullah mereka pada hari yang telah ditentukan, dan Nabi saw. mendatangi mereka serta mengajarkan apa yang telah diajarkan Allah, dimana beliau bersabda: “Tiada seorang perempuan pun yang kematian tiga anaknya melainkan mereka menjadi tirai bagi perempuan itu.” Kemudian ada seorang perempuan bertanya: “Juga dua anak [juga akan menjadi tirai?]” Rasulullah saw. bersabda: “Dan juga dua orang anak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Bersedekah, Berdoa dan pujian untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia

10 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka [Muhajirin dan Anshar], mereka berdoa: “Ya Rabb kami, berilah ampun kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami.” (as-Hasyr: 10)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya ada seseorang berkata kepada Rasulullah saw.: “Sesungguhnya ibu saya meninggal dunia mendadak, dan saya kira seandainya ibu sempat berbicara, niscaya ia akan bersedekah, apakah ia akan memperoleh pahala jika saya bersedekah untuknya?” Beliau menjawab: “Ya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga macam, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dapat diambil manfaatnya, atau anak shalih yang mau mendoakannya.” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: pada suatu ketika ada jenazah lewat, kemudian para shahabat memuji atas kebaikan jenazah itu, maka Rasulullah saw. bersabda: “Wajib baginya.” Kemudian pada saat yang lain ada jenazah yang lewat, kemudian para shahabat menceritakan tentang keburukan jenazah itu, maka Nabi saw. bersabda: “Wajib baginya.” Lantas Umar bin Khaththab ra. bertanya: “Apakah yang wajib baginya itu?” Beliau menjawab: “Terhadap orang yang kamu puji kebaikannya, maka wajib baginya surga, dan terhadap orang yang kamu katakan buruk, maka wajib baginya neraka. kamu sekalian merupakan saksi Allah yang ada di muka bumi ini.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abul Aswad, ia berkata: “Saya datang ke Madinah dan duduk bersama Umar bin Khaththab ra. kemudian ada jenazah lewat, saya memuji kebaikan jenazah itu, maka Umar ra. berkata: “Wajib baginya.” Kemudian lewat lagi jenazah yang lain dan saya mengatakan kejelekan jenazah itu, maka Umar berkata: “Wajib baginya.” Kemudian lewat lagi jenazah yang ketiga kali dan saya mengatakan kejelekan jenazah itu, maka Umar berkata: “Wajib baginya.” Abul Aswad bertanya: “Apakah yang dimaksud dengan wajib baginya wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab: “Saya berkata sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw. yaitu setiap muslim yang disaksikan baik oleh empat orang, maka Allah mamasukkannya ke surga.” Kami bertanya: “[Apabila yang menyaksikan itu] tiga orang?” Ia menjawab: “Juga tiga orang.” Kami bertanya lagi: “[Apabila yang menyaksikan itu] dua orang?” Ia menjawab: “Juga dua orang.” Kemudian saya tidak menanyakan tentang [bagaimana] seandainya seorang saja.” (HR Bukhari)

Mengurus Jenazah (2)

10 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Doa dalam shalat jenazah;
Shalat jenazah terdiri dari empat takbir. Sesungguhnya takbir pertama membaca ta’awud [a-‘uudzu billaaHi minasy syaithaanir rajiim] dan surah al-Fatihah. Sesudah takbir kedua membaca shalawat atas Nabi saw. [AllaaHumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad]. Shalawat yang lebih lengkap dan utama ditambah: kamaa shalaita ‘alaa ibraaHiima wa ‘alaa aali ibraaHiim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarakta ‘alaa ibraaHiim wa ‘alaa aali ibraaHiim fil ‘alaamina innaka hamiidum majiid.” Sesudah takbir ketiga membaca doa untuk mayat dan untuk umat Islam, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam hadits-hadits di bawah ini. Sesudah takbir keempat membaca doa yang berbunyi: AllaaHumma laa tahrimnaa ajraHuu wa laa taftinnaaa ba’daHu waghfir lanaa wa laHu.

Dari Abu Abdurrahman Auf bin Malik ra. ia berkata: Rasulullah saw. menyalatkan jenazah, kemudian saya menghafalkan doa yang beliau baca. Yaitu: “AllaaHummaghfirlaHu warhamHu wa ‘aafiHi wa’fu ‘anHu wa akrim nuzulaHu wa wassi’ madkhalaHu wa aghsilHu bil maa-I wats-stalji wal baradi, wa naqqiHi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadla minad danasi wa abdilHu daara khairan min daariHi wa aHlan khairan min aHliHi, wa zaujan khairan min zaujiHii wa adkhilHul jannata wa a-‘idzHu min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin naar (Ya Allah, semoga berkenanlah Engkau mengampuninya, merahmatinya, menyejahterakannya, memaafkan dosanya, memuliakan kedatangannya, meluaskan tempatnya, dan basuhlah dengan air, salju dan air embun. Bersihkanlah dari kesalahan, sebagaimana Engkau bersihkan pakaian putih dari kotoran. Berikan kepadanya tempat yang baik dari rumahnya, dan keluarga yang lebih baik dari keluarganya dan istri yang lebih baik dari istrinya. Dan masukkanlah ke dalam surge dan lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa neraka.) Abu Abdurrahman berkata: “Sampai-sampai saya mengharap-harap, seandainya sayalah yang mati itu.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. Qatadah dan Abu Ibrahim al-Asy’ariy dari ayahnya, sedangkan ayahnya termasuk shahabat ra. dari Nabi saw. bahwasannya apabila beliau menyalatkan jenazah, beliau berdoa: allaaHummaghfir lihayyinaa wa shaghirnaa wa kabirnaa wa dzakarinaa wa untsaanaa, wa syaaHidinaa wa ghaa-ibinaa. allaaHumma man ahyaitaHu minnaa fa ahyiiHi ‘alal islaami, wa man tawaffaitaHu minnaa fatawaffaHu ‘alal iimaani. allaaHumma laa tahrimnaa ajraHu wa laa taftinnaa ba’daHu (Ya Allah, ampunilah kami yang masih hidup dan yang sudah mati, yang kecil dan yang besar, yang laki-laki dan yang perempuan, yang hadir maupun yang tidak hadir. Ya Allah, barangsiapa yang Engkau hidupkan di antara kami maka hidupkanlah ia dengan menetapi agama Islam, dan barangsiapa yang Engkau wafatkan di antara kami maka wafatkanlah ia dalam keadaan beriman. Ya Allah, janganlah Engkau menghalangi kami dalam mendapat pahalanya dan janganlah Engkau mendatangkan fitnah kepada kami sepeninggalannya.” (HR Turmudzi dan Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Saya mendengar RAsulullah saw. bersabda: “Apabila kamu sekalian menyalatkan mayat, maka hendaklah kamu benar-benar ikhlas di dalam berdoa untuknya.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ketika shalat jenazah, Nabi saw. berdoa: “AllaaHumma anta rabbunaa wa antara khalaqtaHaa, wa anta HadaitaHaa lil islaami wa anta qabadl-ta ruuhanaa wa anta a’lamu bisirriHaa wa ‘alaa niyyatiHaa ji’naa syufa-‘aa alaHu faghfirlaHu (Ya Allah, Engkaulah Rabbnya, Engkaulah yang menciptakannya, Engkaulah yang menunjukkannya kepada Islam, Engkaulah yang mengambil nyawanya, dan Engkaulah yang lebih mengetahui tentang apa yang tersembunyi dan apa yang jelas daripadanya. Kami datang untuk memintakan syafaat kepadanya maka ampunilah ia).” (HR Abu Dawud)

Dari Watsilah bin al-Asqa’ ra. ia berkata: Kami menyalati salah seorang muslim bersama dengan Rasulullah saw. dimana saya mendengar Rasulullah saw. berdoa: “AllaaHumma inna inna fulaanabna fulaanin fii dzimmatika wa habli jiwaarika faqiHii faghfirlaHu war hamHu innaka antal ghafuurur rahiimu (Ya Allah, sesungguhnya Fulan bin Fulan berada dalam tanggungan-Mu dan tali perlindungan-Mu, maka hindarkanlah ia dari fitnah dan siksa kubur. Engkau adalah Dzat yang menepati janji dan terpuji. Ya Allah, ampuni ia dan kasihilah ia, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR Abu Dawud)

Dari Abdullah bin Abu Auf ra. bahwasannya ia menyalatkan mayat putrinya, dimana ia bertakbir empat kali. Setelah takbir, untuk memohonkan ampun bagi mayat itu dan berdoa. Kemudian ia berkata: “Rasulullah saw. berbuat seperti ini.” Dalam riwayat lain dikatakan: Setelah ia melakukan takbir yang keempat, ia berhenti sejenak sehingga kami menyangka bahwa ia akan melakukan takbir yang kelima, kemudian ia salam ke kanan dan ke kiri. Setelah selesai kami bertanya kepadanya: “Mengapa berbuat demikian?” ia menjawab: “Sesungguhnya saya tidak menambahi sesuatu apapun dari apa yang telah saya lihat dari perbuatan Rasulullah saw. atau ia berkata: “Demikianlah apa yang diperbuat oleh Rasulullah saw.” (HR Hakim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Segeralah kamu menguburkan jenazah, karena jika jenazah itu orang shalih, berarti kalian mempercepatnya kepada kebaikan. Dan kalau jenazah itu tidak demikian [tidak baik], berarti kalian telah meletakkan kejelekan pada pundak kalian.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat lain dikatakan: “Maka sebaiknya kamu segera mengantarkan, agar ia lekas memperoleh balasan.”

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila jenazah telah diletakkan dan diangkat pada pundak mereka, maka apabila jenazah itu orang yang shalih, ia berkata: “Cepat antarkan aku.” Tetapi apabila jenazah itu bukan orang shalih, ia berkata kepada keluarganya: “Aduh celaka, akan dibawa kemana aku ini?” segala sesuatu selain manusia mendengar apa yang dikatakan oleh jenazah itu, seandainya manusia mendengarnya, pasti ia akan pingsan.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Jiwa seseorang mukmin itu tergantung dengan utangnya sampai utang itu dilunasi.” (HR Turmudzi)

Dari Hushain bin Wahwah ra. bahwasannya ketika Thalhah bin al-Barra’ ra sakit, Nabi saw. datang menjenguknya dan bersabda: “Saya berpendapat bahwa Thalhah akan segera mati, apabila ia mati segera bertahukan kepadaku dan segeralah dikubur karena tidak pantas jenazah seorang muslim ditahan di tengah-tengah keluarganya.” (HR Abu Dawud)

Dari Ali ra, ia berkata: Pada waktu kami mengantarkan jenazah di Baqi’, Rasulullah mendekati kami lantas duduk, maka kami pun duduk di sekelilingnya. Beliau memegang tongkat kecil, sambil menekankan tongkatnya ke tanah beliau bersabda: “Tidak ada seorangpun di antara kamu sekalian melainkan ia telah ditentukan tempatnya di neraka atau di surga.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah kami diperbolehkan hanya bertawakkal saja pada ketentuan itu?” Beliau menjawab: “Beramallah kamu sekalian, karena tiap-tiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah ditentukan baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini masih ada lanjutannya.

Dari Abu Amr, ada yang memanggilnya dengan Abu Abdullah, ada juga yang memanggilnya dengan Abu Laila usman bin Affan ra. ia berkata: Apabila Nabi saw. telah selesai menguburkan mayat maka beliau berdiri dan bersabda: “Mintalah ampun untuk saudaramu dan mohonlah kepada Allah agar ia diberi ketetapan hati karena sesungguhnya ia sekarang sedang ditanya.” (HR Abu Dawud)

Dari Amr bin al-Ash ra. ia berkata: “Apabila engkau menguburkan saya, maka tinggallah di kubur kira-kira tukang jagal menyembelih dan membagi-bagikan dagingnya, sampai saya merasa agak tenang dan dapat menjawab apa yang ditanyakan oleh utusan Rabb-ku.” (HR Muslim)

Mengurus Jenazah (1)

10 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Mu’adz ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah Laa ilaaHa illallaaH, maka ia masuk surga.” (HR Abu Dawud dan al-Hakim)

Dari Abu Said al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tuntunlah orang yang hendak meninggal dunia dengan ucapan Laa ilaaHa illallaaH.” (HR Muslim)

Dari Ummu Salamah ia berkata: Rasulullah saw. masuk ke rumah Abu Salamah yang pada waktu itu masih terbuka matanya kemudian beliau memejamkannya, seraya bersabda: “Sesungguhnya apabila nyawa itu telah dicabut maka diikuti oleh mata.” Mendengar sabda beliau itu para keluarganya menangis dengan keras sekali. Kemudian beliau bersabda: “Jangan kamu berdoa untuk dirimu sendiri kecuali dengan yang baik-baik, karena sesungguhnya malaikat itu mengamini apa yang kamu ucapkan.” Lantas beliau berdoa: “AllaaHumaghfir li-abii salamata warfa’ darajataHuu fil maHdiina, wakhlufHu fii ‘aqibiHii fil ghaabiriin, waghfirlanaa walaHuu yaa rabbal ‘aalamiin, wafsah laHuu qabriHii, wa nawwirlaHu fiiHi (Ya Allah, ampunilah dosa Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dalam golongan orangyang mendapat petunjuk, berikan keturunan yang baik di belakang hari, ampunilah dosa kami dan dosanya wahai Rabb semesta alam, lapangkanlah kuburnya dan terangilah ia di dalam kuburnya). (HR Muslim)

Dari Ummu Salamah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila kamu datang kepada orang yang sakit atau orang yang meninggal dunia maka berkatalah yang baik-baik karena sesungguhnya malaikat mengaminkan apa yang kamu ucapkan.” Maka ketika Abu Salamah meninggal dunia, saya datang kepada Nabi saw. dan berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya Abu Salamah telah meninggal dunia.” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: AllaaHumaghfirlii wa laHuu wa a’qabanii minHu ‘uqban hasanatan (Wahai Allah, ampunilah dosa saya dan dosa Abu Salamah, serta gantilah kepada saya yang lebih baik).” Ummu salamah berkata: “Kemudian Allah mengganti kepada saya seseorang yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Muhammad saw.” (HR Muslim)

Dari Ummu Salamah ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang di waktu tertimpa musibah mengucapkan: innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji-‘uun. AllaaHumma’jurnii fii mushiibatii, wakhluflii khairan minHaa [sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami pasti akan kembali kepada-Nya. Wahai Allah berilah saya pahala dalam mushibah ini dan berilah saya ganti yang lebih baik daripada mushibah ini berilah saya ganti yang lebih baik daripada mushibah itu.” Ummu Salamah berkata: “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, saya mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah saw. kemudian Allah Ta’ala memberi ganti kepada saya dengan orang yang lebih baik daripada Abu Salamah yakni Rasulullah saw.” (HR Muslim)

Dari Abu Musa ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Apabila anak seseorang itu meninggal dunia, maka Allah Ta’ala bertanya kepada Malaikat-Nya: ‘Kamu telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ Malaikat menjawab: ‘Ya.’ Allah Ta’ala bertanya lagi: ‘Kamu telah mencabut buah hatinya?’ Malaikat menjawab: ‘Ya.’ Allah berfirmah: “Maka apa yang diucapkan oleh hamba-Ku itu?’ Malaikat menjawab: ‘Ia memuji kepada-Mu dan mengucapkan: innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji-‘uun.’ Kemudian Allah Ta’ala berfirman: ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di dalam surga, dan namakanlah rumah itu dengan nama Baitul hamdi [Rumah pujian].” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: Aku tidak akan memberi balasan kepada hamba-Ku yanng mukmin apabila Aku mengambil kekasihnya di dunia ini, kemudian ia ridla dan mengharapkan pahala kepada-Ku melainkan balasan surga.” (HR Bukhari)

Dari Usamah bin Zaid ra. ia berkata: “Salah seorang putri Nabi saw. mengutus seseorang untuk mengundang dan memberitahu kepada beliau bahwa anak putri Nabi itu akan meninggal dunia. Kemudian beliau bersabda kepada utusan itu: “Kembalilah kamu kepada putriku dan katakanlah kepadanya bahwa menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi sesuatu. Segala sesuatu itu ada batas yang telah ditentukan oleh-Nya. Maka suruhlah ia supaya bersabar dan mengharapkan pahala kepada-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersama Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash dan Abdullah bin Mas’ud ra. melawat Sa’ad bin ‘Ubadah, kemudian beliau menangisi. Ketika para shahabat melihat Rasulullah saw. menangis, maka merekapun menangis. Rasulullah saw. lantas bersabda: “Tidakkah kalian semua mau mendengar? Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa seseorang karena linangan air mata dan tidak pula karena kesedihan hati, tetapi Allah menyiksa atau mengasihi seseorang itu karena ini.” Beliau menunjuk kepada lidahnya. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah bin Zaid ra. bahwasannya ketika cucu Rasulullah saw. yang hampir meninggal dunia diserahkan kepadanya, maka kedua mata beliau mencucurkan air mata. Kemudian Sa’ad bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulallah, mengapa engkau bersikap demikian?” Beliau menjawab: “Ini adalah suatu rahmat yang Allah limpahkan ke dalam hati hamba-hamba-Nya, dan sesungguhnya Allah akan mengasihi hamba-hamba-Nya yang mempunyai belas kasihan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. bahwasannya ketika Rasulullah saw. masuk ke kamar puteranya Ibrahim ra. yang sedang menghebuskan nafasnya yang terakhir, maka kedua mata Rasulullah saw. mencucurkan air mata. Kemudian Abdurrahman bin Auf bertanya kepada beliau: “Engkau juga menangis wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Wahai Abu Auf, sesungguhnya ini adalah suatu rahmat, tetapi kemudian diikuti dengan ketentuan lain.” Beliau bersabda pula: “Sesungguhnya meski mata berlinang dan hati merasa sedih, tetapi kami tidak boleh mengucapkan sesuatu kecuali apa yang diridlai oleh Rabb. Dan sungguh saya merasa sedih karena harus berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR Bukhari)

Dari Abu Rafi’ Aslam pelayan Rasulullah saw. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang memandikan mayat kemudian ia menyembunyikan rahasianya [mayat] maka Allah mengampuni baginya empat puluh kali.” (HR al-Hakim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menyaksikan [menghadiri] jenazah sampai dishalatkan, maka ia memperoleh pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan [menghadirinya] sampai jenazah itu dikuburkan, maka ia memperoleh pahala dua qirath.” Ada seseorang bertanya: “Apakah dua qirath itu?” Beliau menjawab: “Sebesar dua gunung yang besar.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menghantar jenazah seorang muslim dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah serta ia terus menungguinya sampai jenazah itu dishalatkan, dan selesai dikuburkan, maka ia pulang dengan membawa pahala dua qirath; setiap qirath menyerupai gunung Uhud. Dan barangsiapa yang pulang hanya sampai jenazah itu dishalatkan dan tidak menyaksikan penguburannya, maka ia pulang dengan membawa pahala satu qirath.” (HR Bukhari)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap mayat yang dishalatkan oleh orang muslim yang jumlahnya mencapai seratus orang, dimana kesemuanya memintakan syafaat untuknya, niscaya mayat itu akan memperoleh syafaat.” (HR Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Setiap orang muslim yang meninggal dunia, kemudian jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan suatu apapun, niscaya Allah menerima syafaat mereka itu.” (HR Muslim)

Dari Martsad bin Abdullah al-Yazanniy, ia berkata: Apabila Malik bin Hubairah ra. menyalatkan jenazah dan orang yang akan menshalatkannya itu sedikit, maka ia membaginya menjadi tiga bagian, kemudian ia berkat: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang dishalatkan oleh tiga shaf [baris], maka ia dapat dipastikan untuk diampuni dosanya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
(bersambung ke bagian 2)

Menangis Apabila Melewati Kubur Orang-orang yang Dhalim

10 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda kepada para shahabatnya, yaitu ketika mereka sampai di al-Hijr [perkampungan kaum Tsamud]: “Janganlah kamu memasuki daerah orang-orang yang disiksa itu, melainkan kamu harus menangis. Apabila kamu tidak mau menangis maka janganlah kamu masuk daerah mereka, niscaya kamu tidak tertimpa apa yang menimpa mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dan di dalam riwayat lain dikatakan: Ketika Rasulullah saw. akan melewati al-Hijr, beliau bersabda: “Janganlah kamu sekalian masuk daerah orang-orang yang mendhalimi [menganiaya] diri sendiri, melainkan kamu harus menangis agar kamu tidak tertimpa apa yang menimpa mereka.” Kemudian beliua menundukkah kepala dan mempercepat langkahnya sehingga beliau melewati lembah Hijr itu.”

Membaca Shalawat untuk Nabi Muhammad saw.

10 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (al-Ahzab: 56)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. bahwasannya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah memberi rahmat kepadanya sepuluh kali.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang paling dekat denganku nanti pada hari kiamat adalah mereka yang paling banyak membaca shalawat untukku.” (HR Turmudzi)

Dari Aus bin Aus ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at, oleh karena itu perbanyaklah shalawat untukku pada hari itu, karena sesungguhnya bacaan shalawatmu itu diperlihatkan kepadaku.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, bagaimana bacaan shalawat kami diperlihatkan kepada engkau sedangkan jasad engkau sudah bercampur dengan tanah?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh hina orang yang mendengar namaku disebut kemudian ia tidak membaca shalawat untukku.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan bacalah shalawat untukku karena sesungguhnya bacaan shalawatmu akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seseorang yang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan nyawaku, sehingga aku dapat menjawab salam kepadanya.” (HR Abu Dawud)

Dari Ali ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Orang kikir yaitu orang yang apabila namaku disebut di sisinya, ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku.” (HR Turmudzi)

Dari Fadlalah bin Ubaid ra. ia berkata: Rasulullah saw. mendengar seseorang berdoa sewaktu shalat, dimana ia tidak mengagungkan nama Allah Ta’ala dan tidak membacakan shalawat untuk Nabi saw. kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Orang ini sangat tergesa-gesa.” Beliau lantas memanggilnya dan bersabda kepadanya atau juga kepada yang lain: “Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat, maka hendaklah ia memulainya dengan memuji dan menyanjung Rabb-nya Yang Maha Suci, kemudian membacakan shalawat untuk Nabi saw. baru sesudah itu berdoa sekehendaknya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Muhammad bin Ka’ab bin Uzjah ra. ia berkata: Nabi saw. datang kepada kami, kemudian kami bertanya: “Wahai Rasulallah, kami telah mengetahui tentang bagaimana caranya kami mengucapkan salam untuk engkau, tetapi bagaimana cara kami mengucapkan shalawat untuk engkau?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah: AllaaHumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa shalaita ‘alaa aali ibraaHiim innaka hamiidum majiid. AllaaHumma baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa baarakta ‘alaa aali Ibraahiima innaka hamiidum majiid. (Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya engkau adalah yang Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Terpuji dan Maha Agung).” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Mas’ud al-Badriyu ra. ia berkata: Rasulullah saw. datang kepada kami sedangkan kami sedang berada di majelis Sa’ad bin Ubadah ra. kemudian Basyir bin Sa’ad bertanya kepada beliau: “Allah telah menyuruh membacakan shalawat untuk engkau?” Kemudian Rasulullah saw. diam sehingga kami khawatir kalau apa yang ditanyakan oleh Basyir itu tidak berkenan di benak beliau, tetapi Rasulullah saw. bersabda: “Ucapkanlah: AllaaHumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa shalaita ‘alaa aali ibraaHiim innaka hamiidum majiid. AllaaHumma baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa baarakta ‘alaa aali Ibraahiima innaka hamiidum majiid. (Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya engkau adalah yang Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Terpuji dan Maha Agung).” Dan ucapkanlah salam sebagaimana yang telah kalian ketahui.” (HR Muslim)

Dari Abu Hamid as-Sa’idiy ra. ia berkata: Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, bagaimana caranya kami membaca shalawat untuk engkau?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: AllaaHumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa azwaajiHii wa dzurriyyatiHii kamaa shallaita ‘alaa IbraaHiima wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa azwaajiHii wa dzurriyyatiHii kamaa baarakta ‘alaa IbraaHiima innaka hamiidum majiid (Ya Allah, limmpahkanlah rahmat kepada Muhammad beserta istri-istri dan anak keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Ibrahim, dan limpahkanlah berkah kepada Muhammad beserta istri-istri dan anak keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah kepada Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Terpuji lagi Maha Agung).” (HR Bukhari dan Muslim)