Arsip | 14.04

Hadits Al-Mazid fii Muttashil al-Asanid

11 Jun

‘Ulumul Hadits; ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi:
a. Menurut bahasa: al-Mazid merupakan isim maf’ul dari kata az-ziyadah [tambahan]; kata muttashil merupakan lawan dari munqathi’ [terputus]; sedangkan asanid adalah bentuk jamak dari isnad.
b. Menurut istilah: bertambahnya rawi di tengah-tengah sanad yang secara dhahir sudah bersambung.

2. Contoh
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak yang berkata: Telah menuturkan kepada kami Sufyan dari Abdurrahman bin Yazid, telah menuturkan kepadaku Yusr bin Ubaidillah, yang berkata aku mendengar Abu Idris berkata, aku mendengar Watsilah mengatakan, aku mendengar Abu Martsad mengatakan, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan janganlah kalian shalat [menghadap] kuburan.”
Keterangan: HR muslim. Bab Jenazah, juz vii/38. Tirmidzi juz iii/367. Masing-masing menambahkan Abu Idris dan membuang tambahannya.

3. Tambahan pada contoh di atas
Tambahan pada contoh di atas terdapat pada dua tempat. Yang pertama adalah lafadz Sufyan, dan yang kedua lafadz Abu Idris. Penyebab tambahan di dua tempat tersebut karena adanya persangkaan.
a. Tambahan Sufyan merupakan persangkaan dari orang-orang selain Ibnu Mubarak, karena terdapat sejumlah rawi tsiqah yang meriwayatkan hadits itu dari Ibnu Mubarak dari Abdurrahman bin Yazid. Dari mereka ada yang memberi penjelasan berupa ikhbar [pemberitahuan].
b. Tambahan Abu Idris merupakan persangkaan dari Ibnu Mubarak, karena terdapat sejumlah rawi tsiqah yang meriwayatkan hadits itu dari Abdurrahman bin Yazid, akan tetapi tidak menyebut Abu Idris. Dari mereka ada yang menegaskannya berdasarkan pendengaran Busr dan Watsilah.

4. Syarat ditolaknya tambahan.
Untuk menolak tambahan dan dianggapnya sebagai persangkaan, diisyaratkan dua hal, yaitu:
a. Jika rawi yang tidak mengalami penambahan lebih cermat [mutqin] tingkatannya dari yang menambahnya.
b. Harus ada penjelasan dalam bentuk as-sima’ [mendengar] pada tempat yang ditambahkan.
Jika kedua syarat atau salah satu syarat itu tidak terpenuhi, maka tambahannya diunggulkan [diprioritaskan] dan dapat diterima; dan sanad yang hilang dari tambahan tadi dianggap munqathi’ [terputus], akan tetapi terputusnya itu tersembunyi. Inilah yang dinamakan dengan hadits mursal khafi.

5. Respon yang dilakukan terhadap adanya tambahan.
a. Jika sanadnya sepi dari tambahan kata ‘an [dari] pada tempat tambahan, maka haditsnya adalah munqathi’
b. Jika dalam sanadnya menegaskan adanya bentuk as-sima’ [mendengar]; mengandung arti mendengarnya dari rawi yang pertama, kemudian mendengar darinya secara langsung. Terhadap hal ini terdapat jawaban: i) jika menyangkut tanggapan yang pertama, maka seperti yang dikatakan oleh si penanggap; ii) jika menyangkut tanggapan kedua, maka ada kemungkinan memang disebutkan di dalamnya, tetapi para ulama tidak menetapkannya sebagai tambahan, karena hal itu persangkaan, kecuali disertai indikasi [qarinah] yang menunjukkannya.

6. Kitab yang populer
Kitab Tamyiz al-Mazid fii Muttashili al-Asanid, karya Khathib al-Baghdadi

Hadits Maqlub

11 Jun

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: merupakan isim maf’ul dari kata al-Qalbu, yang berarti memalingkan sesuatu dari arahnya
b. Menurut istilah: menukar lafadz dengan lafadz lain pada sanad hadits atau pada matan hadits, dengan cara mendahulukan, mengakhirkan atau yang sejenisnya.

2. Pembagian hadits Maqlub
a. Maqlub Sanad: penukaran hadits yang terjadi pada sanad, yang mempunyai dua bentuk:
i. Rawi mengedepankan dan mengakhirkan nama salah seorang rawi dan nama bapaknya. Seperti hadits yang diriwayatkan dari Ka’ab bin Murrah, namun rawi meriwayatkannya dari Murrah bin Ka’ab
ii. Rawi menukar seseorang dengan nama lainnya dengan maksud untuk mengasingkannya. Seperti hadits masyhur dari Salim, namun rawi menukarnya dari Nafi’.
Di antara para perawi yang melakukan hal itu adalah Hammad bin Amru an-Nashibi. Contohnya: hadits yang diriwayatkan Hammad bin Amru an-Nashibi dari al-A’masy dari Abi Shaleh dari Abi Hurairah secara marfu’: “Jika kalian bertemu dengan orang-orang musyrik di jalan, janganlah kalian memberi salam.”
Hadits ini maqlub, ditukar oleh Hammad dan menjadikannya dari al-A’masy. Padahal, yang terkenal adalah dari Suhail bin Abi Shaleh dari bapaknya dari Abu Hurairah. Begitulah yang dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya.
Jenis penukaran seperti ini, rawinya dinamakan sebagai pencuri hadits.
b. Maqlub Matan: penukaran hadits yang terjadi pada matan, yang juga mempunyai dua bentuk:
i. Rawi mengedepankan dan mengakhirkan sebagian matan hadits. Contoh: hadits Abu Hurairah yang memaparkan tentang seorang muslim yang akan dilindungi Allah pada hari tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, di dalamnya terdapat: “Dan seseorang yang memberikan sedekah secara sembunyi-sembunyi, sampai-sampai tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya.” Ini adalah contoh hadits maqlub yang ditukar oleh sebagian rawi; yang benar adalah: “Sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”
ii. Rawi menempatkan matan suatu hadits kepada sanad [hadits] lain, dan menempatkan sanadnya terhadap matan hadits lain. Hal ini dimaksudkan untuk menguji atau semacamnya. Contohnya adalah apa yang dilakukan penduduk Baghdad terhadap Imam Bukhari. Mereka telah menukar seratus hadits, lalu mereka bertanya kepada Imam Bukhari untuk menguji hafalannya. Beliau mengembalikan [sanad dan matan] hadits-hadits tersebut seperti semula, dan tidak ada kekeliruan satu hadits pun.

3. Penyebab yang membawa pada penukaran
Ada beberapa sebab yang menjadikan perawi hadits melakukan penukaran, yaitu:
a. Dimaksudkan untuk mengasingkan, agar masyarakat suka terhadap haditsnya dan mengambil haditsnya.
b. Dimaksudkan untuk menguji dan memperkuat hafalan hadits serta menyempurnakan kedlabitan.
c. Terdapat kesalahan atau kekeliruan yang tidak disengaja.

4. Hukum hadits maqlub
a. Jika penukarannya dimaksudkan untuk mengasingkan, tidak diragukan lagi hal itu tidak dibolehkan; karena hal itu sama saja dengan merubah hadits. Ini juga menjadi kelakuan para pembuat hadits palsu.
b. Jika penukarannya dimaksudkan untuk menguji, maka dibolehkan, untuk memperkuat hafalan ahli hadits dan kelayakannya. Tetapi disyaratkan untuk menjelaskan yang shahihnya sebelum majelisnya berakhir.
c. Jika penukarannya karena kekeliruan atau lupa, maka tidak diragukan lagi pelakunya sudah udzur dengan kekeliruan itu. Namun, jika hal itu seringkali dilakukan, berarti ia telah hilah kedlabitannya, dan menjadi dla’if.
Hadits maqlub itu merupakan salah satu jenis hadits dla’if dan mardud [tertolak], sebagaimana telah dimaklumi.

5. Kitab yang populer
Yaitu kitab Rafi’ul al-Irtiyab fii al-Maqlub min al-Asmai wa al-Alqab; karya Khatib al-Baghdadi. Dari judul kitabnya terlihat bahwa beliau hanya membahas maqlub sanad saja.

Hadits Arbain ke 6: Halal dan Haram

11 Jun

Al-Wafi; An-Nawawiyah; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 6 (Keenam)

Abi Abdillah Nu’man bin Basyir ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Antara keduanya ada perkara samar yang tidak diketahui banyak orang. Orang yang menghindari perkara samar, berarti memelihara agama dan harga dirinya. Sedangkan orang yang jatuh dalam perkara samar, bersarti jatuh dalam perkara haram. Seperti penggembala yang menggembala dekat daerah terlarang, tentu sangat riskan, suatu saat hewan gembalaannya pasti akan memasuki daerah terlarang itu. Ketahuilah, setiap raja memiliki daerah terlarang. Ingatlah bahwa daerah larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh pun baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuh pun rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kandungan Hadits:

1. Ada perkara-perkara yang jelas-jelas diperbolehkan. Ada perkara-perkara yang jelas-jelas dilarang, dan ada perkara-perkara yang syubhat [samar], yakni tidak jelas halal dan haramnya. Imam Nawawi berkata: “Segala sesuatu dibagi menjadi tiga: “
a. Jelas-jelas diperbolehkan. Seperti: makan roti, berbicara, berjalan, dan lain sebagainya.
b. Jelas-jelas dilarang: minum khamr, zina, dan lain-lain.
c. Syubhat, yakni tidak jelas boleh atau tidaknya. Karena itu banyak orang yang tidak mengetahuinya. Adapun ulama bisa mengetahui melalui berbagai dalil al-Qur’an dan sunnah, maupun Qiyas. Jika tidak ada nash dan tidak ada ijma’, maka dilakukan ijtihad.
Meskipun demikian jalan yang terbaik adalah meninggalkan perkara syubhat. Seperti: tidak bermu’amalah dengan orang yang hartanya bercampur dengan riba.
Adapun perkara-perkara yang diragukan akibat bisikan setan, bukanlah perkara syubhat yang perlu ditinggalkan. Misalnya: tidak mau menikah di suatu negeri karena khawatir yang menjadi istrinya adalah adiknya sendiri yang sudah lama tidak bertemu. Atau tiidak mau menggunakan air di tengah tempat terbuka, karena dikhawatirkan mengandung benda najis.

2. Macam-macam Syubhat.
Ibnu Mudzir membagi syubhat menjadi tiga:
a. Sesuatu yang haram, namun kemudian timbul keraguan karena tercampur dengan yang halal. Misalnya ada dua kambing, salah satunya disembelih orang kafir, namun tidak jelas kambing yang mana yang disembelih orang kafir tersebut. Dalam hal ini tidak diperbolehkan memakan daging tersebut, kecuali jika benar-benar diketahui mana kambing yang disembelih orang kafir dan mana yang disembelih mukmin.
b. Kebalikannya, yaitu sesuatu yang halal, namun kemudian timbul keraguan. Seperti: seorang istri yang ragu apakah ia telah dicerai atau belum. Atau seorang yang habis wudlu merasa ragu apakah wudlunya batal atau belum. Keraguan yang demikian itu tidak ada pengaruhnya.
c. Sesuatu yang diragukan halal haramnya. Dalam masalah ini lebih menghindarinya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw. terhadap kurma yang beliau temukan di atas tikarnya, beliau tidak memakan kurma tersebut karena dikhawatirkan kurma Shadaqah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ketika saya masuk rumah, saya mendapati kurma di atas tikarku. Aku ambil untuk aku makan. Akan tetapi aku membatalkannya karena takut kurma itu berasal dari shadaqah.”

3. Beberapa pendapat ulama tentang syubhat.
Abu Darda’ berpendapat bahwa ketakwaan yang sempurna bagi seorang hamba adalah dengan takut kepada Allah dalam segala hal, sekecil apapun. Termasuk meninggalkan beberpa perkara yang diperbolehkan karena takut terjerumus pada perkara yang dilarang. Hasan al-Bashry berkata: “Ketakwaan senantiasa melekat pada orang-orang yang bertakwa selama ia meninggalkan beberapa hal yang diperbolehkan karena takut barang tersebut dilarang.”
ats-Tsauri berkata: “Dikatakan bertakwa, karena seseorang takut pada hal-hal yang yang sepatutnya tidak ditakutkan.”
Ibnu Umar berkata: “Saya lebih suka menjauh dari perkara-perkara yang dilarang dengan meninggalkan beberapa perkara yang diperbolehkan.”
Sufyan bin Uyainah berkata: “Seseorang tidak akan menemukan hakikat iman kecuali ia meletakkan penghalang antara dirinya dan hal-hal yang haram dengan sesuatu yang halal, sehingga ia terhindar dari dosa dan perkara-perkara yang samar.”
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Abu Bakar makan makanan yang syubhat, tanpa beliau sadari. Ketika beliau mengetahui bahwa beliau telah makan barang syubhat, maka beliau memasukkan jari tangan ke mulutnya hingga muntah.
Ketika Ibrahim bin Adham ditanya kenapa tidak minum air zam-zam, ia pun menjawab: “Seandainya saya punya ember niscaya saya akan minum.” Maksudnya ia ragu-ragu dengan ember yang digunakan untuk mengambil ari zam-zam pada saat itu, karena ember tersebut milik pemerintah dan dikhawatirkan tidak halal.”

4. Semua raja memiliki hima dan hima Allah di bumi adalah larangan-larangan-Nya. Tujuan perumpamaan tersebut adalah agar tampak jelas, seperti seseorang melihat tanah yang dipagari. Pada saat itu raja-raja memiliki tanah yang dipagari yang dikhususkan untuk hewan-hewan ternaknya, dan mengancam dengan hukuman yang keras bagi orang yang mendekatinya. Orang yang takut dengan hukuman raja tentu tidak akan mendekati pagar tersebut. Namun bagi orang yang tidak takut, ia akan mendekatinya dan menggembala di tepian pagar hingga melintasi pagar yang ada, akibatnya iapun mendapat hukuman.
Sebagaiman para raja, Allah swt. juga mempunyai pagar. Pagar-pagar tersebut adalah berbagai larangan-Nya. Barangsiapa yang melanggar larangan-larangan tersebut, akan mendapatkan hukuman baik di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang mendekati larangan, dengan melakukan perkara-perkara syubhat, maka ia pun dikhawatirkan dan bahkan bisa terjerumus pada hal yang dilarang.

5. Hati yang baik
Baik burukny seseorang, tergantung hatinya. Karena hati merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Secara medis juga demikian, hati merupakan penentu bagi seseorang, andai hati seseorang baik, maka ia akan mampu mensuplai darah dengan baik ke seluruh tubuh.
Mengacu pada hadits ini, Imam Syafi’i berpendapat bahwa sumber akal adalah hati. Ini juga diperkuat firman Allah, “Mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakan untuk berfikir.” (al-A’raf: 179). Konon para ahli filsafat dan ilmu kalam juga berpendapat seperti ini.
Berbeda dengan madzab Hanafi, mereka tetap mengatakan bahwa akal tetap terletak pada otak, mereka beralasan bahwa jika otak seseorang rusak, maka akal juga rusak. Ilmu kedokteran juga menyatakan bahwa semua gerak anggota tubuh adalah menuruti perintah otak.
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa sumber ‘yang jauh’ dari akal adalah hati, sedangkan sumber ‘yang dekat’ dan langsung adalah otak.
Adapun yang dimaksud hadits ini adalah baiknya hati secara ruhani. Yakni kebersihan jiwa, yang ini tidak diketahui kecuali Allah swt. Ibnu Mulqin berpendapat bahwa kebaikan hati bisa dibentuk melalui lima perkara: membaca dan mentadaburi al-Qur’an, mengosongkan perut, shalat malam, bermunajat di penghujung malam, dan bergaul dengan orang-orang shalih.
Penulis al-Wafi menambahkan satu hal, yaitu makanan yang halal, karena ini adalah intinya. Ada ungkapan yang indah, “Makanan adalah bibit dari segala perbuatan. Jika yang masuk halal, maka yang keluar juga halal. Jika yang masuk haram, maka yang keluar juga haram. Jika yang masuk syubhat, maka yang kekuar juga syubhat.”
Hati yang baik adalah lambang kemenangan, Allah swt. berfirman: “Pada hari yang anak dan harta tidak membawa manfaat, kecuali orang yang datang dengan hati yang baik.” (asy-Syu’ara’: 89)
Rasulullah saw. selalu berdoa: “Ya Allah sesungguhnya saya minta diberi hati yang baik.”
Imam Nawawi berpendapat bahwa hati yang baik tersebut bisa diperoleh dengan membersihkan hati dari segala penyakit hati seperti: benci, dendam, dengki, sombong, riya’, tamak, sum’ah, curang, tama’ dan lain sebagainya. Ibnu Rajab berkata: “Hati yang baik adalah hati yang terbebas dari segala penyakit hati dan berbagai perkara yang dibenci, hati yang dipenuhi kecintaan dan rasa takut kepada Allah, dan rasa takut berjauhan dari Allah swt.”
Hasan al-Bashry pernah berkata kepada seseorang: “Obati hatimu, karena yang dikehendaki Allah dari hamba-Nya adalah kebaikan hatinya.”
Hati yang baik akan menimbulkan amal perbuatan yang baik. Karenanya, jika hati itu baik dan hanya dipenuhi dengan kehendak Allah, niscaya amal perbuatannya hanya yang sesuai dengan kehendak Allah. Sehingga ia bersegera dalam melakukan perbuatan yang diridlai Allah, dan meninggalkan perbuatan yang dibenci.

6. Hadits ini mendorong pada perbuatan yang halal, menjauhi perbuatan yang haram dan meninggalkan perkara-perkara syubhat. Mendorong agar senantiasa menjaga agama dan kehormatan. Mendorong untuk tidak melakukan perkara yang memancing buruk sangka dan menjerumuskan pada larangan.

7. Seruan untuk meningkatkan intelektualitas dan memperbaiki jiwa dari dalam, yakni dengan memperbaiki hati.

8. Menutup semua pintu yang mengarah pada berbagai hal yang dilarang, dan melarang semua sarana yang mengarah pada perbuatan haram.

Sumber-sumber Sirah Nabawiyah

11 Jun

Analisis Ilmiah Manhajah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.; DR.Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy

Secara umum dapat disebutkan bahwa sumber dan rujukan sirah Nabawiyah ada tiga: Kitab Allah, Sunnah Nabawiyah yang Shahih, dan kitab-kitab Sirah.

1. Kitabullah (al-Qur’an)
Kitab Allah merupakan rujukan pertama untuk memahami sifat-sifat umum Rasulullah saw. dan mengenal tahapan-tahapan umum sirah-nya yang mulia ini. Ia mengemukakan Sirah Nabawiyah dengan menggunakan salah satu dari dua uslub berikut:
a. Mengemukakan sebagian kejadian dari kehidupan dan sirah-nya, seperti ayat-ayat yang menjelaskan tentang Perang Badar, Uhud, Khadaq, dan Hunain, serta ayat-ayat yang mengisahkan perkawinan dengan Zainab binti Jahsyi.
b. Mengomentari kasus-kasus dan peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk menjawab masalah-masalah yang timbul, mengungkapkan masalah yang belum jelas atau untuk menarik perhatian kaum Muslimin kepada pelajaran dan nasehat yang terkandung di dalamnya. Semua itu berkaitan dengan salah satu aspek dari sirah-nya atau permasalahnnya. Dengan demikian, hal itu telah menjelaskan banyak hal dari berbagai periode kehidupannya dan beragam urusan serta aktifitasnya.

Akan tetapi pembicaraan al-Qur’an tentang semua itu hanya disampaikan secara terputus-putus. Betapapun beragamnya uslub al-Qur’an dalam menjelaskan segi sirahnya. Hal itu tidak lebih dari sekedar penjelasan secara umum dan penyajian secara global dan sekilas tentang beberapa peristiwa dan berita. Demikianlah cara al-Qur’an dalam menyajikan setiap kisah tentang para Nabi dan umat-umat terdahulu.

2. Sunnah Nabawiyah yang Shahih
Yakni apa yang terkandung di dalam kitab-kitab para imam hadits yang terkenal jujur dan amanah, seperti kitab-kitab yang enam. Muwaththa’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad. Sumber kedua ini lebih luas dan lebih rinci, hanya saja belum tersusun secara urut dan sistematis dalam memberikan gambaran kehidupan Rasulullah saw. sejak lahir hingga wafat. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, sebagian besar kitab-kitab ini disusun hadits-hadistnya berdasarkan bab-bab fiqih atau sesuai dengan satuan pembahasan yang berkaitan dengan syariat Islam. Karena itu hadits-hadist yang berkaitan dengan sirah-nya yang menjelaskan bagian dari kehidupannya terdapat pada berbagai tempat di antara semua bab yang ada. Kedua, para imam hadits, khususnya penghimpun al-Kutub as-Sittah, ketika menghimpun hadits-hadits Rasulullah saw. tidak mencatat riwayatnya secara terpisah, tetapi hanya mencatat dalil-dalil syariah secara umum yang diperlukan.
Di antara keistimewaan sumber kedua ini ialah bahwa sebagian besar isinya diriwayatkan dengan sanad shahih yang bersambung kepada Rasulullah saw. atau kepada para shahabat yang merupakan sumber khabar manqul, kendatipun anda temukan beberapa riwayat dha’if yang tidak bisa dijadikan hujjah.

3. Kitab-Kitab Sirah
Kajian-kajian sirah di masa lalu diambil dari riwayat-riwayat pada masa shahabat yang disampaikan secara turun-temurun tanpa ada yang memperhatikan untuk menyusun atau menghimpunnya dalam satu kitab, kendatipun sudah ada beberapa orang yang memperhatikan secara khusus sirah Nabi saw. dengan rinciannya.
Barulah pada generasi tabiin, sirah Nabawiyah saw. diterima dengan penuh perhatian. Banyak di antara mereka yang mulai menyusun data tentang sirah Nabawiyah yang didapatkan dari lembaran-lembaran kertas. Di antara mereka adalah Urwah bin Zubair yang meninggal tahun 92 Hijriah, Aban bin Utsman (105 H), Syurahbil bin Sa’ad (123 H), Wahab bin Munabih (110 H), dan Ibnu Syihab az-Zuhri (124 H).
Akan tetapi, semua yang pernah mereka tulis ini sudah lenyap, tidak ada yang tersisa kecuali beberapa bagian yang sempat diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari. Ada yang mengatakan bahwa sebagian tulisan Wahab bin Munabbih sampai sekarang masih tersimpan di Heidelberg, Jerman.
Setelah itu, muncul generasi penyusun sirah berikutnya. Tokoh generasi ini adalah Muhammad bin Ishaq (152 H). Selanjutnya disusul oleh generasi selanjutnya dengan tokoh al-Waqidi (203 H) dan Muhammad bin Sa’ad penyusun kitab ath-Thabaqat al-Kubra (130).
Para ulama sepakat bahwa apa yang ditulis Muhammad bin Ishaq merupakan data paling terpercaya tentang sirah Nabawiyah (pada masa itu). Akan tetapi sangat disayangkan, kitabnya, al-Maghazi, termasuk kitab yang musnah pada masa itu.
Akan tetapi, alhamdulillah, sesudah Muhammad bin Ishaq muncul Abu Muhammad Abdul Malik yang terkenal dengan Ibnu Hisyam. Ia meriwayatkan sirah itu dengan berbagai penyempurnaan, setengah abad setelah penyusunan kitab Ibnu Ishaq tersebut.
Kitab sirah Nabawiyah yang dinisbatkan kepada Ibnu Hisyam yang ada sekarang in hanya merupakan duplikat dari maghazi-nya Ibnu Ishaq.
Ibnu Khalikan berkata: “Ibnu Hisyam adalah orang yang menghimpun sirah Rasulullah saw. dari al-Maghazi dan as-Siar karangan Ibnu Ishaq. Ia telah menyempurnakan dan meringkasnya. Kitab inilah yang ada sekarang dan yang terkenal dengan Sirah Ibnu Hisyam.
Selanjutnya lahirlah kitab-kitab Sirah Nabawiyah. Sebagiannya menyajikan secara keseluruhan, tetapi ada pula yang memperhatikan segi-segi tertentu, seperti al-Asfahani di dalam kitabnya Dala’il an-Nubuwwah, Tirmidzi di dalam kitabnya asy-Syama’il, dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitabnya Zaadul Ma’ad.

Pentingnya Sirah Nabawiyah untuk Memahami Islam

11 Jun

Sirah Nabawiyah; Analisis Ilmiah Manhaj Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.; DR.Muhammad Sa’id Rammadhan al-Buthy

Tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah bukan sekedar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah yang mengungkapkan kisah-kisah dan kasus yang menarik. Karena itu tidak sepatutnya kita menganggap kajian Fiqh Sirah Nabawiyah termasuk kajian sejarah, sebagaimana kajian tentang sejarah hidup salah seorang khalifah atau sesuatu periode sejarah yang telah silam

Tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah ialah agar setiap Muslim memperoleh gambaran tentang hakekat Islam secara paripurna, yang tercermin dalam kehidupan Nabi saw. sesudah ia dipahami secara konsepsional sebagai prinsip, kaidah, dan hukum.

Sirah Nabawiyah hanya merupakan upaya aplikatif yang bertujuan untuk memperjelas hakikat Islam secara utuh dalam keteladanannya yang tertinggi, Muhammad saw. bila dirinci, hal tersebut dapat dibatasi dalam beberapa sasaran berikut ini:
1. Memahami pribadi kenabian Rasulullah saw. melalui celah-celah kehidupan dan kondisi-kondisi yang pernah dihadapinya untuk menegaskan bahwa Rasulullah saw. bukan hanya seorang yang terkenal genial di antara kaumnya, melainkan sebelum itu beliau adalah seorang Rasul yang didukung oleh Allah dengan wahyu dan taufik dari-Nya.
2. Agar manusia mendapatkan gambaran al-Matsal al-A’la menyangkut seluruh aspek kehidupan yang utama untuk dijadikan undang-undang dan pedoman kehidupan. Tidak diragukan lagi, betapapun manusia mencari matsal a’la [tipe ideal] mengenai salah satu aspek kehidupan, dia pasti akan mendapatkan di dalam kehidupan Rasulullah saw. secara jelas dan paripurna. Karena itu, Allah menjadikannya qudwah bagi seluruh manusia. Firman Allah: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..” (al-Ahzab: 21)
3. Agar dalam mengkaji Sirah Rasulullah saw. ini manusia mendapatkan sesuatu yang bisa membantunya untuk memahami kitab Allah dan semangat tujuannya. Hal ini karena banyak ayat al-Qur’an yang baru bisa ditafsirkan dan dijelaskan maksudnya melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dihadapi Rasulullah saw. dan disikapinya.
4. Melalui kajian Sirah nabawiyah ini seorang muslim dapat mengumpulkan sekian banyak tsaqafah dan pengetahuan Islam yang benar, baik menyangkut akidah, hukum, maupun akhlak. Hal ini karena tidak diragukan lagi bahwa kehidupan Rasulullah saw. merupakan gambaran yang konkret dari sejumlah prinsip dan hukum Islam.
5. Agar setiap pembina dan da’i Islam memiliki contoh hidup menyangkut cara-cara pembinaan dan dakwah. Rasulullah saw. adalah seorang da’i, pemberi nasehat, dan pembina yang baik, yang tidak segan-segan mencari cara-cara pembinaan dan pendidikan terbaik selama beberapa periode dakwahnya.

Di antara hal terpenting yang menjadikan sirah Rasulullah saw. cukup memenuhi semua sasaran ini adalah bahwa seluruh kehidupan beliau mencakup seluruh aspek sosial dan kemanusiaan yang ada pada manusia, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat yang aktif.

Kehidupan Rasulullah saw. memberikan kepada kita contoh-contoh yang baik, baik sebagai pemuda Islam yang lurus perilakunya serta terpercaya di antara kaum dan juga kerabatnya maupun sebagai da’i kepada Allah dengan hikmah dan nasehat yang baik, yang mengarahkan segala kemampuan untuk menyampaikan risalahnya. Juga sebagai kepala negara yang mengatur segala urusan dengan cerdas dan bijaksana, sebagai suami teladan dan seorang ayah yang penuh kasih sayang, sebagai panglima perang yang mahir, sebagai negarawan yang pandai dan jujur, dan sebagai Muslim secara keseluruhan [kaffah] yang dapat melakukan secara imbang antara kewajiban beribadah kepada Allah dan bergaul dengan keluarga dan shahabatnya dengan baik.

Jadi, kajian Sirah Nabawiyah tidak lain hanya menampakkan aspek-aspek kemanusiaan ini secara keseluruhan, baik tercermin dalam suri teladan yang paling sempurna dan terbaik.