Arsip | 09.57

Hadits Mudltharib

12 Jun

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: merupakan isim fa’il dari kata al-idlthirab, yang berarti kacaunya sesuatu dan rusaknya keteraturannya. Asalnya dari tidak teraturnya ombak, yang semakin banyak bergerak maka akan saling memukul satu sama lain.
b. Menurut istilah: hadits yang diriwayatkan dari arah yang bermacam-macam, yang kekuatannya sama.

2. Penjelasan
Yaitu hadits yang diriwayatkan dalam bentuk yang saling bertentangan dan bertolak belakang, yang tidak mungkin dikompromikan satu sama lain selamanya, seluruh riwayatnya –dilihat dari berbagai aspek- juga sama-sama kuat, tidak mungkin dilakukan tarjih –dari aspek manapun- terhadap yang lainnya.

3. Syarat terjadinya idlthirab
Berdasarkan definisi dan penjelasannya, jelas bahwa hadits mudltharib tidak akan terjadi kecuali memenuhi dua syarat:
a. Riwayat-riwayat hadits saling berselisih, yang tidak memungkinkan dilakukannya kompromi [jama’].
b. Sama kekuatan riwayat-riwayat haditsnya, yang tidak memungkinkan dilakukannya tarjih yang satu terhadap yang lainnya.
Jika salah satu riwayat dapat ditarjih terhadap riwayat lainnya, atau memungkinkan dilakukannya jama’ [kompromi] di antara keduanya dalam bentuk yang dapat diterima, maka sifat idlthirab hadits tadi menjadi hilang. Karenanya kita dapat mengamalkan seluruh riwayat dalam kondisi kedua hadits dapat dikompromikan [dijama’].

4. Pembagian hadits mudltharib
Berdasarkan tempat idlthirabnya, hadits mudltharib terbagi dua: mudltharib sanad dan mudltharib matan. Dan tempat terjadinya idlthirab pada sanad itu amat banyak.
a. Mudltharib sanad: contohnya adalah hadits Abu Bakar ra. bahwa beliau berkata: “Wahai Rasulallah, aku melihatmu masih tetap muda.” Nabi saw. menjawab: “Yang membuatku tetap muda adalah surah Huud dan saudaranya [yaitu al-Waqi’ah, al-Haqqah, at-Takwir, al-Ma’arij: pen]
Ad-Daruquthni berkata: “Hadits ini mudltharib, karena diriwayatkan hanya melalui jalur Abu Ishak. Hadits ini diperselisihkan sekitar sepuluh aspek. Di antaranya ada yang mengatakan bahwa riwayatnya mursal, ada juga yang mengatakan maushul, ada yang katanya diambil dari musnad Abu Bakar, ada yang dari musnad Sa’ad, dari musnad Aisyah, dan lain-lain. Para perawi haditsnya tsiqah, tidak mungkin dilakukan tarjih satu sama lain, juga tidak mungkin kompromi [jama’].
b. Mudltharib matan. Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan Tirmidzi dari Syarik dari Abi Hamzah dari as-Sya’bi dari Fathimah binti Qais ra. yang berkata: Kepada Rasulullah saw. ditanya mengenai zakat’. Maka jawabannya: “Sesungguhnya pada harta itu terdapat hak selain zakat.”
Dari Ibnu Majah diriwayatkan dengan lafadz: “Tidak ada hak di dalam harta itu selain zakat.”
Al-‘Iraqi berkata: “Hadits ini idlthirab, dan tidak dapat ditakwil.”

5. Pada siapa terjadinya idlthirab?
a. Idlthirab bisa terjadi pada seorang rawi, karena dia meriwayatkan hadits melalui sisi yang berbeda-beda.
b. Bisa juga idlthirab itu pada sekelompok orang, karena masing-masing dari mereka meriwayatkan hadits yang aspek periwayatannya berbeda-beda dengan yang lainnya.

6. Penyebab lemahnya mudltharib
Penyebab lemahnya mudltharib dapat dirasakan dengan tidak adanya rawi dlabith.

7. Kitab yang populer
Kitab al-Muqtarib fii Bayani al-Mudltharib, karya Hafidh Ibnu Hajar